Kamis, 27 Maret 2014

[Movie] 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 (2014)


99 Cahaya di Langit Eropa Part 2
(2014 - Maxima Pictures)

Directed by Guntur Soeharjanto
Screenplay by Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra, Alim Sudio
Based on the novel by Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Produced by Ody M. Hidayat
Cast: Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Nino Fernandez, Marissa Nasution, Alex Abbad, Gecha Tavvara


Well, gw rasa komentar gw untuk film 99 Cahaya di Langit Eropa Part 1--yang gw kasih penilaian separo karena filmnya emang baru separo dan effort-nya juga separo, nggak jauh beda dengan apa yang akan gw kemukakan tentang 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2-nya. The good news is, gw melihat improvement, misalnya adegan singkat Marissa Nasution dan Nino Fernandez bercakap-cakap dalam bahasa Jerman dengan enaknya. Udah sih, gitu aja =p.

Sebenarnya pertanyaan gw terhadap dua film ini sih tetep sama: kenapa nggak jadi satu film aja sih? Maksud gw, lihat deh komposisi ceritanya: Part 1 perkenalan doang, sedangkan konfliknya diborong semua di Part 2. Ada tentang Rangga (Abimana Aryasatya) ditaksir cewek lain, tentang Hanum (Acha Septriasa) yang kehilangan sahabat barunya, lalu ada dua temannya Rangga yang berantem terus. Katanya sih Part 2 lebih banyak konflik. Yaiyalah, wong di Part 1 kagak ada konflik, benih-benih konflik yang bisa dilanjutin di Part 2 aja nyaris nggak ada, kalaupun ada, masih "benih banget" belum berkecambah. Dan, janjinya mau ngajak keliling Eropa, nyatanya di Part 1 cuma dua negara, Part 2 cuma nambah dua lagi. Keliling apanya?

Nggak enaknya nonton film dua part adalah effort kita untuk nonton juga dua kali lipat, dan harusnya bisa dua kali enjoy. Film ini, karena cara membelahnya kayak gitu, enjoy-nya jadi separo-separo. Apa nonton dua film enjoy-nya jadi utuh? Ya enggaklah, tetep separo juga. Duit, waktu, dan energi yang keluar kan dua kali. Kalaupun Part 2-nya lebih "seru" dengan berbagai "konflik"-nya, tetap ada tertinggal "kita harus banget ngelewatin 100 menit Part 1 dulu nih?" Apa gw merasa (kedua) film ini dipanjang-panjangkan? Jelas iyalah. Itu juga yang bikin gw nggak enjoy, durasinya jadi kayak dua kali lipat.

Well, setidaknya salah satu kecurigaan gw terhadap "ini film tentang apa" terkonfirmasi di film ini, apalagi gw bukan pembaca novelnya. Yaitu, ini soal perjalanan Hanum menemukan kecintaan yang lebih dalam terhadap agamanya hingga memakai hijab--ini bukan spoiler ya, Hanum Rais yang asli muncul cameo jadi orang Turki kan pake hijab. Bukan karena tinggal di kalangan Muslim, tetapi justru karena berada di tanah Eropa yang mayoritas non-Muslim (well, Turki is barely that kind of Eropa, but whatever). That could be a very interesting plot seandainya--lagi-lagi--nggak dipresentasikan secara separo-separo di (dua) film ini.

Jadi, apakah gw merekomendasikan Part 2 lebih dari Part 1 atau sebaliknya? Dengan sotoy-nya gw akan bilang: no. Gw lebih baik minta kebesaran hati pada para pembuat filmnya, tanpa dilandaskan kerakusan dan dalih-dalih apapun itu, untuk masuk lagi ruang pascaproduksi, edit ulang 99 Cahaya di Langit Eropa jadi satu film utuh tanpa part-part-an. Let's see how that goes, baru gw nilai secara utuh. Atau, kalau emang harus banget bikin dua part (rakus loe) dan mau lebih edgy dikit, bikin Part 1 soal Rangga dari awal sampe akhir, Part 2 soal Hanum dari awal sampe akhir, jadi film paralel beda point of view gitu. See? Terkonsep! *astagah belagu banget saiah*. For now, pontennya separo lagi. Maaf.



My score: 5/10

3 komentar:

  1. OOT: Kenapa gak suka Orenji Renji lagi, bro? (Gak bisa komen di about-nya :p )

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, mereka jadi terlalu aneh buat saya *OOT juga* =))

      Hapus
    2. Ya emang bener, sih. Semenjak Neo Pop Standard jadi gak ada arah dan tujuan gitu genre musiknya.

      Hapus