Minggu, 29 Juni 2014

[Movie] Selamat Pagi, Malam (2014)


Selamat Pagi, Malam
(2014 - Kepompong Gendut/Sodamachine Films)

Written & Directed by Lucky Kuswandi
Produced by Sammaria Simanjuntak, Sharon Simanjuntak
Cast: Adinia Wirasti, Marissa Anita, Ina Panggabean, Dayu Wijanto, Trisa Triandesa, Dira Sugandi, Lina "Mak Gondut" Marpaung, Aming, Paul Agusta, Mayk Wongkar


Kalau mau jujur gw kurang paham sama fascination orang-orang terhadap kota Jakarta yang barely even pass to be a "city" itu. Selama dua puluh tahun lebih mengenal Jakarta, yang gw inget cuma ruwet, ribet, dan nggak nyaman--I mean di mana lagi naik bus dan bayar tapi waktu busnya mogok penumpangnya diminta dorong? Tetapi hampir semua orang berusaha "menyaman-nyamankan diri" untuk bisa bertahan di kota ini karena it is where the "cool jobs" flock, seakan ini kota first class yang membuat orang-orangnya akan merasa distrap kalau pindah ke tempat lain. Gw rasa ini juga gara-gara penggambaran Jakarta di film-film dan sinetron, seakan-akan segala-gala ada dan gampang, seakan-akan segala serba kinclong, seakan-akan kota (dan penghuninya) kastanya di atas yang lain, seakan-akan kalau nggak nge-Jakarta loe nggak keren. Jakarta mistakenly kerap diwakili dengan Monas dan jalan Sudirman-Thamrin dan mal-mal mewahnya, kadang orang lupa Jakarta juga punya sungai Ciliwung dan gang-gang sempit Lenteng Agung dan Cakung serta mal Slipi Jaya. 

Tetapi, bahwa Jakarta itu tidak bisa digambarkan dengan deskripsi tunggal, itu memang benar. Maka dari itu gw selalu menghargai kalau ada film-film berlatar Jakarta yang menyorot dari berbagai segi, bukan cuma karakter yang tinggal di rumah berpekarangan dan punya mobil ke mana-mana nggak kena macet *which is bullshit*, dan yang terbaru adalah Selamat Pagi, Malam ini. Well, lagi-lagi kalau dibilang mewakili Jakarta banget sih enggak, tetapi film ini memang berangkat dari pengamatan yang jeli tentang Jakarta dari mata Lucky Kuswandi sang penulis dan sutradaranya. Menurut gw, doski dengan jeli menangkap esensi dari kehidupan Jakarta (dan mungkin kota-kota besar lain) saat ini, yaitu penuh kepalsuan. Lewat tiga cerita berbeda dari tiga wanita dari kelompok berbeda, film ini mencoba menyindir sekaligus membongkar Jakarta yang inginnya "maju" tapi not quite there yet.

Esensi itu paling terlihat dari kisah Gia (Adinia Wirasti) dan Indri (Ina Panggabean). Bagian ini menurut gw sih agak terlalu verbal, kayak Arisan! tapi versi lebih kalem, karena kisahnya penuh dengan adu dialog dengan sahabatnya, Naomi (Marissa Anita) mempertanyakan kok di Jakarta kesannya lebih "canggih" dari New York. Ke mana-mana harus pake mobil pribadi nggak bisa jalan kaki santai, olahraganya harus di fitness centre, masuk restoran ada kode pakaian--yang pakaiannya nggak "kayak orang kaya" dijutekin, makanan sederhana dikasih nama-nama fancy, padahal di New York aja nggak gitu. Dan tentu saja disinggung soal adiksi media sosial yang fungsi utamanya cuma buat lomba pamer. Bagian ini mungkin agak cerewet, tetapi memang spot on, dan menurt gw penyampaiannya tetap enak dan nggak nyinyir.

Sedangkan kisah Indri mungkin lebih pragmatis, soal social climber. Jika kisah Gia itu spot on dari dialog, Indri menurut gw lebih spot on dari gambaran tingkah lakunya. Iya, di Jakarta emang banyak orang yang kemampuan/karier masih belum seberapa tapi berusaha mendapatkan kenyamanan yang instan--mungkin gw juga gitu, tapi kan gw tinggal di Bekasi =P. Caranya? Pakai semua label yang dianggap "kelas atas", mulai dari pakaian bermerk sekalipun KW, eksis di media sosial kalau ke tempat-tempat mewah, bawa kantong belanjaan premium tanpa isi. In the end, Indri nggak bisa bohong bahwa mendapat itu semua bukan berarti bahagia.

Yang mungkin agak kurang mudah disambung dengan "Jakarta" adalah kisah Ci Surya (Dayu Wijanto). Heran juga sih buat gw, setelah Gia mewakili orang tajir, Indri mewakili kelas menengah, kok ada Ci Surya yang mewakili kelas tajir lagi. Tetapi mungkin alasannya lebih personal, yaitu momen ketika Ci Surya kehilangan suaminya yang meninggal dunia. Gw suka sekali dengan cara film ini menunjukkan dengan detil Ci Surya dalam menghadapi duka--dan kemudian kemarahan--yang dilakukan dalam sunyi tanpa banyak kata, yaitu ingin mencoba sensasi "jalan senang" yang diam-diam dijalani suaminya ketika masih hidup. Rupanya, di balik kehidupan yang tampak damai dan sejahtera, selalu ada sisi lain yang gelap. Kisah ini menurut gw paling emosional dari yang lain, tetapi mungkin terlalu "biasa" dalam menggambarkan Jakarta, lagi-lagi soal dunia gemerlap (melengkapi hipotesis bahwa film Indonesia yang setting di kota pasti ada adegan dugem).

Jadi kalau disimpulkan, gw suka dengan set-up ketiga cerita ini, isinya mengena dan dipresentasikan dengan baik dan smooth sekali, cerdas dan nggak nyinyir (fyi: gw mengartikan nyinyir=cerewet ngeselin). Dialog-dialognya tertata rapi dan dibawakan dengan akting yang juga rapi, secara visual enak dilihat, plus dapat bonus snapshots pemandangan Jakarta di waktu malam/subuh yang memang begitulah adanya. Yang gw sayangkan mungkin adalah bagian "konklusi" dari masing-masing kisah, yang membuat gw bereaksi "kok baliknya ke situ-situ lagi sih?". Apakah kebahagiaan (dan cinta) harus dikaitkan dengan "itu"? Karena itu membuat gw berkesimpulan film ini bukan sebuah tribut kepada Jakarta, tetapi tentang rupa-rupa kehidupan orang yang ngebet digauli. Tetapi gw berusaha mengesampingkan kesimpulan itu. Mungkin itu semacam humor yang gw nggak ngerti. Gw mungkin nggak suka ending-ending-nya, tetapi selama sekitar satu setengah jam sebelumnya gw sudah disuguhi tuturan kisah yang kuat dan "ada rasa"-nya, cukuplah.




My score: 7,5/10

2 komentar: