Jumat, 28 Februari 2014

[Movie] RoboCop (2014)


RoboCop
(2014 - Columbia/MGM)

Directed by José Padilha
Screenplay by Joshue Zetumer
Based on 1987 film RoboCop, screenplay by Edward Neumeier, Michael Miner
Produced by Marc Abraham, Eric Newman
Cast: Joel Kinnaman, Gary Oldman, Michael Keaton, Abbie Cornish, Jackie Earle Haley, Michael K. Williams, Jennifer Ehle, Jay Baruchel, Marianne Jean-Baptiste, Samuel L. Jackson


Jujur deh, berapa banyak dari kamu yang berpikir bahwa RoboCop remake ini akan jadi dumb action film yang cuma seru di tembak-tembakan dan ledak-ledakan? Well. Bagi yang memang mengharapkan itu, maaf maaf saja. Sebaliknya, bagi yang tidak mengharapkan itu tapi sudah berprasangka filmnya bakal seperti itu, justru akan mendapat kejutan. Yes, RoboCop baru ini bukan film tembak-tembakan dan ledak-ledakan buat ketawa-ketawa. Setelah filmnya usai, gw yakin sebagian akan bingung--karena maunya have fun kok malah enggak =p--, dan sebagian lagi mungkin akan merenung dan mungkin tersenyum simpul karena film ini tidak segitunya mencemarkan nama baik RoboCop. It could be a good thing or a bad thing, depends on your expectation. Nah, buat gw sih beratnya lebih ke positif, tapi tetep ada tapinya. We'll get to that later.

Ketimbang tentang kemunculan RoboCop yang jadi superhero dan membasmi seorang villain, RoboCop garapan José Padilha ini kentara sekali benar-benar menekankan "kelahiran kembali" seorang Alex Murphy (Joel Kinnaman) menjadi RoboCop, dengan perlahan-lahan. Film dibuka dengan keadaan dunia tahun 2028, sebuah perusahaan teknologi OmniCorp yang berbasis di kota industri Amerika, Detroit berhasil menciptakan prajurit robot "penjaga perdamaian" di negara-negara konflik, menggantikan tentara AS. Tapi, di tanah AS sendiri, pemakaian robot ini masih dilarang oleh undang-undang, sebagian besar rakyat tidak ingin penegakan hukum di AS dilakukan oleh mesin tak berhati-nurani. Di sisi lain, seorang detektif polisi, Alex Murphy bersama partnernya Jack Lewis (Michael K. Williams) mencium adanya kolusi oknum-oknum polisi dengan mafia narkotika. Penyelidikan itu berbuah maut: Lewis tertembak dan luka parah, sedangkan Murphy kena ledakan yang ditanam di mobilnya, mengakibatkan tubuhnya lumpuh nyaris seluruhnya. Lalu OmniCorp dan Murphy pun saling berjodoh *cieee*. 

CEO OmniCorp, Raymond Sellard (Michael Keaton) menggagas sebuah jalan agar robot-robot ciptaannya dapat diterima oleh rakyat AS, yaitu menggabungkannya dengan manusia. Sellars pun memanggil Dr. Dennett Norton (Gary Oldman) untuk membasmi virus di komputernya....ya enggak lah *itu mah Norton AntiVirus*. Sellars ingin agar Norton mengembangkan teknologi penggabungan manusia dan robot yang lebih canggih, mengingat Norton itu ahli membuat anggota tubuh sintetis/robotis buat penyandang tuna daksa. Dan, berkat Norton, Murphy kini--kecuali kepalanya--punya tubuh baru, tapi semuanya robot, lengkap dengan segala program, fitur, dan perlengkapan untuk fungsinya sebagai seorang polisi. Penyesuaian demi penyesuaian harus dilakukan agar Murphy menjadi polisi robot yang kuat dan efektif, juga penyesuaian dengan keluarganya yang tentunya tak mudah menerima keadaan Murphy saat ini.

Gw tidak menyangka bahwa film RoboCop remake ini akan benar-benar mengangkat ketokohan Alex Murphy/RoboCop dalam porsi yang besar, dan dengan cara yang telaten, tahap demi tahap disampaikan agar penonton memahami betul apa yang dirasakan oleh Murphy, juga apa pengaruhnya bagi sekitarnya. Segala sesuatu dibuat jelas sebab-akibatnya, termasuk kenapa tubuh RoboCop dari abu-abu metalik *istilah ala STNK* berubah ke hitam. Ditambah lagi, film ini juga kental mengangkat politik, mulai dari penggiringan opini publik di media *ciailah*, kerakusan korporasi, korupsi aparat negara, dan lain sebagainya. Gw sih berani bilang bahwa RoboCop ini ternyata berat juga kontennya. Belum lagi gw bahas tentang detail artificial intelligence yang mengendalikan otak Murphy, dan bagaimana ada satu faktor dalam diri Murphy yang tak diperhitungkan oleh sains dapat meng-override apa pun yang diprogramkannya. Oke...sampai di sini gw cukup berani bilang film ini agak ribet, hehe. Di satu sisi, nggak masalah, setidaknya film ini tidak jatuh jadi film action full visual effects yang nggak ada isinya. Toh kita sudah pernah lihat The Dark Knight (ada Gary Oldman-nya juga) yang punya konten mirip meski dalam "kamuflase" sebagai film superhero komik full action, dan fine-fine aja.

Tapiiii *ini nih tapinya*, José Padilha itu bukan Christopher Nolan. Gw bisa membaca (beberapa) message yang mau disampaikannya, tetapi Padilha tidak terlalu lincah bercerita, setidaknya menurut gw. Buat gw, jalan film ini sangat, terlalu telaten. Bahkan gw merasa capek mengikuti film ini sejak babak perkenalannya di awal yang menurut gw cukup melelahkan. Jadinya, gw jadi kurang merasa enjoy dengan keseluruhan filmnya, berasa lama, apalagi kontennya yang ternyata lumayan berat itu. Menurut gw, film ini kurang dapat mengimbangi "konten berat" dengan unsur fun. Tapi reaksi gw ini mungkin berangkat dari ekspektasi yang meleset juga sih. Gw kira filmnya dar-der-dor seru, ternyata itunya justru nggak banyak. Yang timbul di batin gw malah "wah, gini amat filmnya". Ya nggak papa lah, itu justru menyelamatkan film ini dari cap dumb action flick. Gw setidaknya dapat terhibur dengan penampilan salah satu aktor favorit gw, Jackie Earle Haley sebagai pelatih militer botak Rick Mattox yang selalu berkesan dan berkarakter kuat meskipun kemunculannya nggak banyak. Go, Rorschach! *salah film*.




My score: 7/10

Selasa, 25 Februari 2014

Tebak-Tebakan Pemenang 86th Academy Awards

Kembali lagi dalam suasana awards season, yang kali ini cukup panjang karena perhelatan Oscar-nya diundur satu minggu sedangkan ajang-ajang pras-Oscar-nya dimajuin ke Januari semua--gara-gara ada Olimpiade Musim Dingin 2014 di Sochi, Rusia. Artinya, kembali lagi gw akan mencoba menebak para pemenang Oscar, dan memecahkan rekor terbanyak gw yang baru bisa benar 66% (16 dari 24) di tahun 2009.

Awards season 2014 ini bisa dibilang cukup seru, kalau tidak mau disebut menyebalkan. Tidak ada cara-cara konvensional yang memudahkan gw untuk menebak pemenang Oscar. Yang bikin kesel adalah Producers Guild of America (PGA) Awards yang seenaknya aja ngasih piala tertinggi Outsanding Motion Picture sama dua pemenang sekaligus, Gravity dan 12 Years a Slave. Kalau yang menang cuma Gravity, misalnya, akan lebih gampang nebaknya, apalagi Gravity juga menang Outsanding Director di Directors Guild of America (DGA) Awards. Biasanya DGA Award bisa jadi acuan akurat buat Oscar untuk Best Directing. Bisa buat Best Picture juga bila didukung oleh kemenangan di PGA...well, not anymore! *kesel* 


Baiklah daripada kelamaan, mari sini gw jabarkan tebakan gw untuk pemenang Oscar tahun ini. Nggak yakin sih, tapi ya sudahlah. Untuk nominasi lengkapnya, bisa dicek di situs resmi Oscar.


Senin, 24 Februari 2014

[Movie] The Lego Movie (2014)


The Lego Movie
(2014 - Warner Bros.)

Directed by Phil Lord & Christopher Miller
Screenplay by Phil Lord & Christopher Miller
Story by Dan Hageman, Kevin Hageman, Phil Lord, Christopher Miller
Produced by Roy Lee, Dan Lin
Cast: Chris Pratt, Elizabeth Banks, Will Ferrell, Will Arnett, Morgan Freeman, Liam Neeson, Charlie Day, Alison Brie, Nick Offerman


Honestly, waktu pertama kali lihat teaser-nya sekitar setahun yang lalu, gw kira The Lego Movie itu cuma film-film-an, atau bahkan itu cuma trailer-trailer-an. Eh, ternyata ini emang film beneran, yang dibuat oleh studio yang beneran juga. Lego come to life! Gw dulu emang bukan termasuk anak yang tumbuh dengan mainan balok-balokan asal Denmark ini, tapi emang pernah main mainan yang sejenis (mungkin KW). Poin utama dari mainan ini adalah membiarkan gw bikin apa aja yang gw pengenin, entah istana, kereta, pesawat, atau robot-robotan, yang dibangun dari susunan balok yang itu-itu juga. Bentuknya ya jelas nggak mirip, but that ain't the point, right? Namanya juga anak-anak, yang bermain adalah imajinasinya, bukan semata-mata fisiknya doang. Dan gw senang sekali The Lego Movie benar-benar meng-embrace "prinsip bermain Lego" itu dalam ceritanya. Contoh jelasnya adalah beberapa tokohnya--berwujud orang-orangan Lego--disebut sebagai Master Builder yang dapat membangun apapun yang mereka suka dari balok-balok yang ada di sekitar mereka, sekreatif dan seabsurd apapun itu, dan pasti langsung berfungsi.

The Lego Movie ini memakai template kisah seorang biasa yang terlibat dalam petualangan luar biasa yang menyangkut keselamatan dunia. Dan pake ramalan tentang "orang terpilih", of course. Kita ketemu Emmet (Chris Pratt) yang seorang pekerja bangunan biasa, yang tanpa sengaja menemukan Piece of the Resistance, sebuah benda istimewa yang dapat menghalangi rencana jahat Lord Business (Will Ferrell), pemimpin korporasi Octan untuk mengubah seluruh dunia Lego. Emmet dibawa oleh Wyldstyle (Elizabeth Banks) untuk bertemu para Master Builder (yang terdiri dari Batman, Superman, Wonder Woman, Gandalf, Abraham Lincoln, you name them they're all here =D), karena Emmet dikira adalah "orang terpilih" sesuai ramalan penyihir bijak Vitruvius (Morgan Freeman). Sayangnya, Emmet bukanlah orang yang dikira, karena boro-boro "orang terpilih", dia juga bukan Master Builder, nggak mampu membuat sesuatu tanpa instruksi atau contoh. Tetapi, sudah tidak ada waktu lagi, karena sang polisi berkepribadian ganda (Liam Neeson) suruhan Lord Business sudah mengejar Emmet dan seluruh Master Builder untuk merebut Piece of the Resistance. Lalu mereka ketemu beberapa tokoh Star Wars, bajak laut, dan lain-lain. Intinya, ini seperti isi kepala anak-anak ketika bermain Lego, campuradukin aja semua =D.

Ketika gw senang dengan aspek "sadar diri" akan prinsip mainan Lego, ternyata The Lego Movie menawarkan lebih banyak hal lagi yang membuatnya bukan sekadar film adaptasi buat jualan aja. Pertama-tama, film ini punya humor yang sangat oke...well, mungkin buat gw, karena penuh dengan ledek sana-sini dalam ritme yang cepat--i love that. Mulai dari perkenalan tokoh Emmet dan Lego City yang komikal tapi juga satirikal (lagu pop yang diulang-ulang dan dinyanyikan semua orang, sapa sana sini tanpa benar-benar kenal, kopi centil kemahalan), perusahaan Octan yang serba berkuasa bahkan ke penulisan buku sejarah, nama Wyldstyle, sampai karakterisasi Batman (Will Arnett) yang sok iyeh banget. Tetapi yang bener-bener bull's eye buat gw adalah ke-keukeuh-an pembuat film ini agar tampilan visualnya (seakan) semuanya terbuat dari balok dan benda-benda Lego. Animasinya sih CGI, tapi dibuat sengaja kayak stop-motion dari Lego. Bukan cuma bangunan dan kendaraan, tapi juga air, asap, laser, bahkan api. Animasi api di helm jet-nya Lord Business just cracked me up XD.

Tapi masih ada lagi, yaitu lapisan hati dari cerita dan karakterisasinya. Mungkin secara plot terkesan udah sering diangkat (khususnya animasi), tetapi di balik segala haha-hihi, sejak awal film ini bisa menampilkan emosi. Misalnya Emmet yang ternyata saking average-nya sampe nggak diinget sama semua orang yang setiap hari bertemu dengannya, ia sedih tetapi enggan menunjukkannya karena sudah telanjur "dilatih" untuk ceria. Juga bagaimana film ini, menyampaikan "dilema" antara kemapanan yang identik dengan kedewasaan vs kreativitas yang kerap dianggap mengacaukan, atau tetap di zona nyaman vs mencoba mengembangkan diri. Atau dilema lagu pop pasaran yang disukai semua orang vs lagu hipster yang nada dan iramanya nggak jelas tapi dianggap "important" dan "real music" =D. Pernah menyangka bahwa nilai-nilai itu bisa dibikin lewat balok Lego?

The Lego Movie tampak ingar bingar, warna warni, dan serba lucu, tetapi nggak berantakan, juga nggak meninggalkan lapisan emosinya. Sebuah tontonan yang pas baik untuk anak-anak ataupun yang dewasa (kalau cocok sama humornya). Oh, btw, adegan penutup-nya epic banget.




My score: 8/10

Sabtu, 22 Februari 2014

[Movie] Killers (2014)


Killers
(2014 - Nikkatsu/Guerilla Merah Films/XYZ Films)

Directed by The Mo Brothers
Written by Timo Tjahjanto, Takuji Ushiyama
Produced by Yoshinori Chiba, Kimo Stamboel, Shinjiro Nishimura, Takuji Ushiyama, Timo Tjahjanto
Cast: Kazuki Kitamura, Oka Antara, Rin Takanashi, Luna Maya, Ray Sahetapy, Epy Kusnandar, Ersya Aurelia, Mei Kurokawa, Dimas Argobie


Mendengar proyek film Killers ini, gw cukup excited. Ini sebuah film kolaborasi Jepang-Indonesia--bukan sekadar numpang syuting ye--dan digarap oleh The Mo Brothers, yang sebelumnya sukses dengan horor slasher Rumah Dara. I think Rumah Dara is a good movie, atau setidaknya a very well-made one, dan menjadi salah satu film Indonesia era milenium yang paling ikonik, setidaknya di genre-nya. Dan komentar barusan datang dari seseorang yang nggak suka nonton horor *nunjuk idung sendiri*. Setelah karya yang terbilang sukses, tentu ekspektasi tinggi untuk karya selanjutnya tak terelakkan. Tetapi, ketimbang bikin perulangan, Mo Brothers yang terdiri dari TiMO Tjahjanto dan KiMO Stamboel ini (yep, they're not actually brothers, fyi. Certainly not related to Agnez Mo) justru bikin sesuatu yang cukup berbeda di film panjang keduanya. Kalau Rumah Dara itu gore galore, Killers mungkin hanya memuat separuh dari unsur tersebut.

Premis Killers memang terdengar cukup sakit. Di Tokyo, ada seorang pria Jepang (Nomura, diperankan Kazuki Kitamura) yang gemar membunuhi wanita, merekam detik-detik kematiannya dalam video--dan dia punya alat editing yang oke *sirik*, lalu meng-upload-nya di sebuah situs mirip YouTube versi lebih sakit jiwa. Lalu jauh di Jakarta, ada seorang wartawan (Bayu, diperankan Oka Antara) yang hidupnya kacau balau akibat terintimidasi oleh politikus korup, dan ketika bapak-bapak muda seusianya diam-diam suka nonton bokep di internet, Bayu justru diam-diam gemar menyaksikan video-video yang di-upload Nomura. Somehow, hal ini akan mempengaruhi mereka berdua.

Sekali lagi gw bilang, jangan samakan Killers dengan Rumah Dara. Rumah Dara itu adalah horor tembak langsung. Killers adalah jenis film yang...err...tidak mudah diserap dengan segera, apalagi daya tangkap gw emang agak slow......se-slow laju filmnya, hehe. But, beberapa saat setelah selesai nonton, otak gw akhirnya sanggup memetakan apa yang terjadi dalam 2 jam 10-an menit durasi film ini. Dengan mengusung genre psychological thriller, Killers ini lebih ke karakter, khususnya dua karakter utamanya, Nomura dan Bayu, yang sama-sama killer, tetapi dengan jalan berbeda. Sedikit demi sedikit gw mendapat pencerahan tentang adegan demi adegan yang ditampilkan sepanjang film ini, setelah pas nontonnya gw masih meraba-raba apa maksud dan tujuan semuanya. 

Gw pun rasanya harus "memandang" film ini sebagai kisah dua karakter berbeda dengan plot berbeda. Nomura itu seorang pembunuh rutin yang, yah, pokoknya sakit aja. Harga yang ia harus bayar adalah ia akan selalu sendirian. Ia nggak bisa berteman dengan orang "normal", yang nggak tahu "indah"-nya menghabiskan nyawa orang lain. Tetapi ia kemudian melihat Hisae (Rin Takanashi), yang menaruh adik laki-lakinya yang autis di tengah jalan biar ketabrak--tapi nggak jadi. Nomura seakan melihat seorang teman dalam diri Hisae, seorang yang diam-diam punya naluri membunuh yang besar...demi kasih sayang (What? Yea, kayak gitulah).

Lalu ada kisah Bayu, sebuah kisah sudah jatuh tertimpa tangga with so many reasons to kill, sedikit banyak terpancing naluri pembunuhnya gara-gara hobi melihat video-video anuan. Gw bilang gitu karena si Bayu pun jadi ikutan meng-upload video orang-orang yang mati dibunuhnya. Sejak pembunuhan pertamanya yang tak disengaja, Bayu membiarkan berkembangnya insting untuk menghabisi orang-orang yang membuat hidupnya kacau, termasuk orang-orang dari politikus korup yang selalu mengintimidasinya. Tetapi, Bayu kurang memperhitungkan risiko bahwa orang-orang yang ia cintai juga bisa ikut terseret. You see, tindakannya Nomura dan Bayu itu sama, tapi motivasinya jauh berbeda.

Yang mengaitkan mereka ternyata nggak kalah menarik. Video-video Bayu mendapat perhatian dari Nomura. Again, gw pikir di sini Nomura seakan menemukan seorang teman, atau lebih parahnya lagi, seorang penerus. Nomura kemudian membimbing Bayu untuk meng-embrace naluri membunuhnya. Sedikit problem, Bayu itu depresi, bukan punya "kelainan" seperti Nomura, apa pun yang dilakukan Bayu tidak akan serapih Nomura. Naluri nggak tegaan pun muncul juga di Bayu, dan inilah yang bikin geram Nomura, sehingga ia meng-confront Bayu langsung (ini bukan spoiler ya, wong jelas-jelas aktor Jepangnya sempet ikutan syuting di Jakarta kok =p). 

Ide tentang membunuh karena pengen (dan karena "cinta") vs membunuh karena tekanan, juga soal kesendirian, soal setiap manusia punya potensi violent di mana pun lingkungannya, atau tentang susahnya cari temen yang sejalan sepikiran *hehe*, menurut gw adalah hal-hal yang paling mencuat dari film ini, bahkan lebih dari adegan-adegan sadis lumayan bikin ngilu yang ditampilkan. So, yea, gw suka dengan ide dan apa yang disampaikan film ini, tetapi not so much dengan cara penyampaiannya, mungkin terlalu moody buat gw. Akan tetapi, setidaknya Mo Brothers di sini lagi-lagi menunjukkan bahwa mereka sanggup merancang dan menata adegan-adegan dengan kualitas tinggi, termasuk menata akting para tokohnya. Gw seneng sekali dengan penampilan aktor-aktor Jepangnya yang tidak terlalu "film banget", berbeda dengan akting yang sering gw lihat di film-film atau sinetron-sinetron Jepang. Ini khususnya Kazuki Kitamura, yang dengan tampang "rada antagonis"-nya berhasil men-tone-down kegilaan tokoh Nomura dengan berperilaku dan berbicara senormal mungkin, sehingga tidak jatuh jadi komikal. Great performance.



My score: 7/10

Rabu, 12 Februari 2014

[Movie] 12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya (2014)


12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya
(2014 - Big Pictures/Cinevisi)

Directed by Hanny R. Saputra
Written by Oka Aurora
Produced by Cindy Sutedja, Regina Septapi
Cast: Titi Rajo Bintang, Amanda Sutanto, Hudri, Arum Sekarwangi, Verdi Solaiman, Didi Petet, Niniek L. Karim, Nobuyuki Suzuki, Olga Lydia, Egi Fedly


12 Menit: Kemenangan untuk Selamanya dipromosikan sebagai film pertama di Indonesia yang men-depict dunia marching band. Gw sendiri sih cukup familiar dengan yang namanya marching band, walau dulu paling banter gw liatnya di TV atau di acara-acara kemiliteran. Tapi ada satu momen pertunjukan marching band yang kala menontonnya bikin gw mikir "wah bisa kayak gitu ya?", yaitu demonstrasi Marching Band Madah Bahana Universitas Indonesia waktu tahun 2004, yang cukup mengubah paradigma gw soal marching band. Bahwa ini bukan cuma band yang nge-march (baris-berbaris), tapi juga sebuah show. Marching band tersebut bahkan ada bagian para pemainnya nari saman. Tari saman, men!

Anyway, dengan sedikit pengetahuan itu, saat film 12 Menit memperlihatkan aneka formasi dan atraksi-atraksi yang mungkin banyak yang nggak nyangka bisa dilakukan di marching band, atau bahkan sampe memainkan lagu-lagu Dewa 19, gw nggak merasa ada yang aneh, ya karena memang begitu adanya. Film ini sendiri terinspirasi dari Marching Band Bontang Pupuk Kaltim (MB Bontang PKT) yang berasal dari...well, you've guessed it, Bontang, Kalimantan Timur. Mungkin sebagian dari kita hanya mengenal Bontang sebagai kota tambang atau semacamnya, sebagaian lagi mungkin nggak pernah denger atau nggak tahu kalo Bontang itu udah jadi kota. Siapa yang sangka, kota ini ternyata menghasilkan sebuah marching band yang jadi juara nasional 10 kali! Kota loe udah bikin apa? *kompor*.

That being said, film 12 Menit jadi film dengan insight tentang marching band (terutama latihannya yang keras) sekaligus mengisahkan perjalanan putra-putri suatu daerah yang jauh dari ibukota negara menjadi juara. Mungkin premis itu terdengar biasa banget, yah tentang zero to hero. Tetapi sebenarnya premis itu agak mengecoh. Film ini bukan zero to hero, para tokoh yang ditampilkan bukannya dari nggak bisa lalu jadi langsung bisa dan juara. Itu cuma ada di AFI dan Indonesian Idol. Dan, meskipun katanya terinspirasi pengalaman nyata dalam marching band Bontang, film ini bahkan nggak pernah menyinggung bahwa mereka telah sering juara. Yang lebih ditekankan di sini adalah soal motivasi, how willing are you to let yourself pursue your own dream. Berhubung dalam satu marching band ada 130 orang anggota, belum termasuk tim pelatihnya, pastinya kedisiplinan benar-benar harus ditegakkan demi kesatuan tim. Kalau nggak termotivasi dengan baik dan benar, menjalani kedisiplinan seperti itu ya malah jadi emosi jiwa. Apalagi kalau pelatihnya segalak tokoh Rene (Titi Rajo Bintang).

Well, tentu saja film ini nggak akan membahas satu per satu orang yang terlibat di marching band ini *yakali*. 12 Menit berfokus pada tiga anak remaja di Bontang berbeda latar belakang yang tergabung di MB Bontang PKT: ada Elaine (Amanda Sutanto), anak Jakarta yang pindah ke Bontang karena bapaknya yang orang Jepang (Nobuyuki Suzuki) pindah tugas ke sana; Tara (Arum Sekarwangi) yang merasa terbuang sejak ayahnya meninggal dan ibunya sekolah di luar negeri; serta Lahang (Hudri) yang sering keteteran latihan marching band karena kesehatan sang ayah (Egi Fedly) yang mengkhawatirkan. A little hint, ketiga orang ini tidak tiba-tiba gabung di marching band tanpa modal apa-apa, karena Lahang memang sudah anggota, Elaine pernah jadi field commander di sekolahnya di Jakarta, dan Tara pernah ikut drum band waktu SD dan SMP *menurut piagam yang dipajang di kamarnya*. Bisa dibilang pengisahan filmnya interwoven, karena ketiga anak ini tidak pernah benar-benar berinteraksi satu dengan yang lain, dan hanya Rene sang pelatih yang terlibat langsung dengan ketiga tokoh ini.

Mbak Titi-nya galak euy...

What really works for me adalah setiap tokoh utama ini memiliki dilema yang hampir pasti pernah dirasakan oleh siapa pun kita. Meskipun memang sengaja "dipilih" dilema yang paling dramatis, tetapi dramatisnya menurut gw cukup masuk akal. Elaine adalah contoh anak yang mendapat tekanan dari orang tua, dituntut tetap cemerlang di sekolah sekalipun kegiatan yang "hanya" ekstrakurikuler juga menguras tenaga dan waktu. Tara mewakili anak remaja yang terlalu dikuasai kemarahan sehingga nggak termotivasi untuk apa pun, termasuk mengembangkan bakatnya, mau ngapain juga berasa terpaksa. Lalu Lahang, well, berapa banyak dari kita jadi sering lalai terhadap komitmen karena masalah keluarga? Lalu ada Rene, yang tujuannya membuat MB Bontang PKT ini juara di kejuaraan nasional Grand Prix Marching Band di Jakarta, latihan 3 bulan untuk sebuah performance yang hanya 12 menit, tapi ya pasti ada aja masalahnya, termasuk masalah tiga anak didiknya tadi yang nggak bisa bikin semuanya lancar. See? Nggak mengada-ada.

Sedangkan dari kemasannya, tentu saja dramatisasi menyayat hati bisa diharapkan dari seorang sutradara Hanny R. Saputra. Tapi cukup berbeda dengan reaksi gw terhadap film-film mas Hanny sebelumnya, dramatisasi di 12 Menit tidak membuat eneg, malah pas sekali, nggak berlebihan, khususnya pas bagian introduction setiap tokoh di awal. Tokohnya lumayan banyak tapi set-up-nya solid sekali. Ada juga satu adegan yang bikin mata gw berkaca-kaca, yaitu melihat omanya Tara (Niniek L. Karim) datang "berdebat" dengan Tara, wow that's some major-league acting showcase by one of our legendary actresses. Adegan yang effortless, emosi yang raw, tapi punya nilai drama yang luar biasa. Unfortunately, beberapa adegan sesudah itu kembali lagi ke formula dramatisasi "film banget". Sebenarnya semuanya masih bisa diterima, gw bahkan masih fine-fine aja pada dialog-dialog motivasi yang terdengar seperti hafalan teks motivasi, toh memang tujuan filmnya itu. Tapi ada satu adegan mendekati ujung yang bikin gw bereaksi "oh, God, kenapa harus gitu banget?" yang nyaris menghancurkan kenikmatan gw menonton. Untung gw orangnya cepat lupa dan segera move on ke adegan selanjutnya =p.

Lalu kita sampai pada presentasi adegan performance marching band-nya. Gw yang pernah menyaksikan pertunjukan marching band sejenis ini tentu berharap lewat editing, tata suara, dan sinematografinya (Yadi Sugandi gitu loh), di film ini bisa membuat gw kagum sebagaimana nonton langsung. Ini memang terjadi pada adegan di tengah-tengah, tetapi sayangnya tidak terjadi pada adegan puncaknya di GPMB. Kalau menurut mata gw yang awam ini, gambar di adegan itu kayak kurang lampu, angle kameranya justru lebih terbatas dari pada adegan performance sebelumnya, dan editing-nya kurang dapat menampilkan "kerennya" marching band skala nasional itu dengan maksimal. Pun durasi performance-nya nggak full 12 menit, hehe. Sayang sih. Tapi kalau mau diplomatis dikit, it's a good start.

Di luar semua itu, 12 Menit adalah salah satu film Indonesia paling well-crafted di awal tahun 2014 ini, if not the most well-crafted. Susunan ceritanya disusun oke, adegan-adegannya ditata rapi dan teliti, tata suaranya mantap, akting-nya pun terpuji...yah sedikit kekakuan para pemain debutannya bisa dimaafkanlah. Certainly not perfect, termasuk di antaranya penampilan para pejabat kota Bontang yang menurut gw terlalu banyak untuk ukuran cameo =p, tetapi bagi orang-orang yang "senewen" mencari-cari "film Indonesia berkualitas" dan "punya nilai-nilai inspiratif" tapi masih enak ditonton dan emosional, nah 12 Menit inilah jawabannya. Btw, tokoh Rene dalam film ini ternyata terinspirasi dari Rene Conway, pelatih utama MB Bontang PKT sejak 20 tahun lalu sampai sekarang, yang adalah orang bule dari Texas, Amerika...dan seorang cowok. Saat tokoh Rene sampai di GPMB dan langsung memberi salam khusus kepada bapak-bapak bule geda yang jadi jurinya, nah itu dia orangnya =).




My score: 7,5/10

Sabtu, 08 Februari 2014

[Movie] Comic 8 (2014)


Comic 8
(2014 - Falcon Pictures)

Directed by Anggy Umbara
Written by Fajar Umbara
Produced by HB Naveen, Frederica
Cast: Mongol Stres, Ernest Prakasa, Kemal Palevi, Mudy Taylor, Fico Fachriza, Babe Cabiita, Bintang Timur, Arie Kriting, Nirina Zubir, Nikita Mirzani, Boy William, Indro Warkop, Pandji Pragiwaksono, Joe "P. Project", Candil, Agung Hercules


Awalnya, gw merasa mengumpulkan sejumlah stand-up comedian yang dibilang-terkenal-banget-juga-belum dan ditambahkan dengan Nikita Mirzani dalam sebuah film, adalah sebuah ide yang gegabah. I mean, gw tahu mereka lagi hits banget sekarang, tapi mereka itu segerombolan, kalau ditangani dengan salah, ya filmnya cuma bakal jadi hore-hore nggak penting, kayak nonton satu geng di meja seberang yang asik sendiri. Tetapi, gw cukup terkejut karena ternyata Comic 8 adalah film yang cukup terkonsep, dan apa yang gw takutkan tadi nggak terbukti.

Jadi sejak promosinya, sekalipun para pemeran di film ini semuanya menggunakan nama tokoh yang sama dengan nama asli dan memainkan persona mereka di panggung stand-up selama ini, ditekankan bahwa Comic 8 itu adalah film action comedy, yang katanya sih digarap serius. Premisnya adalah delapan orang pria dari tiga geng berbeda merampok sebuah bank siang-siang secara bersamaan dan juga menyandera orang-orang yang ada di sana. Cukup generik dan cukup simpel, lalu tambahkan bahwa kedelapan orang itu memiliki motivasi dan permintaan aneh-aneh, plus banyak sekali adegan tembak-tembakan, Comic 8 sebenarnya punya cukup formula untuk jadi tontonan yang menghibur.

Dari segi komedi, Comic 8 buat gw cukup baik dalam menampilkannya, nggak terlalu berlebihan. Lagian lucu itu ‘kan relatif. Gw sadar bahwa beda jenis "komedi"-nya, beda juga reaksi orang. Misalnya gw yang merasa film yang menampilkan seorang tokoh bodoh sekaligus menyebalkan sekaligus mesum sekaligus teler (*ehem* khas Hollywood) itu nggak lucu, tapi buktinya film-film seperti itu sukses membuat banyak orang tertawa. Demikian juga komedi slapstick atau komedi nyindir-nyindir pedes juga masing-masing ada pangsa pasarnya. Nah, di dalam Comic 8 sebenarnya menampilkan beberapa jenis komedi, dari yang mesum, slapstick, banci, sindir-menyindir, kritik sosial, absurd, bahkan musikal. Jadi kadar lucunya tergantung Anda lebih nyambung sama komedi jenis yang mana. Kalau semuanya nyambung, niscaya Anda akan bahagia sentausa menyaksikan film ini. Kalau enggak, ya selamat menikmati penderitaan.

Gw sendiri justru quite impressed sama segi action-nya. Bukannya canggih banget atau apa, tapi emang serius banget dibikinnya. Ledak-ledakan dan tembak-tembakannya tuh bukan ecek-ecek, tetapi dibuat dengan teknik "betulan". Meledak ya meledak beneran, tembakan yang meletus betulan (walau pelurunya kosong). Dan sebagaimana generasi MTV, semuanya disajikan dengan cukup "nggaya dan seru secara visual, pake pewarnaan mencolok dan slow motion gitulah. Agak-agak Danny Boyle dan Guy Ritchie, but I'm okay with that, malah buat gw itu cukup keren.

Menurut gw, dengan itu saja Comic 8 sudah menjadi sajian yang menghibur. Bagi para fans tiap-tiap stand-up komedian, atau Nirina atau Nikita Mirzani, pasti nggak terlalu kecewa sama penampilan dan porsi mereka di sini, mungkin kecuali Mongol yang ternyata pas dikasih peran cowok KW—yang sering jadi bahan stand-up-nya—malah kaku, hahaha. Selebihnya, film ini cukup enak diikuti, dengan introduction yang non-linear dan penyingkapan misteri dan teka-tekinya lumayan lincah. Ini tentu terlepas dari orisinalitasnya ya, yang banyak sekali mengingatkan gw pada banyak film lain, misalnya Smokin' Aces, The Dark Knight, Desperado, bahkan sampe Belenggu dan Pintu Terlarang ^_^;, tapi setidaknya filmmaker-nya berusaha keeping things going on. Ya itu tadi, nggak cuma sekedar lucu-lucuan dan seru-seruan aja terus udah selesai. Dan juga terlepas selipan-selipan "khotbah"-nya, tetapi nggak jadi party-pooper, in the end filmnya tetap terasa action-comedy yang ringan. Cukup menyenangkanlah kalau buat gw. 

Dan kalau segala hal di atas masih belum meyakinkan Anda untuk nonton film ini, gw kasih satu bocoran: Nikita Mirzani in slutty nurse costume. You’re welcome, perverts.



My score: 7/10

Sabtu, 01 Februari 2014

[Movie] American Hustle (2013)


American Hustle
(2013 - Panorama Media/Annapurna Pictures/Atlas Entertainment/Columbia Pictures)

Directed by David O. Russell
Written by Eric Warren Singer, David O. Russell
Produced by Charles Roven, Richard Suckle, Megan Ellison, Jonathan Gordon
Cast: Christian Bale, Amy Adams, Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Jeremy Renner, Louis C.K., Alessandro Nivola, Jack Huston, Michael Peña, Shea Wingham, Elisabeth Röhm, Robert De Niro


Era 2010-an sepertinya jadi era kebangkitan David O. Russell, sutradara yang dulu filmnya nggak sampe booming banget dan bahkan sempat berkelahi dengan George Clooney, malah sekarang tiga film terakhirnya jadi unggulan di Oscar: The Fighter, Silver Linings Playbook, dan sekarang American Hustle. Gw suka sama dua film yang disebutkan pertama, karena gw bisa menikmati gaya bercerita Russell yang lincah dan jenaka, serta bisa banget memunculkan performa terbaik dari para aktornya, yang kebanyakan memainkan watak-watak yang unik. Kesuksesan American Hustle pun nggak jauh dari itu, film ini dibintangi bintang-bintang kelas Oscar yang mostly sudah pernah main di filmnya Russell sebelumnya, dan kisahnya pun dibuat lincah dan jenaka tentang intrik tipu-menipu yang sebenarnya cukup ribet.

Kejenakaan film ini dimulai sejak awal ketika film ini diberi keterangan "some of this actually happened", ketimbang "terinspirasi/berdasarkan kisah nyata". Setelah mengulik-ulik internet, yang actually happened dari film ini adalah con-artist (penipu) kelas kakap ditangkap, lalu direkrut FBI untuk menangkap con-artist lain, etapi malah operasinya bergeser jadi menjerat beberapa pejabat negara yang menerima suap. Ini terjadi pada akhir 1970-an sampai awal 1980-an, dan disebut ABSCAM, karena cara menjeratnya adalah pura-puranya ada orang tajir dari Arab yang mau investasi di New Jersey jadi harus "bayar sangu" buat beberapa pejabat biar investasinya lancar. Di luar fakta itu, film ini adalah karang-karangannya si Russell dan penulis Eric Warren Singer untuk menjadikannya lebih ke clash antarkarakter daripada reka ulang sejarah. 

The main key of the film adalah hubungan cinta antara Irving Rosenfeld (Christian Bale) dan Syndey Prosser (Amy Adams) alias Lady Edith yang ngakunya bangsawati dari Inggris. Mereka dipertemukan karena kecocokan luar dalam, menurut mereka sih karena keduanya punya latar belakang yang sama-sama kelam. Mereka pun bersatupadu menjadi tim con-artists yang berkedok sebagai kreditur. Intinya, mereka selalu mesra baik secara pribadi maupun secara "kerjaan", sekalipun Irving tercatat masih suami dari Rosalyn (Jennifer Lawrence), si istri yang aneh yang tahu betul profesi Irving, tapi ya santai aja selama tetep dinafkahi. Kesuksesan kinerja Irving dan Sydney harus dirusak dengan kedatangan agen FBI Richie DiMaso (Bradley Cooper), yang berhasil membongkar kejahatan mereka. Akan tetapi, keduanya kemudian diminta bantuin DiMaso yang ambisius ini buat nangkep con-artist lain. Ngebantuinnya sih bukan masalah, masalahnya adalah hubungan Irving dan Sydney malah makin complicated. Sydney disadarkan bahwa ia tak akan jadi milik Irving selama masih ada Rosalyn, dan pas DiMaso juga punya interest ke Sydney, atau Lady Edith =D, Irving-nya nggak terima. Aneh ya, tapi ya gitu deh. Operasi ini menjadi "ujian cinta" mereka =P.

Well, that's one way to describe the film. Entahlah apakah mengungkapkan "cerita" film ini sudah cukup menggambarkan tentang apa yang ditampilkan oleh American Hustle. Gw rasa memang "cerita" nggak terlalu penting di sini, karena ketimbang memaparkan detail cerita, film ini lebih asyik dengan adegan-adegan ngobrol yang cukup panjang dan ngalor ngidul ketimbang beraksi. Artinya filmnya jelek? Ya nggak. Film ini justru konsisten dengan tujuannya untuk mengutamakan karakter. Itu nggak gampang lho, apalagi karakternya di sini lumayan banyak. Ketimbang penasaran gimana caranya para pejabat korup ditangkep, gw jadi penasaran gimana kalo Sydney ketemu Rosalyn. Ketimbang penasaran apakah para target operasi akan terpedaya, gw lebih penasaran gimana kalo DiMaso tahu Lady Edith itu bukan orang Inggris. Atau apakah Syndey dan Irving akan masih jadian di akhir film. Dengan penampilan apik dari para aktor melontarkan dialog-dialog witty yang jatuhnya jenaka, film ini bikin gw lebih peduli sama karakternya, and I'm fine with that.

Tetapi, itu juga mengandung makna bahwa terkadang gw nggak tahu film ini arahnya mau ke mana. Selain meng-highlight karakternya yang punya keanehan masing-masing, film ini tidak terlalu meng-highlight modus operandi para con-artists dengan perlakuan istimewa. Padahal di tangan sineas lain bagian itu pasti udah dijadikan alat "mengejutkan" penonton dengan twist demi twist. Bagi yang mencari penggarapan "twist" yang bikin kaget, film ini terang aja jadi mbosenin. Yang ada film ini malahan orang nyanyi-nyanyi, nari-nari, berantem, tatanan rambut "stylish" *pada masanya*, belahan dada Amy Adams, dan sebagainya. Kadang gw juga merasakan itu, kesannya filmnya berjalan datar, tetapi gw selalu koreksi perasaan itu setiap muncul para pemain yang berhasil nailed their characters, especially Jennifer Lawrence yang selalu mencuri perhatian dengan peran sebagai perempuan nyablak dan labil. Yup, meski dengan sedikit kekurangan "sesuatu", American Hustle tetap bisa gw nikmati dengan enaknya, terkhusus dari penampilan asik para aktornya, dan juga bunyi-bunyian asik dari lagu-lagu soundtrack-nya. Buat gw sih nggak sempurna, tapi, seperti Kring Kring Olala, teteup asik.




My score: 7,5/10