Kamis, 19 Februari 2015

[Movie] Nada untuk Asa (2015)


Nada untuk Asa
(2015 - MagMA Entertainment/Sahabat Positif Komsos KAJ)

Written & Directed by Charles Gozali
Produced by Hendrick Gozali
Cast: Marsha Timothy, Acha Septriasa, Darius Sinathrya, Nadila Ernesta, Mathias Muchus, Inong Nidya Ayu, Wulan Guritno, Butet Kertaradjasa, Tri Yudiman, Donny Damara, Irgi Fahrezi, Pongki Barata


Kisah tentang pengidap HIV yang harus berjuang melawan penyakitnya, sekaligus bertahan dari pandangan miring dari orang-orang sekitar. Sekilas premis film Nada untuk Asa tersebut terdengar seperti film melodrama Indonesia yang lagi-lagi memanfaatkan penyakit untuk meminta belas kasihan dari penontonnya. Tetapi, Nada untuk Asa rupanya menawarkan lebih daripada air mata. Bahkan, ada satu informasi yang di dunia nyata mungkin luput dari perhatian banyak orang: HIV bukan berarti vonis mati.

Ditulis dan disutradarai oleh Charles Gozali (Finding Srimulat), Nada untuk Asa dituturkan dengan cara yang cukup berbeda dari film drama biasa. Alurnya mengikuti dua tokoh berbeda dalam dua masa yang berbeda pula—namun ditampilkan selang-seling. Yang pertama adalah Nada (Marsha Timothy) seorang janda dengan tiga anak yang baru mengetahui ia positif HIV. Yang kedua adalah Asa (Acha Septriasa), seorang perempuan muda yang hidup dengan HIV sejak kecil, dan mendapat perlakuan tak adil karena penyakitnya itu. Asa adalah anak bungsu dari Nada.

Meski punya kaitan, dua alur ini memang dibuat cukup kontras. Kisah Nada adalah tentang sebuah keluarga yang awalnya kokoh, tiba-tiba terguncang oleh kenyataan bahwa seseorang mengidap penyakit yang sangat ditakuti. Satu per satu, ikatan keluarga yang tadinya erat menjadi kendor, terutama akibat stigma tertanam bahwa HIV adalah "penyakit orang nggak benar".

Belum lama suaminya meninggal, Nada kemudian tahu suaminya (Irgi Fahrezi) pernah selingkuh dan positif HIV. Lalu belakangan menularkan virus itu pada diri dan putri mereka, Asa. Bagian inilah yang mungkin paling mirip dengan kisah melodrama pada umumnya. Air mata Nada, dan orang-orang di sekitarnya, benar-benar diperas di sini. Bakal terasa melelahkan juga melihat bahwa hampir di setiap adegan Nada ditampilkan menangis. Bahkan, dua atau tiga adegan di antaranya, orang-orang di sekitar Nada satu per satu juga ikutan menangis.

Tetapi, perlu dipahami bahwa tangisan di film ini memang bukannya dipaksakan. Kesedihan dan keterpurukan yang digambarkan pada bagian kisah Nada memang berfungsi untuk menyampaikan rasa yang dialami Nada sendiri. Lebih dari persoalan penyakit, tetapi bagaimana ia berjuang untuk menerima keadaannya, dan juga bisa dirangkul oleh keluarganya sendiri. Perlakuan yang diterima Nada memang heartbreaking, namun tidak dikemas mengada-ada. Inilah yang membuat mellow-nya kisah Nada cukup acceptable, meskipun belum tentu mudah dinikmati.

Sebaliknya, kisah Asa terlihat lebih cerah dan manis. Sikapnya pun jauh berbeda dengan Nada, karena Asa digambarkan sudah pada tahap menerima keadaannya, dan sudah terbiasa menguatkan diri ketika mendapat perlakuan diskriminatif. Ketimbang meratapi penyakit, ia berkonsentrasi mewujudkan mimpinya dalam hidup. Lalu datanglah Wisnu (Darius Sinathrya), pemuda yang perhatian pada Asa. Kebetulan, Wisnu mengerti betul tentang orang-orang positif HIV seperti Asa. Namun, ini justru membuat Asa tak yakin Wisnu tahu betul apa yang ia lakukan dengan mendekati Asa.

Pada dasarnya kedua alur ini ingin menyampaikan nilai-nilai yang sama. Keduanya berbicara tentang beratnya perlakuan yang diterima oleh orang-orang positif HIV, yang mungkin jadi persoalan yang lebih kompleks ketimbang pengobatannya. Ditunjukkan pula bahwa, sekalipun sudah lewat satu generasi, stigma dan pengetahuan masyarakat tentang HIV belum kunjung berubah.

Kedua tokoh ini punya pergulatan yang sama, namun dengan sikap yang berbeda: Nada adalah masa rapuh, Asa adalah masa tegar. Kisah Asa bisa saja disederhanakan sebagai penyeimbang porsi melodrama kisah Nada, dan itu adalah cara yang sangat baik untuk tidak membuat film ini jatuh terlalu cengeng. Bayangkan saja ada berapa tokoh lagi yang bakal "ketularan" menangis jika hanya ada kisah Nada di film ini.

Meski punya materi cerita yang baik, di saat bersamaan Nada untuk Asa mungkin belum terasa sempurna sebagai sebuah sajian sinematik. Walau film ini memerhatikan detail artistik seperti kostum dan properti yang menandakan perbedaan zaman dengan efektif, film ini memang hanya berskala kecil, dan production value-nya sangat sederhana untuk ukuran film bioskop. Dialog yang preachy di beberapa tempat mungkin masih bisa dimaklumi, mengingat tujuan awal film ini adalah inspirasional. Namun, beberapa penataan adegan masih terbawa pada dramatisasi "gaya lama"—seperti bercakap-cakap tanpa saling berhadapan, dan satu adegan yang maunya sekadar mengundang senyum jatuhnya seperti sketsa komedi di TV.

Otomatis, Nada untuk Asa harus mengandalkan cerita dan akting pemainnya untuk mengangkat nilai keseluruhan film ini. Untunglah, hal itu bisa disanggupi. Penampilan Marsha dan Acha patut mendapat pujian, terutama karena sanggup mengangkat karakter mereka secara dramatis tanpa harus jadi over-the-top.

Satu lagi hal lagi yang membuat Nada untuk Asa punya nilai lebih adalah caranya menyampaikan "penyuluhan" yang mulus tentang HIV/AIDS. Seakan mematahkan kebiasaan film dan sinetron Indonesia dalam menggambarkan penderita penyakit berat, film ini lebih menunjukkan tokoh-tokoh utamanya menderita karena sikap orang-orang di sekitarnya, bukan penyakitnya. Bahkan mereka tidak terlihat sakit. Film ini mengingatkan bahwa HIV—walaupun belum bisa disembuhkan—bisa ditangani dengan pengobatan dan pola hidup sehat. Alhasil, pengidapnya bisa tetap hidup bugar. Mungkin bukti yang paling populer bisa dilihat di mantan pebasket NBA, Magic Johnson yang postif HIV selama 20 tahun lebih tapi tidak pernah terlihat kurus. Jadi, walau tidak sempurna, setidaknya Nada untuk Asa berhasil untuk tidak keliru.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar