Rabu, 30 Juli 2014

[Movie] The Philosophers (2014)


The Philosophers
a.k.a. After the Dark
(2014 - Olive Branch/SCTV)

Written & Directed by John Huddles
Produced by John Huddles, Cybill Lui, George Zakk
Cast: James D'Arcy, Sophie Lowe, Rhys Wakefield, Freddie Stroma, Daryl Sabara, Bonnie Wright, Katie Finlay, Jacob Artist, George Blagden, Cinta Laura Kiehl


Kabar film kerja sama Indonesia dan Amerika (Hollywood-lah kalau di pemberitaan-pemberitaan) ini udah agak lama, yang mengambil syuting hampir seluruhnya di Indonesia, ditambahi dengan "film internasional pertama Cinta Laura", gw yakin sebagian besar orang menganggap film ini paling ya "internasional-internasionalan" sekelas Java Heat atau mungkin Pemburu Teroris =p. Yah, namanya impresi pertama nggak ada salahnya, tetapi yang gw lihat adalah The Philosophers tidak terjebak pada titipan "harus promosikan Indonesia", tetapi justru terlihat sangat leluasa mempresentasikan ide dan visi filmmaker-nya. Hell, adegan pembukanya aja bule cium-ciuman nggak pake baju, menurut loe?

Jadi ide besar fim ini adalah mendiskusikan kasus berdasarkan filsafat di sebuah kelas sekolah internasional di Jakarta. Jadi anak-anak di kelas itu disuruh menghayati profesi-profesi tertentu yang diberikan gurunya, lalu dihadapkan pada kiamat nuklir, dan satu-satunya cara menyelamatkan umat manusia adalah tinggal di sebuah bunker yang hanya muat separuh dari mereka, tentu saja dalam lingkup diskusi. Nah, diskusi itu kemudian divisualisasikan kepada penonton sesuai dengan kasusnya. None of them will actually die.

Yeaaaa, adegan-adegan dahsyat kayak orang jatuh dari Monas atau ledak-ledakan atau bunuh-bunuhan itu cuma andai-andai, karena itu adalah semacam tes sekelompok orang memecahkan sebuah masalah yang dilematis. Buat gw itu sih menarik ya, nggak tau deh kalo yang lain. Menariknya lagi adalah mencari motivasi dari semua ini, kenapa penonton harus disajikan tiga skenario yang bisa didapat dalam sebuah kelas/kuliah khusus? Ya karena ada sesuatu di baliknya.

Kalau mau dari ceritanya, setting film ini bisa di mana saja, nggak harus di Indonesia. Tapi karena gw orang Indonesia, ya ada sentimen tertentu sama film ini yang menunjukkan tempat-tempat ikonik Indonesia (Monas, Prambanan, Bromo, Belitung, bahkan gedung kantor lama gw yang disorot dari arah Benhil =p) dengan enak dilihat. Juga beberapa benda-benda khas sini banget seperti Mikrolet hingga buku tulis Campus terbitan Tiara. Ada kebanggaan dikitlah. Keterkaitan ceritanya dengan Indonesia sih sebenarnya cuma sampai di situ, tetapi setidaknya unsur cerita dan ke-Indonesia-annya tidak saling merusak.

Tetapi, di luar idenya, satu problem film ini menurut gw adalah kendornya penceritaan di bagian akhir. Ketika bagian-bagian awal cukup thought-provoking, eksekusi adegan di bagian akhir malah draggy dan kurang bikin antusias, dan gw jadi malas untuk mengerti apa yang mereka lakukan sebenarnya ataupun mencari tahu kenapa mau dapet nilai kelulusan di strata SMA (kayaknya sih SMA ya) mesti segitunya. Akting para pemainnya yang "kurang semangat" juga nggak membantu. Kepanasan kali ya tuh orang-orang.

Namun, kalau memang tujuannya sebagai film dengan ide yang cukup beda dan memanfaatkan setting Indonesia, film ini bolehlah. Nilai produksinya juga enak dinikmati, dari desain produksi hingga visual yang masih watchable. Bener-bener not bad, tetapi mungkin nggak semua orang bisa menikmati.




My score: 6,5/10


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar