Minggu, 12 April 2015

[Movie] 20 Once Again (2015)


重返20岁 (Chóng fǎn èrshí suì)
20 Once Again
(2015 - CJ Entertainment/Media Asia Films)

Directed by Leste Chen
Screenplay by Shin Dong-ick, Hong Yoon-jeong, Dong Hee-sun, Hwang Dong-hyeuk
Chinese adaptation by Lin Xiaoge, Ren Peng
Produced by Tina Shi, Roy Hu
Cast: Yang Zishan, Grace Guei, Wilson Chen Bolin, Lu Han, Yang Deshun, Zhao Lixin, Li Yijuan, Yin Hang



Film 20 Once Again adalah versi China dari film Korea, Miss Granny. Bukan semata-mata remake, emang konon mereka (si CJ Entertainment-nya) bikinnya satu cerita dibuat di dua negara sekaligus, tapi akhirnya yang Korea yang muncul duluan. So yeah, pada dasarnya ceritanya sama, seorang nenek cerewet secara ajaib fisiknya berubah jadi usia 20-an, cuma mungkin konteks budayanya agak beda. Gw sendiri belum nonton Miss Granny, jadi gw nggak bisa bandingin, tapi ya gw coba aja menilai dari film yang ini aja.

Buat gw 20 Once Again itu tontonan yang cukup oke. Banyak kelucuan-kelucuan universal yang muncul di sana-sini, ada musik-musik yang lumayan, yang jadi nenek versi mudanya cakep, yang jadi nenek versi neneknya mirip Jessica Lange, ada awkwardness tentang si nenek yang ditaksir para pemuda termasuk cucunya sendiri, dan juga menyinggung rerun sinetron Putri Huan Zhu (untunglah sinetron itu terkenal di Indonesia, kalo nggak ya jadi kurang lucu) (tapi mungkin akan lebih lucu kalo yang nonton emang lebih tua dan tahu siapa itu Teresa Teng) (kalo aku kan masih belia jadi nggak tau sama sekali) (=p). Ceritanya juga belakangan cukup mengharukan, terutama yang berhubungan dengan keluarga.

Tapi kalau buat gw, ada dua problem yang bikin gw nggak terlalu merasa film ini sampai bagus banget. Yang pertama adalah babak perkenalannya yang puanjang dan cukup melelahkan, seakan-akan susah banget untuk menunjukkan sifat-sifat slebor dan ngeselin dari si nenek. Walaupun itu semua paid-off di bagian-bagian cerita selanjutnya, tapi ya gw harus mengeluarkan jurus kesabaran ekstra untuk melewati babak ini sampai akhirnya si nenek jadi muda dan plot bergulir dari sana. Yang kedua adalah canggungnya gw melihat dari dunia yang ditampilkan di sini. Mungkin ada semacam pengaruh Korea di sana, tapi emang mungkin gw belum terbiasa dengan imaji bahwa kehidupan kontemporer di RRC sekarang se-luxurious itu. Rumah anaknya si nenek itu kayak baru dibikin banget jadi kayak kurang natural. Cuma itu ya dari gwnya aja sih.

Secara keseluruhan film ini juga masih menghibur dan nggak rugi-rugi amat ditonton, walaupun mungkin nggak seemosional film-film Korea. Gw juga lumayan bisa menangkap "budaya dan kearifan lokal"-nya =p, mulai dari community centre untuk lansia—tempat nyanyi-nyanyi dan main mahjong, kebanggaan terhadap anak yang sukses secara di sana punya anak rata-rata cuma bisa satu, kontras rock festival ingar bingar dengan pedesaan, things like that. Salah satu yang jadi highlight buat gw adalah bagaimana Yang Zishang bisa tampak cantik meski pakai baju-baju cheongsam yang direpresentasikan sebagai busana zaman nenek lo.




My score: 7/10


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar