Senin, 25 November 2013

Nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia 2013

And...yes, here we go again. Acara penganugerahan yang katanya, maunya, dan menurut beberapa kalangan (tua) dianggapnya sebagai lambang apresiasi tertinggi film Indonesia kembali dimulai, Festival Film Indonesia (FFI) 2013 dan Piala Citra-nya. Tanggal 22 November 2013 kemarin para juri dan penyelenggara sudah mengumumkan para calon penerima a.k.a. unggulan a.k.a. nominasinya, sebelum malam penganugerahannya yang dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah pada 7 Desember 2013 dan akan ditayangkan di SCTV. Sounds awful? Bahkan gw belum nyinggung beberapa kegiatan pendukung sebelum malam puncak seperti pawai 100 artis dengan kereta hias dan senam massal bersama artis. Bite me.

Tetapi mari kita arahkan komentar kepada nominasi 2013 tahun ini. 2013 adalah tahun yang ramai untuk film Indonesia, tetapi menurut gw tahun ini bukanlah tahun 2012 yang ramai DAN bagus-bagus. 2013, however, penuh dengan film-film "mahal" dan semakin baik dalam hal teknis, tapi sejauh ini, hanya ada beberapa yang berani gw bilang "Bagus!", yaitu What They Don't Talk About When They Talk About Love, 9 Summers 10 Autumns, dan Sokola Rimba. Sokola Rimba produksi Miles Films pasti nggak ikut karena, yah you know lah, Miles gitu. 2 sisanya mendaftar di FFI 2013 bersama 51 film lainnya, tapi sayangnya gak berhasil dapet nominasi lebih dari 2, itu pun bukan di kategori utama. Hih.

Tetapi, terlepas dari preferensi penyelenggara dan dewan juri yang emang selalu saja menimbulkan kernyit dahi dari tahun ke tahun, satu hal yang gw setuju dari sistem penjurian tahun ini adalah tidak adanya dewan seleksi film, yang biasanya bertugas untuk menyaring film-film yang mendaftar menjadi beberapa film yang dianggap "pantas dinilai". Biasanya, sistem ini akan mengabaikan film-film yang hanya punya satu unsur yang layak dinilai. Sekarang tanpa adanya seleksi terpisah, semua film yang mendaftar punya kesempatan yang sama masuk nominasi. Penentuan nominasi dan pemenang pun dilakukan oleh dewan juri yang sama, jadi nggak ada tumpang tindih. Dari dulu kek sistemnya kayak gini. Tapi kalo soal hasil penilaian, itu mah tergantung orang-orangnya.

Nah melihat dari daftar nominasi, gw sih cukup kecewa dengan film-film yang gw anggap istimewa ternyata agak diabaikan demi film-film yang lebih "besar". Buat naikin rating kali ya, biar masyarakat awam bilang "wah gini dong penilaiannya, film yang ditonton banyak orang masuk unggulan." Hih. Gak jaminan kale. Gak pantes bilang mana bagus mana enggak kalo alam setahun film Indonesia yang ditonton cuma satu *emosi*. Tetapi gw cukup kaget dengan how much love yang diberikan para juri kepada Belenggu, film Indonesia yang memang memiliki kekuatan teknis dan cerita terkuat tahun ini. Semoga dengan 13 nominasi yang didapat bukan harapan palsu dari para juri, dan menandakan film ini bisa menang banyak Citra, karena dari jajaran Film Terbaik cuma ini yang favorit gw.



Nah, yuk simak daftar nominasi lengkapnya. Info tambahan, ada kategori baru lho, Efek Visual dan Penata Busana. Semoga penilaiannya bener deh. Here they are after the jump (serasa blog bule).

Jumat, 22 November 2013

[Movie] Sokola Rimba (2013)


Sokola Rimba
(2013 - Miles Films)

Directed by Riri Riza
Screenplay by Riri Riza
Based on the book by Butet Manurung
Produced by Mira Lesmana
Cast: Prisia Nasution, Nyungsang Bungo, Nengkabau, Beindah, Nadhira Suryadi, Rukman Rosadi, Ines Somellera, Netta KD


Kalau di saat-saat ini ada satu film Indonesia yang harusnya kalian tonton, dan kalian masih waras, tontonlah Sokola Rimba. Film yang "bener" ya kayak gini ini. Bukan cuma karena ini hasil karya sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana yang telah menyajikan karya yang bener lainnya seperti Gie, Laskar Pelangi, dan Atambua 39° Celsius—walaupun emang cukup jadi jaminan sih, tetapi lebih karena film ini menunjukkan permasalahan yang nyata terjadi di antara kita semua. Bukan, bukan cuma terjadi sama Orang Rimba, tapi kita semua.

Coba deh, apa sih tujuan kita sekolah, atau ikut berbagai bentuk pengajaran dan pendidikan? Biar lulus sebaik mungkin dan dapat kerjaan bergaji cukup bahkan lebih? Atau koleksi pengetahuan dan keahlian biar CV-nya panjang? Gitu doang? Menurut gw, pendidikan itu punya tujuan yang lebih simpel daripada itu. Pendidikan itu bermanfaat supaya kita sadar bahwa kita punya pilihan, dan pada saatnya, kita bisa memilih mana yang terbaik buat kita. Misalnya, kita cuma tahu makanan kita nasi, lalu di sekolah kita diajarkan bahwa singkong, kentang, roti, jagung, dan mie punya kandungan gizi seperti nasi. Tapi bukan berarti sekolah memaksa kita berhenti makan nasi, kan? Namanya juga pilihan, ya terserah. Yang dirasa bermanfaat ya diikuti, yang dirasa nggak ngaruh-ngaruh amat ya udah biarin aja.

Pemikiran itu—yang belum tentu benar juga sih, saya mah apa atuhlah *ala Zaskia Gotik*—rasanya nyambung dengan nilai yang tersimpan dalam film Sokola Rimba, sepenggal kisah yang terinspirasi dari salah satu pengalaman nyata seorang pengajar muda, Saur Marlina "Butet" Manurung yang mengabdikan diri mengajar anak-anak Orang Rimba di hutan Bukit Duabelas, Jambi. Apa yang dilakukan dan ditanamkan film ini, atau bahkan mungkin dari tulisan Butet lewat buku yang jadi dasar film ini, kira-kira dapat menggambarkan apa yang menurut gw adalah tujuan utama pendidikan: bukan untuk mengubah dan meninggalkan jati diri kita, tetapi untuk melindungi, bahkan memantapkan jati diri kita.

Di akhir tahun 1990-an, Butet Manurung (Prisia Nasution) sudah menghabiskan sebagian dari tiga tahun hidupnya tinggal bersama Orang Rimba, dengan status sebagai Ibu Guru. Statusnya ini tidak mudah didapat, apalagi mengingat adat istiadat Orang Rimba yang ketat. Butet pun memanfaatkan status dan pengakuan itu dengan sebaik-baiknya dengan setia mengajar anak-anak Rimba membaca, menulis, dan berhitung, sekaligus menghormati adat istiadat mereka. Ia juga belajar bahasa, adat, dan cara hidup Orang Rimba. Ia pun fascinated sama bagaimana anak-anak Rimba ternyata cerdas-cerdas dan punya semangat belajar yang tinggi.


Suatu ketika Butet bertemu dengan seorang remaja Rimba, belakangan diketahui namanya Bungo (Nyungsang Bungo, konon sekalipun untuk akting memerankan tokoh lain, nama aslinya harus tetap dipakai), dari sebuah kampung yang letaknya lebih ke pedalaman. Butet mau ke sana, tapi bukannya tanpa masalah. Terlepas dari konflik kepentingan di LSM tempat Butet bernaung yang enggan membiayai, tak semua warga di kampung itu setuju dengan keberadaan Butet mengajar anak-anak di sana, takut anak-anak mereka akan pergi meninggalkan mereka jika "jadi pintar". 

Kesulitan demi kesulitan tak mengikis semangat Butet untuk melayani dahaga anak-anak Rimba untuk belajar. Maka, bersama beberapa pihak yang mendukungnya, ia mulai merintis sekolah, atau bahasa sononya Sokola, untuk anak-anak Rimba. Tujuannya bukan serta merta "mengubah" mereka jadi anak kota, tetapi sesederhana agar mereka tidak diperalat oleh pihak-pihak yang menganggap mereka bodoh, hal yang selama ini terjadi ketika lahan hutan tempat mereka tinggal diratakan oleh pihak-pihak luar demi industri, tanpa ada posisi tawar dari Orang Rimba. Jauh lebih baik daripada sekadar bilang "pendidikan itu penting", film ini mengingatkan dengan jelas mengapa pendidikan itu penting.

Banyak hal yang bisa dikagumi dalam film Sokola Rimba. Dari sinematografinya, aktingnya, musiknya, tata suaranya, potret alamnya, penggambaran kearifan lokal (berasa Apresiasi Film Indonesia, hehe, but clearly this film is a frontrunner next year), juga pengarahan Riri Riza terhadap wajah-wajah asli Rimba yang tampil natural, pun penempatan humor yang sama naturalnya. Tetapi, kekaguman utama gw tertuju pada pilihan arah film ini. Tidak film banget seperti Laskar Pelangi, tidak juga bergaya realisme seperti di Atambua 39° Celsius. Sokola Rimba seperti titik temu di antara gaya kedua film tersebut. Gayanya agak semi-dokumenter, tetapi kisahnya dituturkan jelas, mudah diikuti, dan penempatan dramatisasinya subtle, nggak berlebihan, mengena tapi bebas dari melodrama. Gw suka dengan gaya seperti itu.

Yang gw suka lagi adalah bahwa sebenarnya film ini memuat lebih besar daripada yang diceritakan. Seperti gw singgung tadi, ada sedikit kritik yang cukup dalam tapi sopan, entah terhadap pihak penguasa ataupun lembaga-lembaga yang katanya mau membantu kemajuan negeri kita, tetapi pendekatan yang personal membuat kisah dan tokoh-tokohnya terasa dekat dan tidak berisik mengkhotbahi. Jika plot dasarnya adalah bagaimana Butet merintis sekolah di Rimba, maka yang jadi motivasinya bukanlah "mencerdaskan kehidupan bangsa", tetapi karena ikatan personal Butet kepada anak-anak Rimba yang antusias untuk belajar. Bukan karena wajib, tetapi karena kasih sayang. Film yang bener tuh ya kayak gini ini.



My score: 8/10

Selasa, 19 November 2013

[Movie] Ender's Game (2013)


Ender's Game
(2013 - Sierra Affinity/Summit)

Directed by Gavin Hood
Screenplay by Gavin Hood
Based on the book by Orson Scott Card
Produced by Roberto Orci, Alex Kurtzman, Gigi Pritzker, Linda McDonough, Robert Chartoff, Lynn Hendee, Orson Scott Card, Ed Ulbrich
Cast: Asa Butterfield, Harrison Ford, Hailee Steinfeld, Viola Davis, Ben Kingsley, Abigail Breslin, Nonso Anozie, Aramis Knight, Suraj Partha, Conor Carroll, Moises Arias, Khylin Rhambo


Meskipun Gavin Hood adalah sineas yang pernah membuat Tsotsi yang adalah film peraih Oscar, tetaplah ingatan gw tentang Hood adalah doski sutradara yang "kebingungan" ketika disuruh menggarap sebuah film berjudul X-Men Origins: Wolverine apalah itu. Itulah sebabnya, mau seheboh apapun trailer-nya, dan segegabah apa pun tim promosinya yang mengedepankan semua aktor yang ada di film ini adalah pemenang/nomine Oscar (dan gw baru tahu Harrison Ford itu nomine Oscar. Sekali doang sih tahun 1980-an), gw tidak antusias dengan adanya film Ender's Game. Yah, gw nggak familiar sama novel yang jadi sumber ceritanya juga sih. Tetapi, berdasarkan early reviews yang cukup positif akhirnya gw tertarik juga untuk menyaksikan film sci-fi fantasy futuristik ini. To my surprise, gw pun dapat turut memberi respons yang positf pada film ini. Film ini tidak seribet trailer-nya, dan sebagaimana film The Wolverine menebus keberadaan X-Men Origins: Wolverine, Ender's Game juga jadi penebus reputasi Gavin Hood di hadapan gw *dih, siapa gw?*.

Premis awalnya mungkin familiar bagi para penikmat anime. Di masa depan, tepatnya tahun 2080-an, remaja sekitar umur 14 tahun (dan selalu umur segitu, even Sailor Moon) menjadi tumpuan Bumi untuk menangkis serangan alien mirip serangga yang disebut Formics. Ya, biar masih labil tapi udah dilatih berperang. Alasan kenapa harus umur segitu ternyata simpel saja: mereka lebih jago main strategi akibat terbiasa dengan video game. Jika diarahkan dan dilatih, maka keahlian itu pun dapat jadi garda depan akan kelangsungan umat manusia. Ender Wiggin (Asa Butterfield) adalah salah satu, atau bahkan yang terbaik dari para kandidat prajurit remaja itu. Hanya saja, Ender masih perlu diasah dan diarahkan. Karena itulah Kolonel Graff (Harrison Ford) dan Mayor Gwen Anderson (Viola Davis) merekrutnya untuk masuk Battle School yang ada di luar angkasa. Di sana, Ender dilatih kemampuannya dalam strategi perang dan pemecahan masalah, termasuk dalam penyelesaian pertengkaran. Dan benar saja, Ender rupanya jadi kandidat terbaik untuk posisi komandan tempur melawan Formics.

Ketika dari awal bergulir, Ender's Game ini ternyata cukup enak dinikmati, mulai dari latar belakang universe ceritanya, lalu latar belakang Ender yang cukup singkat tapi lumayan efektif. Kemudian penonton akan mengikuti latihan demi latihan yang harus dijalani Ender di bawah pengawasan Kolonel Graff yang memang memplot sedemikian rupa agar Ender bisa memaksimalkan potensinya sebagai pemimpin. Dari sekadar cerdas dan berpotensi, menjadi seorang pemimpin yang tahan banting dan berwibawa, di-respect sama rekan-rekannya.

Mungkin ada kalanya ketika kita melihat bahwa filmnya udah cukup lama tapi kok ujung ceritanya belum kelihatan, dan apa tujuan dari semua latihan yang dijalani Ender. Apakah dia bakal latihan terus sampe "lulus" atau langsung disuruh melawan alien gitu? Tetapi rupanya ada waktunya Ender's Game mencapai titik balik, yang tak disangka-sangka, yang berhasil meloloskan film ini jadi bukan sekadar film pamer visual effects. Gw nggak akan tunjukkin di titik mana, tetapi yang pasti itu membuat level film ini di atas film tembak-tembakan biasa. Tak hanya ingin menunjukkan bagaimana seorang pemimpin harus dibentuk menjadi kuat, tangguh, dan berwibawa, tetapi juga ditunjukkan bahwa seorang pemimpin harus punya hati yang mau berjuang demi kebaikan semua. SEMUA. Tak terkecuali pihak yang dianggap berseberangan. Somehow, gw lebih nangkep tentang ilmu-ilmu kepemimpinan dan sejenisnya lewat film beginian daripada lewat film kisah nyata berdasarkan sejarah =p.

So yes, Ender's Game menjadi salah satu film yang tidak mengecewakan, bahkan melebihi ekspektasi gw. Dan dengan materi cerita yang baik serta bangunan plot dan seting yang juga mendukung, permainan para aktor kaliber Oscar-nya juga nggak mengecewakan. Tetapi, yang paling luar biasa adalah bagaimana Asa Butterfield mengemban tugasnya dalam peran Ender yang kompleks dengan sangat, sangat baik, dan cukup signifikan menambah kekuatan film ini. Iya bener, tadi gw singgung mungkin ada saat-saat tertentu gw agak-agak lost arahnya film ini mau ke mana, serta dengan beberapa detil yang masih gw belum paham benar, tetapi pada akhirnya itu semua terbayar dengan bangunan cerita dan nilai-nilai yang masih membekas cukup lama di benak gw setelah menonton. Pesan moral: biarkan anak-anak main video game =p. 



My score: 7,5/10

Rabu, 13 November 2013

[Movie] Adriana (2013)


Adriana
(2013 - Visi Lintas Films)

Directed by Fajar Nugros
Screenplay by Lele Leila
Based on the novel by Fajar Nugros
Produced by Eko Kristianto, Sophia Latjuba
Cast: Adipati Dolken, Kevin Julio, Eva Celia, Agus Kuncoro, Joshua Pandelaki, Soleh Solihun, Masayu Anastasia, Imey Liem


Katanya cewek itu makhluk yang penuh teka-teki, yang sering membuat kaum cowok frustrasi untuk menangkap apa yang sesungguhnya mereka mau. Film Adriana tampaknya ingin membawa persepsi itu ke level lebih tinggi, yaitu ketika seorang cewek, makhluk yang penuh teka-teki itu, menambah ketekatekiannya dengan memberikan teka-teki dalam arti kata sebenarnya. Emang dasar cari perkara aja sih =p. Tetapi demi sebuah film, itu justru sesuatu yang menarik. Apalagi, film Adriana memasukkan unsur sejarah ke dalam teka-teki si cewek, khususnya kota Jakarta.

Mamen (Adipati Dolken) dan Sobar (Kevin Julio) adalah dua orang bersahabat dekat namun berbeda sifat. Mamen orangnya tengil dan demen "berpetualang" dengan para cewek, kecuali cewek-cewek yang menghuni kost-kostan yang dikelolanya, somehow. Sedangkan Sobar adalah orang yang lebih resik, baik-baik, dan intelek, asisten dosen sejarah gitu. Suatu ketika, Mamen mengarahkan petualangannya pada seorang gadis cantik bermata besar (Eva Celia) yang dia lihat di perpustakaan. Ketika mau dimodusin, si cewek malah ngasih kalimat-kalimat aneh yang ternyata sebuah teka-teki, sebelum pergi meninggalkan Mamen. Mamen langsung kepincut saking penasarannya, tapi nyadar kalo dia nggak pinter, makanya langsung minta bantuan Sobar untuk memecahkan teka-teki cewek itu. Ternyata, jawaban teka-teki itu adalah tempat dan waktu yang harus didatangi Mamen. Namun, teka-teki tersebut hanyalah yang pertama dari rangkaian teka-teki dari gadis yang belakangan diketahui bernama Adriana itu, yang harus dipecahkan Mamen dan (turut menyeret) Sobar, untuk mendapatkan perhatiannya.

Emang macam apa sih teka-tekinya? Well, setelah dibongkar-bongkar, si Adriana memberi teka-teki yang berhubungan dengan sejarah di balik titik-titik ikonik Jakarta...yah, plus Bogor-lah dikit. Dengan teka-tekinya, Adriana memaksa Mamen dan Sobar, juga kita penontonnya, untuk ngecek lagi pengetahuan kita tentang tempat-tempat di Jakarta. Semacam fun trivia gitu, misalnya dua ular yang melilit pada satu tongkat (tadinya gw kira Harmoni, ternyata bukan =p), atau soal wilayah ekor dan kepala naga, yang akhirnya membuat gw ngeh sama yang selama ini disampaikan ibu Evelyn Setiawan dan Feni Rose di acara-acara properti di TV.

Lucu 'kan premisnya? Itu dia, buat gw, Adriana adalah salah satu dari sedikit film romansa Indonesia yang mau "susah payah" memasukkan hal-hal unik agar jalan ceritanya nggak gitu-gitu doang. Gw harus memberi kredit pada Fajar Nugros yang punya ide seperti ini--pertama kali dituangkan lewat cerita bersambung di Facebook, juga keberanian bapak ibu produser, Eko Kristianto dan Sophia Latjuba a.k.a. Sophia Mueller a.k.a. Emaknya Eva Celia (panggilan yang ketiga itu khusus bagi adek-adek yang lahir sesudah tahun 1998 =p) untuk merealisasikan ide ini dalam bentuk film yang produksinya cukup niat. Emang sangat menarik, dan seperti katanya bapak ibu produser di berbagai wawancara, seperti The Da Vinci Code tapi versi youtng romance. Pujian juga rela gw berikan buat tata musik dari Indra Lesmana a.k.a. Adeknya Mira Lesmana a.k.a. Bapaknya Eva Celia (panggilan yang ketiga itu khusus bagi adek-adek yang lahir sesudah tahun 1995 =p) yang memberi vibe yang sangat menarik, ada warna jazz tapi nggak berat. Demikian pula dengan tata sinematografi Yadi Sugandi yang terang dan segar di mata.

Nah, kita tiba pada bagian yang gw agak segan untuk kasih pujian, yaitu cara bercerita. Bagian awal-awalnya tuh fine-fine aja, tetapi ketika semakin terungkap rahasia demi rahasia, apalagi dengan adanya berbagai macam flashback dan reka ulang perstiwa sejarah, jadi agak-agak random gitu, kelihatan kurang rapi. Ada juga beberapa bagian yang sepertinya "ah lali aku", misalnya tidak ditunjukkannya Mamen nemu petunjuk di patung Hermes, masak tiba-tiba ada gitu. Dan bagian "lompat-lompat" ini nggak cuma sekali itu doang. Hal ini bikin gw ada kalanya merasa kehilangan informasi tentang apa yang terjadi, apa hubungan adegan itu dengan adegan ini, kenapa bisa tiba-tiba begini, dan sebagainya. Oh, kadang gags-nya juga garing, terkhusus ketika Mamen nyamar untuk ketemu Sobar di toko buku, yang terlalu seperti sketsa komedi.

Tapi gw tidak akan menarik kembali pujian gw bahwa Adriana ini film yang menarik dan segar, sesegar penampilan dek Eva Celia. Jika sanggup mengabaikan kekurangan-kekurangannya, Adriana juga adalah film yang menyenangkan dan lumayan bermanfaat karena memberi sejumput pengetahuan, mengajak keliling Jakarta sekaligus menambah wawasan tentang sejarahnya. Yup, Patung Dirgantara di Pancoran emang nunjuk pas ke Kemayoran. Cek aja di peta.




My score: 6,5/10

[Movie] Thor: The Dark World (2013)


Thor: The Dark World
(2013 - Marvel Entertainment/Walt Disney)

Directed by Alan Taylor
Screenplay by Christopher Yost, Christopher Marcus, Stephen McFeely
Story by Don Payne, Robert Rodat
Based on the comic book series "Thor" by Stan Lee, Larry Lieber, Jack Kirby
Produced by Kevin Feige
Cast: Chris Hemsworth, Natalie Portman, Tom Hiddleston, Anthony Hopkins, Christopher Eccleston, Stellan Skarsgård, Kat Dennings, Jaimie Alexander, Idris Elba, Ray Stevenson, Zachary Levi, Tadanobu Asano, Rene Russo, Adewale Akinnuoye-Agbaje, Chris O'Dowd


Selain The Avengers, gw sampai sekarang belum sampai pada tahap "segitunya" sama film-film dari Marvel yang dunianya saling sambung menyambung dengan sebutan Marvel Cinematic Universe itu. Tetapi, kalau mau diurutkan, film Thor di tahun 2011 adalah yang paling menghibur gw. Sebenarnya nggak "segitunya" banget sih, cuma mungkin karena identitas Thor itu unik daripada superhero lainnya, serta dulu gw nggak terlalu berekspektasi yang gimana-gimana sama filmnya, alhasil, gw merasa filmnya lucu, punya karakter-karakter yang mudah diingat, pokoknya terhibur lah. Nah, sekuelnya tentu tak terhindarkan. Dengan demikian, si Thor jadi superhero Marvel paling eksis karena muncul di tiga film dalam tiga tahun berturut-turut, yaitu Thor di tahun 2011, The Avengers tahun 2012, dan kini Thor: The Dark World di 2013.

Penjelasan sedikit, Thor itu diambil dari tokoh mitologi bangsa Norse (Skandinavia dan sekitarnya), Thor sang dewa petir yang tinggal di khayangan bernama Asgard (serta asal usul nama hari Kamis, Thursday). Tapi, Thor versi Marvel di sini nggak bisa disebut "dewa" juga, mereka lebih ke makhluk sakti yang berumur jauh lebih panjang dari manusia bumi, serta punya kekuatan-kekuatan ajaib. Bisa mati juga, intinya sih gitu. Thor (Chris Hemsworth) adalah putra mahkota kerajaan Asgard, namun tahta itu selalu pengen direbut oleh saudara angkatnya, Loki (Tom Hiddleston) si dewa kejahatan, dan di sisi lain Thor terlalu dalam menambatkan hatinya pada seorang gadis Bumi, Jane Foster (Natalie Portman), sehingga ia masih ragu menerima tahta dari sang ayah, Odin (Anthony Hopkins).

Setelah Loki dipenjarakan karena mengacaukan Bumi di film The Avengers, kerajaan Asgard kedatangan musuh lama, kaum Dark Elves. Sang pemimpin, Malekith (Christopher Eccleston) yang sempat dikalahkan oleh kakeknya Thor bernama Bor *tanpa awalan nge-*, kini kembali bangkit untuk menciptakan kegelapan di The Nine Realms--sembilan dimensi yang saling terhubung yang dikuasai Asgard, termasuk Bumi. Untuk melancarkan rencananya, Malekith membutuhkan sebuah zat kegelapan berkekuatan dahsyat bernama Aether yang tersembunyi entah di mana.

Bagian "entah di mana" adalah aba-aba buat keterlibatan duo fisikawan, Jane Foster dan Dr. Erik Slevig (Stellan Skarsgård), yang sejak di film Thor pertama dan di The Avengers memang meneliti tentang keberadaan dimensi lain dan portal penghubungnya. Dalam sebuah permainan takdir, zat Aether "memanggil" Jane dan masuk ke dalam tubuhnya. Thor pun segera membawa Jane ke Asgard, selain untuk dikenalin ke orang tuanya *cieee*, juga untuk membebaskan Jane dari Aether yang semakin menggerogotinya. Namun, itu juga berarti Jane diincar oleh Malekith. Malekith pun berhasil memorakporandakan Asgard demi mendapatkan Jane dan Aether itu. Melihat musuh yang begitu kuat dan tangguh, Thor pun Loki untuk bersama-sama mengalahkan Dark Elves. Meski awalnya sulit, Loki akhirnya dapat dibujuk. Tetapi aaa-paa-kaah *nada Feni Rose* Loki benar-benar berpihak pada Thor dan kemaslahatan Asgard serta The Nine Realms?

Kalau mau straitght-to-the-point, gw bilang Thor: The Dark World juga masih belum "segitunya", maksudnya nggak sampe bikin gw wow gitu. Jika dikaitkan dengan film Thor pertama, gw juga merasa film yang ini tidak sampai semenghibur itu, khususnya dari segi humor dan karakterisasi. Masih lucu sih, tapi tidak se-unexpected di film pertamanya. Karakter-karakter yang di film pertama cuma "gitu doang" porsinya, di film yang kedua ya tetep "gitu doang". Visual effect-nya pun tidak berkembang signifikan. Tetapi, harus diakui bahwa Thor: The Dark World itu cukup seru dengan lebih banyak adegan perang dan hancur-hancurannya (walaupun klimaksnya agak sedikit chaos ya), serta punya desain visual yang lebih variatif, khususnya pada bentuk rupa kaum Dark Elves. Makeup-nya keren, suka deh.

Tetapi, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, harus diakui secara massal bahwa bintang film ini lagi-lagi dicuri Tom Hiddleston sebagai Loki. Loki, tetap misterius, licik, humornya pahit, tetapi menyimpan emosi campur aduk, semuanya ditampilkan dengan sempurna oleh Hiddleston, dari gestur, tatapan, sampe ke intonasi dan artikulasi ucapannya. Chris Hemsworth malah makin nggak menarik karena tokoh Thor-nya juga tidak mengalami perubahan drastis seperti pada film pertama, biasa aja. In the end of the film, gw jadinya lebih menantikan kelanjutan nasib Loki daripada nasib Thor yang udah nggak bandel lagi itu. Oh, menantikan juga film yang cuplikannya ada di mid-credit film ini, hehe.



My score: 6,5/10

Jumat, 08 November 2013

Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2013



Apresiasi Film Indonesia (AFI), ajang penghargaan film yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) menggelar perhelatan keduanya pada 4 November 2013 lalu. Tapi AFI 2013 ini beda banget dari yang tahun lalu. Kalau tahun lalu kategorisasinya persis FFI, dengan pemenang yang agak lebih nggenah daripada FFI, kini AFI merombak total sistem kategorisasinya. Sekarang mereka nggak menilai lagi unsur-unsur printilan dalam produksi film, melainkan beralih pada menilai film secara keseluruhan. Pialanya pun baru, namanya Piala Dewantara (dari nama Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, kali aja pada nggak tau *kalo nggak tau kebangetan sih*) dengan desain gunungan wayang berisi rol film. Ya baguslah, biar beda.

Tapi tetep mereka punya restriction yang sama tentang film-film apa yang pantas dinilai dan pantas menang, yaitu yang mengandung nilai budaya, kearifan lokal, dan membangun karakter bangsa. Pretensius banget ye. Tapi gw melihat, orang-orang kerap keliru mengira bahwa yang dinilai adalah film-film "berpesan moral". Not necessarily. Kalau gw lihat daftar nominasi dan pemenang AFI dua tahun ini, sebenarnya yang dinilai adalah film-film yang di dalamnya menunjukkan budaya Indonesia, termasuk tentang keragaman masyarakatnya, atau setidaknya memuat pengetahuan yang bermanfaat, atau bisa juga awareness tentang suatu permasalahan yang terjadi di bangsa ini. 

Bikin film yang nggak ada nilai-nilai budaya atau pengetahuan sebenarnya juga nggak apa-apa, bisa jadi film bagus juga kok, tapi ya nggak bisa ikut ajang ini aja =p. Although, menurut gw pribadi sih film-film yang bisa dengan smooth memuat nilai-nilai itu punya nilai plus, mungkin itu sebabnya gw tidak pernah merasa bermasalah dengan adanya AFI dan juga hasil penjuriannya (lah, siapa gw?). So far, dalam dua kali penyelenggaraan, hasilnya cukup dapat dipertanggungjawabkan, setidaknya dari pemenang film terbaik.

Setelah tahun lalu memenangkan film Mata Tertutup yang mengangkat permasalahan gerakan separatis ekstrim agama di negeri kita, tahun ini AFI 2013 memenangkan Atambua 39o Celsius film semidokumenter tentang perjuangan hidup pengungsi Timor Timur di Atambua, NTT yang terpisah dari keluarganya setelah kemerdekaan Timor Timur, sebagai film bioskop terbaik, atau istilah mereka Apresiasi Film Bioskop.

Sedangkan dari acara penganugerahannya yang ditayangkan di TVRI, gw rasa ini acara awarding yang paling nggak ngeselin yang gw tahu, apalagi untuk ukuran acara pemerintah...well, tetep ngeselin di beberapa tempat, kayak pembaca kategori lama keluarnya, gitarnya Anda Perdana gak bunyi, sambutan pejabat yang ngabisin durasi tanpa inti, biasalah. Tetapi secara konsep dasar nggak ngeselin. Straight to the point, nggak kecentilan, nggak dibebani "harus rating tinggi", which is a good start. Maunya gw sih setiap award yang "penting" punya konsep dasar seperti ini, tapi mungkin ini hanya mungkin bisa di TVRI aja kali ya. Sambutan para pemenang yang kritis terhadap pemerintah di televisi pemerintah di acara yang diselenggarakan pemerintah =P juga jadi hiburan tersendiri buat gw. Mumpung live, ya tho?

Berikut ini daftar pemenangnya:
Ini cuma suvenir kale  =3=

Selasa, 05 November 2013

[Movie] The Spy: Undercover Operation (2013)


스파이 (Seu-pa-i)
The Spy: Undercover Operation
(2013 - CJ Entertainment)

Directed by Lee Seung-jun
Written by Park Soo-jin, Yoon Je-kyoon
Produced by Yoon Je-kyoon, Lee Sang-jik
Cast: Sol Kyung-gu, Moon So-ri, Daniel Henney, Han Ye-ri, Ko Chang-seok, Ra Mi-ran, Jung In-gi, Kim Ji-yun


Berbeda dengan film-film lainnya yang dramatis dan overly ambisius, gw menemukan bahwa gw lebih mudah menerima film-film komersil Korea yang bergenre komedi. Bahwa dengan kelucuan, gw merasa ke-over-annya bisa gw maklumi. Itu pula yang terjadi pada The Spy: Undercover Operation, film laga komedi blockbuster Korea yang tetep lebay tetapi masih bisa gw nikmati karena komedinya.

Chul-soo (Sol Kyung-gu) adalah mata-mata Korea Selatan yang jadi andalan, terutama dalam hal negosiasi dan pembebasan sandera. Tetapi, kepada istrinya, Young-hee (Moon So-ri), Chul-soo mengaku bahwa ia hanya pekerja kantoran biasa. Chul-soo yang mata-mata dengan Chul-soo di rumah adalah pribadi yang berbeda. Di lapangan ia tangguh, jago bela diri dan sebagainya, tapi di rumah dia kalah galak sama istrinya. Ya iyalah, orang Chul-soo sering nghilang tiba-tiba atau membatalkan janji, belum lagi tekanan orang-orang sekitar karena Young-hee belum hamil walau sudah menikah 7 tahun. 

Dalam keadaan begitu, Chul-soo lagi-lagi harus menjalankan misi yang cukup berat, yaitu membawa seorang ahli nuklir asal Korea Utara yang saat ini ada di Bangkok untuk masuk Korea Selatan. Berat karena si ahli ini diincar oleh berbagai pihak, termasuk AS, Jepang dan Korut. Nah, lebih berat lagi, di tengah misi di Bangkok, Chul-soo melihat Young-hee, yang kebetulan berprofesi sebagai pramugari, juga ada di Bangkok! Parahnya, Young-hee jalan sama cowok lain yang kayaknya cuma bisa ngomong bahasa Inggris, Ryan (Daniel Henney). Konsentrasi Chul-soo pun terpecah antara tugas negara dan kegalauan pribadi, tanpa mengetahui bahwa si Ryan memang sengaja mendekati Young-hee karena ia istri mata-mata.

Simpel, familiar, atau dengan kata lain yah biasa ajalah kalau coba dituliskan dalam bentuk ringkasan. I'm aware of that. Tetapi ketika nonton ya gw fine-fine aja, bahkan bisa dibilang gw terhibur terutama dengan hubungan Chul-soo dan Young-hee yang emang konyol. Again, mungkin segala sesuatu yang ada di film ini sudah pernah ditemukan di film-film lain, dari konsep ceritanya, adegan-adegan laganya, ataupun komedinya yang rada bego-bego gimana gitu juga sering muncul di drama-drama televisi. Tetapi, mungkin karena gw sudah lama tidak menyaksikannya, gw jadi terhibur dengan ramuan komedi konyol dan porsi laga yang digarap cukup serius. Film ini jelas diformulakan untuk menghibur, dan untungnya gw termasuk yang terhibur.

Nah, sukses menghibur bukan berarti selalu sukses membuat gw meng-dismiss sedikit logika. Ada yang tahu kenapa si "penjahat" utama membutuhkan si ahli nuklir sebelum melancarkan rencana besarnya? NoO well. Buat gw bagian akhir film ini memang dirancang sekadar supaya filmnya ada kesan blockbuster nan menggelegar, dengan aksi serba riuh melibatkan sebanyak mungkin tokoh dan extras yang sebenarnya nggak necesarry juga sih. Dan itu pun kebanyakan pake efek CGI yang kurang greget, kesannya last minute decision banget supaya ending-nya lebih heboh, pake ledak-ledakan gimana gitulah. Oh, don't get me started with the main villain's motivation, yang dimunculkan tanpa alasan lain selain supaya ada adegan Daniel Henney nggak pake baju. The more I think of it the more I realize the flaws. Cuman, lagi-lagi, gw nggak bisa memungkiri ingatan bahwa gw memang terhibur sama keseluruhan film ini. Gw cukup sering ketawa, cukup keras, dan rasanya gw hanya perlu mengingatnya sampai di situ. Cukup lah.



My score: 6,5/10

Senin, 04 November 2013

[Movie] Merry Go Round (2013)


Merry Go Round
(2013 - VidiVici Multimedia/Sama Pictures)

Directed by Nanang Istiabudi
Written by Faldin Martha
Produced by Eddy Lukman S, Sri Wahyuni
Cast: Tya Arifin, Guiliano Mathino Lio, Dwi AP, Dewi Irawan, Reza "The Groove", Poppy Sovia, Je Sebastian, Bucek Depp, Ray Sahetapy, Keke Soeryo, Hengky Tornando, Ike Muti, Christopher, Epy Kusnandar


Nggak ada yang salah dengan film kampanye. Nggak ada. Apalagi kalau niatnya sudah baik yakni memberikan informasi yang bermanfaat kepada siapa pun penontonnya. Film Mata Tertutup-nya Garin Nugroho adalah contoh yang membuktikan bahwa film kampanye bisa juga dinikmati sebagai karya seni yang utuh dan berdampak. Yang salah adalah, kalau filmnya jadi nggak konsentrasi menyampaikan cerita yang lebih dari sekedar pengetahuan, lebih dari sekedar "Oh gitu ceritanya, kasian ya," tanpa berhasil membuat efek emosional jangka panjang. Itulah yang menurut gw terjadi pada Merry Go Round, film yang memang dari sononya sudah diseting jadi film kampanye antinarkoba yang memuat berbagai informasi tentang pecandu narkoba dan cara mengatasinya.

Langkah yang kurang tepat dilakukan oleh film Merry Go Round adalah keinginannya untuk menceritakan segala hal tentang narkoba di Indonesia dalam satu film, tapi kurang memiliki penguasaan dan kelihaian dalam bercerita, sehingga membuatnya lebih ke "kepenuhan" ketimbang "berbobot". Tak kurang film ini menceritakan tentang nasib empat pecandu narkoba. Menurut gw sih itu kebanyakan, jadi kurang personal dan intim. Sure, keempat orang ini punya hubungan yang berkaitan, tetapi menurut gw masing-masing kisah mereka cukup berat dan pelik untuk diceritakan sekaligus. Lagipula, film ini tidak bercerita tentang empat orang pecandu saja, tetapi juga soal masing-masing keluarga mereka, pihak pengedar, orang-orang di rehabilitasi, juga aksi dari kepolisian. Traffic-nya Steven Soderbergh bisa mengatasi ini dengan pembagian cerita yang fair dan jelas, dan tiap bagian cerita punya tokoh utama yang terfokus dan tergali. Nanang Istiabudi dan tim Merry Go Round resep dasarnya mirip, tapi belum sampai pada penguasaan materi cerita dan perlakuan terhadap karakter seperti film itu.

Kita diperkenalkan pada Dewo (Guiliano Mathino Lio) dan Arman (Reza "The Groove"), mereka teman sesakaw sepenanggungan. Keuangan mereka sedang tiris untuk "pake" sehingga mulai meneror ibunya Arman (Dewi Irawan), padahal di rumah barang-barang sudah habis dijual Arman untuk beli jatah. Singkat cerita, Arman mati overdosed, lalu ibu Arman jadi sering diskusi bareng ibu-ibu di pusat rehabilitasi, lalu Dewo cari cara lain untuk fly: adik perempuannya, Tasya (Tya Arifin). Tasya dibawa Dewo ke bandar putau (Je Sebastian dan Poppy Sovia) untuk dijadikan jaminan agar dapat obat. Yes, Tasya kemudian dicekoki narkoba dan jadi pengguna juga. Untung, Tasya cepat-cepat pergi ke rehabilitasi untuk sembuh, tapi hubungannya dengan narkoba belum berhenti, terutama ketika ia direkrut polisi untuk meringkus pengedar narkoba. Satunya lagi adalah Rama (Dwi AP), temennya Dewo dan Arman juga. Walaupun kondisinya terlihat nggak separah Arman dan Dewo, tetapi ketergantungannya pada sabu-sabu tetap berat, sekalipun ia sudah dinikahkan dengan Tasya.

Ribet? Well, gw masih belum cerita tentang para anggota keluarga yang saling menangis dan saling berteriak, polisi antinarkoba yang berusaha membongkar peredaran narkoba lewat kejar-kejaran dan samar-samaran, dan ibu-ibu rehabilitasi yang serba hadir dan sering melontarkan penjelasan istilah-istilah dalam lingkup rehabilitasi narkoba serta berbagai nasihat yang diujarkan antar mereka saja ketimbang dilontarkan ke tokoh-tokoh utama kita. Entah kenapa...

Berikut ini adalah cara gw menggambarkan Merry Go Round: kisah empat orang tentang cara hidup mereka yang salah di masa lalu yang direka ulang diperagakan-oleh-model ala-ala acara Solusi Life atau Kick Andy, tapi tanpa testimoni dari orang aslinya. Padahal, what make those reka ulang on TV shows works is the real people. Di Merry Go Round, jadinya hanya bagian reka ulangnya, yang juga pemainnya kurang bisa menyampaikan emosi yang genuine dan believable, cuma seperti peragaan saja. Film ini hanya menyampaikan informasi, bahwa pecandu tuh kelakuannya begini, cara dapet "barang"-nya begini, caranya tipu-tipu orang tua tuh kayak gini, setelah mengalami ini kemudian mengalami ini, dan sebagainya. Semua tentang apa yang terjadi dan dialami, tapi tidak tentang apa yang dirasakan. Padahal film ini diklaim berdasarkan kisah nyata. Kisah nyatanya siapa? Taauk. Nggak ada keterangannya sama sekali selain sekadar klaim.

But big credits kepada Dewi Irawan, satu-satunya pemain yang bisa mengujarkan dialog-dialog pretensius dan sinetronik dengan emosi meyakinkan dan, well,  jauh dari kesan sinetronik, sayang yang lainnya nggak bisa mengimbangi. Salut juga bagi siapa pun yang punya ide tentang simbolisasi komidi putar sebagai lambang orang-orang yang terjebak pada narkoba. Terlihat menyenangkan tapi hanya berputar di situ-situ saja, dan orang di dalamnya hanya bisa keluar kalau memang mau keluar, nggak bisa disuruh. Bagian film yang rada surealis ini ditampilkan selang-seling dengan adegan "reka ulang" lainnya, is probably the best part of the film, bisa jadi satu film pendek yang cukup oke. Too bad, ia harus digabungkan dengan bagian lain dari film ini yang *kalau kata Syahrini* terlalu too much dan cukup melelahkan untuk diikuti. Sekalipun gw tau niatnya baik.



My score: 5,5/10