Kamis, 27 Maret 2014

[Movie] 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 (2014)


99 Cahaya di Langit Eropa Part 2
(2014 - Maxima Pictures)

Directed by Guntur Soeharjanto
Screenplay by Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra, Alim Sudio
Based on the novel by Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Produced by Ody M. Hidayat
Cast: Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Nino Fernandez, Marissa Nasution, Alex Abbad, Gecha Tavvara


Well, gw rasa komentar gw untuk film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 1--yang gw kasih penilaian separo karena filmnya emang baru separo dan effort-nya juga separo, nggak jauh beda dengan apa yang akan gw kemukakan tentang 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2-nya. The good news is, gw melihat improvement, misalnya adegan singkat Marissa Nasution dan Nino Fernandez bercakap-cakap dalam bahasa Jerman dengan enaknya. Udah sih, gitu aja =p.

Sebenarnya pertanyaan gw terhadap dua film ini sih tetep sama: kenapa nggak jadi satu film aja sih? Maksud gw, lihat deh komposisi ceritanya: Part 1 perkenalan doang, sedangkan konfliknya diborong semua di Part 2. Ada tentang Rangga (Abimana Aryasatya) ditaksir cewek lain, tentang Hanum (Acha Septriasa) yang kehilangan sahabat barunya, lalu ada dua temannya Rangga yang berantem terus. Katanya sih Part 2 lebih banyak konflik. Yaiyalah, wong di Part 1 kagak ada konflik, benih-benih konflik yang bisa dilanjutin di Part 2 aja nyaris nggak ada, kalaupun ada, masih "benih banget" belum berkecambah. Dan, janjinya mau ngajak keliling Eropa, nyatanya di Part 1 cuma dua negara, Part 2 cuma nambah dua lagi. Keliling apanya?

Nggak enaknya nonton film dua part adalah effort kita untuk nonton juga dua kali lipat, dan harusnya bisa dua kali enjoy. Film ini, karena cara membelahnya kayak gitu, enjoy-nya jadi separo-separo. Apa nonton dua film enjoy-nya jadi utuh? Ya enggaklah, tetep separo juga. Duit, waktu, dan energi yang keluar kan dua kali. Kalaupun Part 2-nya lebih "seru" dengan berbagai "konflik"-nya, tetap ada tertinggal "kita harus banget ngelewatin 100 menit Part 1 dulu nih?" Apa gw merasa (kedua) film ini dipanjang-panjangkan? Jelas iyalah. Itu juga yang bikin gw nggak enjoy, durasinya jadi kayak dua kali lipat.

Well, setidaknya salah satu kecurigaan gw terhadap "ini film tentang apa" terkonfirmasi di film ini, apalagi gw bukan pembaca novelnya. Yaitu, ini soal perjalanan Hanum menemukan kecintaan yang lebih dalam terhadap agamanya hingga memakai hijab--ini bukan spoiler ya, Hanum Rais yang asli muncul cameo jadi orang Turki kan pake hijab. Bukan karena tinggal di kalangan Muslim, tetapi justru karena berada di tanah Eropa yang mayoritas non-Muslim (well, Turki is barely that kind of Eropa, but whatever). That could be a very interesting plot seandainya--lagi-lagi--nggak dipresentasikan secara separo-separo di (dua) film ini.

Jadi, apakah gw merekomendasikan Part 2 lebih dari Part 1 atau sebaliknya? Dengan sotoy-nya gw akan bilang: no. Gw lebih baik minta kebesaran hati pada para pembuat filmnya, tanpa dilandaskan kerakusan dan dalih-dalih apapun itu, untuk masuk lagi ruang pascaproduksi, edit ulang 99 Cahaya di Langit Eropa jadi satu film utuh tanpa part-part-an. Let's see how that goes, baru gw nilai secara utuh. Atau, kalau emang harus banget bikin dua part (rakus loe) dan mau lebih edgy dikit, bikin Part 1 soal Rangga dari awal sampe akhir, Part 2 soal Hanum dari awal sampe akhir, jadi film paralel beda point of view gitu. See? Terkonsep! *astagah belagu banget saiah*. For now, pontennya separo lagi. Maaf.



My score: 5/10

Selasa, 25 Maret 2014

[Movie] Dallas Buyers Club (2013)


Dallas Buyers Club
(2013 - Focus Features/Voltage Pictures)

Directed by Jean-Marc Vallée
Written by Craig Borten, Melisa Wallack
Produced by Robbie Brenner, Rachel Winter
Cast: Matthew McConaughey, Jennifer Garner, Jared Leto, Denis O'Hare, Steve Zahn, Michael O'Neill, Griffin Dunne


Face it, banyak dari kita nonton Dallas Buyers Club karena katanya performa Matthew McConaughey dan Jared Leto bagus di film ini, dua-duanya menang Oscar pula. Premise-wise? I guess only a few would care, atau itu brengseknya gw aja menyamakan orang-orang lain dengan pikiran gw. Anyway, Dallas Buyers Club adalah fiksionalisasi dari kisah hidup Ron Woodroof di tahun 1980-1990-an. Siapa doi? Woodroof dikenal sebagai salah satu pasien AIDS di Dallas, Texas yang membuat semacam "perlawanan" terhadap sistem pengobatan resmi di Amerika saat itu. As we might know, AIDS belum ada obatnya, tetapi sejak wabah ini merebak, sudah ada usaha untuk menangkalnya, setidaknya memperpanjang umur hidup penderita AIDS. Di eranya Woodroof, metode pengobatan resmi yang diterimanya bisa dibilang masih belum teruji secara sempurna, dan Woodroof malah merasa obat yang resmi itu membuat keadaannya memburuk. 

Woodroof lalu menemui seorang dokter ilegal di Meksiko, yang ternyata punya metode pengobatan yang, lebih ribet, tapi bekerja dengan baik di dirinya. Hanya saja, obat-obatan yang digunakan for some unknown reason (mungkin juga karena konspirasi *halah*) tidak lulus tes pengawas obat dan makanan di Amerika. "Obat alternatif" ini pun diboyong Woodroof ke kotanya, lalu menjualnya kepada sesama penderita. Karena obatnya ilegal, Woodroof tidak bisa jual secara open, jadi dibuatlah jalan memutar, yaitu ia akan menyediakan obatnya secara berkala sesuai kebutuhan asalkan "pasien"-nya jadi member yang bayar 400 dolar per bulan. "Praktik" ini ternyata diminati banyak orang, tetapi tentu saja tindakan Woodroof ini dibayang-bayangi oleh fakta bahwa yang dilakukannya itu melanggar hukum, ditentang oleh dokter-dokter, dan usianya hidupnya sendiri tidak akan terlalu lama.

Gw sendiri agak bingung merangkum Dallas Buyers Club itu film tentang apa. Paling bisa gw gambarkan film ini drama biografi, tetapi tidak semua yang terjadi di film ini adalah fakta sejarah. Konon tokoh Dr. Eve (Jennifer Garner) yang simpatik dan si bencong pemadat Rayon (Jared Leto) adalah tokoh fiktif khusus untuk film ini. Jadi? Well, tiga tokoh ini mewakili banyak hal seputar dunia kesehatan, khususnya AIDS. Woodroof adalah model pasien antipasrah yang terus mencari perawatan terbaik buat dirinya. Dr. Eve mewakili pihak yang tetap open-minded terhadap cara Woodroof walaupun tidak melepaskan hakikatnya sebagai seorang peneliti yang harus mempertanyakan segala hal. Sedangkan Rayon, menurut gw mewakili zaman. Dulu banyak orang mengira AIDS hanya diderita kaum homoseksual dan transeksual. Woodroof yang hidup dalam pergaulan machoisme mas-mas Texas pun langsung dihina teman-temannya dengan sebutan "darah homo". Woodroof tadinya sama dengan mas-mas itu, menjauhi orang-orang seperti Rayon. Tetapi, lama kelamaan dia melihat bahwa sahabat sejatinya, dalam keadaan seperti ini, ternyata ada di dalam diri Rayon, yang jadi mitranya dalam menjalankan Dallas Buyers Club.

Tapi, tetep gw belum berhasil menarik apa pernyataan dari keseluruhan film ini. Mungkin soal seseorang, mungkin soal dunia kesehatan, mungkin juga soal gambaran keadaan seputar HIV/AIDS dan kehidupan penderitanya pada era tertentu. Mungkin soal semuanya. Meski begitu, gw merasa penuturannya cukup enak diikuti, dengan dramatisasi yang tepat guna, that's quite enough. Dan, yes, akting McConaughey dan Leto memang ciamik, walaupun gw rasa McConaughey semacam terlatih dengan peran seperti ini, soalnya dia sering banget main tokoh dengan ciri seperti Woodroof (baca: orang Texas slengean). Bedanya mungkin yang dulu-dulu doi nggak sekurus di film ini. 



My score: 7,5/10

Jumat, 21 Maret 2014

[Movie] Mr. Peabody & Sherman (2014)


Mr. Peabody & Sherman
(2014 - DreamWorks Animation/20th Century Fox)

Directed by Rob Minkoff
Screenplay by Craig Wright
Based on the series produced by Jay Ward
Produced by Denise Nolan Cascino, Alex Schwartz
Cast: Ty Burrell, Max Charles, Ariel Winter, Stephen Colbert, Leslie Mann, Stanley Tucci, Allison Janney, Patrick Warburton, Lake Bell


Studio DreamWorks Animation--yang katanya saingan berat Pixar, saking banyak banget ngeluarin film, gw termasuk orang yang hanya mengikuti "separuh" dari film-film mereka. Mungkin ini disebabkan dulu awal-awal, DreamWorks pernah mengeluarkan Shrek yang keren, tapi juga ngeluarin Shark Tale yang yaelah-gitu-amat. So yeah, gw suka sama masterpiece mereka seperti Kung Fu Panda dan How to Train Your Dragon, dan The Croods tahun lalu juga oke banget, tapi jadi menghindari rilisan mereka yang gw prasangkakan (which seharusnya tidak boleh dilakukan seorang pecinta film *whatever*) cuma buat lucu-lucuan doang. Contohlah Madagascar, Monsters vs Aliens, Megamind, sampe Turbo tahun lalu, apalagi review-review yang gw percaya nggak ada yang bilang mereka "great". Mr. Peabody & Sherman mungkin adalah satu "kecolongan" gw. Ini film yang cukup mahal ternyata, dan cukup ambisius juga, tapi buat gw ini bukan pula karya great dari DreamWorks.

Apa ya...? Filmnya lucu sih lucu, gambarnya juga alus enak diliat, tapi ya udah gitu aja. Menarik sih dengan cerita tentang anjing jenius dan anak manusia berpetualang ke peristiwa-peristiwa penting di masa lalu untuk belajar sejarah secara langsung, bahkan jadi ikrib beut sama Leonardo Da Vinci di abad ke-16. It's suppose to be interesting, dan memang demikian. Cuma buat gw film ini mulai kehilangan arah di--istilahnya--third act, walaupun gw ngerti itu disengaja supaya ramai dan seru dan semua orang nimbrung di satu tempat dalam waktu bersamaan dan melakukan hal-hal absurd. Atau bahkan mungkin sudah kehilangan sejak first act, karena gw tidak melihat kelebihan dari ikatan ayah-anak (angkat) dari Mr. Peabody dan Sherman yang beda spesies itu. Emotional impact-nya hampir nggak ada, dan udah gitu aja.

Tapi kalau cuma cari lucu, ya filmnya emang lucu. Beberapa joke-nya mungkin terlalu pintar--seperti kepintaran Mr. Peabody--tetapi beberapa parodinya sukses bikin gw nyengir, seperti Mr. Peabody yang terlalu pintar untuk berperilaku layaknya "good dog", atau gayanya Da Vinci yang bertengkar dengan si model lukisan Monalisa. Dan visualnya menyegarkan mata, dengan beberapa setting yang dirancang oke, seperti New York modern, Paris zaman Louis XVI, Mesir Kuno, Italia zaman renaisans, sampai Troya. Beberapa selipan pengetahuannya pun menurut gw cukup menarik dan bisa jadi merangsang anak-anak untuk menambah pengetahuan sejarah dunia (kecuali orang tuanya agak-agak anti-Barat dan menolak tulisan sejarah "versi kapitalis" =p). Too bad, sisanya lemah, kebanyakan tetek bengek parodi dan cameo kali ya--which is bukan alasan juga sih jika melihat The Lego Movie bisa mengaturnya dengan baik.



My score: 6,5/10

Selasa, 18 Maret 2014

[Movie] Her (2013)


Her
(2013 - Panorama Media/Annapurna/Warner Bros.)

Written & Directed by Spike Jonze
Produced by Megan Ellison, Vincent Landay, Spike Jonze
Cast: Joaquin Phoenix, Scarlett Johansson, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde, Chris Pratt, Matt Letscher


Jika hal-hal yang sekarang dianggap hipster kemudian jadi mainstream, mungkin keadaannya seperti di film Her. Well, Her yang katanya bersetting Los Angeles tahun 2025, digambarkan punya teknologi sedikit lebih canggih dari yang ada sekarang. Tetapi, segala kecanggihan itu didesain seolah-olah masyarakat saat itu merindukan hal-hal masa lampau. Misalkan pekerjaan Theodore (Joaquin Phoenix) sebagai juru tulis surat bagi orang lain. Teknologinya sih canggih, apapun yang dikatakan Theodore dapat ditangkap komputer menjadi bentuk tulisan. Tetapi, hasilnya tuh back to basic: komputer akan mencetak kata-kata itu dalam bentuk kertas surat dengan (seolah-olah) tulisan tangan orang yang diwakili Theodore. Dan dikirim via pos. Kurang hipster apa coba? Belum lagi gw memperhatikan fashion-nya yang sama sekali tidak futuristis, bahwa ternyata di masa depan orang-orang pake celana seperut ala Jojon lagi. Atau bentuk gadget/handphone yang seperti kotak set obeng, tidak terlihat techno sama sekali. Demikian juga, segala perintah nggak pakai visual atau sentuh, tetapi pakai suara. Mau baca SMS, atau e-mail, tinggal bilang "bacain" dan suara sistem operasi gadget-nya akan membacakannya buat kita. 

Looks convenient. Tetapi dipikir-pikir, jika semua orang melakukan itu, berarti semua orang bakal ngomong sendiri masing-masing dengan benda mati tanpa interaksi dengan orang lain. Eits, jangan sedih, sebuah perusahaan punya solusi untuk itu: membuat sistem operasi dengan artificial intelligence. Agak rumit kalau menjelaskan ini, tetapi anggak saja bahwa sistem operasi (macam Windows atau Apple) tersebut punya kemampuan seperti otak manusia: dapat berpikir, dapat belajar, bisa berpendapat, punya kemauan, punya kesukaan, punya perasaan, bahkan punya kemampuan mencipta. Ibaratnya, ia hidup, walau sebatas di dunia maya. Theodore memakai sistem operasi yang disebut OS1 ini, dan OS1 yang ia install bersuara perempuan bernama Samantha (Scarlett Johansson). Karena Samantha itu seperti hidup--dan mungkin karena suaranya serak-serak mendesah gitu--Theodore merasa cocok, bahkan mereka berdua saling mengerti, dan saling mencintai. Ibarat hubungan long distance relationship yang hanya terhubung lewat telepon, tetapi pihak sananya bukan orang, bahkan nggak punya wujud. And yes, they're able to "have sex".

Dari gambaran itu aja, Her bermain-main di batas antara film unik dan film aneh. Orang kok jatuh cinta sama mesin. Tetapi, itu bukanlah hal baru, banyak film yang punya premis demikian. Mungkin yang paling dekat dengan Her adalah manga dan anime Chobits, tentang personal computer (PC) yang berbentuk manusia (yang tombol on-nya di bagian anu), yang salah satu PC-nya punya intelligence yang canggih mirip manusia, bahkan di luar manusia. Tetapi, at least di Chobits, si mesin ada wujudnya, bisa digitu-gituin kalau memang niat begituan *apalah*. Di Her, si Samantha cuma ada suaranya. So weird. Tetapi, Spike Jonze tidak mau ambil pusing soal itu. Her tetap berjalan sebagai kisah romantis dari sebuah unlikely couple. Bisa-bisanya, buat gw, film ini terlihat sweet meski dengan segala keganjilan itu, dan itulah letak briliannya. Salah satu adegan yang merepresentasikan itu semua adalah ketika Samantha menggunakan "avatar" untuk bercumbu dengan Theodore. Aneh, geli, tetapi gw ngerti motivasinya. Brilliant scene.

Namun, seperti kemampuan Samantha yang terus ter-upgrade, film ini pun berjalan lebih dari soal hubungan asmara. Pada satu titik, mungkin ini terlalu berat, yaitu ketika film ini mengarah ke persoalan eksistensi *eaa* *keluarin modul Dasar-Dasar Filsafat*. Dan pada saat itu, pertanyaan yang sesungguhnya sudah merongrong dari awal, "apakah Samantha benar-benar punya perasaan atau itu hanya respons dari 'perintah' Theodore saja?", kembali muncul ke permukaan. Tetapi, lagi-lagi, Spike Jonze tidak mau tenggelam dalam hal itu, ia hanya mau menyelami soal perasaan itu sendiri, tentang senang dan sedih, tentang cinta dan sakit hati, entah itu dengan manusia atau dengan apapun. Dengan caranya sendiri, menurut gw film ini tetap brilian. Mungkin tidak serta merta timbul perasaan senang berbunga-bunga saat menontonnya--apalagi mood filmnya cenderung sendu, bisa jadi yang timbul malah bingung. Tapi dengan segala lapisan yang ditawarkan, dari soal masyarakat, teknologi, sampai yang rada berat filosofis, film ini seperti terus terngiang di pikiran gw. Intinya gw sukalah filmnya =).




My score: 8/10

Senin, 17 Maret 2014

[Movie] 12 Years a Slave (2013)


12 Years a Slave
(2013 - Summit Entertainment/Regency Enterprises/River Road Entertainment/Fox Searchlight)

Directed by Steve McQueen
Screenplay by John Ridley
Based on the book "Twelve Years a Slave" by Solomon Northup
Produced by Brad Pitt, Dede Gardner, Anthony Katagas, Jeremy Kleiner, Arnon Milchan, Bill Pohlad, Steve McQueen
Cast: Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Paul Dano, Sarah Paulson, Lupita Nyong'o, Garret Dillahunt, Adepero Oduye, Paul Giamatti, Brad Pitt, Alfre Woodard, Kelsey Scott


Setelah menonton 12 Years a Slave, gw langsung mengategorikan film ini bersama-sama dengan The King's Speech, Million Dollar Baby, The Departed, A Beautiful Mind, Shakespeare in Love, bahkan Titanic. Yang gw sebut tadi hampir nggak punya persamaan selain menang Best Picture di Oscar, tetapi semuanya adalah contoh-contoh film dramatik yang mungkin nggak gw niatkan untuk nonton, tetapi sekalinya udah nonton, gw bakal terusin sampe abis. Seperti lagi gonta-ganti channel di TV terus tiba-tiba stuck sama film yang lagi diputar di salah satunya. It's a good thing. Walau memang ada kalanya nggak jadi favorit ke depannya (*uhuk* The Departed *uhuk* Million Dollar Baby), setidaknya dalam jangka waktu beberapa jam itu gw sudah sempat terbuai di dalamnya. Bukan tipe yang mendorong gw segera ke bioskop (seandainya nggak tersiar berita film bersangkutan menang award-award-an besar), tapi gw tetep merasa lucky pernah menontonnya.

Jadi, yah, buat gw 12 Years a Slave adalah film semacam itu. Temanya penting, penuturannya captivating, aktingnya ciamik, penataan adegannya juga sinting, tetapi so far belum sampai jadi favorit. Tema perbudakan di tanah Amerika Serikat sudah sering sekali diangkat, dan intinya adalah orang-orang Amerika sekarang melihat kembali betapa bodohnya praktek perbudakan itu. Tahun lalu, kita sudah diperkenalkan tentang tema ini oleh film Lincoln yang menekankan pentingnya perbudakan dihapuskan, tetapi buat gw film Django Unchained adalah yang benar-benar bikin gw ngilu sama yang namanya perbudakan, sekalipun kemasan filmnya memang nggak historis. 12 Years a Slave menampilkan adegan-adegan sadis juga, tetapi buat gw sensasi yang dibikin Django Unchained lebih membekas, entah kenapa.

12 Years a Slave sendiri lebih bertutur sebagai film biografi Solomon Northup, berdasarkan pengalamannya dijadikan budak selama 12 tahun di seputaran negara bagian Lousiana, dari tahun 1841. Solomon (Chiwetel Ejiofor), seorang pemain musik berkulit hitam, beruntung terlahir merdeka dan tinggal di negara bagian New York yang memperbolehkan orang kulit hitam hidup layaknya orang kulit putih, walaupun dia tetap harus punya "surat keterangan bukan budak". Pada saat itu ada semacam modus kriminal oknum-oknum yang keliling mencari orang-orang kulit hitam merdeka, menculiknya lalu menjualnya sebagai budak di negara-negara bagian yang mempraktekan perbudakan. Solomon kena saat istri dan anak-anaknya sedang keluar kota. Ia terpaksa menjalani hidup sebagai budak, berpindah-pindah majikan, kena siksaan layaknya hewan tunggangan, dengan identitas dan backstory palsu yang dipaksakan oleh para makelar budak, dan menyembunyikan kenyataan bahwa ia terpelajar. Karena, di daerah South saat itu, orang kulit hitam yang terdidik dianggap menyalahi kodrat, mereka harus tetap bodoh supaya tetap bisa nurut dan dieksploitasi. Yang menyalahi kodrat harus disingkirkan (hmm...sounds familiar, kayak masih terjadi di sekitar kita sekarang *eaak*). Dilema, kalau nurut akan dilecehkan, kalau membangkang akan dihabisi. Solomon memutuskan untuk bertahan hidup, memainkan perannya sebagai budak sampai kesempatan untuk bebas itu datang, sekalipun tampak mustahil.

Kalau mau digambarkan, 12 Years a Slave "hanyalah" film yang menggambarkan detil pengalaman dan perjalanan Solomon itu. Kita bakal melihat tokoh-tokoh datang (dan dimainkan oleh aktor terkenal) dan pergi begitu saja, almost like The Butler kemarin, karena memang sudah fix kita ngikutin perjalanan Solomon seorang. Setiap titik perjalanan ada cerita yang membentuk dan mempergaruhi seorang Solomon, tetapi yang paling intensif adalah saat ia kerja buat Edwin Epps (Michael Fassbender) karena mungkin Solomon kerja paling lama sama dia. Epps adalah majikan kejam terhadap orang kulit hitam tetapi punya "perhatian khusus" terhadap Patsey (Lupita Nyong'o), budak wanita muda yang polos. Ini episode yang menarik, tapi in the end kisah dua orang ini tetap hanyalah bagian dari journey seorang Solomon, mereka juga akan ditinggalkan begitu saja. Satu sisi itu acceptable karena memang diambil dari sisi pandang Solomon, di sisi lain mungkin ada yang tidak puas karena kayak nggak selesai. Tetapi, mungkin itu memperlambangkan keadaan perbudakan kala itu, ketika posisi orang berkulit hitam tetap di bawah dan selalu dikalahkan, bahkan akan tersingkir dari catatan sejarah.

Anyhow, 12 Years a Slave menurut gw adalah film yang bagus, tapi istilahnya tuh "nggak sebegitunya ke gw". Hampir tidak ada yang baru dari tema ataupun susunan penceritaan, yang baru mungkin adalah pembangunan karakter dan beberapa penataan adegan yang bold, bisa jadi karena sutradaranya orang Inggris jadi agak beda dari gaya Hollywood. Gw kagum dengan beberapa adegan yang dibikin one-take-shot serta beberapa adegan penyiksaan yang choreographed dengan rapi tapi gamblang dan punya efek "anjrit" (baca: adegan Patsey dilempar botol kristal Whisky). Kelebihan-kelebihan itu yang bakal membuat gw nggak bakal lupa sama film ini begitu aja. Tapi, ada juga sih kekurangan yang bakal membuat gw nggak bakal lupa juga sama film ini: aksennya Brad Pitt. Katanya jadi orang Kanada, kok aksennya jadi Southern sama persis kayak peran doi di Inglourious Basterds? What the hell, man? Salah film?



My score: 8/10

Sabtu, 08 Maret 2014

My J-Pop 45

Hai, sudah lama tidak bersua di postingan My J-Pop, *cek tanggal postingan My J-Pop terakhir*, cuma 9 bulan ajah =P. Iya nih, dengan kesibukan baru gw, selain review film jadi telat-telat, wawasan per-J-pop-an gw juga makin menurun...gw khawatir My J-Pop akan hilang sama sekali! *aaaaaaakkk*. No, no, no. Gw usahakan akan tetap ada, walaupun mungkin frekuensinya nggak bakal sesering dulu. Doakan saja mudah-mudahan blantika J-Pop di tahun ini lebih menggeliat dengan karya-karya yang enak (a.k.a. selera gw) ya, supaya gw bikin My J-Pop-nya juga semakin cepet.


Anyway, gw berhasil mengumpulkan 18 lagu J-Pop terenak menurut gw dari sejak bulan Juni tahun lalu (yup) sampai kira-kira Januari 2014. Kali ini banyak artis-artis baru seperti Rina Katahira, Aoi Yamazaki, Hazzie, Kerakera, SAKANAMON, Hideyuki Kuronuma, dan J-Pop's new sensation Leo Ieiri. Tapi di antara semua, gw lagi suka banget lagunya Czecho No Republic, coba dengerin deh. 

Artis lamanya masih ada, ada single comeback-nya Kobukuro setelah si Shunsuke Kuroda-nya rehat karena sakit apa gitu. Coincidently ada juga single comeback dari Gen Hoshino yang juga sempet rehat karena sakit lumayan parah. Lagunya soundtrack dari film karya Sion Sono, Why Don't You Play in Hell?, yang dibintangi sama Hoshino juga. Oh, and that lovely song from Fumido yang juga jadi salah satu lagu J-Pop favorit gw tahun 2013 kemarin.

And so, inilah 18 lagu J-Pop rekomendasi "terbaru" gw (kasih tanda kutip karena telat =p). Seperti biasa, kalau mau cari lagunya...yah, antara beli di Jepang langsung, beli di iTunes, atau keep on Googlin'. Jangan minta sama gw *pelit*.


My J-Pop 45

1. コブクロ (Kobukuro) - One Song From Two Hearts
2. Superfly - Bi-Li-Li Emotion
3. いきものがかり - 笑顔 (Ikimonogakari - Egao)
4. Czecho No Republic - MUSIC
5. 片平里菜 - 夏の夜 (Rina Katahira - Natsu no yoru)
6. TEE - 煙火-enka-
7. 平井 堅 - 桔梗が丘 (Ken Hirai - Kikyougaoka)
8. 山崎あおい - 夏海 (Aoi Yamazaki - Natsumi)
9. ハジ→ (Hazzie) - for YOU。
10. 星野源 - 地獄でなぜ悪い (Gen Hoshino - Jigoku de naze warui)
11. くるり (Quruli) - Remember me (wien mix)
12. ケラケラ - 友達のフリ (Kerakera - Tomodachi no furi)
13. SAKANAMON - 花色の美少女 (Hanairo no bishoujo)
14. 黒沼英之 - パラダイス (Hideyuki Kuronuma - Paradise)
15. 家入レオ - 太陽の女神 (Leo Ieiri - Taiyou no megami)
16. D.W.ニコルズ - ありがとう (D.W. Nicols - Arigatou)
17. 秦 基博 - スプリングハズカム (Hata Motohiro - Spring Has Come)
18. 風味堂 - 足跡の彼方へ (Fumido - Ashiato no kanata e)

See the previews below:


Selasa, 04 Maret 2014

WINNERS of the 86th Annual Academy Awards


Perhelatan Oscar tahun 2014 sudah berlangsung kemarin, dan kini saatnya mengoreksi tebakan gw tempo hari. Berikut ini adalah daftar lengkap pemenangnya, yang gw kasih tanda O artinya tebakan gw benar, dan X artinya salah. Huft *sedih*.


Sabtu, 01 Maret 2014

[Movie] Street Society (2014)


Street Society
(2014 - Ewis Pictures)

Directed by Awi Suryadi
Written by Agasyah Karim, Khalid Kashogi
Produced by Eryck Wowor, Irwan Santoso
Cast: Marcel Chandrawinata, Chelsea Elizabeth Islan, Edward Gunawan, Edward Akbar, Daniel Topan, Ferry Salim, Yogie Tan, Kelly Tandiono, Marcellino Lefrandt, Wulan Guritno


Langsung saja, gw agak bermasalah sama film Street Society ini. Bukan masalah promonya yang mengesankan ini seperti Fast & Furious, bahkan sebenarnya masalahnya bukan pada filmnya. Masalahnya ada di gw. Mungkin dalam diri gw masih kental mental miskin dan terjajah, yang setiap lihat rumah gede langsung mikir "gimana ngepelnya?", atau lihat rumah bagus-bagus di pinggir pantai langsung kebayang "jemurannya bakal kena pasir terus dong". Jelas, gw bukan target utama dari film ini. Film yang orang-orangnya punya mobil impor milyaran berapa biji di rumahnya dan bisa enak aja dikasih ke orang lain, atau beli di hari yang sama saat baru datang ke showroom. Belum ditambah jadwal rutin fitness, clubbing and drinking, rapat doang di luar negeri, kapal yacht...itu mah biasaaaa hari-hari aja buat mereka. Btw, itu yang milyaran harga mobilnya doang lho, belum bea impor dan pajaknya yang konon 100% harga jual *tuh kan gw mikirnya kayak gitu lagi*.

Problema hidup para tokoh di Street Society bukan lagi soal macet, banjir, jalan bolong, polisi tidur, atau diincar "tilang" polantas. Bagaikan tribute atas sinetron-sinetron produksi Multivision Plus di tahun 1990-an, permasalahan mereka muter-muter di cinta dan dendam...ya antar mereka-mereka juga. Ada si playboy (tajir) bermobil superkeren dan selalu menang tantangan balapan liar, Rio (Marcel Chandrawinata)--abaikan namanya yang kayak mobil keluraran KIA--jatuh cinta sama Karina (Chelsea Elizabeth Islan), cewek jual mahal yang berhasil membuat Rio berniat berhenti hobi balapan liar dan gonta-ganti cewek--yang selalu dikasih suvenir sikat gigi dan handuk tiap diboyong ke kamar. Btw, Karina itu DJ dari luar negeri. Ya kayak di sinetron kita dulu, kalau nggak kaya ya lulusan luar negeri. Tapi keduanya kemudian bersentuhan dengan anak-anak mafia (tajir juga, duh) dan saling ancam mengancam gitu deh. Dan in a way semuanya nanti berhubungan dengan adu cepat mobil-mobil mahal mereka.

Okelah, gw masih permisif sama plotnya. Biarpun sinetron bangeuutz, tapi kalau memang rata-rata kehidupan kaum sugih memang layaknya sinetron, gw mau bilang apa. Sebagaimana Raam Punjabi dulu bilang bahwa kemewahan yang ditampilkan di sinetron-sinetronnya itu mewakili kenyataan yang memang ada di negeri kita, gw mah percaya aja =p. Daripada suruh milih kisah pejabat yang bagi-bagi mobil mewah ke artis-artis atau kisah Syahrini touring ke Bandung pake Lamborghini, kisah ala sinetron adalah pilihan yang paling nggak bikin ilfil. Tapi, ketidanyamanan gw menyaksikan film ini diperparah dengan akting yang, well, tribute ke sinetron juga: satu sisi ada yang awkward, sisi lain ada yang lebay. I mean, kenapa si pemeran Yopie *a very Manado/Ambon name, btw* harus meniru Reza Rahadian jadi Habibie? Dan sementara, kenapa partner-in-crime-nya tiba-tiba punya pembawaan kayak Rita Repulsa? Kenapa makan pancake pake saos tomat (!) harus diteriakkan? Kenapa gitu si sidekick yang mostly cuma jadi montir "kebetulan" namanya Monty tanpa 'r'? Is this a joke?

Ketika sampai pada kata "joke", gw menyadari seketika bagaikan disambar petir di sinetron Dewi Fortuna, bahwa Street Society sebenarnya berpotensi jadi komedi. That explains the acting, the characterizations, juga menjelaskan kenapa ada adegan tentang kisah Yopie waktu masih SMP yang supercomical. It made sense. Hell, film ini bahkan bisa dirancang jadi satir layaknya Arisan!. Sayangnya, keseluruhan film tidak diarahkan jadi komedi, malah lama-lama jadi take itself too seriously, jadi nggak lucu. Padahal kalau lucu dan bawaannya light, pasti bakal lebih menghibur--menghibur gw maksudnya, tapi ya siapalah gw.

Adegan kebut-kebutannya menjadi satu-satunya yang bisa gw kagumi dari film ini, karena digarap dengan teknik yang sangat serius, dan hasilnya pun seru, walaupun mobilnya nggak ada yang nabrak atau ancur atau kejungkir atau meledak atau bahkan tergores (ingat! bea impor dan pajaknya 100%! At least mereka masih waras soal itu). Bahkan ramp gedung parkir ITC Cempaka Mas aja jadi kelihatan asik gitu. It's that good. Well, wajah Chelsea Islan juga bonus yang nggak perlu ditolaklah. Ingat, bukan filmnya salah, gw-nya aja sirik sama kekayaan orang lain, jadinya malah gerah sama parade kemewahan di layar. Yah, emang dasar sirik tanda ndak mampu aja. Kalau dipikir-pikir, apa sih salahnya pamer kekayaan, apalagi di film? Yang ngeliat juga seneng kok, makanya sinetron-sinetron Multivision dulu banyak yang nonton. Ingat, masalahnya ada di gw, yang mau nyicil motor matic buatan China juga masih mikir. Mending duitnya buat beli sikat gigi sama handuk.




My score: 5,5/10