Sabtu, 01 Maret 2014

[Movie] Street Society (2014)


Street Society
(2014 - Ewis Pictures)

Directed by Awi Suryadi
Written by Agasyah Karim, Khalid Kashogi
Produced by Eryck Wowor, Irwan Santoso
Cast: Marcel Chandrawinata, Chelsea Elizabeth Islan, Edward Gunawan, Edward Akbar, Daniel Topan, Ferry Salim, Yogie Tan, Kelly Tandiono, Marcellino Lefrandt, Wulan Guritno


Langsung saja, gw agak bermasalah sama film Street Society ini. Bukan masalah promonya yang mengesankan ini seperti Fast & Furious, bahkan sebenarnya masalahnya bukan pada filmnya. Masalahnya ada di gw. Mungkin dalam diri gw masih kental mental miskin dan terjajah, yang setiap lihat rumah gede langsung mikir "gimana ngepelnya?", atau lihat rumah bagus-bagus di pinggir pantai langsung kebayang "jemurannya bakal kena pasir terus dong". Jelas, gw bukan target utama dari film ini. Film yang orang-orangnya punya mobil impor milyaran berapa biji di rumahnya dan bisa enak aja dikasih ke orang lain, atau beli di hari yang sama saat baru datang ke showroom. Belum ditambah jadwal rutin fitness, clubbing and drinking, rapat doang di luar negeri, kapal yacht...itu mah biasaaaa hari-hari aja buat mereka. Btw, itu yang milyaran harga mobilnya doang lho, belum bea impor dan pajaknya yang konon 100% harga jual *tuh kan gw mikirnya kayak gitu lagi*.

Problema hidup para tokoh di Street Society bukan lagi soal macet, banjir, jalan bolong, polisi tidur, atau diincar "tilang" polantas. Bagaikan tribute atas sinetron-sinetron produksi Multivision Plus di tahun 1990-an, permasalahan mereka muter-muter di cinta dan dendam...ya antar mereka-mereka juga. Ada si playboy (tajir) bermobil superkeren dan selalu menang tantangan balapan liar, Rio (Marcel Chandrawinata)--abaikan namanya yang kayak mobil keluraran KIA--jatuh cinta sama Karina (Chelsea Elizabeth Islan), cewek jual mahal yang berhasil membuat Rio berniat berhenti hobi balapan liar dan gonta-ganti cewek--yang selalu dikasih suvenir sikat gigi dan handuk tiap diboyong ke kamar. Btw, Karina itu DJ dari luar negeri. Ya kayak di sinetron kita dulu, kalau nggak kaya ya lulusan luar negeri. Tapi keduanya kemudian bersentuhan dengan anak-anak mafia (tajir juga, duh) dan saling ancam mengancam gitu deh. Dan in a way semuanya nanti berhubungan dengan adu cepat mobil-mobil mahal mereka.

Okelah, gw masih permisif sama plotnya. Biarpun sinetron bangeuutz, tapi kalau memang rata-rata kehidupan kaum sugih memang layaknya sinetron, gw mau bilang apa. Sebagaimana Raam Punjabi dulu bilang bahwa kemewahan yang ditampilkan di sinetron-sinetronnya itu mewakili kenyataan yang memang ada di negeri kita, gw mah percaya aja =p. Daripada suruh milih kisah pejabat yang bagi-bagi mobil mewah ke artis-artis atau kisah Syahrini touring ke Bandung pake Lamborghini, kisah ala sinetron adalah pilihan yang paling nggak bikin ilfil. Tapi, ketidanyamanan gw menyaksikan film ini diperparah dengan akting yang, well, tribute ke sinetron juga: satu sisi ada yang awkward, sisi lain ada yang lebay. I mean, kenapa si pemeran Yopie *a very Manado/Ambon name, btw* harus meniru Reza Rahadian jadi Habibie? Dan sementara, kenapa partner-in-crime-nya tiba-tiba punya pembawaan kayak Rita Repulsa? Kenapa makan pancake pake saos tomat (!) harus diteriakkan? Kenapa gitu si sidekick yang mostly cuma jadi montir "kebetulan" namanya Monty tanpa 'r'? Is this a joke?

Ketika sampai pada kata "joke", gw menyadari seketika bagaikan disambar petir di sinetron Dewi Fortuna, bahwa Street Society sebenarnya berpotensi jadi komedi. That explains the acting, the characterizations, juga menjelaskan kenapa ada adegan tentang kisah Yopie waktu masih SMP yang supercomical. It made sense. Hell, film ini bahkan bisa dirancang jadi satir layaknya Arisan!. Sayangnya, keseluruhan film tidak diarahkan jadi komedi, malah lama-lama jadi take itself too seriously, jadi nggak lucu. Padahal kalau lucu dan bawaannya light, pasti bakal lebih menghibur--menghibur gw maksudnya, tapi ya siapalah gw.

Adegan kebut-kebutannya menjadi satu-satunya yang bisa gw kagumi dari film ini, karena digarap dengan teknik yang sangat serius, dan hasilnya pun seru, walaupun mobilnya nggak ada yang nabrak atau ancur atau kejungkir atau meledak atau bahkan tergores (ingat! bea impor dan pajaknya 100%! At least mereka masih waras soal itu). Bahkan ramp gedung parkir ITC Cempaka Mas aja jadi kelihatan asik gitu. It's that good. Well, wajah Chelsea Islan juga bonus yang nggak perlu ditolaklah. Ingat, bukan filmnya salah, gw-nya aja sirik sama kekayaan orang lain, jadinya malah gerah sama parade kemewahan di layar. Yah, emang dasar sirik tanda ndak mampu aja. Kalau dipikir-pikir, apa sih salahnya pamer kekayaan, apalagi di film? Yang ngeliat juga seneng kok, makanya sinetron-sinetron Multivision dulu banyak yang nonton. Ingat, masalahnya ada di gw, yang mau nyicil motor matic buatan China juga masih mikir. Mending duitnya buat beli sikat gigi sama handuk.




My score: 5,5/10

2 komentar:

  1. Review paling epic ----> "kenapa partner-in-crime-nya tiba-tiba punya pembawaan kayak Rita Repulsa?"
    bikin ketawa ngakak. Ayayayay... :D

    Kalo masalah filmnya sih, gak minat :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. ketauan anaknya 90s banget ya =))

      Hapus