Senin, 19 Januari 2015

[Movie] Di Balik 98 (2015)


Di Balik 98
(2015 - MNC Pictures)

Directed by Lukman Sardi
Written by Samsul Hadi, Ifan Ismail
Produced by Affandi Abdul Rachman
Cast: Chelsea Islan, Donny Alamsyah, Ririn Ekawati, Boy William, Teuku Rifnu Wikana, Bima Azriel, Amoroso Katamsi, Agus Kuncoro, Alya Rohali, Fauzi Baadila, Verdi Solaiman, Marissa Puspitasari, Iang Darmawan, Asrul Dahlan, Elkie Kwee


Film Di Balik 98 sejak awal promosinya ditegaskan sebagai sebuah kisah fiksi berlatar sejarah peristiwa Mei 1998 di Jakarta. Cukup membingungkan bahwa sebuah film yang plot utamanya adalah fiktif menggunakan judul yang mengesankan bakal mengungkap fakta di balik peristiwa penting itu. Tapi, terserahlah, mungkin ada pertimbangan lain dari yang empunya film. Toh, peristiwa Mei 1998 memang berperan cukup penting bagi tokoh-tokoh fiktif di film ini. Untungnya, penggambaran situasi saat itu digambarkan dengan baik dalam film debut penyutradaraan Lukman Sardi ini.

Di Balik 98 bisa dikatakan sebagai film dengan interwoven storyline, beberapa plot terpisah yang punya keterkaitan di beberapa titik, digerakkan oleh beberapa tokoh dengan porsi berimbang (tidak ada tokoh yang paling utama). Ketika situasi memanas dan kemudian timbul kerusuhan yang tersulut oleh tewasnya beberapa mahasiswa Trisakti saat berunjuk rasa, tokoh-tokoh ini berada dalam tempat terpisah. Masing-masing pun harus menghadapi pergolakan sendiri-sendiri, dan berusaha survive dari situasi yang serba tak pasti agar dapat bersatu kembali.

Perhatian utama film ini ada pada sebuah keluarga muda yang terdiri dari Bagus (Donny Alamsyah), istrinya Salma (Ririn Ekawati), dan adik Salma, Diana (Chelsea Islan). Komposisi keluarga ini pun dramatis: Bagus adalah seorang prajurit TNI, Salma adalah staf dapur Istana Negara yang tengah hamil (artinya pasti ada satu titik di film ini ia bakal melahirkan), sedangkan Diana adalah salah satu mahasiswa Universitas Trisakti yang aktif mengikuti aksi menuntut reformasi pemerintahan. Bisa dibayangkan, ada dua pandangan berseberangan dalam satu rumah. Ditambah lagi, ada sosok Daniel (Boy William), kekasih Diana yang berasal dari keluarga keturunan Tionghoa, yang juga harus merasakan dampak dari kerusuhan Mei 1998.

Namun, tak berhenti di situ saja, untuk memperkuat gambaran situasi pada masa itu, Di Balik 98 juga menyajikan kisah-kisah lain yang tak berkaitan langsung dengan keempat tokoh tadi. Ada sepasang ayah dan anak pemulung (Teuku Rifnu Wikana dan Bima Azriel), sebagai perwakilan rakyat kecil yang tak tahu tentang situasi politik, tetapi langsung terkena dampak dari krisis. Demikian pula film ini menggambarkan beberapa proses pengambilan keputusan lewat tokoh- tokoh di parlemen dan pemerintahan saat itu. Yang paling banyak porsinya adalah interaksi Presiden Suharto (Amoroso Katamsi) dan Wakil Presiden saat itu, B.J. Habibie (Agus Kuncoro).

Satu hal yang perlu diapresiasi dari film ini adalah caranya dalam menggambarkan zaman itu secara visual. Walaupun selalu ditekankan bahwa ini bukan film sejarah, tetapi tim produksinya terlihat sangat berupaya dalam menggambarkan situasi sedekat mungkin dengan kenyataan kala itu. Tak bergantung sepenuhnya pada footage media yang sudah ada, film ini cukup serius pula dalam mereka ulang kejadian dan suasana di masa itu.

Tidak hanya dari hal-hal besar, seperti gambaran demonstrasi, kerusuhan, penjarahan, serta bentuk dari interior Istana negara dan skyline Jakarta saat kerusuhan (dengan sedikit bantuan efek CGI). Tetapi juga dari hal-hal kecil, seperti bentuk logo stasiun TV saat itu, model kendaraan, sampai pada film apa yang sedang tayang di bioskop. Memang ada sedikit ganjalan pada beberapa bagian—kamera menangkap produk-produk masa kini di sebuah warung, atau poster film bioskop yang dibuat dengan digital printing—tetapi secara keseluruhan, tampak jelas film ini tidak meremehkan penggambaran sebuah masa yang terbilang recent history.

Namun, dengan banyaknya tokoh dan bagian cerita yang hendak disajikan, Di Balik 98 belum sanggup mengatasi risiko dalam membuat film model ini, yaitu fokus cerita yang terlalu melebar. Ini terlihat dari pergeseran fokus ketika ingin menceritakan tahap-tahap mundurnya Presiden Suharto. Saat berada di sana, tokoh-tokoh fiktif yang jadi perhatian di awal utama hilang agak lama, digantikan dengan situasi di gedung DPR/MPR dan Istana Negara. Ditambah lagi ada kecenderungan film ini menunjukkan sebuah adegan dengan durasi yang panjang, sebut saja adegan kerusuhan dan penjarahannya. Sehingga, laju film ini jadi terkesan bergerak lambat.

Di sisi lain, film ini juga kelihatan cukup berhati-hati dalam memaparkan situasi yang tercatat dalam sejarah. Sebagaimana disinggung sebelumnya, film ini bisa diklaim hanya memakai peristiwa Mei 1998 sebagai latar yang ditempati para tokoh-tokoh fiktifnya. Porsi sejarahnya memang tidak sedikit, namun bila diperhatikan film ini memang hanya menampilkan apa yang sudah diketahui publik. Sehingga, adalah keliru bila mengharap Di Balik 98 adalah pengungkapan di balik layar peristiwa tersebut.

Akan tetapi, ada semacam inkonsistensi dengan prinsip itu, ketika dalam adegan-adegan yang melibatkan tokoh-tokoh terkenal (walau sebatas cameo), mereka semua diperkenalkan lewat keterangan nama yang terang-terangan. Padahal, bila tidak mau dikatakan film sejarah, biarkan saja identitas mereka dijadikan trivia di balik layar. Keputusan untuk menandai tokoh-tokoh dengan nama jelas pun jadi backfired ketika aktor yang memerankannya sangat jauh dari imej sosok yang sudah dikenal orang. Sebut saja pemeran Amien Rais (Eduwart Soritua) yang hampir tak punya kesamaan fisik, atau Dian Sidik yang terlalu muda untuk jadi Wiranto, dan Pandji Pragiwaksono sebagai Susilo Bambang Yudhoyono. Reaksi tawa dari penonton pun adalah sebuah keniscayaan. Padahal ini film serius.

Satu lagi sandungan kecil dari film ini, sementara sudah berusaha menggambarkan ulang peristiwa masa lalu, film ini malah teledor dalam menggambarkan masa sekarang. Saat ingin menunjukkan keadaan tokoh di masa sekarang, film ini "memaksa" tahun yang ditunjukkan adalah 2015. Padahal, situasi yang digambarkan sama sekali berbeda dari kenyataan. Demonstrasi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jelas tidak terjadi di 2015 yang baru berjalan dua pekan ini. Seperti diketahui, harga BBM justru diturunkan di tahun 2015.

Pada akhirnya, Di Balik 98 bukan gambaran sempurna tentang sebuah peristiwa yang penting bagi negeri ini. Akan tetapi, jika tujuannya adalah mengenang kembali rasa yang timbul ketika peristiwa itu terjadi, film ini jauh dari gagal. Diwakili oleh para tokoh yang mengalami hal-hal yang banyak dialami orang-orang masa itu, memori tentang kegelisahan, kebingungan, kepedihan, juga harapan yang timbul dari dinamika yang terjadi di Mei 1998, bisa ditangkap dari sini. Bukan potret sejarah yang akurat, tetapi lebih kepada potret emosi dari mereka (dan kita) yang pernah melewatinya.




My score: 7/10


Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar