Minggu, 30 November 2014

[Movie] The Imitation Game (2014)


The Imitation Game
(2014 - Black Bear Pictures/Filmnation/Studiocanal/The Weinstein Company)

Directed by Morten Tyldum
Written by Graham Moore
Based on the book "Alan Turing: The Enigma" by Andrew Hodges
Produced by Nora Gorssman, Ido Ostrowsky, Teddy Schwarzman
Cast: Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode, Charles Dance, Mark Strong, Rory Kinnear, Allen Leech, Matthew Beard


--Ulasan dari Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2014--

Mengangkat sosok ilmuwan Inggris, Alan Turing, ke layar lebar bisa jadi sesuatu yang sangat menarik, sekaligus menanggung beban. Alasannya, Turing adalah sosok yang punya banyak sisi untuk digali. Di satu sisi, ia adalah ahli sains yang berjasa membuat berbagai terobosan, seperti mesin pemecah sandi di masa Perang Dunia II dan memelopori teknologi komputer. Namun, di sisi lain Turing juga dikenal sebagai ilmuwan yang dipidana oleh pengadilan karena ia adalah seorang homoseksual.

Film drama biografi The Imitation Game, digarap oleh sutradara Norwegia, Morten Tyldum (Headhunters) berdasarkan skenario karya Graham Moore, mencoba mengangkat dua hal terpenting dari Turing, yaitu jasanya terhadap kemenangan negara-negara Sekutu di Perang Dunia II, serta permasalahan jati dirinya yang dianggap ilegal oleh negara pada zamannya. Berfokus pada dua hal saja bukan berarti membuat penceritaan filmnya jadi lebih mudah, namun kalau melihat hasil akhir film ini, tantangan itu bisa diatasi dengan cukup baik.

Film ini dibuka dengan pengaduan adanya kemungkinan perampokan di rumah Turing (Benedict Cumberbatch) di kota Manchester pada tahun 1951. Turing menolak untuk melanjutkan proses di kepolisian, yang menimbulkan kecurigaan Detective Knock (Rory Kinnear) bahwa Turing menyembunyikan sesuatu. Penyelidikan pun mengarahkan Knock pada kesimpulan bahwa Turing memegang rahasia negara, atau bahkan seorang mata-mata bagi Uni Soviet.

Film ini kemudian berpindah ke awal mula Turing bergabung di lembaga pemecah sandi rahasia milik negara pada tahun 1939. Setelah meyakinkan para petinggi di sana, Turing ditempatkan dalam satu tim yang bertugas khusus untuk mempelajari Enigma, mesin canggih yang digunakan Nazi Jerman untuk berkomunikasi dalam bentuk kode-kode yang sulit dipecahkan. Tetapi, ketika anggota tim yang lain berupaya memecahkan kode lewat rumus-rumus ilmiah, Turing malah sibuk merancang mesin yang bisa langsung mengartikan setiap kode yang dipancarkan Enigma, yang ia beri nama Christopher.

The Imitation Game memang seolah berjalan dalam dua plot yang disajikan silih berganti. Kedua cerita ini pun punya pertaruhan dan misterinya sendiri-sendiri: apa yang disembunyikan Turing sehingga tak melaporkan kasus perampokan, dan apakah Turing akan berhasil memfungsikan mesin Christopher lalu memenangkan peperangan. Ditambah lagi, film ini mundur sejenak ke masa Turing remaja (Alex Lawther), yang sudah gemar bermain kode sandi bersama satu-satunya kawan di sekolahnya, Christopher Morcom (Jack Bannon). Ini menambah satu misteri lagi: apa arti Christopher bagi Turing sehingga ia mengambil nama itu untuk mesin ciptaannya?

Di atas kertas, apa yang disajikan The Imitation Game memang seakan terlalu banyak dan penuh, bahkan rumit. Dan, itu pun masih ditambah lagi beberapa subplot tentang kedekatan Turing dengan rekan wanita satu timnya, Joan Clarke (Keira Knightley) yang tak biasa, ketegangan Turing dengan Commander Denniston (Charles Dance) karena Turing tak kunjung membuahkan hasil nyata, serta kecurigaan adanya mata-mata Uni Soviet di dalam tim Turing.

Akan tetapi, The Imitation Game justru tidak disajikan dengan cara yang rumit atau berat. Bahkan, film ini tanpa diduga memunculkan banyak sekali humor. Sutradara Tyldum dan penulis skenario Moore tampak memanfaatkan betul situasi-situasi ketika sifat Turing yang kikuk tapi sombong dihadapkan dengan beberapa karakter lain yang sarkastis, sehingga menimbulkan kelucuan-kelucuan berkelas. Unsur humor yang disajikan ini sedikitnya sukses membuat sebuah film yang mengangkat tema perang dunia, sains, konspirasi, dan lain sebagainya ini lebih mudah diserap, atau setidaknya lebih menghibur.

Memang, bila dilihat di sisi lain, hadirnya unsur humor menyebabkan apa yang diceritakan sulit dipercaya sebagai kisah nyata, dan mungkin bagi sebagian lagi akan memandang film ini terlalu menganggap enteng. Apakah benar Turing dan karakter-karakter lainnya memang "selucu" itu? Apakah benar berbagai keadaan-keadaan yang menimbulkan tawa di film ini memang demikian? Dilihat dari penyajiannya yang agak "terlalu" humoris untuk ukuran film biografi yang bukan komedi, jelas kelihatan bahwa film ini memuat banyak artistic license (yang biasanya digunakan seniman untuk mendistorsi fakta) demi dramatisasi dari kisah aslinya.

Akan tetapi, mungkin memang itulah kesan yang ditangkap oleh para pembuat film ini tentang karakter dan situasi saat itu, dalam pandangan masa kini. Misalkan saja, Turing tak bisa bahasa Jerman tetapi ia berani melamar jadi pemecah sandi Nazi, atau Joan yang melamar ikut tim Turing tetapi disangka melamar jadi sekretaris hanya karena dia wanita. Setengah abad yang lalu itu hal-hal yang mungkin dianggap serius, sekarang justru terlihat betapa konyolnya pemikiran-pemikiran itu. Langkah untuk menyajikannya dalam bentuk yang humoris pun sebenarnya tidak salah juga, lagipula film ini cukup bertanggung jawab ketika harus kembali pada sisi yang lebih emosional.

The Imitation Game memang punya kekuatan di banyak segi. Mulai dari akting yang kompak dari para pemainnya, desain produksi yang menimbulkan kesan yang akurat tentang zamannya, sampai pada tata musik yang sukses membangun mood di berbagai momen film ini. Akan tetapi, kekuatan yang paling menonjol di film ini adalah penuturannya, mengatasi kisah yang sebenarnya rumit dan penuh bobot menjadi sajian yang menghibur, lancar, dan ringan.

Pemilihan untuk menuturkan dua sampai tiga plot dari tiga periode waktu berbeda dari tokoh yang sama memang berisiko, tapi nyatanya dapat dengan mulus membangun gambaran siapa itu Turing dengan utuh, dan juga ampuh membangun rasa penasaran penonton tentang apa yang bakal terjadi pada karakternya hingga akhir. Benang merahnya pun tetap jelas, bahwa kejeniusan Turing terbukti berjasa menyelamatkan banyak orang (meski harus dirahasiakan cukup lama demi keamanan negara), tetapi ironisnya orang-orang tak mau menerima jati diri Turing yang seutuhnya.




My score: 7,5/10

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di Muvila.com

Sabtu, 29 November 2014

[Movie] Black Coal, Thin Ice (2014)


白日焰火 (Bái rì yànhuǒ)
Black Coal, Thin Ice
(2014 - Fortissimo Films/Omnijoi Media/Boneyard Entertainment/China Film Co.)

Written and Directed by Diao Yinan
Produced by Vivian Qu
Cast: Liao Fan, Gwei Lun-Mei, Wang Xuebing, Wang Jingchun, Yu Ailei, Ni Jingyang


--Ulasan dari Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2014--

Sejak awal, film Black Coal, Thin Ice seakan hendak mengetes minat penontonnya. Jika penonton sukses tanpa komplain melewati main credit-nya yang hanya berupa layar hitam bertulisan putih dan tanpa suara sama sekali, selama lebih kurang tiga menit, niscaya bakal bisa bertahan juga dengan gaya tutur pelan dan tak terlalu banyak dialog dari film asal China pemenang Golden Bear di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2014 ini.

Film yang disutradarai dan ditulis sendiri oleh Diao Yinan ini cukup sederhana premisnya. Berlatar di sebuah provinsi di China bagian Utara, film ini berkisah tentang pemecahan kasus mutilasi seorang pekerja tambang, yang potongan tubuhnya terserak di penampungan batu bara di berbagai kota. Hanya saja, film ini tidak menuturkannya secara procedural dari sisi penegakan hukum. Malahan, yang aktif memecahkan misteri ini bukanlah penegak hukum.

Film ini mengikuti tindak tanduk Zhang Zili (Liao Fan, yang menang aktor terbaik di Berlinale lewat film ini), seorang detektif yang ditugaskan menangani kasus tersebut pada hari yang sama dengan hari perceraiannya, di musim panas tahun 1999. Di sini, Zhang tampak profesional seakan perceraiannya tidak berpengaruh apa-apa, sampai akhirnya penyelidikan ini malah berujung pada peristiwa berdarah yang hampir merenggut nyawanya.

Kisah pun melompat ke musim dingin tahun 2004. Tidak ada perbedaan mencolok secara kasat mata (seakan menunjukkan bahwa China pada periode itu perkembangannya lambat sekali), dan bisa diketahui bahwa kasus mutilasi tahun 1999 itu belum terpecahkan. Bedanya, keadaan Zhang sudah berubah: ia sekarang hanya seorang staf keamanan di sebuah pabrik, dan ia gemar mabuk-mabukan. Rangkaian peristiwa lima tahun sebelumnya baru terlihat dampaknya sekarang.

Akan tetapi, naluri detektif itu muncul lagi ketika timbul peristiwa-peristiwa mutilasi serupa. Korbannya adalah pria-pria yang pernah dekat dengan Wu Zhizhen (Gwei Lun-Mei), yang tak lain adalah janda dari korban mutilasi tahun 1999. Merasa tak ada lagi hal lain yang bisa ia lakukan, Zhang pun berinisiatif untuk menuntaskan kasus ini dengan caranya sendiri: mendekati Wu untuk memancing pelakunya keluar. Hitung-hitung membantu kawan-kawan lama di kepolisian yang kehabisan akal.

Seiring terkuaknya misteri kasus ini sedikit demi sedikit, film ini juga menawarkan arah cerita yang sebenarnya bisa ditebak. Meski awalnya pura-pura, Zhang lama-lama jadi betulan suka pada Wu. Tetapi, film ini memberi lapisan interpretasi lebih terhadap hal yang bisa dibilang klise itu.

Dari awal memulai "penyamaran"-nya, penonton sudah punya pegangan bahwa Zhang mendekati Wu demi memuaskan dahaganya dalam memecahkan kasus ini, dan apa pun akan dilakukannya demi meyakinkan Wu bahwa ia serius menyukainya. Namun, bila dipikir lagi, hubungan ini adalah sesuatu yang tak dirasakan Zhang setelah sekian lama, ia bisa dengan mudah larut di dalamnya tanpa harus pura-pura. Lagi pula, ia tidak wajib mempertanggungjawabkan tindakannya ini kepada siapa pun, ia bukan aparat lagi. Ini bisa dijadikan—kalau bahasa pergaulan sekarang—"modus" untuk merasakan cinta lagi.

Black Coal, Thin Ice (atau judul Mandarinnya Bái Rì Yànhuǒ, artinya "kembang api siang hari") memang seakan ditata untuk punya beberapa lapisan sekaligus dalam penuturannya. Kisahnya bisa dipandang sebagai misteri kriminal dengan bumbu roman, atau sebaliknya. Bisa dipandang sebagai film "serius" namun juga diselipi dengan beberapa dark humor. Contoh dari unsur humor film ini adalah ketika Zhang ambruk karena mabuk di pinggir jalan, ia menolak ditolong oleh orang bersepeda, alhasil orang tersebut pergi lagi...menggunakan motor Zhang.

Sama juga dengan presentasi visual film ini yang tampak syahdu dan murung. Apalagi ditambah suasana musim dingin plus beberap adegan kekerasan yang cukup lugas, tetapi secara bersamaan juga menampilkan warna-warni neon ceria dari lampu-lampunya yang terang bendarang. Hal-hal yang saling kontras itu bisa dipandang menarik, tetapi juga bisa terasa janggal juga, karena dibilang serius ternyata tidak terlalu, mau tertawa pun tidak bisa terbahak-bahak. Jika boleh dibandingkan, itu adalah kesan yang lebih kurang sama muncul ketika menonton film-film Coen bersaudara seperti Fargo dan No Country for Old Men.

Karena itu, agak sulit untuk menentukan atmosfer apa yang dapat menggambarkan film ini. Apakah menegangkan, menyenangkan, brutal, lucu, menyedihkan, atau mungkin romantis? Mungkin ambiguitas itu yang ingin dijadikan kekuatan film ini, karena dengan begitu akan banyak hal yang bisa digali, dan itu bisa dibilang berhasil. Akan tetapi, niat itu bisa berbalik jadi kelemahan bila disantap oleh penonton yang menginginkan ketegasan tentang apa yang sebenarnya mau disampaikan film ini. Lagi-lagi, kesan yang mana pun bisa didapat, asalkan sanggup bertahan pada gaya penuturannya yang pelan dan sunyi.



My score: 7/10

Tulisan ini pertama kali terbit di Muvila.com.

Kamis, 20 November 2014

My Top 21 Hata Motohiro Songs So Far


Beberapa orang kenal dia sejak lagu "Toumei Datta Sekai" dari anime Naruto Shippuuden, beberapa tahu dari lagu "Kimi, Meguru, Boku" dari anime Itazura na Kiss atau "Goodbye Isaac" dari anime Space Brothers. Lainnya mungkin baru kenal karena lagu "Himawari no Yakusoku" dari film Stand By Me Doraemon yang bentar lagi tayang di Indonesia. Kalau gw, hih, udah dari dulu kali *hipster*. 

Kayaknya udah berulang kali gw sebut di blog ini bahwa Hata Motohiro (秦 基博)--atau Motohiro Hata tergantung lebih nyaman yang mana--adalah salah satu artis Jepang terfavorit gw. Setelah sekian tahun, abang berusia 34 tahun ini masih jadi salah satu alasan gw masih mengikuti perkembangan J-Pop sampai sekarang, dan masih dengan alasan yang sama: he's that good...walau mungkin dari penampilannya kurang cakep kurang menunjukkan itu, yang gw curigai jadi alasan dia kurang terkenal di Jepang sana.

Hata adalah singer-songwriter pop Jepang dengan artistry yang berbeda dari artis-artis Jepang lainnya yang gw kenal. Pertama, dari suaranya yang serak dan rapuh, tapi ada tenderness, tapi ada power juga, nembak nada-nada tinggi kayak gampang banget dan penjiwaannya nggak ada duanya. Teknik bernyanyinya pun beda dari penyanyi-penyanyi Jepang kebanyakan, Hata selalu bernyanyi all out dari paru-parunya, mungkin karena doi suaranya serak jadi emang harus begitu cara nyanyinya biar nadanya bisa sampe. Bahkan, pihak labelnya ampe lebay sejak awal menjuluki suara Hata dengan voice made of steel and glass *whatever that means*. Kedua, adalah tentu saja dari musiknya. Dengan senjata gitar akustik, Hata senantiasa menghasilkan lagu-lagu yang tak hanya punya melodi memikat, kaya, dan enak didengar, tetapi juga dibungkus dengan tata musik yang rapi dan refreshing, gabungan pop dan rock, dan kadang sedikit nuansa blues.

Delapan tahun, 4 album orisinal, 17 single, dan 1 mini-album sejak major debut di tahun 2006, akhirnya Hata punya his biggest hit yet lewat single "Himawari no Yakusoku". But if you ask me, it's definitely not his best work ever, not even close. Karena itu, gw jadi terdorong untuk bikin daftar lagu-lagu terbaik Hata versi gw, dan sekaligus menyambut dirilisnya album best-of-tapi-dalam-versi-akustik-nya yang bertajuk evergreen (yang semoga Sony Music Indonesia terketuk hatinya untuk merilisnya di sini *ngarep*).

Tadinya mau bikin 20 lagu kayak waktu gw bikin versi ASIAN KUNG-FU GENERATION, tapi ternyata banyak sekali lagu-lagu Hata yang gw suka, sehingga agak nggak tega di-cut jadi 20 aja. Jadi, gw berbuat curang dengan menambah daftar lagunya jadi 21, karena sama seperti jumlah tracklist di album evergreen =P. Harapan gw, dengan popularitas Stand By Me Doraemon dan lagu "Himawari no Yakusoku", makin banyak juga yang kenal sama Hata Motohiro, dan gw akan senang hati merekomendasikan lagu-lagu berikut ini. Gw jamin kalian bakal suka juga.


Selasa, 18 November 2014

[Movie] Interstellar (2014)


Interstellar
(2014 - Warner Bros./Paramount)

Directed by Christopher Nolan
Written by Jonathan Nolan, Christopher Nolan
Produced by Emma Thomas, Christopher Nolan, Lynda Obst
Cast: Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain, Casey Affleck, Michael Caine, John Lithgow, David Gyasi, Mackenzie Foy, Wes Bentley, Topher Grace, Ellen Burstyn, Timothée Chalamet, David Oyelowo, Matt Damon


Sejak Batman Begins (atau mungkin The Dark Knight), film-film Christopher Nolan jadi semacam event bagi sebagian penggemar film, bahkan berefek pada karya orisinalnya seperti Inception, dan sekarang Interstellar ini. Well, sebenarnya karena Nolan selalu menggarap film-film yang "besar" dan selalu punya sesuatu yang memicu pembicaraan, dan menurut gw sih emang pantas. Doi kalau bikin film emang dirancang sedemikian rupa sehingga menyolek intelejensia *haissh* tetapi masih menghibur. Now, di sini gw nggak akan mengulang apa yang udah gw sampein di review versi jaim di sini, tetapi gw ingin mengungkapkan beberapa hal yang gw dapet setelah nonton kali kedua....di IMAX *somboooong*.

Menonton kedua kali gw jadi menyadari bahwa film ini memuat banyak sekali hal. Buanyak sekali. Gw bisa mulai dari cara film ini menggambarkan bencana menuju "kiamat" kesudahan manusia yang dibuat perlahan-lahan (punahnya bahan makanan dan timbul penyakit, dsb), jadi nggak langsung jeder hancur semua, tetapi justru itu yang bikin ngeri. Belum lagi keadaan masyarakat yang hopeless karena diperkirakan manusia akan punah dua-tiga generasi lagi. Sampe-sampe dibuat supaya generasi sekarang jangan sampe terlalu mengangung-agungkan pencapaian masa lalu, kasihan kalau mimpinya ketinggian, makan aja susah. Semuanya worn-out, termasuk teknologi-teknologi futuristis yang digunakan, (dengan brilian) ditunjukkan sudah usang...atau mungkin karena berdebu kali ya. Gambaran dunianya okelah.

Lalu juga berlanjut pada fascination film ini untuk memvisualisasikan teori-teori ilmiah secara cukup rinci yang mungkin bagi penggiat sains akan sangat menyenangkan, tapi akan ya-udah-deh-iya-iya-aja bagi yang merasa itu terlalu ribet. Gw sih lebih ke yang kedua, tapi gw bukan yang tipe langsung menolak film ini. Karena "peragaan" sains di film ini, entah itu kenapa pesawat antariksanya harus muter-muter (karena supaya gaya sentrifugalnya jadi gaya gravitasi, atau semacam itu *otak berasap*), atau soal kenapa daya tarik dari black hole memperlambat penuaan *tendang Ponds*, ditunjukkan dengan cukup mudah dipahami dan cool. Dan btw, salah satu misi dalam cerita film ini adalah mencari rumus solusi untuk mengakali gravitasi bumi, supaya stasiun luar angkasa yang mengangkut berjuta-juta orang bisa terlaksana, dan itu hanya bisa diketahui di balik black hole. Gw nggak perlu tahu gimana caranya itu, ngeliat rumusnya aja udah mau pengsan, tapi setidaknya gw bisa tangkep the big idea.

Sampai di sana gw merasa, wah, film ini keren banget dan niat banget untuk memasukkan semua unsur itu. Nah, kemudian film ini masuk ke muatan yang satu lagi, yaitu soal human nature (naluri untuk sintas bagaimanapun caranya), termasuk juga soal cinta yang mampu melampaui ruang dan waktu. Oke, hold on. Gw mengerti sih bahwa isu human nature itu biar filmnya tambah seru, juga pembahasan cinta biar filmnya ada rasa "awww". Tapi di sini gw merasa film ini terlalu ambisius untuk mencakup segala hal, kalau nggak mau dibilang pretensius. Gimana ya, bagus sih, tapi mungkin penempatannya kurang mulus atau agak misplaced, atau gw aja yang nggak tahu bahwa memang seperti itulah isi pembicaraan orang-orang pintar. Di bagian ini, terlihat usaha film ini untuk menyampaikan "pesan" bahwa sains tidaklah terpisah dari kemanusiaan, bahwa yang tidak terjelaskan oleh sains bukan berarti meniadakannya. Gw sih setuju itu, cuma ya begitulah, gw tidak terlalu percaya bahwa topik-topik itu bisa muncul dalam keadaan yang ditunjukkan oleh film ini. Efeknya ke gw, meski film ini sedang berusaha merasuki sisi emosional gw, yang terjadi justru sebaliknya, jadi nggak "berasa"-lah kalo istilah gobloknya. Tanpa dibicarakan pun gw tahu kok kalau semua usaha ini karena cinta dan naluri manusia untuk bertahan hidup selama mungkin. Ini agak redundant dan nyinyir jadinya. Dan, ketika diungkit lagi dalam sebuah turning point di ceritanyaefeknya juga nggak beda, kayak dilempar tapi menguap dengan cepat. Kalau soal mengaduk emosi, Gravity menurut gw masih jadi juaranya...atau mungkin karena film itu nggak terlalu banyak cingcong soal teknis kali ya, hehe.

But, anyway, Interstellar tetap sebuah film yang keren buat gw. Gw masih bisalah memaafkan beberapa ganjalan itu. Film ini tetap disampaikan dengan memikat, dengan teknik-teknik old school minim CGI, penataan adegan action-nya yang seru paripurna, juga suspense-nya yang dirajut oke lewat editing dan musiknya. Dan, 2 jam 45 tanpa terasa jenuh itu something banget loh. I enjoyed the view (walau sinematografinya kayaknya nggak se-"klop" di Inception atau film-film The Dark Knight), the storytelling, the acting, the sound, juga gagasan-gagasan yang coba diangkat. Oh, juga yang paling jleb adalah si Cooper (Matthew McConaughey) menyaksikan anak-anaknya yang udah hilang harapan sama bapaknya dan mengucapkan kata-kata seakan dia udah mati, itu heartbreaking sekali buat gw.

Jadi, bisa dibilang film ini tentang akhir dunia, atau tentang keluarga, atau tentang sains, atau tentang waktu, atau tentang manusia, atau tentang harapan, atau tentang lagi-lagi Amerika menyelamatkan umat manusia *yaelah*. Film ini tentang banyak hal. Terkadang bisa terasa terlalu too much, tetapi in the end semuanya masih bisa gw terima dengan tanpa paksaan, ini tentang gw menonton sebuah film nyaris tiga jam dan merasakan berbagai macam rasa: kagum, tersentuh, bingung, lucu, takut, dan sebagainya. Sebuah film yang jauh dari kegagalan, malah jadi prekuel yang sempurna untuk After Earth =PP.





My score: 8/10

Sabtu, 15 November 2014

[Movie] Big Hero 6 (2014)


Big Hero 6
(2014 - Walt Disney)

Directed by Don Hall, Chris Williams
Screenplay by Jordan Roberts, Daniel Gerson, Robert L. Baird
Based on the concept and characters by Man of Action (Duncan Rouleau, Steven T. Seagle)
Produced by Roy Conli
Cast: Scott Adsit, Ryan Potter, Daniel Henney, Jamie Chung, Damon Wayans Jr., T.J. Miller, Genesis Rodriguez, Maya Rudolph, James Cromwell, Alan Tudyk


Walt Disney Animation Studios sepertinya mulai membuat pola baru agar nggak kehabisan amunisi untuk sukses: mengembalikan kejayaan film fairy tale (dan musikal), namun juga bersamaan membuat film yang kontemporer. Jadi dalam beberapa tahun terakhir ini kita lihat Disney bikin The Princess and the Frog, Tangled, dan Frozen, kita  juga lihat Disney bikin Bolt dan Wreck-It Ralph, which I think is a good move. Gw masih inget mereka menggeber kisah-kisah dongeng di dekade 1990-an, pas nyoba geser rada futuristis di awal tahun 2000 (Atlantis dan Treasure Planet), eh kelar malah banyak merugi. Semoga kali ini Disney konsisten kualitasnya dalam jangka waktu lebih lama.

Kita sampai pada Big Hero 6, tipe animasi Disney yang kontemporer, dan cukup istimewanya adalah ini berdasarkan seri komik berjudul sama terbitan Marvel Comics. Artinya, kita bisa mengharapkan kisah superhero seru ala Marvel dengan sentuhan Disney yang khas, you know, berorientasi keluarga...dan musuhnya tidak akan mati dibunuh oleh si protagonis *karena mengajarkan anak-anak untuk membunuh, sekalipun orang jahat, itu tidak baik*. Minimal, film ini fun-lah.

Yang di luar ekspektasi gw adalah ternyata film ini is SO MUCH fun. Dari trailer-nya mungkin kita sudah lihat betapa imut dan lucunya robot perawat Baymax yang di-make-over jadi robot petarung, dan memang itu yang dikedepankan. Tetapi pinternya adalah hal itu tidak meng-spoil isi dari filmnya. Siapa sangka, kemampuan dan aksi tokoh lain di luar Baymax juga seru-seru dan asik-asik. Bahkan, cara si musuh, manusia bertopeng kabuki dengan jutaan micorbots-nya (yang sebenarnya diciptakan oleh Hiro si...err...hero utama film ini) juga ditampilkan keren. Dengan teknik animasi CGI yang sangat mulus, film ini berhasil mempertunjukkan aksi-aksi keren yang tak kalah dari film-film superhero live-action, plus ditambah humor-humornya yang sangat menghibur. Gimana nggak ngakak ketika lima anak muda plus robot yang nyoba-nyoba jadi superhero, kagok menjalani misi pertamanya di pulau misterius, ngebolongin pintu aja nggak bisa *ngakak guling-guling*.

Tapi, seiring berjalannya film ini, lama-lama ketahuan juga ada yang kurang dari film ini, yakni orisinalitas. Gw tercengang sama kreativitas yang dimunculkan di Wreck-It Ralph, gw juga salut pada rancangan cerita Frozen yang cukup revolusioner. Sedangkan untuk Big Hero 6, gw tidak merasakan itu. Menyenangkan sih, tetapi semuanya masih bisa ditebak arahnya, termasuk sosok di balik topeng kabuki itu. Kekurangan orisinalitas itu dimungkinkan karena gw keseringan nonton film Disney atau sudah banyak nonton film-film superhero *sombooong*. Jadi, sebenarnya film ini tidak memberikan nilai lebih yang gimana gitu, menurut gw ya.

But, of course, gw nggak bisa memungkiri bahwa Big Hero 6 adalah sebuah film yang sangat nikmat ditonton, entah dari visualnya yang matang (desain kota San Fransokyo lucu-lucu), nilai-nilai dalam ceritanya--yang membahas tentang bertindak dengan dasar kemarahan dan dendam, karakter-karakternya yang loveable, dan pengadeganannya yang tak pernah membosankan. Tetap sebuah sajian yang cukup menyegarkan dan menceriakan mood. Dan, siapa tahu, film ini semakin merangsang anak-anak untuk menyukai sains seperti tokoh-tokohnya. Go Go Tomago! *hehe*





My score: 7,5/10

Minggu, 09 November 2014

[Movie] Mantan Terindah (2014)


Mantan Terindah
(2014 - Berlian Entertainment/Keana Productions)

Directed by Farishad Latjuba
Screenplay by Titien Wattimena
Story by Ilya Sigma, Priesnanda Dwisatria
Produced by Marcella Zalianty, Dino Hamid
Cast: Karina Salim, Edward Akbar, Ray Sahetapy, Salvita Decorte, Tri Yudiman, Hedi Yunus, Angela Nazar, Reza Haryadi, Fauzi Baadila


Mantan Terindah adalah sebuah film penuh titipan. Film ini konon menjadi rangkaian "perayaan" 30 tahun acclaimed musician Yovie Widianto berkarya (yes, he's that old), setelah didahului perilisan album kumpulan lagu terbaik doi, Irreplaceable (yang ada Raisa yang cover lagu "Mantan Terindah"-nya Kahitna) dan konser Irreplaceable pada tahun lalu. Jadi more or less film ini juga harus mengintegrasikan lagu "Mantan Terindah" ke dalam ceritanya, karena pada dasarnya film ini harus respek juga sama karya-karya Yovie. Menyaksikan film ini, gw bisa membayangkan betapa keras usaha para pembuat filmnya untuk merancang titipan itu menjadi sebuah cerita yang menarik secara filmis dan punya nilai plus. Hasilnya, jadilah film ini memasukkan unsur orang indigo di dalamnya. Di sisi lain gw juga bisa membayangkan betapa nerakanya pekerjaan para pembuat film ini untuk memasukkan titipan yang satu lagi, yaitu pihak sponsor yang seolah-olah membiayai 75 persen film ini sampe mendapat benefit yang luar biasa gede di film ini. We'll get to that later.

Gw akui rancangan cerita Mantan Terindah ini cukup kreatif dan menarik. Bagaimana seorang gadis indigo dengan kemampuan melihat masa depan menjalin cinta dengan seseorang, meskipun dia juga mendapat penglihatan bahwa kisah cintanya itu akan berakhir dengan menyakitkan--bahwa mereka bakal jadi mantan, get it? Plot-nya pun punya susunan menarik, mulai dari perkenalan tentang kemampuan indigo si gadis bernama Nada (Karina Salim), terus berlanjut ke pertemuan dengan si cowok struggling musician tapi tinggal di kostan bagus bernama Genta (Edward Akbar), berlanjut ke bagaimana Nada jadi posesif banget sama Genta demi menyangkal penglihatannya itu, sampe-sampe hubungannya jadi nggak enak sama sahabatnya, dan seterusnya. Bolehlah.

Yang gw kurang merasa sreg adalah pembawaan film ini yang terlalu mendayu-dayu, nggak dibawa fun. Entahlah, sepertinya ada kecenderungan di Indonesia bahwa film dengan kisah cinta "menyentuh" dan "romantis" dan bersentuhan dengan "paranormal" itu harus sendu. Padahal di film ini lumayan memasukkan unsur hip banget, mulai dari selera musik masing-masing tokoh, sampai ke tindakan posesif si Nada yang agak konyol juga. Pun film ini sempat memasukkan gag tentang tokohnya Hedi Yunus yang diramal jadi penyanyi *oh, well*, tapi udah sampai situ aja. Film ini lebih memilih mendasarinya dengan tragedi dan si tokoh utamanya terus membawa beban tragedi itu sampai ke sepanjang film. Nah, efeknya, karena dibawa terlalu serius dan melankolis, jadi kerasa datar dan cheesy, padahal harusnya nggak perlu. Can't they just at least laugh at the fact that the names of the main characters are Nada and Genta? Well, itu pilihan sih, kebetulan jalur yang dipilih film ini bukan masuk selera gw.

Tetapi, satu hal yang bikin film ini agak nggak enak dinikmati adalah karena titipan yang terlihat jadi beban. Okelah ada product placement BeeTalk dan Commuter Line (yang secara tidak realistis ditunjukkan tidak pernah penuh) yang menurut gw masih dalam tahap wajar, tetapi gw kok menebak bahwa pihak sampo Mataharisutra begitu banyak nuntut sehingga penempatan logo di poster (di atas judul lho, di atas judul!) dan juga muncul di kredit depan sebelum judul filmnya (sebelum judul lho, sebelum judul!) tidaklah cukup. Akhirnya diberi jalan keluar bahwa setiap kali ada orang mendekati Nada, orang tersebut akan membelai rambutnya. Like everytime. EVVVERYTIME. Eh, belum cukup juga ternyata, takut orang belum benar-benar aware kalau Mataharisutra berjasa besar buat film ini, jadilah ada adegan buka website-nya dan pemakaian pelembab rambut dengan menyorot produknya secara jelas dalam adegan yang bener-bener waste dan harusnya bisa di-cut. Selesai deh, tingkat ke-enjoy-an terhadap film ini makin menukik turun. Bahkan gw melihat film ini kayak lebih sibuk meng-cater pihak sponsor ketimbang mengintegrasikan kisahnya dengan lagu yang jadi judul filmnya.

Again, masih ada sih yang bisa diapresiasi dari Mantan Terindah, mulai dari ide dan penyusunan ceritanya, sinematografinya (but not the color grading, nggak suka deh dengan warna orange-biru-kehijauan itu), juga akting para pemainnya yang nggak jelek. Even Edward Akbar berhasil untuk tidak se-annoying dua film sebelumnya (Street Society dan Runaway). Tapi, ya gitulah. It's an okay film, ya udah gitu aja. Kurang menghibur bisa jadi istilah yang tepat buat gw menggambarkan film ini.




My score: 6/10

Sabtu, 08 November 2014

[Movie] John Wick (2014)


John Wick
(2014 - Summit Entertainment/Thunder Road Pictures)

Directed by Chad Stahelski, David Leitch
Written by Derek Kolstad
Produced by Basil Iwanyk, David Leitch, Chad Stahelski, Eva Longoria
Cast: Keanu Reeves, Michael Nyqvist, Alfie Allen, Willem Dafoe, Adrianne Palicki, Dean Winters, Bridget Moynahan, Lance Reddick, John Leguizamo, Ian McShane, Daniel Bernhardt


Kita bisa abaikan bahwa Keanu Reeves itu umurnya udah masuk kepala lima (yes, he is), karena doi masih rajin berkecimpung di film-film action yang menuntutnya beradegan physical dan tidak terlalu menuntutnya berakting bagus. Itu prestasi lho, dan menurut gw Reeves masih cukup meyakinkan untuk jadi tokoh jagoan, apalagi wajahnya tidak pernah menua sejak...I don't know...Cornelis de Houtman mendarat di Sunda Kelapa mungkin. Anyway, John Wick ini adalah salah satu lagi film basic action bermotif revenge dengan tokoh utama oom-oom yang kayaknya lagi marak banget dibikin sejak kesuksesan Taken. Tadinya gw nggak terlalu tertarik sama film ini, apalagi udah tahu film ini akan didominasi akting dan gaya bicara datarnya Reeves, tapi ternyata film ini mendapat kritik menarik cenderung positif dari beberapa media luar, jadi ya gw coba jajal aja.

John Wick ini sangat komikal, kalau bisa dibilang. Ini adalah kisah seorang mantan pembunuh bayaran (Reeves) yang terkenal selalu tuntas dalam bekerja, yang saat lagi down banget karena istri tercinta baru meninggal dan sedang dalam mode senggol-dikit-gue-bacok, eh someone actually nyenggol dia. So, this is the story of him ngebacok. Yah, menyerang rumah dan ngebunuh anjing imoetz pemberian almarhumah istri jelas bukan dalam skala "nyenggol" seperti biasanya, but you'll get the idea. Apalagi, ternyata yang nyenggol adalah orang yang pantas dibacok, yaitu Theon Greyjoy....eh, maksudnya anak dari mafia Rusia yang kebetulan pernah mempekerjakan John. Dengan awalan seperti itu, kita tinggal sit back, relax, and enjoy the action.

Satu hal yang sebelumnya gw nggak duga dari film John Wick adalah unsur violence-nya yang sangat impresif. Meski awalnya cukup slow, film ini mengisi 3/4 selanjutnya dengan berbagai aksi violent yang tampak raw tapi efektif, sangat seru, mengasyikkan, dan stylish (stylish nggak harus selalu dengan lambat dan slow motion *lirik film Drive*) tapi nggak terlalu nghayal kayak film-film Hong Kong. Berdarah tanpa terlalu frontal, namun berasa bangetlah menghantamnya, khususnya aksi tembak-tembakannya, bener-bener mantap. Rangkaian adegan laganya pun grafiknya terus naik sampai di klimaks yang anjreet "kurang ajar" banget ini film, dan tentu saja gw membicarakan momen John nembak-nembakin orang sambil nyetir yang unlike anything I've ever seen. Dalam adegan-adegan action-nya pun karakterisasi John bisa terlihat, agak rusty (larinya juga udah nggak gesit) tetapi masih punya keterampilan (nembak selalu ke kepala) dan energi untuk menghabisi orang-orang yang menghalangi tujuannya. Dan untunglah aksi fisik John lebih banyak daripada dialog yang diucapkan doi =P.

Porsi action-nya memang pantas mendapat perhatian, tetapi John Wick juga punya daya tarik dari pembangunan ceritanya yang menurut gw sangat komik, bahkan menjurus ke dark comedy. Bahwa ada sebuah hotel yang jadi favorit para pembunuh bayaran dengan alat pembayaran khusus dan mereka tidak diperbolehkan untuk "bekerja" di dalam hotel itu, kurang komik apa coba? Dan rasanya film ini sadar betul bahwa premisnya agak biasa dan cenderung konyol, sehingga justru mengekspos itu dalam filmnya sendiri. Contoh lainnya, ada tim pembersih khusus sisa-sisa adu tembak (!), tangan kanan si mafia yang nggak ngerti bahasa Rusia tapi kok bisa jadi tangan kanan, atau si pemimpin mafia Rusia yang sebenarnya takut sama John tapi nggak panik tapi nggak merasa menangan juga, dan persoalan "it's just a f**king dog" selalu diungkit-ungkit. That's quite amusing, daripada filmnya diketawain karena ceritanya konyol, mending sekalian ikutan tertawa bersama penonton.

So, overall, John Wick adalah yang paling memuaskan gw dari beberapa film action sejenis yang tonton beberapa waktu belakangan. Sebuah film hiburan yang ringan dan nggak perlu mikir berat-berat, bahkan in a way lucu, tapi treatment-nya nggak caur dan nggak sok nyeni juga. Masih ada sih beberapa ganjelan buat gw, kayak si pemimpin mafia yang kurang maksimal dalam melindungi anaknya, atau juga kenapa Reeves kayak masih susah banget kalau beradegan bicara, but well, mau dibilang apapun juga film ini nggak bisa dibilang gagal, malah melebihi ekspektasi gw yang tadinya agak meremehkan film ini. Jangan terlalu seriuslah. Pesan moralnya? Get a bigger dog.




My score: 7/10

[Movie] Rurouni Kenshin: The Legend Ends (2014)


るろうに剣心 伝説の最期編 (Rurouni Kenshin: Densetsu no Saigo Hen)
Rurouni Kenshin: The Legend Ends

(2014 - Warner Bros. Japan)


Directed by Keishi Otomo
Screenplay by Keishi Otomo, Kiyomi Fujii
Based on the comic books by Nobuhiro Watsuki
Produced by Satoshi Fukushima
Cast: Takeru Satoh, Emi Takei, Yosuke Eguchi, Tatsuya Fujiwara, Masaharu Fukuyama, Munetaka Aoki, Yusuke Iseya, Ryunosuke Kamiki, Tao Tsuchiya, Yu Aoi, Min Tanaka, Yukiyoshi Ozawa, Kazufumi Miyazawa



Jadi ceritanya kisah Kenshin lawan Shishio itu memang panjang, hingga akhirnya sekuel versi filmnya pun dibelah dua. Setelah berusaha mencegah kudeta Shishio di Kyoto lewat film sebelumnya sebulan yang lalu, Kyoto Inferno, ternyata Shishio selain berwujud ngeri juga punya pemikiran yang cukup brilian, yaitu bikin perhatian tertuju di Kyoto, sementara ia bakal menyerang Tokyo seperti dulu sebelum restorasi Meiji kapal Amerika bawaan Komodor Perry nembak *ciee nembak =p* kekaisaran Jepang untuk membuka negerinya untuk dunia luar pake kapal perang. Jadi di Rurouni Kenshin: The Legend Ends ini, yah, PR juga buat Kenshin dan jagoan-jagoan lainnya musti balik lagi ke Tokyo. Deuh, bikin kerjaan aja sih nih Shishio. Dikira mesen travel Cipaganti gampang kali.

Anyway, seri film Rurouni Kenshin ini termasuk sukses bukan karena dia membawa sebuah merek yang sudah terkenal dan mendunia, tetapi film-filmnya sendiri cukup setia pada komiknya. Entah itu tampilan fisik tokoh-tokohnya (sayang Kaoru nggak berambut biru) maupun inti kisahnya. Di film pertama, gw nggak nyangka bahwa "cukup setia sama komiknya" bisa worked quite well, sekalipun di atas kertas terlihat absurd--yah namanya juga "film silat" jadi itu sah-sah aja sih. Tetapi makin ke mari, menurut gw ya, kesetiaan itu malah jadi backfired, dan itu semakin nyata di The Legend Ends.

Kalau boleh buat pengakuan, gw punya dan membaca komik Kenshin sampai tamat, tetapi gw bukan termasuk penggemar. Nggak inget secara detail banget tapi gw masih terbayanglah garis besar ceritanya seperti apa. Terus terang, gw sendiri kurang menyukai story arc yang berhubungan dengan Shishio di komiknya, karena terlalu bertele-tele (trust me, versi film sudah sangat disederhanakan) dan tokohnya kebanyakan (yang, to be fair, kayaknya sengaja karena komiknya laris sehingga disuruh sama penerbitnya buat dipanjang-panjangin). Rupanya saat dijadikan film pun reaksi gw tak lebih baik: udah tokohnya banyak, gw nggak ngerti pula mereka ngomong apa.

Suwer, gw nggak mudeng sama dialog-dialog "berat" yang coba diujarkan di sepanjang film ini, terasa trying too hard to be "deep" kayak dulu dilakukan orang-orang yang naruh quotes apalah di atas gambar saat Instagram lagi mulai hits. Entah masalah penerjemahan atau bagaimana tapi tetep aja mbingungin. Contoh, gw nggak tahu apa yang sebenarnya dikatakan Kenshin saat melawan Sojiro yang bikin Sojiro jadi "kayak gitu". Mungkin ada culture gap di sini. Dan yang gw sayangkan juga adalah bagaimana saking setianya film ini, sampe jadi males berinovasi. Satu-satunya hal yang bisa membuat film ini spesial adalah adegan pertarungannya yang dibuat seru sebagaimana film-film sebelumnya. Koreografinya ciamik. Tetapi untuk hal-hal lain, just fell flat, klise, emotionally distant *apapun itu artinya*, kebanyakan renungan yang maknanya gw nggak ngerti tadi, bahkan pake ada "suara hati" di tengah pertarungan, dikate sinetron =_=. 

Gw ngerti sih bahwa ada dorongan untuk membuat Kenshin bukan sekadar film action adu pedang belaka, bahwa ada sebuah "nilai" yang diperjuangkan Kenshin, tapi bukan berarti banyak cingcong yang maunya "deep" tapi mbingungin dong. I mean, come on, ini ibaratnya film puncak tetapi yang diurusin cuma pertarungannya doang, sementara unsur yang lain tidak diusahakan untuk jadi as exciting as that, malah jadinya menjenuhkan ketimbang "epic". Bahkan visualisasi kalahnya Shishio (ini nggak spoiler ya, semua orang juga tahu penjahatnya harus kalah =P) menurut gw epic fail, lagi-lagi karena cuma meniru komiknya tanpa mau berinovasi lebih. 

Alasthe "legend", bahwa Rurouni Kenshin adalah film adaptasi manga terbaik, really ends...dengan kurang enak. Hilangkan semua adegan pertarungan canggihnya maka film ini udah kayak cosplayers sedang memperagakan adegan di komik. Okelah, kalimat barusan terlalu jahat. Tetapi, gw sayangkan aja bahwa film ini punya kesempatan untuk push the envelop (bukan berarti harus menyimpang loh ya), tapi malah ditampilkan sekadarnya saja. Adegan-adegan pertarungannya benar-benar jadi juruselamat film ini.




My score: 5,5/10

Selasa, 04 November 2014

[Movie] The Best of Me (2014)


The Best of Me
(2014 - Relativity Media)

Directed by Michael Hoffman
Screenplay by J. Mills Goodloe, Will Fetters
Based on the novel by Nicholas Sparks
Produced by Justin Burns, Denise Di Novi, Alison Greenspan, Russ Kavanaugh, Ryan Kavanaugh, Theresa Park, Nicholas Sparks
Cast: Michael Marsden, Michelle Monaghan, Luke Bracey, Liana Liberato, Gerald McRaney, Sebastian Arcelus, Sean Bridgers, Jon Tenney


Well, obviously I didn't know what I was getting in to. Gw adalah seorang Nicholas Sparks-rookie, The Best of Me adalah film pertama berdasarkan novel doi yang pernah gw tonton. Tetapi, memang sebelumnya gw udah kenal reputasi doi, you know, kisah cinta menye-menye yang akan berakhir sedih dengan cara yang paling common dalam sejarah kesusastraan manusia: mati. Premis (dan poster) film-film hasil karangan Sparks nggak ada sama sekali yang mengundang gw untuk menontonnya. Maksud gw, kisah cewek cowok jatuh cinta dengan berbagai rintangan dan halangan dan terus berakhir sedih...hanya supaya penonton menangis just because menangis umumnya dijadikan patokan sebuah film bagus atau enggak bagi sebagian orang? Aku sih no.

Anyway, surprisingly, The Best of Me tidaklah semenye-menye itu...awalnya. Kisah berjalan cukup modest dengan bolak balik masa kini dan masa slalu, perlahan mengungkap apa yang terjadi terhadap si oom ini dan tante ini, yang 20 tahun sebelumnya semasa SMA sempat menjalin cinta against all odds, tetapi sekarang malah udah punya kehidupan masing-masing. Gw masih fine dengan latar bahwa si oom adalah anak keluarga white trash bermasalah dan si cewek bagaikan princess, serta dialog-dialog kegelisahan mereka tentang cita-cita dan masa depan. Gw masih fine juga dengan pertemuan kembali si cowok dan cewek yang udah jadi oom dan tante yang CLBK dan runtuhnya rumah tangga salah satu dari mereka.

Tapi, yang gw tidak fine lumayan banyak juga. Dimulai dari James Mardsen dan Luke Bracey yang harusnya jadi karakter si cowok versi tua dan muda, yang tidak mirip sama sekali, bahkan Bracey kelihatan lebih tua dari Marsden. Atau tokoh sepupu si cowok dan anaknya yang dimainkan aktor yang sama (ealah dikira Paramitha Rusady di sinetron Janjiku?). Sama juga inklusi violence yang lumayan penting di cerita tapi yah...masih kelihatan tempelan juga. Oh, gambarnya juga nggak istimewalah. Ini mah bisa aja ditayangin di TV dan nggak ketahuan ini film bioskop atau FTV (tapi pemainnya bule). Tapi yang paling ngganggu sih dari ceritanya yang jatuh kepada klise sinetron yang.....hadeuh....dialognya.....yaelah....peristiwanya....idih....terserah deh. Toh emang ada pangsa pasarnya, I can't judge.

On the other hand, gw menemukan beberapa nilai positif dari film ini. Pertama, gw melihat ada "permainan" terhadap hal-hal klise, walaupun nggak signifikan juga sih. Beberapa adegannya klise banget, gw tahu apa yang bakal terjadi, tapi lewat proses editing dipresentasikannya seakan nggak klise, walaupun akhirnya yang klise itu terjadi juga sih. Kirain adegannya anu, eh ternyata nggak jadi, eh ternyata belakang emang anu. Yaudahlah, setidaknya ada momen sesaat gw merasa film ini nggak gitu-gitu amat, it's sesuatu. Dan yang kedua dan paling gong adalah gw bisa menikmati penampilan adek manis nan berbakat namanya Liana Liberato yang....well, hands down the best thing this film has to offer. Grafiknya naik tajam dari penampilan kerennya di film Trust yang gw tonton dulu. Semoga adek ini tumbuh makin cakep baik perawakan maupun kariernya ya. Amin. =D.




My score: 6/10

Senin, 03 November 2014

[Movie] The Book of Life (2014)


The Book of Life
(2014 - 20th Century Fox)

Directed by Jorge R. Guiterrez
Screenplay by Jorge R. Guiterrez Doug Langdale
Produced by Guillermo del Toro, Brad Booker, Aaron D. Berger, Carina Schulze
Cast: Diego Luna, Zoe Saldana, Channing Tatum, Ron Perlman, Kate del Castillo, Christina Applegate, Ice Cube, Hector Elizondo, Danny Trejo


Kalau ada nama Guillermo del Toro, gw akan langsung ngebayangin desain visual yang "kriting" tapi keren, apa pun itu. Sekalipun nggak terlibat first hand--kayak jadi creative consultant atau executive producer-nya film-film animasi DreamWorks macam Kung Fu Panda 2 dan Rise of the Guardians, gw langsung meyakinkan diri bahwa desain-desain di film-film tersebut pasti sudah di-approve sama del Toro, sineas ber-taste seni visual yang istimewa yang menghasilkan film-film berdesain keren macam Hellboy, Pan's Labyrinth, dan Pacific Rim. Kalau ternyata keterlibatannya di film animasi The Book of Life sudah dalam tahap produser, berarti ke-del-Toro-annya bakal makin kental. Dan memang terbukti.

Gw suka banget sama visual The Book of Life ini. Selain teknik animasinya yang mulus (padahal studio Reel FX ini masih terbilang baru di kancah per-animasi-an Hollywood), segala desain tokoh, benda, dan tempat di film ini tampak lucu dan berwarrrrna-warrrrni, tapi waktu dilihat closely, sebenarnya rumit sekali desainnya. Para tokoh utamanya aja berbentuk boneka kayu yang rada aneh, belum lagi ketika sampai di "akhirat" yang bentuknya jadi tengkorak dan rangka yang dibikin fancy. Kalau produsernya bukan del Toro, mungkin desain-desain rumit ini nggak bakal di-approve. Untung aja.

Okay, cukup dengan antusiasme gw sama visualnya, mari kita membahas cerita dan penuturannya. Satu hal yang gw dapatkan, waktu gw nonton ini gw sibuk mengagumi visualnya dan sibuk ketawa-ketawa terhadap humornya yang bervariasi dari yang slapstick sampai yang self-mocking--bahkan yang sekonyol setiap ucapan para biarawati selalu dinyanyikan secara choral. Tetapi, ketika gw pikir-pikir tentang ceritanya, film ini lumayan padat juga ya.

Hal pertama yang langsung gw tangkep adalah film ini semacam "jembatan budaya" bagi penonton awam seperti gw untuk mengetahui esensi perayaan Dia de Muertos (Hari Arwah Orang Mati) yang dirayakan meriah di Meksiko. Meriah di sini bukan cuma karena banyak orang, tapi sampe bentuk-bentuk tengkorak pun dipakai dalam berbagai benda termasuk makanan (!) tanpa rasa ngeri sedikitpun. Orang luar mungkin kurang memahami kenapa ngerayain arwah orang mati kok girang amat. Well, kalau arwahnya tinggal di alam kayak di film ini, apa yang perlu ditakutkan? Itu sih. Dan bentuk penuturannya pun seakan memperjelas fungsi itu, yaitu sekelompok anak kecil Amerika yang diceritakan tentang Dia de Muertos oleh guide di museum, dan mereka sebagai wakil penonton dalam merespons ceritanya (the "What is it with Mexicans and death?" line just cracked me out =D).

Di sisi lain, film ini ternyata dengan mulus memasukkan "plot ala Disney" tentang pencarian jati diri dan, well let's just say, pemberdayaan perempuan. Di sini ada Manolo (Diego Luna) yang dibesarkan oleh keluarga matador, dan ia juga berbakat jadi matador, tetapi sebenarnya passion-nya di musik, sebuah profesi yang tidak terhormat di mata orang tuanya. Plus, perempuan yang dicintainya, yang of course namanya Maria (Zoe Saldana), adalah pecinta hewan yang tak mau Manolo membunuh banteng di arena bullfighting. Maria juga digambarkan bukan damsel in distress, seorang yang dididik di Eropa yang membuatnya berpikiran modern, termasuk mempertanyakan kenapa dia jauh-jauh sekolah di Eropa tapi pas pulang cuma buat dikawinin buat masak dan nyuci. 

Tetapi, The Book of Life juga sedikit "menyimpang" dari pakem standar film animasi keluarga Hollywood. Tokoh pesaing cinta Manolo, Joaquin (Channing Tatum) digambarkan narsis dan konyol, tetapi tidak mengesalkan. Atau juga tokoh magical yang diwakili penguasa alam orang terkenang, La Muerta (Kate del Castillo) dan penguasa alam orang terlupakan, Xibalba (Ron Perlman) yang tidak sekadar hitam dan putih. Heck, they're even dating. Seakan mengajarkan bahwa there's always good inside everyone walaupun ada di pihak yang berseberangan. Well, kecuali tokoh si bandit ganas yang memang cuma alat untuk memperuncing plot aja sih. Btw, tokoh itu juga sebuah marvel dalam desainnya.

Kayaknya masih banyak yang bisa dibahas dari The Book of Life ini, tetapi intinya adalah film ini indah, keren, berbobot, dan punya keunikan, and I like it. Oh ya, soal pilihan lagu-lagu yang dinyanyikan juga cukup bikin senyam-senyum, entah itu lagu-lagu yang udah populer (lagu Elvis Presley, Mumford & Sons, sampai Radiohead!), maupun lagu orisinalnya yang sangat memikat (khususnya "I Love You Too Much" dan lagu minta maaf ke banteng itu). Palingan yang bikin rada nggak enak ya suaranya si Luna =p. Meriah dan menyenangkanlah film ini, mungkin persis seperti spirit perayaan Dia de Muertos *sotoy aja sih ini*.




My score: 8/10

Minggu, 02 November 2014

[Movie] Fury (2014)


Fury
(2014 - Columbia)

Written & Directed by David Ayer
Produced by David Ayer, Bill Block, John Lesher, Ethan Smith
Cast: Brad Pitt, Logan Lerman, Shia LeBeouf, Michael Peña, Jon Bernthal, Jason Isaacs, Jim Parrack, Kevin Vance, Scott Eastwood, Xavier Samuel, Anamaria Marinca, Alicia von Rittberg


Nggak ada yang bisa pungkiri Fury ini terlihat meyakinkan. Dari setting zaman Perang Dunia II sampai para bintangnya yang terkenal, plus temanya soal regu tank, sampe gw want to believe that this is going to be a good movie. However, setelah menyaksikannya, anggapan itu menguap. Beneran, gw nggak bisa langsung menyematkan kata bagus dan keren dan favorit terhadap film ini. Mungkin itu salah gw yang telah sekitar 10 menit awal filmnya =p, tetapi begitulah. Gw sulit menjelaskan alasannya, kecuali alasan lame yang berbunyi I'm not feeling it.

Padahal gw udah siapkan dua macam ekspektasi. Pertama, film ini bakal seru dengan adegan-adegan perang berdarah dan bikin ngilu-ngilu dikit. Kalau itu nggak terjadi, maka masih ada ekspektasi kedua, yaitu ini bakal jadi film drama emosional tentang betapa perang itu kejam dan melelahkan. Ternyata, kedua ekspektasi ini terpenuhi di film ini....kecuali kata sifatnya. Di mata gw, film ini kurang seru dan kurang emosional, padahal gw tahu betul kedua kata kunci inilah yang sebenernya ingin digeber di film ini. Sayangnya justru itu jadi senjata makan tuan, ketika pengen banget dibikin seru dan dibikin emosional, jadinya malah kesannya maksa.

Okelah, to be fair, adegan perangnya memang seru. Nggak pake banget sih, cuma ya serulah, special highlight yang adu tank satu lawan satu itu. Bahwa ternyata porsinya action-nya sedikit sebenarnya nggak masalah, asalkan ketika nunggu adegan action itu datang lagi, tetap ada bobot yang bikin gw pengen terus ngikutin. Dan inilah yang membawa gw ke problem kedua, bahwa dramanya yang sebenarnya berpotensi greget juga malah terasa...apa ya...fabricated banget.

Dengan karakter-karakter yang sedemikian formulaic itu--ada yang nyebelin, ada yang agamis, ada yang santai, ada yang rookie, dan ada yang kebapakan, mereka dikasih dialog-dialog yang harusya emosional tapi kadang gw nggak ngerti juga apa maksudnya dan ke mana arahnya, seperti njeplak aja biar kesannya badass dan kekinian walau setting-nya tahun 1940-an. Itu termasuk pembicaraan yang sangat lamaaaa dan diselingi banyak pause sebelum aksi pamungkas itu. Paan sih itu. The famous adegan meja makan, yang mungkin harusnya dirancang "penting", gw malah nggak nangkep pentingnya, bahkan apa yang mereka omongin juga gw nggak paham. Karena itu pula gw jadi nggak peduli juga nanti tokoh-tokoh ini nanti bakal mati atau gimana cara matinya, wong denger omongan mereka aja udah males. Again, ini mungkin masalah teknis gw yang nggak tahu latar belakang mereka (dengan asumsi bahwa di 10 menit awal ada adegan latar belakang. Eh, nggak ada juga?) karena gw nggak nonton dari detik awal, jadi abaikan saja yang baru gw ungkapkan barusan *lah ngapain ditulis*.

Sebenarnya yang jadi masalah besar selain isi film ini adalah bahwa hampir semua reaksi orang yang menonton film ini memuji, bahkan bilang film ini keren banget dan bersanding dengan Saving Private Ryan. Seakan apa yang gw tonton berbeda dengan yang mereka nonton. Kalo gitu kan jadi bikin stress yak *lebay* *padahal nggak perlu juga sih* *bebas*. Tapi ya gimana dong, mungkin waktu gw nonton itu gw emang lagi cranky jadi pas liat akting Brad Pitt yang sama sekali tidak berubah dari Inglourious Basterds ke 12 Years a Slave ke film ini (aksennya itu loh ngeselin banget), atau Shia LeBay yang bawaannya nangiiiiis mulu, atau Jon Bernthal yang trying too hard to be ngeselin, atau betapa slow-nya pacing film ini, dan melihat warna peluru yang kayak laser di Star Wars, gwnya jadi tambah....err....furious. Oh, musiknya yang ada suara-suara paduan suaranya itu juga ngeselin lama-lama, emangnya Lord of the Rings? *ya ampun sabar pak*

But wait, gw nggak menutup mata sama apa yang dilakukan dengan benar oleh film ini. Di balik treatment film ini yang sedemikian rupa, inti dari film ini adalah lagi-lagi soal betapa perang itu hanya membawa derita. Walau tentu saja itu bukan sebuah gagasan orisinal, setidaknya itu cukup mengena, setidaknya film ini juga mengambil waktu untuk melihat dari sisi lawannya (dalam hal ini Jerman), nggak cuma di sisi pandang Amerikanya. Demikian juga penataan adegan pertempuran yang dibuat up-close dan lumayan brutal, juga memberi efek cukup berarti, walau again itu juga belum sampai tahap groundbreaking *dikate pembangunan apartemen*. Entahlah, cuma dua hal itu yang bisa gw nikmati dari film ini.




My score: 6/10