Selasa, 30 September 2014

[Movie] Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno (2014)


るろうに剣心 京都大火編 (Rurouni Kenshin: Kyoto Taika Hen)
Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno
(2014 - Warner Bros. Japan)

Directed by Keishi Otomo
Screenplay by Keishi Otomo, Kiyomi Fujii
Based on the comic books by Nobuhiro Watsuki
Produced by Satoshi Fukushima
Cast: Takeru Satoh, Emi Takei, Yosuke Eguchi, Tatsuya Fujiwara, Yu Aoi, Munetaka Aoki, Yusuke Iseya, Ryunosuke Kamiki, Tao Tsuchiya, Min Tanaka


Siapa tak kenal Rurouni Kenshin, atau di sini dikenal juga sebagai Samurai X (karena di TV sini nayanginnya versi dari Amerika yang doyan mengubah judul dan nama-nama tokohnya). Kalau seangkatan gw pasti akrab banget sama judul ini, karena jadi salah satu biang kerok booming-nya anime, J-Pop, dan budaya pop Jepang lain di kalangan anak muda Indonesia awal era 2000-an--selain Evangelion dan...err...komik Golden Boy. Oh, versi komiknya juga judul pertama dari Elex Media yang format bukunya kebalik seperti versi Jepangnya *hapal*. Jadi wajar dong, ketika tahu bakal dibikin film live action, penantian orang-orang sini lumayan besar. Live action dari komik terkenal sebenarnya sounds like the worst idea buat gw, apalagi Kenshin itu lebih ke action fantasy, tapi bagaimanapun antisipasinya tetap besar.

Namun, pada tahun 2012 ketika film live action Rurouni Kenshin pertama beredar, well, kayaknya tidak ada yang peduli. Biar udah merengek-rengek, penggemar di Indonesia sudah putus harapan menantikan film ini di bioskop, dan tinggal menunggu donlotan ilegal yang entah kapan keluarnya. Lalu, somehow film tersebut dapat diputar di Jakarta International Film Festival (JIFFest) 2013 sebagai film penutup, dan sambutannya luar biasa. Well, mungkin karena pertimbangan itu, akhirnya somebody entah siapa menyadari bahwa film adaptasi komik terkenal Jepang memang bisa menarik penonton, dan bisa dicoba tayang di bioskop komersial di sini which is like a decade too late. Bukan cuma masalah importir sini sih, ada kemungkinan pihak sononya selama ini sok jual mahal, itu tentu saja sebelum wabah K-Pop melanda dunia yang mengubah pandangan khalayak bahwa "Korea sekarang lebih keren ya daripada Jepang" jadi kayaknya ada yang panas gitu deh *sotoy* *nge-judge*.

Anyway, gw salah satu yang menyaksikan film live action Rurouni Kenshin pertama di JIFFest kemarin, dan gw akui, meski awalnya ragu dan meremehkan, film itu ternyata lumayan bisa memperlakukan sumber aslinya dengan pantas. Bukan serta merta meniru tampilan visual mirip komik--well dari muka sih agak bikin drop ya, kecuali si Megumi (Yu Aoi), tetapi adegan laganya sangat memikat dan seru. Sekarang hadir Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno, sekuelnya yang terambil dari arc cerita terkenal di komiknya, yaitu Kenshin (Takeru Satoh) melawan Shishio (Tatsuya Fujiwara) yang psycho. Dan, seperti komiknya, cerita ini memang panjang, akhirnya versi live action-nya pun dipecah dua: ini dan akan dilanjut dengan Rurouni Kenshin: The Legend Ends, di mana final showdown Kenshin lawan Shishio akan berlangsung, yang tayang sebulan kemudian. So, yeah, Kyoto Inferno ini bersambung.

Nah, dalam durasi 130-an menit dan masih bersambung, gw menemukan bahwa Kyoto Inferno ini agak terlalu stretchy. Ngerti sih bahwa film ini melanjutkan benang merah Kenshin yang ingin menjalani hidup baru tanpa menghabisi nyawa orang lain--menebus masa lalunya sebagai pembantai keji berjulukan Hitokiri Battousai bagi para pemberontak antirestorasi Meiji--namun keadaan sekitar selalu dan selalu memaksanya untuk bertindak dan balik lagi jadi petarung. Dalam film ini, taruhannya jadi lebih besar karena pilihannya antara prinsip dan gentingnya keadaan ketika ia satu-satunya orang yang dapat mencegah Shishio mengacaubalaukan negeri Jepang dengan kudetanya. Tetapi, ada beberapa titik yang menurut gw dibuat terlalu panjang, entah karena karakternya jadi bertambah banyak banget (sebagaimana komiknya) yang artinya akan menambah subplot, juga di beberapa peristiwa yang ceritanya ingin emphasize pada dilema Kenshin itu tadi. Titik yang menurut gw paling bikin gara-gara adalah betapa panjangnya proses Kenshin mendapat pedang baru, padahal bisalah itu dipersingkat. Plis deh.

Satu hal lagi yang gw kurang sukai adalah betapa lemahnya film ini menempatkan Kaoru (Emi Takei). Seharusnya, slasan besar Kenshin berat hati untuk masuk lagi ke "dunia persilatan" adalah Kaoru, tetapi tampaknya film ini lupa untuk membuat penonton percaya bahwa perempuan ini se-worth-it itu. Parahnya, doi dibikin memble banget di akhir film ini. Guru pedang tapi kok memble. Permasalahan yang sama mungkin sudah ada sejak komiknya. Pengarang komiknya sempat berdalih bahwa Kaoru sebenarnya kuat--makanya ia mewarisi dojo legendaris, tetapi karena orang-orang di sekitarnya lebih kuat, seperti Kenshin, Shishio, bahkan Sannosuke Sagara, doi jadi kelihatan lemah. Sayang, jadinya di versi film, doi dibuat lemah beneran. Ngeselinlah.

Tetapi untunglah, Kyoto Inferno masih dapat menghibur dengan adegan aksinya yang masih memikat walaupun porsinya berkurang dari film sebelumnya. Perhatian gw pun kembali tertuju pada production value-nya yang sangat paripurna, mewah, tidak se-"pasrah" film-film period Jepang lain. Itu termasuk kostumnya, makeup-nya, efek visualnya, bahkan production design-nya bisa disandingkan dengan kemewahan film-film setting Jepang buatan Hollywood seperti di The Last Samurai, Memoirs of a Geisha, dan baru-baru ini 47 Ronin (well, film ini produksi Warner Bros. jadi mungkin saja itu faktornya). Menikmatinya udah kayak menikmati film Hollywood, entah disengaja atau tidak, jadi bisa dibilang film ini akan lebih mudah dicerna penonton lebih luas. Tidak semenghibur yang pertama, tetapi masih cukup enak ditonton.




My score: 6,5/10

Senin, 29 September 2014

[Movie] The Equalizer (2014)


The Equalizer
(2014 - Columbia)

Directed by Antoine Fuqua
Written by Richard Wenk
Based on the TV series created by Michael Sloan, Richard Lindheim
Produced by Todd Black, Jason Blumenthal, Denzel Washinton, Alex Siskin, Steve Tisch, Mace Neufeld, Tony Eldridge, Michael Sloan
Cast: Denzel Washington, Marton Csokas, Chloë Grace Moretz, David Harbour, Bill Pullman, Melissa Leo, Haley Bennett, Johnny Skourtis, David Meunier


Kata "equalizer" begitu familiar karena gw dulu sampe frustrasi nyari app pemutar musik yang ada fitur ini karena kebetulan belum ada app Walkman. Pas ada eh banyak iklannya bikin berat performa handphone. Apa hubungannya dengan film terbarunya Denzel Washington? Nggak ada. Cuma mau manjang-manjanging karangan aja.

Gw kenal sutradara Antoine Fuqua hanya dari dua filmnya saja: King Arthur sama Olympus Has Fallen. Keduanya punya adegan-adegan aksi yang seru, walaupun keseluruhan filmnya nggak bisa dibilang bagus banget. Nah, ketika ada The Equalizer yang dibikin Fuqua, ditambah ada poster Washington pegang pistol, harapannya filmnya action bingits dong. Well, no, it's not. The Equalizer adalah sebuah drama kriminal yang kebetulan punya adegan-adegan action yang violent...like two of them.

Gw rasa bakal banyak yang salah sangka kayak gw tadi, bahwa film ini mungkin tidaklah se-action kesan yang ditimbulkan dari promosinya. Film ini berjalan alon-alon dan cukup teliti, dengan penekanan pada sosok Robert McCall yang dimainkan Washington dengan oke. Tetapi, soal violence berdarah-darah, film ini boleh banget. Terlepas dari filmnya yang berasa (banget) lama, pada bagian yang butuh berdarah-darah, film ini nggak tanggung-tanggung. So that's a plus.

Sebenarnya kalau mau digambarkan, The Equalizer ini semacam kisah superhero, pun motivasi McCall dalam bertindak ya kayak superhero. Tergerak oleh seorang remaja putri (Chloë Grace Moretz) yang jadi korban pelacuran mafia Rusia, McCall jadi terpanggil untuk menggunakan kembali kemampuannya sebagai seorang assassin--yang selama ini dia simpan rapat-rapat--untuk menyelamatkan si cewek, sekaligus menumpas mafianya, sekaligus menumpas polisi korup yang terlibat sama mafianya, juga polisi pemeras usaha kecil, dan semua orang jahat yang dianggapnya mengganggu kehidupan lingkungannya. See? Superhero.

Di sisi lain, ada si Teddy (Marton Csokas) dari pihak mafia Rusia yang juga ditunjukkan suka bertindak kejam dan bisa dibilang punya kemampuan setara dengan McCall, cuma dia berada di pihak yang jahat aja. See? Superhero. Btw, gw suka sama adegan ketika McCall dan Teddy pertama kali face-off dengan sopan santun palsu yang luar biasa, sekaligus adu strategi. Just like a superhero movie. Cuma, ya itu, film ini tanpa ingar-bingar khas film superhero aja.

Tetapi, ada sensasi aneh ketika gw menonton film ini di menjelang akhir. Setelah diperkenalkan dengan McCall dan kemampuannya yang badass sekaligus keji sepanjang film, di klimaksnya gw justru takut sama apa yang McCall--yang notabene protagonis--akan lakukan pada musuh-musuhnya--yang notabene antagonis. Gw jelas berharap McCall menang, tapi sadis banget doi, man. Dan gw rasa itu yang membuat film ini punya sensasi berbeda dari film-film sejenis.

But then again, gw agak kaget bahwa film ini tidaklah seseru yang gw bayangkan, bahkan klimaksnya pun sepertinya kalah seru dari adegan "aksi perdana" McCall jauh sebelumnya, mungkin karena terlalu detil dan pacing-nya lambat itu--kaget karena kayaknya Fuqua di Arthur dan Olympus lebih seru daripada di film ini. Memang film ini secara cerita punya sebab akibat yang kuat, tapi tetep aja gw nggak bisa merasa menikmati film ini sebagai hiburan yang justru jadi tujuan film ini.




My score: 6,5/10

Minggu, 28 September 2014

[Movie] Malam Minggu Miko Movie (2014)


Malam Minggu Miko Movie
(2014 - PT. Bumi Prasidi Bi Epsi/Visualika Production)

Written & Directed by Raditya Dika
Produced by Tyas Abiyoga
Cast: Raditya Dika, Ryan Ariandhy, Andovi Da Lopez, Hadian Saputra, Hengky Solaiman, Rina Hasyim, Mentari De Marelle, Jovial Da Lopez, Witta Sylvia, Aleksandra Ewa Podgorska, Mustapha Sey, Nobuyuki Suzuki


Terlepas betapa terpolarisasinya respons terhadap gaya komedi Raditya Dika selama ini lewat film-film atau apapun yang dia bikin--ada yang bilang lucu banget, sebaliknya ada yang heran di mana lucunya--, gw termasuk orang yang merasa serial Malam Minggu Miko yang tayang di Kompas TV itu lucu. Banyak awkward moment, sindiran, dan kekonyolan yang cukup kreatif dan efektif bikin gw ngikik, specifically gw mengagumi betapa briliannya perancangan karakter Mas Anca (Hadian Saputra) sang asisten rumah tangga yang superpolos. Tentu saja, karena Dika itu lagi naik-naiknya dalam dua tahun terakhir (udah rilis empat film aja doi), tinggal tunggu waktu Malam Minggu Miko dibuat versi layar lebarnya.

Kalau dari luarnya, konsep dasar Malam Minggu Miko tuh ya sama aja dengan ongoing theme dari semua filmnya Dika, yaitu soal kenapa dia nggak kunjung beruntung dengan perempuan yang sebagian besar hanya sampai pada tahap gebetan. Miko adalah versi lebih absurdnya, karena segala kekecewaan itu terjadi setiap malam minggu, Dika sebagai Miko dibuat lebih o'on, ditambah karakter-karakter sekitarnya yang ajaib banget. Jadi, ya, adalah bedanya sedikit dengan film-film di mana Dika berperan sebagai Dika.

Seakan tahu bahwa kekuatan Malam Minggu Miko adalah di karakternya yang aneh-aneh, maka Malam Minggu Miko Movie akhirnya jadi sebuah film--bisa dibilang--multiplot dengan karakter-karakter yang pernah dikenal di serialnya. Di sini fokusnya ada Miko dan Rian (Ryan Ariandhy) yang nyari penghilang "kutukan" yang menimpa Miko, Dovi (Andovi Da Lopez) yang dikerjai dosennya dengan untuk jadi tour guide mahasiswa asing, dan terakhir Mas Anca yang harus diuji profesionalitasnya sebagai pembantu oleh kedua orang tuanya (Henky Solaiman dan Rina Hasyim) sebelum diizinkan kawin, dengan rentang waktu di satu hari yang sama. 

Berbeda dengan film Cinta dalam Kardus tahun lalu, yang karakter Miko "dibawa" ke format dan situasi yang berbeda dengan Malam Minggu Miko, Malam Minggu Miko Movie formatnya bisa dibilang persis seperti sketsa-sketsa di serialnya, termasuk bagian "testimoni" ala-ala reality show. Bedanya, kalau di TV satu cerita selesai dalam 10 menit, yang versi film jadi sekitar 90 menit.

Karena mirip dengan serialnya, gw pun masih bisa terhibur sebagaimana ketika gw menyaksikan episode-episode serialnya yang dibuat sederhana itu. Masih lucu lah. Masalahnya, kemiripan itu juga seakan membuat gw mikir-mikir apakah film ini layak ditonton di bioskop, dan bayar. Okelah karakternya lebih banyak, setting-nya lebih mobile, pun secara visual, bapak Yadi Sugandi sang sinematografer bisa memberikan keahlian terbaiknya di beberapa tempat. But, then what? Jujur, gw mungkin lebih nyaman menyaksikan ini di TV, toh secara kualitas konten, nggak beda jauh sama serialnya. Namun, okelah. Nggak masalah. Karena buat gw itu masalah preferensi saja, dan bukan hal yang fatal.

Sebab, itu masih belum sefatal usaha Dika untuk memasukkan unsur "perenungan" di bagian-bagian akhir di filmnya. I mean, yang membuat Malam Minggu Miko itu berbeda dari film-film Dika di bioskop adalah serial itu menghibur dan lucu just because, tanpa harus dibebani pesan-pesan, perenungan atau apalah. Bisa jadi sih, inilah yang sengaja ditambah untuk versi filmnya, tetapi menurut gw justru jadi jebakan karena ujung-ujungnya film ini jadi nggak beda sama film-film Dika yang lain yang temanya mirip-mirip. Bukan kelucuannya yang bertambah dari serial TVnya, malah justru dibebani sama hal-hal yang lain. Sayang sekali.




My score: 6/10

Sabtu, 27 September 2014

[Movie] The November Man (2014)



The November Man
(2014 - Solution Entertainment Group/Relativity Media)

Directed by Roger Donaldson
Screenplay by Michael Finch, Karl Gajdusek
Based on the novel "There Are No Spies" by Bill Granger
Produced by Beau St. Clair, Sriram Das
Cast: Pierce Brosnan, Luke Bracey, Olga Kurylenko, Will Patton, Bill Smitrovich, Amila Terzimehic, Caterina Scorsone, Lazar Ristovski, Mediha Musliovic, Eliza Taylor


Selain superhero komik, cerita bapak-bapak tua jagoan juga kini jadi tren untuk diangkat jadi film. Mulai dari Liam Neeson di Taken, lalu opa-opa di The Expendables, dan sekarang giliran Pierce Brosnan si mantan James Bond yang ingin piece of the pie. So, doi bersama rumah produksi miliknya Irish DreamTime mengambil sebuah seri novel spionase dengan tokoh utama bernama Peter Devereaux berjulukan November Man, dan The November Man ini menjadi percobaan pertama yang diangkat ke layar lebar, mungkin dengan harapan bisa jadi franchise baru. Yah, ngharep aja boleh dong.

Gw nggak bisa menghindari perbandingan The November Man dengan peran Brosnan sebagai Bond yang dulu-dulu, tetapi untunglah perbandingannya nggak terlalu gimana gitu. The November Man itu bisa dibilang lebih riil, violent, dan lebih "gahar" dari Bond-nya Brosnan, sedikit lebih badass. Tapi apakah filmnya lebih bagus, hmmm...itu beda soal.

Menurut gw, The November Man ini ribet sekali dari segi plot karena harus meng-cover terlalu banyak isu. Ada soal Devereaux yang mantan agen CIA diburu oleh CIA walaupun dipercaya salah satu anggota CIA untuk menyelidiki suatu kasus, lalu ada pula plot persaingan Devereaux dengan mantan murid terbaiknya--yang kemudian berkembang jadi muridnya coba-coba explore agar bisa sebaik Devereaux, lalu penyelidikan kasus yang berkaitan dengan calon presiden Rusia yang menyembunyikan kejahatan perang di masa lalu, lalu ada agen rahasia Rusia yang ikut mencari apa yang Devereaux cari, belum lagi ada persinggungan dengan keluarganya Devereaux. Mau inget-inget detail ceritanya juga udah males gw.

Dan satu hal yang bikin kesal adalah penokohan dan pilihan tindakan tokohnya Olga Kurylenko yang membingungkan, udah hampir terlihat keren tetapi tiba-tiba di satu titik jadi goblok. Okelah mungkin maksudnya karakternya terhalangi oleh traume abuse bertahun-tahun, tapi caranya film ini nunjukinnya tuh...ah, geblek banget lah. Bener-bener let down setelah nunggu-nunggu cukup lama apa peran penting si mbak Olga di film ini. Hih.

Anyway, seperti gw singgung tadi, sisi aksi film ini lumayan berdarah-darah juga, jadi bisa sedikit mengangkat tingkat ke-enjoyable-an film ini. Dan nilai plusnya lagi bisa sedikit bisa lihat negara yang jarang gw lihat di film-film mainstream, dalam hal ini kota Beograd di Serbia. Akting para pemainnya juga nggak jelek, melihat Brosnan lebih galak dari Bond apalagi dari Remington Steele *eaa tua beut* lumayan menyegarkanlah.




My score: 6/10