Selasa, 04 November 2014

[Movie] The Best of Me (2014)


The Best of Me
(2014 - Relativity Media)

Directed by Michael Hoffman
Screenplay by J. Mills Goodloe, Will Fetters
Based on the novel by Nicholas Sparks
Produced by Justin Burns, Denise Di Novi, Alison Greenspan, Russ Kavanaugh, Ryan Kavanaugh, Theresa Park, Nicholas Sparks
Cast: Michael Marsden, Michelle Monaghan, Luke Bracey, Liana Liberato, Gerald McRaney, Sebastian Arcelus, Sean Bridgers, Jon Tenney


Well, obviously I didn't know what I was getting in to. Gw adalah seorang Nicholas Sparks-rookie, The Best of Me adalah film pertama berdasarkan novel doi yang pernah gw tonton. Tetapi, memang sebelumnya gw udah kenal reputasi doi, you know, kisah cinta menye-menye yang akan berakhir sedih dengan cara yang paling common dalam sejarah kesusastraan manusia: mati. Premis (dan poster) film-film hasil karangan Sparks nggak ada sama sekali yang mengundang gw untuk menontonnya. Maksud gw, kisah cewek cowok jatuh cinta dengan berbagai rintangan dan halangan dan terus berakhir sedih...hanya supaya penonton menangis just because menangis umumnya dijadikan patokan sebuah film bagus atau enggak bagi sebagian orang? Aku sih no.

Anyway, surprisingly, The Best of Me tidaklah semenye-menye itu...awalnya. Kisah berjalan cukup modest dengan bolak balik masa kini dan masa slalu, perlahan mengungkap apa yang terjadi terhadap si oom ini dan tante ini, yang 20 tahun sebelumnya semasa SMA sempat menjalin cinta against all odds, tetapi sekarang malah udah punya kehidupan masing-masing. Gw masih fine dengan latar bahwa si oom adalah anak keluarga white trash bermasalah dan si cewek bagaikan princess, serta dialog-dialog kegelisahan mereka tentang cita-cita dan masa depan. Gw masih fine juga dengan pertemuan kembali si cowok dan cewek yang udah jadi oom dan tante yang CLBK dan runtuhnya rumah tangga salah satu dari mereka.

Tapi, yang gw tidak fine lumayan banyak juga. Dimulai dari James Mardsen dan Luke Bracey yang harusnya jadi karakter si cowok versi tua dan muda, yang tidak mirip sama sekali, bahkan Bracey kelihatan lebih tua dari Marsden. Atau tokoh sepupu si cowok dan anaknya yang dimainkan aktor yang sama (ealah dikira Paramitha Rusady di sinetron Janjiku?). Sama juga inklusi violence yang lumayan penting di cerita tapi yah...masih kelihatan tempelan juga. Oh, gambarnya juga nggak istimewalah. Ini mah bisa aja ditayangin di TV dan nggak ketahuan ini film bioskop atau FTV (tapi pemainnya bule). Tapi yang paling ngganggu sih dari ceritanya yang jatuh kepada klise sinetron yang.....hadeuh....dialognya.....yaelah....peristiwanya....idih....terserah deh. Toh emang ada pangsa pasarnya, I can't judge.

On the other hand, gw menemukan beberapa nilai positif dari film ini. Pertama, gw melihat ada "permainan" terhadap hal-hal klise, walaupun nggak signifikan juga sih. Beberapa adegannya klise banget, gw tahu apa yang bakal terjadi, tapi lewat proses editing dipresentasikannya seakan nggak klise, walaupun akhirnya yang klise itu terjadi juga sih. Kirain adegannya anu, eh ternyata nggak jadi, eh ternyata belakang emang anu. Yaudahlah, setidaknya ada momen sesaat gw merasa film ini nggak gitu-gitu amat, it's sesuatu. Dan yang kedua dan paling gong adalah gw bisa menikmati penampilan adek manis nan berbakat namanya Liana Liberato yang....well, hands down the best thing this film has to offer. Grafiknya naik tajam dari penampilan kerennya di film Trust yang gw tonton dulu. Semoga adek ini tumbuh makin cakep baik perawakan maupun kariernya ya. Amin. =D.




My score: 6/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar