Rabu, 30 Oktober 2013

[Movie] Captain Phillips (2013)


Captain Phillips
(2013 - Columbia)

Directed by Paul Greengrass
Screenplay by Billy Ray
Based upon the book "A Captain's Duty: Somali Pirates, Navy SEALS, and Dangerous Days at Sea" by Richard Phillips, Stephan Talty
Produced by Dana Brunetti, Michael De Luca, Scott Rudin
Cast: Tom Hanks, Barkhad Abdi, Barkhad Abdirahman, Faysal Ahmed, Mahat M. Ali, Michael Chernus, Catherine Keener, Max Martini, Corey Johnson, David Warshofsky, Chris Mulkey, Yul Vazquez, Omar Berdouni


Captain Phillips mengangkat kisah nyata yang terjadi pada tahun 2009 di perairan antara Semenanjung Arab dan benua Afrika. Richard Phillips adalah seorang kapten kapal kargo Amerika, Maersk Alabama, yang dalam perjalanannya dari Oman ke Kenya, disergap oleh empat orang perompak Somalia. Kapt. Phillips sendiri kemudian disandera oleh mereka selama beberapa malam, sebelum akhirnya kapal perang AL Amerika beserta pasukan elit Navy SEAL-nya menyelamatkan sang kapten. Definitely a filmable subject, apalagi ditambah keterlibatan aktor kawakan Tom Hanks sebagai Kapt. Phillips, di bawah arahan sutradara Inggris yang kebetulan favorit gw juga, Paul Greengrass. Captain Phillips pun dari jauh-jauh hari sudah digadang-gadang sebagai salah satu kandidat penghargaan film, termasuk Oscar.

Film Captain Phillips bisa dibilang sebuah film reka ulang yang berusaha seakurat mungkin dalam menggambarkan kejadian yang melanda Kapt. Phillips tersebut. Sekalipun dalam promonya ditekankan bahwa film ini "disutradarai oleh sutradaranya The Bourne Ultimatum", Captain Phillips itu lebih mirip sama United 93, yang juga berupa reka ulang kejadian nyata. Urut-urutan kejadiannya pun mirip sekali, yaitu kedua pihak berangkat dari rumah masing-masing, bergulir dan bergulir hingga pada saatnya kedua pihak dipertemukan di satu titik. Persamaan lainnya, Greengrass kembali berani memakai pemain yang baru dan minim (bahkan non) pengalaman untuk bermain di film yang seserius ini.

Nah, bedanya, dalam Captain Phillips karakternya lebih sedikit, sehingga, yah, lebih jelaslah mana yang tokoh utama mana yang pendukung. Dan sedikit beda lagi, sisi perompak Somalia-nya juga ditunjukkan latar belakangnya lebih jelas. Lumayanlah buat sedikit memahami kenapa perompak Somalia begitu hits di dunia kelautan, ya karena cuma itu kerjaan yang bisa menghasilkan uang di negeri yang dikuasai perompak itu.

Menyaksikan Captain Phillips, gw juga melihat ada kesan bahwa Paul Greengrass mau mendengarkan kritik yang didapatnya pada karya-karya terdahulu. Dulu banyak yang komplain kameranya doi terlalu sering goyang-goyang ampe bikin mules. Di film ini, stabilitas kameranya adalah yang paling "normal", setidaknya kalau diukur dari kebiasaan Greengrass. Ia juga sempat dibilangin terlalu cepat dalam menyampaikan plot (itu sih komplain gw di Green Zone =p). Di Captain Phillips, Greengrass bercerita begitu detil dan perlahan sampai-sampai rasanya hampir nggak ada yang ketinggalan. In short, Captain Phillips is the slowest and the most nggak-bikin-puyeng film by Greengrass, namun tetap berhasil menyajikan thrill yang berarti dan riil. Ya gila aja kalau ada yang masih komplain.

Tetapi, meski mengurangi ciri khas gayanya, secara esensi gw merasa ini tetep filmnya Greengrass banget. Menceritakan survival seorang kapten kapal, gw tidak merasakan heroisme yang muncul dalam jalinan ceritanya, boro-boro dramatisasi yang nggak-nggak. Buat gw, film ini berupa examination tentang sebuah peristiwa, heroisme menjadi nilai yang manasuka, tergantung cara pandang dari mana. Buat gw Kapt. Phillips tidak digambarkan heroik, far from it. Kapt. Phillips bukan jenis atasan yang disukai karena begitu kaku dan pribadinya kurang menyenangkan, dan dalam tekanan ia juga gampang gentar. Kapal Maersk Alabama tidak jadi diseret ke Somalia juga bukan karena Kapt. Phillips seorang, tetapi lebih karena inisiatif yang kompak dari seluruh kru kapal.

Aksi penyelamatan Kapt. Phillips oleh Navy SEALS juga tidak sertamerta bisa disebut heroik. Apakah menebus satu nyawa dengan lebih banyak nyawa bisa disebut heroik? Yah, tergantung dari sisi mana memandangnya. Di sini gw melihat ironi, ketika ada sebuah negara berusaha keras melindungi seorang warganya, ada juga negara lain seakan lepas tangan begitu saja. Apakah harga nyawa manusia segitu relatifnya? Adegan penutupnya adalah sebuah representasi brilian dari Greengrass untuk pertanyaan tersebut, dan diperkuat performa luarrrr biasa dari Tom Hanks. Bukan soal seru-seruan, bukan soal tegang-tegangan, apalagi soal memuji-muja tokoh tertentu. Captain Phillips adalah film tentang betapa brutalnya dunia ini, sekalipun sudah sedemikian lama peradaban manusia tumbuh.

Tsaaah....



My score: 8/10

Selasa, 29 Oktober 2013

[Movie] Prisoners (2013)


Prisoners
(2013 - Alcon Entertainment/Summit Entertainment/Warner Bros.)

Directed by Denis Villeneuve
Written by Aaron Guzikowski
Produced by Broderick Johnson, Kira Davis, Andrew A. Kosove, Adam Kolbrenner
Cast: Hugh Jackman, Jake Gyllenhaal, Terrence Howard, Viola Davis, Maria Bello, Paul Dano, Melissa Leo, Dylan Minnette, Zoe Soul, Erin Gerasimovich, Kyla Drew Simmons, Wayne Duvall


Dengan reputasi orang-orang yang terlibat di dalamnya, Prisoners dengan mudah menjadi salah satu film paling dinantikan para penggemar film. Padahal sih, kalau mau ditarik benang merahnya, Prisoners ini cukup sederhana kisahnya. Berangkat dari kasus hilangnya dua orang anak perempuan kecil bertetangga, Anna Dover (Erin Gerasimovich) dan Joy Birch (Kyla Drew Simmons) ketika keluarganya sedang bikin acara Thanksgiving. Seorang detektif berperangai tenang, Loki (Jake Gyllenhaal) ditugaskan untuk memecahkan kasus ini. Di sisi lain, para orang tua sudah tak sabar untuk menemukan anak-anak mereka, sampai-sampai mereka, utamanya Keller Dover (Hugh Jackman) yang tempramennya memang keras, gegabah melakukan hal-hal yang seharusnya bukan wewenangnya.

Gw bilang sederhana, karena ini tentang posisi polisi dan posisi keluarga atas sebuah kasus. Saat menontonnya, gw tinggal menunggu jawaban di manakah kedua anak tersebut, apakah akan ditemukan, siapa pelakunya, mengapa, dan sebagainya. Kasusnya sendiri bisalah dibuat jadi 1-2 episode serial TV Law & Order: SVU, tentunya tanpa bunyi "dongdong!" untuk tulisan keterangan tempat =p. Hal yang membuat Prisoners sedikit berbeda dari serial-serial televisi bertema detektif adalah emphasize pada sisi emosi keluarga korban, dan porsi ini memang cukup besar di film berdurasi dua setengah jam ini (seriusan emang segitu). By saying that, Prisoners ini seperti berjalan pada dua jalur plot, yaitu kisah misteri (maksudnya detektif-detektifan) dan juga drama emosional, yang anehnya bisa blend dengan baik dan lancar.

Prisoners berhasil menggambarkan bagaimana pihak keluarga yang geregetan melihat kerja polisi yang terkesan lambat sekali bahkan kayak nggak kerja padahal udah ketemu pelakunya (menurut mereka), sedangkan pihak polisi masih belum menemukan petunjuk dan bukti yang benar-benar konkret untuk menangkap siapa pun tersangkanya ataupun menemukan keberadaan kedua gadis cilik itu, saking rapihnya modus operandi si pelaku. Kehilangan anak kesayangan tanpa diketahui keberadaannya memang bisa mengikis kesabaran, hingga akal sehat. Maka jangan heran penonton juga dibuat geregetan sama pengungkapan misterinya yang lambat banget, sekalipun pacing filmnya lumayan cepat dan nggak bosenin-bosenin amat. Malah bisa dibilang satu jam pertama film ini kita nggak akan nemu petunjuk apa pun soal misteri hilangnya Anna dan Joy. Sengaja supaya merasakan apa yang dirasakan keluarga Dover dan Birch? Mungkin.

Prisoners secara umum berhasil memenuhi ekspektasi, film yang dapat memuaskan penontonnya, terutama yang "tahan" sama misteri dan drama. Demikian pula deretan pemain kaliber Oscar yang tampil, semua memberikan penampilan yang mumpuni menghidupi karakter-karakter yang juga dibangun dengan baik oleh penulis naskah Aaron Guzikowski. No, kita nggak akan lihat Wolverine dalam Hugh Jackman di sini, meskipun punya kebrutalan yang mirip. Ketegangan serta drama yang dibangun oleh sutradara Kanada, Denis Villenueve juga dikonstruksi dengan baik dan kokoh (kayak bikin rumah), sehingga tidak masalah ketika klimaksnya tidak terlalu menggelegar...well, ada kebut-kebutan sedikit lah *tetep ye*. Sayang, film yang oke (dan visualnya sendu-sendu cakep) ini masih punya penyakit film sejenis, yaitu motivasi pelaku dituturkan secara lisan, sehingga terkesan dingin dan kurang nampar gitu. Tapi lagi-lagi mungkin bukan itu poin utamanya, sebab apa pun alasan tindakannya, pelaku telah sukses membuat dua keluarga putus asa.



My score: 7,5/10

Minggu, 27 Oktober 2013

[Movie] Flu (2013)


감기 (Gam-Gi)
Flu
(2013 - CJ Entertainment)

Directed by Kim Sung-soo
Screenplay by Lee Young-jong, Kim Sung-soo
Story by Jung Jae-ho
Produced by Teddy Jung, Kim Seong-jin
Cast: Jang Hyuk, Soo Ae, Park Min-ha, Yoo Hae-jin, Ma Dong-seok, Cha In-pyo, Kim Ki-hyun, Lester Avan Andrada


Flu adalah Korean blockbuster take terhadap tema bencana berupa penyakit menular, dalam hal ini flu superparah yang menyebar sangat cepat dan menjangkit penderitanya hanya dalam sekejap hingga meninggal. Pada titik ini, gw harusnya udah antisipasi terhadap gabungan kata "film", "Korea", dan "blockbuster". Menurut pengertian cetek gw, kata "blockbuster" itu cara menggambarkan sebuah film yang, selain biasanya berbiaya mahal, menggunakan "formula" tertentu yang dianggap ampuh dalam menarik banyak orang untuk menontonnya. Yah, contohnya kenapa film action Amerika harus ada kebut-kebutan dan ledak-ledakan, atau film Indonesia harus ada tokoh sakit parah yang demen nangis dan ditangisi. Lewat Flu ini, gw tampaknya mulai sedikit demi sedikit membaca formula "blockbuster" ala Korea. Khususnya, di bagian klimaks yang lebay lebay lebay sampe capek gw nontonnya.

Satu hal dari Flu yang gw suka justru adalah bagian-bagian drama (berbumbu komedi) di paruh awal yang digarap sangat menghibur, sederhana, dan berhasil membangun ikatan emosi, apalagi yang melibatkan sang aktris cilik Park Min-ha yang tampak berbakat sekali dalam berakting. Cukup enak ngikutinnya, karena jalan ceritanya berpegang pada skala (cukup) kecil, yaitu pertemuan seorang petugas pemadam kebakaran, Kang Ji-goo (Jang Hyuk), dengan seorang dokter peniliti wabah, Kim In-hae (Soo Ae) yang ternyata seorang single mother dari putrinya yang lucu dan cerewet, Mi-reu (Park Min-ha). Proses penyebaran wabahnya, mulai dari masuknya imigran ilegal dari Filipina yang membawa wabah hingga terjangkitnya ratusan dan ribuan orang, ini pun masih bisa diterima dengan akal, dan kekacauan sosial yang mengikutinya juga masih oke untuk disimak. All is well.

Kesantaian gw mengikuti jalannya film ini mulai terkikis ketika muncul kengerian-kengerian yang dipaksakan, karakter-karakter yang nyebelin tapi nggak mati-mati, juga ujug-ujug ada unsur protes terlalu ngaturnya pihak asing (Amerika) terhadap urusan dalam negeri Korea. Harus diakui sih itu bentuk penyampaian nilai nasionalisme yang unik, tapi that's not new in Korean movies. Bahkan gw curiga itu termasuk dalam formula blockbuster mereka, supaya filmnya nggak dianggap film hiburan belaka, ada isinya lah dikit. But honsetly, setengah jam terakhirnya itu sangat melelahkan buat gw.

Gw merujuk pada klimaks yang serba extravagant, dengan segala ledakan-ledakan, situasi serba genting bertubi-tubi yang ditanggapi emosional, slow motion, keterlibatan massa besar, ancaman bersenjata berskala sak hoha, pesawat tempur (?), dan segala efek-efek tambahan yang seperti pingin menunjukkan "Ini film besar dan mahal loh". Tapi yang paling nggak banget adalah adanya karakter-karakter yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah, yang fungsinya juga nggak ada selain hanya supaya bikin gw kesel aja. Padahal kalau nggak ada mereka, film ini bisa tetep jalan kok, tetep bisa dramatis emosional. Kelebihan duit kali ye. Tapi gw rasa jika itu termasuk formula yang terbukti berhasil menarik (dan bahkan disukai) penonton kebanyakan, ya mau diapain lagi.

Lagi-lagi, jika yang empunya film Flu memang hanya menargetkan filmnya sekadar untuk menghibur sebanyak mungkin penonton dengan formula-formula khasnya, ya sudah, mereka berhasil, film ini memenuhi kriteria itu. Toh cukup kelihatan dari segi production value serta penelitian medis film ini niat sekali, dan dari pemilihan aktor-aktor yang oke, itu patut dihargai. Gw jujur cukup menikmati film ini...paruh awalnya doang tapinya. Film heboh buat hiburan saja. Kalau mau dianggap lebih dari itu, emmm..., coba lagi deh ya.



My score: 6/10

Selasa, 15 Oktober 2013

[Movie] The Butler (2013)


The Butler
a.k.a Lee Daniels' The Butler
(2013 - AI Film/The Weinstein Company)

Directed by Lee Daniels
Written by Danny Strong
Inspired by the article "A Butler Well Served by This Election" by Wil Haygood
Produced by Pamela Oas Williams, Laura Ziskin, Lee Daniels, Buddy Patrick, Cassian Elwes
Cast: Forest Whitaker, Oprah Winfrey, David Oyelowo, Terrence Howard, Cuba Gooding Jr., Lenny Kravitz, Robin Williams, Liev Schreiber, James Marsden, Minka Kelly, John Cusack, Alan Rickman, Jane Fonda, Yaya Alafia, Colman Domingo, Elijah Kelley, Clarence Williams III, Vanessa Redgrave, Alex Pettyfer, Mariah Carey


Sentimen ras sepertinya memang sangat membekas di Amerika Serikat sehingga isu ini selalu hangat untuk diangkat dalam media film. Belum lama ini di ranah mainstream kita pernah lihat Django Unchained, Lincoln, dan sebelumnya ada pula The Help. Tahun ini muncul lagi film The Butler, mengangkat kisah seorang bulter (kepala pelayan) kulit hitam yang bekerja di istana kepresidenan AS, Gedung Putih. Meski bertema sejarah, The Butler bukanlah film tentang tokoh sejarah, melainkan tokoh fiksi yang terinspirasi dari kehidupan para butler kulit hitam di Gedung Putih yang tak banyak diketahui oleh orang banyak.

Dalam film ini, Cecil Gaines (Forest Whitaker) menjadi saksi perubahan politik dan sosial AS dalam masa pemerintahan 7 orang presiden (sejak tahun 1950-an hingga akhir 1980-an), sekaligus berusaha mempertahankan keutuhan keluarganya. Cecil datang dari keluarga pekerja kebun kapas di bagian South negeri AS yang pada awal hingga pertengahan abad ke-20 masih kental akan diskriminasi ras. Namun, berbekal tekad dan keberuntungan, Cecil akhirnya sukses menjadi seorang pelayan hingga naik jadi butler di hotel-hotel, dan akhirnya dipekerjakan melayani presiden di Gedung Putih. Kesuksesan Cecil di pekerjaan rupanya tidak dibarengi dengan kedamaian di keluarganya. Sang istri, Gloria (Oprah Winfrey) punya masalah dengan alkohol dan sedikit jablai. Sang putra tertua, Louis (David Oyelowo) bergabung dengan gerakan radikal antidiskriminasi yang sering jadi sasaran kekerasan masyarakat rasis (atau fasis?), padahal seumur hidupnya Cecil sudah susah payah membawa keluarganya keluar dari lingkungan yang rasis.


The Butler ini menarik karena tema yang diusungnya, seperti gw bilang tadi, jarang diketahui orang. Dan lebih menarik lagi, film ini ingin memberi gambaran tentang beberapa presiden AS dari sudut pandang seorang butler-nya, khususnya dalam hal kesetaraan ras. Ada yang tidak terlalu mementingkan, ada pula yang membela habis-habisan. Yah lumayan lah jadi semacam pelajaran sejarah dikit-dikit. Eh, diperankannya sama aktor-aktor kawakan pula, mulai dari Robin Williams (Dwight D. Eisenhower), Liev Schreiber (Lyndon B. Johnson), James Marsden (John F. Kennedy), John Cusack (Richard Nixon), hingga Alan Rickman (Ronald Reagan). Mungkin yang kurang familiar dengan sejarah Amerika, film The Butler awalnya mungkin akan sulit dinalar. Tapi kayaknya sih lama kelamaan akan bisa diikuti juga. Mungkin itulah gunanya adegan salah satu aksi protes antidiskriminasi di sebuah warung makan yang membedakan "meja kulit putih" dan "pojokan kulit berwarna" yang berujung pada kekerasan, yang bisa memberikan gambaran representatif tentang keadaan kala itu. Toh di negeri kita juga kerap terjadi, meski dalam konteks berbeda.

Di luar temanya yang cukup serius, keunggulan utama The Butler sebenarnya terletak pada deretan aktornya yang bermain apik. Khususnya tentu saja penampilan aktor watak Forest Whitaker yang "selesai" dah gak ada yang tandingin. Ini orang emang gila deh kalo bikin orang tersentuh secara emosional, tapi dengan cara yang beda dengan peran-peran sebelumnya. Kalo di The Last King of Scotland dia galaknya bikin serem, di sini galaknya bikin terenyuh. Oprah Winfrey yang kembali berakting setelah sekian tahun pun tampak sangat berkelas, dan cukup sanggup mengimbangi performa prima pak Whitaker. Sedangkan untuk para pemain pendukungnya menunaikan tugasnya dengan baik sekalipun dibilang mencuat juga gak terlalu. Mungkin penampilan kocak dari Elijah Kelley sebagai Charlie, putra bungsu Cecil yang menyegarkan suasana, tetapi porsinya terbilang sedikit.


Nah, sayangnya, selain mendapatkan performa ciamik dari pemainnya, gw tidak mendapatkan hal lain lagi yang mengesankan. Awalnya gw udah cukup terganggu dengan bagian pembukanya yang terlalu dipersingkat dan seakan "kok gampang banget ya?" gitu. Tetapi ketika gw udah maklum sama hal itu, mungkin itu demi membatasi durasi, gw masih kurang nangkep apa yang mau dijadikan statement film ini, selain bahwa rasisme itu menyakitkan. Cecil mungkin mewakili orang-orang yang sengaja pergi dari lingkungan rasis demi kehidupan lebih baik, namun panggilan untuk memperjuangkan hak-hak kaumnya tak pernah hilang. Atau film ini tentang harapan akan perubahan yang tak boleh sirna meski harus menanti berpuluh tahun (film ini berakhir ketika Barrack Obama, presiden AS berkulit hitam pertama, baru dilantik). Atau soal perbedaan pandangan ayah dan putranya tentang apa yang baik dan harus dilakukan. Jika memang benar itu semua maksudnya, gw merasa sutradara Lee Daniels terlalu kalap memasukkan banyak tokoh dan peristiwa sejarah yang dianggap penting tapi nggak mengerucut ke statement tertentu untuk menekankan maksudnya *ngatur*, jadi berasa lama. Atau, as usual, gw-nya aja yang kurang tanggap. Setelah muter-muter dan coba-coba bersinggungan dengan peristiwa sejarah, pada akhirnya gw cuma bisa menangkap The Butler tak lebih dari kisah hidup seseorang, semacam biografi biasa seorang tokoh yang bahkan tidak (sepenuhnya) ada di kenyataan. 




My score: 6,5/10

[Movie] Romantini (2013)


Romantini
(2013 - E-Motion)

Directed by Monty Tiwa
Screenplay by Ivander Tedjasukmana, Sumarsono, Monty Tiwa
Story by Monty Tiwa
Produced by Didi Mukti, Nurmi Pandit, Sumarsono
Cast: Ashanty, Dwi Sasono, Aurel Hermansyah, Ridwan Abdul Ghany, Mario Irwinsyah, Zaid Assidiq, Ria Irawan, Iang Darmawan, Anang Hermansyah, Pongki Barata, Anji, Liza Natalia, Nina Tamam, Aming


Anang, Ashanty, dan Aurel Hermansyah main film. Ini adalah sebuah formula sukses...kalau ini masih tahun 2012. Jujur aja, film Romantini ini adalah proyek aji mumpung demi mengokohkan, atau karena udah tahun 2013 jadinya "merebut kembali" popularitas pasangan selebritas paling fenomenal (tahun 2012) dan anaknya. Mau berkilah gimana pun juga, film ini jelas-jelas maksud dan tujuannya ya itu, mempromosikan bakat keartisan Anang-Ashanty-Aurel beserta lagu-lagunya, plus ditebengin promosi artis-artis label E-Motion (yang memproduksi film ini) dan senam Zumba-nya Liza Natalia. Kalau penonton mengharapkan lebih daripada itu, ya salah sendiri. Namun, sekalipun tampak dibuat dengan all the meh reasons, satu langkah benar yang diambil produser Romantini adalah menggaet Monty Tiwa sebagai sutradara dan salah satu penulis naskahnya. Monty adalah sineas muda Indonesia yang jam terbangnya tinggi, khususnya untuk drama komedi ringan, dan jarang membuat karya tercela (well, gw baru nonton Test Pack aja sih, dan itu film bagus). Pun selain diberi catatan-catatan "harus promosi" dari yang punya film, doski seperti diberi kebebasan untuk meramu cerita Romantini sehingga terlihat seperti film "betulan". 

Kartini (Ashanty) harus mengubur impiannya sebagai penyanyi terkenal karena ditolak sana sini. Bersama suaminya, Rahman (Dwi Sasono), Kartini kini tinggal secara sangat sederhana di Jakarta bersama putri mereka, Pelangi (Aurel Hermansyah). Cekcok rumah tangga sering terjadi lantaran Kartini harus membanting tulang sendiri sebagai pemandu lagu di sebuah klub karaoke (tulisannya sih Illigals, tapi in real life itu jelas-jelas bukan tempat karaoke =p)—etapi gak pake anu-anuan lho, sedangkan Rahman nganggur dan demen minum-minum. Ditambah mereka *tentu saja* masih banyak utang. Pelangi pun jadi sering main keluar rumah, khususnya karena naksir Sony (Ridwan Abdul Ghany, yang tampak kayak bocah kalau tanpa wig Tutur Tinular). Terlebih lagi, bersama Sony, Pelangi dapat menyalurkan hobinya bernyanyi dan menulis lagu. Tetapi karena trauma, Kartini melarang Pelangi meneruskan hobinya itu, termasuk ikut sebuah lomba pencarian bakat. Nah, tambahlah itu semua dengan Rahman yang kena tipu ketika akhirnya dapat kerja jadi tukang ojek, lalu ada bos karaoke (Zaid Assidiq) yang simpati dengan Kartini dan pelan-pelan coba mengambil hatinya...

Okelah, mungkin ceritanya standar sestandar-standarnya, tentang pasangan muda ekonomi pas-pasan yang meninggalkan impian lama yang naif (jadi penyanyi profesional) demi menyambung hidup di Jakarta dengan kerja sedapetnya, lalu impian itu muncul lagi lewat sang anak yang diam-diam mendapat warisan bakat orang tua. You know, hal-hal yang sering diangkat dalam profil harubirukelabu peserta lomba nyanyi di TV. Tetapi, setidaknya dalam satu setengah jam durasinya, gw sempat melupakan bahwa ini film aji mumpung karena ceritanya disampaikan cukup lancar dan punya sebab akibat yang bolehlah. Well, gw jadi inget lagi sih kalo ini aji mumpung setiap kali lihat Aurel berakting =P, but seriously, kalau kamu bisa menikmati FTV-FTV asal-jadi-yang-penting-tayang di televisi, Romantini ini sedikit lebih baik.

Kesan film "betulan" pun semakin kuat terpancar lewat pemilihan aktor Dwi Sasono dan Mario Irwinsyah. Dwi Sasono sebagai Rahman berhasil meluapkan emosi labilnya dengan baik, dan punya chemistry yang cukup oke dengan Ashanty. Sedangkan Mario sukses lancar jaya berperan sebagai waria sahabat Kartini bernama tante Youyoun secara serius tanpa terkesan komikal, bener-bener seperti wanita dalam tubuh pria, nggak main-main. Menurut gw, kalau filmnya cuma asik aja yang penting jadi, nggak mungkin dua peran ini digarap serius. Dan bahkan, surprisingly, Ashanty sebagai pemeran utama mampu berakting dengan baik, lebih dari sekadar passable. Mungkin dibanding Aurel, Ashanty memang lebih pengalaman karena pernah main iklan dan sebagainya, tetapi gw cukup terkesan aja bahwa she can act even better than her singing. Oh iya, ada mas Anang juga di sini sebagai artis/produser bernama Anang. Go figure.

So, secara keseluruhan produksi, Romantini ini bisa dibilang tidak memalukan sekalipun faktanya "hanya" sebuah aji mumpung, bahkan keseriusan penggarapannya pun layak dihargai. Jika saja promosinya benar, pasti ada saja pasar untuk film drama keluarga berbumbu komedi ini. Tapi buat gw, problemnya yang dimiki film ini nggak kecil juga. Dengan segala ke-standar-annya, bagi gw keseluruhan film ini seperti sebuah babak latar belakang yang arah plotnya baru kelihatan di akhiiir banget, sehingga ketika filmnya berakhir dengan *tentu saja* sebuah panggung nyanyian, gw cuma bisa berpendapat, "Udah? Terus..?". Meskipun klimaksnya cukup eventful, masih terlalu banyak pertanyaan yang mengganjal, kayak perjalanan keluarga ini baru separoh saja. Untung saja beberapa gag lawakan yang ditampilkan cukup menghibur, sehingga apa yang mengganjal bisa dicuekin aja. Yeah, gag bahwa Pelangi nggak kenal artis bernama Anang juga lumayan bisa bikin nyengir sinis. Yang penting 'kan udah liat Anang-Ashanty-Aurel akting =P.




My score: 6/10

Sabtu, 12 Oktober 2013

[Movie] Gravity (2013)


Gravity
(2013 - Warner Bros.)

Directed by Alfonso Cuarón
Written by Alfonso Cuarón, Jonás Cuarón
Produced by Alfonso Cuarón, David Heyman
Cast: Sandra Bullock, George Clooney, Ed Harris, Amy Warren, Phaldut Sharma, Orto Ignatiussen


Berhubung ngeblog adalah tindakan mandiri berdikari alias suka-suka yang bikin, maka mood untuk menulis pun suka-suka yang bikin. Gw akan senang dan semangat sekali untuk menulis ulasan terhadap film yang gw suka banget atau yang gw benci banget, malah bisa-bisa ulasannya sampe panjang. Sedangkan yang paling males adalah mengulas film yang ada di tengah-tengah alias biasa aja. Karena, kalau terlalu di tengah-tengah gw jadi kehilangan poin menarik yang bisa dibahas. And then came along, Gravity, film thriller antariksa dari sutradara Alfonso Cuarón. Ini adalah film di luar semua kategori itu. Ini adalah film yang saking bikin gw terpukau dan terpesona sampe gw nggak tahu mau ngulas apa selain nyuruh kalian semua "NONTON GIH BURUAN! IMAX 3D KALO BISA!". Yak, itulah ulasan gw buat Gravity, film yang akan dengan mudah menjadi favorit, atau setidaknya di deretan teratas film-film yang bakal paling gw ingat mulai sekarang.

Tapi bisa jadi itu ulasan yang bias, secara gitu gw ngefans buanget sama Alfonso Cuarón. As you know, semua film panjang doski udah gw ulas di blog ini *ceritanya khatam nih*, semua filmnya nggak ada yang gw benci, dan tentu saja film doski sebelumnya, Children of Men adalah film terfavorit gw sepanjang masa. Mungkin gw sedang membuat ilusi psikologis bahwa Cuarón nggak mungkin bikin film biasa aja apalagi jelek, sehingga gw berlaku lebay sampe sok-sokan speechless, terus nyuruh-nyuruh orang nonton filmnya dan memaksa orang lain untuk berpendapat yang sama dengan gw. Kalau ada yang berpendapat sebaliknya gw akan ujarkan kalimat-kalimat merendahkan seperti "Jadi orang nggak ngerti sih ye," atau "Tau deh yang pinterrr banget," sampe "Nggak jelas? Nggak jelas!? Nungguin pesenan di Solaria tuh baru nggak jelas!! Nungguin album internasional Agnes Monica keluar tuh baru nggak jelas!!". Yes, gw mungkin akan jadi bagian garis keras pembela film ini. Masalah buat eloh?

Segitunyakah Gravity itu? Iya, emang segitunya. Gravity ini adalah alasan kenapa teknologi suara dan visual effect itu dibuat canggih-canggih. Film ini adalah alasan kenapa film yang notabene bahasa gambar harus ada latar musik. Film ini adalah alasan kenapa casting aktor itu nggak boleh sembarang asal bisa ngejual. Dan film ini adalah jawaban bahwa film yang menggebrak dan mencengangkan nggak harus bikin bingung dan memercik perdebatan *uhuk 2001: Space Odyssey, uhuk Inception*. Iya, emang segitunya Gravity ini. Mungkin gw kurang jelas dalam menggambarkannya dengan kata-kata. Gw coba tujukkan salah satu alasannya lewat gambar. Saat syuting, keadaannya cuma seperti ini:


Dan, dengan tambahan efek dan animasi CGI, hasilnya di layar bioskop adalah seperti ini:

Iya, kecuali muka dan gerak orangnya, lain-lainnya itu animasi dan visual effect. Yes, se-helm-helmnya pun CGI. Nggak kelihatan kayak hasil visual effect? Lah namanya visual effect emang tujuannya itu, bukan? Terserah orang mau bilang apa, buat gw teknologi dalam pembuatan Gravity hanya akan terlihat cupu ketika (kelak) syuting di luar angkasa betulan sudah semudah syuting FTV di Jogja. Iya, emang segitunya.

I can go on and on and on menceritakan kekaguman gw pada film ini. Tapi kalo mau diikhtisarkan, Gravity adalah pencapaian teknik perfilman yang saat ini mungkin baru bisa dilakukan Alfonso Cuarón. Bagaimana teknik audio visual yang rumit, bisa mendukung gaya penceritaan khas Cuarón yang sederhana tetapi "berbicara", dan tentu saja banyak adegan long-take—disyut terus menerus tanpa terpotong/pindah gambar—yang bikin gw bereaksi "Ah bangke lah loe, Cuarón!" saking gw nggak habis pikir bagaimana bisa dia memikirkan cara meng-adegan-kan kayak itu. In case kamu mau memperhatikan, adegan pembuka Gravity itu 17 menit nonstop (!), adegan selanjutnya juga lebih dari 5 menitan nonstop (jadi nyaris setengah jam film cuma satu kali pindah gambar), belum lagi adegan lain seperti di dalam stasiun ISS, ngebongkar parasut yang nyangkut, "mimpi" di dalam sekoci Soyuz, dan adegan penutupnya, semua single shots lebih dari 5 menit! 

Gravity juga sekali lagi menjadi bukti Cuarón seorang sineas yang teliti. Semua hal yang tampak di layar nyaris akurat dengan keadaan sebenarnya di luar angkasa, mulai dari penampakan bumi sampai hukum-hukum fisika yang berlaku di "atas" sana, termasuk perihal suara—di luar angkasa nggak ada udara jadi nggak ada suara, di film ini suara yang penonton dengar hanyalah suara radio, suara di dalam stasiun/pesawat yang ada oksigen, dan suara yang didengar dari balik helm tokoh-tokohnya, dan efek suara dramatis diganti sama musik latar. Oh, di luar angkasa juga nggak ada ledakan, ingat bahwa kebakaran cuma terjadi kalo ada oksigen. Yang mungkin melanggar akurasi adalah helmnya yang nggak pake lapisan pelindung/kaca film, tapi itu emang sengaja biar muka aktornya bisa kelihatan *yaiyalah*. 

Tapi di luar tetek bengek IPA itu, tetap yang jadi bukti ketelitian dan kepiawaian Cuarón adalah cara menata adegan demi adegannya. Bagaimana ia membangun momen dramatis, dari yang adem ayem aja perlahan jadi momen mencekam dalam aliran waktu real-time. Bagaimana ia memperhitungkan dan mengatur berbagai elemen agar menyatu padu dan tepat posisinya: gambar/benda/orang yang mana harus masuk kapan dan bagaimana, atau kamera harus menyorot apa dan bergeser ke mana dan kapan, atau kapan suara dan musik harus masuk. Seperti sebuah sendratari, dengan aktor, kamera, efek visual, efek suara, dan musik sebagai penarinya. Indah nian.

Don't let go.

Tapi di luar efek-efek canggih cing yang ditata begitu indah, gw juga bilang nonton Gravity itu nggak perlu mikir. Tinggal duduk, saksikan, rasakan. Kenapa? Ya karena ceritanya tentang dua orang astronot yang terkena musibah hingga mengawang-awang tanpa arah di luar angkasa, lalu berusaha mencari cara untuk pulang dengan selamat. Udah. Nggak perlu pihak-pihak antagonis untuk membuat usaha tersebut jadi sulit. Udah sulit dari sononya. Namanya juga di luar angkasa yang nggak ada oksigen, nggak ada suara, dan nggak ada gaya gravitasi. Nggak bisa ngerem! Tanpa alat memadai dan tanpa tekad bertahan hidup yang kuat, ya sekalian selesaikan aja hidup loe.

Itulah kunci dari Gravity yang membuatnya bukan sekadar film pamer efek. Film ini tetap berjejak pada tokoh manusianya. Manusia biasa yang dihadapi krisis mengancam nyawa, lalu mulai berusaha bangkit dan bertahan. Ada titik yang bikin frustrasi, tapi alasan untuk bertahan dan kembali pulang harus ditemukan kembali. Semua hanya dalam durasi ringkas 1,5 jam. Gw pun senang dengan dialog-dialognya membumi—terlepas setting-nya di luar angkasa—dan mengalir alami, humornya pun diselipkan dengan pas. Dan hanya lewat dialog-dialog itu, gw sudah bisa mengenal tokoh Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) dan Lt. Matt Kowalski (George Clooney) dengan mendalam, baik sifat maupun motivasinya, tanpa harus menginterupsi jalan plotnya. Beruntunglah film ini bisa menggaet aktor-aktor mumpuni nan karismatik, Bullock dan Clooney, yang bukan cuma sebagai "bahan jualan", tetapi terbukti sanggup berkomitmen pada tantangan dalam berperan sekaligus menyampaikan emosi yang tepat sasaran, tanpa terhalangi efek-efek yang canggih di sekitarnya.

Buat gw pribadi, Gravity masih kalah dari Children of Men dalam hal memberikan kekaguman yang paripurna. Tetapi, Gravity sudah lebih dari sanggup untuk menimbulkan kekaguman yang sangat besar. Effort dan ketelitian Cuarón terbayar lunas, menghasilkan tontonan yang membuat gw nggak bisa berbuat hal lain selain terdiam menatap layar membiarkan segala keindahan sinematik tersaji di depan mata dan merasuk ke telinga. Ya, Gravity emang segitunya. Film mahal tapi bagus tuh ya kayak gini ini. Jika ada film yang pantas dan layak jadi alasan kita mengeluarkan uang lebih buat beli tiket nonton format 3D atau IMAX atau bentuk premium lainnya sekalipun jaraknya jauh dari rumah, Gravity jawabannya!




My score: 9/10

Kamis, 10 Oktober 2013

[Movie] Air Mata Terakhir Bunda (2013)


Air Mata Terakhir Bunda
(2013 - Rumah Kreatif 23 Pictures)

Directed by Endri Pelita
Screenplay by Endri Pelita, Danial Rifki
Based on the novel by Kirana Kejora
Produced by Endri Pelita
Cast: Vino G. Bastian, Happy Salma, Rizky Hanggono, Ilman Lazuvla, Sean Hasyim, Reza Farqan Bariqi, Mamiek Prakosa, Endi Arfian, Tabah Penemuan, Marsha Timothy


Meskipun gw sering kesrimpet kalau nyebut judulmya, antara Air Mata Terakhir Bunda atau Mata Air Bunda Terakhir =p, film ini tuh sesederhana tentang kenangan akan sosok bunda. Dikisahkan seorang lelaki berlogat Jawa di Jakarta, Delta (Vino G. Bastian) akan menikah dengan Lauren (Marsha Timothy), tapi anehnya Lauren tidak pernah diperkenalkan pada orang tua Delta. Delta selalu berdalih seakan ada sesuatu tentang ibunya yang bikin dia malu untuk memperkenalkannya pada Lauren. Ketika Lauren meminta break karena Delta tidak mau jujur, Delta kemudian mengingat kembali pada sosok Ibu (Happy Salma) di masa kecilnya ketika masih tinggal di pinggir ladang garam Sidoarjo, Jawa Timur.

Delta kecil (Ilman Lazuvla) dan abangnya, Iqbal (Reza Farqan Bariqi) tinggal bertiga saja bersama Ibunya yang menurut sinopsis resmi namanya Sriyani. Delta selalu dibilangin kalau ayahnya sudah meninggal, tetapi para tetangga selalu merongrong kepenasaranannya dengan bilang ayahnya masih hidup, sekarang jadi juragan sepatu yang kaya. Tetapi, Ibu selalu bersikeras bahwa ia sanggup mengurus kedua anaknya meskipun harus punya berbagai pekerjaan, dari jualan ketupat kupang (keong sawah) sampai jualan kain. Meski susah payah, Ibu senantiasa berusaha memenuhi kebutuhan mereka, juga membekali dengan nasihat-nasihat, supaya Delta dan Iqbal ketika tumbuh dewasa (diperankan Vino dan Rizky Hanggono) dapat menjalani hidup yang lebih baik. 

Dan...well, that's pretty much it. Film ini tidak memuat banyak plot selain tentang kenangan Delta terhadap ibunya lewat berbagai peristiwa, mulai dari mencari ayah kandungnya, jadi pemimpin karnaval anak SD se-Sidoarjo, sampai pada kesampaiannya cita-cita ke perguruan tinggi. Hampir sepanjang film, tidak ada arah yang pasti dari kisah berlatar era 1990-2000-an ini, kecuali rasa penasaran yang sudah tertanam dari awal film: kenapa Delta enggan cerita soal ibunya kepada Lauren. Jawabannya mungkin agak abstrak, setidaknya sepenangkapan gw. Maksudnya, tinggal cerita aja gitu emaknya sekarang di mana dan gimana, emangnya kenapa? Detilnya mungkin kurang mengenakkan tapi garis besarnya 'kan tidak harus sesusah itu. Agak aneh sih, tapi kalo ceritanya udah di-set begitu, ya udahlah.

Gw berani bilang Air Mata Terakhir Bunda itu bukan film sembarangan. Ia punya production value yang cukup serius dan dituturkan dengan cukup enak. Gw suka sinematografinya yang ditata oleh Gunung Nusa Pelita, yang gw curigai ada pertalian darah dengan sutradaranya, Endri Pelita. Nah tapinya, film ini masih banyak tersandung di beberapa titik. Selain yang gw sebut tadi, ada beberapa kalimat-kalimat "nasihat" yang kurang smooth ketika dimasukkan dalam dialog dan situasinya. Dan juga yang paling kesandung adalah masalah latar waktu yang kurang konsisten. Yang gw tahu pasti di tahun 1990-an, batik guru sekolah negeri belum berwarna biru-kehijauan, dan, emang ini paling susah sih, motor-mobil beserta plat nomornya yang jelas-jelas dari tahun 2010-an.

Tapi sekali lagi, Air Mata Bund...eh Terakhir Bunda termasuk film drama sentimentil yang cukup enak ditonton. Juaranya ada pada penampilan aktornya yang tampil dengan usaha yang niat, mulai dari penjiwaan sampe dalam hal logat wicara yang cukup wajar. Pokoknya kalo niatnya baik pasti keluarnya juga baik. Vino G. Bastian tetap mampu tampil konsisten sebagai pemeran utama, chemistry-nya dengan Rizky Hanggono sebagai kakaknya juga tampak menyatu. Versi kecil mereka berdua, Ilman Lazuvla dan Reza Farqan Bariqi juga tampil natural dan efektif. Demikian pula Happy Salma yang sanggup tampil meyakinkan sebagai seorang single mother yang penuh kasih sayang dan pantang menyerah, dan "comeback" dari aktor Tabah Penemuan juga tidak mengecewakan. It's funny how seseorang bernama Happy dipasangkan dengan seseorang bernama Tabah =p. Thanks to them, sekalipun naskahnya masih belum yahud, film ini masih lolos sebagai film Indonesia yang layak tonton. Nggak mengecewakan lah.



My score: 7/10

Minggu, 06 Oktober 2013

[Movie] Violet & Daisy (2013)


Violet & Daisy
(2013 - Wild Bunch/Magic Violet/Cinedigm)

Written & Directed by Geoffrey Fletcher
Produced by Geoffrey Fletcher, John Penotti, Bonnie Timmermann
Cast: Saoirse Ronan, Alexis Bledel, James Gandolfini, Danny Trejo, Marianne Jean-Baptiste, Tatiana Maslany


Kalau kalian masih atau pernah memperhatikan blantika anime Jepang, atau minimal pernah baca-baca majalah Animontser/Animonstar, pasti memperhatikan bahwa ada kecenderungan manga dan anime untuk memasang tokoh-tokoh cewek berperawakan kecil dan innocent dengan mata besar bersinar dan suka hal-hal yang girly (mereka bilang itu 'kawaii'), tapi punya kemampuan yang lethal, entah itu jago berkelahi atau mahir main senjata. Sering juga dikasih bonus berlingkar dada besar. Gw menebak, Violet & Daisy ini punya konsep serupa, minus bagian lingkar dada. Makanya yang di-casting adalah dua aktris yang (tampak) muda berwajah innocent bermata biru besar, Alexis Bledel dan Saoirse Ronan. Tak hanya sampe di situ, film debut penyutradaraan Geoffrey Fletcher ini pun membuat sebuah konsep cerita layaknya sebuah serial kartun, tetapi dengan gaya black comedy penuh dialog. 

Violet (Alexis Bledel) dan Daisy (Saoirse Ronan) adalah dua gadis remaja rekanan yang tergabung dalam organisasi kejahatan di New York, dengan tugas menghabisi nyawa orang-orang tertentu sesuai perintah. Mekanismenya: dikasih target, mereka bunuh, dibayar, terus duitnya buat bayar kost atau beli baju atau barang-barang lucu di Yayang dan Cindy *kali aja*. Tapi di satu saat mereka mau beli gaun baru seperti dipakai artis idola mereka, Barbie Sunday, mereka nggak punya duit lagi. Akhirnya mereka terima tugas kerjaan menghabisi nyawa seorang bapak-bapak (James Gandolfini). Namun, berawal dari sebuah kecerobohan yang bernama ketiduran, misi yang harusnya tinggal dor ini jadi melebar ke mana-mana, malah membuat Violet dan Daisy jadi lebih dekat dengan si target.

Kenapa organisasi kejahatan menggunakan gadis-gadis remaja itu besides the point. Nama mereka yang diambil dari nama-nama bunga (violet dan aster) juga bisa jadi bukan nama asli mereka, bahkan di pertengahan dibongkar bahwa mereka ada rankingnya: Violet itu lebih jago jadi nomer 8, Daisy nomer 9. Nomer 1-nya mereka nggak kenal, tapi katanya pernah bunuh ninja. Jadi inget Dragon Ball gak sih? =D. Ini yang gw bilang filmnya kayak kartun, apalagi diperjelas dengan adegan Violet dan Daisy berdua baca majalah, terus ada sinar keluar dari dalam majalah. Film ini akan terlihat absurd dari cara pandang biasa. Ada lucunya, ada cute-nya, tapi kok berdarah-darah. Film soal dunia kriminal, tapi kok ada adegan-adegan mimpi. Tetapi, kalau dipandang dari "logika anime", ini film yang cukup jelas dan, well, wajar. Mungkin yang membedakan adalah isi dialognya yang cukup cerewet dan banyak yang rada out-of-topic yang mengingatkan gw sama gaya Tarantino.

Akan tetapi untuk keseluruhan film ini, buat gw tidak ada yang terlalu menonjol. Kisahnya tidak terlalu baru dan kadang ke-absurd-annya tidak pas porsi dan perpindahannya, seperti cuma buat gaya-gayaan. Segala set-up-nya juga terasa minimalis dan kadang terasa dipanjang-panjangin plotnya padahal durasi gak sampe 1,5 jam. Tapi harus gw akui, konsepnya menarik dan kadang humornya cukup menyegarkan, terutama di bagian dialog. Kedua aktrisnya pun sukses membawakan tokoh yang lethal tetapi mempertahankan sifat dan perangai khas gadis-gadis remaja tanpa terlihat fake, dengan spesifikasi Violet itu lebih tough dan sadistis, sedangkan Daisy yang lebih polos dan rada-rada 'oneng' gitu. Perlu diingat juga bahwa Alexis Bledel waktu syuting (2011) umurnya udah 30 tahun dan Saoirse Ronan 17 tahun, tapi chemisty mereka cukup believable sebagai rekan sebaya. Buat gw sih Saoirse (katanya dibaca 'syor-syeu') lebih punya emotional depth sih aktingnya...dan lebih manis *malu*. 

Kesimpulan, Violet & Daisy ini nggak jelek, cuma mungkin nggak akan jadi favorit gw. Poin plot utamanya sendiri juga kurang eventful ataupun membuat gw excited, biasa aja. Film kecil yang sayangnya kurang berbicara lantang dan "harum" bunganya hanya bertahan sebentar layaknya pewangi mobil. 



My score: 6,5/10

Sabtu, 05 Oktober 2013

[Movie] Rush (2013)


Rush
(2013 - Exclusive Media/Cross Creek)

Directed by Ron Howard
Written by Peter Morgan
Produced by Andrew Eaton, Eric Fellner, Brian Oliver, Peter Morgan, Brian Grazer, Ron Howard
Cast: Daniel Brühl, Chris Hemsworth, Olivia Wilde, Alexandra Maria Lara, Pierfrancesco Favino, Natalie Dormer, Stephen Mangan, Christian McKay


Olahraga bukanlah bidang kegemaran gw. Ngikutin berita olahraga aja males, apalagi melakukannya. Lebih lagi mengenai sesuatu yang bahkan gw nggak yakin itu olahraga atau bukan: racing. Entahlah, mungkin dalam mindset gw, menyetir kendaraan dalam keadaan jalan tersendat-sendat itu lebih menuntut ketangguhan jiwa dan raga, terutama bagian betis, daripada kebut-kebutan. But what do I know. Anyway, harus diakui bahwa balapan sejak zaman purbakala adalah salah satu kegemaran manusia. Dari balap karung, karapan sapi sampai rally Paris-Dakkar, ada sensasi tersendiri yang bikin seru, baik bagi yang balapan maupun yang cuma nonton.

Nah, Rush mencoba mengangkat sebuah peristiwa paling sensasional dalam sejarah balapan Formula 1 (F1, biasa dibaca 'ef-wan' *ngajarin*) yang terjadi pada musim balapan tahun 1976. Gw kurang paham sih sama sejarahnya, tetapi krungu-krungu dari temen katanya ada dua nama pembalap F1 di musim itu, James Hunt dari UK dan Niki Lauda dari Austria yang bersaing ketat dan susul menyusul poinnya, sehingga kerap disebut sebagai rival, musuh bebuyutan—mungkin ibarat Taufik Hidayat sama Lin Dan kali ya dulu...atau Susi Susanti dan Bang So-hyun *tua*. Rush mencoba membongkar segala hal dibalik rivalry itu, yang berpusat pada sebuah kejadian maut yang menimpa salah satu dari mereka.

Kalau dari filmnya sendiri sih, kedua pembalap ini memang berkompetisi, tapi dibilang "rivalry" ya nggak juga sih. Namanya pembalap, pasti ingin lebih baik dari pesaingnya, khususnya pesaing yang terbaik. Apa pun yang dilakukan masing-masing pembalap ini juga ya wajar, nggak sampe "sengit" sebegitunya. Cuman karena mereka dianggap yang terbaik, jadi strategi demi strategi yang dilakukan juga terpengaruh sama lawan terbaik itu. Pasti mereka juga melihat hal serupa dari lawan-lawan yang lain, tapi untuk film ini yang lain-lain itu dikesampingkan sejenak. Tetapi, memang perbedaan sifat dan jalan hidup keduanya cukup menarik untuk diangkat ke media fiksi. Lagipula kedua pembalap ini memang karakter-karakter yang punya warna.

James Hunt (Chris Hemsworth) adalah juara balap yang menikmati sekali statusnya sebagai juara. Minum sana sini, cumbu sana-sini, nggak perlu mikir banyak, sponsor lancar, semua ada yang urusin, yang penting pas balapan dia siap...dan emang jago sih. Emang bikin sirik ya orang kayak gini. Kontras dengan Niki Lauda (Daniel Brühl) yang harus menggunakan bermacam cara agar bisa menyalurkan passion-nya untuk jadi pembalap. Saking seriusnya, engineering mobil pun ia kuasai dengan sangat fasih, lebih daripada orang yang punya pabrik mobilnya sendiri. Orangnya nggak ramah, tapi tahu benar apa yang dilakukan. Meski berbeda sikap, motivasi, serta tujuan, satu hal yang pasti Hunt dan Lauda diam-diam menumbuhkan kagum dan hormat satu sama lain, nggak ada tuh "permainan" kotor, yah kecuali cara mereka lompat ke divisi F1 dari F3, yang emang masalah uang saja.

Penulis naskah Peter Morgan dan sutradara Ron Howard gw bilang berhasil menunaikan tugasnya untuk mengedepankan tokoh-tokoh menarik dalam kisah menarik, dan dengan cara yang menarik juga. Hanya dari sebuah musim balapan F1 (ya ada tambahan juga sih sebelum dan sesudahnya) gw sudah mendapat informasi yang cukup tentang tokoh-tokoh nyata ini, sekalipun gw nggak tau sama sekali tentang kejadian aslinya. Pun film dilakoni dengan sangat baik pula oleh wajah-wajah yang sebagian besar kurang familiar. Permainan Chris Hemsworth oke, tapi mungkin Daniel Brühl-lah yang lebih bersinar, karena perannya juga lebih menantang. Eh film ini ada bonus Olivia Wilde dengan aksen Inggris =).

Rush juga patut dipuji akan visualnya yang detil dan sangat rapih dan terpancar kesan vintage-nya. Desain produksinya otentik sampe ke merek-merek iklan di setiap arena balap F1. Tapi sedikit catatan gw, gaya visualnya Howard kali ini terlihat sangat dinamis, tapi mungkin agak-agak pengen nge-Danny Boyle sih, gara-gara sinematografinya ditata Anthony Dod Mantle yang biasa jadi langganan Boyle (Slumdog Millionaire, 127 Hours). Warnanya jadi meriah banget. Ibarat Miley Cyrus pengen niru gaya Rihanna. Ya nggak apa-apa sih, cuman ya kayak sedikit kehilangan karakter gitu deh.

Buat gw, Rush punya feel kompetisi yang kental lewat adegan-adegan balap yang seru dan adu strategi antara Hunt dan Lauda, pun drama di masing-masing kehidupan keduanya disampaikan dengan baik dan lancar. Hanya saja mungkin gw tidak berhasil mendapatkan feel yang lebih...emmm...apa ya...emosional? Ya kira-kira begitu. Mungkin karena gw memang kurang perhatian sama hal balap-balapan atau intrik-intrik dalam olahraga. Toh, keduanya termotivasi (hanya) karena ingin saling mengungguli, which is normal, semua orang juga gitu. Karena itu, daripada disebut sebagai film tentang rivalry sengit "berdarah-darah" antara Hunt dan Lauda, gw lebih senang melihat film ini sebagai biografi informatif tentang dua pembalap yang sifatnya bertolak belakang dalam satu paket film. And of course gw bela Lauda =D.




My score: 7,5/10