Senin, 17 Maret 2014

[Movie] 12 Years a Slave (2013)


12 Years a Slave
(2013 - Summit Entertainment/Regency Enterprises/River Road Entertainment/Fox Searchlight)

Directed by Steve McQueen
Screenplay by John Ridley
Based on the book "Twelve Years a Slave" by Solomon Northup
Produced by Brad Pitt, Dede Gardner, Anthony Katagas, Jeremy Kleiner, Arnon Milchan, Bill Pohlad, Steve McQueen
Cast: Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Paul Dano, Sarah Paulson, Lupita Nyong'o, Garret Dillahunt, Adepero Oduye, Paul Giamatti, Brad Pitt, Alfre Woodard, Kelsey Scott


Setelah menonton 12 Years a Slave, gw langsung mengategorikan film ini bersama-sama dengan The King's Speech, Million Dollar Baby, The Departed, A Beautiful Mind, Shakespeare in Love, bahkan Titanic. Yang gw sebut tadi hampir nggak punya persamaan selain menang Best Picture di Oscar, tetapi semuanya adalah contoh-contoh film dramatik yang mungkin nggak gw niatkan untuk nonton, tetapi sekalinya udah nonton, gw bakal terusin sampe abis. Seperti lagi gonta-ganti channel di TV terus tiba-tiba stuck sama film yang lagi diputar di salah satunya. It's a good thing. Walau memang ada kalanya nggak jadi favorit ke depannya (*uhuk* The Departed *uhuk* Million Dollar Baby), setidaknya dalam jangka waktu beberapa jam itu gw sudah sempat terbuai di dalamnya. Bukan tipe yang mendorong gw segera ke bioskop (seandainya nggak tersiar berita film bersangkutan menang award-award-an besar), tapi gw tetep merasa lucky pernah menontonnya.

Jadi, yah, buat gw 12 Years a Slave adalah film semacam itu. Temanya penting, penuturannya captivating, aktingnya ciamik, penataan adegannya juga sinting, tetapi so far belum sampai jadi favorit. Tema perbudakan di tanah Amerika Serikat sudah sering sekali diangkat, dan intinya adalah orang-orang Amerika sekarang melihat kembali betapa bodohnya praktek perbudakan itu. Tahun lalu, kita sudah diperkenalkan tentang tema ini oleh film Lincoln yang menekankan pentingnya perbudakan dihapuskan, tetapi buat gw film Django Unchained adalah yang benar-benar bikin gw ngilu sama yang namanya perbudakan, sekalipun kemasan filmnya memang nggak historis. 12 Years a Slave menampilkan adegan-adegan sadis juga, tetapi buat gw sensasi yang dibikin Django Unchained lebih membekas, entah kenapa.

12 Years a Slave sendiri lebih bertutur sebagai film biografi Solomon Northup, berdasarkan pengalamannya dijadikan budak selama 12 tahun di seputaran negara bagian Lousiana, dari tahun 1841. Solomon (Chiwetel Ejiofor), seorang pemain musik berkulit hitam, beruntung terlahir merdeka dan tinggal di negara bagian New York yang memperbolehkan orang kulit hitam hidup layaknya orang kulit putih, walaupun dia tetap harus punya "surat keterangan bukan budak". Pada saat itu ada semacam modus kriminal oknum-oknum yang keliling mencari orang-orang kulit hitam merdeka, menculiknya lalu menjualnya sebagai budak di negara-negara bagian yang mempraktekan perbudakan. Solomon kena saat istri dan anak-anaknya sedang keluar kota. Ia terpaksa menjalani hidup sebagai budak, berpindah-pindah majikan, kena siksaan layaknya hewan tunggangan, dengan identitas dan backstory palsu yang dipaksakan oleh para makelar budak, dan menyembunyikan kenyataan bahwa ia terpelajar. Karena, di daerah South saat itu, orang kulit hitam yang terdidik dianggap menyalahi kodrat, mereka harus tetap bodoh supaya tetap bisa nurut dan dieksploitasi. Yang menyalahi kodrat harus disingkirkan (hmm...sounds familiar, kayak masih terjadi di sekitar kita sekarang *eaak*). Dilema, kalau nurut akan dilecehkan, kalau membangkang akan dihabisi. Solomon memutuskan untuk bertahan hidup, memainkan perannya sebagai budak sampai kesempatan untuk bebas itu datang, sekalipun tampak mustahil.

Kalau mau digambarkan, 12 Years a Slave "hanyalah" film yang menggambarkan detil pengalaman dan perjalanan Solomon itu. Kita bakal melihat tokoh-tokoh datang (dan dimainkan oleh aktor terkenal) dan pergi begitu saja, almost like The Butler kemarin, karena memang sudah fix kita ngikutin perjalanan Solomon seorang. Setiap titik perjalanan ada cerita yang membentuk dan mempergaruhi seorang Solomon, tetapi yang paling intensif adalah saat ia kerja buat Edwin Epps (Michael Fassbender) karena mungkin Solomon kerja paling lama sama dia. Epps adalah majikan kejam terhadap orang kulit hitam tetapi punya "perhatian khusus" terhadap Patsey (Lupita Nyong'o), budak wanita muda yang polos. Ini episode yang menarik, tapi in the end kisah dua orang ini tetap hanyalah bagian dari journey seorang Solomon, mereka juga akan ditinggalkan begitu saja. Satu sisi itu acceptable karena memang diambil dari sisi pandang Solomon, di sisi lain mungkin ada yang tidak puas karena kayak nggak selesai. Tetapi, mungkin itu memperlambangkan keadaan perbudakan kala itu, ketika posisi orang berkulit hitam tetap di bawah dan selalu dikalahkan, bahkan akan tersingkir dari catatan sejarah.

Anyhow, 12 Years a Slave menurut gw adalah film yang bagus, tapi istilahnya tuh "nggak sebegitunya ke gw". Hampir tidak ada yang baru dari tema ataupun susunan penceritaan, yang baru mungkin adalah pembangunan karakter dan beberapa penataan adegan yang bold, bisa jadi karena sutradaranya orang Inggris jadi agak beda dari gaya Hollywood. Gw kagum dengan beberapa adegan yang dibikin one-take-shot serta beberapa adegan penyiksaan yang choreographed dengan rapi tapi gamblang dan punya efek "anjrit" (baca: adegan Patsey dilempar botol kristal Whisky). Kelebihan-kelebihan itu yang bakal membuat gw nggak bakal lupa sama film ini begitu aja. Tapi, ada juga sih kekurangan yang bakal membuat gw nggak bakal lupa juga sama film ini: aksennya Brad Pitt. Katanya jadi orang Kanada, kok aksennya jadi Southern sama persis kayak peran doi di Inglourious Basterds? What the hell, man? Salah film?



My score: 8/10

1 komentar: