Rabu, 31 Desember 2014

Year-End Note: My Top 10 Films of 2014

Dan, tentu saja, seri Year-End Note kali ini akan ditutup dengan 10 film top tahun ini versi gw. Berkali-kali gw sudah bilang dan akan gw bilang lagi sekarang, bahwa 10 film yang masuk not necessarily "terbaik", atau bahkan skornya tertinggi. Tetapi yang lebih penting adalah film-film yang paling memberikan kesan saat gw menontonnya, dan after-watch-nya (nyolong istilah after-taste =p) juga tetap berkesan yang positif. Pokoknya film-film yang paling mewakili dan bikin gw bakal inget terus sama tahun 2014 ini.


Sebagai pengingat, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, gw hanya memasukkan film-film yang beredar secara resmi di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2014, dan tentu saja yang gw udah tonton *yaiyalah*....dan karena emang kebetulan gw makin jarang nonton film dalam format lain karena keterbatasan waktu *cedih*.

Now, ladies and gentlemen, silahkan simak senarai 10 film ter-he-eh tahun 2014 versi gw, dalam urutan mundur.




10. Captain America: The Winter Soldier
Anthony Russo & Joe Russso

Ini adalah pertama kalinya gw bisa bilang "wow, cool" sama film superhero Marvel. Bukan cuma ceritanya yang benar-benar punya pertaruhan besar dan pengaruh yang signifikan terhadap Marvel Cinematic Universe, tetapi juga penggarapannya yang tiba-tiba jadi sangat raw action yang seru, nggak lagi se-"kartun" film pertamanya.




9. Pendekar Tongkat Emas
Ifa Isfansyah

Gw cukup menanti-nantikan ada film sejenis ini di layar lebar. Film fantasi tapi khas Indonesia yang digarap dengan serius. Akan tetapi, Pendekar Tongkat Emas mungkin not quite yang gw harapkan, karena skala ceritanya terbilang kecil dan pendekatannya lebih ke drama macam Crouching Tiger Hidden Dragon-nya Ang Lee. Nevertheless, gw tetap impressed sama film ini karena cerita dan skenarionya yang menurut gw nyaris tanpa cela, dan di sisi lain berhasil mengemas dan men-deliver sebuah materi orisinal yang bikin gw want for more.




8. Edge of Tomorrow
Doug Liman

Dengan premis yang cukup exciting, film ini pun rupanya dikemas dengan exciting pula. Seru dan fun bisa jadi gambaran yang tepat untuk film sci-fi action ini. Dan cukup cerdas. Tidak mudah menuturkan kisah yang diulang-ulang tetapi punya perbedaan di setiap ulangannya, tapi film ini berhasil menuturkannya tanpa jadi menjemukan. Dan ngelihat Tom Cruise jadi orang geblek dan mati berkali-kali juga sebuah pengalaman menonton yang tak boleh dilewatkan =p.




7. Her
Spike Jonze

Satu kata: brilian. Gila banget bisa ngebangun sebuah ide "cinta terlarang" manusia dengan mesin, yang bahkan mesinnya pun nggak punya wujud. Jadi ibaratnya emang cinta karena soul-nya gitu. Aneh deh, tapi ya gw iya-iya aja sama film ini. Manifestasi cara mereka memadu kasih, juga penggambaran bahwa mereka seperti pasangan betulan yang melakukan kegiatan bersama-sama itu, bikin gw berdecak kagumlah. Itu belum lagi kalau ngomongin gaya visualnya yang cakep banget.




6. Interstellar
Christopher Nolan

So, Nolan masih membuat film-film canggih yang mancing penontonnya membahas apapun yang ada dalam filmnya--kali ini soal Gargantua dan relativitas waktu bahwa sepuluh tahun di satu tempat itu cuma satu jam di Bekasi tempat lain, "wujud" waktu, dsb. Tetapi, yang bikin film ini lebih berkesan lagi adalah porsi drama keluarganya yang tersaji sama baiknya dengan sisi sci-fi-nya. Tetep seru, tapi sekaligus menyentuh juga.




5. The Book of Life
Jorge R. Gutierrez

Gw jatuh cintring banget deh sama desain visual film ini. Penuh detail dan warna-warni yang bikin filmnya meriah. Untunglah, segi visual itu diimbangi dengan penggarapan cerita yang sangat atraktif, penuh humor yang beneran lucu, juga nilai-nilai yang gw baru tahu banget, yaitu spirit perayaan Day of the Dead. Bahwa film ini ternyata musikal dengan lagu-lagu modern di-Latin-kan ternyata didn't hurt either.




4. The Raid 2: Berandal
Gareth Evans

Well, minimal di seri kedua ini ada ceritanya. Yang gak gw sangka adalah ternyata ceritanya itu berskala besar, menjadikan film ini sebuah film epic kriminal ala Indonesia, yang untungnya dituturkan dengan rapi. Adegan action-nya yang seru banget dong, tetapi nilai tambahnya adalah jeda antar adegan action-nya diisi dengan hal-hal yang tetap ada bobotnya. Dan gw nggak perlu jelasin lagi production value-nya yang gila dan nyaris gak dapat percaya itu dikerjakan oleh kru Indonesia. Cool abeiss lah.




3. Guardians of the Galaxy
James Gunn

Film ini termasuk anomali. Gw emang nggak kasih skor tinggi, tetapi film ini nyatanya punya durability dalam benak gw, sehingga gw dengan senang hati menempatkannya di posisi ini. Terlepas beberapa kekurangannya, ini tetaplah salah satu film paling menghibur dan paling fun yang gw tonton tahun ini. Karakternya, desain visualnya, soundtrack-nya, segala ke-dudul-annya tuh bikin kangen pengen nonton lagi dan lagi. Kalau buat gw film ini memang deserve to be big.




2. The Lego Movie
Phil Lord & Christopher Miller

Kayaknya gw banyak mengujarkan kata "brilian" dalam postingan ini. Kata itu juga bakal gw sematkan pada The Lego Movie. Serius, saking briliannya ini film gw sampe ngikik dan ngakak terus saat menontonnya. Gw kira ini cuma film buat jualan mainan, ternyata film ini mengemas visualnya dengan "segala sesuatu terbuat dari Lego" dengan brilian, plus mengusung nilai-nilai yang cukup thoughtful perihal perbedaan pola pikir manusia dalam menghadapi segala sesuatu. Tapi, buat gw yang bikin film ini pecah adalah timing humornya yang, hands down, jagoan! Bahwa "bagus", "menghibur", dan "kreatif" ternyata bisa disatukan dalam sebuah film yang sekilas konyol. Brilian.










1. Cahaya dari Timur: Beta Maluku
Angga Dwimas Sasongko

To tell you the truth, gw agak terkejut bahwa banyak pihak yang menyukai film ini selain gw. Soalnya, biasanya film Indonesia yang gw suka nggak terlalu "laku" di scope yang lebih besar (inget film Rayya Cahaya di Atas Cahaya yang jadi nomor satu gw di tahun 2012). Eh, untuk yang kali ini, Cahaya dari Timur malah berulang kali dinobatkan sebagai film terbaik, mulai dari FFI, Piala Maya, sampai film pilihan majalah Tempo. Kalau ingin alasan yang lebih valid, silahkan cek ajang-ajang tersebut. Tetapi kalau alasan gw menempatkan film ini di posisi ini, ya karena buat gw tahun ini tidak ada pengalaman menonton sekomplet saat menonton film ini. Dimulai dengan sangat "jleb" tentang kerusuhan antarkelompok agama di awal, lalu di antaranya ada tawa, haru, tangis, excitement, kesal, dan segala macam rasa. Bukan cuma jual kisah nyata zero to hero inspiratif dan pemandangan eksotis dan melodrama dan kritik sosial yang semata. Ada kesungguhan dalam penggarapan film ini, baik dari caranya bercerita, menggarap adegan, berakting bahkan penempatan musiknya, dan itu terpancar saat melihat hasil akhirnya. Pokoknya bener-bener menyelusup masuk ke hati, sehingga bukan kagum lagi yang gw rasa terhadap film ini, tapi rasa sayang sayange =').
Review


Dan demikianlah Year-End Note untuk tahun 2014. Semoga bermanfaat, syukur-syukur kalau menghibur. Selamat sambut Tahun Baru!

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2014

Kita sampai pada senarai paling maksa di year-end note kali ini, yaitu 10 album musik. Gw tahun ini jarang sekali mendengarkan album-album secara utuh dan menyeluruh, dan saat dengerin pun belum tentu suka. Efeknya, gw hampir nggak bisa memenuhi kuota top 10 album paling gw nikmati tahun ini—baru "nikmati" lho, apa kabar kalau kriterianya naik jadi "terbaik"? So, kalau dilihat-lihat, daftar 10 album berikut ini mungkin akan menimbulkan kernyit dahi, apalagi banyak album best-of-nya, dan artisnya ya itu-itu aja. Gw hanya bisa berdalih bahwa ya itulah yang paling gw sering dengerin dan paling gw nikmati sepanjang tahun ini.

O well. Berikut adalah 10 album yang paling gw nikmati sepanjang tahun 2014, dalam urutan mundur.



10. Shakira
Shakira 

Mindset orang-orang tuh perlu diubah: Shakira itu bukan artis "musik latin", dia adalah artis pop yang kebetulan berbahasa Spanyol. Shakira kali ini pe-de membuat sebuah album internasional yang memakai nama dirinya, yang memang ternyata cukup menggambarkan dirinya yang senang bermain di berbagai genre musik (latin, pop, rock, R&B, country, reggae) dan "diaduk" dengan suara sember khas dirinya. 1-2 lagu terdengar terlalu Taylor Swift-y dan Sony Music-y yang terkesan filler doang supaya jumlah lagunya sampe belasan, tetapi kalau doi pengen album ini menggambarkan musikalitas dirinya, gw sih setuju aja.






9. TAPESTRY OF SONGS -The Best of Angela Aki-
Angela Aki (アンジェラ・アキ)

Karena gw emang suka karya-karya dan sebagian besar single-single-nya, it's only natural gw sangat menikmati album ini. Dan, entah ini sesuatu yang baik atau tidak, Angela Aki memang punya kualitas yang konsisten sejak major debut tahun 2005 hingga sekarang, baik dari musikalitas, lagu, lirik, dan vokalnya, jadi ada kesan ini album kayak emang satu album utuh yang dibuat dalam satu waktu. Cool.






8. THE BEST
Girls' Generation (少女時代)

Gw nggak ngerti tujuan di balik dari perilisan album The Best (untuk lagu-lagu berbahasa Jepang) dari Girls' Generation a.k.a. SNSD ini harus dibuat dalam 5 versi berbeda (!) yang tracklist-nya juga beda-beda tipis *tepok jidat*, tetapi yang gw bicarakan di sini adalah versi regulernya. Alasannya simpel, karena versi ini menyelipkan lagu-lagu yang lebih dinamis, ada ballad-nya, nggak cuma yang ajep-ajep doang. Hence, lebih mudah dinikmati.






7. The Hunting Party
Linkin Park

Fakta bahwa gw bisa terus menikmati karya Linkin Park sampai sekarang adalah sesuatu yang patut gw catat, entah karena mereka memang sebagus itu atau gw yang dibutakan oleh fandom =p. Anyway, bagi yang merindukan LP yang katanya cadas dan straight rock, album ini jawabannya. LP memutuskan untuk melepas kecenderungan eksperimentasinya secara total, dan hasilnya adalah album yang "bising" tapi dewasa, whatever that means.






6. Guardians of the Galaxy: Awesome Mix Vol. 1
various artists

The ultimate cheat of this list. Jelas lagu-lagu yang ada di sini gabungan lagu-lagu yang konon top di era 1970-an, yang bikin status album ini bukanlah album "betulan". Tetapi penggabungan lagu-lagu ini untuk film superhero Guardians of the Galaxy terbilang brilian. Keasyikan penempatan lagu-lagu di filmnya pun menular ketika disusun dalam sebuah album soundtrack kompilasi yang paling asoy didengerin pas nyetir ini.






5. My Favourite Faded Fantasy
Damien Rice

Gw sebenarnya udah naksir sama musik Rice sejak "Cannonball" dan tentu saja "The Blower's Daughter" di sekitar tahun 2003-2004. Tetapi, gw sendiri belum sempat benar-benar terpikat karena doi musiknya (antara rock, folk, dan galau =p) buat gw kelewat depresif. Untungnya, ketika gw coba denger karya terbarunya, gw sangat bisa menikmati, seakan punya perspektif yang lebih fresh, atau mungkin juga doi emang yang nggak sedepresif dulu. Di album ini, gw akhirnya ngeh bahwa yang bikin Rice istimewa adalah musiknya sangat sinematik, dramatis, memainkan emosi, bahkan lagu-lagunya dengan lirik yang bercerita hampir menyerupai musikal, diperkuat oleh kesungguhan Rice dalam bernyanyi. Agak sedih juga sepanjang tahun ini pamor Rice ketutup sama versi KW-nya, Passenger =p.






4. Evergreen
Hata Motohiro (秦 基博)

Ini adalah album yang berisi single-single Hata dari sejak major debut tahun 2006, tapi dalam format kumpulan rekaman live akustik "hikikatari" (nyanyi sambil main gitar), baik di studio maupun di konser-konser. So, that makes this best-of album kind of unique. Yang gw salut adalah keberanian Hata dan labelnya untuk merilis album berkonsep demikian. Karena ini live (gw asumsikan masing-masing track itu satu kali take), Hata bener-bener stripped down, mau fals atau napasnya abis atau keseleo, semua bisa kedengaran. Tetapi, justru itu yang bikin album ini terasa real dan jujur, tanpa polesan apa-apa yang malah bikin Hata semakin menonjol.






3. Hari Baru
RAN

Album ini dirilis akhir banget tahun 2013, dan gw saat itu gw agak ragu untuk langsung masukin ke senarai tahun lalu. Tetapi, kayaknya emang paling bener album ini ditaruh di tahun 2014. Bagi gw pribadi, album ini nggak langsung nge-hook sekali dengar layaknya album pertama dan kedua mereka. Tetapi, ketika didengarkan dengan seksama lebih lama, gw bisa lihat bahwa RAN semakin rapi dalam memadupadankan aransemen yang asyik dan berbobot (nuansa pop vintage paling terasa di sini), dan makin pinter dalam merangkai lirik. Mungkin tidak serancak waktu "muda" dulu, tetapi musikalitasnya nggak kendor sama sekali.






2. MANTLE
Czecho No Republic

Kalau saja tidak dengar bahasanya, mungkin band pop rock Jepang ini disangka dari Eropa. Memang sound mereka seperti itu: ada campuran bunyi-bunyian digital dan synthesizer, distorsi pada gitar dan drum dan sebagainya, tapi mereka ini versi yang lebih fun dan cheerful, terutama kelihatan dari melodi-melodi playful (bagian yang berlirik maupun intro/interlude) yang disusunnya, almost like a video game soundtrack =D. Well, di album ini memang ada sepasang track yang ingin menunjukkan sisi lain band ini dengan musik sangat Brit rock macam Arctic Monkeys dan Blur, tetapi overall album ini mampu memancarkan keriaan bagi pendengarnya. Rada "aneh" namun tetap berpegang pada ranah pop yang sanggup dinikmati siapa pun.










1. MUSIK POP
MALIQ & D’Essentials

Agak kurang paham juga gw kenapa album ini diberi judul yang cukup...err...vulgar. Padahal, isinya sendiri nggak bisa dibilang "pop", at least dalam pengertian "musik pop" yang banyak di-push oleh Musica, Sony Music, dan Nagaswara saat ini--you know, yang sederhana, sekali denger langsung inget, gampang dicari kordnya tanpa perlu majalah MBS =p. Tapi kalau dibilang pop, ya bisa juga. Cuma, mungkin dari susunan nada dan pilihan kord-nya lebih mengarah ke pop gaya lawas, nyerempet era 1970-an yang lebih melodik atau 1980-an yang banyak terpengaruh jazz, yang buat gw sih lebih ampuh dalam membuai. In terms of homage to vintage music, mungkin album ini adalah lanjutan dari Sriwedari tahun lalu. Sound-nya sendiri memang makin banyak bermain di efek digital, tetapi itu nggak menyabotase spirit sejati dari album ini, yakni menyajikan rangkaian musik dan melodi yang enak didengar...also known as "pop". Keren.





Selasa, 30 Desember 2014

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2014 (Japan)

Setelah versi internasional dan Indonesia, kini giliran gw gelar 10 lagu Jepang ter-oke versi gw sepanjang tahun 2014. Sedikit curhat, tadinya gw hampir putus asa karena sampe November gw belum bisa bikin My J-Pop karena belum juga memenuhi kuota karena kok yang gw lihat lagu-lagu J-Pop sekarang makin menjauh dari selera gw. Tapi, untunglah, sedikit demi sedikit muncul juga tuh lagu-lagu oke, yang setidaknya bisa memenuhi 10 besar di akhir tahun.

Anyway, Jepang masih sangat menjengkelkan dengan copyright serba ketatnya sehingga banyak lagu-lagu yang gw sebut di bawah ini preview-nya nggak utuh atau bahkan (nyaris) nggak ada, tetapi setidaknya gw tetap mau berusaha memberikan gambaran kepada pemirsa sekalian lagunya kira-kira seperti apa. Harap maklum ya.

Inilah dia lagu-lagunya, dalam urutan mundur.




10. "ウソツキ" (Usotsuki) – WHITE JAM

Jadi, di J-Pop itu ada semacam "sub genre" yang gw sebut hip-hop love ballad. Dibilang hiphop juga bukan sih, malah sebenarnya itu lagu pop cinta biasa tetapi beberapa liriknya dinyanyiin secara rap dan punya hook yang catchy. Untuk tahun ini, lagu inilah yang paling menarik perhatian gw, ya karena nadanya catchy, dan ada semacam "nanggung" di bagian ending-nya yang terasa tepat aja gitu.





9. "光るなら" (Hikaru nara) – Goose house

Goose house itu kumpulan singer-songwriter belum terkenal yang sering meng-cover lagu-lagu orang secara akustik dan diunggah di YouTube. Personelnya pun berganti-ganti karena nggak mungkin dong di situ terus ya kapan terkenalnya *eh pedes amat*. Tetapi, ternyata mereka bisa juga bikin lagu-lagu orisinal sebagai satu grup, dan gw sendiri terkejut bisa suka single mereka yang satu ini. Sangat bernuansa anime (karena emang jadi theme song anime sih), tetapi kekompakan merekalah yang bikin dengerinnya juga asyik. Kayaknya mas-mas yang gemukan main bass itu suaranya paling bagus, tapi part-nya malah dikit...

Preview di bawah ini versi live acoustic, sebenarnya ada versi studio tapi karena gak utuh jadi gw posting yang ini aja, dan menurut gw sih lebih bagus.





8. "足音 ~Be Strong" (Ashioto ~Be Strong) – Mr. Children

A grand, powerful motivational ballad from the Mr. Children. Enough said.





7. "にじいろ" – 絢香 ("Nijiiro" – ayaka)

Ayaka yang sekarang tidak jauh berubah dari yang dulu sebelum dia vakum (karena sakit sesuatu yang lumayan langka dan parah, lupa apa namana). Cuma, gw merasa ia lebih ceria sekarang, dan diperkuat dengan lagu "Nijiiro" yang begitu fun dan, seperti judulnya, penuh warna.






6. "Amazing Parade" – CZECHO NO REPUBLIC

Ini lagu yang saat ini jadi ringtone gw. Dengan musik yang kayaknya sih semacam european indie rock, luapan kecerian mencuat dari lagu ini sejak awal. So much fun dan energetic.





5. "Perfect Night" – I Don't Like Mondays.

Kayaknya gw emang ada minat sama lagu-lagu yang ada nuansa pop-funk ala Motown. Dan tahun ini bunyi-bunyian itu muncul dari ranah J-Pop oleh band I Don't Like Mondays. Terlepas dari selipan bahasa Inggris yang entah artinya apa, lagu ini emang sangat asyik bikin jejogedan dan aransemennya emang rapih sekali, ngajak disko 70-an gitu deh.





4. "東京" (Tokyo) – wacci

Ini adalah lagu paling mengesalkan gw karena cuplikan lagunya tak akan ditemukan di mana pun kecuali tinggal di (atau punya IP address) Jepang. Padahal lagunya ini emang bagus sekali. Agak panjang karena berupa ballad, tetapi dengan melodi yang mudah diingat, penghayatan si vokalis yang sincere, aransemen yang terasa penuh dan dinamis, dan lirik yang tak berulang, ini adalah salah satu lagu yang digarap dengan rapi tahun ini dan menurut gw wajib diketahui oleh penggemar J-Pop. Silahkan dengar cuplikannya yang tak seberapa lewat link di bawah ini, tetapi mungkin sebaiknya langsung search saja lagunya, if you know what I mean *kedipkedip*.


3. "Wake Up! Feat. ASIAN KUNG-FU GENERATION" – Tokyo Ska Paradise Orchestra

A very mouthful collaboration with wonderful result. Gaya rock alternatif AKG dengan ska asyik Skapara melebur dan menyatu dengan sangat baik di lagu ini. Tak hanya bermain di aransemen musik yang ramai dan bikin berjoged pogo *walah masih zaman?*, tetapi lagu ini juga bermain di melodinya yang tak kalah asyik dari penataan musiknya. Mantebh.





2. "絶対的な関係" – 赤い公園 ("Zettaiteki na kankei" – Akai Kouen)

Lagu ini ada di posisi ini karena gw kagum sama konsepnya. Ini adalah lagu yang total durasinya full 100 detik, alias cuma 1 menit 40 detik. Tetapi, lagu rock dari band all-girls ini udah mencakup struktur utuh sebuah lagu yang lazim digunakan: intro-bait-reff-bait-reff-interlude-reff-reff-selesai. Dalam 100 detik! Kekaguman itu bertambah karena lagu ini cadasnya nggak kalah dari band-band rock cowok, musiknya dimainkan dengan skill, dan tentu saja melodinya yang catchy. 100 detik!!











1. "ひまわりの約束" – 秦 基博 
("Himawari no Yakusoku" – Hata Motohiro)

Karena ini lagu yang bagus dan dibawakan dengan bagus...dan memang gw punya kecenderungan untuk selalu memasukkan apa pun karya Hata Motohiro di senarai tahunan, hahaha (ini tahun kedua berturut-turut lagu dia ada di nomer 1). Well, menurut gw lagu-lagu dia memang that good, dan gw akan tetap bertahan dengan opini gw itu. Lagu soundtrack Stand by Me Doraemon ini memang bukan yang paling terbaik dari seorang Hata, sebagaimana gw sampaikan dalam postingan khusus soal doi, tetapi lagu ini tetap salah satu yang terbaik dan membawa banyak makna. Entah itu makna kehangatan dari musik dan vokalnya, makna perpisahan mendalam dari liriknya, juga makna emosional dari film yang ia wakili.





Senin, 29 Desember 2014

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2014 (Indonesia)

Next up, mari gw gelontorkan lagu-lagu Indonesia yang berhasil bertahan sebagai yang paling gw nikmati sepanjang tahun 2014. Mirip dengan tahun lalu, wawasan musik Indonesia gw tahun ini juga kurang banyak, entah karena jarang denger radio atau radionya aja yang udah jarang muterin lagu-lagu Indonesia terbaru *malah nyalahin radio*. Tetapi setelah dipepet-pepetin, nemu juga 10 lagu Indonesia yang paling oke menurut gw tahun ini. 

Inilah mereka dalam urutan mundur.



10. "Seakan Kau Mencintaiku" – écoutez!

Band écoutez! memang jadi terdengar berbeda dengan adanya si vokalis baru, Andrea Lee (terutama "steman" nada vokalnya yang lebih tinggi dari Delia), dan mereka juga semakin pop. Lagu ini mungkin adalah lagu mereka yang paling gw sukai sejak ganti vokalis. Dan faktor utamanya, ya si vokalis itu. Ballad yang mengandalkan vokal ber-power tinggi yang mungkin sudah jarang terdengar di lagu-lagu pop zaman sekarang.






9. "Hanya Satu Hari" – Sunday People feat. Davina Raja

Speaking of power vocal, rupanya kita tidak kehilangan vokal berkarakter dan kadang dikira suara cowok dari Davina setelah dia keluar dari band The Extra Large. Lagu ini terbilang formula klasik pop Indonesia, balada cinta dengan lirik yang nelangsa dengan musik agak minimalis. Tetep aja di antara pop balada cinta lirik nelangsa yang ada akhir-akhir ini, lagu ini tetap mencuat dan paling berasa pedihnya *halah*.






8. "Sakit Hati" – Yovie & Nuno

Kita semua tahu Yovie Widianto itu jago bikin lagu apapun, tetapi siapa sangka dia bisa bikin lagu se-emo ini. Emang sih, secara kemasan ini memang antoher Yovie's ballad, tetapi bagian "terbangkan ku ke awan lalu jatuhkan ke dasar jurang" itu entah kenapa bull's eye banget. Jagolah bapak yang satu itu.






7. "Teristimewa" – Andien

Ini agak curang, karena ini dari album Andien yang rilis tahun lalu, tapi gw baru dengernya tahun ini, dan video musiknya di-upload di YouTube juga tahun ini jadi ya udahlah =P. Ini adalah lagu pop agak soul-jazzy dari Andien yang berhasil menimbulkan suasana hangat dan ceria ketika didengarkan, dan melodinya tetap memberi variasi yang pas buat suara Andien walaupun sederhana.






6. "Ku Tak Peduli" – The Banery

I've waited too long for this band to come out with a new hit. 5 tahun lalu, gw termasuk salah satu orang yang kepincut sama gaya vintage ceria tapi liriknya marah-marah dari band yang terang-terangan mengikuti gaya The Beatles ini. Sekarang mereka hadir dengan album baru--dan berkurang satu personel, dan lumayan membuktikan bahwa kesuksesan karya mereka di album pertama bukanlah fluke. Lagu yang satu ini kembali mengingatkan kenapa gw suka The Banery dulu, masih ceria, masih punya belokan kord yang asyik, dan liriknya masih marah-marah, hahaha.






5. "Begitu Saja" – RAN

Memulai dengan intro bernuansa 80's, lalu berisi melodi yang asyik, lagu ini sudah di-set untuk jadi easy listening...eh ternyata isi liriknya adalah soal diselingkuhi. That's smart. Dan untunglah nggak jadi dangdut. Namanya RAN, semua itu tetap dikemas dengan berkelas dan musiknya yang berbobot. Ya udah gitu aja.






4. "Sayap Pelindungmu" – The Overtunes

Gw nggak memasukkan lagu ini karena kyaaaaaaaMikhakyaaaaaaaaaa =.=, juga bukan karena lagunya potensial jadi theme song produk pembalut, tetapi simply karena melodi dan aransemennya. Meski minimalis, dan jelas terinspirasi dari gaya singer-songwriter luar kayak John Mayer dan Ed Sheeran, lagu ini memberi kesejukan, tanpa terdengar sok manis dan sok syahdu.






3. "Terlatih Patah Hati" – The Rain feat. Endank Soekamti

Antoher cheat entry in the list, lagu ini juga kayaknya sudah beredar sejak November tahun lalu, apalagi mungkin di radio-radio Jogja. Tapi, gw sendiri kayaknya baru nyadar bahwa lagu ini sering diputar di akhir 2013 dan awal tahun 2014. Jadi ya anggep aja =P. Sebuah anthem yang agak nyeleneh, tetapi dengan rangkaian lirik lugas dan melodi yang sangat-sangat ramah di kuping, sesuai misinya, lagu ini seolah memberi semangat bagi siapa pun yang mendengarnya. Lagu pop rock Indonesia paling menyegarkan in recent memory.






2. "Ananda (featuring Indra Lesmana)" – MALIQ & D’Essentials

Some will say lagu ini, seperti lagu-lagu MALIQ lainnya, terlalu rumit. Dan waktu gw bilang "some" itu juga termasuk para juri Anugerah Musik Indonesia yang kapabilitasnya dalam menilai kualitas selalu gw ragukan =p. Whatever, man, menurut gw lagu ini brilian. Menyatukan pop dan jazz dengan cara modern (itu istilah gw untuk banyak pake instrumen digital, =p), ini lagu yang punya lirik luar biasa sebagai tribute terhadap anak-anak, dibungkus dengan melodi yang mudah diingat dan aransemen yang keren abis. A killer tune.










1. "Gelora Cinta" – Trio Lestari

Entah bagaimana single ini seperti ditakdirkan jadi salah satu lagu paling top tahun ini. Tidak hanya mengandalkan vokal powerhouse dan artistry dari para personelnya (Glenn Fredly, Tompi, Sandhy Sondoro. I did say powerhouse, didn't I?), tetapi single ini juga menunjukkan personality mereka yang ternyata fun dan penuh canda. Sudah dipikat oleh aransemennya yang groovy, lagu ini juga menyelipkan cuplikan lagu-lagu hit dari masing-masing personelnya yang terkesan ngeledek tapi seru. Itulah yang bikin lagu soal mencari cinta ini begitu legit dan sangat asyik. Powerhouse!




Year-End Note: My Top 10 Songs of 2014 (International)

It's that time of the year again. Tahun baru sudah di depan tanggal 31 Desember *what?* dan saatnya untuk merekap apa saja yang gw sukai dari tahun 2014, dalam hal ini bidang musik dan film. Seperti tradisi yang gw buat sendiri, gw akan memulainya dari senarai lagu yang terbagi dalam tiga kategori: internasional, Indonesia, dan tentu saja Jepang. Just because.

Tanpa perlu belama-lama, mari kita mulai hitungan mundur 10 lagu internasional paling oke versi gw di tahun 2014 ini.



10. "Find You" – Zedd feat. Matthew Koma, Miriam Bryant

Nonton film Divergent tanpa ekspektasi yang berlebih rupanya berbuah cukup manis. Selain filmnya cukup enjoyable, gw juga suka dengan beberapa lagu yang jadi soundtrack-nya. Salah satunya adalah hit EDM dari Zedd ini. Dengan melodi yang asik dan vokal bening crispy dari Matthew Koma dan Miriam Bryant, lagu ini tidak hanya jedang-jedung aja, tapi masih berbentuk "lagu" yang bisa dinikmati.





9. "All About That Bass" – Meghan Trainor

Lagunya lucu-lucu nggak penting. Dan menurut gw sebenarnya lagu motivasi-buat-orang-orang-yang-tertekan-karena-berat-badan ini agak annoying kalau didenger keseringan. Tapi ya, tetep aja nyangkut di ingatan. Dan, lagu ini juga kasih pengetahuan tentang visualisasi audio equalizer: bass itu tebel, treble itu tipis =p.





8. "I Bet My Life" – Imagine Dragons

Pascakesuksesan album perdana mereka, kayaknya ada kecenderungan Imagine Dragons untuk bikin segala sesuatu harus grand dan epic. Soundtrack untuk Transformers 4 kemarin menurut gw failed, tapi mereka bounce back dengan single ini. Penggunaan choir dan unsur folk di lagu bikin angguk-angguk dan tepok tangan setiap didengerin.





7. "Thinking Out Loud" – Ed Sheeran

Katanya lagunya nggombal. Emang sih. Tapi atmosfernya yang lebih soulful dan intimate bikin lagu ini lebih bisa gw nikmati daripada single dia apalah itu yang sebelumnya. Dan sangat catchy. Itu penting.





6. "Final Masquerade" – Linkin Park

Gw yakin nggak banyak yang ngeh kalau Linkin Park ngeluarin album baru tahun ini, boro-boro single-single-nya. Well, mereka memang sudah tak senge-hits dulu, tetapi buat gw sebagai fans, adalah menyenangkan bahwa mereka tetap menjaga kualitas bagaimanapun sambutannya. Single yang satu ini gw senangi bukan cuma karena melodinya catchy, tetapi transisi dari beat slow rock ke  geberan gitar hard rock-nya asik banget. Quite anthemic, really.





5. "La La La (Brazil 2014)" – Shakira feat. Carlinhos Brown

Udahlah, mau Piala Dunia di negara mana juga theme song-nya (entah apa juga fungsi theme song di Piala Dunia =_=) yang paling bener cuma Shakira. Meski awalnya single ini punya lirik berbeda dan "sekuler", tapi ketika dimodifikasi ke versi Piala Dunia sepak bola, pas banget. Ada suasana festive, bikin semangat, dan beat ala Amerika Latin yang lebih kurang gambarin tempat penyelenggaraan Piala Dunia tahun ini di Brazil. Lego.





4. "Stay With Me" – Sam Smith

Lagu ini udah punya cap "hit" sejak kord pertamanya dibunyikan. Sebuah pop ballad indah yang dinyanyikan dengan syahdu dan penuh penghayatan. Lagu ini dengan mudahnya masuk jadi salah satu yang terenak dan terfavorit gw tahun ini.





3. "Boom Clap" – Charli XCX

Tadinya sih agak meremehkan lagu ini karena judulnya corny banget. Tetapi ketika dengerin, eh kecantol. Dengan kemasan musik modern dan melodi yang supercatchy, lagu medium beat tapi bikin semangat ini juga bisa kedengeran romantis. Atau mungkin itu pengaruh video musiknya yang di kanal Amsterdam. Entahlah.





2. "Budapest" – George Ezra

Awalnya sih cuma penasaran, kayak apa sih artis penyanyi yang pake nama belakang sama kayak gw =p. Rupanya, mas-mas yang namanya mirip nama gw ini punya single yang sangat asyik sekali. Simple, baik lirik maupun melodinya, tetapi punya bobot yang membuatnya gampang melekat dan bersarang di benak gw. Gaya vokalnya agak meng-Adele tapi mungkin lebih berat sikit *ya iyalah wong lanang*. Agak country, tapi dikemas rada soul dan R&B. Keren lah.







1. "Lost Stars" – Adam Levine/Keira Knightley

Ada berbagai faktor yang bikinn gw suka lagu ini, dan ini tidak termasuk menonton film Begin Again yang menjadikannya soundtrack utama--karena gw juga belum nonton. Faktor pertama adalah akhirnya bisa denger suara Adam Levine yang santai, nggak serba maksa ngeselin seperti di lagu-lagu Maroon 5 beberapa tahun belakangan ini. Dan faktor kedua adalah (ternyata) salah satu pencipta lagu ini adalah Gregg Alexander (a.k.a. New Radicals dengan hit "Someday We'll Know" dan pernah bikin "The Game of Love"-nya Santana), which make sense. Gayanya yang cenderung datar tetapi ternyata bermain di melodi yang sangat heartfelt, sehingga nggak jadi terkesan datar. Dan, yang bikin lagu ini punya nilai plus adalah ternyata bisa sama enaknya ketika dinyanyikan oleh Keira Knightley. Nothing more to say.

Versi Adam Levine.

Versi Keira Knightley.


Minggu, 28 Desember 2014

[Movie] Pendekar Tongkat Emas (2014)


Pendekar Tongkat Emas
(2014 - Miles Films/KG Studio)

Directed by Ifa Isfansyah
Written by Jujur Prananto, Ifa Isfansyah, Mira Lesmana, Seno Gumira Ajidarma
Produced by Mira Lesmana
Cast: Eva Celia, Nicholas Saputra, Reza Rahadian, Tara Basro, Christine Hakim, Aria Kusumah, Whani Dharmawan, Slamet Rahardjo, Landung Simatupang, Prisia Nasution, Darius Sinathrya


Pengetahuan gw soal "cerita silat" sangatlah terbatas. Konon katanya dulu Indonesia marak dengan cerita novel/komik dengan genre yang bisa dibilang versi Indonesia dari wuxia/cerita kung-fu itu, seperti Panji Tengkorak, Si Buta dari Goa Hantu, dan Wiro Sableng. Beberapa sempat diangkat jadi sandiwara radio, film, atau sinetron. Kecuali sinetron Wiro Sableng di tahun 1990-an yang pake theme song lagu rap yang sangat catchy itu, gw sebenarnya kurang terekspos sama genre ini...untuk Indonesianya. Karena rupanya gw lebih banyak tumbuh sama cerita silat asal China...err...Tiongkok (pakai ini dulu deh sampe nantinya akan muncul lagi sebutan yang lebih bikin nggak tersinggung =_=;) di TV macam Condor Heroes dan lanjutan-lanjutannya yang ada di universe yang sama, dan tentu saja Kera Sakti, hehe. Ular Putih sama Putri Huan Zhu nggak termasuk ya =p.

Nah, perlu diingat bahwa cerita silat isinya bukan cuma orang berantem. Basically ini emang tentang orang berantem, tetapi cerita silat yang gw tahu sifatnya lebih berupa petualangan. Lebih banyak porsi perselisihan dalam bentuk intrik dramatis, perebutan sesuatu (benda, status, kehormatan) oleh beberapa pihak, plus bumbu kejar-kejaran dan cari-carian, yang kemudian menghasilkan pertarungan. Makanya, ketika gw lihat bahwa Pendekar Tongkat Emas dibuat oleh para sineas yang belum pernah menggarap cerita sejenis, gw tidak mengekspektasi film ini bakal jadi seseru The Raid, misalnya, karena memang sangat berbeda. Dan, jujur, dari trailer-nya saja gw nggak terlalu yakin bahwa film ini bakal seru adegan pertarungannya. Makanya, dari situ gw tidak berharap yang enggak-enggak. Melihat nama Ifa Isfansyah hingga pengarang tersohor Seno Gumira Ajidarma, gw justru berharap this film better have a good story, karena unsur itulah yang justru membuat genre ini menarik diikuti. 

And, folks, that's exactly what I got. Gw melihat bahwa cerita Pendekar Tongkat Emas disusun dengan solid dan dituturkan dengan baik. Segala hal yang bisa disebut sebagai homage genre silat disajikan dengan oke di sini. Formulanya padahal klasik: ada iri dengki, ada soal guru silat dan murid-muridnya, ada perebutan benda sakti, lalu ada juga tokoh yang ilmunya lemah dipaksa untuk tumbuh jadi kuat--which brings us to the ever-fun latihan jurus-jurus silat sequences. Dengan penyusunan bahasa yang indah tapi nggak sok canggih *uhuk* *ngomongin film apa ya?*, film ini menuturkan kisah klasik soal dendam dan perebutan benda sakti dan status terkuat dengan rapi, bikin gw nggak perlu lagi mempertanyakan ini itu, semua jelas. 

Artinya juga, film ini berhasil menarik gw untuk mau mengikuti "aturan" di dunia antah berantah ini. Mulai dari posisi para pendekar (entah penjaga keamanan desa atau debt collector =D), pendekar yang sakti selalu akan mendapat tantangan, code of honor dijaga dewan sepuh pendekar (udah macam Naruto aja itu), juga kultur mengambil anak dari musuh yang dibunuh sebagai murid, mungkin sebagai penebusan. Intrik pengkhianatan, dusta, juga bagaimana tindakan satu orang mempengaruhi *literally* dunia persilatan hanya karena ego dan kebetulan ilmunya kuat, bisa gw terima dengan puas tanpa komplain. Gw sendiri sangat kesemsem dengan konklusi film ini yang menekankan apa yang selama ini jadi inti cerita-cerita silat: dunia kekerasan (persilatan) nggak kenal kata hidup tenteram, setenang apapun keadaan yang terlihat.

That being said, karena ceritanya gw suka, dan karena menurut gw cerita adalah unsur yang paling penting dalam sebuah film, gw merasa Pendekar Tongkat Emas adalah film bagus. Tapi, gw sadar, untuk membuat film yang bagus, butuh lebih dari cerita yang bagus. Nah, Pendekar Tongkat Emas ini sebenarnya punya unsur pendukung yang bagus, tetapi memang belum mendekati sempurna. Dialog nggak masalah, akting sangat tidak masalah--Nicholas cool, Reza ngeselin, Christine keren abis, dan Whani Dharmawan "drama silat" banget, koregrafi pertarungan masih bisa gw terima, musik dan kostum pun gw suka sekali (oh musiknya adalah salah satu tata musik paling keren dan recognizable di sinema Indonesia in recent time). Tetapi ada satu yang kurang buat gw, yaitu yang gw takutkan dari sejak menonton trailer-nya: film ini kurang "rame" secara visual. 

Dalam pandangan mata gw, film ini terlalu banyak space kosong (ditambah sela gambar-gambar pemandangan yang keseringan) sehingga kesannya kurang grand, sepi sekali untuk sebuah film yang diketahui berbiaya mahal. Bisa jadi, ini disebabkan pilihan setting desa ke desa, yang orang-orangnya (terlalu) sedikit dan bentuk bangunannya sangat sederhana--even perguruan Sayap Merah dengan panggung spektakuler ring tarungnya. Mungkin saja ini adalah pilihan artistik secara sadar bahwa ini adalah dunia yang masih belum, let's say, "maju" peradabannya, masih pake hukum bunuh-atau-dibunuh, dan penduduknya bahkan tidak sebanyak rumah Eyang Subur. Belum ada perkotaan, dan mobilitas antar wilayah juga sangat jarang sampai-sampai tidak ada jalan setapak yang menandakan bergeraknya perekonomian dunia itu *yaelaaaah ribet amat mikirnye =p*. I know, it's nice to see nature in its untouched condition, tapi efeknya bisa berbalik bahwa dunia yang diperlihatkan jadi kurang believable secara visual, seakan tokoh-tokohnya tidak "tinggal" di situ, kelihatan kurang menyatu dengan lingkungannya. Gw juga membayangkan visual film ini mungkin akan lebih rich jika disyut pake film seluloid, dan mungkin jadi lebih engaging (dan slow motion-nya nggak perlu patah-patah macam Roaring Currents, itu teknik yang kurang gw sukai) karena menambah kesan fantasinya. Mungkin ya.

Tetapi, gw sendiri memilih tidak mau diganggu oleh hal-hal seperti itu. Gw telanjur terlena sama ceritanya yang oke sehingga gw nggak mau dipusingan sama beberapa kekurangannya. Well, dari segi penyajian memang agak tersandung ketika Dara (Eva Celia) minta dijadiin muridnya Elang (Nicholas Saputra) yang menurut gw datar banget cing.....Well, okay, menurut gw karakterisasi dari Dara keseluruhan emang kurang seimbang sama yang lain. Menurut gw, dia terlalu kalem untuk jadi underdog. At least kasihlah dia sedikit personality yang lebih berwarna. Tokohnya Elang, Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), dan bahkan Angin (Aria Kusumah) udah dibuat cool, agak too much kalau Dara juga didesain serupa seperti itu. Mungkin emang mood filmnya pengen dibikin "sangat serius" seperti itu, ya terserah, nggak jelek juga sih.

Untunglah, Pendekar Tongkat Emas menyimpan amunisi yang sangat oke di pertarungan pamungkas yang ditata baik. Yah minimal memuaskan gw. Awalnya agak slow tetapi makin lama makin cepat dan intens dan menimbulkan keseruan yang efektif. Tidak bisa dibilang great, karena apa pun adegan pertarungan yang muncul setelah film The Raid memang akan tampak hmmmm *puter-puter tangan sambil memicingkan mata*. Tetapi, penataan dan effort-nya di sini nggak mengecewakan juga. Namun, kata "nggak mengecewakan" itu sangat tergantung pada apa yang diharapkan sebelum menonton film ini. Gw sih nggak berharap banyak, makanya gw nggak terlalu dikecewakan. Malahan, di luar dugaan gw pendekatan dramatis--instead of full action--dari film ini terbilang apik. 

Satu hal lagi yang gw dapat dari film ini, adalah dorongan untuk menonton lagi. Sepertinya, terlepas dari bagaimanapun eksekusinya, gw sangat tertarik dengan gagasan dunia Pendekar Tongkat Emas ini (seperti gw suka gagasan dunia Star Wars tapi nggak yakin film mana yang terbagus). Dan, kalau Tuhan berkehendak film ini ada sekuelnya, gw akan sangat menantikannya. Gw ingin lebih jauh menjelajahi dunia persilatan rekaan Miles ini, gw ingin lebih banyak melihat karakter-karakter bernama puitis dan berkostum lucu di sana. Tidak memuaskan secara paripurna, tetapi film ini tetap berhasil menransfer dan bikin gagasannya gentayangan di benak gw. Itu artinya, film ini punya sesuatu. That's good.





My score: 7,5/10

Selasa, 23 Desember 2014

[Movie] Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh (2014)


Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh
(2014 - Soraya Intercine Films)

Directed by Rizal Mantovani
Screenplay by Donny Dhirgantoro
Story by Sunil Soraya, Donny Dhirgantoro
Based on the novel by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Sunil Soraya
Cast: Herjunot Ali, Raline Shah, Paula Verhoeven, Fedi Nuril, Arifin Putra, Hamish Daud


Mari mulai review ini dengan pujian gw terhadap film Supernova: Ksatria, Putri, & Bintang Jatuh ini...bidang promosinya tapi. Menurut gw, promosi film Supernova yang sudah gencar sejak pengumuman casting satu per satu hingga penyebaran trailer hingga masang flyer di taksi Express selama nyaris satu tahun, adalah model promosi yang sangat proper untuk sebuah film berbiaya besar dan hendak mendapat hasil yang besar pula. Kalo filmnya sih...err...mari kita teruskan saja review ini.

Gw tadinya akan mengungkap sinopsis singkat tentang film ini sebagaimana lazimnya sebuah ulasan film. Tapi gw segera mengurungkan niat karena gw nggak yakin sinopsis yang gw tangkap berdasarkan apa yang gw tonton sama dengan apa yang dimau oleh pembuat film ini. Sebab, terus terang gw nggak mudeng blas apa maunya film ini. Bisa jadi ini memang sumber aslinya begitu atau adaptasinya yang kurang mempresentasikannya dengan baik, gw hanya bisa menangkap bahwa film berjudul canggih ini hanyalah kisah perselingkuhan yang Dunia Sophie-wannabe. Mungkin judulnya lebih tepat jadi "dunia soapy". Oh, ditambah adanya sebuah akun konsultasi di internet yang tidak pernah actually menjawab apa yang ditanyakan tokoh-tokoh ini, which is so weird.

Yang bikin gerah adalah bagaimana kisah ini seolah-olah ingin dibuat lebih "pintar" dan "menantang pikiran" dengan kata-kata sok fancy yang melelahkan sampe-sampe pemainnya sendiri terlihat kurang yakin waktu mengucapkannya. Padahal ya ceritanya balik lagi ke paragraf kedua itu...atau mungkin bukan, entahlah, nggak ngerti gw. Mungkin itulah poin yang bikin gw kurang nyaman dalam mencoba menikmati film ini. Pemainnya aja nggak yakin sama apa yang mereka ucapkan, ya gimana gw yang nonton? Film ini dimulai fine-fine saja, dengan diperkenalkannya tokoh Reuben (Arifin Putra) dan Dimas (Hamish Daud), lalu ketika mereka teler bermeditasi karena sabu badai serotonin, kata-kata yang diujarkan begitu "pintar" sampe-sampe gw udah terserah-deh-apa-mau-loe-atur-aja. Sikap pasrah itu cukup membantu gw bertahan menyaksikan dua seperempat jam film ini sampai akhir karena kira-kira begitulah "gaya bahasa" film ini. Gw mah udah bodo amatlah. Jika "roman bertemu sains" artinya menceritakan ulang novel Harlequin dengan mengganti kata-katanya dengan istilah-istilah yang berakhiran -si, -if, -itas, dan -isasi, terserah.

Tapi, inilah akibat dari gw yang udah pasrah sama betapa "canggih"-nya ujaran-ujaran dalam film ini. Capek-capek disusunin kata-kata "tinggi" dan "filosofis" *yang mostly konteksnya juga nggak jelas*, tapi karena gwnya nggak nyampe sama yang begituan, akhirnya yang tersisa dalam ingatan gw adalah betapa cheesy-nya film ini. Udahlah filmnya (yang gw tangkep cuma) soal perselingkuhan semata dengan pelbagai pergombalannya, eh ditambahin metode "berbicara dalam hati" yang unbelievably dibuat seperti sinetron dalam sebuah film sebesar ini. I mean, come on, gw tahu para pembuat filmnya pasti sadar cara ini akan sangat stupid jika tidak dikreasikan dengan cara lain. Tapi, toh mereka tetap memilih jalan ini, nggak berusaha bikin lebih edgy lagi. 

Mungkin demi jualan. Kalau filmnya terlalu aneh (misalnya setiap tokoh sejak awal memang sudah ditunjukkan punya suara dalam hati), bisa jadi filmnya nggak akan semenjual sekarang. Tapi ya.....tetep aja....they're so lame, man. Mau berdalih dengan cara apapun, they just don't work even a slightest bit. Padahal, in contrast, film ini sudah diselipi banyak adegan yang to-show-not-to-tell yang dibuat dengan gestur dan ekspresi tanpa perlu diisi dialog, yang hasilnya cukup baik (mungkin mengingat Rizal Mantovani dulu sutradara video musik). Sayang, gaya penuturan film ini jadi kayak berkepribadian ganda.

Jadi apa yang tersisa dari Supernova? Well, mungkin hanya keberanian. Keberanian mengangkat novel yang dikenal kompleks (mungkin karena kebanyakan istilah ajaibnya) ke dalam sebuah presentasi yang ditujukan jadi ngepop. Seperti yang bisa diintip dalam trailer-nya, visualnya oke sekali, dan cukup royal dalam menampilkan efek visual dan berbagai polesan yang makan duit. Enaklah dilihat, dibantu editing oke juga. Dari studio yang bikin 5 cm. dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck gitulooh. Cuma, yah, gitu deh, mungkin materi ceritanya kurang pas untuk dipresentasikan dengan cara seperti itu. Mungkin kalau susunan kata-katanya lebih pro-rakyat, film ini akan punya efek lebih, tapi ya kalau begitu filmnya bakal jadi kurang "keren" malah jadinya dangdut aje kali ye *iye deh*. Tata gambar bagus dan pemain cakep-cakep mondar-mandir mengujarkan kata-kata aneh (dan tanpa terdengar meyakinkan) bukanlah solusi untuk membuat film ini jadi engaging alih-alih mind-blowing bagi gw sebagai penonton. Cuma buat goyang-goyang dikit doang. Atau di film ini istilahnya "turbulensi". Terserah.

Tapi ya, kalau perbandingannya sesama film sederhana tapi diisi kata-kata "aneh" sok rumit, this film is still better than its indie counterpart, cin(T)a =p.




My score: 6/10

Senin, 22 Desember 2014

[Movie] Stand by Me Doraemon (2014)


STAND BY ME ドラえもん
Stand by Me Doraemon
(2014 - Toho)

Directed by Ryuuichi Yagi, Takashi Yamazaki
Screenplay by Takashi Yamazaki
Based on the comic series "Doraemon" by Fujiko F. Fujio
Produced by Shunsuke Ohkura, Keiichiro Moriya, Kiyoko Shibuya, Maiko Okada
Cast: Wasabi Mizuta, Megumi Ohara, Yumi Kakazu, Subaru Kimura, Yoshiko Kamei, Satoshi Tsumabuki


Siapa bilang Stand by Me Doraemon itu film terakhirnya Doraemon? Siapa?! Siapa?!! Then, you just got punk'd by the promotion people =p. Nggak mungkinlah Doraemon tamat, dia akan tetap Doraemon dan Nobita akan tetap kelas 4 SD, that's just the way things work in that world. Sama seperti Barbie bentuknya ya kayak gitu-gitu aja sejak tahun 1950-an. Doraemon akan selalu dihidupkan dengan peralatan ajaib yang baru (untuk versi animasi TV) dan petualangan-petualangan baru (kalau untuk versi animasi bioskop). Stand by Me Doraemon ini bukanlah film untuk menuntaskan franchise Doraemon. Film ini lebih kepada memunculkan kembali memori kita tentang Doraemon yang sudah mendarah daging selama sekian dekade, baik bagi anak-anak maupun anak-anak yang kini sudah dewasa.

Kalau mau dipersingkat, Stand by Me Doraemon adalah gabungan beberapa kisah asli Doraemon yang dipresentasikan dalam format baru, dan juga angle yang sedikit berbeda. Bukan reboot juga. Film ini kembali pada awal perjumpaan Doraemon dengan Nobita, masuk ke keseharian yang berbeda dari biasanya berkat alat-alat canggih dari abad ke-22. Sampai pada akhirnya pada satu titik bahwa tugas Doraemon sudah selesai dan harus kembali ke abad ke-22. Kalau rajin mengikuti Doraemon, pasti sudah tahu semua cerita yang ada di film ini. Ya, bahkan cerita perpisahan itu *eh*.

Yang gw bilang berbeda tentu saja adalah format animasinya yang ditampilkan CGI 3D. Yang menangani film ini memang bukan studio animasi Doraemon biasanya. Dari dua nama sutradaranya, gw mengenal Takashi Yamazaki. Dia mungkin salah satu nama terdepan di perfilman Jepang dalam bidang film pop. Yang pop ya, bukan yang nyeni-nyeni. Dulu sempet ragu sama ide bahwa Doraemon mau dibikin CGI, tapi melihat nama Yamazaki gw jadi agak lega. Gw kenal namanya lewat film adaptasi komik, ALWAYS: Sunset on the Third Street, yang menggabungkan drama keluarga multiplot yang menyentuh dan jenaka dengan visual effects yang luar biasa niat. Jadi, setidaknya gw yakin dia bakal nampilin gambar dan penuturan yang oke. (Doi juga bikin film blockbuster Jepang macam Space Battleship Yamato dan The Eternal Zero dan emang orangnya visual effects banget sih)

Untungnya, itu terbukti. Malahan di atas ekspektasi gw. Gambarnya keren banget, clean dan smooth. Tidak seluwes animasi Hollywood memang, tetapi tidak sekaku anime Jepang biasa. Malah bagus, film ini nggak sekadar meniru animasi negara lain, tetapi meng-enchanced gaya mereka sendiri yang sudah lama ada. Cara film ini mempresentasikan gaya khas anime (dan beberapa ekspresi khas komik Doraemon, contohnya bibir monyong-monyong dan pupil mata yang berubah-ubah) dalam bentuk CGI 3D keren banget deh. Ditambah lagi gambar-gambar cerah dan juga beberapa adegan "pamer teknik" seperti beberapa adegan no-cut (mesin waktu dan baling-baling bambu) yang exciting, bikin seneng banget dilihatnya. Intinya, walaupun Jepang belum terkenal sebagai penghasil film animasi CGI, Stand by Me Doraemon membuktikan bahwa mereka udah bisa bikin film kelas dunia. Attention to details-nya juara, penataan sequence-nya ciamik, dan sound-nya oke banget.

Gw juga melihat bahwa film ini secara benar menarik benang merah dari kisah Doraemon yang selama ini sudah gw (dan banyak dari kita) serap dari komik dan serial animenya. Apalagi kalau bukan kecenderungan (dan kekhawatiran) bahwa Nobita akan terlalu ketergantungan dengan keberadaan Doraemon. Tapi namanya sebuah cerita panjang, tentu yang (biasanya) dibutuhkan adalah seorang tokoh utama yang mengalami perubahan. Benar, Nobita itu total loser, tetapi keberadaan Doraemon mengubahnya. Bukan secara instan lewat alat-alat canggihnya--karena sebagian besar itu justru membawa sial--tetapi membuatnya untuk at least tahu bahwa ia sebenarnya mampu untuk tidak terus-terusan jadi orang males-dodol-cengeng-terzolimi. Kalau pun perubahan itu tidak segera berefek--yah namanya juga masih anak SD--film ini pun kembali pada nilai yang lebih universal, yaitu Doraemon bukan sekadar "alat bantuan", tetapi sahabat Nobita. Oh, satu lagi, bahwa tujuan hidup Nobita adalah cuma untuk menikah sama Shizuka, haha.

Intinya, Stand by Me Doraemon ini treat the source material with justice, ditambah presentasi yang keren dan unsur melankolisme. Cuman, selain polesan itu, tidak ada yang baru dari film ini. Mungkin kelemahan terbesar film ini adalah kita udah tahu ceritanya. Tapi,, film ini memang seperti tidak berusaha untuk mengubah atau menambahkannya. Bahkan, sepertinya memang sengaja banget film ini dibuat sedemikian rupa agar benar-benar connect hanya sama yang udah ikrib banget sama Doraemon dan dunianya. Jadi, film ini langsung skip aja bagian Doraemon bisa blend-in dengan lingkungan tanpa ada yang merasa dia adalah sebuah anomali. Penanaman kebersamaan Nobita dan Doraemon pun kayaknya terlalu singkat, sehingga in the end saat mereka sadar mereka harus berpisah, efeknya nggak semengharukan itu. 

Film ini juga menampilkan homage dari ciri khas komik dan animenya. Seperti mama Nobita yang sering jadi "korban" alat-alat ajaib Doraemon tanpa tahu apa-apa, Giant yang suaranya ancur pas nyanyi dan ternyata cuma takut sama ibunya (satu-satunya yang manggil Giant dengan nama aslinya, Takeshi. That's priceless =)), dan, tentu saja, Shizuka lagi mandi *it's a Japanese thing, long story*. Berdasarkan pengalaman gw nonton kemarin, adegan-adegan ini menimbulkan keriuhan, ya karena yang nonton jadi nostalgia. Tapi, kalau yang nonton awam banget, mungkin nggak akan paham spesialnya adegan-adegan ini.

Tetapi, sekali lagi, pengenalan akan Doraemon dkk yang menahun bahkan berdekade lewat berbagai media punya andil besar dalam membuat film ini bisa dinikmati lebih dari sekedar gambar bagus dan ekspresi-ekspresi lucu tokohnya. Gw pribadi cukup enjoy dengan presentasi dan kemasan filmnya (the 3D version is very recommended), musik dari Naoki Sato asik, lagu temanya dari Hata Motohiro (tentu saja) sangat keren, dan penghormatannya terhadap nilai-nilai dan materi asli Doraemon patut diacungi jempol. Mungkin gw sebagai penonton Indonesia keganggu sama gaya voice actor Jepang di sini ternyata sangat annoying di kuping (ibu Nurhasanah tetap juaranya suara Doraemon), dan secara utuh ceritanya sih kurang memuaskan. Namun, Stand by Me Doraemon tetap sebuah cara yang asyik untuk bernostalgia bersama....Do-ra-e-mo-emm....





My score: 7/10


NB: Adegan "dibuang sayang" di end credit-nya lucu =)).

Selasa, 16 Desember 2014

Festival Film Indonesia 2014: Catatan Hati Seorang Rookie

Sesuai tradisi gw sendiri, gw harusnya posting tentang Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) di blog ini. Tapiiii...berhubung sebuk bangget gyetoh, jadinya baru bisa posting sekarang. Maaf ya.

Well, sebenarnya sibuknya juga karena FFI 2014 ini sih. Lho kok bisa? Ya gitu deh, ehehehehe. Setelah bertahun-tahun cuma liat di TV, akhirnya gw untuk pertama kalinya berkesempatan datang menghadiri FFI langsung di lokasi, kali ini di Palembang, Sumatra Selatan, 5-6 Desember 2014 lalu. Karena kebetulan sekarang gw kerja di sebuah media online khusus film. It's a bit of a dream come true, tapi agak waswas juga karena ini FFI, sebuah ajang penghargaan film nasional gelaran pemerintah yang pasti addddaaa aja masalahnya tiap tahun.

Kita kesampingkan itu dulu, karena gw mau mengungkapkan bahwa Piala Citra FFI 2014 mungkin adalah yang paling memuaskan dari FFI yang terdahulu. At least sejak revival-nya tahun 2004 lalu. Menggunakan sistem baru berupa preferential voting per bidang (yang sebenarnya udah dilakukan Piala Maya sejak 2012, hehe), dan ditabulasi akuntan publik, ternyata menghasilkan daftar nominasi yang sangat memuaskan. Sebagian besar film-film yang masuk nominasi udah gw tonton dan gw rasa mereka cukup pantas mendapatkannya. Ada satu kendala sih ketika Maudy Koesnaedi sempat masuk di dua kategori untuk Soekarno, yaitu pemeran utama dan pendukung, you know simply karena masing-masing kelompok jurinya merasa she belongs in their group, namun kemudian dianulir. Ya ini pelajaran sih bahwa baik si voter maupun si akuntan publik (yup) harus sudah di-briefing siapa masuk kategori mana. Kalau ada salah kamar langsung dieliminasi. Gitu deh.


Dan kendala satu lagi adalah dengan sistem ini, bisa jadi nama-nama underdog akan luput, karena belum ada kampanye "for your consideration" ala-ala Hollywood gitu. Atau, kalau dalam sistem juri panel, nggak ada satu anggota yang bisa ngotot untuk memasukkan satu nominasi yang tidak diperhatikan anggota lain, tapi kalau yang ini sih lebih rawan kongkalikong ye.

Anyway, kesimpulan yang gw dapat dari pengalaman meliput FFI ini adalah....hasilnya amat sangat memuaskan. Dari pemenang Film Terbaik sampe ke Perancang Busana, gw bener-bener nggak ada komplain yang terlalu gimana gitu. Serius, Piala Citra FFI 2014 bisa jadi penyelenggaraan pasca-revival yang paling "bener", melampaui tahun 2011 dan 2008. Ya, mungkin gw agak bias karena pemenang Film Terbaiknya adalah Cahaya dari Timur: Beta Maluku, yang so far adalah film Indonesia paling gw sukai tahun ini. Tapi tetep aja seneng. Gw nggak pernah sesenang ini terhadap FFI. Well done, Badan Perfilman Indonesia (BPI) sebagai panitia.

Saking seneng sama hasilnya, sampe-sampe itu bisa menutupi uring-uringan gw tentang kendala penyelenggaraannya. Yup, kayak gw bilang, namanya FFI, pasti aaaadddda aja problemnya. Kali ini, problemnya terletak pada organizing, baik acara maupun akomodasi. Yang kasat mata adalah malam penganugerahan, yang menurut gw formatnya udah benar (iya saudara-saudara, award show itu emang ditakdirkan untuk boring bagi yang tak paham sama bidangya, sudahlah), tetapi ada kendala-kendala kecil nggak penting tapi nggak enak. Salah amploplah, udah di panggung amplopnya belum adalah, VT-nya typo-lah, VT yang keluar suara doanglah, pemenang yang kebetulan menang lagi keburu masuk ruang pers jadi gak denger kalau dia menang lagilah, dan yang agak parah sih skrip untuk MC acaranya yang kurang teliti.

Contoh, MC Steny Agustaf di awal coba menjelaskan sistem penjurian Piala Citra, dia bilang jurinya dari berbagai profesi. Itu mah Piala Maya cuy! Padahal kan jurinya dari para pekerja film profesional pemenang Piala Citra, plus juri tambahan dari bidang terkait--kritikus, budayawan, jurnalis, direktur festival, dll. Dan masih banyak lagi miss di sektor skrip acara, yang melebar ke beberapa bidang lain. Malah kayaknya acara di Piala Vidia cenderung lebih smooth. Untunglah musiknya baguuusss banget (pimpinan Ricky Lionardi. Perlu dicatet nih namanya), terutama pas segmen sejarah film Indonesia.

Ini belum lagi ada miss di organizer bidang akomodasi. Gw kayaknya nggak perlu permasalahin gw dan beberapa orang media lain yang dari luar Palembang kayak nggak ada yang ngurusin pas di sana mau ke mana-mana kayak anak ilang. Yah kita mah apa atuhlah -_-'. Tapi, seperti yang sempat diberitakan beberapa media, masak beberapa nomine dan juri (!) banyak yang nggak keangkut ke Palembang. Entah karena miscoordination atau, kayak dicurigai beberapa orang, "sabotase", beberapa dari mereka nggak terima undangan atau tiket sampai H-1. Nomine dan jurinya, loh. Ini kan seharusnya acara mereka, kok malah nggak diurus juga? Ini baru kelihatan jelas pas penganugerahan Piala Vidia 5 Desember, dari 13 kategori, yang ambil piala langsung cuma 5! Yang lain? Diwakilin, karena nggak keangkut. Gilingan. Akhirnya diambil solusi, yang seharusnya datang diminta tetap datang dengan biaya sendiri untuk nanti ditebus ke penyelenggara di tempat. Itulah kenapa, acara Piala Citranya terlihat lebih semarak. Untunglah.

Dengan segala kendala itu, gw jadi merasa bahwa FFI ini kayak dikutuk untuk selalu bermasalah. Entah siapa yang ngutuk atau bagaimana melepaskan kutukannya, gw sebenarnya tidak berharap itu terjadi. Seriusan, itu problem-problem bisa banget loh dihindari. Itu mah kendala macam pensi anak sekolahan, kok masih aja kejadian di event nasional yang berumur hampir setengah abad dan pake dana negara. Gregetan gw jadinya *uwel-uwel rumput*.

Untunglah, untuuung banget, hasil Piala Citranya memuaskan. Kalau enggak, pasti keungkit lagi keungkit lagi bahwa FFI bersimba kontroversi selalu. Dan untuuuung event ini semacam di-endorse oleh Presiden Joko Widodo yang datang (mungkin) sebagai simbol kepedulian negara terhadap film Indonesia. Segala drama yang berada di baliknya jadi agak terpinggirkan dari ingatan. Dan untuuuuunglah FFI 2014 jadi event rekonsiliasi geng yang dulu sempat nolak ikut FFI (Miles, Nia Dinata, Joko Anwar dkk), sehingga kompetisinya jadi lebih sahih. Pemandangan yang menyenangkan. Seakan human error yang terjadi terselamatkan oleh semesta.

And you think ngedadahin artis lewat is so last century.
Gw tadinya pengen melempar saran agar FFI dibikin di satu tempat/kota aja, biar meminimalisir keteledoran bidang organizing tadi. Rempong beb, musti ngangkut ratusan orang ke luar Jakarta, itu pun kalau keangkut semua. Paling jauh Bekasi lah, lumbung film Indonesia tuh =P. Tetapi, gw tahu itu bakal sedikit egois. Melihat langsung animo orang lokal dengan kehadiran para artis yang berpawai (ini again ciri khas kita), gw bener-bener bisa ngerasain excitement-nya. It's really something. Ini baru di Palembang. Bayangkan kalau di kota-kota lain. Kalau di Jabodetabek nyari artis kan tinggal pilih mau nemu di mal mana (hint: Plaza Senayan, fX, Pacific Place, Plaza Indonesia =P), sementara yang luar kota atau luar pulau, kapan lagi? Ya begitulah. Kalau mau tetap dengan konsep roadshow begini, panitia dan organizer-nya harus lebih bertanggung jawab lagi.

Okelah, setelah berpanjang-panjang curhat, gw akan ingatkan lagi para pemenang Piala Citra FFI 2014, plus beberapa komentar gw, hehehe. Selamat ya buat para pemenang.