Sabtu, 31 Agustus 2013

[Album] sakanaction - sakanaction


サカナクション sakanaction - sakanaction
(2013 - Victor Entertainment)

Tracklist:
1. intro
2. INORI
3. ミュージック   Music
4. 夜の踊り子   Yoru no Odoriko
5. なんてったって春   Nantetta tte Haru
6. アルデバラン   Aldebaran
7. M
8. Aoi
9. ボイル   Boyle
10. 映画    Eiga
11. 僕と花   Boku to Hana
12. mellow
13. ストラクチャー   Structure
14. 朝の歌   Asa no Uta


Seperti terkena apa yang sering disebut sebagai "kualat", gw yang tadinya merasa sakanaction itu band aneh, sekarang malah selalu tertarik mendengarkan album terbaru mereka berkali-kali. Album berjudul-diri sakanaction (dalam huruf romawi) ini seperti menjadi album pendamaian gw terhadap band rock-alternative-new wave Jepang ini. Mungkin selera gw yang biasanya mainstream ini sudah bergeser jadi lebih sok non-mainstream toleran. Atau lebih mungkin lagi adalah sakanaction yang musiknya jadi lebih mudah dicerna, lebih appealing sama audiens yang lebih luas, nggak seperti karya-karya awal karier mereka dulu yang cenderung segmented. Beberapa tahun belakangan sakanaction semakin menarik khalayak ramai dengan karya-karyanya. Terbukti, popularitas mereka di ranah J-Pop semakin naik, bahkan album keenam mereka ini sempat mencicipi posisi puncak tangga penjualan album domestik, dan menjadi album tersukses mereka sejauh ini.

Sedikit perkenalan, sakanaction—kata hibrida dari 'sakana' (bahasa Jepangnya "ikan") dan 'action'—terdiri dari vokal+gitar Ichiro Yamaguchi (semua lagu sakanaction dia yang bikin), gitar Motoharu Iwadera, bas Ami Kusakari, keyboard Emi Okazaki, dan drum Keiichi Eiijima. Setiap personel juga berfungsi sebagai chorus. Band ini berasal dari Sapporo, Hokkaido (pulau besar yang di Utara itu) dan sudah menelurkan album di major label sejak tahun 2007, tetapi mulai mendapat perhatian sejak tahun 2008 lewat single "Sen to rei"—the very single yang juga membuat gw memutuskan nggak suka mereka, hehe. Gw sendiri baru luluh terhadap mereka semenjak lagu "Endless" dari album DocumentaLy (2011), yang juga menjadi salah satu lagu J-Pop terfavorit gw tahun itu =). 

Dalam album ini, musik yang diusung masih kental new wave-nya (gw pake istilah ini karena gw merasa musiknya senada sama The Upstairs dan A-Ha, selain karena ditulis di wiki =P), dengan balutan elektronika dan synthesizer yang ramai. Akan ada jejak-jejak disko, dance, juga distorsi rock dan melodi pop. Struktur albumnya mungkin sedikit nyentrik bagi yang nggak terbiasa dengan musik memotong pinggir/cutting edge *halah*. Diawali dengan "intro" yang isinya cuma sound-check dan suara berdehem, lalu dilanjutkan "INORI" yang isinya beat dance dengan lantunan "lalala" seperti paduan suara—yang nanti akan terulang pada "Structure" tapi lebih versi "pendinginan". I already hear many listeners shout "Mana lagunya nih?!" during this track =D. But to my surprise, lagu-lagu yang dipersembahkan sakanaction selanjutnya begitu mudah dinikmati, punya chorus yang akan mudah diingat (meski tidak dihapal), juga musik yang begitu nyaman didengarkan di balik ke-"aneh"-an bunyi-bunyiannya.

Kesuksesan komersial album ini juga nampaknya berkat dirilisnya tiga single dan satu digital single dari album ini sebelum dirilis. Single-single "Boku to Hana" yang playful, "Yoru no Odori-ko" yang emang bisa bikin joged, "Music" yang kalem sekaligus megah, dan "Aoi" yang memompa semangat, memang enak-enak dan termasuk radio-friendly semua, pun jadi highlight album ini. Favorit gw selain empat single itu adalah track "mellow" yang terdengar intim dan chilling dengan komposisi digitalnya, dan "Asa no uta" yang memberi atmosfer Brit-pop klasik. Di luar itu, "Nantetta tte haru", "Aldebaran", dan "Boyle" yang bertempo medium punya verse dan chorus yang mudah nyantol, demikian pula "M" yang lebih fast-paced maupun "Eiga" yang lebih slow. Sebenarnya gw bilang "fast"-"medium"-"slow" juga bedanya nggak jauh sih, mirip-mirip, lagian dalam lagunya kadang temponya bisa berubah. Nah, di sini sebenarnya jadi problem album ini, yakni beberapa track berurutan seakan suasananya mirip sehingga seperti mengulang-ulang saja. Jenuh sempat terbesit, khususnya di paruh awal album ini. Di sisi lain, kalau didenger satu-satu tuh asyik semua, aku jadi dilema dalam menilainya *halah*. But overall, it is a delight.

Jika gw perhatikan, sekarang musik sakanaction nggak seagresif dulu. Warna musik masih sama persis, komposisinya sebagian besar masih mirip-mirip dengan karya-karya sebelumnya, dan vokal "males-malesan" tapi bundar dari Yamaguchi pun tidak berubah. Bedanya, yang sekarang ini jadi lebih kalem dan udah nggak serba pecicilan memasukkan segala bunyi yang mereka punya dalam satu lagu. Jadi lebih anggun. Entah buat fans lama, yang pasti kalau buat gw sakanaction telah membuat langkah yang baik agar musik mereka jadi lebih dikenal. Pemberian judul album ini pun seperti menyatakan bahwa mereka siap bila nama sakanaction bakal diidentikkan dengan album ini beserta isinya. Anyway, inilah album J-Pop dengan citarasa mendunia, yang akan mencengkeram kuping dan perhatian pendengarnya tanpa peduli bahasa, cocoklah buat mengisi hipster playlist di pemutar musik Anda =P. Sudah tersedia di iTunes internasional (termasuk Indonesia) juga lho.



My score: 7,5/10


sakanaction


Previews

Sabtu, 24 Agustus 2013

[Movie] Elysium (2013)


Elysium
(2013 - TriStar)

Written & Directed by Neill Blomkamp
Produced by Bill Block, Neill Blomkamp, Simon Kinberg
Cast: Matt Damon, Jodie Foster, Sharlto Copley, Alice Braga, Diego Luna, Wagner Moura, William Fitchner, Emma Tremblay


Elysium adalah buah dari kesukesan sutradara asal Afrika Selatan, Neill Blomkamp lewat debut film panjangnya tahun 2009 silam, District 9. Film fiksi-ilmiah bergaya semidokumenter itu sukses besar baik secara komersial maupun secara kritikal, bahkan menerima 4 nominasi Piala Oscar 2010 termasuk Film Terbaik. Jarang-jarang film tentang kedatangan alien di bumi bisa sampe begitu. Tak ayal karya Blomkamp selanjutnya dinanti khalayak dan menarik minat talenta-talenta handal untuk mendukungnya. Blomkamp pun kembali dengan sebuah karya orisinal sebagai film Hollywood perdananya, bahkan melibatkan bintang kelas wahid macam Matt Damon dan Jodie Foster, serta tentu saja kucuran dana produksi sekitar 100 juta dolar yang menjanjikan tontonan yang semestanya lebih luas dan lebih "mahal" dari District 9.

Kalau mau disederhanakan, Elysium berkisah tentang Max Da Costa (Matt Damon), warga kota Los Angeles, Amerika Serikat yang mengalami kecelakaan terpapar radioaktif dosis tinggi ketika bekerja di pabrik, sehingga hidupnya hanya tersisa lima hari saja. Satu-satunya yang dapat menyelamatkan nyawanya, bahkan sembuh sempurna dan cepat, adalah teknologi mesin rekayasa sel. Ini tahun 2154, teknologi itu sudah tersedia, bahkan mesinnya sudah dimiliki di rumah-rumah...tapi hanya berlaku pada rumah-rumah yang ada di Elysium. Elysium adalah nama sebuah "negara" yang ada luar angkasa, sebuah stasiun  antariksa (bukan pesawat ya) mengorbit bumi berukuran besar yang dirancang mirip keadaan bumi yang asri permai indah, namun hanya orang-orang terpilih yang bisa bermukim di sana, atau kasarnya: orang yang punya duit. Yang nggak kaya dan bukan penduduk nggak boleh ke sana. Kalau coba-coba menyusup, maka pihak berwenang, yang berbentuk robot, gak akan segan mendepak. Kenapa gw bilang "kalau mau disederhanakan", itu karena film ini nggak cuma soal itu.

Pertama mari kita kenali konsepnya. Film ini mencoba menggambarkan bumi kita dalam 140 tahun ke depan: kepenuhan orang, polusi, gersang, sempit, pokoknya sudah tak layak huni. Lalu dibuatlah Elysium yang memungkinkan membuat ulang keadaan bumi yang layak tinggal di atas bangunan di luar angkasa. Jauh amat, ya, but you know, alasan yang sama kenapa kompleks perumahan atau kota mandiri dibangun para pengembang di luar kota besar. Tetapi Elysium tak mungkin menampung semua penduduk bumi yang terlalu banyak itu, maka dibuatlah seleksi-seleksi khusus—mengambil konsep "Elysium" dalam mitologi Yunani, sebuah tempat di akhirat di mana para pahlawan atau orang-orang yang dipilih oleh dewa-dewi dapat hidup bahagia selamanya selepas ajalnya *thanks to Wiki*. Atau kasarnya lagi, mahal banget untuk bisa ke sana. Keadaan bumi yang padat membuat perekonomian penduduk bumi jadi sulit, sehingga untuk pindah ke Elysium hanyalah sebatas mimpi, memenuhi kebutuhan sehari-hari aja setengah mati...kecuali kalau ngerampok. Inilah yang dijadikan jalan Max Da Costa, yang memang dulunya perampok, untuk bisa mencapai tujuannya.

Meski secara konsep berbeda jauh dari District 9, melalui Elysium gw dapat membaca pola Blomkamp, yakni kentalnya isu diskriminasi. Mungkin karena Blomkamp datang dari negara yang sempat menjalankan politik diskriminasi, ia jadi akrab dan tergerak memasukkan isu ini dalam karya-karyanya. Tapi canggihnya, Blomkamp dapat dengan mulus mengawinkan isu itu dengan balutan fiksi-ilmiah dan action. District 9 adalah bukti nyata, gw melihat Elysium juga begitu. Dan semakin terlihat bahwa Blomkamp membangun semesta filmnya dengan kalkulasi tak sembarang. Gambaran Los Angeles adalah salah satu contohnya, di film ini ras Hispanik mendominasi (termasuk Max kalau melihat nama belakangnya) dan bahasa Spanyol adalah bahasa pergaulan, ini bukannya tidak mungkin mengingat populasi keturunan Amerika Latin di Los Angeles saat ini memang tinggi *kayaknya sih =P*. Sampe segitunya dipikirin.

Bumi 2154, jarang hujan, dataran warnanya cokelat semua.

Lalu dilengkapi dengan gambaran distopia lain seperti banyaknya kriminalitas, pendidikan tak merata (Max umur belasan nggak bisa baca), tenaga dan teknologi kesehatan terbatas (penduduk banyak, yang sakit juga banyak, boro-boro tertolong), cengkeraman industri yang dikuasai kepentingan warga Elysium, buruh dibayar sekadarnya dan hanyalah faktor yang expendable belaka (Max kecelakaan kerja cuma dikasih obat penahan sakit lalu bye!). Problema yang di dunia nyata sekarang ini hanya terjadi di tempat-tempat padat penduduk akhirnya mengglobal. Sebaliknya, warga Elysium menikmati yang enak-enaknya, nyaman dengan berbagai kemudahan, teknologi tercanggih (orang ditanami gadget di dalam tubuhnya), udara bersih, dan lingkungan yang ditumbuhi tanaman segar kayak di bandara Singapura, dan dilindungi betul supaya tetap demikian. Interaksi dengan warga bumi benar-benar dibatasi, karena dianggap sebagai ancaman. Kontras, padahal kedua peradaban ini ada di lini waktu yang sama. Konsep serupa sebelumnya sudah diangkat film Upside Down tempo hari, tapi bagi gw gambaran di Elysium ini lebih utuh, dan lebih nggak musingin sih =p. Semaju-majunya peradaban manusia, nyatanya kalau mentalnya tetap serakah dan diskriminatif ya dunia nggak akan jadi lebih baik. Mungkin itu maksud yang ingin disampaikan.

Akan tetapi Elysium tidak hanya dapat dipandang satu sisi itu saja, dan di sinilah gw menyadari kecerdasan Blomkamp dalam meramu dan mempresentasikan ceritanya. Mungkin gw agak terlalu serius jika memandang dari segi poleksoshankam =p, tetapi Elysium juga memuat human story bagi yang mencari melankoli (walau buat gw adegan flashback-nya kebanyakan ngulangnya), keseruan dan ketegangan bagi yang mencari aksi dan petualangan, konsep-konsep teknologi bagi yang techie, bahkan ada yang bisa dimaknai sebagai metafora religius (di bagian akhirnya). Atau mungkin sekadar menyaksikan keindahan desain visualnya, atau bisa juga senaif menarik pesan moral "tindakan kecil berpengaruh besar" dan "di dalamnya belum tentu seindah kelihatannya" =D. Kesannya agak begah ya, satu film ini mencakup semua itu, tetapi bagi gw semuanya menyatu secara organik. Elysium memuat lebih dari yang diharapkan untuk film seperti ini. 

Tapi jujur, di saat bersamaan ia juga nggak memuat beberapa hal yang diharapkan untuk film sci-fi action seperti ini. Gw ambil contoh dari karakterisasi yang kurang kuat pada villain utamanya yang diperankan Jodie Foster dengan aksen Prancisnya dan Sharlto Copley yang kelewat bawel. Di atas kertas tindakan dan motivasi mereka masuk akal, tetapi entah kenapa gw tidak terlalu terkesan pada eksekusinya di layar, nggak terasa "mengancam" gitu keberadaan keduanya. Pada bagian menuju klimaks juga mungkin arah plotnya sedikit klise, you know, korbankan diri demi menyelamatkan orang yang dicintai dan sebagainya, sedikit mengurangi keasyikan jalinan cerita yang ditata baik sejak awal, tetapi untungnya tidak sampai merusak keutuhan filmnya. In the end, Elysium menjadi film yang memuaskan buat gw. Gw senang menyaksikan konsep dan susunan cerita yang rapi dan berisi buatan Blomkamp, yang di-deliver dengan baik hanya dalam 1 jam 44 menit saja, juga senang menyaksikan eksekusinya di layar lewat pacing yang lancar dan kerennya tata audio visual, khususnya dari segi efek visual CGI yang begitu luwes dan seamless, hampir sama dengan kekaguman gw pada tangible-nya para alien CGI di District 9. Para aktornya pun nggak ada yang mengecewakan, Matt Damon lagi-lagi sukses bermain simpatik dan menggerakkan film ini. 

Elysium, mungkin tidak se-edgy District 9, jalan ceritanya juga tidak unexpected, tetapi menurut gw sudah cukup memenuhi syarat sebagai tontonan berkesan. Ada isinya, bukan sekadar gambaran masa depan bumi plus tembak-tembakan belaka.




My score: 7,5/10

Selasa, 13 Agustus 2013

Ajirenji's Liebster Award + Sunshine Award

Postingan ini dalam rangka seru-seruan saja. Baru-baru ini blog Ajirenji "dinominasikan" oleh dua blog sahabat Moviegasm dan Zerosumo untuk mengikuti The Liebster Award dan The Sunshine Award. Ini bukan semacam "award" untuk suatu kemenangan atau pencapaian, melainkan judul postingan berantai yang berisi fakta-fakta dan pertanyaan acak yang dijawab oleh yang pemilik blog, untuk nanti diteruskan oleh blog temannya, dan demikian seterusnya, tapi pada hakikatnya sih ini sebagai ajang rekomendasi antar blog gitu. Dan kalau melihat dari postingan kedua blog sahabat tadi, isinya lutju juga, apalagi pertanyaannya yang dilempar ke gw banyak menyangkut perfilman, jadi gw terusin aja. Mari kita lihat hasilnya =)

Rabu, 07 Agustus 2013

[Movie] La Tahzan (2013)


La Tahzan
(2013 - Falcon Pictures)

Directed by Danial Rifki
Written by Jujur Prananto
Based on the memoir "Pelajar Setengah TKI" by Ellnovianty Nine in the book "La Tahzan for Students"
Produced by Frederica
Cast: Atiqah Hasiholan, Ario Bayu, Joe Taslim, Dewi Irawan, Martina Tesela Panjaitan, Nobuyuki Suzuki, Piet Pagau, Early Ashyla, Prilly Latuconsina


Jika Anda menyukai cerita romansa dengan adegan-adegan berkeju nan gombal, tontonlah La Tahzan. Jika Anda tidak keberatan dengan kisah cinta manusia tanpa terlalu propaganda nilai-nilai tertentu, tontonlah La Tahzan. Tetapi jika Anda tidak mau kedua unsur itu digabungkan dalam satu film, then we have a problem. Hell, bahkan jika dikatakan debut film panjang Danial Rifki (penulis naskah Tanah Surga...Katanya) ini sebuah film drama percintaan Islami, hanya karena judul dan theme song dan penekanan plot pada trailer-nya, juga rilis menjelang Lebaran, La Tahzan bisa dibilang agak melakukan "penipuan". Film yang tadinya mau diberi judul Orenji (ejaan Jepang untuk "orange") ini layaknya sebuah kisah percintaan berseting luar negeri yang lumayan, tetapi dinodai oleh marketing yang keliru, yang menekankan bukan pada hal utama yang terdapat dalam filmnya sendiri.

Viona (Atiqah Hasiholan) dan Hasan (Ario Bayu) adalah dua sahabat-sejak-kecil-kayak-pacaran-tapi-nggak-jadian, yang punya impian yang sama untuk tinggal di Jepang. Keadaan memaksa Hasan untuk tiba-tiba duluan bekerja ke Jepang dan tidak pernah memberi kabar sejak berangkat. Berkat tekun belajar di tempat kursus bahasa Jepangnya, beberapa bulan kemudian Viona, yang anak orang kaya baru lulus S1 desain grafis, mendapatkan program belajar bahasa sambil kerja sambilan alias "arubaito" (kata serapan Jepang untuk bahasa Jerman "arbeit" yang artinya..err..kerja) ke "Surabaya"-nya Jepang, Osaka. Sekalian menghidupi kehidupan di negeri impian, sesuai titipan ibunda Hasan (Dewi Irawan), Viona diharapkan menemukan Hasan yang menghilang. Dalam rangka tribute cerita-cerita FTV siang-siang, dalam perjalanan menuju tempat kerja Viona tak sengaja bertemu seorang fotografer lepas bernama Satoshi Yamada (Joe Taslim), yang tak seperti orang Jepang kebanyakan langsung aja gitu memperkenalkan namanya pada orang asing. Mungkin ini karena kebetulan Yamada ngerti bahasa Indonesia, karena kebetulan juga ibunya orang Indonesia. Viona dan Yamada jadi sering jalan bareng sambil minta tolong cariin Hasan yang sudah tidak tinggal di alamat yang dipegang Viona. Seiring kebersamaan mereka, Yamada jatuh cinta sama Viona, berniat melamar, bahkan bilang mau masuk Islam demi Viona. Melihat keseriusan Yamada, Viona tetap dirundung ragu karena hatinya masih tertambat pada Hasan yang tidak jelas keberadaan maupun isi hatinya *tsaaah*.

Iya, filmnya bukan soal ada orang Jepang masuk Islam, tetapi lebih tentang seorang cewek yang harus memilih antara dua orang cowok, yang satunya baru kenal tapi selalu ada dan sangat berusaha untuk mendapatkan hatinya, yang satu lagi udah dapet hatinya cuma nggak pernah daftar ulang. Silakan aja bayangkan ada berbagai gombalan dan tindakan yang "penuh cinta" yang kadang akan bikin penonton jengah dan berseru "hadeeeuh". Atau justru tersentuh, tergantung sih. Dan yang cukup disayangkan adalah pembuat film seperti gegabah membuat La Tahzan sebagai film beruansa Islami. Setelah film berakhir pun, pasti banyak yang bertanya apa hubungan keseluruhan film ini dengan judul dan penggalan ayat yang dimunculkan di awal film. Nyatanya unsur religi dalam film ini benar-benar hanya "nuansa", sedikit saja, bahkan baru muncul kurang dari setengah jam sebelum film berakhir. Terlihat sekali unsur religi hanya tempelan saja, soal Yamada yang minta diajari Islam. Menurut gw bagian itu bukannya nggak perlu, tetapi soundtrack lagu rohani yang melatarinyalah yang nggak perlu, salah konteks dengan keseluruhan cerita film. Film ini sudah berjalan "fine-fine" saja sebagai kisah cinta picisan, terus tiba-tiba berbalik arah selama 5 menit jadi film "religi" berhias lagu dan antribut Islami, eh terus balik ke jalur yang sebelumnya seakan nggak terjadi apa-apa. Maksa deh.

Well, tapi di antara adegan-adegan payah, first act/set-up cerita yang berantakan, dan sedikit "filosofi" yang kurang kena, setidaknya La Tahzan masih punya beberapa titik yang tidak membuatnya jatuh sebagai film yang sia-sia. Setidaknya...emm...apa ya...oh, setidaknya pilihan yang dibuat oleh ketiga karakter utamanya pada bagian konklusi terasa cukup wajar dan nggak dibikin-bikin, nilai yang ingin disampaikan lumayan bisa diterimalah, kayak gw bilang sebelumnya, tidak terasa unsur propaganda tertentu. Dan lagipula film ini punya penampilan yang oke dari Atiqah dan Ario, juga dari effort yang luar biasa niat dari Joe Taslim. Terlepas dari aksen wicara yang masih terpeleset di sana sini, dan outfit yang kurang "ngondek", gestur mas Joe bisa lolos sebagai orang Jepang, you know, suka ngangguk-ngangguk sendiri dan ngomong rada monyong-monyong miring gitu. Sedikit hiburan juga ditampilkan Martina Tesela sebagai roommate Viona yang tak bernama (atau gw kelewatan aja), juga akting komikal Nobuyuki Suzuki yang akhirnya berakting di negeri asalnya, untungnya bukan sebagai tentara zaman Jepang di Indonesia lagi =)).

Nah, sebenarnya alasan utama gw nonton La Tahzan ini karena filmnya mengambil latar dan syuting langsung di Osaka, Kobe dan sekitarnya, 'kan ceritanya eike pernah di sana sebentar, huwehehehe *pamer* *belagu* *minta dilemparin shuriken*. Meskipun harus menghadapi berbagai ke-"hadeuh"-an film ini, setidaknya gw bisa "temu kangen" sama Oosaka tercinta. Wah betapa hebohnya gw ketika muncul gambar kawasan belanja Shinsaibashi, Dotonbori, dan Umeda, sambil nunjuk-nunjuk toko-toko dan tempat makan mana aja yang pernah gw kunjunginTsutaya! Kinryu Ramen! Don Quixote! Bikkuri Donkey! Takoyaki! Iklan Glico! *norak*. Tapi di luar hal personal itu, sebenarnya film ini udah menunjukkan beberapa knowledge yang memang benar, mulai dari "agama"-nya orang Jepang, pilihan memakai sepeda sebagai moda transportasi di Osaka, orang-orang yang biar udah belajar bahasa Jepang di Indonesia tapi waktu di Jepang langsung hancur semua ilmu *curhat*, tentang tenaga kerja Indonesia, juga pandangan umum tentang kenapa orang Indonesia pengen ke Jepang. Jika ada yang mungkin "nggak benar" adalah ketika Viona bilang masakan buatan Yamada enak. Nggak mungkin enaklah, wong nggak pake sambel =pp.

Anyway, film ini juga dengan oke menunjukkan Osaka sebagai kota yang agak "menghancurkan" bayangan orang tentang Jepang, karena kotanya nggak megah, nggak fotogenik, dan termasuk jorok untuk ukuran Jepang =)). Tapi nggak apa-apa, itu bener dan komprehensif kok, tanpa harus ada kewajiban memunculkan landmark ternama macam Osaka Castle atau menara Tsutenkaku yang membuatnya hanya jadi film wisata—atau mungkin izinnya sulit, hehe. Sayangnya, film ini masih terjebak generalisasi "Jepang itu homogen" dengan kurang ditunjukkannya sifat-sifat khas Osaka, utamanya soal dialek bahasa, sesuatu yang tak mungkin terhindarkan bila berkunjung ke sana. Mungkin ini demi penyederhanaan, daripada membuat pelajaran bahasa Viona dkk jadi tambah sulit. Tapi ya kasihan aja, Osaka selama ini kalah pamor dari Tokyo sang rival, dan film ini nggak membantu *ya nggak harus ngebantu juga sih*. 

So, setidaknya (lagi), film ini memenuhi apa yang gw cari, semacam mengobati kekangenan gw terhadap salah satu periode favorit dalam hidup gw—kasih ponten tambah deh. Tetapi selebihnya, well, palingan buat ketawa-ketawa aja, nggak ada kesan lebih. Maksud gw, kalau mau jadi film dengan unsur religi kental, permasalahin juga dong soal kehalalan makan-minum atau bagaimana cara cari waktu dan kiblat salat. Dan kalau mau (dan seharusnya) unsur agama ini hanya satu bagian dari kehidupan tokohnya, ya lebih baik jangan pasang theme song rohani, judul dan materi promosinya juga jangan misleading begini. Sayang potensi film yang kayaknya baru ganti judul beberapa bulan sebelum beredar ini tampak buyar dengan last minute decision dari siapapun itu yang bertanggungjawab, wakarahen lah gw. Well, paling enggak, film ini sudah mempromosikan Kaiyukan (Osaka Aquarium) dan Umeda Sky Building (gedung ada observatoriumnya) sebagai tempat janjian, pacaran, bahkan lamaran kalau ke Osaka =P. Ookini...




My score: 6/10


NB:
- Trivia nggak penting: lagu yang disenandungkan temannya Viona (Martina Tesela) waktu bersih-bersih kamar adalah hit "Sakuranbo" milik Ai Otsuka, yang adalah penyanyi J-Pop terkenal asal Osaka. Aah, details =).
- Arubaito adalah istilah di Jepang untuk kerja sambilan, biasanya untuk kerja praktis macam kasir di minimarket/convenience store, pegawai restoran dan lain-lainnya. Ini lazim ini dilakukan oleh mahasiswa termasuk mahasiswa asing, karena hanya perlu persetujuan yang punya/pengelola tempat, hanya digaji tunai, nggak perlu ada jaminan, tunjangan, atau asuransi apalagi pensiun. Mahasiswa asing menggunakan ini untuk menambah biaya hidup sekaligus kesempatan berlatih bahasa, sedangkan untuk orang-orang lokal sebagai tambahan uang jajan atau biaya buat liburan. =))