Senin, 28 April 2014

[Movie] Captain America: The Winter Soldier (2014)


Captain America: The Winter Soldier
(2014 - Marvel Studios/Walt Disney)

Directed by Anthony and Joe Russo
Screenplay by Christopher Markus, Stephen McFeely
Story by Ed Brubaker
Based on the Marvel comic books by Joe Simon, Jack Kirby
Produced Kevin Feige
Cast: Chris Evans, Scarlett Johansson, Samuel L. Jackson, Anthony Mackie, Robert Redford, Sebastian Stan, Cobie Smulders, Frank Grillo, Emily VanCamp, Hayley Atwell, Toby Jones, Maximiliano Hernández


Gw nggak terlalu punya kesan yang wow sama film Captain America: The First Avenger, kecuali bahwa filmnya adalah salah satu yang telat banget datengnya ke bioskop Indonesia gara-gara tahun 2011 ada masalah import and shit gitu deh--dan gw juga nontonnya jadinya di format ehmehm =p. Gw merasa pentingnya nonton film itu adalah nggak lebih untuk nyambungin ke The Avengers, karena memang elemen yang paling nyambung dengan plot The Avengers itu ya filmnya Captain America, subjudulnya aja The First Avenger. Gw juga inget filmnya tuh konyol-konyol vintage gitu, and that's it. Ketimbang film-film Iron Man dan Thor, gw merasa film solonya Cap agak kurang.

Nah, sebenarnya, salah satu hal yang bikin film keduanya, Captain America: The Winter Soldier ini bakal jadi full cinematic experience adalah bila kita udah nonton film pertamanya dan The Avengers. Entah itu soal kenapa si Steve Rogers/Captain America itu bisa punya kekuatan superhuman banget dan atau polos banget sama zaman modern--doi bule tapi lajang perjaka, cuma pernah ciuman aja, anak baik-baik =P. Atau juga soal plot dan beberapa tokohnya di film ini, baik yang muncul sejak awal maupun yang muncul /ketahuan kemudian *eh*.

Dan jika pernah menonton penampilan Cap di film-film sebelumnya, pasti akan berasa banget bahwa The Winter Soldier ini beddddaaa banget, dari segala segi. Mulai dari tata cerita hingga tata presentasi audio visualnya bener-bener bikin nggak nyangka kalau film pertamanya itu lebih ke arah lawak *eh*. The Winter Soldier mungkin lebih dekat ke The Avengers, minus hal-hal gaib, tetapi juga lebih kental ke arah konspirasi dan intrik-intriknya, dalam hal ini tentang organisasi SHIELD, yang sebelumnya jadi payungnya para superhero termasuk Cap. Buat gw, hal itu cukup mengejutkan dan cukup menyenangkan. Filmnya nggak cuma sekedar dar der dor dan pamer visual effects supaya bisa bikin kagum (dan emang nggak terlalu bikin kagum sih itunya, zaman sekarang gitu loh), tetapi sudah mencengkeram dengan baik di guliran ceritanya yang thrilling dan penuh ketidaknyangkaan, plus pembangunan tokoh-tokohnya yang oke.

Belum lagi, tata adegannya dibuat sangat jauh berbeda dari film Cap sebelumnya. Semua adegan laganya, baik itu kejar-kejaran, tembak-tembakan, maupun pukul-pukulan, ditata sangat raw, grounded, dan keras, ibarat film-film action-nya Jason Statham dan, in a way, The Raid. Iya, The Raid yang film Indonesia itu, sutradaranya sendiri ngaku kok, tapi pastinya di sini dengan modal lebih gede dan tanpa darah, hehe. Efeknya, gw merasa action-nya cukup nonjok, dan cukup mengejutkan juga bila dibandingkan film pertamanya yang serba "film banget". Nah, bagian action-nya ini rasanya akan lebih mudah dinikmati meskipun penonton belum pernah menonton film pertamanya, kalaupun rada nggak ngeh sama belokan konspirasi dalam ceritanya, adegan-adegan laganya akan tetap seru menghibur.

As a whole, gw rasa The Winter Soldier adalah film solo superhero Marvel yang paling memuaskan gw. Ia punya bobot di bagian cerita dan penataan adegan yang cukup dapat membuatnya lebih dari sekadar film hiburan ingar-bingar aja. Satu hal yang mungkin terpaksa hilang dari filmnya Cap yang satu ini adalah filmnya jadi nggak lucu lagi. Tetap ada waktu tertawa, tetapi sedikit sekali. Bahkan The Avengers masih lebih banyak bagian lucunya daripada ini. Tapi ya nggak apa-apa juga sih, ia tetap menghibur dan menyenangkan dengan caranya sendiri. Oh ya, dan karena ada Scarlett Johansson juga in her cat suit =). Dan bonus ada Emily VanCamp, yang membuat gw berpikir bahwa serial Reven8e jangan-jangan termasuk dalam Marvel Cinematic Universe, like seriously.



My score: 7,5/10

Sabtu, 19 April 2014

[Movie] The Raid 2: Berandal (2014)


The Raid 2: Berandal
(2014 - Merantau Films/XYZ Films)

Written & Directed by Gareth Huw Evans
Produced by Ario Sagantoro, Nate Bolotin, Aram Tertzakian
Cast: Iko Uwais, Arifin Putra, Oka Antara, Tio Pakusadewo, Alex Abbad, Cok Simbara, Yayan Ruhian, Julie Estelle, Cecep Arief Rahman, Very Tri Yulisman, Ken'ichi Endo, Ryhuei Matsuda, Kazuki Kitamura, Roy Marten


Gw bukan termasuk pemuja film The Raid pertama. Keren sih, tapi masih ada hal-hal yang bikin gw merasa "nggak segitunya" sama film itu. Artikulasi aktornya, for instance, nggak enak banget buat kita yang kupingnya native Indonesia, juga susunan kalimat dalam naskahnya yang nggak wajar banget sama kita. Tapi, who cares juga sih, yang penting filmnya seru (banget) dengan bergabagi adegan fighting dan segala hal lainnya itu, nggak pake mikir, plotnya setipis Carefree ampe nggak berasa ada =p, dan banyak gimmick-gimmick yang masih bisa diingat sampai sekarang. Dari "kurang greget" sampai "tipu-tipu" sampai makan mi goreng sebelum nyiksa orang. The Raid itu ultimate film hiburan, jadi tuntutan harus realistis sangat perlu dikesampingkan. Lagian di dunia nyata mana ada orang baca koran Sindo? *eh*. The Raid 2: Berandal memang adalah sekuel The Raid, tetapi arahnya jauh berbada. And it should be. Ngapain bikin sekuel ceritanya ngulang, mending yang pertama ditonton ulang. 

Di film kedua ini, lingkupnya nggak lagi personal. Rama (Iko Uwais) yang tadinya cuma jadi salah satu anggota densus yang menemui maut di sarang penjual narkoba (film pertama), kini diperintahkan untuk menyusup ke jaringan mafia yang lebih besar. Ia diberi nama samaran Yudha, ditugaskan untuk mendekati Uco (Arifin Putra) *cieee mendekati =P*, anak dari Bangun (Tio Pakusadewo), seorang mafia penguasa Jakarta. Selain jadi mata-mata, misi utama Rama adalah membongkar kongkalikong petinggi kepolisian dengan para mafia. Plotnya bisa saja sesimpel itu, tetapi bahkan di dunia rekaan seperti ini, segala sesuatu bisa jadi rumit. Daerah kekuasaan mafia di Jakarta yang dibagi antara Bangun dan mafia Jepang (haha, 'mafia Jepang di Jakarta', bisa aja si Gareth =p) harus diganggu oleh pendatang baru, Bejo (Alex Abbad), yang pengen mencoba peruntungan bikin komplotan kompetitor, bahkan gantiin yang lama. It's this and that dan segala macam adegan kelahi dan tembak-tembakan dan bunuh-bunuhan dan bonus kebut-kebutan yang tentu saja jadi tujuan utama semua orang nonton film ini.

Soal seru, gahar, violent dan sejenisnya, Berandal ini juaranya, bahkan buat gw sedikit di atas pendahulunya yang lebih raw. Gw melihat Gareth bisa dengan lebih bebas mencoba berbagai macam style, nggak cuma dari gaya berantemnya, tetapi juga dari segala aspek teknisnya. Entah itu dari sinematografi, desain produksi (yang sampe niat banget bikin logo kepolisian versi fiktif mirip lambang negara Vietnam), sound, hingga musiknya. Bener-bener memuaskan banget segi teknis film ini. Ditambah lagi, Gareth dkk mulai ngotak-ngatik ceritanya, dengan karakterisasi yang lebih banyak dan sebab akibat yang lebih rumit dari pendahulunya. Jelas sebab akibatnya itu dibuat semata-mata supaya mengakomodir adegan-adegan action-nya, supaya nggak tiba-tiba ada orang mukul orang dan sebagainya, tetapi gw bisa terima semuanya itu tanpa komplain berlebihan.

Gw sih termasuk bisa menikmati film dengan plot minim tapi supermenghibur seperti The Raid pertama, tetapi gw juga sangat nggak keberatan dengan film supermenghibur yang punya cerita lebih tebal, seperti Berandal ini. Enaknya, di film ini konfliknya memang lebih rumit, tetapi rumit-rumit kartun gitu loh. Cerita dan karakternya itu cenderung komikal, tapi justru itu membuatnya mudah diingat dan diikutin dan nggak ngeberat-beratin kenikmatan keseluruhan kemasannya. Atau untuk orang-orang "kritis" dan "pinter banget" itu disebut sebagai "nggak masuk akal". Atau untuk orang-orang "cari hiburan" itu disebut "lama-banget-deh-mana-nih-action-nya-tanda-tanya-tanda-seru". Yah manusia memang tidak diciptakan seragam.

Whatever. Gw mah suka sama filmnya. Berkat segala keseruan dan keterampilan teknis-nya, gw nggak peduli juga durasinya nyaris 2,5 jam. Berkat skenario yang lebih ada isinya, dengan segala set-up dan karakterisasi yang oke, juga penerjemahan kalimat ke dalam bahasa Indonesia yang lebih logis, gw nggak terganggu harus nunggu beberapa menit jeda antara adegan action yang satu dengan yang lain. Berkat style-nya yang asyik dan enak dilihat, gw nggak masalah dengan salju di deket parkiran gerobak kaki lima, atau para anggota polisi yang nggak pake seragam padahal ada di kantor, atau rute jalan raya Jakarta yang dalam lokasi sebenarnya nggak nyambung. Suka-suka yang bikin itu mah, namanya juga berandalan. Selama gw masih bisa ah-ih-ugh dengan ikhlas, artinya film ini berhasil. Itu sudah.




My score: 8/10

Kamis, 17 April 2014

[Movie] oo Nina Bobo (2014)


oo Nina Bobo
(2014 - Rapi Films)

Written & Directed by Jose Poernomo
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Revalina S. Temat, Daniel Topan, Firman Ferdiansyah


Yeaah I know, inilah jenis film yang pasti gw hindari kalau tidak dalam keadaan terpaksa atau demi menunaikan tugas kewajiban. Ini film horor--gw nggak suka horor--dan premisnya pun nggak benar-benar menarik perhatian gw: lagu "Nina Bobo" yang ternyata bisa ndatengin dedemit. I mean, who cares? Tapi namanya demi hiburan ya sah-sah aja sih.

Jika ada hal positif yang bisa gw katakan tentang film ini, adalah bahwa production value-nya cukup oke untuk sebuah film yang (masih kelihatan) berbiaya murah. Sinematografinya enak dilihat--satu hal yang setidak-tidaknya pasti didapat dari film buatan Jose Poernomo--sama seperti Revalina yang enak banget dilihat =). Film ini juga punya desain hantu yang cukup oke, itu tuh yang ada di posternya, itu ada gabungan kostum dan CGI yang not bad at all. Rancangan plotnya juga cukup beda dari film-film horor Indonesia lainnya. Berdasar pada eksperimen radikal seorang psikiater terhadap seorang anak yang menderita post-traumatic stress disorder, ceritanya mengikuti diari hari ke hari dari eksperimen itu, hari pertama gimana, hari kedua gimana dan seterusnya--tapi di antaranya ada makhluk halus yang mulai ganggu-ganggu. It's a good idea.

Tetapi, set-up yang oke itu tidak dibarengi dengan ekskusi yang oke pula, film ini masih jauh untuk dikatakan "film penting". Masak pembahasan tentang lagu "Nina Bobo"-nya di ujung banget, depan-depannya ngapain aja? Juga cukup banyak confusion antara satu adegan ke adegan lainnya yang tak terjelaskan, mungkin maunya teasing tapi jadinya mbingungin. Dan, satu hal yang penting, buat gw film horor ini nggak serem. Gw tau apa itu serem, makanya gw nggak suka nonton horor. Tapi sebuah horor yang gagal bikin gw merasa ngeri, berarti ada masalah dong. Jadi, sekitar 90 menit yang gw saksikan dari film ini adalah adegan-adegan nggak serem yang dipanjang-panjangkan, yang inti ceritanya juga baru "jalan" di sepertiga akhirnya. Ck, eman.



My score: 5,5/10

Rabu, 16 April 2014

[Movie] The Wind Rises (2013)


風立ちぬ (Kaze tachinu)
The Wind Rises
(2013 - Toho/Studio Ghibli)

Screenplay & Directed by Hayao Miyazaki
Based on the comic series by Hayao Miyazaki
Produced by Toshio Suzuki
Cast: Hideaki Anno, Miori Takimoto, Hidetoshi Nishijima, Masahiko Nishimura, Stephen Alpert, Mirai Shida, Jun Kunimura, Nomura Mansai


Kalau gw bilang gw punya pengetahuan minim tentang Studio Ghibli, kalian masih mau temenan sama aku 'kan? =P. Iya, begitulah. Gw mungkin hanya mampu mendengar tentang kehebatan Hayao Miyazaki dan studio animasi Jepang legendaris Ghibli, sekalipun gw bisa dibilang dulu sempat akrab dengan dunia anime. Karya keluaran Ghibli yang gw tonton masih dikit banget. Gw baru pernah nonton karya Miyazaki--secara legal--tuh Spirited Away (Sen to Chihiro Kamikakushi), lalu--secara nggak legal--Princess Mononoke (Mononoke Hime) dan Ponyo (Gake no Ue no Ponyo). Tetapi, film keluaran Ghibli yang paling berkesan buat gw justru nggak disutradarain Miyazaki, melainkan Grave of the Fireflies (Hotaru no Haka) karya Isao Takahata, sebuah film yang begitu mengoyakkan hati sampe gw belum mau nonton lagi.

Lalu datanglah kabar gembira sekaligus kabar sedih (ya nggak juga sih kalau bukan penggemar), bahwa karya terbaru Hayao Miyazaki, The Wind Rises ditayangkan di bioskop umum Indonesia (di Blitz doang sih). Selain berpikiran "yaelah baru sekarang kepikiran muter film Jepang di bioskop Indonesia dulu pas anime dan jejepangan masih hits dan belum disalip Korea pada ngapain aja?", gw juga tetap senang bahwa akhirnya film animasi Jepang bisa disaksikan di layar besar secara legal, dan dalam bahasa aslinya. Sedihnya, ini adalah resmi karya terakhir Hayao Miyazaki yang memutuskan untuk pensiun. So, film ini jadi spesial karena faktor-faktor itu.

Dari filmnya sendiri, gw pikir ceritanya tidaklah terlalu spesial. Film ini semacam fiksionalisasi dari biografi kehidupan Jiro Horikoshi, sang perancang pesawat perang pasukan Jepang di perang dunia II. Tentang seorang pemuda yang punya mimpi, lalu dengan tekad mampu membuat inovasi, serta diwarnai dengan kisah cinta dan pahit manis kehidupan. Yang bikin film ini jadi lebih dari sekedar "kisah biografi" adalah bahwa formatnya animasi. Meski sebagian besar gambaran dan plotnya menjurus ke realistis, banyak hal imajinatif yang bisa diungkapkan dengan lebih bebas tanpa batas. Misalnya saja dari mimpi-mimpi Jiro yang kerap mewarnai lamunannya, dan juga membuat karakter-karakter yang komikal jadi termaafkan, hehe. Andaikan film ini bukan animasi, apalagi animasi Ghibli, beneran deh, jalan ceritanya ya drama aja, nggak terlalu istimewa.

Tapi untunglah film ini animasi, dan untunglah animasinya khas Ghibli yang masih berpegang teguh sama cara-cara tradisional (bahkan bila dibandingkan dengan anime Jepang lainnya), tapi tak kalah megah. Begitu nikmatnya menyaksikan gambar-gambar yang dibuat dengan great old animation technique--adegan favorit gw adalah ketika Jiro pertama kali mengerjakan tugasnya di kantor--serta tembakan warna yang senantiasa padu, dan kelihatan banget dikerjakan pake tangan, bahkan adegan crowd sekalipun. It's masterful. Apalagi bagaimana Miyazaki mempertunjukkan gestur dan perilaku karakternya dengan detil dan perlahan (eh, persoalan alih bahasanya juga make sense =D). Ditambah lagi dengan alunan musik latar yang luar biasa dari Joe Hisaishi, membuat gw terlarut dalam film berdurasi 120 menit ini.

The Wind Rises mungkin bukanlah karya paling spektakuler dari Ghibli atau Miyazaki--gw sendiri masih menempatkan Princess Mononoke sebagai karya Miyazaki yang paling oke dari yang udah gw pernah tonton, tetapi setidaknya film ini lagi-lagi memberikan sebuah experience yang unik dari Ghibli, yang tak mudah ditiru oleh film-film animasi mana pun. Miyazaki menutup kariernya dengan tetap berwibawa. Otsukaresamadeshita, Miyazaki-sensei.




My score: 7/10

Selasa, 15 April 2014

[Movie] The Monuments Men (2014)


The Monuments Men
(2014 - Columbia/20th Century Fox)

Directed by George Clooney
Screenplay by George Clooney, Grant Heslov
Based on the book "The Monuments Men: Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History" by Robert M. Edsel with Bret Witter
Produced by Grant Heslov, George Clooney
Cast: George Clooney, Matt Damon, Bill Murray, John Goodman, Jean Dujardin, Bob Balaban, Hugh Bonneville, Dimitri Leonidas, Cate Blanchett


The Monuments Men, menurut gw, punya keberjarakan yang lumayan besar untuk penonton film di Indonesia pada umumnya *atau gwnya aja yang seenaknya nuduh-nuduh*. Paling yang bikin menarik adalah cast-nya, ada George Clooney, Cate Blanchett, dan yang paling muda Matt Damon--makanya di poster versi kita doi ditaruh paling depan, juga ini jadi film Hollywood pertama aktor Prancis Jean Dujardin. Tetapi, sisanya film ini seperti distant sekali. Pertama, pemainnya udah pada toku. Kedua, meski berlatar perang dunia II, film ini nggak ada adegan perang. Dan ketiga, gw merasa penduduk Indonesia tidak dididik untuk mendalami sejarah seni, boro-boro mencintai seni. Padahal, film ini pada intinya adalah sekelompok orang yang hendak merebut kembali karya seni bernilai penting yang dicuri oleh Nazi Jerman untuk mengisi rencana museum terbesar di dunia milik Hitler di kota tempat ia dibesarkan, Linz, Austria--that's right, kids, Hitler itu lahir dan besar di Austria.

I mean, seriously, gw yakin akan banyak yang bertanya-tanya apa pentingnya menyelamatkan karya-karya seni di tengah kecamuk perang--bagian ini juga untungnya dipertanyakan juga sama film ini. Saking banyaknya karya seni yang harus diselamatkan, gw sendiri hampir buta dengan nilai dari karya-karya seni itu, yang sampai-sampai Nazi aja pengen nyolong instead of menjarahnya. Di sini gw kayak kehilangan tentang kultur orang sana (kala itu, termasuk anggota Nazi) yang seneng sama karya seni sampe segitunya. Gw tahunya mahakarya seni Eropa cuma karya-karya Da Vinci, Michelangelo, Rafael, yah yang muncul di komik seri tokoh dunia terbitan Elex gitu =p. Gw gak kenal Donatello selain dari kura-kura ninja. Ya kalaulah nambah gw juga pernah denger Van Gogh, Picasso, Monet....and that's it. Dalam film ini, cuma dua nama yang gw kenal yang muncul: Michelangelo dan Rafael. Lainnya ada Rodin (nggak kenal), dan Van Eyck yang bikin lukisan di altar katedral Ghent, Belgia (nggak terlalu kenal, tapi turis Jepang sering minta ke situ *memori kerjaan lama*).

Yang gw lihat dari film ini adalah usaha menunjukkan kecintaan dari para pelakunya terhadap apa yang mereka lakukan. Based on a true story--tapi nama dan karakterisasinya difiksikan--film ini berkisah tentang sekelompok orang (mostly dari Amerika) yang udah kelewat "kadaluarsa" untuk ikut langsung ke medan perang, tetapi diberi kesempatan untuk mengabdi dengan cara yang unik. Mungkin tidak serba heroik, tetapi tidak tak bermanfaat. Secara konsep, film ini bisa jadi adventure sekaligus heist, seperti Ocean's Eleven atau mungkin Inglourious Basterds bagiannya si Brad Pitt doang. Sayangnya, nggak cuma pemainnya yang tampak uzur, pacing film ini pun ya kayak gitu. Set-up-nya slow, pembawaannya sampe akhir pun slow. Mungkin memang menggambarkan kenyataan misi mereka yang tidak serba bak-bik-buk, tapi ya masak nggak bisa dibikin lebih exciting lagi sih? Or should I blame the mellow music score?

Untungnya, film ini punya humor yang cukup menyegarkan dalam deretan dialognya. Nggak lucu-lucu amat, tapi setidaknya menyegarkan, nggak garinglah. Udah sih gitu aja. Mungkin kalau gw punya kecintaan yang lebih terhadap karya seni rupa (Eropa) yang bersejarah, film ini bisa punya nilai lebih di mata gw. Mungkin.




My score: 6/10