Sabtu, 21 Maret 2015

[Movie] Love & Faith (2015)


Love & Faith
(2015 - E-Motion)

Directed by Benni Setiawan
Written by Bagus Bramanti, Benni Setiawan
Produced by Frans Limsanax
Cast: Rio Dewanto, Laura Basuki, Dion Wiyoko, Ferry Salim, Iszur Muchtar, Epy Kusnandar, Verdi Solaiman, Teuku Rifnu Wikana, Irina Chiu Yen, Desy Limsanax, Landung Simatupang, Henky Solaiman


Film Love & Faith garapan Benni Setiawan mengisahkan perjalanan cinta sepasang tokoh yang memang ada di dunia nyata. Dalam hal ini, sosok yang dimaksud adalah Karmaka Surjaudaja alias Kwee Tjie Hoei dan istrinya, Lim Kwei Ing. Karmaka sendiri dikenal sebagai salah satu pemilik Bank NISP, yang sekarang dikenal dengan nama OCBC NISP. Dengan gambaran seperti itu, bisa ditebak bahwa Love & Faith juga bakal menuturkan kisah sukses tokoh tersebut.

Kwee Tjie Hoei (Rio Dewanto) tumbuh di kota Bandung dalam keadaan ekonomi sulit di masa peralihan kemerdekaan Indonesia. Lulus SMA di 1950-an, Hoei memutuskan untuk bekerja di toko jasa reparasi elektronik serta jadi guru olah raga di SMA, supaya adiknya, Ong (Dion Wiyoko) bisa kuliah. Tak disangka, perjalanan dramatis dalam kehidupan Hoei bermula di sekolah itu.

Di sana, Hoei bertemu dengan Lim Kwei Ing (Laura Basuki), seorang murid yang kemudian jadi cinta sejatinya. Meski dari latar belakang berduit, Ing dan keluarga rupanya tidak keberatan untuk menerima Hoei yang hidup pas-pasan. Singkat cerita, hubungan mereka direstui, sekalipun Hoei memberi nafkah keluarga hanya dengan bekerja jadi pegawai biasa di sebuah pabrik.

Masuk era 1960-an, sebuah polemik terjadi di bank milik ayah Ing. Hoei pun diberi mandat untuk menggantikan posisi mertuanya di bank tersebut sekaligus menyelesaikan permasalahan di sana. Ini jelas bukan perkara mudah, karena bidang ini sama sekali tidak pernah disentuh Hoei. Yang ia punyai hanyalah niat baik dan tekad untuk melindungi keluarganya.

Niat mengangkat kisah hidup seorang tokoh di layar lebar patutlah dihargai. Apalagi, sosok yang diangkat memang punya value dan pengaruh yang cukup di bidangnya. Belum lagi perjalanan kisahnya dibuat dalam bentuk zero to hero, dari kesusahan menuju kesuksesan, sesuatu yang sering disebut sebagai "inspiratif" dan "motivasional", yang tentu akan disambut hangat oleh penonton kita.

Niat tersebut untungnya tidak diperlakukan dengan sembarangan. Film Love & Faith paling tidak sukses menunjukkan nilai produksi yang baik, yang diperlukan untuk film-film sejenis. Apalagi, film ini mengambil setting waktu sekitar 50 tahun yang lalu. Nuansa vintage itu dihidupkan dengan cukup baik lewat tata artistik, kostum, dan tata rias, lalu ditangkap dengan sinematografi yang nyaman dan polesan visual effects pendukung. Singkatnya, film ini enak dilihat.

Tetapi, Love & Faith tak hanya punya pemandangan yang baik. Salah satu kekuatan utama film ini adalah akting dari dua bintangnya, Rio Dewanto dan Laura Basuki. Ketika Laura sukses menunjukkannya sebagai aktris berkualitas lewat gestur dan ekspresi yang meyakinkan (termasuk transisi dari anak SMA ke dewasa), Rio justru berhasil melebihi ekspektasi. Bahkan, bisa jadi ini adalah penampilan terbaik Rio di layar lebar. Upaya Rio dalam menghayati karakter Hoei dengan tutur kata dan segala emosi yang menyertainya, terutama transisi dari sosok yang kalem ke keadaan menjurus depresi, membuat kehadirannya di layar benar-benar nyata, tanpa sekalipun ada kesan berlebihan.

Sayangnya, penampilan bagus kedua pemain ini tidak bisa dinikmati lama. Soalnya, film ini seakan dipaksa berakhir terlalu cepat. Itupun kalau layak disebut "berakhir". Pada dasarnya film ini ingin menggambarkan bagaimana Hoei, juga berkat kesabaran Ing, bisa bangkit dari keterpurukan yang melandanya. Masalahnya, ketika sebab musabab keterpurukan itu ditunjukkan dengan dramatis dan cukup menyita waktu bahkan sampai titik terbawah (atau anggap saja begitu), penyelesaiannya tidak ada.

Ibarat perjalanan yang panjang dan berliku, tiba-tiba dipaksa berhenti ketika sudah tinggal lima menit mencapai tujuan. Film ini justru distop pada bagian Hoei mulai bangkit, sedangkan sisanya dijelaskan lewat tulisan. Dengan cara demikian (entah keputusan di editing atau memang dari skenarionya), film ini tak hanya terkesan tanggung, tetapi juga abai dalam menyelesaikan misi inspirasinya dalam bahasa gambar. 

Apakah hasil dari kebangkitan Hoei hanya senyam-senyum di taman? Padahal, menurut keterangan ia jadi sering sakit-sakitan. Ini saja sebenarnya berpotensi jadi babak tersendiri, ketika cinta mereka diuji cukup berat, yang sayangnya tidak dijamah dalam filmnya. Apakah dari kebangkitan itu pula perlahan-lahan masalah di bank bisa diselesaikan? Bahkan keterangan itu tidak tercantum di tulisan. Pokoknya, banknya masih ada sampai sekarang. Cuma itu. 

Cerita yang ditampilkan memang punya banyak kekuranglengkapan, dan potensi-potensi yang ada tidak dimaksimalkan. Masih ada beberapa kekurangan informasi tentang sebab akibatnya (mengapa ayah Ing tak bisa kembali ke Indonesia, lolosnya Hoei dari penculikan). Juga detail-detail menarik seperti cara kerja perbankan dan persoalan nama orang keturunan Tionghoa yang ditampilkan selewat saja. Kesempatan untuk memberi pengetahuan tambahan pun disia-siakan.

Alhasil, Love & Faith secara keseluruhan tak seenak tampilan visual dan akting pemainnya. Ada indikasi filmnya dibuat terburu-buru (bisa dilihat koreksi penyebutan ayah Hoei yang ditimpa dubbing), dan bisa jadi di situ letak masalahnya. Film ini bisa lebih bagus asal ceritanya lebih dilengkapi, dan mungkin itu butuh waktu. Well, barangkali supaya tidak terlalu kecewa, anggap saja film ini bersambung.




My score: 6/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar