Sabtu, 31 Mei 2014

[Movie] The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro (2014)


The Amazing Spider-Man 2
a.k.a. The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro
(2014 - Columbia)

Directed by Marc Webb
Screenplay by Alex Kurtzman, Roberto Orci, Jeff Pinkner
Screen Story by Alex Kurtzman, Roberto Orci, Jeff Pinkner, James Vanderbilt
Based on the Marvel comic books created by Stan Lee & Steve Ditko
Produced by Avi Arad, Matthew Tolmach
Cast: Andrew Garfield, Emma Stone, Jamie Foxx, Dane DeHaan, Sally Field, Campbell Scott, Colm Feore, Felicity Jones, B.J. Novak, Paul Giamatti, Marton Csokas


Sebagaimana gw sampaikan di review The Amazing Spider-Man di tahun 2012 lalu, gw nggak benci filmnya, malah cenderung suka. Tetep aja sih ada perasaan mengganjal, karena sebelum nonton film itu, gw gak ada perasaan urgency untuk nonton film itu sebagaimana excitement gw sama trilogi Spider-Man yang lama. Gw menganggap bahwa reboot Spider-Man ini not bad but not necessary. Tetapi, mari lupakan itu sejenak dan mari tujukan pikiran kita ke The Amazing Spider-Man 2, yang juga tidak membuat gw excited untuk menontonnya, apalagi pas liat trailer dan posternya yang lebih mirip film kartun.

Hal yang gw suka dari The Amazing Spider-Man adalah sisi manusianya yang lebih akrab dan lebih simpatik, khususnya dari Andrew Garfield yang menurut gw lebih asyik dalam membawakan Peter Parker. Di sekuelnya ini, gw senang karena masih bisa melihat itu, terutama relationship-nya dengan Gwen Stacy (Emma Stone) yang makin serius dan deep, yang pretty much jadi porsi utama film ini. Yup, gak salah baca, hubungan Peter-Gwen itu menu utama film The Amazing Spider-Man 2. Lalu timbul pertanyaan, kalau fokusnya di situ, kenapa tokoh musuhnya kali ini sampe ada 3?

Dan, memang itulah problem utama film ini buat gw. Memang tidak sampai sekacau Spider-Man 3 yang keteteran ngurusin 3 musuh sekaligus, tetapi ini karena emang bisa-bisanya yang punya cerita untuk seakan mengesankan Spider-Man bakal melawan Electro, Green Goblin, dan The Rhino sekaligus, yang ternyata enggak begitu. Pada akhirnya, yang purely musuh utama di sini adalah Electro (Jamie Foxx)--yang menurut gw efek listriknya nggak enak banget dilihat. Sedangkan untuk Green Goblin lebih ditekankan pada tokoh manusianya, Harry Osborn (Leonardo DiCa...eh...Dane DeHaan deing) yang punya complicated friendship dengan Peter Parker sebelum akhirnya secara konyol berubah jadi Green Goblin. Kedua tokoh ini harus berbagi dengan urusan Peter-Gwen sehingga yah film ini jadi lumayan padetnya. The Rhino yang dimainkan oleh Paul Giamatti yang notabene salah satu aktor terkeren di Hollywood? Cuma dua adegan! Menurut lo?

Rupanya begitu cara film ini "mengatur" adanya tiga musuh di film ini. Promonya emang mengecoh, karena ternyata musuh banyak-banyak itu nggak kelar dibahas di film ini, melainkan jadi "bibit" rencana film spin-off tentang kumpulan musuh Spider-Man, The Sinister Six, yang memang sedang digodok. Heuh, dasar.

Jadi, ya begitulah. Gw cukup terhibur dengan beberapa part film ini, khususnya karakterisasi Peter Parker dan Gwen Stacy yang masih menyenangkan dan menyentuh. Tetapi, sisanya gw rasa nggak ada efek apa-apa selain, "oh, lumayanlah seru," terus udah gak ada yang lain. These two Amazing Spider-Man films kind of owe us the real keseruan, deh. Seru sih, tapi studio sebelah juga masih bisa nyaingin dengan gampang. And I think it's lengthy, too. Tetapi, setidaknya gw "diberi hadiah" dengan adegan penutupnya yang semacam montase waktu ke waktu setelah peristiwa klimaksnya, karena cukup familiar sama gayanya sutradara Marc Webb di (500) Days of Summer, penutup yang menyegarkan.




My score: 6,5/10



NB: Judul aslinya film ini cuma The Amazing Spider-Man 2, tetapi di Indonesia dan beberapa negara lain ditambahin subtitle jadi The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro, which make a little more sense content-wise, tapi hadeuh panjang banget dah jadinya *jari pegel*.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar