Minggu, 31 Agustus 2014

[Movie] Lucy (2014)


Lucy
(2014 - Universal/EuropaCorp.)

Written & Directed by Luc Besson
Produced by Virginie Silla
Cast: Scarlett Johansson, Morgan Freeman, Choi Min-sik, Amr Waked, Pilou Asbæk, Annaleigh Tipton



Lucy is superweird. Gw nggak tahu harus menanggapi film ini serius atau tidak. Tetapi, yang pasti, kalau menanggapinya dengan tidak serius, film ini sanggup memberi hiburan yang...emmm...lumayan bisa meninggalkan bekaslah, hahaha. Anyway, ini bukan proyek sembarangan. Ini bisa dibilang comeback-nya sineas Prancis yang paling menginternasional dan (mungkin) paling tajir, Luc Besson dalam menyutradarai film blockbuster internasional meriah sejak The Fifth Element di 1997--film action sci-fi yang gw familiar tapi nggak pernah nonton utuh di TV--dan The Messenger: The Story of Joan of Arc. Dua karya doi terakhir sebelum ini adalah Malavita dan The Lady yang skalanya tidaklah se-pop Lucy ini. Jadi, Lucy cukup exciting untuk dinantikan, apalagi dibintangi Scarlett Johansson yang ceritanya jadi semacam superhero. Semacam.

Lucy mungkin akan di luar perkiraan siapa pun yang menyaksikan film ini. Gw akan nge-skip bagian ide "manusia biasa hanya pake 10 persen kemampuan otak"--Deddy Corbuzier dulu pernah nyinggung ini--dan mbak Lucy ini ceritanya bisa pakai lebih. Sebab konsep ini scientifically keliru, setidaknya menurut 9gag. Ya terserah Anda sih mau percaya atau enggak. Bahkan Besson sendiri ngaku kalau ide itu memang nggak valid, tetapi berpotensi besar untuk dibuat film sci-fi. Namanya sci-fi kan science-nya bersifat fiksi *dijelasin*. Namun, klaimnya sih bahwa teori setiap sel saling terhubung lewat gelombang elektromagnetik lumayan bisa dibuktikan. 

Nah, si mbak Lucy ini ceritanya bisa mengendalikan dan memanipulasi itu, karena punya kemampuan otak di atas manusia biasa. Contoh paling asik adalah bahwa dia bisa kontrol rasa sakit, doi bisa perintahkan sel-selnya untuk nggak merasa sakit. Penonton yang ngeliat pun asik aja, mbak Lucy jadi bisa berbuat apa saja, cepat belajar, cepat berpikir, bisa diagnosa orang sekali sentuh, bisa manipulasi alat komunikasi, telekinesis, telepati, pokoknya terus meningkat sampai pada titik ia bisa mengatasi hal yang paling membatasi semua makhluk dan benda di bumi: ruang dan waktu. Ngeri ye.

But here's the thing, film ini juga seolah-olah ingin jadi "berisi" ketika ada adegan Morgan Freeman ngasih kuliah tentang "10 persen otak manusia" itu, plus bagaimana mbak Lucy mulai berpikir lebih "deep" tentang segala hal setiap kemampuan otaknya meningkat. Padahal plotnya sih sesimpel mencegah zat narkoba jenis baru dari Taiwan untuk beredar di Eropa, tetapi dengan semakin "tinggi"-nya level mbak Lucy, semakin anehlah film ini. Lama-lama mulai dibahas tentang hakikat hidup manusia sampai asal-usul kehidupan. I mean, wow, okay. Didn't really expect this. Semakin coba dipikirin, semakin aneh aja film ini, heuheuheu.

Untungnya, Besson adalah sineas yang tahu cara menghibur. Meskipun kontennya asli aneh banget, ia menyajikannya dengan cara yang lincah, ringkas, dan live up his reputation sebagai sutradara serba bisa. Editingnya asik, sekalipun diselip-selipin gambar flora dan fauna just to prove his points =D, pun tentu saja adegan-adegan aksinya tetap bisa memompa adrenalin: tembak-tembakanlah, perkelahianlah, kejar-kejaranlah, bahkan humor-humor kecilnya, yang dilengkapi dengan visual effects yang pas porsinya. It's still weird, tapi setidaknya punya pacing cepat yang nggak bikin ngantuk.

Entahlah, gabungan antara action dan so-called "pemikiran mendalam" dan konsep dasar yang nggak ilmiah bikin film ini jadi keren sekaligus laughable saking anehnya, apalagi bagian akhrinya yang mangkin, well, di luar nalar manusia =p. Konyol sebenarnya, cuma ya karena disajikannya cepat dan lincah, nggak sempet untuk menganggapnya konyol, bisanya ya ketawa aja. Bisa jadi itu trik yang disengaja supaya secara unconsciously jadi nilai hiburan juga. Terserahlah. Again, gw nggak tahu apakah Besson itu serius dengan setiap konten film ini atau semacam mengejek para pembuat film "nyeni", bahwa dirinya yang sangat pop bisa mengangkat tema serius jadi film yang ingar bingar berdurasi kurang dari 90 menit, dan LAKU di pasaran. Eat that, auteurs! =D




My score: 7/10

Sabtu, 30 Agustus 2014

[Movie] Roaring Currents (2014)


명량 (Myeongryang)
Roaring Currents
a.k.a. The Admiral: Roaring Currents
(2014 - CJ Entertainment)

Directed by Kim Han-min
Written by Jeon Cheol-hong, Kim Han-min
Produced by Kim Joo-gyeong, Jung Byeok-wook
Cast: Choi Min-sik, Ryu Seung-ryong, Cho Jin-woong, Kim Myung-gon, Jin Goo, Lee Jung-hyun, Kwon Yul, No Min-woo, Kim Tae-hoon, Lee Seung-joon, Ryohei Otani


Berita terbesar di film Roaring Currents ini adalah bahwasanya ini film terlaris di sepanjang sejarah bioskop Korea Selatan, baik dari segi jumlah penonton maupun pundi-pundi uangnya, yang dicapai kurang dari satu bulan. 16 juta tiket! Dan penduduk Korea cuma 50-an juta (gw nggak pake satuan "penonton" karena kali aja ada yang nonton berkali-kali). Crazy, huh? Tetapi, satu pelajaran yang gw dapet dalam mengamati dunia perfilman selama ini adalah, sebuah film yang laku di satu tempat, belum tentu laku di tempat lain. Maksud gw, Habibie & Ainun laku juga karena sebagian besar kita sangat familiar sama subjek yang diceritakan, 'kan? 

Itulah yang  menurut gw terjadi pada Roaring Currents. Gw merasa film ini laku di negaranya bukan hanya karena kelihatannya keren dan kolosal dan sebagainya, tetapi karena subjek yang diceritakan punya makna mendalam bagi orang sana. Jadi, katanya peristiwa Perang Myeongnyang di abad ke-16 yang digambarkan di film ini adalah salah satu peristiwa sejarah paling terkenal bagi rakyat Korea, tentang seorang pahlawan paling terkenal pula. Lawannya Jepang lagi *tahu kan mereka rival-an*. There's huge "nationalism" and "patriotism" all over this one. Kisah ini katanya sudah diangkat beberapa kali dalam berbagai medium, tetapi dalam film Roaring Currents, perang maritim nan mustahil (12 kapal Korea vs ratusan kapal Jepang) di sebuah laut sempit berarus unpredictable itu disajikan lebih mendetail...atau anggap saja begitu.

Roaring Currents ini disusun rapi, satu jam awal siap-siap perang, satu jam akhir perangnya. Nah, karena gw termasuk orang yang kurang paham sejarah Korea, satu jam awal itu kayak...errr...penantian yang cukup lama untuk sampai di satu jam akhirnya, hehe, maaf. Tetapi, memang serunya film ini baru berasa di paruh akhir. Cukup admiring juga sih bahwa bagian awalnya memberi gambaran berbagai sisi situasinya, dari adanya mata-mata, konflik internal, juga kepribadian Laksamana Yi Sun-shin (Choi Min-sik) yang digambarkan sulit dimengerti dan sulit mendapat respek bawahannya sebelum perang dimulai. Itu bagus, jadi lebih manusiawi, meski berstatus pahlawan yang diangkat di film ya jangan bagus-bagusnya doang. Oh, tentu saja ada subplot hubungan melankolis, it's a Korean (commercial) movie for God's sake.

Kalau mau jujur, gw tidak bisa mengatakan gw enjoy film ini sebegitunya sampe bilang "Gila keren banget!"--untuk film Korea sebutan itu masih dipegang oleh Taegukgi. Filmnya sih bagus, apalagi dengan segala production value dari kostum, desain produksi, sampe ke kapal-kapalnya yang dibangun betulan *lirik Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck*, lalu dengan efek visual yang seamless. Tapi, seperti yang gw singgung tadi, karena "ikatan" gw sama isi film ini tidak erat, jadinya ya begitulah, kurang mengikat secara emosi. Selain itu, karena sebagian besar pihak Jepangnya dimainkan sama orang Korea juga, gw respek sama pemakaian bahasanya, tapi mungkin cara aktingnya berbeda dengan film-film sejarah yang dimainkan orang Jepang betulan yang biasa gw tonton, jadi agak aneh gitu. Si villain utamanya, Ryu Seung-ryong yang jadi Kurushima juga sayangnya bahasa Jepangnya kurang legit, cara ujarannya masih Korea sekali, dan datar. Tapi, ya nggak ngaruh juga sih, nggak bakal ditonton sama orang Jepang juga =P. 

Terus juga gw menyayangkan polesan post-production dari visual film ini yang bikin kurang enak dilihat, mulai dari pewarnaan sampai banyaknya slow motion patah-patah yang kadang entah maksudnya apa, it kinda ruined the scale of the film. Padahal yang one take battle scene itu keren, tapi karena gambarnya patah-patah jadi berkurang kerennya. Mungkin kompromi terhadap pesanan "harus komersil" juga berpengaruh sama editing dan polesan hasil akhir. Gw sih selalu merasa sebaiknya film seepik ini disyut pake film seluloid, but what do I know.

Overall, Roaring Currents ini film besar yang cukup pantas mendapat segala kesuksesan yang diraihnya. Mungkin bukan produk Korea terbaik yang pernah gw tonton, tetapi menontonnya nggak merugikan juga. Bentuk kapal-kapalnya lucu.




My score: 7/10

Rabu, 27 Agustus 2014

[Movie] Guardians of the Galaxy (2014)


Guardians of the Galaxy
(2014 - Marvel Studios/Walt Disney)

Directed by James Gunn
Written by James Gunn, Nicole Perlman
Based on the comic books created by Dan Abnett, Andy Landing
Produced by Kevin Feige
Cast: Chris Pratt, Zoe Saldana, Bradley Cooper, Vin Diesel, Dave Bautista, Lee Pace, Michael Rooker, Glenn Close, John C. Reilly, Djimon Hounsou, Karen Gillan, Benicio del Toro


Film Guardians of the Galaxy bisa terlaksana karena hasil dari kesuksesan Marvel Studio mem-branding diri sebagai studio film jaminan sukses. Dimulai dari Iron Man di tahun 2008, lalu puncaknya di The Avengers, dan setelah itu apa yang muncul dari studio yang sekarang dibawahi Disney ini selalu disambut baik dan mendulang laba berlipat-lipat. Jadi...sekarang kalaupun mereka mau bikin film dari komik dan tokoh yang kurang populer pun nggak masalah, segagal-gagalnya pasti bakal laku juga, karena merek Marvel itu.

Di sisi lain, Guardians adalah sesuatu yang refreshing dari Marvel, karena mereka akhirnya menawarkan sesuatu di luar superhero-superhero anggota The Avengers dan sekuel-sekuelnya. Alih-alih sebuah film superhero, Guardians lebih mirip film petualangan luar angkasa semacam Star Wars, tetapi dengan playfulness dan nada ceria yang menyenangkan. Itu sebenarnya sudah terbaca dari promo-promonya. Film ini tidak berusaha main keren-kerenan atau gagah-gagahan, tetapi ingin membawa segala sesuatunya jadi fun.

Dan gw rasa pilihan itu berhasil. Untuk sebuah film "superhero Marvel" film ini beda, untuk sebuah film fantasi luar angkasa juga beda. Apa pun yang dirancangkan oleh sutradara/penulis James Gunn untuk film ini, termasuk dalam hal humor dan kekonyolan dan "tabrakan" kemutakhiran visual dengan tembang kenangan 1970-an, buat gw cukup berhasil. Beberapa memang tampak sangat...emm apa ya...rehearsed (?) membuat gw udah tahu bakalan lucu sebelum sampai di titik lucunya jadi pas sampe di sana rasanya nggak terlalu lucu lagi *apalah*, tetapi film ini memang sudah sampai pada tujuannya yang menghibur tanpa dibawa terlalu serius. I mean, di antara lima Guardians aja ada rakun cerewet dan manusia pohon dan mak lampir, gimana mau serius?

Dari segi cerita, mungkin tak ada yang benar-benar istimewa dan di luar ekspektasi, intinya ada seorang musuh pengancam kelangsungan bum--eh--semesta yang harus dihentikan. Penceritaannya tak pernah lari dari pakem itu--dan sedikit kaitan dengan Marvel Cinematic Universe, tetapi kaitannya sedikiiit sekali, for now. Untungnya perjalanan menuju ke sananya cukup berbumbu legit, yaitu kelima individu dengan motivasi dan sifat berbeda-beda dipaksa keadaan untuk bersatu dan menyelamatkan bum--eh--semesta. So, ini bukan orang-orang yang tiba-tiba punya kekuatan super dan jadi satu-satunya harapan dan sebagainya. Toh, kemudian alasan mereka bertindak sangat sederhana: karena mereka bagian dari bum--eh--semesta yang hendak dihancurkan. That's it, tapi masuk akal. Asyiknya lagi, film ini berhasil mencukupi kebutuhan gw sebagai penonton untuk mengenal dan peduli pada kelima tokoh protagonisnya, plus beberapa tokoh tambahan lain, tanpa keblinger dan tanpa menghabiskan durasi. Itu poin penting.

Guardians juga memenuhi kebutuhan gw akan presentasi visual yang menyegarkan. Warna-warna pastel di hampir setiap adegannya terutama yang siang hari, juga aneka warna gugusan bintang di angkasa, sampai warna-warni tokoh-tokoh alien yang merupakan hasil kinerja make-up effects yang supermumpuni, semuanya memuaskan. Mungkin tidak sampe super wah seperti ketika gw melihat Asgard pertama kali di film Thor, tetapi Guardians tetap memberi treat for the eyes. Secara spesifik gw suka adegan-adegan di dalam pesawat penjahat The Dark Aster yang misterus dan gelap tetapi eksotis, juga adegan kucing-kucingan siang-siang di tengah kota Xandar yang terang benderang tapi nggak musingin. Oh, gw juga suka ketika pesawat-pesawat pasukan Xandar bikin formasi itu, keren lah. 

Nah, bagi yang beruntung, visual-visual menyenangkan ini akan terasa semakin menyenangkan ketika disaksikan di layar IMAX, karena ada beberapa perubahan aspect ratio yang memaksimalkan efek 3D-nya (mirip Life of Pi), tetapi kalau gw sih suka melihat adegan-adegan panorama yang memenuhi layar IMAX sehingga semakin terasa immersive *berasa iklan*, karena untuk pemandangan-pemandangan seperti inilah IMAX diciptakan *tsaaah*.

All in all, gw suka sama Guardians of the Galaxy ini, dan semakin suka ketika nonton kedua kali, bukan nggak mungkin kesukaan itu bertambah seiring gw semakin sering menontonnya. Cerita oke, visual ciamik, tokoh-tokohnya likable dan dimainkan dengan cukup baik--meskipun gw merasa Chris Pratt itu jago mengucapkan dialog tapi muka sengaknya itu kok rada kaku ya =|. Plus visual effect-nya seamless. Pacing-nya mungkin tidak selincah ekspektasi gw, tetapi seakan ditebus oleh pilihan soundtrack-nya yang antara sengaja ngelawak atau emang nostalgia si empunya film aja. Menyenangkan lah. Walkman rules! *langsung cari walkman yang dulu sering dipake nemenin perjalanan pergi pulang sekolah naik angkot*.




My score: 7,5/10

Minggu, 24 Agustus 2014

[Movie] Teenage Mutant Ninja Turtles (2014)


Teenage Mutant Ninja Turtles
(2014 - Paramount)

Directed by Jonathan Liebesman
Written by Josh Appelbaum, André Nemec, Evan Daugherty
Based on the characters created by Peter Laird, Kevin Eastman
Produced by Michael Bay, Andrew Form, Brad Fuller, Galen Walker, Scott Mednick, Ian Bryce
Cast: Megan Fox, Will Arnett, William Fichtner, Peter Ploszek, Johnny Knoxville, Noel Fisher, Alan Ritchson, Jeremy Howard, Danny Woodburn, Tony Shaloub, Whoopi Goldberg, Tohoru Masamune, Minae Noji


Emmm, alasan gw nonton Teenage Mutant Ninja Turtles versi baru ini adalah ngeliat Megan Fox. Alasan lain akanlah sangat tidak relevan. Iya, gw tahu ini adalah film dari tokoh jagoan dari serial kartun terkenal, sehingga bukan hal mengejutkan kalau filmnya ini ya tetep kayak kartun, film ini pun nggak punya kewajiban jadi super-cool atau "realistis" dan "dark" atau  meninggalkan kekonyolan. Tapi itu nggak penting, yang penting ada Megan Fox, and she's really good in this.

Bukannya mau sombong atau apa, tetapi nggak ada hal yang membuat gw "wow" sama film ini, selain sama penampilan Megan Fox yang kelihatan jelas punya bakat untuk akting serius, sehingga di film yang nggak serius ini doi juga aktingnya nggak terlalu serius juga *lah gimana?*. Semua tentang film ini seusai dengan bayangan gw: action cukup seru, komedi yang lumayan lucu...ya udah sih gitu doang. Walau menurut gw adegan paling asli keren hanyalah pertarungan Splinter vs Shredder, tapi yang lain pun tidak bikin eneg. Ceritanya standar saja, origin story para kura-kura ninja dan sebagainya. But, you wouldn't care much, you don't need to.

Ketika banyak yang akan komentar "gila visual effect-nya keren banget", gw akan bilang ya sesuai ekspektasi untuk sebuah film berbiaya di atas 100 juta dolar diproduseri Michael Bay. Iya canggih kalo dibandingan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck misalnya =p, tapi jadinya kelihatan cartoonish juga, tapi ya lagi-lagi karena emang filmnya "kartun" emang harusnya kayak gitu, kura-kuranya juga nggak perlu kelihatan se-tangible Gollum di The Lord of the Rings. Masalah mungkin ada pada desain kura-kura ninja-nya emang semengerikan poster-poster dan trailer-nya, dan honestly gw nggak mau mengingat lagi bentuk mereka seperti apa, ngeri banget. Mending mengingat bagaimana bentuk Megan Fox.

Satu hal yang tepat dilakukan oleh film ini adalah menyajkan filmnya dalam durasi yang pas. Nggak perlu berlama-lama, nggak perlu ina inu berkepanjangan, yang penting berantem-bercanda-Megan Fox-berantem-bercanda-bercanda-Megan Fox-berantem-berantem-bercanda dengan durasi cukup dan langsung selesai. Ketika banyak film-film blockbuster Hollywood akhir-akhir ini demen memanjangkan durasi, durasi Ninja Turtles yang cuma 100 menit ini jadi sebuah penyegaran, seriously. Dan hebatnya, film ini sudah memberi ruang yang cukup dalam menampilkan Megan Fox dengan adil dan beradab. That's all I care about.




My score: 6/10

[Movie] Negeri Tanpa Telinga (2014)


Negeri Tanpa Telinga
(2014 - Lola Amaria Productions)

Directed by Lola Amaria
Written by Indra Tranggono, Lola Amaria
Produced by Lola Amaria
Cast: Ray Sahetapy, Teuku Rifnu Wikana, Kelly Tandiono, Jenny Zhang, Lukman Sardi, Tanta Ginting, Gary Iskak, Landung Simatupang, Rukman Rosadi, Eko Supriyanto


Di atas kertas, mungkin banyak orang yang bakal suka film Negeri Tanpa Telinga ini, terutama mereka yang suka baca koran. Sebagai sebuah karya satir, film ini mengangkat beberapa kasus skandal korupsi dan seks yang sering terjadi di pemerintahan kita dalam bentuk sindiran yang lumayan tidak halus--hehe, dalam artian kasus-kasus dan referensinya jelas walaupun setiap nama orang dan institusinya sudah diubah jadi agak lucu. To many people who watch it, including myself, penyajian sindiran ini lumayan bisa menggelitik lah. Setidaknya untuk bagian partai-partai, baik yang sekuler maupun agama (dan lambangnya kelihatan banget merujuk ke mana) yang terlibat korupsi, lobi keputusan parlemen yang pakai syahwat, tender yang nggak jujur, dan sebagainya.

Masalahnya, film yang jadi karya penyutradaraan ketiga dari aktris Lola Amaria ini pada akhirnya kurang dapat merangkaikan semua itu dengan satu cerita yang utuh dan mengalir enak. Poin cerita utamanya sih (harusnya?) tentang seorang tukang pijat yang memijat para orang-orang yang berkaitan dengan kasus-kasus yang lagi hot di masyarakat, dan bagaimana ia mengetahui banyak hal sehingga hidupnya tak aman dan nyaman. Itu sih penangkapan gw. 

Tetapi, pada akhirnya Negeri Tanpa Telinga justru memasukkan lebih banyak adegan tentang para orang-orang yang dipijat ketimbang memijat, seperti sibuk dengan sindiran demi sindiran sampai-sampai jalan ceritanya jadi ribet sendiri apalagi karakternya jadi banyak banget, dan terkadang kaitan satu dengan yang lain kurang bisa gw tangkap dengan jelas, kenapa kejadiannya bisa begini dan begitu dan seterusnya. In the end, film ini jadi tak semenarik premisnya yang menekankan pada si tukang pijat itu.

That being said, satu hal yang membuat gw cukup betah menyaksikan film ini adalah penampilan para pemerannya yang terbilang kuat. Ray Sahetapy oke, Teuku Rifnu oke, Jenny Zhang oke, Kelly Tandiono wuuuuh oke *eh penekanan pada segi apa nih =p*. Nama Jenny dan Kelly ini cukup unexpected karena gw emang kurang familiar sama mereka berdua, tetapi nyatanya bisa memberikan performa yang sangat menarik dan meyakinkan. Bahkan yang karakternya *sengaja* komikal seperti Lukman Sardi, Tanta Ginting, dan Eko Supriyanto juga berakting baik. Yah, bisa dibilang untuk sebuah film multikarakter, ansambel aktornya terbilang kompak, Lola sebagai sutradara berhasil di sini.

Ya begitulah, Negeri Tanpa Telinga bukanlah film yang buruk, malah sangat menarik jika dilihat dari beberapa angle, tetapi memang punya sedikit masalah di penuturan yang semakin ke sini semakin kelimpungan saking banyaknya poin yang harus disampaikan. Wellat least sindirannya lebih agak menghibur dan tidak sekasar filmnya Aria Kusumadewa a.k.a. mantannya Lola *diungkit*.




My score: 6,5/10

Minggu, 10 Agustus 2014

My Top 25 J-Pop Songs of the 1990's

Dulu waktu gw bikin senarai My Top 50 International Songs of the 1990's, gw emang nggak kepikiran untuk bikin senarai khusus J-Pop. Why, you ask? Simpelnya adalah gw tidak "mengalami" musik Jepang saat tumbuh di era 90-an. Kalau bikin, entrinya bakal sedikit sekali, toh sebagian besar lagu-lagu J-Pop 90-an yang gw tahu gw baru dengerinnya di pertengahan era 2000-an. Tetapi setelah dipikir-pikir, kayaknya lucu juga kalau gw tetap mencoba bikin, lagian nggak ada salahnya bikin berdasarkan materi lagunya, bukan semata-mata karena nilai nostalgia seperti senarai 90-an lain yang ada di blog ini.

So, jadilah gw akhirnya menyusun senarai 25 lagu J-Pop yang dirilis dari tahun 1990 hingga 1999. Senarainya mungkin kurang komprehensif jika menilik J-Pop secara keseluruhan di era itu—katanya merupakan era CD boom ketika semua orang Jepang membeli keping CD, sehingga penjualan satu single saja banyak yang sampai berjuta-juta keping. Tapi, seperti biasa, kriteria gampangnya adalah ini lagu-lagu yang saat ini pun masih bisa gw nikmati. Kebanyakan asal muasalnya adalah (of course) dari anime dan dorama/sinetron Jepang, tapi ada pula yang gw tahu  dari cover-an orang di era 2000-an.

(Arah jarum jam dari kiri atas) CHAGE and ASKA, Mr. Children,
JUDY AND MARY, Utada Hikaru, SPEED. All in their 90s looks.

Seperti biasa atas asas fair play *apaan*, gw hanya memasukkan satu lagu dari satu artis dalam senarai ini. Tetapi atas asas jangan-sampe-yang-ini-ketinggalan, gw akan mendahului senarai ini dari empat honorable mentions di bawah ini. 

And no, "Kokoro no Tomo" itu dari 1980-an. Yes, you're that old.



Honorable Mentions

"チェリー" – スピッツ ("Cherry" – Spitz) (1996)
Gw taruh di sini karena (spoiler) ada lagu lain dari Spitz di Top 25.




"そばかす" ("Sobakasu") – JUDY AND MARY (1996)
Sama, gw taruh lagu opening pertama anime Rurouni Kenshin/Samurai X ini di sini karena (spoiler) ada lagu lain dari mereka di Top 25.




"負けないで" ("Makenaide") – ZARD (1993)
Ini mungkin salah satu lagu yang sempat populer saat dirilis lalu agak tenggelam dimakan zaman, lalu booming lagi ketika vokalisnya meninggal dunia beberapa tahun lalu. Very catchy.




"Forever Love" – X JAPAN (1996)
Ini juga salah satu hit rock ballad 90-an yang booming lagi di era 2000-an ketika dipake kampanye perdana menteri Jun'ichiro Koizumi dan film anime yang kebetulan judulnya juga X (dari manga karya CLAMP).




Dan dalam hitungan mundur, top 25-nya adalah....