Senin, 27 Oktober 2014

[Movie] 3 Nafas Likas (2014)


3 Nafas Likas
(2014 - Oreima Films)

Directed by Rako Prijanto
Screenplay by Titien Wattimena
Based on the book "Perempuan Tegar dari Sibolangit" by Hilda Unu-Senduk
Produced by Rako Prijanto, Reza Hidayat, Riahna Jamin Gintings
Cast: Atiqah Hasiholan, Vino G. Bastian, Tutie Kirana, Marissa Anita, Arswendi Nasution, Jajang C. Noer, Ernest Samudera, Tissa Biani Azzahra, Mario Irwinsyah, Olga Lydia, Anneke Jody, Rina Hasyim


Kalau gw ditanya film seperti apa yang pasti menarik gw nonton ke bioskop, khususnya film Indonesia, ya yang seperti 3 Nafas Likas ini. Dari promonya udah kelihatan bahwa film ini nggak dipersiapkan sekadarnya, harus terlebih dahulu merancang set dan kostum yang sesuai zaman dan tempat dan ditampilkan lewat sinematografi yang cantek. Pokoknya kelihatanlah effort-nya untuk "bikin film", dan sangat pantas disaksikan di layar besar. Soal isi filmnya bagus atau nggak itu soal lain, setidaknya dari kemasannya udah memenangkan perhatian gw. Film ini sebenarnya sangat personal, riwayat seseorang. Cuma kebetulan seseorang itu lumayan punya reputasi publiklah. Film ini soal Likas Tarigan, yang dikenal sebagai istri dari Djamin Gintings, salah satu tokoh pejuang dan pejabat militer terkenal dari Sumatra Utara. Kalau dari permukaan, film ini kayak another Habibie & Ainun, tapi kenyataannya film ini lebih menitikberatkan perjalanan hidup ibu Likas, dari anak desa tomboy di tanah Karo, sampai bisa jadi nyonya dubes Indonesia untuk Kanada, dan kemudian salah satu pengusaha perkebunan di Sumatra Utara.

Nah, sebenarnya film ini PR-nya lumayan krusial. PR pertama, film ini harus memperkenalkan siapa itu Likas Tarigan, karena obviously tidak semua orang tahu beliau siapa dan seperti apa. PR kedua, menarik benang merah dari keseluruhan kisah hidupnya yang melewati zaman Belanda, zaman Jepang, zaman kemerdekaan, zaman orde lama, zaman orde baru dan seterusnya. Itu banyak banget loh. PR pertama sudah dikerjakan dengan cukup baik. PR kedua itu yang jadi problem.

Kalau dari judulnya (dan niatnya), film ini hendak mengaitkan perjalanan hidup Likas (Atiqah Hasiholan) dengan tiga orang penting dalam hidupnya, yaitu ibunya (Jajang C. Noer) yang superdrama =D, abangnya Njoreh (Ernest Samudra) yang mendorongnya untuk meraih cita-cita, dan suaminya, Djamin Gintings (Vino G. Bastian). Tetapi, jujur aja, gw sih nggak nangkep apa poin jelas sejelas-jelasnya dari mengaitkan hidup Likas dengan ketiga orang ini, selain bahwa mereka sama-sama *^@&%#$*@ ketika Likas &&^*&%!$@%^ *antispoiler =p*. Jadinya, gw pun tidak bisa menangkap apa poin/statement utama yang ingin dibicarakan film ini. Hal yang sama terjadi dengan film Sang Kiai yang juga disutradarai Rako Prijanto.

Gw tadinya menganggap bahwa inti film ini adalah bagaimana Likas yang punya pemikiran modern memilih menahan diri selama bertahun-tahun demi mendukung karier suaminya, namun tidak benar-benar menghapus cita-citanya, yaitu untuk hidup mandiri dan berkontribusi lebih sekalipun ia seorang perempuan. Pilihan itu not necessarily kemunduran, toh ia sendiri yang memilih, dan tahu betul apa risikonya. Good things would still come around eventually. Mungkin itu maksudnya film ini, tetapi ya itu tadi, gw nggak yakin itu benar karena film ini tidak memperjelasnya.

That being said, gw lebih suka menikmati film ini sebagai mozaik memori kehidupan Likas. Karena jujur aja nih, nggak ada kaitan yang kuat antara satu momen ke momen lainnya sehingga bisa disimpulkan sebagai satu cerita utuh. Yang gw lihat adalah perjalanan hidup seseorang yang penuh pasang surut suka duka, bagaikan mendengarkan seorang nenek bercerita tentang masa mudanya...which is exactly how this film is told, literally, hehe. Dan itu bukan sesuatu yang jelek, gw sih enjoy aja.

Cuman kadang dalam beberapa titik gw merasakan kejanggalan karena kekurangan informasi tentang apa yang terjadi. Contoh saat Djamin dipenjara, kenapa untuk apa Likas harus ke kota dan menemui dokter yang istrinya bule? Dan juga mereka itu siapa? Adegan yang mengikutinya sih emang sangat menarik, tetapi motivasinya gw nggak nangkep, wong nggak ada petunjuk yang menjelaskan. Ada pula adegan klise tentang Likas nelepon Djamin yang lagi tembak-tembakan bahwa Indonesia telah merdeka, dan tiba-tiba tembak-tembakannya berhenti begitu saja. Itu ceritanya latihan atau apa? Yang begitu-begitu nggak cuma sekali dua kali, jadi kadang-kadang gw agak lost sama apa maksud dari adegan-adegan itu.

Tetapi, lagi-lagi, sebagai penyuka desain produksi apik, visual film ini sedikitnya menolong film ini dari kebingungan gw tadi. Kisah perjalanan hidup yang dialami ibu Likas pun memang menarik kok. Namun, yang jadi juara film ini jelas adalah penampilan Atiqah yang bisa benar-benar menyatu dengan karakternya, baik dari cara tutur dan gestur yang nyaris sempurna. 

Dan sekalipun gw tidak mampu "membulatkan" satu garis besar kisah film ini, setidaknya gw mendapatkan beberapa poin "sekunder"-nya menarik. Yang terkuat adalah "romantisme" Likas dan Djamin yang tidak romantis sama sekali--which is probably related to culture. Entah kenapa adegan adu teriakan di rumah, tindakan-tindakan nyelenah Djamin demi merebut hati Likas, juga rangkaian adegan setelah Djamin keluar dari penjara di masa Agresi Belanda itu menggelitik sekali, sekaligus sweet juga. Habis berpisah secara tiba-tiba pas ketemu bukannya mesra-mesraan malah ngusir XD.




My score: 7/10

Sabtu, 25 Oktober 2014

[Movie] Garuda 19: Semangat Membatu (2014)


Garuda 19: Semangat Membatu
(2014 - Mizan Productions/Pertamina Foundation)

Directed by Andibachtiar Yusuf
Written by Swastika Nohara, Andibachtiar Yusuf
Based on the books "Semangat Membatu" by F.X. Rudi Gunawan, Guntur Cahyo Utomo & "Menolak Menyerah" by F.X. Rudi Gunawan
Produced by Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Cast: Mathias Muchus, Yusuf Mahardika, Rendy Ahmad, Sumarlin Beta, Gazza Zubizareta, Ibnu Jamil, Verdi Solaiman, Puadin Redi, Reza Aditya, Agri Firdaus, Mandala Shoji,


Sebagai bukan penggemar sepak bola, gw nggak terlalu ngerti dengan perlakuan atau mungkin "cult" terhadap timnas U-19 selama sekitar setahun belakangan ini. Kecuali bahwa mereka raih kemenangan internasional yang cukup matters, yang sudah lama tak dipunyai bangsa ini....oh mungkin itu sebabnya *baru ngeh*. Anyway, lebih dari satu buku dan akhirnya sebuah film tetap saja terasa agak...yaah...berlebihan gimana gitu. Kalo istilah jahatnya, come back when you're in World Cup final rounds. But what do I know.

Film Garuda 19: Semangat Membatu ini mungkin bisa membuat gw mengerti kenapa timnas U-19 ini jadi dianggap istimewa. Film ini adalah semacam behind-the-scene dari terbentuknya timnas U-19 di bawah binaan Indra Sjafri (Mathias Muchus) yang kemudian melesat ke permukaan karena berhasil menang di final Piala AFF U-19 tahun 2013 lawan Korea Selatan. The Korea Selatan. Tapi, di sini "behind-the-scene"-nya dibikin fiksi, karena bukan dokumenter, you'll get the idea

Suatu nilai yang sangat jelas (bahkan mungkin terlalu jelas) disampaikan di film ini adalah, walaupun anak-anak ini kerap terlunta-lunta karena ketidakjelasan pengurusan PSSI--mulai dari asrama belum dibayar, makanan belum dibayar, sopir belum dibayar, dan segala sesuatunya yang basically nggak diurusin dengan becus sama organisasi yang bawa nama negara itu, anak-anak ini toh tetap mampu juara. Poinnya sih itu.

Tapi bagi gw sendiri, bagian awal yang berfokus pada asal-usul tiga anak dari tiga daerah berbeda itu (yang dari Ngawi dan Alor itu beneran ada, tapi yang Konawe Selatan katanya semacam "samaran" dari beberapa orang) justru bagian yang sangat menarik. Yah, itung-itung bisa jalan-jalan lewat mata melihat beberapa wilayah Indonesia yang jarang dilihat secara mainstream, plus kebiasaan anak-anaknya bermain sepak bola dengan berbagai kondisi. Bagiannya Yabes (Sumarlin Beta) di Alor itu mungkin yang paling menghibur karena kebiasaan dan kebandelannya bikin ngakak XD. But, then what?

Setelah tim terkumpul di tengah-tengah film, masalah penuturan cerita pun perlahan muncul. Selain menunjukkan deskripsi kondisi dan situasi pelatihan tim U-19 ini , gw merasa kehilangan tentang apa yang sebenarnya mau diceritakan oleh film ini. Gw juga menyayangkan fungsi Yazid (Gazza Zubizareta) sebagai narator malah datang lalu absen (lama lagi) lalu datang lagi ketika nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ada yang peristiwa celaka. Jadinya, penuturan film ini terlihat kurang konsisten. Untuk memperjelas poinnya seperti gw singgung di atas, film ini pun berjalan hanya lewat beberapa fragmen peristiwa yang seperti tak saling berhubungan secara naratif, dan kayaknya tidak semua adegan itu ada fungsinya untuk cerita besarnya, alias nggak penting. 

Akibatnya, film ini jadi semacam kumpulan curhat dan kritik semata yang kurang memberikan dampak emosional yang seharusnya timbul. Gw seakan hanya dipersilahkan "nonton dari pinggir", tidak diajak masuk untuk merasakan benar betapa besarnya tekad anak-anak ini untuk bermain sepak bola, tidak merasakan benar kegembiraan ketika mereka menang, atau kekecewaan ketika kalah. Efeknya, pada adegan pertandingan sepak bola pun jadi nggak berasa apa-apa. Mungkin emang disuruh nonton yang beneran aja kali ya...Untuk yang satu ini, film ini kalah jauh dari film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, sama-sama ada soal anak-anak remaja dan sepak bola, tapi penuturannya dibangun dengan kokoh dan digerakkan oleh emosi yang berdampak.

Tetapi kalau mau adil, film ini tidak gagal sepenuhnya. Setidaknya gw jadi punya sedikit gambaran tentang istimewanya timnas U-19 yang memang di-handpicked dengan cukup jeli ini. Gw juga nggak bisa mengabaikan akting effortless dari Mathias Muchus dan si "Arai kecil", Rendy Ahmad yang bisa pulled off the Javanese accent really well. Dan secara visual, gambar-gambarnya cukup menghibur gw, terutama yang pemandangan alam luar. Namun, semua itu menurut gw tak sanggup menutupi kenyataan bahwa film ini hanya enjoyable di paruh awalnya aja, dan belepotan di paruh akhir.




My score: 6/10

Rabu, 22 Oktober 2014

[Movie] Remember When (2014)


Remember When
(2014 - Rapi Films)

Directed by Fajar Bustomi
Screenplay by Haqi Achmad
Based on the novel by Winna Effendi
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Michelle Ziudith, Maxime Bouttier, Stella Cornelia, Miqdad Addausy, Bobby Samuel, Adjie Pangestu, Monica Oemardi, Syamsul Adnan


SMA. Cewek nerd kacamataan pacaran sama cowok nerd kacamataan yang kencannya adalah belajar bersama karena pengen lulus dan masuk kampus unggulan *ciee ceritanya kritik sistem pendidikan ni yee =p*. Cowok atlet pacaran sama cewek pesolek yang kencannya penuh becandaan. Somehow, mereka berempat sahabatan. Lalu lama kelamaan si cewek nerd lebih banyak barengan cowok atlet karena punya banyak kesamaan selera dan pengalaman. Awas, tikungan tajam...jam...jam...

You know what I'm going to say to film kayak ginian. Dan, ya, membaca dari judul dan tagline dan muka-muka belia pemain utamanya, udah bisa ketebaklah film ini kayak apaan. Ini film ringan buat lucu-lucuan sesaat dan tidak perlu kedalaman analisa dalam memaknainya. Kalau ada yang nyangka ini mirip sinetron atau FTV siang-siang, nggak bisa disalahin juga, toh materinya emang kayak gitu. Bedanya cuma di presentasi gambar dan nilai produksi yang agak lebih niat aja. Oh, seandainya tampilan sinetron dan FTV siang-siang kayak film ini, mungkin konotasi sinetron dan FTV siang-siang nggak akan sehina sekarang. Kameranya sekarang juga digital, sama-sama elektronik toh? *terlalu teknis*.

Tapi satu hal keberhasilan dari film ini yang gw tarik adalah bagaimana gw tidak membenci tokoh-tokoh yang harusnya berfungsi jadi penghalang cinta dua tokoh jagoannya. Bahkan mungkin ada kecenderungan penonton digiring agar mereka berempat tidak tukar pasangan sama sekali, karena biasanya film kayak gini akan tunjukkan bahwa si tokoh-tokoh "penganggu" ini memang nggaggu dan tak layak dipertahankan. Di film ini setidaknya perlakuannya beda.

Selebihnya, ya film ini berjalan sebagaimana yang diinginkan pangsa pasar film seperti ini. Terkadang gw sampe ingin memberi masukan agar film ini jadi lebih legit, misalnya, ketika salah satu pasangan ketahuan mulai melirik yang lain, kenapa tidak tawarkan seks? Atau girlfight jambak-jambakan? Memang kenapa? Takut nggak sesuai dengan perilaku anak SMA zaman sekarang? Seriously? O well, mungkin mereka memang pada dasarnya tokoh baik-baik jadi ya sudahlah.

Kembali lagi, mungkin saja masih ada yang luluh sama adegan nggak sadar pegangan tangan terus jadi awkwardly saling buang muka. Atau papasan terus kesenggol orang terus nggak sengaja pelukan. Atau sok-sok pakein jaket padahal Jakartapanasbung. Atau adegan ketika keempat tokohnya satu per satu tiba di satu tempat yang sama tanpa direncanakan saat keadaan lagi panas-panasnya. Begitu juga terhadap adegan orang disumbangin bekas pacar sahabatnya (yes, like "Nih pacar gw, ambillah dan makanlah. Yuk dadah babay.") setelah bertahun-tahun gak ketemu, dan diterima pula, dan langsung jadian pula, seakan hidup dia cuma bergantung sama itu. Mungkin, mungkin masih ada yang anggap semua itu sweet dan romantic.

Gw sih enggak.



My score: 5,5/10

Selasa, 21 Oktober 2014

[Movie] The Judge (2014)


The Judge
(2014 - Warner Bros.)

Directed by David Dobkin
Screenplay by Nick Schenk, Bill Dubuque
Story by David Dobkin, Nick Schenk
Produced by Susan Downey, Robert Downey Jr., David Dobkin,
Cast: Robert Downey Jr., Robert Duvall, Vincent D'Onofrio, Vera Farmiga, Jeremy Strong, Billy Bob Thornton, Dax Shepard, Leighton Meester, Alex Krumholtz, Balthazar Getty


Premis dasar The Judge ini cukup common di film-film drama Hollywood. Hubungan anak (Robert Downey Jr.) dan ayah (Robert Duvall) yang kurang akur (untuk alasan yang baru kita ketahui kemudian) dipaksa duduk bersama-sama karena sebuah peristiwa--kali ini tentang si ayah yang dituduh sengaja tabrak lari seseorang. Ditambah lagi ada lapisan kisah seorang yang sukses kariernya di kota yang kembali lagi ke kampung halamannya yang di pedalaman dan kolot yang dulu justru ingin ditinggalkan. Well, jangan samakan pedalaman sono sama di sini lah ya--di sono biar 'pedalaman' tapi udah ada convenience store 24 jam =p. Tapi ya kira-kira begitulah idenya.

Dengan segala ke-common-an itu, juga dengan style akting Downey yang nggak berubah dari Iron Man dan Sherlock Holmes, The Judge ini....yaaa *nada meninggi*...nggak istimewa banget sih. Okelah, film ini menambah kompleksitas dengan banyaknya karakter--si Downey ini punya kakak pegawai biasa dan adik yang berkebutuhan khusus. Plus kompleksitas dari karakter-karakter utamanya sendiri--si Downey lagi mau cerai sama istrinya dan menemukan cem-ceman baru yang adalah teman lama, juga dengan si ayah yang adalah seorang hakim ternyata punya penyakit. Again, kompleksitas yang sudah akrab kalau kita sering nonton film atau serial TV Amerika. Plot The Judge ini bahkan gw bilang bisa diangkat jadi salah SATU episode serial legal drama di TV. Dan kalimat itu adalah cara gw menyindir durasi film ini yang hampir 2,5 jam =.=. 

Lalu kenapa juga film ini harus ditonton? Hmm, gw ragu juga sih. Tapi, poin paling oke dari film ini ada dua hal. Pertama, akting oom Duvall yang keren sekalipun tampak effortless. Tidak meledak-ledak, tetapi justru bisa bersinar lebih terang dari Downey, kalau menurut gw. Kedua, adalah sinematografi dari the ever-cool Janusz Kaminski. Kayaknya sulit dipercaya seorang Kaminski yang jadi langganan Steven Spielberg bisa berbuat banyak untuk film "drama keluarga biasa" seperti ini, but he did a wonderful job. Gambar tangkapan doi yang keren-keren (dengan ciri khas "berpasir" karena pakai film seluloid) jadi alasan terkuat gw untuk menyaksikan film ini hingga akhir.

Selebihnya, well, film ini nggak jelek sih sebenarnya, cuma dibilang istimewa ya enggak. Sisi tentang hubungan ayah dan anaknya tersaji cukup natural dan mengharukan, agak predictable tapi masih punya effect. Jika Anda punya soft spot sama drama hubungan orang tua dan anak (dewasa), film ini cukup bisa bikin sesenggukkan. Demikian pula beberapa dialog yang witty dan tidak klise membuat film ini jadi sedikit lebih segar. Sayangnya sih itu kurang sanggup menggantikan energi yang harus gw habiskan untuk bisa bertahan sama durasinya =.=. 




My score: 6,5/10

Senin, 20 Oktober 2014

[Movie] Dracula Untold (2014)


Dracula Untold
(2014 - Universal)

Directed by Gary Shore
Written by Matt Sazama, Burk Sharpless
Produced by Michael De Luca
Cast: Luke Evans, Dominic Cooper, Sarah Gadon, Charles Dance, Art Parkinson, Diarmaid Murtagh, Paul Kaye


Jadi ceritanya pada mau bikin tentang asal usul Dracula, tapi dibikin ala The Lord of the Rings, tapi tetep PG-13. Jadilah Dracula Untold ini. Tidak ada yang salah dengan niatan tadi sebenarnya, cuma untuk kisah sesosok haus darah, film ini malah kurang darah. Padahal, I was so ready dengan kecenderungan Hollywood yang lagi kekurangan ide sehingga demen bikin reboot atau ribut-ribut, I was so ready dengan kekonyolan ataupun jauhnya ambisi dengan kenyataan yang terpancar dari film ini. Tapi gw rasa gw belum siap bahwa apa yang gw udah ekspektasi itu ternyata bener.

Dracula Untold buat gw adalah film kentang, kena tanggung. Jangan tertipu dengan kesan dark dan merek "Dracula" yang seakan mengisyaratkan film ini seram. No. Film ini berusaha keras agar penonton simpati sama si Dracula dengan membuatnya sebagai sosok mellow, dengan masa lalu traumatis, seorang pemimpin yang sayang keluarga, sekalipun reputasi menyebutkan dia orang yang sangat kejam di peperangan. Well, kalau bininya pirang langsing monthok dan belahan dadanya rendah banget, gimana nggak sayang.

Jangan harapkan juga ada kucuran darah di film ini, sekalipun, again, disebutkan sosok Dracula sebelum jadi vampir pun dikenal keji. Ingat bahwa film ini PG-13, untuk remaja, jadi kalau ada adegan perang dengan raungan sekeras apapun, darah palingan cuma netes. Segitu banyak orang dan darah cuma netes. Ya, risiko film yang dibikin dengan target remaja.

Tetapi yang bikin paling kecewa adalah bagaimana film ini tergesa-gesa di segala sesuatu. Adegan perang megah dibikin bentar, adegan pesta baru bilang "ayo mulai" tiba-tiba udah diganggu pihak musuh, cepatnya informasi tentang vampir sampai di telinga si pemimpin musuh, dan juga cepatnya penampilan beberapa tokoh pendukung yang sepertinya penting tapi tiba-tiba ada aja tanpa penjelasan apa-apa, jadi pas muncul gw jadi bertanya-tanya "lha ini siapa, kenapa dia begitu amat, kok bisa begitu?". Serba cepet, gw bahkan nggak bisa enjoy the view dari hal paling keren dari film ini: Dracula berubah jadi kawanan kelelawar. 

Entahlah, gw rasa film ini berantakan sekali penyampaiannya. Pengen dibuat emosional, eh emosinya nggak berasa sama sekali. Pengen kelihatan keren...well berhasil sih di prolognya, tapi sisanya nyaris nggak bisa dinikmati secara leluasa karena editingnya berasa kayak trailer. Belum lagi film ini dihiasi dialog-dialog sok melankolis yang, yah, tetep nggak berasa juga. Gw bahkan membayangkan mungkin gw akan bisa lebih menikmati film ini bila tidak ada dialog. Visual yang sama, tapi audionya ganti dengan lagu-lagu rock atau Michael Jackson biar berasa nonton video klip, gw bakal tetep ngerti ceritanya, dialognya toh tidak memperdalam ceritanya, sama sekali.

But to be fair, Dracula Untold adalah film yang sangat visual. Tata kostum dan visual effects menjadi juaranya, dan ada beberapa teknik pengambilan gambar yang memang dirancang keren--misalnya kejadian cukup panjang tanpa cut dari point of view seorang prajurit yang akhirnya mencapai ajal. Cool, tapi ya udah di situ aja.

Btw, katanya ini film pertama dari rangkaian film-film monster dari Universal Pictures yang nanti katanya bakal bergabung dalam satu film kayak The Avengers. Well, good luck next time-lah.




My score: 5/10

Minggu, 12 Oktober 2014

[Movie] Haji Backpacker (2014)


Haji Backpacker
(2014 - Falcon Pictures)

Directed by Danial Rifki
Written by Danial Rifki, Jujur Prananto
Produced by Frederica
Cast: Abimana Aryasatya, Ray Sahetapy, Dewi Sandra, Laudya Cynthia Bella, Laura Basuki, Kenes Andari, H.B. Naveen, Pipik Dian Irawati, Dion Wiyoko, Dimas Argoebie


Dalam semangat gimmick "soting di luar negeri" yang lagi ngetren-ngetrennya, kita disuguhi Haji Backpacker, film petualangan spiritual di melewati 9 negara Asia dengan bintang sinetron yang lagi diidolakan dan rilis pas banget mau Lebaran Haji. Say what you want, film ini memang sarat dengan gimmick yang sangat menjual. Segalanya akan mudah jika penonton bisa dipuaskan hanya dengan semua itu, tapi namanya hidup yang nggak mungkin semudah itu. Akan ada aja orang yang menemukan ketidakpuasan bahkan kekurangan sehingga menganggap film ini tidak sebaik yang pembuatnya pikirkan. Sadly, salah satu dari golongan kedua itu adalah gw.

Jangan salah, Haji Backpacker dimulai sangat meyakinkan. Setting-nya di Bangkok, Thailand, perkenalan karakter yang cukup solid tentang seorang pemuda Indonesia bernama Mada yang hidup foya-foya gembel karena lagi marahan sama Tuhan, akting Abimana Aryasatya yang keren, pengambilan gambar pun ciamik. Lalu, keyakinan bahwa film ini bakal enak diikuti perlahan luntur ketika petualangan keliling Asia itu mau dimulai. Gw masih bisa berpegang pada inti bahwa Mada sedang "ditempa" agar bisa rekonsiliasi pada imannya, tapi detil-detil ceritanya, yang mungkin sengaja dibuat dengan prinsip "what makes a movie a movie" *apalah itu* supaya jalannya nggak datar, malah jadi ganggu nggak ketulungan. 

Gw nggak cuma bicara soal bagaimana Mada bisa sampe di China *omaigot itu bikin gw pengen cabik-cabik kerdus*, tetapi juga pada gaya film ini yang nyicil dalam menceritakan kenapa Mada marah sama Tuhan, in flashback style, yang ternyata nggak terlalu worth to wait juga pada akhirnya. Lalu ada momen yang sebenarnya menggetarkan di lokasi Iran, ternyata dimentahin sama situasi setelahnya yang seakan nggak terjadi apa-apa. Sebagai orang yang pernah mempertanyakan keadilan Tuhan, masak sih si Mada nggak mikir kalau-kalau ada orang muslim yang taat kena situasi yang sama ternyata punya nervous breakdown jadinya nggak "lolos ujian" seperti dia? Kalau memang ternyata sebenarnya Mada memikirkan itu, itu sama sekali tidak terlihat di balik adegan makan-makan dan ketawa-ketawa ceria yang mengikutinya. Dikira cuma inisiasi jurusan? Dan, kenapa dia semarah itu sama bapaknya? Mungkin itu hal yang baru bisa kita ketahui jelas nanti di versi extended-nya =p *ya kali aja ada* *lagi ngetren juga soalnya*.

Lalu, kita sampai pada presentasi visualnya....*tarik napas*. Tadi gw bilang setting Bangkok itu paling oke, bukan hanya dari cerita dan performance, tetapi treatment visual-nya juga paling bener. Gw perhatikan di bagian ini nggak centil ditambahin efek-efek ala Instagram, entah itu flare palsu biar kesannya matahari bersinar terang, ataupun efek "fatamorgana" yang kelihatan palsu juga. Di bagian lain, itu merajalela. Maksud gw, kalau gambar dan tempatnya udah bagus (dalam pengertian sinematik ya), kenapa harus ditambahin efek-efek amatir kayak gitu? Puncak ke-mengganggu-an film ini pun hadir ketika mimpi-mimpi Mada (he do that a lot in this film) yang paling penting dipresentasikan dalam animasi ala screensaver Windows. Dan berulang-ulang. Gw nggak ngerti lagi deh.

I mean, come on! Padahal film ini punya premis yang berpotensi mengaduk emosi, juga punya deretan aktor yang bermain keren, baik itu Abimana, Laudya Cynthia Bella, dan juaranya ada di Laura Basuki yang gesturnya almost perfect sebagai perempuan Tiongkok. Bahkan eksekutif produsernya Falcon Pictures, H.B. Naveen bisa memberikan performa yang mengejutkan di debut aktingnya--gw rasa sutradaranya juga kesengsem sama aktingnya sampe-sampe di adegan doi kameranya cuma ngikutin mukanya nyaris tanpa cut sekitar 5 menit. Tapi sayang, dengan segala gimmick yang wah itu, pada akhirnya direcokin oleh treatment yang kurang pas dan detil-detil yang mungkin dianggap kecil padahal tetap penting. 

Dan itu juga termasuk penulisan nama kota dan negara yang entah ngikutin kaidahnya siapa sampe kebalik gitu.



My score: 5,5/10

Sabtu, 11 Oktober 2014

[Movie] The Giver (2014)


The Giver
(2014 - The Weinstein Company/Walden Media)

Directed by Phillip Noyce
Screenplay by Michael Mitnick, Robert B. Weide
Based on the novel by Lois Lowry
Produced by Jeff Bridges, Neil Koenigsberg, Nikki Silver
Cast: Jeff Bridgers, Brenton Thwaites, Odeya Rush, Meryl Streep, Alexander Skarsgård, Katie Holmes, Dominic Monaghan, Taylor Swift, Emma Tremblay


Film The Giver tampak "mini" jika dibandingkan dengan maraknya dystopian future themed young adult novels yang dijadikan film, seperti sebut saja The Hunger Games dan Divergent. Bukan cuma soal budget atau skala, tetapi juga karena film ini lebih banyak berkutat pada konsepnya saja bila dibandingkan film-film lain yang menonjol di action dan romance. Tapi bukan berarti itu hal yang jelek. Konsentrasi The Giver pada drama pencarian jati diri toh tidak kalah menarik, setidaknya menurut gw.

The Giver sendiri dijadikan film sekitar 20 tahun setelah novelnya terbit pertama kali. Dan karena gw tidak kenal novelnya dan baru nonton filmnya baru-baru ini, otomatis gw merasa udah familiar sama konsep film ini--tentang masyarakat serba seragam, nggak berwarna, dan mengeliminasi "rasa". Film Equilibrium (2002), salah satu film action futuristis yang gw suka, punya konsep dasar yang persis seperti itu, bahwa emosi dijadikan biang kerok pertikaian manusia, makanya diredam pakai semacam obat. Mungkin si Kurt Wimmer yang nulis dan nyutradarain Equilibrium emang nyolong konsep The Giver, entahlah. (Funny enough, Wimmer pernah bikin skenario film Salt yang disutradarai Phillip Noyce, sedangkan Noyce sekarang nyutradarain The Giver).

Tetapi, jelas perlakuan kedua film tersebut terhadap konsep ini berbeda. Equilibrium itu pure action sci fi yang fun, sementara The Giver lebih melankolis, memakai protagonis remaja bernama Jonas (Brenton Thwaites) sebagai pihak yang mulai membongkar masyarakat sekelilingnya, lapisan demi lapisan. Si cowok remaja ini ceritanya diizinkan untuk melihat segala sesuatu secara berbeda, diizinkan bisa punya pengetahuan lebih, karena ia ditentukan sebagai calon penasihat bijak yang mengetahui sejarah masa lalu (sesuatu yang tidak dipunai oleh orang-orang lain), yang artinya bisa melihat dan merasakan wajah umat manusia yang sebenarnya. 

Ini jelas tidak mudah. Tumbuh di masyarakat yang serba rapi santun tertib fungsional aman damai sejahtera gemah ripah loh jinawi dan gemar meminta maaf (which oddly sounds like a complete description of Japan =p), tentu Jonas merasa syok bahwa manusia sebenarnya punya yang namanya "rasa", bisa tertawa, menangis, mencintai, dan juga menyakiti manusia lain. Film ini kurang lebih menampilkan struggle Jonas menyerap semua itu, dan keputusan yang harus dia ambil ketika ia mengetahui rahasia gelap dari masyarakat tempat ia hidup.

Buat gw, guliran cerita film ini cukup enak diikuti, perkembangan Jonas yang semakin berbeda dengan teman-temannya juga disampaikan dengan lancar. Bagian politiknya pun nggak rumit-rumit amat, bahkan cukup provokatif mempertanyakan tentang moral dan kemanusiaan. Perubahan visual dari hitam putih lalu perlahan bertambah-tambah spektrum warnanya mungkin terlalu gimmick-y, tapi ya nggak apa-apalah buat lucu-lucuan. Satu hal yang cukup mengejutkan adalah sutradara Noyce tidak menanggalkan keahliannya untuk menyajikan adegan-adegan yang seru (action-lah istilahnya) sekalipun tidak terlalu banyak. Intinya gw enjoy menyaksikan film ini, enjoy sama gagasan yang disampaikan meskipun bukan pertama kalinya gw denger, apalagi ada acting powerhouse dari Jeff Bridges dan Meryl Streep yang tidak mengecewakan.

Mungkin yang membuat gw nggak rela menaruh film ini di rak favorit adalah caranya untuk (entah dengan sengaja atau tidak) meninggalkan banyak pertanyaan. Entah itu tentang posisi komunitasnya Jonas di "peta" dunia, tentang bagaimana dunia bisa berubah dan bagaimana (dan oleh siapa) komunitas terbentuk, juga bagian misi di klimaks yang kurang detail jadi gw agak "hah? bisa gitu ya?" dan terpaksa iya-iya aja. Atau, itu mungkin karena gw kehilangan beberapa menit awal film ini karena telat masuk bioskop, hehehe.




My score: 7/10

Senin, 06 Oktober 2014

[Movie] Tabula Rasa (2014)


Tabula Rasa
(2014 - Lifelike Pictures)

Directed by Adriyanto Dewo
Written by Tumpal Tampubolon
Produced by Sheila Timothy
Cast: Jimmy Kobogau, Dewi Irawan, Ozzol Ramdan, Yayu Unru


Walau gw orangnya "lemah" sama production value yang besar-besar, gw juga selalu senang melihat sebuah film small and simple yang kelihatan banget dibuat dengan niat baik dan hasilnya bener. Film Tabula Rasa ini termasuk dalam jenis itu. Kisahnya mungkin hanya sebatas tentang seorang Papua bertemu tiga orang Minang di rumah makan Padang di Jakarta--well, not really--tetapi kelihatan kok betapa film ini teliti sekali dalam melengkapi kebutuhan ceritanya sehingga tak terkesan palsu dan mengada-ada.

Hans (Jimmy Kobogau), pemuda dari daerah Serui, Papua (di mana tuh hayoo?) yang punya bakat di bidang sepakbola dan berkesempatan ke Jakarta, tetapi karena cedera parah ia nggak bisa lanjut, sampai akhirnya hidup terkatung-katung bahkan jadi gelandangan. Di titik paling bawah, ia bertemu Mak (Dewi Irawan), yang mengajaknya untuk makan di warung Padang miliknya. Dari pertemuan sederhana itu, cerita pun bergulir. Hans mulai diminta Mak bantu-bantu di warung, yang juga dihuni pelayan Natsir (Ozzol Ramdan) dan juru masak Parmanto (Yayu Unru), dan lama-lama ia menjadi bagian penting dari warung sekaligus rumah itu. Tentu saja mengingat mereka berasal dari dua ujung Indonesia yang berbeda, ada proses penyesuaian yang berlangsung kikuk, jenaka, dan manis, tetapi ada juga penolakan yang bikin suasana jadi nggak nyaman.

Reaksi gw secara permukaan adalah Tabula Rasa ini adalah film yang ceritanya tidak terlalu mudah segera disimpulkan tetapi mampu membuat gw larut untuk ikutin terus kisahnya. Film ini mengalir saja, terdiri dari berbagai potongan kisah yang mungkin tidak bisa langsung dikaitkan hubungannya satu dengan yang lain, kecuali bahwa hal-hal itu terjadi sejak dan akibat Hans bertemu dengan Mak, Natsir, dan Parmanto. Mungkin sebenarnya kaitannya ada di judulnya, "tabula rasa", sebuah istilah Latin tentang "memulai dari awal". Kalau memerhatikan latar belakang Hans dan geng warung Padang-nya Mak, film ini pun jadi relevan.

Satu hal yang gw anggap menarik adalah premis film ini sekilas seperti tidak istimewa--makanya sulit dijual, apalagi pemainnya bukan "bintang", sebuah "drama keluarga" sederhana, mungkin seperti Jendela Rumah Kita atau Keluarga Cemara. Tetapi, toh kesederhanaan itu yang bikin film ini terasa dekat dengan penonton (gw). You know, hal-hal yang sebenarnya kita nggak pengen tahu banget, tetapi ketika mulai tahu kitanya jadi kepo =P. Film ini tidak menyampaikan segala sesuatunya dengan serba bombastis ataupun melankolis. Semua berjalan natural apa adanya, konflik-konfliknya tidak meledak-ledak tetapi terasa genting dan nyata, karena itu bisa dan sering terjadi di keseharian di sekeliling kita. Bisa jadi inilah yang terjadi di balik warung-warung Padang yang buka berdekatan/sederet/depan-depanan di kompleks rumah Anda =D. 

Dan satu lagi, ini film keluarga tapi anggotanya not necessarily bertalian darah--setidaknya itu interpretasi gw tentang hubungan Mak dengan Natsir dan Parmanto, plus Hans *yaiyalah*. Warung dan masakannya, yang jadi sumber penghidupan mereka, itulah yang menyatukan mereka. And I think that's brilliant.

Semua itu kemudian dikemas dengan sangat cantik oleh craftmanship pembuat film ini. Seneng banget memandang film ini di layar, sinematografinya segar dengan komposisi yang asyik, aktingnya keren sampai ke gestur memasak yang sangat lihai, penggunaan unsur kedaerahan yang believable dan teliti--sesimpel ondeh mak oy-nya Padang sampai yombeks-nya Papua =D, tata artistik yang detail sampai ke ulekannya, dan the vintage-esque music yang nyaman sekali didengar. Dan yang paling penting adalah pembawaan dari penuturan (itu istilah apa coba) film ini yang lemah lembut sekaligus playful, dan menggunakan prinsip to-show-not-to-tell dengan rapi dan mudah dimengerti. Contohnya? Well, kita nggak perlu dikasih tahu kenapa pas ketika Hans di Jakarta bukannya berlatih sepak bola malah jadi gelandangan, karena, berbeda dari adegan awal dia masih di Serui, sekarang kakinya sudah pincang. Just like that, and it worked.

Tabula Rasa adalah film yang will grow inside of you secara perlahan. Boleh saja merasa filmnya tidak menggedor emosi seperti film-film minta-banget-ditangisin macam yah-nggak-perlu-disebut-lah-ya-saking-banyaknya, setting-nya pun cuma di Papua dan the great land of Jonggol =p, gak sampe lhuarr neghri. Tetapi, gw sendiri sepertinya nggak akan lepas dari berbagai sisi film ini, entah itu bertemunya dua budaya ujung-ke-ujung, real-nya kisah yang disampaikan, compassion yang ditunjukkan tokoh-tokohnya, juga dari gambar-gambar indah menu rendang tacabiak dan dendeng balado bakar lado mudo yang akan sangat sulit ditemukan di sekitar gw. Itu musti cari di mana ya? *perutpunbersuara*.




My score: 8/10