Rabu, 18 Februari 2015

[Movie] Foxcatcher (2014)


Foxcatcher
(2014 - Sony Pictures Classics/Annapurna Films)

Directed by Bennett Miller
Written by E. Max Frye, Dan Futterman
Produced by Megan Ellison, Jon Kilik, Anthony Bregman, Bennett Miller
Cast: Channing Tatum, Steve Carell, Mark Ruffalo, Sienna Miller, Vanessa Redgrave, Anthony Michael Hall


Film Foxcatcher bukanlah film olahraga, bukan pula film biografi seperti dalam pengertian umum. Film ini dibuat berdasarkan sebuah kasus kriminal yang cukup besar terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1996, dengan latar belakang bidang olahraga gulat (gaya romawi, bukan WWE) tingkat nasional. Sutradara Bennett Miller dan timnya mengambil penceritaan yang berangkat dari pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana" kasus itu terjadi. Dengan berpatokan demikian, Foxcatcher yang ritme ceritanya cukup lambat ini akan lebih mudah dipahami maksudnya.

Kasus yang dimaksud adalah terbunuhnya seorang mantan atlet gulat peraih medali emas Olimpiade Los Angeles 1984—yang jadi pelatih gulat, Dave Schultz, oleh miliarder John du Pont, yang tak lain adalah pemilik dan pemberi dana pusat pelatihan gulat Foxcatcher. Kasus ini terbilang cukup mengusik, selain karena Dave adalah atlet yang pernah mengharumkan bangsa AS, du Pont sendiri berlatarbelakang  keluarga kaya terhormat, dan hubungan di antara mereka diketahui tidak bermasalah. Film Foxcatcher pun mencoba menganalisis bagaimana itu tersebut bisa terjadi.

Film diawali dengan perkenalan kakak beradik Schultz, Mark (Channing Tatum) dan Dave (Mark Ruffalo). Keduanya adalah juara gulat di kelas berbeda di Olimpiade 1984, namun keduanya punya imej yang berbeda. Kelihatan sekali bahwa Dave, yang memang lebih ramah dan diandalkan, memiliki hidup yang lebih mapan, dan menikmati perannya sebagai pelatih gulat di kotanya. Sementara Mark yang masih muda dilanda kejenuhan, karena hidup sebagai peraih medali emas Olimpiade tidak memberinya kesejahteraan yang diharapkan.

Kesempatan hidup lebih baik datang lewat tawaran John du Pont (Steve Carell), yang telah membangun fasilitas pelatihan gulat termutakhir di tanah milik keluarganya, yang disebut Foxcatcher. Mengaku sebagai penggemar olahraga gulat namun tak bisa jadi atlet, John menawarkan Mark untuk menggunakan fasilitas itu dan melatih atlet-atlet gulat lain, dengan target meraih juara lagi di Olimpiade Seoul 1988. Tentu saja, Mark juga diberi bayaran dan fasilitas mewah.

John sendiri tadinya ingin Mark mengajak Dave, tetapi Dave menolak dengan alasan tidak ingin pindah kota demi anak-istrinya. Mark sendiri tidak terlalu berusaha meyakinkan Dave, toh inilah saatnya Mark bisa bersinar tanpa bayang-bayang kakaknya.

OBSERVASI KARAKTER

Secara perlahan, Foxcatcher membuat paparan terhadap sisi psikologis para tokohnya. Ada Mark yang sedang menghidupi impiannya, ada pula John yang akhirnya bisa bersentuhan langsung dengan dunia gulat yang dicintainya, bahkan menyandang  panggilan coach. Namun, keduanya seperti tidak siap untuk itu.

Mark terlena dengan kehidupan mewah bahkan terjerembab dalam narkotika. Demikian juga John yang punya hubungan yang kompleks dengan ibunya (Vanessa Redgrave), yang menganggap gulat bukan olahraga berkelas. Segala tindakan dan kepedulian John bermuara pada hasratnya untuk membuktikan bahwa ia bisa jadi kebanggaan lewat hal yang digemarinya. Ketika itu tak berjalan sesuai kemauannya, John pun menunjukkan gelagat yang janggal, dan turut berpengaruh terhadap Mark dan sasana gulatnya. Segalanya bertambah rumit ketika Dave ikut terseret.

Dengan pilihan angle cerita dan penggarapannya, Foxcatcher nyatanya tidak ingin terpaku pada teknik procedural—penyelidikan tentang terjadinya sebuah kejahatan. Miller memilih mengajak penonton untuk mengamat-amati karakaternya dengan saksama (lewat adegan-adegan yang cukup panjang), dan kemudian membaca apa yang menyebabkan kasus itu terjadi dari segi psikologis. Ini seperti yang dilakukan Miller dalam film Capote (2005), hanya saja tanpa sosok Truman Capote yang menjadi wakil penonton dalam mengamati sisi psikologis seorang terpidana kasus pembunuhan.

Dengan kata lain, Foxcatcher ini termasuk tidak mudah untuk dinikmati. Apalagi, sudah terbaca bahwa film berdurasi 129 menit ini akan semakin kelam di belakangnya. Walaupun sebenarnya, secara struktur dan estetis, tidak ada masalah dengan film ini. Apa yang ditunjukkan di sepanjang film bukannya tidak mudah dipahami, segalanya punya pay off pada akhirnya.

Demikian juga para aktornya bermain dengan sangat baik dalam menyampaikan apa yang ada di benak tokohnya meski tanpa banyak kata, menguatkan fokus film ini yang lebih banyak ke karakter. Tak sulit untuk bisa melihat bahwa Mark mengalami depresi, John yang perlahan termakan oleh obsesinya agar bisa jadi "seseorang" yang berarti, juga Dave yang punya empati luar biasa, baik terhadap Mark maupun John. Semuanya disajikan lewat adegan-adegan yang dirancang dengan teliti, agar bisa dilihat tanpa perlu penjelasan lagi.

Film ini bukannya sulit untuk dipahami. Hanya saja, dengan penyampaian yang tanpa unsur keceriaan atau hampir tak punya ledakan emosi, bisa dibilang butuh konsentrasi lebih untuk bisa mengikuti film ini hingga akhir.




My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar