Minggu, 22 September 2013

[Movie] You're Next (2013)


You're Next
(2013 - Snoot Entertainment/Lionsgate)

Directed by Adam Wingard
Written by Simot Barrett
Produced by Simon Barrett, Keith Calder, Kim Sherman, Jessica Wu
Cast: Sharni Vinson, Nicholas Tucci, Wendy Glenn, AJ Bowen, Joe Swanberg, Sarah Myers, Amy Seimetz, Ron Moran, Barbara Crampton, Ti West


You're Next secara tampak luar bukanlah film yang akan gw tonton dengan sukarela dan dari niat lubuk hati paling dalam. Tapi akhirnya sebuah kesempatan yang berhubungan dengan pekerjaan membuat gw dapat menontonnya, so deal with it, me. Jika dilihat setiap nama yang tertera di atas paragraf ini, You're Next sama sekali nggak punya nama yang gw kenal. Sama sekali. Rasanya juga mereka tidak dikenal di mana pun, kecuali khusus di lingkup horor independen. Tetapi beruntung, bahwa di Indonesia film Amerika ini diimpor oleh PT. Merantau Films yang didirikan Gareth Evans, si pembuat The Raid. Kalau pada percaya selera Gareth, maka harusnya dapat diyakini bahwa setidaknya You're Next ini bukan film yang sambil lewat.

Dalam rangka ulang tahun pernikahan ke-35, suami istri Paul dan Aubrey (Ron Moran, Barbara Crampton) mengundang keempat anak mereka di rumah tua di kota terpencil yang baru mereka beli dan tinggali. Keempat anak mereka ini pun berkumpul dengan pasangan masing-masing: yang sulung Crispian (AJ Bowen) dengan pacar Australi-nya Erin (Sharni Vinson), Drake (Joe Swanberg) dengan Kelly (Sarah Myers), Aimee (Amy Seimetz) dengan pacar hipster-nya Tariq (Ti West), dan si bungsu Felix (Nicholas Tucci) dengan pacar gotiknya Zee (Wendy Glenn). Tiba-tiba mereka terperangkap, diserang oleh oknum-oknum (yang tentu saja) misterius yang menagih nyawa. Siapa? Mengapa? Itulah yang harus dicari tahu.

Membaca judul You're Next lalu menjodohkannya dengan sepasang kata "horor slasher" sebenarnya sudah memberi petunjuk apa yang akan ditawarkan film ini. Pasti ada sekelompok orang di satu tempat, ada satu yang terbunuh, dan orang-orang lain akan kena selanjutnya. Terlalu jelas. Film ini isinya ya persis seperti itu. Sekarang tinggal masalah bagaimana "permainan" kematian demi kematian itu bisa "menghibur", bisa bikin tegang, takut, ngeri, ngilu, sampai akhirnya "terpuaskan". Dan gw bisa bilang, perihal unsur itu, You're Next sepenuhnya berhasil. Gw sendiri cukup sering merasa geregetan dan gelisah sepanjang film. Tetapi untuk membuatnya berkesan lebih dari itu, buat gw sih nggak cukup. Motivasi di baliknya seperti hanya excuse tempelan saja supaya kejadian-kejadian tersebut bisa dijadikan. Berasa lihat reka ulang salah satu berita kriminal. Kurang kuat aja. 

Namun, di sisi lain, who cares? Film berisi orang-orang (tampaknya) tak bersalah yang harus memutar otak untuk melindungi diri dari orang-orang bertopeng tak kenal iba dalam membunuh adalah sajian yang sudah cukup merangsang kepuasan...khususnya bagi penggemar hal-hal begituan. Sekali lagi gw bilang, untuk yang satu ini You're Next termasuk berhasil. Dan to be fair, sutradara Adam Wingard dan penulis Simon Barrett juga lumayan oke membangun karakternya secara smooth, terutama soal hubungan antarsaudara yang kompleks, meski hanya dalam waktu singkat. Beberapa situasi dan dialog yang lucu-lucu ngenes pun bisa memberi hiburan penyeimbang dengan kekejamannya. So, vonis gw, You're Next ini film yang diramu dan digarap cukup bagus untuk genrenya, tapi ya gw-nya tetep nggak selera aja. Ngomong-ngomong, You're Next ini juga termasuk film inspiratif lho. Di dalamnya memberi tips bagaimana memaksimalkan penggunaan alat-alat dapur yang biasa kita pakai selain untuk masak =p.



My score: 6/10

Sabtu, 14 September 2013

[Movie] Arbitrage (2012)



Arbitrage
(2012 - Green Room Films/Treehouse Pictures/Lionsgate)

Written & Directed by Nicholas Jarecki
Produced by Laura Bickford, Kevin Turen, Justin Nappi, Robert Salerno
Cast: Richard Gere, Susan Sarandon, Brit Marling, Tim Roth, Nate Parker, Laetitia Casta, Chris Eigeman, Austin Lysy


Sedikit mengingat ke belakang, gw pernah dibuat cengok dan puyeng karena ndak mudeng blas sama berbagai istilah dan cara kerja dunia ekonomi kapitalis dalam film tentang krisis ekonomi 2008, Margin Call. Pengalaman itu agak terulang lagi sama Arbitrage yang juga berkisar pada dunia holding company, merjer, akusisi, dan sebagainya. Ini termasuk makna kata "arbitrage" sendiri yang ternyata merupakan istilah untuk semacam aksi ambil untung dari perbedaan harga di pasar berbeda, atau apalah. Untung, Arbitrage tidak berfokus tentang hal-hal begituan doang *napas lega*. Film ini mengungkap bahwa di balik kehidupan seseorang yang (ekonominya) sukses bikin sirik orang banyak, pasti ada aja sesuatu-sesuatu yang nggak mengenakkan.

Robert Miller (Richard Gere) adalah seorang pengusaha sangat sukses dengan perusahaan yang mapan dan berpengaruh. Keluarganya pun aman, damai, dan sejahtera. Sang istri, Ellen (Susan Sarandon) punya usaha sendiri, Brooke (Brit Marling) sang putri jadi orang kepercayaan Robert di perusahaan, dan Peter (Austin Lysy) sang putra juga kerja untuknya. Suatu malam Robert mengalami kecelakaan maut karena nyetir sambil ngantuk di tengah malam (!). Problemnya, ia di mobil bersama Julie Côte (Laetitia Casta), kekasih gelapnya. Jika publik tahu Robert ada di tempat kejadian, citranya akan hancur lebur, maka proses penjualan perusahaan Robert yang tengah berlangsung pun akan terpengaruh bahkan mungkin gagal. "Untung"-nya, Robert sigap sekali dalam melakukan penghapusan jejak pascakejadian demi mencegah dampak itu, and there's a reason for that. Rupanya menutupi keburukan demi citra baik bukanlah hal yang baru baginya.

Buat gw cukup menarik bahwa sutradara dan penulis Nicholas Jarecki berhasil membawa penonton untuk mengamati Robert hanya dari perilakunya menghadapi peristiwa ini. Awalnya pengenalan tokoh Robert biasa dan sekadarnya saja. Lalu sedikit demi sedikit terungkap lebih jauh, tapi masih pada titik yang bikin kita simpati. Dia orang yang tidak tak berdosa, tapi mungkin akhirnya dia akan eling dan bertaubat. Prett. Lama-kelamaan ketahuan bahwa Robert sudah luwes "beresin masalah", apapun itu masalahnya, baik pribadi maupun dalam konteks bisnis. Emosi terkuras, memang, tetapi bersama orang-orang kepercayaannya, Robert tetap bisa menjalankan trik demi trik, usaha demi usaha demi mencapai tujuannya. Untuk kali ini, setelah korban uang, nyawa, integritas profesi, kepercayaan keluarga, dan tuntutan hukum dari detektif  (Tim Roth) yang sudah mengincar pratik kotornya selama ini, tujuan Robert adalah sesederhana menjaga citra baik diri dan perusahaannya, sampai perusahaannya sukses terjual dengan harga yang bagus. Gila ye.

Selain jalinan kisahnya yang cukup intriguing dan relevan dengan dunia nyata (termasuk di negeri kita), Arbitrage juga jadi eksibisi yang baik untuk unjuk akting oom Richard Gere, yang semakin hari semakin mumpuni performanya. Ketika kekurangilmuan gw tentang ekonomi cukup menganggu kenikmatan gw saat menonton, maka akting oom Gere yang piawai memainkan emosi di sini menjadi jangkar yang menahan gw untuk tetap menyaksikan bagaimana nasib Robert hingga akhir film. Tapi nggak cuma beliau, Susan Sarandon dan Brit Marling juga tampil sangat baik meski hanya dalam durasi seperlunya. Aktor Nate Parker pun cukup mencuri perhatian sebagai Jimmy Grant, yang dimintai tolong Robert tapi kemudian harus diintimidasi oleh pihak berwenang yang ingin mempersalahkan Robert. Jimmy mungkin satu-satunya tokoh yang mengundang simpati, karena tindak-tanduknya yang jujur dan loyal sekalipun dijadikan "mainan" pihak-pihak yang lebih berkuasa. Jika ada sisi positif Robert yang benar-benar murni, maka itu tampak dalam interaksinya dengan Jimmy yang hanyalah warga biasa.

Buat gw film ini bagus dan rapi. Tetapi kalau mau adil, Arbitrage mungkin akan mengernyitkan dahi penonton yang cari drama tragedi keluarga yang emosional semata, sebaliknya akan sangat menggugah selera pemerhati politik, ekonomi, hukum, dan sosial *berat ye*. Gak masalah, setidaknya dengan adanya berbagai detil segmented dan "ribet", Arbitrage tetap berhasil sebagai film drama tragedi keluarga emosional pula kok. Beneran deh. Dan dari segala rajutan cerita yang telah dilewati, semuanya terangkum dalam adegan penutupnya yang brilian, sebuah ironi yang digambarkan dan diperankan dengan sempurna. Boleh, kakak, pencitraannya, kakak...*ala ITC*.




My score: 7/10

Rabu, 04 September 2013

[Movie] Cinta/Mati (2013)


Cinta/Mati
(2013 - Shooting Star)

Directed by Ody C. Harahap
Written by Ody C. Harahap, Akbar Maraputra
Produced by Ody C. Harahap, A. Radityo Wibowo, Padri Nadeak
Cast: Vino G. Bastian, Astrid Tiar, Dion Wiyoko


Sebelum menonton, gw agak raba-raba dengan apa yang mau ditawarkan film Cinta/Mati ini. Dari premisnya tampak mendayu-dayu, tapi posternya yang berbentuk grafis digital tampak seperti thriller. Tetapi ternyata, Cinta/Mati lebih kepada (mungkin) dark comedy, tema yang kelam tetapi dipandang dari sisi lucu-lucunya. Tema utama yang diangkat adalah bunuh diri. Yes, kita tahu bunuh diri itu kerap terkait dengan dosa, egois, gegabah, gangguan jiwa dan sebagainya. Namun, Ody C. Harahap ingin mengangkat secara ringan saja, mau bunuh diri tapi dengan motivasi yang—menurut orang yang nggak mengalami—tidaklah cukup untuk mengakhiri hidup, jadinya lucu.

Acid (Astrid Tiar) mengalami hancur hati setelah menangkap basah calon suaminya (Dion Wiyoko) bersanggama dengan wanita lain. Acid kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup di jembatan di atas sungai, tapi karena caranya antara lompat-nggak-lompat-nggak, malah nyangkut dan gagal. Sampai akhirnya Acid ditemukan Jaya (Vino G. Bastian) dan mengangkatnya kembali ke atas jembatan dengan selamat. Tapi Acid menganggap Jaya bertanggung jawab atas gagalnya usaha bunuh dirinya, sehingga menuntut ganti rugi berupa mencari ide bunuh diri paling mujarab buat Acid. Jaya akhirnya mengiyakan dengan imbalan seluruh uang yang ada di rekening Acid yang mencapai ratusan juta rupiah *horangkayah*. Yang tadinya bisa selesai cepat malah berkembang jadi pengalaman semalaman, Acid dan Jaya perlahan jadi saling kenal dan terbuka satu dengan yang lain...ya itu juga karena Acid mau bunuh diri aja banyak syarat, nggak mau inilah takut itulah dan seterusnya. Tinggal kita ikuti apakah kedekatan Acid dan Jaya yang singkat ini akan membangkitkan semangat hidup atau malah tambah pengen mati.

Menurut gw film Cinta/Mati adalah semacam "olok-olok" terhadap bunuh diri, khususnya di kalangan muda-mudi labil, di sini diwakili Acid si anak tunggal manja yang moody dan Jaya si anak band yang sok asik. Bisa dibilang poin utama film ini digerakkan pada ide "gitu aja mau bunuh diri?", karena motivasinya adalah yang satu pengkhianatan cinta, satunya lagi *kalo kata dr. Boyke* EDi TanSil. Mungkin dari sudut pandang orang-orang yang mengalami dan tidak punya pegangan lain selain perihal pacar dan syahwat, hal ini harga mati, bila hilang maka apalah artinya hidup. Kedua hal ini ada solusinya selain bunuh diri, dan gw akan enak aja bilang bahwa ini masalah pengetahuan saja, toh dunia nggak sebatas itu dan anu doang kok. Bukan hal remeh memang, tapi ya nggak sebandinglah sama harga sebuah nyawa. Tapi ya namanya anak-anak labil, mungkin belum tahu sampai sejauh itu.

Jika memandang dari sudut itu, maka Cinta/Mati termasuk sajian yang berhasil mencapai tujuannya. Film ini jatuhnya tidak terlalu serius walaupun atmosfernya—terutama visualnya—seperti tidak berusaha melucu. Bagaimana diperlihatkan metode-metode bunuh diri yang dicoba Acid dan Jaya adalah bagian-bagian terbaik, yang paling kena sasaran dari film ini, yaitu hal yang tragis dan mengerikan bisa menimbulkan efek lucu—walau getir. Sayang nggak semua bagian film ini sekuat itu. Gw kurang sreg sama beberapa adegan yang berusaha banget melawak, juga pada penyampaian flashback yang sinetron-ish sekali. Bagian sepertiga akhir film ini—yang berfokus pada Jaya—juga berisi kekonyolan yang terlalu "kenapa harus gitu sih?", tetapi mungkin itu termasuk dalam rangka tema utama "motivasi bunuh diri yang konyol" dari film ini, so yah okelah, walau nggak terlalu enak juga disaksikannya. 

Akan tetapi, menurut gw, secara keseluruhan Cinta/Mati adalah sebuah karya yang cukup lain dari yang lain. Alurnya berjalan hanya lewat dialog—yang disertai kata-kata jorok—dan interaksi Acid dan Jaya saja, yang dimainkan dengan baik oleh Astrid Tiar dan dengan lumayanlah oleh Vino G. Bastian. Suasana kelam tapi unsur lucunya tetap bisa tersaji dengan baik. Sedikitnya gw memang bisa tertawa menyaksikan film ini di banyak bagian, termasuk di final scene-nya yang seperti menebus kelemahan-kelemahan yang ada sebelumnya—dan mungkin bagi sudut pandang tertentu meluluskan bahwa film ini "bermoral", Hidayah-style =). Yah, di luar akting oke, konsep cerita bagus, dan juga tata sinematografi yang diam-diam keren (adegan di puncak mercusuar dan Jaya nyundut kaca loket kereta itu shot favorit gw), ada sajalah kelemahan-kelemahannya. Tetapi buat gw pada akhirnya film ini bisa menghibur dan nggak cuma numpang lewat, karena temanya yang cukup berbeda tadi. Nah, permasalahannya sekarang, gimana cara membaca judul "cinta-garis-miring-mati" ini sebenarnya?




My score: 7/10