Minggu, 29 Juni 2014

[Movie] Selamat Pagi, Malam (2014)


Selamat Pagi, Malam
(2014 - Kepompong Gendut/Sodamachine Films)

Written & Directed by Lucky Kuswandi
Produced by Sammaria Simanjuntak, Sharon Simanjuntak
Cast: Adinia Wirasti, Marissa Anita, Ina Panggabean, Dayu Wijanto, Trisa Triandesa, Dira Sugandi, Lina "Mak Gondut" Marpaung, Aming, Paul Agusta, Mayk Wongkar


Kalau mau jujur gw kurang paham sama fascination orang-orang terhadap kota Jakarta yang barely even pass to be a "city" itu. Selama dua puluh tahun lebih mengenal Jakarta, yang gw inget cuma ruwet, ribet, dan nggak nyaman--I mean di mana lagi naik bus dan bayar tapi waktu busnya mogok penumpangnya diminta dorong? Tetapi hampir semua orang berusaha "menyaman-nyamankan diri" untuk bisa bertahan di kota ini karena it is where the "cool jobs" flock, seakan ini kota first class yang membuat orang-orangnya akan merasa distrap kalau pindah ke tempat lain. Gw rasa ini juga gara-gara penggambaran Jakarta di film-film dan sinetron, seakan-akan segala-gala ada dan gampang, seakan-akan segala serba kinclong, seakan-akan kota (dan penghuninya) kastanya di atas yang lain, seakan-akan kalau nggak nge-Jakarta loe nggak keren. Jakarta mistakenly kerap diwakili dengan Monas dan jalan Sudirman-Thamrin dan mal-mal mewahnya, kadang orang lupa Jakarta juga punya sungai Ciliwung dan gang-gang sempit Lenteng Agung dan Cakung serta mal Slipi Jaya. 

Tetapi, bahwa Jakarta itu tidak bisa digambarkan dengan deskripsi tunggal, itu memang benar. Maka dari itu gw selalu menghargai kalau ada film-film berlatar Jakarta yang menyorot dari berbagai segi, bukan cuma karakter yang tinggal di rumah berpekarangan dan punya mobil ke mana-mana nggak kena macet *which is bullshit*, dan yang terbaru adalah Selamat Pagi, Malam ini. Well, lagi-lagi kalau dibilang mewakili Jakarta banget sih enggak, tetapi film ini memang berangkat dari pengamatan yang jeli tentang Jakarta dari mata Lucky Kuswandi sang penulis dan sutradaranya. Menurut gw, doski dengan jeli menangkap esensi dari kehidupan Jakarta (dan mungkin kota-kota besar lain) saat ini, yaitu penuh kepalsuan. Lewat tiga cerita berbeda dari tiga wanita dari kelompok berbeda, film ini mencoba menyindir sekaligus membongkar Jakarta yang inginnya "maju" tapi not quite there yet.

Esensi itu paling terlihat dari kisah Gia (Adinia Wirasti) dan Indri (Ina Panggabean). Bagian ini menurut gw sih agak terlalu verbal, kayak Arisan! tapi versi lebih kalem, karena kisahnya penuh dengan adu dialog dengan sahabatnya, Naomi (Marissa Anita) mempertanyakan kok di Jakarta kesannya lebih "canggih" dari New York. Ke mana-mana harus pake mobil pribadi nggak bisa jalan kaki santai, olahraganya harus di fitness centre, masuk restoran ada kode pakaian--yang pakaiannya nggak "kayak orang kaya" dijutekin, makanan sederhana dikasih nama-nama fancy, padahal di New York aja nggak gitu. Dan tentu saja disinggung soal adiksi media sosial yang fungsi utamanya cuma buat lomba pamer. Bagian ini mungkin agak cerewet, tetapi memang spot on, dan menurt gw penyampaiannya tetap enak dan nggak nyinyir.

Sedangkan kisah Indri mungkin lebih pragmatis, soal social climber. Jika kisah Gia itu spot on dari dialog, Indri menurut gw lebih spot on dari gambaran tingkah lakunya. Iya, di Jakarta emang banyak orang yang kemampuan/karier masih belum seberapa tapi berusaha mendapatkan kenyamanan yang instan--mungkin gw juga gitu, tapi kan gw tinggal di Bekasi =P. Caranya? Pakai semua label yang dianggap "kelas atas", mulai dari pakaian bermerk sekalipun KW, eksis di media sosial kalau ke tempat-tempat mewah, bawa kantong belanjaan premium tanpa isi. In the end, Indri nggak bisa bohong bahwa mendapat itu semua bukan berarti bahagia.

Yang mungkin agak kurang mudah disambung dengan "Jakarta" adalah kisah Ci Surya (Dayu Wijanto). Heran juga sih buat gw, setelah Gia mewakili orang tajir, Indri mewakili kelas menengah, kok ada Ci Surya yang mewakili kelas tajir lagi. Tetapi mungkin alasannya lebih personal, yaitu momen ketika Ci Surya kehilangan suaminya yang meninggal dunia. Gw suka sekali dengan cara film ini menunjukkan dengan detil Ci Surya dalam menghadapi duka--dan kemudian kemarahan--yang dilakukan dalam sunyi tanpa banyak kata, yaitu ingin mencoba sensasi "jalan senang" yang diam-diam dijalani suaminya ketika masih hidup. Rupanya, di balik kehidupan yang tampak damai dan sejahtera, selalu ada sisi lain yang gelap. Kisah ini menurut gw paling emosional dari yang lain, tetapi mungkin terlalu "biasa" dalam menggambarkan Jakarta, lagi-lagi soal dunia gemerlap (melengkapi hipotesis bahwa film Indonesia yang setting di kota pasti ada adegan dugem).

Jadi kalau disimpulkan, gw suka dengan set-up ketiga cerita ini, isinya mengena dan dipresentasikan dengan baik dan smooth sekali, cerdas dan nggak nyinyir (fyi: gw mengartikan nyinyir=cerewet ngeselin). Dialog-dialognya tertata rapi dan dibawakan dengan akting yang juga rapi, secara visual enak dilihat, plus dapat bonus snapshots pemandangan Jakarta di waktu malam/subuh yang memang begitulah adanya. Yang gw sayangkan mungkin adalah bagian "konklusi" dari masing-masing kisah, yang membuat gw bereaksi "kok baliknya ke situ-situ lagi sih?". Apakah kebahagiaan (dan cinta) harus dikaitkan dengan "itu"? Karena itu membuat gw berkesimpulan film ini bukan sebuah tribut kepada Jakarta, tetapi tentang rupa-rupa kehidupan orang yang ngebet digauli. Tetapi gw berusaha mengesampingkan kesimpulan itu. Mungkin itu semacam humor yang gw nggak ngerti. Gw mungkin nggak suka ending-ending-nya, tetapi selama sekitar satu setengah jam sebelumnya gw sudah disuguhi tuturan kisah yang kuat dan "ada rasa"-nya, cukuplah.




My score: 7,5/10

Sabtu, 28 Juni 2014

[Movie] How to Train Your Dragon 2 (2014)


How to Train Your Dragon 2
(2014 - DreamWorks Animation/20th Century Fox)

Directed by Dean DeBlois
Screenplay by Dean DeBlois
Based on the novels by Cressida Cowell
Produced by Bonnie Arnold
Cast: Jay Baruchel, Cate Blanchett, Gerard Butler, America Ferrera, Craig Ferguson, Jonah Hill, Christopher Mintz-Plasse, Kristin Wiig, T.J. Miller, Kit Harrington, Djimon Hounsou


Film How to Train Your Dragon yang pertama itu begitu loveable sampe gw rada-rada sedih gitu ketika film itu muncul di tahun yang sama dengan Toy Story 3. Film itu bagus dan keren dan...wah pokoknya terenyuh deh waktu tahu film dari kreator Lilo & Stitch itu gak bakalan bisa menang Oscar--karena Toy Story 3 juga bagus dan kuat dan dari Pixar (you know, karena Oscar lebih sayang Pixar *suudzon*). Dragon pun gw perhatikan jadi film animasi DreamWorks yang beda, isinya bukan cuma ketawa-ketiwi doang, bahkan mungkin salah satu yang paling nggak lucu. Ada berbagai layer dalam kisahnya, malah berani mengambil langkah yang dark, tapi masih tetap menghibur dengan enaknya.

Dan tentu saja, karena ini film DreamWorks-si-banci-sekuel, film itu juga dibuat sekuelnya. Untungnya, How to Train Your Dragon 2 bisa mempertahankan kualitas film yang pertama...dengan cara biarkan yang pertama tetap demikian dan membuat cerita dan situasi yang benar-benar berbeda di film kedua, menghindari perulangan. Setting waktunya sekarang sudah lima tahun sejak film pertama, artinya si tokoh utama Hiccup dan kawan-kawan yang tadinya mungkin sekitar 14-15 tahun usianya, sekarang udah 20 tahun, which make them different, grown persons. Dengan pertumbuhan ini, risikonya sih film yang baru ini bisa-bisa tidak lebih lucu dari film yang pertama, tetapi toh khusus untuk Dragon, yang dicari 'kan bukan lucunya .

Para pembuatnya pun menyadari itu, jadilah Dragon 2 ini tidak ragu untu lagi-lagi menyentuh sisi dark dari sebuah kisah petualangan, walau gw rasa sih masih bisa disaksikan dan dicerna pelan-pelan oleh para penonton cilik, minimal dari tingkah laku si Toothless yang menggemaskan. Gw melihat Dragon 2 ini adalah pelatihan kepemimpinan bagi Hiccup, macem LDKS ye, bedanya ini bukan di Bumi Perkemahan Cibubur. Di bagian awal, film ini mengarahkan pada bagaimana Hiccup merasa emoh dengan ekspektasi ayahnya, Stoick bahwa ia akan jadi penerus tongkat kepemimpinan suku Berk. Hiccup merasa belum mampu, sekalipun ia sudah terbukti sanggup membuat perubahan besar bagi lingkungannya: memperdamaikan naga dan manusia (film pertama). 

Padahal, tanpa sadar ia sudah punya what it takes untuk jadi pemimpin, ini terlihat dari pilihan-pilihannya ketika mengetahui ada seorang bernama Drago yang secara kejam menangkapi para naga untuk dijadikan tentara suruhannya. Pikiran gw pun tiba-tiba langsung terbawa film ini kok kayak pas banget dirilis deket-deket pemilu, soalnya menunjukkan dua jenis kepemimpinan berbeda. Hiccup percaya bahwa untuk menciptakan perdamaian dengan para naga adalah mendapatkan kepercayaannya dan menjadi rekan yang seimbang, sedangkan Drago memutuskan bahwa untuk jadi kuat dan menciptakan "perdamaian" adalah membuat semuanya takut dan tunduk padanya. Coincidence? =P. 

Di luar itu, tentu saja empat tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat improvement dari segi teknis, dan Dragon 2 just nailed it. Gw merasa sekuel ini berhasil menjawab apa yang kurang-kurang dari film pertamanya: gambarnya lebih berwarna, pemandangan-pemandangannya superb, detilnya lebih apik dan cantik, animasinya lebih halus, dan desain karakternya pun dipoles dengan lebih baik sehingga lebih memorable. Tentu saja ini termasuk aneka jenis dan ukuran dari para naga, yang dibuat keren tetapi tetap lucu--kalau dulu pada dibuat cameuh, sekarang banyak dibikin bunder-bunder, haha. Teknik animasi dan visual effect-nya canggih, pun tata adegannya juga seru dan megah, nggak kalah sama film-film epic fantasy yang live-action--yang adegan perangnya toh kebanyakan CGI juga =D. And, it served well in 3D.

Tetapi, yang bikin gw paling suka adalah bahwa Dragon 2 tak kehilangan "hati"-nya. Meski punya beberapa momen megah yang bikin kagum dan momen humor yang bikin cekikikan, film ini tak melupakan soal hubungan antartokohnya dan membuatnya relevan dengan bagian cerita yang lain. Gw nggak mau memberi detail lebih, tetapi jika di film pertama soal persahabatan dua makhluk berbeda, maka Dragon 2 lebih berat soal keluarga, khususnya keluarga Hiccup yang sejak awal memang tidak utuh. Film ini dengan bijak telah menggantikan haha-hihi meledak yang biasa ada di film-film animasi DreamWorks dengan momen-momen hangat, manis, dan menyentuh dari hubungan-hubungan antarkarakternya.

Singkatnya, gw puas lah sama Dragon 2. Gw nggak bisa bilang lebih bagus dari film pertama, tetapi kekerenan film ini tidak menghancurkan kenangan manis gw terhadap filmnya yang pertama. Dua-duanya bagus, pun saling melengkapi dengan kisahnya yang berkesinambungan dan berkembang dengan oke sekali. Rencananya memang bakal ada film ketiga sehingga Dragon bakal jadi trilogi epik dengan kisah yang berkesinambungan tanpa harus bersambung. Yang kedua saja sudah bagus, gw pun jadi menantikan film ketiganya dengan senang hati, mau melihat apa lagi yang bakal ditawarkan Dean DeBlois dan tim untuk Hiccup, Toothless dan kawan-kawannya ini.




My score: 8/10

[Movie] Mari Lari (2014)


Mari Lari
(2014 - Nation Pictures)

Directed by Delon Tio
Written by Ninit Yunita
Produced by Yasha Khatab, Delon Tio
Cast: Dimas Aditya, Olivia Jensen, Donny Damara, Ibnu Jamil, Dimas Argobie, Verdi Solaiman, Amanda Zevannya, Ira Wibowo


Rio (Dimas Aditya) adalah tipikal anak muda usia 20-an yang hidupnya keenakan sampe nggak tahu sebenarnya pengen ngapain dan apa tujuan hidupnya selain berusaha cari duit untuk melanjutkan kehidupannya yang keenakan dan nggak tau pengen ngapain dan apa tujuan hidupnya itu. I mean, he's working as a salesman *eeeh, nggak boleh gitu loooe...hak orang doong...semua kerjaan tuh mulia tauuk...*. Problem utama Rio sejak kecil adalah minatnya selalu berpindah dan bosenan, termasuk pindah-pindah kuliah seenaknya padahal masih pake duit orang tua. Rio kena getahnya ketika bapaknya (Donny Damara) yang mantan atlet menyuruhnya keluar dari rumah untuk cari penghidupan sendiri. Hubungan keduanya pun renggang sejak itu.

Sebuah peristiwa memaksa mereka bertemu kembali. Rio harus balik tinggal bareng ayahnya karena sang ibu baru saja tiada, tetapi hubungan mereka tetap jauh seakan tidak tinggal di rumah yang sama. Namun, pintu rekonsiliasi itu terbuka ketika Rio melihat event Bromo Marathon, yang seharusnya diikuti ayah dan ibunya berdua. Rio ingin ikut untuk menghormati sang ibu dengan ikut maraton itu, tapi masalahnya dia nggak pernah lari. Yang olah raga ya, bukan lari dari kenyataan *halah*. Ayahnya nggak mau melatihnya, Rio pun sungkan meminta, sampai akhirnya ada Anisa (Olivia Jensen), wanita muda yang confidence-nya cocok dengan sifat Rio yang ogah-ogahan. Dalam waktu yang singkat, Rio harus siap menyelesaikan lari sejauh 42 km di dataran tinggi Bromo, sekaligus membuktikan pada ayahnya ia bisa menyelesaikan sesuatu. Sweet.

Mari Lari sebenarnya sebuah small indie film yang ide, cerita, dan penuturannya sederhana, tetapi memang butuh effort (dan budget) yang besar untuk mewujudkannya. Film ini jelas butuh riset lebih tentang olah raga lari, apalagi film ini juga "numpang syuting" di event lari betulan, seperti Jakarta Heart Run dan puncaknya *literally* di Bromo Marathon. Menurut penglihatan gw, mereka handled it well, misalnya membuat seakan para aktor terlihat seamless di tengah-tengah peserta betulan (yang nggak akting). Inilah yang maksud gw "niat baik", sekalipun sederhana, tetapi dibuat dengan benar dan hasilnya baik. Gw lebih seneng begitu daripada idenya besar eh usaha dan hasilnya ngono tok.

Dari segi cerita, awalnya mungkin gw kurang suka dengan set-up karakter Rio yang agak stretchy sekalipun sudah dilengkapi satu adegan teknikal yang cukup asik. Di tempat lain kadang ada beberapa dialog yang di-deliver kurang oke sehingga kesannya cheesy. Beberapa subplot dari karakter lain juga tampak nggak perlu. Yah untungnya nggak benar-benar melenceng dari kisah utamanya, which is usaha menyambung tali kasih Rio dan bapaknya. Storyline-nya sudah cukup jelas itu, ditambah "alat bantu plot" yaitu mencapai finish Bromo Marathon, penonton tinggal sit back and enjoy perjalanan film ini yang ditampilkan menyegarkan, sesekali lucu, cukup emosional, dan yang penting: informatif.

Mari Lari adalah sebuah film simpel yang akan dengan mudah di-abuse penggarapannya seandainya ditangani ala FTV. Fortunately penggarapan film ini terlihat serius sehingga membuatnya terasa manis dan cukup enak dinikmati. Tidak sekedar merekam orang-orang berakting dan pergi ke lokasi-lokasi lapangan eksotis, Delon Tio dan kru menambahkan unsur-unsur teknis yang asyik untuk disaksikan di layar lebar, mulai dari sinematografi, editing, musik, hingga tambahan visual effects dan animasi yang menyegarkan. Gw seneng deh melihat film dengan effort--teknis dan non-teknis--yang niat dan hasilnya nggak mengecewakan seperti yang ditunjukkan film ini. Hmmm, kecuali adegan "iklan pisang" yah =P.




My score: 7,5/10

Sabtu, 21 Juni 2014

[Movie] Maleficent (2014)


Maleficent
(2014 - Walt Disney)

Directed by Robert Stromberg
Written by Linda Woolverton
Based on Disney's Sleeping Beauty
Based on the story "La Belle au Bois Dormant" by Charles Perrault
Produced by Joe Roth
Cast: Angelina Jolie, Elle Fanning, Sharlto Copley, Sam Riley, Imelda Staunton, Lesley Manville, Juno Temple, Brenton Thwaites


Setelah film hibrida live-action dan animasi CGI Alice in Wonderland dan Oz the Great and Powerful, Disney sepertinya keterusan untuk mengakali kekurangkreatifan mereka dengan membuat versi baru dari kisah-kisah klasik *pedes amat komentarnya*. Tetapi untuk yang satu ini memang cukup exciting, karena yang diangkat adalah salah satu tokoh jahat ikonik dari film-film animasi klasik Disney, yaitu Maleficent dari Sleeping Beauty, yang dimainkan oleh bintang Hollywood, Angelina Jolie. Formula ini tentu mudah sekali untuk menarik penonton, nah tinggal pembuat filmnya nih harus tanggung jawab untuk membuat tontonan yang setimpal dengan ekspektasinya.

Film Maleficent ini menurut gw semacam dekontsruksi dari kisah dongeng dari Sleeping Beauty dan dongeng-dongeng lainnya yang sebagian sudah difilmkan Disney dalam bentuk animasi. Artinya gampangnya, kisah di film ini akan berbeda dari versi yang pernah kita kenal, dan gw sih nggak masalah, wong versi animasi Disney dengan dongeng aslinya juga beda kok. Ada beberapa momen dari film ini yang sesuai dengan versi Disney, mulai dari nama-nama tokohnya, peristiwa dikutuknya putri Aurora oleh Maleficent, trio peri yang merawat Aurora, dan lain sebagainya. Tetapi, karena ceritanya ini berkisah dari sisi Maleficent, maka di antara poin-poin yang familiar itu diisi dengan "improvisasi" dari penulis naskahnya, yang lebih menekankan pada tokoh Maleficent. Bisa jadi itu semacam pembelaan, hehe.

Yang gw perhatikan dari keseluruhan cerita film ini adalah seperti mengulang apa yang dilakukan di Frozen--dan gw rasa banyak yang merasa seperti itu. Gw nggak bilang itu salah, justru gw memperhatikan kecenderungan menarik dari Disney, yang dari awal adalah perusahaan berorientasi keluarga, untuk mengajarkan nilai-nilai kekeluargaan dalam perspektif lebih modern. Mungkin, mungkin nih ya, setelah sebelumnya memproduksi puluhan film yang ada tokoh putri dan pangeran yang langsung jatuh cinta walau baru ketemu sebentar dan menganggap cinta itu hanya soal ciuman dan pernikahan, mungkin Disney menyesal mereka telah mendidik sebuah (atau empat buah) generasi besar yang mengalami stress dan depresi hanya karena nggak dapet pacar. Jadi, lewat Frozen dan Maleficent, mereka mengajarkan bentuk lain cinta sejati yang selama ini luput dari perhatian anak-anak dan remaja yang haus cinta. Gw sih setuju banget.

Sementara itu, untuk sebuah sajian film, Maleficent ini lumayan bisa menarik perhatian gw dari awal hingga akhir, sekalipun pada banyak hal film ini tipikal Disney sekali (selalu ada big final battle). Ceritanya bisa gw terima dengan baik, visualnya oke dilihat, dan durasinya ringkas. Gw hampir lupa bahwa di luar topik apa pun tentangnya di infotainment, Angelina Jolie itu aktris yang bisa diandalkan, dan penampilannya sebagai Maleficent itu flawless menurut gw, menghidupi ketangguhan dan kerapuhan dengan baik di balik make-up dan kostum yang cukup keren. Bisa jadi ini penampilan terbaik Jolie dalam sebuah film komersil Hollywood (oh please don't remind me of Tomb Raider), mungkin karena pengaruh doi anaknya banyak dan film ini dedicated buat mereka, termasuk putri kecilnya, Vivienne--yang mukanya Brad Pitt banget--yang ikut main di sini.

But, gw rasa sih film ini nggak lebih dari itu. Film lumayan menghibur dengan pesan yang baik. Kurangnya adalah ketidakkonsistenan tone film ini yang sebenarnya ringan dan berwarna dipaksa harus jadi dark karena sosok Maleficent yang identik dengan kegelapan--sementara di film ini menunjukkan kegelapan itu justru datang dari hati manusia yang termakan ambisinya sendiri *ciailah*. Gw juga rasanya udah "kebal" sama visual effects-nya (saking udah sering lihat di film-film sejenis), dan gw lihat pemain selain Jolie nggak bagus-bagus amat. Well, trio peri yang dimainkan aktris-aktris kelas festival itu (Imelda Staunton, Lesley Manville, Juno Temple) lumayan tapi mereka lebih banyak tampil dalam bentuk superweird CGI animation. Namun demikian, jika filmnya sukses tampil lebih menghibur dan mudah dipahami daripada Alice in Wonderland-nya Tim Burton dan tidak sebodoh Snow White and the Huntsman (btw, keduanya diproduseri Joe Roth seperti Maleficent ini), it's good enough for me. Oke kok.




My score: 7/10

[Movie] Edge of Tomorrow (2014)


Edge of Tomorrow
(2014 - Warner Bros.)

Directed by Doug Liman
Screenplay by Christopher McQuarrie, Jez Butterworth, John-Henry Butterworth
Based on the novel "All You Need Is Kill" by Hiroshi Sakurazaka
Produced by Erwin Stoff, Tom Lassally, Jeffrey Silver, Gregory Jacobs, Jason Hoffs
Cast: Tom Cruise, Emily Blunt, Bill Paxton, Brendan Gleeson, Noah Taylor


Terlepas dari lelah atau tidaknya kita menyaksikan Tom Cruise berakting menjadi Tom Cruise dalam pose-pose dan nada suara ala Tom Cruise dalam setiap filmnya, Tom Cruise tak pernah lelah bekerja dan menjual kebintangannya dalam film-film yang besar dan mahal, and we have to deal with it. I have to deal with it. Biarlah dia selalu jadi jagoan, biarlah dia selalu berbicara dengan tone rendah sok wibawa, biarlah kamera harus meng-close-up wajahnya sesering mungkin, toh itu tanda bahwa ia seorang bintang dan banyak orang masih tertarik pada daya gravitasi kebintangannya itu. Biarin lah. *suara hati penonton yang bosan dengan ego Tom Cruise =P*

Tahun ini, Cruise tampil di Edge of Tomorrow yang punya premis menarik, setidaknya buat gw, yaitu mengulang hari yang sama dalam mengalahkan para alien yang menyerang bumi, dengan cara mati dulu. Film ini cukup promising karena 1. Cruise itu jarang main di film yang jelek banget, dan 2. sutradaranya Doug Liman lumayan teruji sama film action yang entertaining, semacam The Bourne Identity dan Mr. & Mrs Smith. Dan, mungkin ini cara Tom Cruise menebus tipikal peran-peran sepanjang karirnya yang 90% nggak pernah (benar-benar) mati di akhir film. I'm sold.

Edge of Tomorrow ternyata tampil sebagai sebuah film hiburan yang seriously sangat pas buat gw. Ceritanya menarik, tokohnya menarik, dan yang penting disajikan dengan sangat, sangat menghibur. Adegan action dan visual effect-nya ya udah lah ya Hollywood gitu lho, cuma menurut gw Liman berhasil membawakan cerita yang berpotensi rumit jadi sangat fun dengan kelincahan, humor, dan energi yang sangat oke dalam penceritaannya, dan tidak terjebak jadi bodoh dan brainless. Gw sih seneng bahwa premisnya gak terlalu dibawa serius: kalau gagal, harus mati dan ngulang lagi, gagal, mati lagi, ulang lagi. Kayak main video game setelah safe mode ketika nyawa dan senjata udah tinggal dikit ya mati aja terus ngulang lagi, hehe.

Tetapi di balik itu film ini juga masih bisa memuat beberapa momen emosional dan secara cerdas bisa membuat gw membayangkan betapa melelahkannya jadi tokohnya Tom Cruise--ngulang hari yang sama puluhan bahkan mungkin ratusan kali--tapi tanpa membuat yang nonton merasa lelah. Beberapa momen mungkin predictable dan cheesy, tetapi setidaknya film ini masih sanggup terus membawa gw ke dalam ceritanya sampe akhir....yah, mungkin bagian paling akhirnya gw kurang sreg, tetapi dalam sekitar 100-an menit gw sudah merasa terhibur, jadi bisa dimaafkan. Oh, dan gw rasa oke juga nonton ini berulang-ulang, toh nggak beda sama isi filmnya yang adegannya diulang-ulang, =P.




My score: 7,5/10

Senin, 09 Juni 2014

[Movie] X-Men: Days of Future Past (2014)


X-Men: Days of Future Past
(2014 - 20th Century Fox)

Directed by Bryan Singer
Screenplay by Simon Kinberg
Story by Simon Kinberg, Jane Goldman, Matthew Vaughn
Based on the Marvel comic books by Stan Lee, Steven Ditko
Produced by Simon Kinberg, Lauren Shuler Donner, Hutch Parker, Bryan Singer
Cast: Hugh Jackman, James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, Nicholas Hoult, Patrick Stewart, Ian McKellen, Ellen Page, Peter Dinklage, Evan Peters, Josh Helman, Halle Berry, Shawn Ashmore, Omar Sy, Fan Bingbing, Daniel Cudmore, Booboo Stewart, Adan Canto


Gw punya semacam underdeveloped fandom terhadap X-Men. Gw suka idenya, dan tokoh-tokohnya selalu bikin excited, tapi sayangnya gw gak sampai menggali lebih dalam seperti baca komik-komiknya atau nonton ulang kartunnya, paling mudah sekarang ya ngikutin film layar lebarnya. Itulah sebabnya setiap film X-Men muncul gw selalu excited menantinya, namun in the end gw selalu merasa film X-Men--yang sekarang berjumlah lima plus dua spin-off Wolverine--tidak selalu memuaskan underdeveloped fandom gw itu, padahal mungkin kepuasan gw itu akan terpenuhi kalau baca komiknya *mungkin*. Selalu ada yang rasanya kurang, tetapi dibilang kecewa-kecewa banget sih enggak.

Sekarang datanglah X-Men: Days of Future Past, yang tadinya hanya merupakan sekuel dari reboot X-Men: First Class, tetapi kemudian berubah jadi proyek ambisius yang menggabungkan cast trilogi X-Men yang lama dengan pemain baru yang ceritanya adalah versi mudanya, time travel style. Beberapa pihak juga menganggap bahwa Days adalah upaya dari para filmmaker-nya untuk memperbaiki keputusan yang mereka sesali saat membuat film-film pendahulunya, khususnya X-Men: The Last Stand yang katanya paling mengecewakan. Tetapi, menurut gw dengan adanya X-Men: First Class kemarin juga sudah mengubah semua timeline dan continuity yang sudah ada, udah beda universe. Gw lebih merasa nyaman dan nggak stress bahwa First Class dan Days adalah bagian dari trilogi X-Men yang baru pada semesta alternatif (kayak Star Trek 2009) yang kebetulan versi tua para mutannya pemainnya sama dengan trilogi X-Men yang lama. Gw nggak mau terlalu mikirin continuity sementara karakter Mystique aja di versi lama dan baru beddda bangggetttt. Yang bikin aja pada nggak mikirin, ngapain juga gw harus mikirin.

Anyway, dua hal yang jadi perhatian gw dari Days adalah mutant powers dan plot yang intriguing. Film ini mungkin terbilang oke dalam men-display kekuatan para mutan, sekalipun para mutan yang perannya sungguh nggak penting--selalu terjadi di film X-Men, yah maklum tokohnya banyak banget. It's quite fun to watch, khususnya yang di setting masa depan. Sedangkan plotnya terbilang intriguing karena berkenaan dengan usaha mengubah sejarah. Yang harus diubah itu pun cukup menarik: persepsi. Tujuan utamanya adalah mencegah pembunuhan yang memicu terciptanya robot pemusnah mutan, Sentinel, tetapi mencegah sebuah pembunuhan 'kan nggak berarti masa depan bisa berbeda juga, kebencian terhadap mutan itu toh akan tetap ada. Things would be easier kalau kebencian itu sirna, tetapi menghilangkan kebencian itu 'kan juga nggak mudah. So there.

Film-film X-Men memang selalu ada metafora sosial politik dan tak terkecuali di Days ini. Meski dengan janji lebih banyak aksi mutan dan casting yang menjanjikan, plot utama film ini bakal mengarah ke sana-sana lagi. Untuk beberapa penonton kasual mungkin akan menganggapnya terlalu berat dan "kebanyakan ngomong", tetapi menurut gw film ini udah cukup dikurangin ngomongnya dengan lebih banyak adegan action dari film-film sebelumnya. Lagian, it's a helluva cast we're seeing, pemainnya keren-keren, betah deh nontonnya. Oh ya, satu lagi yang gw suka dari Days adalah akhirnya bisa menunjukkan modus operandi dari Magneto (versi muda) dengan lebih jelas yang luar biasa taktikal dan sulit dilawan, sehingga pantaslah ia jadi supervillain yang paling ditakuti.

Lalu apakah akhirnya Days menjadi film X-Men yang paling memuaskan gw? Not quite. Ada, dan selalu ada, hal yang menurut gw nggak langsung membuat gw terkagum-kagum sama film ini. Bisa jadi itu terletak pada pemerataan perkembangan karakter yang nggak seimbang, ya saking banyaknya orang itu, selain pamer kekuatan, nggak ada lagi kesan yang lain--of course kecuali Quicksilver yang keren keren keren abis. Juga adegan-adegan action-nya, meski gw akui seru, tetapi nggak sampe seru banget dan bikin deg-degan kayak kopi tubruk pake garem. All X-Men movies could been treated better, dan Days ini bukan pengecualian. Ataukah mungkin gw memang nggak cocok dengan ritme sutradara Bryan Singer yang nggak lincah (Matthew Vaughn di First Class masih lebih lincah). Belum lagi tata visualnya yang terlalu generik, berbeda dengan nuansa vintage asyik yang ditunjukkan di First Class.

But then again, terlalu banyak highlight di film ini sukses mencegahnya jadi film yang mengecewakan. Selain Magneto dan Quicksilver tadi, ada Jennifer Lawrence yang keren, Peter Dinklage yang juga keren, ada adegan huru-hara di Paris yang seru, juga post-credit scene yang bikin excited *tuh kan excited lagi*. Nggak mengecewakan, tetapi belum yang terbaik buat gw.




My score: 7/10

Minggu, 08 Juni 2014

[Movie] Godzilla (2014)


Godzilla
(2014 - Warner Bros.)

Directed by Gareth Edwards
Screenplay by Max Borenstein
Story by David Callaham
Based on the character "Godzilla" owned and created by Toho Co., Ltd.
Produced by Thomas Tull, John Jashni, Mary Parent, Brian Rogers
Cast: Aaron Taylor-Johnson, Ken Watanabe, Elizabeth Olsen, Bryan Cranston, Sally Hawkins, David Strathairn, Juliette Binoche, Carson Bolde


Gw kurang familiar dengan posisi Godzilla dalam pop culture dunia selama 60 tahun terakhir ini, secara gw kan masih belia banget getoh. Gw hanya pernah nonton Godzilla versi Hollywood yang pertama di tahun 1998, which was an entertaining monster movie, kecuali bahwa bentuk monsternya jauh banget sama Godzilla versi tradisional. Setelah ngecek-ngecek, Godzilla itu adalah film monster yang pertama kali dibuat di Jepang tahun 1954, yang katanya ahli perfilman bule sih jadi film berstatus klasik dan penting. Godzilla kemudian jadi ber-franchise-franchise sampe di milenium baru dengan kisah-kisah yang makin "kreatif"--that's my word for silly--juga membuat tren baru film-film monster raksasa yang konsepnya sama. And by the way, kita juga bisa melihat influence monster ini cukup besar bagi masyarakat Jepang dengan plesetannya di komik Detektif Conan jadi Gomera, dan sering juga nongol di Crayon Shinchan.

Jadi dalam rangka entah apa, Hollywood mau coba lagi mengangkat Godzilla versi mereka, dan kelihatan sekali mereka ingin lebih setia pada kreasi awal Godzilla versi Jepang, bukan cuma comot nama aja kayak di versi 1998. Well, itu sotoy-nya gw aja sih. Tapi 'kan dalam perkembangannya, Godzilla di film-filmnya di Jepang bukan cuma monster yang bikin ancur dan orang-orang keder, doi malah jadi monster yang membela bumi melawan monster lain yang jahat, an anti-hero, if you may call it. Lalu ada unsur bahwa  ia memang makhluk yang sudah ada aja gitu dari dulu, dan tidak ada kekuatan manusia yang bisa menaklukkannya, itu juga ditonjolkan di film ini. Selain itu, tema bahwa satu-satunya senjata yang (mungkin) bisa menaklukkan Godzilla ternyata in the process bisa memusnahkan jutaan manusia, juga lagi-lagi merujuk pada plot point film aslinya (menurut Wiki ya). Sebagai sebuah remake atau reboot atau reimagining atau apalah, Godzilla versi baru ini sangat hormat dan santun sama materi aslinya. Dan itu langkah yang bagus sekali.

Sekarang tinggal persoalan penonton zaman sekarang bakalan bisa atau tidak menikmati poin-poin itu apabila tidak terlalu kenal hakikat Godzilla. Yang tersisa adalah kisah tentang ayah dan anak yang restrained yang terhubung kembali lewat kasus bangkitnya monster-monster (yup, jamak) yang menimbulkan keresahan bagi bumi. Dan, karena si anak berprofesi militer, ceritanya terkesan ke mana pun doi pergi selalu ada penampakan monster, berulang-ulang. That's kind of a let down to me, walaupun cukup efektif untuk memberinya purpose dalam setiap aksinya, yaitu ketemu lagi sama istri dan anaknya yang masih kecil. Lagian itu masih mending daripada plotnya cuma sekedar wait and see--karena manusia nggak bisa ngapa-ngapain monsternya, which was what this film is practically all about.

Film Godzilla ini memang berjalan cukup slow, dan memang lumayan banyak berfokus pada drama manusianya yang dibikin cukup serius. Gw nggak selalu anggap slow itu buruk atau membosankan, menurut gw slow-nya film Godzilla ini cukuplah. Tetapi, yang sedikit di luar dugaan adalah film Godzilla ini agak-agak tidak memberikan showdown yang cukup komplit dari aksi monster raksasa ancur-ancurin kota, kecuali di bagian klimaksnya. Cuman mungkin bagi para action-junkies, film ini agak nanggung jadinya. Entah perbandingan ini fair atau tidak, film Pacific Rim tahun lalu yang juga menampilkan monster-monster raksasa kasih unjuk setidaknya tiga pertarungan komplit yang lumayan panjang. And that movie is more colorful and fun, so...yeah, you know where I'm getting at.

Kesimpulan gw, Godzilla versi Hollywood 2.0 ini adalah film yang solid, dengan audio visual yang keren, aktor-aktor berkelas, ramuan kisahnya boljug dan juga sangat menghargai materi aslinya. Sekarang tinggal masalah selera saja. Gw sih tidak sampe "waaaah" berulang kali, sekali aja. Menurut gw film ini sudah memenuhi syarat-syarat film yang oke kecuali di bagian "fun", it only has a little of it. Tapi ya nggak berarti jelek juga. Oke kok.




My score: 7/10