Minggu, 08 Maret 2015

[Movie] 2014 (2015)


2014
(2015 - Mahaka Pictures/Dapur Film)

Directed by Rahabi Mandra, Hanung Bramantyo
Written by Ben Sihombing, Rahabi Mandra
Produced by Hanung Bramantyo, Celerina Judisari
Cast: Ray Sahetapy, Rizky Nazar, Maudy Ayunda, Donny Damara, Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto, Rudy Salam, Donna Harun, Wiwing Dirgantara, Fadika R., Fauzan Smith, Deddy Sutomo, Akri 'Patrio', Ozzol Ramdan, Trisa Triandesa


Setelah perjalanan panjang—selesai tahun 2013, lalu di-reshoot dan re-edit, dan tertunda satu tahun penayangannya—film action thriller politik Indonesia, 2014 akhirnya hadir juga. Dengan latar menyangkut pemilihan presiden Indonesia, sekilas apa yang diangkat film garapan sutradara Rahabi Mandra dan Hanung Bramantyo ini terdengar agak usang. Namun, adalah sebuah penyangkalan semu bila memandang apa yang disampaikan film ini tidak relevan dengan keadaan negara kita sebenarnya.

Dengan segala keberadaannya, film 2014 punya satu keunggulan istimewa. Sampai sekarang mungkin belum ada film Indonesia yang mengangkat politik dengan cara seperti di film ini, yaitu dalam kemasan thriller dan action. Bahkan di milenium baru ini, baru film 2014 yang mengangkat politik negara sebagai sorotan utama tidak dalam bentuk sindiran. Film terakhir yang mendekati tema dan kemasan 2014 adalah Hari Ini Pasti Menang di tahun 2013. Namun, film tersebut lebih bergerak dalam lingkup sepakbola (termasuk mafia dan perjudian) ketimbang lingkup negara.

Kisah 2014 bermuara pada satu kasus pembunuhan seorang staf departemen keuangan. Bagas Notolegowo (Ray Sahetapy) tepergok berada di tempat kejadian, dan ia segera ditetapkan jadi tersangka. Namun, akan sangat naif bila kasus ini dianggap kasus kriminal biasa. Sebab, Bagas adalah salah satu calon presiden yang nilai polling-nya selalu paling tinggi. Dengan tersandung pelanggaran kriminal berat, posisinya pun terancam.

Curiga bahwa ayahnya dijebak, Ricky Bagaskoro (Rizky Nazar dalam penampilan film layar lebar pertamanya), putra sulung Bagas yang masih SMA, mencoba meminta bantuan seorang ahli hukum ternama, Krishna Dorojatun (Donny Damara) untuk membebaskan ayahnya. Akan tetapi, masalah tidak berhenti pada Bagas yang jadi tersangka. Disinyalir ada upaya agar kasus ini tidak tuntas. Penyelidik Iptu Astri (Atiqah Hasiholan) mendapati banyak bukti kasus ini dibuat tidak lengkap, ditambah lagi munculnya sosok pria misterius (Rio Dewanto) di berbagai tempat yang berkaitan dengan kasus tersebut.

Melihat kejanggalan dalam kasus ayahnya, Ricky pun nekad mencari tahu kebenaran di baliknya, bersama Laras (Maudy Ayunda), putri dari Krishna. Pencarian itu pun membawanya masuk pada sebuah konspirasi besar yang didalangi oleh seseorang berpengaruh, bahkan melebihi presiden.

Meski dibuat tahun 2013—berarti sebelum Pemilu 2014 berlangsung, film 2014 rupanya sudah bisa membaca iklim politik Indonesia saat ini. Apa yang ditampilkan di sini mungkin tidak lagi mengejutkan bagi kita yang sering membaca berita. Konflik utamanya berpusat pada kasus kriminal yang kental motif politik, termasuk pihak berwajib yang ternyata disusupi kepentingan pihak tertentu. Sounds familiar? Bukan berarti kisahnya mengangkat kasus nyata, tetapi film ini berhasil menangkap sifat-sifat dunia politik negeri ini dan menuangkannya dalam sebuah kisah baru yang bukan tak mungkin terjadi.

Di luar itu, film 2014 menyajikan kisahnya dalam kemasan yang captivating dan menghibur. Bahkan penggunaan kamera high definition (yang sering digunakan untuk TV) tidak membuatnya kelihatan murahan. Sebagai political thriller dengan unsur action, film berhasil dikemas dengan presentasi yang menegangkan dan seru, disertai intrik cerita yang masih masuk akal.

Terlihat juga bahwa film ini banyak belajar dari film-film sejenis dari luar. Misalnya, penuturan dan lajunya yang ringkas dan dinamis seperti gaya Hollywood, juga adegan-adegan action yang memang digarap serius layaknya film-film action Hong Kong. Namun, bukan berarti film ini meniru mentah-mentah. Ini terbukti dari cerita dan dialog-dialognya yang dirangkai sesuai dengan mindset dan situasi Indonesia. Tidak ada istilah-istilah terlalu rumit yang digunakan di sini, dan ini konsisten juga dengan sosok tokoh utama yang masih SMA, sebagai pemandu penonton dalam memahami konspirasi yang ada di film ini.

Namun, memang ada satu gaya yang cukup eksentrik di penyajian film ini, yaitu gambar di-freeze dan jadi hitam-putih pada saat-saat paling dramatis—mirip dengan yang dilakukan serial NCIS sebelum break iklan. Mungkin tujuannya adalah mempertegas momen-momen yang dimaksud. Di atas kertas gaya ini terkesan agak norak, apalagi terus diulang-ulang, padahal hakikatnya film ini punya tone serius. Untunglah frekuensinya belum sampai tahap berlebihan, dan mungkin cukup efektif sebagai momen penonton bisa sejenak menyerap apa yang baru ditampilkan di layar. Anggap saja begitu.

Film ini tentu masih punya beberapa kelemahan. Beberapa titik cerita mungkin butuh penjelasan lebih. Misalnya, bagaimana polisi bisa langsung memergoki Bagas di TKP, sejak kapan polisi punya informan di sekitar TKP, atau juga cara salah satu tokoh menyimpan data rahasia dalam bentuk yang sangat rentan. Namun, ini justru secara tak langsung (mungkin tanpa sengaja) menggambarkan situasi hukum dan politik kita yang memang "ajaib". Tiba-tiba ada kasus lalu terlupakan, tiba-tiba orang muncul dan menghilang, segalanya serba tiba-tiba. Mungkin ada penjelasan dari semua itu yang tidak ditampilkan di layar, sebagaimana di dunia nyata tidak semua sisi sebuah masalah ditampilkan di media massa.

Paling tidak, kekurangan itu tidak mengganggu sisi hiburan dari film ini. Tidak hanya dari adegan-adegannya, tetapi juga gambaran Indonesia di dalam ceritanya yang cukup mengusik, karena mungkin sekali terjadi di kehidupan nyata. Bahkan, mungkin sudah, atau sedang terjadi.





My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar