Selasa, 31 Desember 2013

Year-End Note: My Top 10 Films of 2013

Seperti tahun-tahun sebelumnya, gw akan menutup tahun 2013 dengan postingan 10 film favoritw gw. Nah seperti sebelumnya juga, kriteria film "favorit gw" adalah mungkin paling abstrak daripada versi orang-orang lain. Syarat utamanya jelas adalah filmnya gw suka. "Suka" tidak selalu selaras dengan "bagus". Bisa aja ada film yang menurut pikiran gw paling terbagus, tetapi posisinya ada di bawah film yang gw "suka banget". Dan "suka" itu juga kriterianya nggak jelas, bisa itu gw suka sampe nonton ulang nggak bosen-bosen, atau ada nilai-nilai tertentu yang membuat film ini terasa personal buat gw. Abstrak, jadi tolong jangan terlalu diseriusin amat daftar dan pengurutannya, ya.

Senarai top 10 films versi gw juga kalau bisa jangan dibanding-bandingkan sama versi luar ya, soalnya, demi mempermudah gw dalam menyusunnya, prasyarat film-film yang masuk adalah yang tayang resmi di bioskop Indonesia sepanjang tahun 2013 (apakah gw nontonnya di bioskop itu soal lain =p), dan atau film-film yang langsung beredar DVD resminya tahun 2013 tapi tayang di bioskop negara aslinya juga pada tahun yang sama. Yang belakang ini agak ribet, dan kebetulan emang nggak ada untuk tahun ini, jadi nggak usah dipikirin lah.



Baiklah, seperti biasa dalam senarai ini gw tidak membedakan film luar atau film dalam negeri, yang penting adalah yang mana yang paling gw suka, paling berkesan buat gw pribadi, yang paling keinget di tahun 2013.

Dan......inilah Top 10 Films of 2013 versi GUWEH:


Senin, 30 Desember 2013

Year-End Note: My Top 10 Albums of 2013

Bersamaan dengan postingan ini, gw mau mohon ampunan dari para pembaca yang budiman bila dalam tahun ini gw semakin jarang menulis ulasan album. Kesibukan yang melanda *hih alasan* dan juga metode gw yang mengharuskan mendengarkan album-album yang akan diulas dengan saksama minimal 5 kali, membuat gw jadi menunda-nunda eh jadinya keterusan sampe nggak dibikin sama sekali *malu*.

Tapi itu bukan berarti interest gw sama musik memudar, dan membuat blog Ajirenji jadi khusus bahas film doang. Music is a part of my life, dan pencarian akan karya-karya musik yang oke untuk mengisi hari-hari gw juga tetap berjalan. Buktinya, gw tetap bisa bikin senarai 10 album terbaik untuk tahun 2013. Tetapi mudah-mudahan dengan komentar-komentar singkat di bawah ini bisa jadi pengganti ulasan full untuk sementara, okay? Jangan marah, ya =p.

Anyway, inilah 10 album musik yang paling gw nikmati di tahun 2013 ini...



10. Joyous
Tomita Lab (冨田ラボ)

Dengerin album-album Tomita Lab itu bukan sekadar cari lagu-lagu enak bernuansa pop-jazz, tetapi seperti semacam "meditasi" untuk dengerin aransemen "non-linear" khas Keiichi Tomita. Kalau sudah terbiasa dengar karya-karya Tomita lainnya, album ini mungkin masih ada terasa repetitif, tetapi selalu ada kejutan dan keindahan yang bikin betah dengerinnya. Oh ya, album ini cukup irit vokalis tamu, cuma ada empat: Ringo Shiina (Tokyo Incidents), Ken Yokoyama (Crazy Ken Band), Yuko Hara (Southern All Stars), dan Yu Sakai. Keempatnya juga dipertemukan dalam dua lagu yang asik-asik.



9. sakanaction
sakanaction (サカナクション)

Lewat album self-titled-nya ini, gw akhirnya menemukan "titik temu" selera dengan band rock/alternatif/new wave Jepang ini. Sebagian besar mungkin masih agak ganjil bunyinya, tetapi pengaturan bunyi instrumen hidup dengan efek digitalnya sekarang lebih selaras dan serasi dari karya-karya mereka sebelumnya. Pun dari segi melodi jadi lebih pop, tapi untungnya nggak bikin standar musikalitasnya turun. 



8. Escape
Endah N Rhesa

Album ketiga dari duo akustik suami-istri yang keren ini sedikit mengagetkan. Di sini Endah N Rhesa banyak menjamah sisi yang dark dengan nada-nada minor dan kocokan musik yang lebih menjorok ke rock alternatif 90-an dalam intsrumen akustik, setelah sebelumnya mereka lebih condong ke folk dan blues yang cerah. Tetapi, "kaget"-nya nggak sampe berlarut-larut, karena lama-kelamaan gw pun bisa ngikut sama mengalirnya album ber-cover luar angkasa ini. Masih ada lagu-lagu manis dan serunya juga soalnya.



7. BREAK MY SILENCE
Yu Takahashi (高橋 優)

Mungkin kalau dibandingkan dengan dua album sebelumnya, yang ditawarkan Yu Takahashi masih tidak berubah. Lirik-lirik panjang yang dinyanyikan dengan cerewet dan all-out, musiknya juga pop-rock dengan dominasi gitar akustik miliknya. Tetapi, lewat pilihan lagu dan pengurutannya, Takahashi did a better job than his previous one, nggak terkesan maksa pengen mirip album pertamanya yang keren banget itu. Di satu sisi lebih banyak lagu yang catchyballad-nya keren-keren, di sisi lain juga lebih banyak lagu-lagu "misi" yang lirik-liriknya menyentuh perihal sosial.



6. Unorthodox Jukebox
Bruno Mars

Biar sering dikira musiknya R&B atau urban, Bruno Mars is definitely a pop artist. Dan album Unorthodox Jukebox seakan menjadi eksperimen Mars terhadap pernyataan itu. Musik yang ditampilkan variatif sekali, dari yang vintage sampai yang kekinian penuh elektronika, dari yang balada dengan piano sampai reggae. Tetapi benang merahnya tetap "Bruno Mars banget", vokal yang thin dan high-pitched tapi merdu dan nggak pernah takut untuk menembakkan suara penuh power, nada-nada yang mudah diingat, pembawaan Mars yang asyik, dan tentu saja lirik-lirik gombal.



5. Signed Pop
Hata Motohiro (秦 基博)

Kalau mengenai Hata Motohiro, mungkin emang udah bawaan gw selalu suka sama apapun yang dia karyakan *nge-fans*. Album keempatnya ini sih, kalau mau objektif, materinya nggak lebih baik dari album-album sebelumnya. Tetapi, itu tadi, lagu-lagu Hata nggak mungkin nggak gw nikmati. Lagian dalam satu paket album yang dari judulnya saja sudah "pop", it is really enjoyable. Lagu-lagunya masih enak, baik yang kalem maupun yang lebih kenceng, aransemennya pas dan menyejukkan, nggak terlalu ngoyo-pengen-keliatan-keren dengen eksperimen aneh-aneh, tetapi "jiwa"-nya tetap mencuat. Plus, vokal keren Hata masih jadi unsur juara di setiap karyanya. 



4. DAWNING
9mm Parabellum Bullet

Kadang kita nggak boleh menyerah sama artis atau band yang pas pertama kali kita lihat, kita nggak suka. Bisa saja suatu saat, artis atau band itu bertumbuh dan karyanya akhirnya bisa masuk ke selera kita *banyak omong*. Itulah yang terjadi terhadap gw dan band rock Jepang, 9mm Parabellum Bullet, salah satu band dengan nama paling keren sedunia. Dulu gw denger mereka tuh berisik, brutal, nggak ngeresep. Sekarang ditandai oleh album DAWNING ini, gw akhirnya bisa cocok sama keberisikkannya. Entah gw-nya yang berubah, atau 9mm-nya yang berhasil memoles musiknya jadi lebih sedap dengan melodi yang lebih catchy tanpa meninggalkan hentakan kerasnya. Apapun itu, it works, I really like them now *headbang*.



3. The Civil Wars
The Civil Wars

A beautiful album from a beatifully talented duo. Sejak menawan gw dalam penampilan singkat mereka di Grammy 2012, The Civil Wars yang terdiri dari duo cewek-cowok Joy Williams dan John Paul White ini menjadi band yang gw tunggu-tunggu karyanya. Album kedua mereka ini, yang dirilis setelah mereka memutuskan hiatus, kembali menawan gw. Dengan penggabungan country-folk dan Southern rock *gw juga nggak ngerti ini apa yang penting ditulis aja biar keren* begitu padu dengan harmoni vokal yang haunting, lirik yang bercerita dengan brilian, dan nada-nada yang tak pernah membosankan sekalipun sebagian besar instrumennya minimalis saja, dan itu terdapat di setiap 12 track-nya. Plis hiatus-nya jangan lama-lama dong...



2. Sriwedari
MALIQ & D’Essentials

MALIQ & D’Essentials selalu muncul dengan sesuatu yang menarik di setiap rilisannya. Tetapi, album Sriwedari mungkin adalah yang paling menarik. Awalnya dikenal sebagai band pop-urban-jazz yang lagunya enak-enak-rumit gitu, MALIQ kini semakin bergeser ke arah pop, dan khusus album ini, pop klasik. Sepanjang album ini akan terdengar jejak-jejak vintage, nada-nada pop yang catchy dan ramainya lapisan bunyi instrumen yang dinamis, bunyi-bunyian yang terinspirasi mulai dari The Beatles sampai Rhoma Irama *I am not kidding*. Sebuah paket album 8 lagu yang nyaris tanpa cela.






1. Tuna
Sherina

Tanpa bermaksud lebay, album Tuna-nya Sherina adalah salah satu dari sedikit album yang gw denger pertama kali langsung bikin jatuh cinta, dan tidak pudar ketika didengarkan kedua kali, ketiga, keempat, dan seterusnya. Lebih dari sekadar "lagunya enak semua", Tuna adalah eksibisi puncak musikalitas Sherina, mengingat karya-karyanya sebelum ini, menurut gw ya, masih meraba-raba. Visi musik di album ini jelas, lagu-lagu pop dalam nada-nada dramatis, dikawinkan dengan instrumen nyaris seluruhnya unplugged yang "ikut bernyanyi" bersama Sherina, terkhusus adalah aransemen strings section yang luar biasa lincah ampe bikin merinding, baik itu dalam lagu yang slow maupun yang kenceng. Vokal maupun musiknya ditata rapih sekali dalam variasi lagu dari ballad sampai country, dengan sense of harmony khas musisi sejati *aih apa pula artinya tuh =P*. Album dengan kualitas tinggi tanpa terkesan over-ambisius. Bravo!




See also:

Minggu, 29 Desember 2013

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2013 (Japan)

Seperti biasa, karena gw memang punya "ikatan" sama yang namanya J-Pop, gw tetap akan bikin kategori khusus top 10 lagu Jepang favorit gw setiap tahunnya. Sekalipun pilihannya tidak terlalu banyak seperti tahun 2013 ini, gw masih yakin dan percaya selalu ada permata di antara produk-produk musik yang-penting-laku yang akhir-akhir ini semakin merajalela di ranah J-Pop sana. Untungnya, gw masih berhasil menemukan 10 permata itu *tsaaah*.

Mudah-mudahan sepuluh lagu ini bisa membuktikan, meskipun pamor J-Pop di Indonesia masih nomor sekian, kualitasnya sama sekali tidak boleh diremehkan *ngebelain*. Mari lihat senarainya =)...



10. "Big Boys Cry" – Namie Amuro (安室 奈美恵)
Lagu yang agak-agak mirip "End of Time"-nya Beyoncé ini sebenarnya annoying. Tetapi berhubung lagu-lagu J-Pop tahun ini yang menurut gw asyik nggak banyak, dan setiap gw denger lagu ini bawaannya pengen jejogedan, ya sudahlah. Oh, shit, baby =P.





9. "I Am Here" – noanowa (のあのわ‎)
Noanowa ternyata masih ada, dan ada evolusi yang menurut gw cukup bijak dari band rock alternatif ini. Kini sang vokalis, Yukko nggak maksa harus bermain cello, padahal itu gimmick mereka waktu awal muncul hingga waktu masih dinaungi label. "I Am Here" mengingatkan gw sama musik-musik pop elektronika Eropa, atau lagu "Life in Mono"-nya Mono, tetapi versi lebih optimistis, dan noanowa pun terdengar lebih tertata.




8. "Ashioto no Kanata e" – Fumido ("足跡の彼方へ" – 風味堂)
Gw kira ini band udah bubar, lama banget nggak ngeluarin single atau apapun itu, tetapi trio pop-rock tak bergitar ini kembali lagi, dan masih memikat. Lagu ini menjadi favorit gw di antara recent releases mereka, mengingatkan gw sama bagaimana gw dulu jatuh cinta pada musik mereka. Lagu yang slow tetapi tidak mendayu-dayu, dengan aransemen manis dan melodi yang nyaris tak terduga.





7. "Onaji Sora no Shita" – Yu Takahashi ("同じ空の下" - 高橋 優)
Setiap tahun, Yu Takahashi selalu bisa aja menelurkan lagu yang menarik, baik itu dari segi musik, melodi, ataupun cara nyanyinya. Lagu ini sebenarnya tidak terlalu beda sama lagu medium beat penuh lirik dengan dominasi gitar akustik dikocok keras milik Takahashi yang lainnya, tetapi selipan riff rock n roll serta pilihan nada dari rendah banget sampe tinggi banget membuatnya cukup istimewa. Suka banget saat Takahashi menembakkan "oh yeaa" dengan lepas tanpa beban.





6. "HOMELY GIRL" – Scott & Rivers
Ini adalah project dua orang bule Amerika yang sangat tertarik sama bahasa Jepang, atau untuk kasus Rivers Cuomo (vokalis Weezer), tertarik sama orang Jepang—yaiyalah bininya orang sono. "HOMELY GIRL" adalah single perdana Scott Murphy dan Rivers, ditulis mereka berdua dengan lirik bahasa Jepang yang cukup sederhana dan catchy sekali. Tetapi, yang menarik buat gw adalah mereka mendalami betul kebiasaan lagu-lagu J-Pop yang kerap memasukkan kata-kata bahasa Inggris yang ganjil dan nyaris nggak pernah digunakan oleh penutur bahasa Inggris aslinya. "Homely" tuh artinya apa coba? =D





5. "Koroshi-ya kiki ippatsu" – SOIL&"PIMP"SESSIONS and Ringo Shiina
("殺し屋危機一髪" – SOIL&"PIMP"SESSIONS と椎名林檎)
Seseorang perlu membuat penelitian bagaimana bisa bangsa Jepang menghasilkan band-band jazz ber-skill tinggi sekaligus berhasil masuk dalam ranah pop. SOIL&"PIMP"SESSIONS adalah band jazz instrumental, yang bila ditilik dari single yang ini saja, musiknya lebih mirip zaman-zaman James Bond. Di sini mereka dibantu oleh vokal Ringo Shiina yang memang sudah biasa membelokkan pita suaranya untuk melodi-melodi miring ala musik jazz, sekalipun overall lagunya tetap bisa terasa pop.





4. "Answer And Answer" – 9mm Parabellum Bullet
I know it’s weird, tetapi dari dulu tuh gw pengen suka sama 9mm Parabellum Bullet gara-gara namanya keren. Tetapi, musik rock-alternatifnya yang rebek belum ada yang cocok sama kuping gw. Tetapi akhirnya hadir single ini yang secara mengejutkan sangat melodik dan catchy, dinamika beat-nya pun rapih dan menghentak asyik. Berisik asyik.




3. "Lingua Franca" – Girls' Generation ("リンガ・フランカ" – 少女時代)
No, I am NOT confused a Korean girlband as a J-Pop artist. "Lingua Franca" adalah lagu milik Girls'Generation atau SNSD atau bahasa Jepangnya Shojo Jidai, pertama kali dirilis dalam bahasa Jepang sebagai B-Side single mereka "Love & Girls", lalu dimasukkan juga dalam album J-Pop terbaru mereka, diciptakan oleh orang-orang Jepang, dan belum diterjemahkan dalam bahasa Korea. So, practically, it is a J-Pop song. And I like it. Catchy, vokalnya tertata baik, musiknya pop R&B yang sangat cerah, santai, playful, ringkas, dan jauh lebih enak daripada single J-Pop mereka yang mana pun tahun ini.





2. Inori ("祈り") – Hemenway 
Lagi-lagi industri J-Pop "diserang" band internasional yang coba peruntungan di Jepang. Hemenway adalah band pop-rock yang terdiri dari cowok-cowok keturunan Jepang dan Korea yang besar di Amerika Serikat. Datang ke Asia Timur karena ingin jadi band tiga bahasa: Jepang-Korea-Inggris. So far, gw baru menemukan karya berbahasa Jepang mereka yang fresh, enerjik, tapi teteup yang gw suka adalah yang mellow ini. Ada kesejukkan, ada drama juga, dan harmoni antara instrumen dan vokalnya enak sekali. Not your usual J-Pop ballad, tetapi itulah yang bikin istimewa.










1. "Goodbye Isaac" – Hata Motohiro 
("グッバイ・アイザック" - 秦 基博)

Selama ini Hata Motohiro berusaha membuktikan bahwa ia adalah vokalis yang versatile, bisa nyanyi slow ataupun yang upbeat. Buat gw, yang lebih sering berhasil adalah yang slow, sedangkan yang upbeat...errr...antara vokalnya nggak cocok atau lagunya nggak enak. Nah, akhirnya, hadirlah "Goodbye Isaac", single pop-rock upbeat paling asyik dan paling pas buat Hata sepanjang sejarah kariernya *tsaaah*. Lagu yang ceria dan cocok sekali untuk menceriakan pagi hari. Nada-nadanya catchy dan ringan, namun berhasil memfasilitasi vokal Hata yang keren tanpa harus maksa. Keren!






See also:

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2013 (Indonesia)

Sekarang giliran lagu-lagu Indonesia yang paling oke versi gw di tahun 2013. Tidak seperti lagu-lagu internasional, gw cukup kesulitan memenuhi quota 10 lagu terfavorit tahun ini. Bukan karena calonnya kurang, tapi yang emang gw suka banget ternyata tidak banyak. Tetapi setelah diingat-ingat lewat ingatan gw yang belum lumpuh ini *pun intended*, akhirnya bisa nemu juga lagu-lagu oke dari sana-sini, bukan cuma dari radio tapi juga dari soundtrack film. Dan agak maksa juga sih, sedikit memanipulasi peraturan bikin top 10 musik yang harusnya satu artis-satu karya, tetapi gw beri kelonggaran kalau karya satunya itu duet hehehe *spoiler*.

Baiklah, silakan melihat 10 lagu Indonesia terfavorit gw tahun 2013...




10. "Diam-Diam Suka" – Cherrybelle
What? Lagunya enak, gabungan cheesy pop dengan etnik. Gw suka lagunya tanpa harus diam-diam. Lay off, haters =p.




9. "Inspirasi Sahabat" – Kotak
Kotak bisa kok bikin lagu enak yang bukan tema cinta. This one is cathcy, rancak, ceria, dan masih mampu menunjukkan vokal Tantri yang oke berat itu.




8. "Mursala" – Iwan Fals
Gw termasuk jarang menyukai karya-karya Iwan Fals, tetapi entah kenapa gw begitu drawn oleh theme song film Mursala ini. Mungkin ada hubungannya dengan lagu ini sangat menyegarkan dibandingkan filmnya *eh*, terlepas dari lagu ini merangkum semua inti filmnya. Gw suka nuansa kesejukan dari melodi dan aransemennya, ada folk-nya gitu, bagaikan sejuknya melihat air terjun Mursala di Sumatera Utara.




7. "Tunggu Tanggal Mainnya" – Sandy Canester
Sandy Canester remains one of the most underrated Indonesian pop male artists, tetapi tak menghalangi doski mengeluarkan karya-karya yang asik. Single terbarunya dari album kedua yang gak-tau-deh-kapan-keluarnya-selain-ada-di-iTunes-doang ini masih mengandung kualitas pop yang sebenarnya mudah disukai karena kesederhanaannya, tetapi nggak kacangan, dan membuktikan Sandy nggak cuma jago di lagu-lagu cinta slow-medium aja. Nice.




6. "Cinta dalam Kardus" – Endah N Rhesa
Lagu ini  benar-benar penjelmaan dari film Cinta dalam Kardus-nya Radiya Dika. Quirky, jenaka, tetapi ada pahitnya juga, baik dari lirik, melodi, maupun chord-nya. Buat gw ini adalah theme song film Indonesia paling representatif tahun ini, dan sebagai lagu mandiri pun bagus sekali. Nada-nada "kartunis" ala Endah N Rhesa ditemani oleh permainan instrumen sederhana yang skillful. I wonder when Endah N Rhesa will make a Bahasa Indonesia album.



5. "Apakah Ku Jatuh Cinta" – Sherina & Vidi Aldiano
Lagu ini benar-benar mengingatkan gw sama Sherina ketika masih jadi penyanyi cilik dan musik dari lagu-lagunya ditangani oleh alm. Elfa Secioria: melodik, megak, klasik, tertata rapih, dan menyenangkan. Sudah lama sekali gw nggak denger lagu pop duet yang dibuat serapih ini. Still, vokal Vidi emang masih agak ganggu gayanya, untung ada Sherina =p.




4. "Enyah" – Andira
So, Andira nama seorang penyanyi perempuan, bukan asuransi mobil *what?*. Dan kalau nggak perhatikan dengan saksama, emang musik dan gaya vokalnya mengingatkan pada Raisa. Tapi, untunglah Andira punya lagu ini, yang buat gw sih lebih enak daripada lagunya Raisa yang manapun tahun ini *langsung dirajam fans-nya*. Lagunya catchy dengan variasi melodi yang asik, musiknya yang groovy bikin sejuk walaupun liriknya soal perselisihan berujung perpisahan. 




3. "Kita Bisa" – RAN feat. Tulus
Gw makin percaya RAN selalu bisa bikin lagu yang bagus. "Kita Bisa" memuat melodi jazzy yang catchy, seperti RAN biasanya. Tetapi, ada yang bikin gw lumayan merinding denger lagu ini. Bukan karena ada Tulus (not a fan of his singing), tetapi karena penggunaan strings section--baik digesek maupun dipetik--dan brass section yang luar biasa cantik, dinamis, dan "terdengar", bukan sekadar hiasan di belakang. Cakep lah lagu ini.




2. "Drama Romantika" – MALIQ & D'Essentials
Pola kerja MALIQ & D'Essentials sekarang yang cukup irit mengeluarkan karya sepertinya pilihan tepat. Mereka pun jadi bisa mengeksplorasi musik mereka...termasuk bikin lagu dangdut. Iya, MALIQ yang band pop-jazz-urban so cool so sophisticated itu bikin lagu dangdut. And it’s a very good dangdut. Terinspirasi dari rock-dut lawas khas Rhoma Irama, MALIQ nailed this one dengan lirik yang (untungnya) tetap classy dan aransemen yang "pecah". They should submit this one in dangdut category in the next AMI Awards, might win it, too.








1. "Sebelum Selamanya" – Sherina

"Sebelum Selamanya" adalah sebuah lagu pop unusual yang, ketimbang menjatuhkan, malah mem-boost-up talenta seorang Sherina sebagai artis musik sejati. Liriknya ditata bagus sekali, aransemennya pun perlahan tapi pasti beranjak dari yang sesimpel petikan gitar akustik, ke perkusi, lalu ke strings section yang megah dan dramatis. Ditambah vokal lembut, berbobot nan apik milik Sherina, menjadikannya sebuah sajian audio yang mengagumkan dan menyejukkan. Keren banget.




See also:

Year-End Note: My Top 10 Songs of 2013 (International)

It's that time of the year again. Sudah memasuki akhir tahun dan saatnya gw menggelontorkan top10-top10-an versi gw untuk tahun 2013. Kita mulai dari lagu-lagu yang masuk kategori "internasional", istilah gw untuk lagu-lagu di luar Indonesia dan Jepang, karena itu nanti ada kategori sendiri. Di antara kategori-kategori yang ada, bisa dibilang yang ini calonnya paling banyak, karena emang akhir-akhir ini frekuensi gw dengerin radio lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya, jadi yah you may say tahun ini gw cukup update lah sama-sama lagu heitzz masa kini *sisiran* *eh nyangkut*.

Tapi di antara belasan bahkan puluhan calon itu, gw akhirnya berhasil menyaringnya jadi 10 saja lagu-lagu yang emang paling keinget dari tahun 2013. Harap maklum kalau kurang hipster ya, gw gitu =p. Kita mulai ya, dalam urutan mundur...



10. "Clarity" – Zedd feat. Foxes
Gw akui jadi kenal lagu ini gara-gara "didikte" radio. Pernah dalam satu hari, tiga radio yang gw dengerin memasang lagu ini secara bergantian. Gw bukan penggemar electronic dance music, tetapi "Clarity" punya kualitas "love ballad" yang mudah diingat lama dan bakal sering di-cover oleh penyanyi-penyanyi yang mau pamer vokal.




9. "Rock N Roll" – Avril Lavigne
I won’t say ini adalah comeback-nya mbak Avril, tapi dibanding lagu-lagunya 2-3 tahun belakangan ini, "Rock N Roll" menurut gw adalah lagunya mbak Avril yang paling asik. Agak-agak Nickelback? Ya karena Chad Kroeger ikut nulis lagu ini, dan dia lakinya Avril sekarang.




8. "Still Into You" – Paramore
Lagu ini emang agak centil ya melodinya, tapi justru itu yang bikin menarik dan bikin keinget terus. Setidaknya berhasil sedikit melepaskan kesan "Fall Out Boy versi vokal cewek" di benak gw. Enak.




7. "Young and Beautiful" – Lana del Rey
Melodi dan liriknya selalu didengungkan di setiap adegan krusial film The Great Gatsby. Begitu syahdu tapi kena banget, apalagi dengan vokal sendu-kayak-nggak-niat-nyanyi dari Lana del Rey. Rasanya nggak mungkin nggak masukin ke top 10 akhir tahun *contoh kalimat yang dibikin karena udah mentok gak tau mau nulis apa lagi =P*




6. "Royals" – Lorde
"Royals" adalah salah satu lagu yang nyelonong di ingatan gw karena nadanya yang minor-minor gimana gitu ditambah aransemen elektroniknya yang terbilang minimalis, juga lafalnya yang aneh. Ini anak New Zealand masih 16 tahun tapi lagaknya emang tua banget ya.




5. "Get Lucky" – Daft Punk feat. Pharrell Williams
Gw seneng karena di tengah-tengah booming-nya electronic dance music yang seragam bunyinya, Daft Punk tetap dengan ciri khas mereka yang masih mengandung unsur disko lawas, dan mau pake instrumen musik betulan bukan laptop doang. Joget-joget mendengarkan lagu ini sambil nyetir adalah keniscayaan.




4. "Radioactive" – Imagine Dragons
Curang nggak sih gw masukin lagu ini di tahun ini? Ini salah satu lagu Imagine Dragons favorit gw di album Night Visions yang udah gw dengarkan sejak tahun lalu, dan emang baru tahun 2013 lagu ini resmi dirilis dalam bentuk single. Perpaduan pop-rock dengan dub-step-nya cakep sekali di lagu ini, ditambah dentuman bass-drum yang bikin makin menggelegar. Quite anthemic.




3. "Safe and Sound" – Capital Cities
Jarang ada artis yang bisa membuat lagu mereka yang sebenarnya "gitu doang" menjadi nggak bikin jenuh dan malah asik. Lagu "Safe and Sound" ini hanya punya 1 baris nada, yang diulang-ulang melulu! Tapi dengan aransemen yang pas—terompetnya asoy banget—yang bikin ceria, malah jadi pengen denger berulang-ulang juga. And it’s super-catchy.




2. "Just Give Me a Reason" – P!nk feat. Nate Ruess
Aaahh. Pasaran ya? Ya gimana dong, lagunya punya formula ampuh untuk jadi favorit banyak orang, termasuk favorit gw. Lagu balada yang powerful dengan nada yang bisa-bisanya catchy sekali tetapi nggak terjebak jadi media pamer vokal semata. Well, pamer juga sih, antara suara sangar P!nk dan suara laki-tapi-kok-nyampe-sih dari Nate-nya Fun, tapi tepat guna dan malah menambah cengkeraman lagu ini di ingatan.









1. "Treasure" – Bruno Mars

Dan favorit gw kali ini adalah lagu yang selalu mengajak pendengarnya untuk ikut nyanyi dan joget, atau minimal jentik jari, walau liriknya juga masih gombal kayak apaan tauk. Bruno Mars mengemas lagu ini dengan cara yang nyaris identik dengan pop-disco-funk ala-ala Earth, Wind and Fire di tahun 1970-1980-an, ketika joget disko masih classy *halah, kayak tau aja*. Somehow, Mars membuat lagu ini terkesan kuno tetapi juga masa kini banget. Can’t get bored with this one. Singkat, padat, asik, dan my number 1 favorite of the year.



See also:

Sabtu, 28 Desember 2013

[Movie] Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)


Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
(2013 - Soraya Intercine Films)

Directed by Sunil Soraya
Screenplay by Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro, Rieham Juniati, Sunil Soraya
Based upon the novel by Buya HAMKA
Produced by Sunil Soraya, Ram Soraya
Cast: Herjunot Ali, Pevita Pearce, Reza Rahadian, Randy "Nidji", Gesya Shandy, Arzetti Bilbina, Kevin Andrean, Jajang C. Noer, Fanny Bauty


Jujur deh, pas gw lihat trailer film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, I think it’s going to be crap. Berdasarkan tampilannya yang Titanic-ish dan The Great Gatsby-ish, dalam benak gw film ini sedang menghancurkan sebuah karya dari sastrawan terkenal Indonesia, Buya HAMKA demi tampilan serba mewah belaka. Belum lagi beberapa tahun lalu, karya HAMKA lainnya baru saja dihancurkan, Di Bawah Lindungan Ka’Bah tahun 2011, sutradara Hanny R. Saputra, produksi MD Entertainment dan Gery Chocolatos =p...yang main si Junot juga lagi. Trauma-trauma itu berhasil membentuk pola pikir gw untuk memandang rendah film ini, kalau pun gw nonton itu karena gw pengen menghina-dina film ini. Ternyata...

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck tidaklah seperti di pikiran gw...well, sebagian besarnya. Tetapi, jujur, kalau ada yang bilang film ini keren dan ternyata berhasil ditonton jutaan orang, gw sangat mengerti. It is far from bad. Film ini adalah salah satu film komersil Indonesia paling niat dan serius yang pernah gw lihat sepanjang tahun ini, dan niat dan seriusnya itu di bidang yang tepat: penuturan cerita. Penuturannya yang jelas, tertata dari satu babak ke babak lainnya, dan nggak perlu mikir, semua orang yang nonton akan mudah larut, mungkin sampe ikutan emosi.  Kisahnya cukup panjang, tetapi tidak berlama-lama. Lajunya cukup lincah, tidak terpaku sama melodrama. In short, enak banget nonton film ini, durasi 2 jam 40 menit pun nggak kerasa kelamaan.

Kalo ngintip-ngintip sinopsis novelnya pun plot dan tokoh-tokohnya kayaknya nggak banyak berubah, termasuk penekanan tentang bagaimana adat Minangkabau kala itu menghalangi cinta Zainuddin (Herjunot Ali) yang nggak dianggep karena ibunya bukan orang Minang, dengan Hayati (Pevita Pearce) yang adalah anak dari keluarga petinggi adat. Gw bisa lihat bahwa sekalipun menganut garis keturunan ibu, kaum perempuan tetap tidak punya posisi menentukan keputusan. Akibatnya, dengan menaati keputusan dewan adat, Hayati setuju dinikahkan dengan Aziz (Reza Rahadian) yang Minang dan kaya dan gaul sama orang Belanda. Tapi tak hanya itu, Hayati yang udah pernah janji "akan menunggu sampai kapan pun" pada Zainuddin saat akan pergi dari kampung, eh malah secara sepihak memutuskan Zainuddin, dan menyuruhnya lupain aja cinta mereka. Cuma lewat surat lagi. Hih! *ikutan emosi*.

Adapun yang bikin gw betah mengikuti kisah film ini adalah adalah sinergi pengarahan adegan, sinematografi, dan editingnya. Gw mungkin nggak bisa menggambarkannya dengan tepat, tetapi gw suka sekali dengan gaya pengarahan Sunil Soraya terhadap para aktornya yang seperti film-film klasik, blocking-nya itu selalu tepat, dan sorotan kamera pun tidak pernah monoton, ditambah perpindahan gambar yang lincah. Ada lebay-nya pasti, tapi nggak pernah sampe kecentilan. Di film ini juga banyak menggunakan teknik dialog yang di-voiceover tapi yang ditampilkan adalah gambar adegan lain di tempat lain. Gw tahu ini bukan teknik baru, tetapi menarik aja, karena ini juga bikin jalan ceritanya tetap mengalir, dan hemat waktu. 

Pas orangnya udah tajir aja, baru deh bengong *emosi*.

Lalu kita sampai pada bagian yang dengan sukses menghalangi gw untuk 100% menyukai film ini. Gw masih bisa maklum dengan pemilihan pemain yang berwajah bule supaya banyak yang nonton (alasan yang sama kenapa banyak orang yang masih simpati sama Ariel Noah tapi menistakan Andhika ex-Kangen, cruel but true), dan gw menghargai usaha para pemain untuk memasukkan unsur daerah dalam tutur katanya, khususnya Junot yang gw hargai sekali usahanya. Usahanya ya, hasilnya sih belum tentu *jahat*. Gw pun tidak berkeberatan dengan penggunaan theme song dan musik latar sepanjang film dengan genre modern nyerempet Brit-pop dari Nidji, malah jadi enak dan beda aja.

Tetapi, mungkin beberapa detil production design dan kostum-nya yang luar biasa mewah dan mahal tapi kurang sreg di gw. Latar ceritanya kan Indonesia/Hindia Belanda tahun 1930-an, tapi berbeda sekali dengan yang gw lihat di film-film lain, Soekarno misalnya. Tapi gw paham, tujuannya adalah menyorot kehidupan warga pribumi yang "kasta"-nya agak di atas. Namun, benar atau enggaknya penggambaran orang pribumi bisa melakukan kebiasaan dan menikmati fasilitas yang sama dengan orang Belanda pada saat itu tanpa adanya pembedaan, gw ragu. Problemnya, desain-desain yang diperlihatkan malah mengingatkan gw pada di film-film Indonesia 1970-an ketimbang "zaman penjajahan", khususnya ketika sudah memasuki babak Padang Panjang, Batavia, dan Surabaya. Seperti telenovela-telenovela-an yang dimainkan orang Indonesia. Enak sih dilihat, tetapi gw ngerasa distant aja, dan bertanya-tanya dalam sukma "emang dulu bisa kayak gini ya?". Jika memang sengaja dibikin extravagant, dan meleburkan waktu alias anakronisme, ya nggak apa-apa juga sih, setidaknya gw jadi nggak perlu kaget ketika melihat daftar harga barbershop kayak hasil print HP Deskjet, atau buku karya si Zainuddin yang covernya kayak dicetak GagasMedia tahun 2003. Toh, film ini juga nggak sejarah-sejarah amat.

You know, kalau mau menjabarkan kekurangan film ini menurut gw, lumayan banyak ternyata. Gw masih belum nyebut beberapa dialog yang halah-kok-ya-panjang-banget-kapan-selesainya, efek digital/miniatur kapal Van Der Wijck-nya masih taraf...well, belum maksimal dan kurang polesan, beberapa gambar dengan tambahan efek digital resolusinya kelihatan banget kasarnya, ataupun gw yang nggak menemukan apa penyebab kapalnya tenggelam =p Tapi, lagi-lagi, gw tak kuasa mengakui bahwa gw emang enjoy film ini secara keseluruhan. Sebuah kisah cinta klasik dikemas dan dituturkan dengan cara yang modern tanpa kelewat centil atau over-melodramatis--jelas masih melodramatis tapi nggak over *dijelasin*. Dialog-dialognya yang menjurus ke sastrawi pun bisa di-deliver dengan baik, mungkin karena dalam pikiran gw film ini cerita tentang zaman dahulu/semesta alternatif sehingga terdengar fine-fine aja. Sure, there are laughable moments, tetapi harus diakui film ini cukup bisa mempertanggungjawabkan sesumbar "movie event of the year" yang sering menganggu kita di linimasa Twitter sebagai promoted tweet =D. 




My score: 7,5/10

Jumat, 27 Desember 2013

[Movie] Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor (2013)


Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor
(2013 - Mizan Productions/Falcon Pictures)

Written for the screen & Directed by Benni Setiawan
Based on the novel "Edensor" by Andrea Hirata
Produced by Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Cast: Lukman Sardi, Abimana Aryasatya, Astrid Roos, Mathias Muchus, Zulfanny, Rendy Ahmad, Ferdian, Arswendi Nasution, Hengky Solaiman, Shalvynne Chang, Paris Laurent, Gregory Navis, Emma Chaibedra


Sebelum memberikan komentar yang lain-lain, pertama-tama gw dengan bangga hendak menobatkan Laskar Pelangi Sekuel 2: Edensor sebagai Film Indonesia dengan Judul Teraneh 2013. Film macam apa yang memasukkan kata "sekuel" di judul resminya? Inilah yang terjadi kalau komersialisasi sebuah karya seni tidak dibarengi dengan sikap tenang dalam mengambil keputusan. Aneh banget, dan nggak efektif, dan membingungkan. Why harus keukeuh ada angka "2"-nya? Biar diomongin? Oh, okay. Let's move on, then.

Edensor adalah adaptasi dari novel ketiga tetralogi "Laskar Pelangi" karya Andrea Hirata yang laris itu, setelah Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Dua judul pertama tersebut sudah pernah difilmkan oleh Riri Riza dan Miles Films di tahun 2008 dan 2009, which are sukses banget dengan raihan masing-masing lebih dari 5 juta dan 2 juta penonton di bioskop, plus brand Laskar Pelangi berhasil terbangun di benak banyak orang sebagai patokan "film Indonesia bermutu". Tapi, Edensor tidak lagi ditangani Miles Films karena, selidik punya selidik, Miles telanjur ambil proyek lain (Sokola Rimba dll), sedangkan deadline untuk memfilmkan Edensor sudah di ambang batas, sehingga Miles Films pun melepas proyek ini. Lalu Mizan Productions sebagai pemegang hak tetralogi buku Laskar Pelangi mengajak Falcon Pictures untuk memproduksi Edensor, sedangkan sineas yang direkrut sebagai penulis dan sutradaranya adalah Benni Setiawan. From this point, dan dari pilihan judulnya yang aneh itu, akanlah sangat berlebihan jika mengharapkan film Edensor punya kualitas yang sama dengan Laskar Pelangi atau Sang Pemimpi. You've been warned.

Tapi, memang dari segi cerita saja udah berbeda, jadi kalau dibanding-bandingkan ya nggak fair juga. Edensor mengisahkan tentang bagaimana Ikal (Lukman Sardi) dan saudara angkat sekaligus sahabatnya, Arai (Abimana Aryasatya gantiin Ariel "Noah") hidup setelah menunaikan impiannya belajar (S2) di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis dengan beasiswa. Ketika dalam dua seri sebelumnya selalu diomongin soal meraih mimpi dan meraih mimpi, di Edensor yang diomongin adalah apa kabar dengan mimpi ketika dihadapkan dengan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, memikirkan perkara di kampung halaman, atau pun soal cinta. Secara konsep, apa yang mau diceritakan di Edensor ini lebih membumi. Gw pun lumayan bisa memahami benang merah film ini adalah tentang Ikal, kerinduannya kepada gadis cem-cemannya waktu masih SD di Belitung, A Ling, yang semakin menggebu-gebu, justru saat dia dating sama cewek bule Jerman di kampus, Katya (Astrid Roos). It's a strange desire karena Ikal juga terakhir ketemu A Ling juga waktu masih zaman sekolahan. Ini pula yang lama kelamaan membuat persahabatan Ikal dan Arai jadi berjarak, karena seakan mimpi mereka sekarang udah beda arah.

Yang gw suka dari Edensor adalah finally ceritanya berkisah tentang Ikal, ketika pada installment sebelumnya justru berfokus pada orang-orang lain yang dikagumi Ikal, yaitu Lintang dan Arai. Ini tentang kehidupan Ikal yang orang Belitung hidup di negeri orang, dan penggambarannya cukup baik. Apalagi tokoh lokalnya emang pake aktor lokal dan bahasa lokal, nggak kayak film...ah sudahlah. Memang, jatuhnya film ini kayak lebih dangkal dari film-film sebelumnya, cuma soal Ikal mencari cinta di tengah menyelesaikan pendidikannya, tetapi setidaknya kisahnya masih konsisten. 


Nah, problemnya, penuturan kisah yang sebenarnya ringan dan sederhana itu terkadang tersendat-sendat merayap dalam kegelapan *nyanyi*. Ini hampir sama dengan apa yang gw alami ketika gw nonton film Benni Setiawan sebelumnya, Madre. Ketika babaknya lagi di bawah dan sendu, bawaannya senduuu banget ampe gw terbuai alias merasa bosan. Belum lagi gw tidak merasa ada relevansi yang kuat antara adegan masa kuliah Ikal dengan flashback masa remajannya di Belitung, kecuali karena gambarnya cakep, atau supaya menyambung dengan Laskar Pelangi, atau supaya bisa bikin product placement. That "vaksin" scene is embarassing, btw. Untungnya bagian klimaksnya lebih enerjik dan lumayan menghibur.

Kalau menyaksikannya dengan ekspektasi yang tepat dan santai, film ini sedikitnya masih memberikan hiburan, dihiasi dengan kerjasama kompak dari tata sinematografi, musik, theme song, juga akting dari para aktornya. Perhatian gw tertuju pada Astrid Roos yang bisa menghidupkan tokohnya dengan effortless tapi pas. Cantik banget sih enggak, tapi emang layak dijadikan rebutan anak-anak kampus dengan attitude-nya. Demikian pula dengan Abimana yang sepertinya sedang jadi most reliable actor bagi sineas kita, baru saja gw saksikan doski di 99 Cahaya di Langit Eropa, namun di film ini tampil tanpa beban melanjutkan peran Arai yang memang lebih outgoing daripada Ikal, beda dengan perannya yang kalem di 99 Cahaya yang setting-nya mirip-mirip.

I enjoy many parts of the filmEffort-nya perlu dihargai terutama dalam hal penggunaan Paris sebagai lebih dari sekadar latar. Beberapa joke-nya mungkin agak-agak gimanaa gitu, tetapi overall, gw masih bisa terima sama apa yang diceritakan film ini...sebelum akhirnya gw dapat informasi kalau kisahnya sebenarnya belum meng-cover seluruh novelnya, bahkan baru separuh. Wow, party-pooper. Padahal biarin aja gw menikmati kisah di filmnya yang menurut gw sih sudah cukup, kalaupun bersambung (karena gw pikir 'kan ada buku selanjutnya, Maryamah Karpov) setidaknya udah jelas arahnya ke mana. Sebagaimana sering gw ungkap, itulah kekurangan (atau justru keuntungan) gw sebagai bukan penghobi buku. Ah, anyway, kalau bandingannya Laskar Pelangi, dan even Sang Pemimpi, Edensor ya nggak sebanding, karena emang udah beda sih cerita dan tone-nya. Tetapi sebagai sebuah film sendiri, nggak jelek lah...nggak se-"meh" judulnya.




My score: 7/10

[Movie] Soekarno (2013)


Soekarno
(2013 - Multivision Plus)

Directed by Hanung Bramantyo
Written by Ben Sihombing, Hanung Bramantyo
Produced by Raam Punjabi
Cast: Ario Bayu, Maudy Koesnaedi, Lukman Sardi, Tika Bravani, Tanta Ginting, Ferry Salim, Mathias Muchus, Nobuyuki Suzuki, Agus Kuncoro, Argo, Sujiwo Tejo, Emir Mahira, Osa Aji Santoso, Ayu Laksmi, Norman Akyuen, Rukman Rossadi, Patton


Kayaknya membuat film biografi tokoh terkenal di Indonesia akan selalu problematik, apalagi kalau tokohnya sebesar Soekarno, presiden pertama RI. Problematik bisa dari tokoh/pendukungnya nggak mau sisi negatif si tokoh digambarkan dalam film karena entar dibilang pencemaran citra *yeah sure*, atau dinilai tidak betul-betul akurat/kurang faktual *kayak paling tau aja*, atau dari sisi pembuatan filmnya sendiri kesulitan mencari benang merah yang membuat kisah hidup si tokoh menjadi satu kesatuan cerita yang utuh. Film-film biografi Indonesia akhir-akhir ini pasti punya setidaknya salah satu dari problem di atas. Habibie & Ainun masih ada sedikit unsur "pembelaan diri" dari tokoh yang bersangkutan. Sang Kiai mengandalkan banyak tulisan untuk menggambarkan peristiwa sejarah sampe capek bacanya, banyak typo lagi. Yang paling "selamat" adalah 9 Summers 10 Autumns, karena di sana ada kejujuran, ada inti cerita, dan detil kisahnya dijaga dengan cukup baik. Yah tokohnya juga belum terkenal-terkenal amat sih =P.

Nah, sekarang hadir Soekarno, kolaborasi kolosal sejarah kedua dari sutradara Hanung Bramantyo dan produser kesayangan kita semua, Raam Punjabi, setelah Sang Pencerah. Proyek ini terbilang risky kalau menurut gw. Pertama, karena gw belum pernah benar-benar puas terkesan sama film-filmnya Hanung, filmnya nggak pernah sampe membuat gw rela kasih ponten sampe 8/10. Kedua, ini soal Ir. Soekarno, tokoh yang banyak diidolakan dan dijaga betul citranya, khususnya oleh anak-anaknya yang sebagian besar terjun ke politik. Berbagai persoalan, penolakan, kecaman, bahkan tuntutan terhadap film ini sepertinya bukan lagi hal yang mengejutkan. Film besar, tentang tokoh besar, pasti semua orang ingin ambil bagian, atau setidaknya ikut komentar seakan kebenaran hanya mereka punya. Sayang, Bunda Dorce tidak tampil di TV lagi untuk selalu mengingatkan bahwa kesempurnaan hanya milik Yang di Atas.

Gw pernah mendengar statement dari Hanung Bramantyo tentang alasan pemilihan cerita dalam film Soekarno ini. As you know, Ir. Soekarno punya kehidupan yang penuh dengan cerita, kepribadiannya pun sangat berwarna, dari lahir hingga wafatnya. Karena itulah, Hanung memilih bagian yang "paling nggak bikin tersinggung", tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia...walau ternyata masih ada aja yang tersinggung. Anyway, berangkat dari pernyataan itu, gw pun mencoba menangkap jalan cerita film Soekarno dari sudut itu. Dan memang iya, seperti Sang Pencerah yang berinti pada terbentuknya Muhammadiyah, Soekarno juga (maksudnya) mengambil proklamasi kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno sebagai benang merah cerita di samping menceritakan tentang sosok Soekarno sendiri. Secara konsep, ini bagus.

Meski lahir dari keluarga Jawa (dengan ibu dari Bali) yang berada, Soekarno (Ario Bayu, versi kecilnya Osa Aji Santoso, versi remajanya Emir Mahira) sudah menyadari ketidakadilan pemerintahan kolonial Belanda, termasuk diskriminasi yang dialaminya ketika berkunjung ke rumah anak cewek Belanda yang ditaksirnya. Itu more or less memotivasinya untuk ikut dalam gerakan nasionalis menuju kemerdekaan Indonesia ketika besar. Persoalan apakah semua proses menuju itu diungkap dengan akurat sesuai sejarah, itu gw kurang tahu. Gw sih emang merasa ada beberapa bagian seperti ke-skip, atau sengaja di-skip, seperti cara Soekarno bisa terkenal dan dihormati seantero Hindia Belanda, pembuangannya di Ende, juga peran penting istrinya, Inggit Ganarsih (Maudy Koesnaedi) dalam perjuangan Soekarno, dan lain-lain lah. Mungkin, pembuat film ini agak keteteran karena saking banyaknya detil yang harus diangkat. Hence, film ini terjangkit masalah "kurang lengkap" seperti yang gw singgung di atas. Apa mungkin karena terlalu banyak referensi berbagai versi jadi penulis naskahnya jadi keblinger? Perhaps.

Gambar filmnya memang tampak sekeren still photos-nya.

Tetapi, jika merujuk pada judul Soekarno, menurut gw film ini sudah cukup seimbang dalam hal menggambarkan pribadi Ir. Soekarno. Again terlepas dari akurat atau enggaknya, secara gw juga belum lahir waktu itu, just like most people, tapi gw lumayan bisa put the pieces together tentang pribadi Soekarno yang ada di dalam film ini. Sebelum ini, gw nggak pernah menyaksikan kisah Soekarno sang pejuang kemerdekaan dan Soekarno yang rumah tangganya yang penuh dinamika diceritakan dalam satu platform, dan bagaimana kedua sisi itu saling memperngaruhi. Kita tahu Soekarno itu penuh wibawa, bervisi jelas, tiap pidato selalu berapi-api, tegas, dan tahu apa yang dia lakukan meski diragukan banyak pihak. Tapi, kita juga banyak tahu kalau Soekarno terkenal sebagai pengagum kaum wanita, yang terkadang menimbulkan permasalahan. Di film ini, gw melihat bahwa di tengah-tengah perjuangan yang berat menuju kemerdekaan, ia juga harus mengalami masalah rumah tangga yang pelik, yang di sini direpresentasikan lewat dilema antara mempertahankan Inggit yang tak mau dimadu, atau tetap menikahi mantan muridnya di Bengkulu, Fatmawati (Tika Bravani). Menurut gw, drama rumah tangga ini direpresentasikan dengan menarik, at least dramatis, sehingga membuat sosok Soekarno di sini jadi membumi. Gw senang, karena jadinya tidak ada pencitraan berlebihan.

Film Soekarno mungkin masih kurang komplit, entah itu kurang komplit data dan faktanya, ataupun kurang komplit sebagai sebuah film cerita yang utuh. Tetapi, untuk memperkenalkan kembali sosok Soekarno kepada audiens yang luas masa kini,  I think it's fine. Gw suka banget production value-nya, gw suka look dan warna visual film ini yang kelihatan kayak "film beneran", gw pun menikmati setiap performance dari para aktornya. Highlight-nya sih buat gw adalah Ario Bayu yang terbukti bisa mempertanggungjawabkan perannya sebagai seorang tokoh bangsa yang besar dengan serius. Meski dari segi muka jauh, tetapi sikap, gestur, dan pembawaan karakternya pas. Tidak serta merta meniru, mungkin karena sadar dirinya nggak mirip Soekarno, tapi passable-lah untuk jadi Soekarno dalam era itu, bikin gw lumayan percaya untuk sementara bahwa seorang Soekarno bisa saja seperti yang diperankan Ario. Wibawanya oke, gombalnya juga oke =D. Metode apapun yang Ario gunakan untuk peran ini, it works.

Jadi, kalau mau dirangkum ocehan 6 paragraf gw tadi, gw suka melihat film ini, tapi gw kurang dapat informasi cukup dari ceritanya yang agak skip-skip, but then again gw suka sama pembawaan para aktornya, dan suka sama penggambaran drama rumah tangga Soekarno, something that I know everybody has been looking forward to see in a film. Directing-nya oke, tapi agak lucu juga sih kalau gw inget satu adegan Soekarno, Hatta (Lukman Sardi), dan Sutan Sjahrir (Tanta Ginting) lagi diskusi, mereka bergantian mengujarkan dialog sambil berdiri balik badan menghadap jendela, classic XD. Di luar semua itu, gw masih menikmati jalannya film ini sehingga 2 jam 15-an menit lebih durasinya nggak berasa-berasa amat. Gak rugi lah bayar tiket nontonnya. Tapi, mas Hanung, pontennya masih belum 8/10 ya dari saya =P...



My score: 7,5/10

Rabu, 25 Desember 2013

Piala Maya 2013


Piala Maya, apresiasi nyata untuk film Indonesia dari komunitas dunia maya @FILM_Indonesia yang penilaiannya dilakukan oleh kalangan pecinta film Indonesia yang actually nonton film Indonesia bukannya dari orang-orang yang suka komen-komen sotoy di DetikHot dan Kompas.com *nyebut merek*, kembali diadakan untuk kedua kalinya di tahun ini. Pemberian penghargaan telah dilaksanakan secara sederhana di Umaniara de'Brawijaya Art Gallery di Jakarta Selatan pada Sabtu, 21 Desember 2013.

Once again, menurut gw Piala Maya 2013, walaupun terbilang masih "kecil-kecilan", punya hasil penilaian yang lebih nggenah daripada ajang penghargaan yang lebih besar. Ini bukan karena gw menjadi salah satu dari 159 orang juri Komite Pemilih ya *ciee, blagu*, tetapi kelihatan bahwa penentuan nominasi dan pemenang dilakukan dengan nothing more and nothing less than love for Indonesian cinema, dan dengan harapan agar para sineas yang ada dan akan ada tidak putus asa untuk terus membuat karya berkualitas sebanyak-banyaknya.

Begini kira-kira suasana malam penganugerahan Piala Maya 2013.
Harap maklum kalau fotonya agak kurang, gw gitu =p.

Eh mumpung disinggung, benar bahwa para juri yang disebut 100 Komite Pemilih tahun ini jumlahnya nambah jadi 159 orang. Bukan cuma terdiri dari kritikus, blogger atau jurnalis film, tetapi sekarang melibatkan juga lebih banyak individu-individu dari berbagai bidang seperti designer, musisi, akademisi, bahkan pelaku industri hiburan dan perfilman sendiri, mulai dari Afgan (yes, that Afgan), sinematografer Yadi Sugandi, sampai aktris Niniek L. Karim, yang turut memberi vote untuk penentuan nominasi dan pemenang. Seperti kata ketua Komite Pemilih, dr. Daniel Irawan di acara penganugerahan, Piala Maya ini mencoba menciptakan formula yang dapat menghasilkan pilihan yang fair alias "jalan tengah" dari pilihan pelaku perfilman, kritikus, dan penonton.

So, guys, inilah para pemenang Piala Maya 2013:


Senin, 23 Desember 2013

[Movie] 99 Cahaya di Langit Eropa (2013)


99 Cahaya di Langit Eropa
(2013 - Maxima Pictures)

Directed by Guntur Soeharjanto
Screenplay by Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra, Alim Sudio
Based on the novel by Hanoum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra
Produced by Ody M. Hidayat
Cast: Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Nino Fernandez, Marissa Nasution, Alex Abbad, Gecha Tawara, Dewi Sandra


Kalau kalian rajin ikutin komik Crayon Shinchan, pasti tahu kalau Shinchan punya tetangga turunan Amerika yang belum bisa bahasa Jepang, namanya Robert. Robert selalu berbicara dengan bahasa Inggris, tetapi supaya pembaca mengerti doski ngomong apaan, dan supaya lucu, maka si pengarang tetap menuliskan dialognya dalam bahasa Jepang (kalau di versi Indonesia ya bahasa Indonesia), tapi selalu memberi keterangan dengan tanda panah menunjuk ke bubble dialog Robert dengan teks ini: "ini ceritanya bahasa Inggris". You know what? Itu juga terjadi di film 99 Cahaya di Langit Eropa. Yup, gw barusan menyamakan film bernuansa religi dengan komik Jepang kontroversial. Dan setidaknya di Shinchan masih dikasih keterangan "ini ceritanya bahasa Inggris". Di film ini, enggak.

Gw nggak ngerti caranya bikin film sih ya, tetapi menurut penilaian gw, okelah kalau misalnya setting-nya dan orang-orangnya ceritanya di China tapi dibikin semuanya berbahasa Indonesia, asalkan emang semua orang di sana berbicara bahasa yang sama. Nggak ada masalah, anggep aja self-dubbing *apa pula itu*. Tapi kalau filmnya tentang situasi antarbangsa, seharusnya ada effort lebih mengenai ke-antarbangsa-an itu. Tokohnya bolehlah dimainkan oleh bukan orang bangsa aslinya, tetapi setidaknya itu bisa dikamuflase dengan penggunaan bahasa, makeup, dan gestur. 99 Cahaya di Langit Eropa setting-nya di Wina, Austria dan Paris, Prancis. Anehnya, orang Turki (Raline Shah, Gecha Tawara), orang Austria (Nino Fernandez, Marissa Nasution), orang Pakistan (Alex Abbad), dan orang Prancis (Dewi Sandra) yang ada di sana bisa berbahasa Indonesia dengan sangat faseh setelah mengucapkan beberapa kata bahasa Inggris dan Jerman. Lebih aneh lagi, yang bisa begitu hanyalah tokoh-tokoh bule yang dimainkan oleh aktor Indonesia, sedangkan tokoh lain yang asli bule nggak pernah berbahasa Indonesia. Gw nggak habis pikir kenapa pembuat filmnya tidak merasa ini sebuah keanehan.

If only that is the only problem this film has. 99 Cahaya di Langit Eropa ternyata adalah film yang bersambung, karena nanti bakal ada bagian 2-nya. Lagi tren banget kayaknya. Akibatnya, film 99 Cahaya bagian pertama ini jadi nggak ke mana-mana. Cuma kayak kenalan, jalan-jalan, itu pun cuma ke dua kota, Wina dan Paris. Udah. Plot-nya apa juga gw nggak tahu. 

Well, di bagian awalnya sih ada satu plot yang cukup menarik, yaitu Rangga (Abimana Aryasatya) yang sedang kuliah S2 di Wina yang menghadapi dilema antara ujian semesterannya dengan kewajiban salat Jumat. Tapi ya udah, itu satu jam juga selesai. Di filmnya juga nggak diarahkan plot utamanya ke mana, pake bersambung lagi. Tokoh-tokoh kita ke sana dan ke sini, dapat pengetahuan, tapi terus kenapa? Konflik/tujuan besarnya apa yang harus diselesaikan di film ke-2? Kalau ini dirancang sebagai road movie, lah kapan jalannya? Dalih "semaksimal mungkin menuangkan isi novelnya" menurut gw adalah alasan yang "males", kesannya ingin membuat visualisasi novel yang tinggal copy-paste, ketimbang berusaha membuat sebuah karya film yang utuh dan berdaya tarik setara dengan novelnya. Mau setia sama novel tapi kok tokoh yang harusnya warga asing nggak diperankan oleh orang asing/berlaku seperti orang asing. Logika.

Tapi, di luar segala inkonsistensi dan pemaksaan filmnya harus dibelah dua, 99 Cahaya gw akui memang manis dipandang. Melihat pemandangan kota-kota Eropa, memberi pengetahuan tentang jejak kebudayaan Islam di Eropa yang mungkin jarang diketahui, serta penampilan Acha Septriasa sebagai Hanum (istri Rangga) dan Abimana yang solid dan loveable. It's well made...seandainya nggak bersambung. Okelah The Lord of the Rings dan The Hobbit juga bersambung, tetapi setidaknya dalam setiap film ada konflik dan ada penyelesaian di setiap akhirnya. Film yang ini gw bayar tiket full tapi dapetnya separoh.

Nah, karena effort-nya separoh, dan cerita filmnya juga baru separoh, jadi pontennya separoh juga ya *kejam*. Yah tambah setengah lagi deh buat penampilan manis Acha *luluh*.



My score: 5,5/10

Sabtu, 21 Desember 2013

[Movie] Frozen (2013)


Frozen
(2013 - Walt Disney)

Directed by Chris Buck, Jennifer Lee
Screenplay by Jennifer Lee
Story by Chris Buck, Jennifer Lee, Shane Morris
Inspired by the tale "The Snow Queen" by Hans Christian Andersen
Produced by Peter Del Vecho
Cast: Kristen Bell, Idina Menzel, Jonathan Groff, Santino Fontana, Josh Gad, Alan Tudyk, Ciarán Hinds


Mungkin akan jadi tren film animasi Disney menggunakan kata kerja past participle *eaa dapet salam dari bahasa Inggris SMP* untuk mengkamuflase bahwa filmnya adalah soal putri-putrian. Setelah dongeng "Rapunzel" dijadiin Tangled, sekarang dongeng "The Snow Queen" dari Hans Christian Andersen judulnya jadi Frozen. Tapi untuk kasus ini boleh juga sih, soalnya Frozen nggak semata-mata sama dengan dongengnya. Well, dari dulu sih animasi fairy tale Disney emang nggak selalu sesuai dongeng aslinya, misalnya pada dongeng The Little Mermaid dari Andersen juga diubah jadi happy ending *ups*. Tapi cerita di Frozen ini emang bener-bener beda jauh sama aslinya, yang tertinggal cuma konsep seorang ratu yang punya kekuatan sihir mengendalikan salju dan es.

Tidak hanya satu, ternyata Frozen ini menghadirkan dua orang putri. Di sebuah negeri kerajaan kecil yang kayaknya sih di Norwegia, ada kakak beradik Elsa (Idina Menzel) dan Anna (Kristen Bell), putri-putri dari raja yang memerintah di sana. Sejak lahir, Elsa memiliki kemampuan untuk menciptakan es dan salju dari dalam tubuhnya. Akan tetapi, akibat sebuah peristiwa yang nyaris mencelakakan Anna waktu mereka kecil, memaksa Elsa harus diasingkan dari dunia luar, termasuk dari Anna, sampai ia dapat mengendalikan kekuatannya itu dengan sempurna. Ketika tiba saatnya Elsa menginjak dewasa dan dilantik sebagai ratu (thus, now she's a 'snow queen', get it?) adalah pertama kalinya ia dan Anna bertatap muka langsung setelah sekian lama. Namun, kebersamaan itu langsung buyar ketika publik menyaksikan sendiri kekuatan yang dimiliki Elsa yang ternyata malah makin dahsyat. Elsa kabur ke gunung untuk menyendiri, tapi akibatnya kerajaan itu dilanda musim dingin yang tak wajar. Anna pun berinisiatif untuk pergi membujuk sang kakak untuk pulang dan mengembalikan keadaan kerajaan seperti sedia kala. Bisakah?

Mungkin memang ada baiknya Walt Disney Animation Studio mengangkat John Lasseter dari Pixar sebagai salah satu eksekutifnya. Sejak ada doski, film-film animasi Disney yang sempat loyo di pertengahan dekade 2000-an pelan-pelan bangkit lagi kualitasnya. Menurut gw pencapaian paling nyata dari manajemen baru tersebut adalah Wreck-It Ralph tahun lalu yang gw suka banget, filmnya asik, kreatif, dan modern tapi tetap khas Disney. Sekarang, Disney mencoba kembali memakai formula fairy tale dan putri-putrian dalam bentuk musikal, salah satu unsur yang membuat Disney terkenal dulu, tapi versi updated. Senengnya, gw melihat usaha dari para pembuat film ini untuk tidak konservatif-konservatif amat dalam memperlakukan cerita ini. Hal-hal klise seperti cinta sejati, sihir, sidekick non-manusia yang lucu, atau pertentangan antara yang baik dan yang jahat semuanya deh masih ada di sini. Tetapi, Frozen tidak membiarkan keklisean itu jadi klise beneran.

Maksudnya, gw seneng bahwa film ini seperti "ngeledek" konsep yang biasanya ada di film putri-putrian Disney di masa lalu, tanpa harus jadi parodi. Ketika arahnya nyaris basi, pada waktunya tiba-tiba "dibelokkan" jadi nggak gak basi lagi. Bukan jadi menyebalkan, tapi malah jadi fresh dan melegakan. Alasan dan tujuan kedua putri ini pun jelas dan nggak menye-menye minta kawin. Dan, kalau mau feminis sedikit, Frozen tidak menggambarkan perempuan sebagai kaum yang sirik dan biang kerok. Rasanya kalau Disney emang mau membuat role model positif yang modern buat generasi muda, tokoh-tokoh Frozen adalah perwujudan yang tepat. Film ini pun mengajarkan hal yang tidak biasanya bisa disampaikan dengan baik, apalagi untuk film anak-anak, yaitu sebuah bentuk cinta sejati yang memang sejati. Bandingkan dengan film-film fairy tale zaman dulu yang segala perkara tergantung sama yang namanya cium-ciuman. Dasar londo *lha emangnya...*.

Jika dibilang klise, ya lumayan, namanya juga film dengan target penonton cilik, jadi segala sesuatu sedapat mungkin dibuat agar mudah dicerna. Tapi intrik-intriknya pun masih sangat intriguing buat gw yang usia-fisik-udah-20-an-tapi-mental-belum-tentu ini. Lagipula nilai-nilai yang mau disampaikan tuh benar dan mengena, penting, terfokus, dan cukup revolusioner, yang bahkan belum dicapai di The Princess and the Frog atau Tangled sekalipun. Untungnya lagi, film ini didukung sama teknologi animasi mumpuni, musik dan lagu yang asik, serta pengisi suara yang keren. Siapa sangka si Kristen Bell yang mukanya jutek punya suara sebagus itu. Jatuhnya, film ini menghibur secara komplet lewat audio-visual dan isi kisahnya, enak banget nontonnya. Bravo.




My score: 8/10

PS: Jangan buru-buru pulang setelah filmnya kelar, setelah end credits ada adegan tambahannya. Yiuk mari.

Kamis, 12 Desember 2013

[Movie] The Hunger Games: Catching Fire (2013)


The Hunger Games: Catching Fire
(2013 - Lionsgate)

Directed by Francis Lawrence
Screenplay by Simon Beaufoy, Michael deBruyn
Based on the novel "Catching Fire" by Suzanne Collins
Produced by Jon Kilik, Nina Jacobson
Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Lenny Kravitz, Donald Sutherland, Philip Seymour Hoffman, Elizabeth Banks, Sam Claflin, Lynn Cohen, Jena Malone, Jeffrey Wright, Amanda Plummer, Stanley Tucci, Willow Shields


Kehidupan Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) setelah menjadi juara permainan maut "The Hunger Games" dengan cara pura-pura cinta sama juara lainnya, Peeta Mellark (Josh Hutcherson) ternyata tidak mudah. Benar ia dapat limpahan harta, bahkan ia beserta ibu dan adiknya bisa tinggal di rumah mewah. Namun, tanggung jawabnya sebagai seorang victor "The Hunger Games" mengharuskan dia keliling negeri Panem--semacam promo tour gitu, sekalian terus pura-pura pacaran sama Peeta--yang memang punya perasaan sama Katniss--sedangkan Katniss ada hubungan spesial dengan Gale (Liam Hemsworth), dan ia juga diawasi ketat oleh Presiden Snow (Donald Sutherland), karena Katniss dianggap punya benih-benih pemberontakan sejak menjungkirbalikkan segala peraturan "The Hunger Games" sebelumnya. Dan memang benar, di wilayah-wilayah tertentu Katniss dijadikan perlambang pemberontakan terhadap pemerintahan Panem yang lalim. Untuk mencegah kekacauan ini, Presiden Snow bersama perancang permainan, Heavensbee (Philip Seymour Hoffman) membuat siasat agar rakyat membenci Katniss. Caranya, undang Katniss untuk ikut "The Hunger Games" edisi all-stars yang mengadu para mantan juara, dan merekayasa sedemikian rupa sehingga Katniss rusak citranya sebelum tewas.

Kecuali kalian ternyata biasa cari info film di majalah cocok tanam, harusnya udah pada tahu bahwa film The Hunger Games adalah salah satu film tersukses di tahun 2012. As in sukses buanget, cuma dari studio skala sedang Lionsgate dan berbiaya produksi "cuma" $75 juta dolar, film fiksi-ilmiah-action-post-apocalyptic-feminis-satir remaja ini berhasil mengumpulkan lebih dari $400 juta dolar (!) di Amerika doang, dan film ini tidak pake 3D yang harga tiketnya lebih mahal. Gw sendiri cukup bisa menerima kesuksesan film yang panjangnya lumayan itu, 2 jam 20-an menit aja gitu, karena gw suka filmnya. Kesan personal dan "indie" dari penuturan ceritanya digabung dengan audio visual yang efektif. 

Dan lagi, selain mengisahkan tentang sebuah permainan maut sampai mati dan bagaimana itu dijadikan acara TV be-rating tinggi, film arahan Gary Ross itu selalu menimbulkan dualisme emosi *aiiih*di adegan-adegan penting, seakan dalam satu gigitan ada lebih dari satu lapisan *wafer kali*. Suasana terlihat mengerikan tapi di tempat lain ada yang menikmatinya sebagai hiburan, atau suasana lagi gegap gempita tetapi kita tahu di baliknya ada kegundahan. Ditambah lagi bagaimana Ross berhasil membuat visualisasi mencolok tentang palsunya kehidupan warga The Capitol, ibukota negeri Panem, yang berbeda jauh dari tempat-tempat lainnya, khususnya tempat asal Katniss yang kampring abis. Kesan itu masih membekas buat gw, sehingga setiap gw denger kata "The Hunger Games" gw akan ingat bahwa "gw suka filmnya".

Nah, di sekuelnya, The Hunger Games: Catching Fire, kesan-kesan itu absen. Mungkin ada pengaruh pergantian sutradara--sekarang Francis Lawrence, sutradara Constantine dan I Am Legend, dan video musik "Whenever Wherever"-nya Shakira =P. Tetapi mungkin karena dari naskahnya juga arah film ini tidak sama dengan film pertamanya. Iya benar efek visual dan tetek bengek produksinya memang lebih wah, wong bujetnya nambah hampir dua kali lipat, tetapi konsekuensinya, Catching Fire jadi kehilangan lapisan-lapisan yang menurut gw bikin The Hunger Games pertama itu berkesan. Catching Fire jadi seperti hanya film laga fiksi ilmiah biasa, konflik lahir maupun batin yang penyampaiannya biasa, dan penggambaran kekejaman pemerintahan Panem pun ya begitu aja, kayak cuma satu lapis doang. Pemilihan musiknya juga sayangnya standar Hollywood sekali, tidak seunik sentuhan folk/country dari T-Bone Burnett seperti di film pertama.

Tetapi, untungnya Catching Fire masih punya senjata andalan: set-up semesta Panem, karakter-karakter yang menarik, dan aktor-aktor handal yang memainkannya. Jennifer Lawrence, the girl with huge...err...talent, membawakan peran Katniss Everdeen lebih baik dari film pertamanya, karena emosinya lebih kompleks. Lalu ada Donald Sutherland, Philip Seymour Hoffman, Jeffrey Wright, dan Jena Malone yang membuat film ini lebih meriah. Film ini pun masih dengan baik mengajak penonton menambah wawasan tentang negeri Panem, dan, well, jadi lebih politis dikit. Dan kalau mau jujur, sebenarnya jalan cerita yang disampaikan film ini cukup enak diikuti dan cukup seru, sehingga durasi hampir 2,5 jam itu tetap terasa memikat. Dunia rekaannya masih tetap menarik, plotnya pun menarik, membuat gw penasaran sama kisah kelanjutannya, yang (entah kenapa harus) dibagi jadi 2 bagian film, Mockingjay. Jadi, sebenarnya, nggak ada masalah berarti dari film Catching Fire ini ditilik dari segi hiburan. Cuma karena gw telanjur suka sama The Hunger Games pertama yang menurut gw lebih "berkarakter", Catching Fire jadi kalah sedikit.



My score: 7/10

Senin, 09 Desember 2013

Peraih Piala Citra Festival Film Indonesia 2013


Ya, Sang Kiai jadi "juara umum" di Piala Citra FFI 2013. Ada sedikit ketidakrelaan dalam lubuk hatiku yang paling dalam untuk semua gelar yang diraih film yang think-too-high-of-itself itu, kecuali untuk kemenangannya di Tata Suara. Yah. Mau ngomong apa. Nominasinya nggak bikin excited, boro-boro pemenangnya. Boro-boro ngomongin acaranya. Yaudahlah. Nih pemenangnya *udah males komentar*.


FILM BIOSKOP TERBAIK
Sang Kiai

SUTRADARA
Rako Prijanto (Sang Kiai)

PENULIS CERITA ASLI
Anggoro Saronto (Sang Pialang)

PENULIS SKENARIO
Ginatri S. Noer & Ifan Ardiansyah Ismail (Habibie & Ainun)

PEMERAN UTAMA PRIA
Reza Rahadian (Habibie & Ainun)

PEMERAN UTAMA WANITA
Adinia Wirasti (Laura & Marsha)

PEMERAN PENDUKUNG PRIA
Adipati Dolken (Sang Kiai)

PEMERAN PENDUKUNG WANITA
Jajang C. Noer (Cinta Tapi Beda)

PENGARAH SINEMATOGRAFI
Yudi Datau (5 cm.)

PENATA ARTISTIK
Iqbal Marjono (Belenggu)

PENATA EFEK VISUAL
Eltra Studio (Moga Bunda Disayang Allah)

PENYUNTING GAMBAR
Cesa David Luckmansyah & Ryan Purwoko (Rectoverso)

PENATA SUARA
Khikmawan Santosa, M. Ikhsan, Yusuf A. Pattawari (Sang Kiai)

PENATA MUSIK
Aksan Sjuman (Belenggu)

PENATA BUSANA
Retno Ratih Damayanti (Habibie & Ainun)

Sang Kiai terima Piala Citra Utama untuk Film Bioskop Terbailk dari Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu. (foto: Antara)



FILM PENDEK TERBAIK
Simanggale (Donni Arlen)

PENGHARGAAN KHUSUS JURI FILM PENDEK
Gazebo (Senoaji Yulius)



FILM ANIMASI PENDEK TERBAIK
Sang Supporter (W. Darmawan)

PENGHARGAAN KHUSUS JURI FILM ANIMASI PENDEK
Booster (Eko Junianto)



FILM DOKUMENTER PANJANG TERBAIK
Denok dan Gareng (Dwi Susanti Nugraheni)

FILM DOKUMENTER PENDEK TERBAIK
Split Mind (Andre, Nia Sari)

PENGHARGAAN KHUSUS JURI FILM DOKUMENTER PENDEK
Epic Java (Febian Nurrahman Saktinegara)