Jumat, 28 Februari 2014

[Movie] RoboCop (2014)


RoboCop
(2014 - Columbia/MGM)

Directed by José Padilha
Screenplay by Joshue Zetumer
Based on 1987 film RoboCop, screenplay by Edward Neumeier, Michael Miner
Produced by Marc Abraham, Eric Newman
Cast: Joel Kinnaman, Gary Oldman, Michael Keaton, Abbie Cornish, Jackie Earle Haley, Michael K. Williams, Jennifer Ehle, Jay Baruchel, Marianne Jean-Baptiste, Samuel L. Jackson


Jujur deh, berapa banyak dari kamu yang berpikir bahwa RoboCop remake ini akan jadi dumb action film yang cuma seru di tembak-tembakan dan ledak-ledakan? Well. Bagi yang memang mengharapkan itu, maaf maaf saja. Sebaliknya, bagi yang tidak mengharapkan itu tapi sudah berprasangka filmnya bakal seperti itu, justru akan mendapat kejutan. Yes, RoboCop baru ini bukan film tembak-tembakan dan ledak-ledakan buat ketawa-ketawa. Setelah filmnya usai, gw yakin sebagian akan bingung--karena maunya have fun kok malah enggak =p--, dan sebagian lagi mungkin akan merenung dan mungkin tersenyum simpul karena film ini tidak segitunya mencemarkan nama baik RoboCop. It could be a good thing or a bad thing, depends on your expectation. Nah, buat gw sih beratnya lebih ke positif, tapi tetep ada tapinya. We'll get to that later.

Ketimbang tentang kemunculan RoboCop yang jadi superhero dan membasmi seorang villain, RoboCop garapan José Padilha ini kentara sekali benar-benar menekankan "kelahiran kembali" seorang Alex Murphy (Joel Kinnaman) menjadi RoboCop, dengan perlahan-lahan. Film dibuka dengan keadaan dunia tahun 2028, sebuah perusahaan teknologi OmniCorp yang berbasis di kota industri Amerika, Detroit berhasil menciptakan prajurit robot "penjaga perdamaian" di negara-negara konflik, menggantikan tentara AS. Tapi, di tanah AS sendiri, pemakaian robot ini masih dilarang oleh undang-undang, sebagian besar rakyat tidak ingin penegakan hukum di AS dilakukan oleh mesin tak berhati-nurani. Di sisi lain, seorang detektif polisi, Alex Murphy bersama partnernya Jack Lewis (Michael K. Williams) mencium adanya kolusi oknum-oknum polisi dengan mafia narkotika. Penyelidikan itu berbuah maut: Lewis tertembak dan luka parah, sedangkan Murphy kena ledakan yang ditanam di mobilnya, mengakibatkan tubuhnya lumpuh nyaris seluruhnya. Lalu OmniCorp dan Murphy pun saling berjodoh *cieee*. 

CEO OmniCorp, Raymond Sellard (Michael Keaton) menggagas sebuah jalan agar robot-robot ciptaannya dapat diterima oleh rakyat AS, yaitu menggabungkannya dengan manusia. Sellars pun memanggil Dr. Dennett Norton (Gary Oldman) untuk membasmi virus di komputernya....ya enggak lah *itu mah Norton AntiVirus*. Sellars ingin agar Norton mengembangkan teknologi penggabungan manusia dan robot yang lebih canggih, mengingat Norton itu ahli membuat anggota tubuh sintetis/robotis buat penyandang tuna daksa. Dan, berkat Norton, Murphy kini--kecuali kepalanya--punya tubuh baru, tapi semuanya robot, lengkap dengan segala program, fitur, dan perlengkapan untuk fungsinya sebagai seorang polisi. Penyesuaian demi penyesuaian harus dilakukan agar Murphy menjadi polisi robot yang kuat dan efektif, juga penyesuaian dengan keluarganya yang tentunya tak mudah menerima keadaan Murphy saat ini.

Gw tidak menyangka bahwa film RoboCop remake ini akan benar-benar mengangkat ketokohan Alex Murphy/RoboCop dalam porsi yang besar, dan dengan cara yang telaten, tahap demi tahap disampaikan agar penonton memahami betul apa yang dirasakan oleh Murphy, juga apa pengaruhnya bagi sekitarnya. Segala sesuatu dibuat jelas sebab-akibatnya, termasuk kenapa tubuh RoboCop dari abu-abu metalik *istilah ala STNK* berubah ke hitam. Ditambah lagi, film ini juga kental mengangkat politik, mulai dari penggiringan opini publik di media *ciailah*, kerakusan korporasi, korupsi aparat negara, dan lain sebagainya. Gw sih berani bilang bahwa RoboCop ini ternyata berat juga kontennya. Belum lagi gw bahas tentang detail artificial intelligence yang mengendalikan otak Murphy, dan bagaimana ada satu faktor dalam diri Murphy yang tak diperhitungkan oleh sains dapat meng-override apa pun yang diprogramkannya. Oke...sampai di sini gw cukup berani bilang film ini agak ribet, hehe. Di satu sisi, nggak masalah, setidaknya film ini tidak jatuh jadi film action full visual effects yang nggak ada isinya. Toh kita sudah pernah lihat The Dark Knight (ada Gary Oldman-nya juga) yang punya konten mirip meski dalam "kamuflase" sebagai film superhero komik full action, dan fine-fine aja.

Tapiiii *ini nih tapinya*, José Padilha itu bukan Christopher Nolan. Gw bisa membaca (beberapa) message yang mau disampaikannya, tetapi Padilha tidak terlalu lincah bercerita, setidaknya menurut gw. Buat gw, jalan film ini sangat, terlalu telaten. Bahkan gw merasa capek mengikuti film ini sejak babak perkenalannya di awal yang menurut gw cukup melelahkan. Jadinya, gw jadi kurang merasa enjoy dengan keseluruhan filmnya, berasa lama, apalagi kontennya yang ternyata lumayan berat itu. Menurut gw, film ini kurang dapat mengimbangi "konten berat" dengan unsur fun. Tapi reaksi gw ini mungkin berangkat dari ekspektasi yang meleset juga sih. Gw kira filmnya dar-der-dor seru, ternyata itunya justru nggak banyak. Yang timbul di batin gw malah "wah, gini amat filmnya". Ya nggak papa lah, itu justru menyelamatkan film ini dari cap dumb action flick. Gw setidaknya dapat terhibur dengan penampilan salah satu aktor favorit gw, Jackie Earle Haley sebagai pelatih militer botak Rick Mattox yang selalu berkesan dan berkarakter kuat meskipun kemunculannya nggak banyak. Go, Rorschach! *salah film*.




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar