Sabtu, 31 Mei 2014

[Movie] Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014)


Sebelum Pagi Terulang Kembali
(2014 - Cangkir Kopi)

Directed by Lasja F. Susatyo
Screenplay by Sinar Ayu Massie
Story by Abduh Aziz
Produced by Abduh Aziz
Cast: Alex Komang, Fauzi Baadila, Teuku Rifnu Wikana, Adinia Wirasti, Nungky Kusumastuti, Ibnu Jamil, Ringgo Agus Rahman, Maria Oentoe, Maryam Supraba, Roy Marten, Sabai Morscheck, Arswendi Nasution, Yayu A.W. Unru, Joko Anwar, Richard Oh


Sebelum Pagi Terulang Kembali adalah sebuah film misi, kalau nggak mau disebut propaganda, tentang anti-korupsi, dari tim yang sama yang pernah bikin film omnibus Kita versus Korupsi (selanjutnya gw sebut KvK deh) beberapa tahun lalu. Buat gw film semacam ini menarik, karena punya tantangan untuk memberi pesan yang jelas tapi harus smooth menyatu dengan ceritanya. Dan, menurut gw, film Sebelum Pagi cukup berhasil melakukannya dari segi penyusunan cerita. Berbeda dengan KvK yang masing-masing mengisahkan bentuk korupsi yang, let's say, "kecil-kecil", maka Sebelum Pagi jadi semacam epos tentang sebuah keluarga yang diracuni oleh korupsi.

Pak Yan (Alex Komang) dalam masa menjelang pensiun, bisa dibilang orang yang lurus di lingkungan kerjanya, kayaknya sih Departemen Pekerjaan Umum, yang rawan kongkalikong. Keluarganya terpandang, punya istri (Nungky Kusumastuti) dosen filsafat di UI, ibu manula yang punya usaha roti, dan punya tiga anak yang sudah besar dan berpendidikan...wellsupposedly. Yang keliatan paling sukses tuh anak tengah Satria (Fauzi Baadila) yang kerja di perusahaan konstruksi. Kakaknya, Firman (Teuku Rifnu Wikana) jobless dan dicerai oleh istrinya, jadi balik ke rumah pak Yan. Yang cewek, Dian (Adinia Wirasti) menanti detik-detik pernikahan dengan Hasan (Ibnu Jamil), seorang anggota DPR. Masalah datang ketika Satria bertemu dengan beberapa anggota DPR yang menjamin akan memberi proyek ke Satria kalau ikut tender PU, sementara Pak Yan selalu menolak untuk memasukkan Satria di daftar tender. Lalu Satria pake jurus nyolot dan memberi pertanyaan "Papa nggak sayang sama aku? Anggap aku nggak mampu?" that sort of thing. Sekali ini Pak Yan luluh, and everything else happened.

Seperti gw bilang, di atas kertas film ini cukup berhasil dalam memaparkan bagaimana korupsi memengaruhi sebuah keluarga. Setelah dapet proyek, Staria ngajak Firman buat jadi penghantar "paket" ke beberapa pihak, dengan imbalan yang lumayan buat Firman untuk try to look like a "man" kepada istri orang. Satria juga jadi serba royal, termasuk beliin ibunya mobil baru plus sopir. Juga ternyata berpengaruh pada Dian, ingat bahwa cowoknya adalah anggota DPR yang belum tentu bersih juga. Jadi, sepenangkepan gw film ini menggambarkan bahwa tindakan korupsi seseorang bisa merembet ke mana-mana, bahkan menghancurkan sebuah keluarga dan orang-orang sekitarnya, dan film ini menyampaikannya dengan cara yang make a lot of sense.

Mungkin bila ada kekurangan, itu terletak pada ritme yang agak lambat. Gw tahu sih film ini menampilkan beberapa karakter yang porsinya sama besar (nggak ada tokoh utama), dan itu memang risikonya memengaruhi pacing, you know, karena butuh waktu untuk memperkenalkan dan menunjukkan ini dan itu, sebelum akhirnya bermuara di akhir. Untungnya, film ini punya visual yang enak dilihat, serta deretan pemain yang oke dan bikin gw betah menyaksikannya sampe akhir...salah satunya gw fascinated sama legenda dubbing dan voice-over Indonesia (dan suaranya selalu terdengar ngajak kita masuk teater di bioskop 21), Maria Oentoe sebagai Nenek Soen, yang sekalipun gw lihat wujud beliau di film ini, gw tetep merasa itu adalah some lady yang suaranya didubbing sama Maria Oentoe, hehehe.

Jadi, menurut gw Sebelum Pagi is a decent film, cukup informatif dan berhasil mencapai tujuannya dalam menunjukkan bahaya korupsi dalam lingkup cerita yang wajar dan cukup emosional. Pacing-nya mungkin agak gimana gitu, tetapi gw masih cukup enjoy sama film ini sebagai sebuah "film", bukan iklan layanan masyarakat dan deretan "kata-kata moral" yang dipaksa jadi film.




My score: 7,5/10

[Movie] The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro (2014)


The Amazing Spider-Man 2
a.k.a. The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro
(2014 - Columbia)

Directed by Marc Webb
Screenplay by Alex Kurtzman, Roberto Orci, Jeff Pinkner
Screen Story by Alex Kurtzman, Roberto Orci, Jeff Pinkner, James Vanderbilt
Based on the Marvel comic books created by Stan Lee & Steve Ditko
Produced by Avi Arad, Matthew Tolmach
Cast: Andrew Garfield, Emma Stone, Jamie Foxx, Dane DeHaan, Sally Field, Campbell Scott, Colm Feore, Felicity Jones, B.J. Novak, Paul Giamatti, Marton Csokas


Sebagaimana gw sampaikan di review The Amazing Spider-Man di tahun 2012 lalu, gw nggak benci filmnya, malah cenderung suka. Tetep aja sih ada perasaan mengganjal, karena sebelum nonton film itu, gw gak ada perasaan urgency untuk nonton film itu sebagaimana excitement gw sama trilogi Spider-Man yang lama. Gw menganggap bahwa reboot Spider-Man ini not bad but not necessary. Tetapi, mari lupakan itu sejenak dan mari tujukan pikiran kita ke The Amazing Spider-Man 2, yang juga tidak membuat gw excited untuk menontonnya, apalagi pas liat trailer dan posternya yang lebih mirip film kartun.

Hal yang gw suka dari The Amazing Spider-Man adalah sisi manusianya yang lebih akrab dan lebih simpatik, khususnya dari Andrew Garfield yang menurut gw lebih asyik dalam membawakan Peter Parker. Di sekuelnya ini, gw senang karena masih bisa melihat itu, terutama relationship-nya dengan Gwen Stacy (Emma Stone) yang makin serius dan deep, yang pretty much jadi porsi utama film ini. Yup, gak salah baca, hubungan Peter-Gwen itu menu utama film The Amazing Spider-Man 2. Lalu timbul pertanyaan, kalau fokusnya di situ, kenapa tokoh musuhnya kali ini sampe ada 3?

Dan, memang itulah problem utama film ini buat gw. Memang tidak sampai sekacau Spider-Man 3 yang keteteran ngurusin 3 musuh sekaligus, tetapi ini karena emang bisa-bisanya yang punya cerita untuk seakan mengesankan Spider-Man bakal melawan Electro, Green Goblin, dan The Rhino sekaligus, yang ternyata enggak begitu. Pada akhirnya, yang purely musuh utama di sini adalah Electro (Jamie Foxx)--yang menurut gw efek listriknya nggak enak banget dilihat. Sedangkan untuk Green Goblin lebih ditekankan pada tokoh manusianya, Harry Osborn (Leonardo DiCa...eh...Dane DeHaan deing) yang punya complicated friendship dengan Peter Parker sebelum akhirnya secara konyol berubah jadi Green Goblin. Kedua tokoh ini harus berbagi dengan urusan Peter-Gwen sehingga yah film ini jadi lumayan padetnya. The Rhino yang dimainkan oleh Paul Giamatti yang notabene salah satu aktor terkeren di Hollywood? Cuma dua adegan! Menurut lo?

Rupanya begitu cara film ini "mengatur" adanya tiga musuh di film ini. Promonya emang mengecoh, karena ternyata musuh banyak-banyak itu nggak kelar dibahas di film ini, melainkan jadi "bibit" rencana film spin-off tentang kumpulan musuh Spider-Man, The Sinister Six, yang memang sedang digodok. Heuh, dasar.

Jadi, ya begitulah. Gw cukup terhibur dengan beberapa part film ini, khususnya karakterisasi Peter Parker dan Gwen Stacy yang masih menyenangkan dan menyentuh. Tetapi, sisanya gw rasa nggak ada efek apa-apa selain, "oh, lumayanlah seru," terus udah gak ada yang lain. These two Amazing Spider-Man films kind of owe us the real keseruan, deh. Seru sih, tapi studio sebelah juga masih bisa nyaingin dengan gampang. And I think it's lengthy, too. Tetapi, setidaknya gw "diberi hadiah" dengan adegan penutupnya yang semacam montase waktu ke waktu setelah peristiwa klimaksnya, karena cukup familiar sama gayanya sutradara Marc Webb di (500) Days of Summer, penutup yang menyegarkan.




My score: 6,5/10



NB: Judul aslinya film ini cuma The Amazing Spider-Man 2, tetapi di Indonesia dan beberapa negara lain ditambahin subtitle jadi The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro, which make a little more sense content-wise, tapi hadeuh panjang banget dah jadinya *jari pegel*.

Jumat, 23 Mei 2014

[Movie] Locke (2014)


Locke
(2014 - IM Global/Shoebox Films)

Written and Directed by Steven Knight
Produced by Guy Heely, Paul Webster
Cast: Tom Hardy, Olivia Colman, Ruth Wilson, Andrew Scott, Ben Daniels, Tom Holland, Bill Milner


Susah kalau me-review film seperti Locke ini, tanpa mengumbar spoiler. Film ini bener-bener concepted banget untuk ditonton langsung. Kenapa? Dengan konsep "sepanjang film isinya adegan Tom Hardy nyetir di tol sambil nelpan-nelpon orang", ya keseruannya ada pada isi percakapan dalam nelpan-nelpon itu. Nggak ada yang lain. Nggak ada tuh adegan kebut-kebutan, kejar-kejaran, seks, orang minta-minta, no. Daya tariknya cuma dan hanya di isi dialognya. Ke mana dia pergi? Mengapa dia pergi? Mengapa segalanya harus dibicarakan lewat telepon? Ya kalo jawabannya ditulis di review ya udah kelar dong.

Well, mungkin bisa gw kasih set-up-nya sebagai pegangan awal. Tom Hardy adalah Locke, salah satu kepala konstruksi spesialis beton yang sedang dalam proyek penting di sebuah kota. Tapi di malam sebelum hari-H di proyek, tanpa pamit ke rekan kerja atau keluarga, ia nyetir menuju London. Tahu bahwa ia tak bisa melaksanakan tugas yang diembannya, ia pun nelpon beberapa orang, termasuk ke istrinya. Masalahnya, seberapa jujur doski sama orang-orang yang diajak bicara itu.

Mungkin film ini bisa dibilang eksperimental. Dengan hanya satu seting dan satu aktor yang nggak "bergerak", kelihatan banget film ini ingin memaksimalkan akting, juga menguji kemampuan merangkai kata di skenarionya, agar tetap menarik bagi penontonnya. Concept-wise gw suka sama film ini, cukup berani sekalipun berisiko, dan ternyata isinya daily life banget, nggak lebay.

Tapi execution-wise, gw merasa film ini ya...monoton. Bukan dari aktingnya, bukan dari seting-nya, bukan juga dari tata kamera dan editingnya yang susah payah gerak sana-sini biar gambarnya variasi. Tapi bunyi teleponnya itu loh. Baru selesai, kring kring lagi. Baru selesai, kring-kring lagi. Gak putus-putus, kayak gak ada jeda ampe capek nontonnya, padahal filmnya nggak sampe 90 menit. Kring kring lagi *deuh*

Jadi selain akting Tom Hardy--dan akting suara dari aktor-aktor lain, serta "niat baik" dari film ini, sorry to say gw kurang enjoy sama film ini. Kurang enjoy-nya emang nggak penting sih ya, tapi ya mau gimana lagi =p.



My score: 6,5/10


Kamis, 22 Mei 2014

[Movie] Divergent (2014)


Divergent
(2014 - Summit/Lionsgate)

Directed by Neil Burger
Screenplay by Evan Daugherty, Vanessa Taylor
Based on the novel by Veronica Roth
Produced by Lucy Fisher, Douglas Wick, Pouya Shabazian
Cast: Shailene Woodley, Theo James, Kate Winslet, Ashley Judd, Tony Goldwyn, Jai Courtney, Zoe Kravitz, Miles Teller, Maggie Q, Ray Stevenson, Ansel Elgort, Mekhi Pheifer, Ben Lloyd-Hughes, Christian Madsen


Salah satu revelation yang gw dapet setelah nonton film ini adalah judulnya ternyata dibaca "dai-ver-jent", hehe. Divergent ini kelihatan sekali ingin mengekor kesuksesan The Hunger Games, adaptasi novel young adult dengan seting dystopian future, dan adanya tokoh utama wanita tangguh. Bukan suuzon atau apa, tapi liat aja, studio/distributornya aja sama. But it's okay, toh ceritanya juga beda 'kan, buat nambah-nambah variasi tontonan aja.

Buat gw apa yang digambarkan Divergent ini mirip-mirip dengan Equilibrium, sebuah masyarakat terisolir yang mencoba membuat tatanan kehidupan baru yang lebih teratur dan damai. Bedanya, Equilibrium orang-orangnya cuma ada dua tipe--yang manut dan yang berontak, sedangkan Divergent lebih macem-macem dan berwarna, tepatnya ada lima--gw nggak apal istilahnya pokoknya ada ilmuwan, hukum, polisi, petani, dan social service. Pada umur tertentu orang-orang harus dites cocok masuk kelompok mana, lalu boleh pilih. Kalau pilihnya beda dari orang tuanya, artinya adalah perpisahan.

Tapi walau udah lima pun tetep aja ada yang nggak bisa masuk, kemudian akhirnya disingkirkan karena dianggap merusak tatanan kehidupan masyarakat yang sudah berjalan baik. Karena tuntutan itu, yang sebenarnya merasa nggak cocok di mana-mana, ada yang jadi gelandangan, ada juga yang pura-pura cocok sama salah satu kelompok. Yang terakhir ini disebut kaum Divergent. Dan, tentu saja karakter utama kita yang bernama Tris (Shailene Woodley) adalah Divergent, tetapi demi kelangsungan hidup, ia masuk kelompok polisi-or-apalah-itu. But of course, nantinya juga ketahuan kalau dia bukan harusnya di situ.

Divergent ini, to my surprise, sangat menarik, khususnya dari set-up lingkungannya, desain visualnya juga oke. Gw juga tertarik dengan perumpamaan tentang pilihan hidup pribadi di sebuah masyarakat yang banyak nuntut. Seperti milih antara IPA, IPS, Bahasa, tapi kadang "saking cool-nya" sebuah sekolah sampe nggak punya jurusan Bahasa jadi pokoknya yang "nggak sanggup" masuk IPA "ditampung" di IPS. Ya mau gimana lagi, harus menyesuaikan diri sampai pada waktunya bisa jadi diri sendiri. Intinya sih gw suka bagian itu. Tapi untuk plotnya, not really sih. Apalagi bagian romance-nya yang...yaelah keenakan banget, walaupun nggak sekacau Twilight sih. Mungkin karena harus membagi antara introduction lingkungan maupun karakternya dengan plot pemburuan kaum Divergent, jalannya film ini jadi sedikit keteter, agak berasa lama gitu.

Tapi overall, gw cukup seneng dan terhibur sama film ini. Selain hal menarik yang gw sebut tadi, gw terhibur sama performance beberapa pemainnya, khususnya Woodley dan Kate Winslet. Soundtrack-nya juga ternyata asik-asik juga. Gw nggak keberatanlah nungguin sekuelnya. But anyway, kenapa penggunaan lampu LED banyak banget ya di film ini?



My score: 7/10

Senin, 05 Mei 2014

[Movie] Me & You vs the World (2014)


Me & You vs the World
(2014 - Rapi Films)

Directed by Fajar Nugros
Screenplay by Endik Koeswoyo
Based on the novel by Stanley Meulen
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Rio Dewanto, Dhea Seto, Gofar Hilman, Ashilla Zahrantiara, Dera, Bucek Depp, Zoya Amirin, Manohara Odelia, Joe 'P Project', Ence Bagus, Piyu


Kisah percintaan cowok lebih tua dengan cewek usia sekolahan itu bisa aneh, lucu, manis, atau ngeri. Bisa juga semua sifat itu jadi satu sekaligus untuk kasus, misalnya, di Cardcaptor Sakura ada temennya Sakura yang namanya Rika yang masih KELAS 4 SD udah tunangan sama seorang GURUNYA (no one could beat CLAMP for making a taboo relationship arc in their mangas, ibu-ibu Jepang gila). Anyway, Me & You vs the World mengambil jalur romance untuk tema ini. Jadi ada mas-mas pegawai usia di atas 25 (Rio Dewanto) yang mulai menjalin persatuan dan kesatuan asmara dengan seorang anak cewek SMA (Dhea Seto) *nggak jelas kelas berapa*, dengan cara ngajak jalan bareng dan melakukan olah raga ekstrem seperti off-road, panjat tebing, dan lain-lainnya.

To make it more "sweet", dibikinlah si cewek ini belum pernah pacaran lantaran jadi siswi teladan kutu buku yang hobinya baca buku pelajaran dan kumpulan soal sekalipun sedang jalan-jalan--walaupun kepintaran dan logika berpikirnya ternyata harus ditaklukkan oleh internet lemot, you know, udah ngambil kesimpulan "arung jeram itu berbahaya" dari sebuah video YouTube yang mandeg ditengah karena buffering. I mean, remaja pinter melek internet harusnya tahu dong buffering itu apa. Anyway, kedekatannya dengan mas-mas yang (tampak) perhatian sama dia membuatnya perlahan berubah, pelajaran terganggu, jadi sering bolos dan sebagainya. Padahal si mas-masnya juga ada hidden agenda.

Tetapi ingat bahwa ini film sweet romance (bukan sweet dance ya, itu mah merek baju senam), "hidden agenda"-nya yang nggak seliar yang ada di pikiran-pikiran kalian hai para pembaca. Gw bongkar aja di sini, motifnya adalah supaya biar bisa tahu pikiran dan keinginan remaja zaman sekarang, buat diterapkan pada proyek outbound perusahaan tempat kerja si mas-mas. Sementara he could just make a goddamn questionaire. Yaudahlah.

Tentu saja, lama-lama yang tadinya cuma "proyek" jadi ada hati beneran, lalu kehalang lagi sama perbedaan usia, and so forth. Atau bisa dibilang, err...FTV stuff? Ya, kalau menurut gw sih gitu. Film ini adalah bentuk fancier dari FTV, atau malah menurut gw semua FTV seharusnya punya production value seperti film ini, nggak ngasal tapi nggak wah juga. What I'm implying, gw mungkin nggak rela nonton "beginian" di bioskop. Soal syuting di India? Well, mungkin itu bagian paling cantik dari film ini, sisanya not so much. Humornya pun nggak ada yang bener-bener kena sama gw, jatuhnya garing-garing tapi nggak-enak-sama-yang-bikin-kalo-nggak-ketawa gitu deh.

Ngomong-ngomong, kerjaannya si mas-masnya tuh sebenarnya apa ya?



My score: 5,5/10

Jumat, 02 Mei 2014

[Movie] Crush (2014)


Crush
(2014 - Brainstorm Inc.)

Directed by Rizal Mantovani
Screenplay by Alim Sudio
Story by Teguh Sanjaya, Irving Artemas, Ocin Erdan
Produced by Irving Artemas
Cast: Cherrybelle (Angel, Kezia, Cherly, Felly, Steffy, Gigi, Ryn, Christy), Deva Mahenra, Yuanita Christiani, Indro Warkop, Yova Gracia, Teguh Sanjaya, Farhan, Sam Brodie, Anisa Rahma, Mikhaela Jade


Tentu saja, alasan dibuatnya film yang dibintangi oleh sekelompok artis idola tidak pernah lain dan tidak pernah bukan adalah 'jualan'. Mengharap bahwa film seperti itu dapat punya nilai lebih dari itu bagaikan mengharapkan Dude Herlino mau akting jadi orang jahat yang tak pernah tobat bahkan sampai ajal. Won't happen in this lifetime. Jadi, menonton film seperti Crush harus dipas-pasin sama tujuan utamanya: menjual Cherrybelle, kepada target pasarnya. Fans akan happy lihat idolanya nge-dance, nyanyi, akting-akting unyu, or just appear on screen. Itu sudah cukup. Jadi, se-silly apapun, se-cheesy apapun, seklise apapun film Crush, kita nggak bisa protes, toh itu dapat menghibur penggemarnya. Nggak ada tuntutan bagi non-penggemar ataupun yang di luar pangsa pasarnya untuk menyukainya. Suka ya syukur, kalo nggak ya bukan hal yang mengejutkan.

But, how cliche? Well, isinya tentang usaha sebuah girlband idola mempertahankan harga diri dan popularitasnya dengan menerima tantangan dari salah seorang terdekat dari salah satu dari delapan anggota yang ada yang sering menghina dina mereka, atau bisa dibilang hater lah. Yah kritik-adalah-cambuk-yang-memotivasi that sort of thing ditambah kata-kata bijak lainnya. Diakunya kisah ini cukup relate sama Cherrybelle di dunia nyata yang katanya sih banyak hater-nya--walaupun sebenarnya para hater itu lebih mempermasalahkan mereka (konon) "njiplak" girlband-girlband Korea, tapi ya terserah lah. How cheesy? Ada seorang cowok dan salah satu dari delapan cewek itu allegedly naksir dia. How silly? Desa Glenmore. Like, seriously.

Tetapi, jika itu bisa mencapai tujuan awal film ini dibuat, gw harus bilang apa? Untungnya, Rizal Mantovani setidaknya sudah mengusahakan beberapa tata adegan yang lumayan menghibur dan tata visual yang lumayan menyegarkan, khususnya yang berhubungan dengan dance. It's not great, tapi nggak malu-maluin lah. Pemanfaatan setting Australianya juga nggak eman-eman amat lah.

Crush adalah sebuah film yang bisa saja menghibur, atau menjadikan nggak-enak-lihatnya-saking-konyolnya sebagai salah satu bentuk menghibur, sekaligus juga lama-lama berasa lama karena masalahnya kayaknya banyak banget dan penyelesaiannya ketunda terus bahkan sampe gw sempet bertanya-tanya ini-film-kapan-abisnya, sekaligus juga film yang memperlakukan sebuah produk kelompok pujaan dengan tidak mengecewakan fans dan pangsa pasarnya. Gw sih sebagai bukan pangsa pasarnya (ini agak denial secara baru tahun lalu lagu "Diam-Diam Suka" masuk 10 lagu Indonesia favorit gw 2013, tapi gw bukan pemuja grup ini. Bukan! *menegaskan*) merasa filmnya ya udah gitu aja, lewat aja gitu.




My score: 5,5/10