Sabtu, 25 Oktober 2014

[Movie] Garuda 19: Semangat Membatu (2014)


Garuda 19: Semangat Membatu
(2014 - Mizan Productions/Pertamina Foundation)

Directed by Andibachtiar Yusuf
Written by Swastika Nohara, Andibachtiar Yusuf
Based on the books "Semangat Membatu" by F.X. Rudi Gunawan, Guntur Cahyo Utomo & "Menolak Menyerah" by F.X. Rudi Gunawan
Produced by Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Cast: Mathias Muchus, Yusuf Mahardika, Rendy Ahmad, Sumarlin Beta, Gazza Zubizareta, Ibnu Jamil, Verdi Solaiman, Puadin Redi, Reza Aditya, Agri Firdaus, Mandala Shoji,


Sebagai bukan penggemar sepak bola, gw nggak terlalu ngerti dengan perlakuan atau mungkin "cult" terhadap timnas U-19 selama sekitar setahun belakangan ini. Kecuali bahwa mereka raih kemenangan internasional yang cukup matters, yang sudah lama tak dipunyai bangsa ini....oh mungkin itu sebabnya *baru ngeh*. Anyway, lebih dari satu buku dan akhirnya sebuah film tetap saja terasa agak...yaah...berlebihan gimana gitu. Kalo istilah jahatnya, come back when you're in World Cup final rounds. But what do I know.

Film Garuda 19: Semangat Membatu ini mungkin bisa membuat gw mengerti kenapa timnas U-19 ini jadi dianggap istimewa. Film ini adalah semacam behind-the-scene dari terbentuknya timnas U-19 di bawah binaan Indra Sjafri (Mathias Muchus) yang kemudian melesat ke permukaan karena berhasil menang di final Piala AFF U-19 tahun 2013 lawan Korea Selatan. The Korea Selatan. Tapi, di sini "behind-the-scene"-nya dibikin fiksi, karena bukan dokumenter, you'll get the idea

Suatu nilai yang sangat jelas (bahkan mungkin terlalu jelas) disampaikan di film ini adalah, walaupun anak-anak ini kerap terlunta-lunta karena ketidakjelasan pengurusan PSSI--mulai dari asrama belum dibayar, makanan belum dibayar, sopir belum dibayar, dan segala sesuatunya yang basically nggak diurusin dengan becus sama organisasi yang bawa nama negara itu, anak-anak ini toh tetap mampu juara. Poinnya sih itu.

Tapi bagi gw sendiri, bagian awal yang berfokus pada asal-usul tiga anak dari tiga daerah berbeda itu (yang dari Ngawi dan Alor itu beneran ada, tapi yang Konawe Selatan katanya semacam "samaran" dari beberapa orang) justru bagian yang sangat menarik. Yah, itung-itung bisa jalan-jalan lewat mata melihat beberapa wilayah Indonesia yang jarang dilihat secara mainstream, plus kebiasaan anak-anaknya bermain sepak bola dengan berbagai kondisi. Bagiannya Yabes (Sumarlin Beta) di Alor itu mungkin yang paling menghibur karena kebiasaan dan kebandelannya bikin ngakak XD. But, then what?

Setelah tim terkumpul di tengah-tengah film, masalah penuturan cerita pun perlahan muncul. Selain menunjukkan deskripsi kondisi dan situasi pelatihan tim U-19 ini , gw merasa kehilangan tentang apa yang sebenarnya mau diceritakan oleh film ini. Gw juga menyayangkan fungsi Yazid (Gazza Zubizareta) sebagai narator malah datang lalu absen (lama lagi) lalu datang lagi ketika nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba ada yang peristiwa celaka. Jadinya, penuturan film ini terlihat kurang konsisten. Untuk memperjelas poinnya seperti gw singgung di atas, film ini pun berjalan hanya lewat beberapa fragmen peristiwa yang seperti tak saling berhubungan secara naratif, dan kayaknya tidak semua adegan itu ada fungsinya untuk cerita besarnya, alias nggak penting. 

Akibatnya, film ini jadi semacam kumpulan curhat dan kritik semata yang kurang memberikan dampak emosional yang seharusnya timbul. Gw seakan hanya dipersilahkan "nonton dari pinggir", tidak diajak masuk untuk merasakan benar betapa besarnya tekad anak-anak ini untuk bermain sepak bola, tidak merasakan benar kegembiraan ketika mereka menang, atau kekecewaan ketika kalah. Efeknya, pada adegan pertandingan sepak bola pun jadi nggak berasa apa-apa. Mungkin emang disuruh nonton yang beneran aja kali ya...Untuk yang satu ini, film ini kalah jauh dari film Cahaya dari Timur: Beta Maluku, sama-sama ada soal anak-anak remaja dan sepak bola, tapi penuturannya dibangun dengan kokoh dan digerakkan oleh emosi yang berdampak.

Tetapi kalau mau adil, film ini tidak gagal sepenuhnya. Setidaknya gw jadi punya sedikit gambaran tentang istimewanya timnas U-19 yang memang di-handpicked dengan cukup jeli ini. Gw juga nggak bisa mengabaikan akting effortless dari Mathias Muchus dan si "Arai kecil", Rendy Ahmad yang bisa pulled off the Javanese accent really well. Dan secara visual, gambar-gambarnya cukup menghibur gw, terutama yang pemandangan alam luar. Namun, semua itu menurut gw tak sanggup menutupi kenyataan bahwa film ini hanya enjoyable di paruh awalnya aja, dan belepotan di paruh akhir.




My score: 6/10

2 komentar:

  1. Karena yang termasuk ngikutin sepak terjang tim U19, kritikannya emang pas, ngena.. Ga fiksi-fiksi banget lah soal ceritanya, karena pas Indra Sjafri (asli) diwawancarain di salah satu stasiun tv, emang kurang lebih seperti itulah kejadiannya. Dia dan tim rela ga dibayar demi ngurus timnas yang baru kebentuk itu. Pas giliran udah menang, baru deh dieksploitasi habis-habisan. Parah emang petinggi-petinggi sepak bola negeri ini..

    Soal penceritaannya, emang asyik di awal pas dikenalin tiga karakter dari beda wilayah itu, pas tengah, emang rada draggy, nah, pas ending sip lah. Sempet ikutan sedih ama hal yang menimpa Yazid. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, kira-kira seirama lah ya kita. PSSI musti diruwat kayaknya, hehe
      Thanks, responsnya

      Hapus