Sabtu, 28 Juni 2014

[Movie] Mari Lari (2014)


Mari Lari
(2014 - Nation Pictures)

Directed by Delon Tio
Written by Ninit Yunita
Produced by Yasha Khatab, Delon Tio
Cast: Dimas Aditya, Olivia Jensen, Donny Damara, Ibnu Jamil, Dimas Argobie, Verdi Solaiman, Amanda Zevannya, Ira Wibowo


Rio (Dimas Aditya) adalah tipikal anak muda usia 20-an yang hidupnya keenakan sampe nggak tahu sebenarnya pengen ngapain dan apa tujuan hidupnya selain berusaha cari duit untuk melanjutkan kehidupannya yang keenakan dan nggak tau pengen ngapain dan apa tujuan hidupnya itu. I mean, he's working as a salesman *eeeh, nggak boleh gitu loooe...hak orang doong...semua kerjaan tuh mulia tauuk...*. Problem utama Rio sejak kecil adalah minatnya selalu berpindah dan bosenan, termasuk pindah-pindah kuliah seenaknya padahal masih pake duit orang tua. Rio kena getahnya ketika bapaknya (Donny Damara) yang mantan atlet menyuruhnya keluar dari rumah untuk cari penghidupan sendiri. Hubungan keduanya pun renggang sejak itu.

Sebuah peristiwa memaksa mereka bertemu kembali. Rio harus balik tinggal bareng ayahnya karena sang ibu baru saja tiada, tetapi hubungan mereka tetap jauh seakan tidak tinggal di rumah yang sama. Namun, pintu rekonsiliasi itu terbuka ketika Rio melihat event Bromo Marathon, yang seharusnya diikuti ayah dan ibunya berdua. Rio ingin ikut untuk menghormati sang ibu dengan ikut maraton itu, tapi masalahnya dia nggak pernah lari. Yang olah raga ya, bukan lari dari kenyataan *halah*. Ayahnya nggak mau melatihnya, Rio pun sungkan meminta, sampai akhirnya ada Anisa (Olivia Jensen), wanita muda yang confidence-nya cocok dengan sifat Rio yang ogah-ogahan. Dalam waktu yang singkat, Rio harus siap menyelesaikan lari sejauh 42 km di dataran tinggi Bromo, sekaligus membuktikan pada ayahnya ia bisa menyelesaikan sesuatu. Sweet.

Mari Lari sebenarnya sebuah small indie film yang ide, cerita, dan penuturannya sederhana, tetapi memang butuh effort (dan budget) yang besar untuk mewujudkannya. Film ini jelas butuh riset lebih tentang olah raga lari, apalagi film ini juga "numpang syuting" di event lari betulan, seperti Jakarta Heart Run dan puncaknya *literally* di Bromo Marathon. Menurut penglihatan gw, mereka handled it well, misalnya membuat seakan para aktor terlihat seamless di tengah-tengah peserta betulan (yang nggak akting). Inilah yang maksud gw "niat baik", sekalipun sederhana, tetapi dibuat dengan benar dan hasilnya baik. Gw lebih seneng begitu daripada idenya besar eh usaha dan hasilnya ngono tok.

Dari segi cerita, awalnya mungkin gw kurang suka dengan set-up karakter Rio yang agak stretchy sekalipun sudah dilengkapi satu adegan teknikal yang cukup asik. Di tempat lain kadang ada beberapa dialog yang di-deliver kurang oke sehingga kesannya cheesy. Beberapa subplot dari karakter lain juga tampak nggak perlu. Yah untungnya nggak benar-benar melenceng dari kisah utamanya, which is usaha menyambung tali kasih Rio dan bapaknya. Storyline-nya sudah cukup jelas itu, ditambah "alat bantu plot" yaitu mencapai finish Bromo Marathon, penonton tinggal sit back and enjoy perjalanan film ini yang ditampilkan menyegarkan, sesekali lucu, cukup emosional, dan yang penting: informatif.

Mari Lari adalah sebuah film simpel yang akan dengan mudah di-abuse penggarapannya seandainya ditangani ala FTV. Fortunately penggarapan film ini terlihat serius sehingga membuatnya terasa manis dan cukup enak dinikmati. Tidak sekedar merekam orang-orang berakting dan pergi ke lokasi-lokasi lapangan eksotis, Delon Tio dan kru menambahkan unsur-unsur teknis yang asyik untuk disaksikan di layar lebar, mulai dari sinematografi, editing, musik, hingga tambahan visual effects dan animasi yang menyegarkan. Gw seneng deh melihat film dengan effort--teknis dan non-teknis--yang niat dan hasilnya nggak mengecewakan seperti yang ditunjukkan film ini. Hmmm, kecuali adegan "iklan pisang" yah =P.




My score: 7,5/10

1 komentar: