Rabu, 31 Desember 2014

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2014

Kita sampai pada senarai paling maksa di year-end note kali ini, yaitu 10 album musik. Gw tahun ini jarang sekali mendengarkan album-album secara utuh dan menyeluruh, dan saat dengerin pun belum tentu suka. Efeknya, gw hampir nggak bisa memenuhi kuota top 10 album paling gw nikmati tahun ini—baru "nikmati" lho, apa kabar kalau kriterianya naik jadi "terbaik"? So, kalau dilihat-lihat, daftar 10 album berikut ini mungkin akan menimbulkan kernyit dahi, apalagi banyak album best-of-nya, dan artisnya ya itu-itu aja. Gw hanya bisa berdalih bahwa ya itulah yang paling gw sering dengerin dan paling gw nikmati sepanjang tahun ini.

O well. Berikut adalah 10 album yang paling gw nikmati sepanjang tahun 2014, dalam urutan mundur.



10. Shakira
Shakira 

Mindset orang-orang tuh perlu diubah: Shakira itu bukan artis "musik latin", dia adalah artis pop yang kebetulan berbahasa Spanyol. Shakira kali ini pe-de membuat sebuah album internasional yang memakai nama dirinya, yang memang ternyata cukup menggambarkan dirinya yang senang bermain di berbagai genre musik (latin, pop, rock, R&B, country, reggae) dan "diaduk" dengan suara sember khas dirinya. 1-2 lagu terdengar terlalu Taylor Swift-y dan Sony Music-y yang terkesan filler doang supaya jumlah lagunya sampe belasan, tetapi kalau doi pengen album ini menggambarkan musikalitas dirinya, gw sih setuju aja.






9. TAPESTRY OF SONGS -The Best of Angela Aki-
Angela Aki (アンジェラ・アキ)

Karena gw emang suka karya-karya dan sebagian besar single-single-nya, it's only natural gw sangat menikmati album ini. Dan, entah ini sesuatu yang baik atau tidak, Angela Aki memang punya kualitas yang konsisten sejak major debut tahun 2005 hingga sekarang, baik dari musikalitas, lagu, lirik, dan vokalnya, jadi ada kesan ini album kayak emang satu album utuh yang dibuat dalam satu waktu. Cool.






8. THE BEST
Girls' Generation (少女時代)

Gw nggak ngerti tujuan di balik dari perilisan album The Best (untuk lagu-lagu berbahasa Jepang) dari Girls' Generation a.k.a. SNSD ini harus dibuat dalam 5 versi berbeda (!) yang tracklist-nya juga beda-beda tipis *tepok jidat*, tetapi yang gw bicarakan di sini adalah versi regulernya. Alasannya simpel, karena versi ini menyelipkan lagu-lagu yang lebih dinamis, ada ballad-nya, nggak cuma yang ajep-ajep doang. Hence, lebih mudah dinikmati.






7. The Hunting Party
Linkin Park

Fakta bahwa gw bisa terus menikmati karya Linkin Park sampai sekarang adalah sesuatu yang patut gw catat, entah karena mereka memang sebagus itu atau gw yang dibutakan oleh fandom =p. Anyway, bagi yang merindukan LP yang katanya cadas dan straight rock, album ini jawabannya. LP memutuskan untuk melepas kecenderungan eksperimentasinya secara total, dan hasilnya adalah album yang "bising" tapi dewasa, whatever that means.






6. Guardians of the Galaxy: Awesome Mix Vol. 1
various artists

The ultimate cheat of this list. Jelas lagu-lagu yang ada di sini gabungan lagu-lagu yang konon top di era 1970-an, yang bikin status album ini bukanlah album "betulan". Tetapi penggabungan lagu-lagu ini untuk film superhero Guardians of the Galaxy terbilang brilian. Keasyikan penempatan lagu-lagu di filmnya pun menular ketika disusun dalam sebuah album soundtrack kompilasi yang paling asoy didengerin pas nyetir ini.






5. My Favourite Faded Fantasy
Damien Rice

Gw sebenarnya udah naksir sama musik Rice sejak "Cannonball" dan tentu saja "The Blower's Daughter" di sekitar tahun 2003-2004. Tetapi, gw sendiri belum sempat benar-benar terpikat karena doi musiknya (antara rock, folk, dan galau =p) buat gw kelewat depresif. Untungnya, ketika gw coba denger karya terbarunya, gw sangat bisa menikmati, seakan punya perspektif yang lebih fresh, atau mungkin juga doi emang yang nggak sedepresif dulu. Di album ini, gw akhirnya ngeh bahwa yang bikin Rice istimewa adalah musiknya sangat sinematik, dramatis, memainkan emosi, bahkan lagu-lagunya dengan lirik yang bercerita hampir menyerupai musikal, diperkuat oleh kesungguhan Rice dalam bernyanyi. Agak sedih juga sepanjang tahun ini pamor Rice ketutup sama versi KW-nya, Passenger =p.






4. Evergreen
Hata Motohiro (秦 基博)

Ini adalah album yang berisi single-single Hata dari sejak major debut tahun 2006, tapi dalam format kumpulan rekaman live akustik "hikikatari" (nyanyi sambil main gitar), baik di studio maupun di konser-konser. So, that makes this best-of album kind of unique. Yang gw salut adalah keberanian Hata dan labelnya untuk merilis album berkonsep demikian. Karena ini live (gw asumsikan masing-masing track itu satu kali take), Hata bener-bener stripped down, mau fals atau napasnya abis atau keseleo, semua bisa kedengaran. Tetapi, justru itu yang bikin album ini terasa real dan jujur, tanpa polesan apa-apa yang malah bikin Hata semakin menonjol.






3. Hari Baru
RAN

Album ini dirilis akhir banget tahun 2013, dan gw saat itu gw agak ragu untuk langsung masukin ke senarai tahun lalu. Tetapi, kayaknya emang paling bener album ini ditaruh di tahun 2014. Bagi gw pribadi, album ini nggak langsung nge-hook sekali dengar layaknya album pertama dan kedua mereka. Tetapi, ketika didengarkan dengan seksama lebih lama, gw bisa lihat bahwa RAN semakin rapi dalam memadupadankan aransemen yang asyik dan berbobot (nuansa pop vintage paling terasa di sini), dan makin pinter dalam merangkai lirik. Mungkin tidak serancak waktu "muda" dulu, tetapi musikalitasnya nggak kendor sama sekali.






2. MANTLE
Czecho No Republic

Kalau saja tidak dengar bahasanya, mungkin band pop rock Jepang ini disangka dari Eropa. Memang sound mereka seperti itu: ada campuran bunyi-bunyian digital dan synthesizer, distorsi pada gitar dan drum dan sebagainya, tapi mereka ini versi yang lebih fun dan cheerful, terutama kelihatan dari melodi-melodi playful (bagian yang berlirik maupun intro/interlude) yang disusunnya, almost like a video game soundtrack =D. Well, di album ini memang ada sepasang track yang ingin menunjukkan sisi lain band ini dengan musik sangat Brit rock macam Arctic Monkeys dan Blur, tetapi overall album ini mampu memancarkan keriaan bagi pendengarnya. Rada "aneh" namun tetap berpegang pada ranah pop yang sanggup dinikmati siapa pun.










1. MUSIK POP
MALIQ & D’Essentials

Agak kurang paham juga gw kenapa album ini diberi judul yang cukup...err...vulgar. Padahal, isinya sendiri nggak bisa dibilang "pop", at least dalam pengertian "musik pop" yang banyak di-push oleh Musica, Sony Music, dan Nagaswara saat ini--you know, yang sederhana, sekali denger langsung inget, gampang dicari kordnya tanpa perlu majalah MBS =p. Tapi kalau dibilang pop, ya bisa juga. Cuma, mungkin dari susunan nada dan pilihan kord-nya lebih mengarah ke pop gaya lawas, nyerempet era 1970-an yang lebih melodik atau 1980-an yang banyak terpengaruh jazz, yang buat gw sih lebih ampuh dalam membuai. In terms of homage to vintage music, mungkin album ini adalah lanjutan dari Sriwedari tahun lalu. Sound-nya sendiri memang makin banyak bermain di efek digital, tetapi itu nggak menyabotase spirit sejati dari album ini, yakni menyajikan rangkaian musik dan melodi yang enak didengar...also known as "pop". Keren.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar