Sabtu, 24 Januari 2015

[Movie] Blackhat (2015)


Blackhat
(2015 - Universal)

Directed by Michael Mann
Written by Morgan Davis Foehl
Produced by John Jashni, Thomas Tull, Michael Mann
Cast: Chris Hemsworth, Wang Leehom, Tang Wei, Viola Davis, Holt McCallany, Ritchie Coster, Yorick van Wageningen, John Ortiz, William Mapother


Sejak Collateral, gw termasuk selalu menantikan karya-karyanya Michael Mann. Itu diperkuat setelah nonton Heat, The Insider, dan Public Enemies. Well, gw kurang suka Miami Vice, tetapi gayanya yang agak "lain" ternyata lumayang ngangenin. Jadi, itulah latar belakang gw menantikan Blackhat, bukan semata-mata karena syutingnya di Jakarta--dan kayaknya Mann kesengsem sama Jakarta sampe dibikin sebagai tempat buat adegan klimaks dan ada potongan gambarnya di poster. But, you know, bahwa film ini rilis di bulan Januari itu agak pertanda bahwa ini bukan karya yang diunggulkan oleh distributornya. Penjelasannya: ini adalah bulan ketika lebih banyak orang di USA nontonnya film-film nominasi Oscar, jadi film-film baru yang tayang di Januari biasanya yang nggak terlalu butuh sambutan besar gitu. Bahwa ternyata Blackhat yang notabene karya Mann yang seorang respectable dan nomine Oscar, agak mencurigakan sih. Dan, ternyata, kecurigaan itu terbukti.

Langsung saja, Blackhat bukanlah karya terbaik Mann. Film ini masih punya ide yang hebat dan punya production value besar nggak main-main, ditambah aktor-aktris nggak sembarangan, tapi sebagai sebuah karya dari spesialis film kriminal sebesar Heat, Collateral, dan Public Enemies, Blackhat ini macam pengen jalan-jalan ke daerah tropis tapi daripada cuma nganggur ya skalian deh bikin film. Bukan nuduh atau apa, tapi lihat hasilnya, memang terasa begitu. Yah sisi positifnya, hasil bikin film sambil jalan-jalannya nggak jelek-jelek amat sih.

Bagian cyber crime-nya sebenarnya oke. Terlihat cukup realistis (atau at least meyakinkan), baik cara maupun motifnya. Nggak ngarang-ngarang terlalu bebas. Demikian juga sama konsep bahwa peretas itu bisa dari dan di mana aja, sehingga bahwa film ini jalan-jalan dari Amerika ke Hong Kong, Malaysia dan Indonesia juga lumayan make sense. Oh, even ada mbak-mbak secakep Tang Wei tinggal di rumah susun dan naik taksi dari Tanah Abang juga lumayan make sense sih, rumah susun kan nggak ada sekuriti jadi gampang untuk sembunyi ataupun ho'oh-ho'oh-an =p. Dan, nggak lupa juga satu hal dari Mann yang paling gw suka, yaitu adegan-adegan action-nya, baik perkelahian, tembak-tembakan, maupun kejar-kejaran yang sangat intens almost documentary-style. Adegan-adegan itulah yang bikin gw masih bisa (mem)betah(kan diri) untuk menikmati film ini.

Yeah, well, selain yang itu, film ini agak draggy sih. It's fancy and stuff, tapi menurut gw film ini terlalu banyak ambil gambar pemandangan yang menguatkan dugaan motif pembuatan film ini adalah supaya si Mann cs bisa jalan-jalan. Tapi, itu bukan masalah utamanya. Film ini kelihatan maksa banget dalam memasukkan unsur "emosi" dalam cerita, dan celakanya itu in the end jadi motif utamanya. Pokoknya, biar udah di-setting supaya ada unsur ikatan persahabatan dan cinta, tapi jadinya bland dan kelihatan maksa aja, malah nambah-nambahin durasi. Maksudnya baik tapi...yah...kurang nempel aja sih. Kalau tanpa adegan-adegan aksi dan adanya Indonesia di film ini, udah bakal menjemukanlah film ini.

Menurut gw juga Jakarta versi film ini cukup representatif dan menarik sudut pandangnya. Emang kayaknya filmnya mengesankan Jakarta kumuh, tapi emang Jakarta kumuh kok cuma pada in denial aja =p. Dan dari film ini jadi kelihatan banget bedanya produksi Hollywood sama Indonesia. Ketika film Indonesia capek-capek ke syuting ke luar negeri demi minjem lokasi terkenal bahkan bangga kalau dapetnya sembunyi-sembunyi (ada yang kayak gitu, ada banget), tim Blackhat ke Jakarta harus musti juga bikin pasar sendiri, festival-festivalan sendiri, taksi sendiri, bank sendiri, bahkan ATM sendiri, sampe se-nama-namanya dan se-logo-logonya yang fiktif. Iya, segitunya. Ayo kita belajar.

Anyway, di tahun segini gw agak heran Mann masih gemar sama kamera digital HD biasa. Daripada pake kamera digital kayak buat TV gitu kenapa nggak pake HFR aja skalian ya?




My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar