Selasa, 30 Juli 2013

[Movie] The Wolverine (2013)


The Wolverine
(2013 - 20th Century Fox)

Directed by James Mangold
Screenplay by Mark Bomback, Scott Frank
Based on Marvel Comics limited series "Wolverine" by Chris Claremont, Frank Miller
Produced by Lauren Shuler Donner, Hutch Parker
Cast: Hugh Jackman, Tao Okamoto, Rila Fukushima, Famke Janssen, Hiroyuki Sanada, Haruhiko Yamanouchi, Will Yun Lee, Svetlana Khodchenkova, Brian Tee


Tokoh Wolverine yang dikenal lewat seri X-Men memang ditakdirkan untuk populer, baik di lingkup komik aslinya maupun dalam adaptasi filmnya. Khusus untuk film, walaupun awalnya sempat diragukan karena posturnya terlalu tinggi daripada versi komik, rupanya aktor Australia Hugh Jackman dapat membawakan Wolverine alias Logan versinya dengan sangat baik, apalagi porsi ceritanya dalam trilogi orisinal X-Men memang lebih banyak daripada tokoh lainnya, membuatnya jadi favorit penonton juga. Peran ini pun menjadi breakthrough karier mas Jackman di Hollywood dan dunia. Akan tetapi, walaupun sudah terkenal di sana-sini, sukses di Broadway, hingga masuk nominasi Oscar kemarin, mungkin karena merasa berutang (atau...ehm...berkutang =p) atas peran mutan bertulang dan bercakar lapis logam (fiktif) adamantium ini, Jackman tidak pernah menolak tampil di seri X-Men, bahkan secuil di prekuel/reboot X-Men: First Class yang lalu. Kini akhirnya hadir The Wolverine, film solo Wolverine yang menjadikannya sorotan utama. Oh, pernah ada X-Men Origins: Wolverine, ya? Ih, masih inget aja. Tapi lihat sendiri kan? Dari pemberian judulnya yang nyaris nggak berubah, ketahuan para pembuat filmnya juga punya semacam penyangkalan sejarah pernah bikin film Wolverine sebelumnya =p. O well, kita lihat saja bagaimana perlakuan terhadap tokoh beringas ini di film solo "kedua"-nya.

The Wolverine mengambil latar waktu setelah kejadian X-Men: The Last Stand di mana si anu udah anu dan si itu jadi begitu =p, Logan (Hugh Jackman) hidup menyendiri di hutan negara asalnya, Kanada bagaikan tunawisma, lengkap dengan tidur tak nyenyak setiap malam. Akan tetapi, seorang gadis ahli kelahi asal Jepang, Yukio (Rila Fukushima) menemukannya dan membawanya ke Tokyo kepada Yashida (Haruhiko "Hal" Yamanouchi), seorang mogul pemilik korporasi terbesar di Asia, yang zaman perang dulu pernah diselamatkan Logan dari serangan bom atom di Nagasaki. Masih inget 'kan kalo Logan punya kekuatan bisa sembuh dari penyakit dan luka dengan cepat, bahkan dari penuaan, umurnya juga udah hampir 200 tahun gitu deh sekarang walau masih tampak sehat dan muda, dan nggak bisa mati. Yashida yang tua dan sekarat karena kanker menawarkan teknologi yang dapat memindahkan mutasi/kekuatan Logan itu kepadanya, yang segera ditolak Logan. Namun permasalahan tak sampai di situ, cucu kesayangan Yashida, Mariko (Tao Okamoto) ternyata diincar oleh anggota yakuza. Logan pun terseret dalam konflik keluarga Yashida yang sarat kepentingan. Ia pun jadinya "terbawa" untuk melindungi Mariko, termasuk melawan gerombolan yakuza bahkan ninja (yup), namun lambat ia sadari bahwa kemampuan penyembuhannya sudah tidak berfungsi seperti biasanya. Wah, ada apakah gerangan?

Di luar dugaan, sekalipun tampak luarnya kayak biasa aja, The Wolverine terbilang berhasil menjadi tontonan yang memikat. Film ini seakan benar-benar lepas dari gaya penuturan dan subteks yang sudah berulang kali dibawakan dalam film-film X-Men sebelumnya (termasuk Origins: Wolverine itu). Kali ini sutradara James Mangold dan tim naskah lebih membawa Wolverine pada pure adventure. Buat gw, cerita film ini sudah tepat dalam mengakomodir Logan/Wolverine secara perseorangan. Skalanya nggak meng-global, tetapi nggak remeh juga, khususnya bagi pengembangan karakter Logan/Wolverine. Pun di film ini cuma tampil dua orang mutan lainnya (Yukio dan Viper (Svetlana Khodchenkova)), sisanya adalah orang-orang biasa berkeahlian tinggi (Mariko, sang ayah Shingen (Hiroyuki Sanada), sang sahabat masa kecil chef Harada (Will Yun Lee), dan gerombolan yakuza), jadi perhatian memang tertuju pada aksi Logan/Wolverine, nggak terbeban harus memunculkan mutan sebanyak mungkin. Dan setidaknya, film ini mampu menunjukkan sisi Logan/Wolverine yang selama ini ingin dilihat tetapi belum diperlihatkan di film-film selanjutnya: sisi galaunya karena kehilangan seseorang—bukan lagi karena pusing soal identitas, derita berumur panjang, sampai kebrutalannya dalam bertarung—masih batas aman PG-13 tapi tetap ngefek brutalnya. Porsi Wolverine meng-KO-kan orang tanpa banyak cingcong diperbanyak lewat beberapa adegan laga yang mantap, dan hasilnya terbilang memuaskan.

Oke, mungkin di atas kertas jalan ceritanya memang biasa, seorang asing menyelamatkan seorang "putri" negeri lain dari incaran orang-orang jahat, ada yakuza dan ninja dan samurai, plus di tengah jalan pake ada acara mesra-mesraan dengan si "putri", sounds quite B-movie. Tapi dengan tambahan mutant/X-Men twist, semuanya jadi kelihatan fine-fine aja tuh. Set-up karakter dan situasinya cukup masuk akal, inklusi kebudayaan dan masyarakat Jepang-nya juga masih cukup bisa diterima, walau masih cenderung teatrikal sih dengan koreografi pertarungan pedang dan ninja yang memang (mungkin sengaja) terlalu fantastis, tapi setidaknya latar Jepangnya emang terpakai nggak sia-sia.

Bagi gw The Wolverine yang ini film yang oke, cukup menyenangkan, nggak terburu-buru namun juga nggak membosankan, mungkin terkecuali pertarungan terakhirnya. Seperti gw singgung sebelumnya, adegan-adegan laganya mantep, dengan highlight adegan-adegan di atap kereta Shinkansen dan Wolverine vs sepasukan ninja di desa bersalju, sedangkan pertarungan terakhirnya nggak seseru yang dua itu. Humor-humornya juga lumayan kena, dan segenerik-generiknya ceritanya, sepenangkapan gw nggak ada dialog yang terlalu berkeju alias cheesy. Sedikit ganjalan di kurang kharismatiknya si villain(-villain) utama, tetapi ya nggak apa-apa juga, toh lagi-lagi filmnya memang tentang Wolverine. Pemerannya bermain oke, mulai dari Hiroyuki Sanada, Hal Yamanouchi, Will Yun Lee, dan Svetlana Khodchenkova, serta penampilan "metafisik" Famke Janssen sebagai Jean Grey, hingga ke Tao Okamoto dan Rila Fukushima yang keduanya menampilkan dua (stereo-)tipe wanita Jepang berbeda dengan tanpa canggung meski baru pertama kali berakting di film panjang (aslinya keduanya model). Tapi belum ada yang bisa menutupi performa Hugh Jackman yang bukannya terlihat lelah malah makin cemerlang sebagai Wolverine di sini, dan memang seharusnya begitu. Well, jika film ini memang dibuat supaya kita lupa sama Origins: Wolverine yang nggak guna itu (nggak juga sih, ada nama Kayla disebut juga di film ini), maka cukup berhasil lah.




My score: 7/10

Rabu, 24 Juli 2013

[Album] Hata Motohiro - Signed POP


秦 基博  Hata Motohiro - Signed POP
(2013 - Augusta Records/Ariola Japan/Sony Music Japan)
Album Produced by Hata Motohiro 
Music Produced by Masanori Shimada, Makoto Minagawa, Seiji Kameda, Masato Suzuki, Kei Kawano, Kotaro Kubota

Tracklist:
1. Hello to you
2. グッバイ・アイザック   Goodbye Isaac
3. Girl
4. 初恋   Hatsukoi
5. 現実は小説より奇なり   Genjitsu wa shosetsu yori kinari
6. ひとなつの経験   Hitonatsu no keiken
7. May
8. FaFaFa
9. エンドロール   End Roll
10. 自画像   Jigazou
11. 水無月 Minazuki
12. Dear Mr. Tomorrow
13. 綴る   Tsuzuru


Tidak seperti artis J-Pop kebanyakan, singer-songwriter Hata Motohiro termasuk "hati-hati" dalam merilis karya, jarak antar rilisan album satu dengan yang lain selalu lebih dari satu tahun, jarak rilis antara satu single ke single lainnya juga rata-rata 3-6 bulanan. Selain mungkin karena jadwal live, kolaborasi, dan job bikin lagu untuk orang lain, gw mengira-ngira pasti ada perhitungan tertentu, biar setiap rilisan jadi lebih oke daripada asal rilis gitu, atau jangan-jangan karena doski penjualannya termasuk modest jadi nggak ada pressure dari label, hehe. Jujur saja, meskipun Hata gw dapuk sebagai artis solo pria terbaik Jepang karena vokal keren dan lagu-lagu enaknya, Hata belum bisa menelurkan album yang solid dan durable seperti yang dicapai albumnya di tahun 2007, contrast. Gw sih suka dengan dua album selanjutnya, ALRIGHT (2008) dan Documentary (2010) tetapi tidak separipurna full-album perdananya itu. 2 tahun 3 bulan sejak Documentary, jarak terlama dari yang pernah dilakukan, Hata akhirnya merilis album keempat Signed POP pada awal 2013 ini, apakah ini pertanda akan lebih baik?

Jika sekilas mengingat ALRIGHT dan Documentary, setelah didengar beberapa kali, seperti ada kecenderungan Hata trying too hard untuk memasukkan sesuatu yang beda dalam beberapa materinya, namun pada akhirnya justru yang simpel-simpel-cara-lamalah yang tetap lebih berkesan. Bukan gagal, tapi kurang nendang aja hasilnya. Signed POP layaknya hasil evaluasi dari itu. Secara keseluruhan, musiknya memang tetap pop yang full instrument, rata-rata dalam tempo slow-medium-agak cepat, masih dengan alat band basic dengan keutamaan gitar akustik dan elektrik, ditambah piano dan string section di sana-sini, bedalah sama album contrast yang lebih simplisitik. Akan tetapi lagu-lagu yang ditampilkan kini kembali ke jalur pop yang "seharusnya", yang nggak ribet atau terlalu aneh-aneh. Kalaupun ada yang "aneh" palingan nyerempet groove ("Hitonatsu no Keiken", "Jigazo") atau rock'n'roll ("FaFaFa") tapi nggak sampe menutupi unsur popnya. Gw pun memperhatikan setiap lagu terdiri dari melodi-melodi yang distinctive dan nyaris sama kuat dan sama enaknya, dan yang paling penting nyaman didengar. Karena yang punya karya kali ini nggak riri—ribet sendiri, yang dengar juga 'kan jadinya enak.

Dimulai dengan track solo akustik "Hello to you" yang kembali memperkenalkan karakter core dari Hata, sederhana tetapi powerful, dan vokalnya tersaji jelas dan jernih. Seakan kontras, lagu tersebut dilanjutkan dengan track "Goodbye Isaac" yang gw bilang sih lagu up-tempo terbaik yang pernah dirilis Hata, sekaligus jadi highlight paling terang di album ini. Single yang juga jadi salah satu lagu tema anime "Space Brothers" ini mengusung irama pop-rock ceria dengan melodi yang sangat catchy dan sangat sukses membangkitkan semangat bila didengarkan pagi-pagi =). Beberapa highlight lain dari 13 track dalam Signed POP adalah lagu gombalan "Girl" yang juga mencerahkan dengan dominan dentingan piano, "Genjitsu wa shosetsu yori kinari" yang mengikuti gaya smooth urban jazz khas Keiichi Tomita, juga "End Roll" yang syahdu tapi merasuk dengan tambahan bunyi organ-nya (dan jadi salah satu lagu J-Pop terfavorit gw tahun 2012 lalu).

Sisanya pun gw sama sekali nggak merasa perlu komplain. Gw bisa bersantai dengan "May", ikut merasakan bimbang dalam track mellow "Dear Mr. Tomorrow", juga menikmati kekuatan vokal Hata baik di lagu bittersweet bernada minor seperti "Hatsukoi", maupun yang lebih optimistis seperti "Minazuki" dan "Tsuzuru". Dan seperti gw singgung sebelumnya, yang lagunya tidak murni pop pun masih enak dinikmati, termasuk "Jigazo" yang iramanya agak funk, nggak biasa tetapi malah makin memikat. Semua itu disempurnakan lagi dengan pengurutan lagu yang mengalir lancar dengan seimbang tanpa ada rasa kehilangan atau overdone

Mudahnya, Signed POP adalah album Hata yang lebih enjoyable dan lebih solid ketimbang dua pendahulunya, hanya sedikit di bawah contrast. Hata di sini nggak ngoyo, memperbaiki apa yang kurang serta menambah apa yang memang he does best pada karya-karya sebelumnya. Bagi fans terutama pasti akan senang dan bangga sama album ini. Tidak ada perasaan ganjil atau asing, tetapi tidak juga terasa ada pengulangan. Toh ini bukti tanpa eksperimentasi sekalipun Hata masih punya sangat banyak amunisi karya yang fresh. Lagu-lagu yang ditulis dan dimasukkan Hata dalam album ini semuanya layak dengar tanpa ada kesan asal jadi atau penuh-penuhin kuota album. Melodi-melodinya yang dirangkai cantik, aransemen yang apik, dan terutama tidak menenggelamkan karakter dan kekuatan vokal Hata sendiri. Bahkan yang weakest link pun (menurut gw si "FaFaFa" itu) juga masih masuk dalam zona enak-dengar *apalah*. Memang kesannya sedang tidak mau mengambil risiko dalam arah bermusiknya meskipun udah masuk album keempat, tetapi bisa dibilang Hata sukses memaksimalkan apa yang sudah dipunya, dan itu tetap bagus kok. Tidak membosankan dan nyaman untuk dinikmati di mana pun, setidaknya menurut gw. Selamat datang kembali, mas Hata.



My score: 8/10

Hata Motohiro

Previews

Jumat, 19 Juli 2013

[Movie] Upside Down (2012)


Upside Down
(2012 - Upside Down Films/Les Films Upsidedown Inc.)

Written & Directed by Juan Solanas
Adaptation and Dialogue by Juan Solanas, Santiago Amigorena, Pierre Magny
Produced by Aton Soumache, Alexis Vonarb, Dimitri Rassam, Claude Léger, Jonathan Vanger
Cast: Jim Sturgess, Kirsten Dunst, Timothy Spall, Blu Mankuma, Nicholas Rose, James Kidnie


Satu lagi sebuah karya independen yang cukup berani tampil dalam skala Hollywood. Upside Down adalah film produksi patungan Kanada dan Prancis garapan sutradara Juan Solanas asal Argentina, yang mengangkat kisah romansa dalam balutan fiksi ilmiah berlatar sebuah tempat mirip bumi versi kembar dempet yang memiliki hukum gravitasi masing-masing, tapi kedua dunia ini tetap dapat saling berinteraksi meski harus kebolak-balik posisinya. Yah, gambaran kasarnya, kalau di satu ruangan ada dua orang dari dua dunia berbeda, yang satu berdirinya di lantai dan yang satu lagi di langit-langit *tergantung perspektif juga sih mana yang lantai mana yang langit-langit*. Gw rasa ini ide yang sudah cukup lama beredar, termasuk tempo hari ada animasi pendek "Head Over Heels" yang masuk nominasi Oscar yang konsep dasarnya kira-kira sama. Tapi dalam Upside Down, Juan Solanas mencoba memperluas semesta dunia "ajaib" ini dalam film panjang yang tentunya membutuhkan usaha pengadeganan dan efek visual yang lebih serius.

Di awal film dijelaskan panjang lebar tentang hukum fisika yang berlaku di kedua dunia yang berhadapan dan berlawanan ini, yang di sebut dunia Atas (Up-Top) dan Bawah (Down-Below). Yang pertama, benda/orang di mana pun posisinya hanya terkena daya tarik gravitasi dunia asalnya. Jadi kalo misalnya air dari Bawah dibawa ke Atas terus tumpah, tumpahnya bukan ke tanahnya dunia Atas, tapi ke langitnya sampai jatuh di tanah Bawah yang ada di posisi berlawanan, begitu pun sebaliknya. Yang kedua, berat benda dapat di-counter jika ada bersama benda asal dunia lawannya, contohnya kalau ada batu dari Atas ditempel di bawah meja dunia Bawah, tergantung bobotnya, mejanya bisa melayang-layang gitu. Tapi—ini hukum ketiga—benda yang nempel dengan benda dari dunia lawannya lama-lama akan terbakar, karena bukan kodratnya =P. Tahu bahwa penonton mungkin akan kebingungan, maka film ini berulang kali menunjukkan berlakunya ketiga hukum itu, dari gendong-gendongan sambil melayang-layang, terbang dari laut satu dan nyebur di laut lawannya (in very spectacular fashion), sampai kegunaan hairspray =). 

Namun nggak hanya perbedaan hukum alam, ternyata dunia Atas dan dunia Bawah juga berlaku pembedaan taraf hidup. Dunia yang disebut Atas penduduknya maju sejahtera dihiasi pencakar langit, sedangkan di Bawah hidupnya melarat dan terbelakang, belum lagi kekayaan minyak yang dimilikinya diambil oleh dunia Atas hanya dengan imbalan pasokan listrik ke dunia Bawah...yang mesti bayar mahal juga. Sentilan sosial nih ye. Dan kalau dipikir-pikir apa dasarnya menyebut Atas dan Bawah kalau harusnya di mana kaki berpijak itu namanya "bawah" dan kepala itu namanya "atas"? Sama seperti kenapa Eropa itu disebut Barat dan Asia disebut Timur, pake Jauh lagi, kesannya mereka yang paling oke sendiri. Hegemoni? *aih sedaaap istilahnya* Kayaknya sih gitu. Apalagi ada hukum sosial bahwa penduduk kedua dunia tidak boleh saling berinteraksi lebih dari yang diperlukan, bahkan bisa dihukum mati. Pokoknya, dibikin supaya keadaan kedua dunia tidak berubah. Pemiskinan sistematis. Boleh juga nih nyindirnya =p.

Perspektif Bawah (kiri) dan Atas (kanan, iseng gw puter gambarnya).

Kenapa gw panjang banget menceritakan konsep dan latar cerita daripada cerita utamanya, ya karena setelah 100 menit durasi film ini, cuma itu yang menarik perhatian gw. Sisanya, meh. Kisah cinta terlarang antara pemuda Bawah, Adam (Jim Sturgess) dengan gadis Atas, Eden (Kirsten Dunst), yang terpisah kerana adat yang berbeza *dikira lagu "Isabela"*...maksudnya karena dianggap tak pantas (dan buat penonton juga agak ribet sih ngeliatnya). Sepuluh tahun terpisah, Adam ingin mendekatkan diri lagi dengan Eden dengan bekerja di satu-satunya perusahaan yang menghubungkan Atas dan Bawah, TransWorld, yang menguasai segenap bidang hajat hidup orang banyak di kedua dunia itu (tuh 'kan sindiran lagi). Adam pun bela-belain cari cara agar dia bisa "nyamar" jadi orang Atas, tapi eh tapi, Edennya kena amnesia, jadi lupa sama jalinan cinta mereka dulu. Eh tapi...ya udah gitu aja sih, tinggal nunggu waktu aja Edennya inget lagi terus udah.

Bikin inti cerita yang sederhana sih nggak apa-apa ya, malahan bagus, tapi ya mbok dibikin compelling dan—berhubung ini romansa—lebih manis gitu loh. Di tengah potensi kompleksitas sosial dan moral yang sudah di-tease di sana-sini, sayang sekali Upside Down malah agak membuyarkan semua itu demi kisah cinta yang malah kalah istimewa. Padahal bisa lho dua sisi ini disatukan, misalnya Eden gak usah amnesia deh, cukup dibikin ragu aja untuk berhubungan sama Adam lagi karena perbedaan dunia yang dapat juga mengancam pekerjaan dan kehidupannya, atau apa kek. Maksud gw, udah capek-capek amnesia tapi penyelesaiannya "gitu doang", rasanya ya ngambang aja gitu seperti panekuk berbubuk nila buatan tante Becky di film ini. Gw jadi kurang menikmati film ini karena kayak di-PHP-in sama potensinya yang sebenarnya bagus itu, selain juga lompatan antar adegannya yang nggak semuanya mulus. But to be fair, Upside Down sudah cukup menarik hati gw dengan ketelatenan dalam mengeksekusi konsep dunianya, sampai ke detil sikap tubuh Jim Sturgess yang ganjil ketika berada di dunia Atas, plus gambar-gambar yang menarik dengan efek visual yang juga nggak jelek. Tapi ya udah gitu doang.




My score: 5,5/10

Selasa, 16 Juli 2013

[Movie] Pacific Rim (2013)


Pacific Rim
(2013 - Warner Bros.)

Directed by Guillermo del Toro
Screenplay by Travis Beacham, Guillermo del Toro
Story by Travis Beacham
Produced by Thomas Tull, Jon Jashni, Guillermo del Toro, Mary Parent,
Cast: Charlie Hunnam, Idris Elba, Rinko Kikuchi, Charlie Day, Burn Gorman, Max Martini, Robert Kazinsky, Clifton Collins Jr., Ron Perlman, Diego Klattenhoff, Mana Ashida


Banyak orang lain mungkin hanya memandang sekilas Pacific Rim sebagai film model-model Transformers, robot-robot besar bertarung di tengah kota dan sebagainya yang menjanjikan keseruan. But no, Pacific Rim bukan cuma itu. Bagi yang akrab sama budaya populer Jepang (while technically Transformers juga konsep aslinya dari Jepang), Pacific Rim adalah sebuah penggenapan harapan akan adanya perlakuan skala raya dari aksi fantastikal ala anime, tokusatsu, dan (yang istilahnya dipakai di film ini) kaiju. Bagi yang tumbuh di era 80-90-an sebagian pasti kenal akan aksi "Ultraman" atau "Goggle V" dan seri super sentai/rangers lainnya, atau "Voltes V" atau "Voltron", atau kalau mau rada serius dikit *halah* macam "Patlabor" dan seri "Gundam" (bacanya gan-dam), dan banyak lagi anime yang menampilkan robot tempur besar yang dikendalikan manusia dari dalam—istilahnya mecha, singkatan dari mechanical—manapun yang bisa ditemukan di majalah Animonster. Sementara udah berabad-abad rumor Hollywood mau bikin versi live action dari "Neon Genesis Evangelion" nggak jadi-jadi, maka saat ini juga, terimalah Pacific Rim, persembahan orisinil dari master fantasi Guillermo del Toro (Hellboy, Pan's Labyrinth), yang sendirinya mengaku sangat terpengaruh pada film-film monster raksasa/kaiju dari negeri sakura macam Godzilla dan Gamera. Dengan film ini, del Toro telah "bersalah" membangkitkan kembali fantasi masa kecil Anda sekaligus memperkenalkannya pada adik/anak Anda, with a big, big bang.

Pacific Rim dimulai dengan penggambaran situasi darurat global, well khususnya di garis pantai samudera Pasifik (thus, the title), karena monster-monster raksasa yang kemudian disebut Kaiju—dan masing-masing diberi kode nama lucu-lucu, datang dari portal di dasar laut yang terhubung dengan dimensi lain, menyerang kota-kota padat penduduk. Kesulitan dan kewalahan melawan dengan senjata konvensional (dan tentu saja bahaya kalau langsung pake nuklir), pemerintah-pemerintah dunia bersatu dan membuat Jaeger (bacanya yéy-ger), teknologi mecha raksasa yang mengikuti gerakan fisik dua orang (atau lebih) di dalamnya, agar dapat mengimbangi, berhadapan langsung, dan mengalahkan Kaiju lebih cepat dan efisien. Namun Kaiju semakin sering muncul dan semakin kuat, teknologi Jaeger kerap tertinggal. Lebih dari satu dekade sejak perang dimulai, pemerintah-pemerintah lebih berkonsentrasi membuat tembok pertahanan dan tidak menyokong teknologi Jaeger lagi, dan kini tinggal beberapa unit Jaeger yang berfungsi. But, surprise, tembok pertahanan pun nyatanya bisa ditembus Kaiju dengan mudahnya.

Kisah utama dimulai ketika mantan pilot Jaeger, Raleigh Becket (Charlie Hunnam) dipanggil lagi oleh Marshal Stacker Pentecost (Idris Elba) untuk naik Jaeger lagi. Raleigh awalnya menolak karena trauma mitra sekaligus kakaknya, Yancy (Diego Klattenhoff) tewas ketika bertugas bersamanya, namun Pentecost berhasil membujuknya karena mengaku punya rencana dan berjanji akan menemukan mitra yang baru. Raleigh kemudian diangkut ke markas terakhir Jaeger di Hong Kong yang disebut shatterdome *tsaah* untuk bersama pilot-pilot dan unit-unit Jaeger yang tersisa—ada dari Hong Kong, Australia dan Rusia—mempersiapkan sebuah skema menghancurkan portal yang menghubungkan Bumi dengan tempat asal Kaiju, untuk menghentikan peperangan ini selama-lamanya *latar musik heroik*

This shot screams anime.

Jika dikatakan Pacific Rim adalah the closest thing to live action version of mecha anime, itu ada benarnya. Buat gw Pacific Rim itu anime banget. Entah disengaja atau tidak, selalu ada feel anime di sepanjang filmnya, baik dari cerita, karakterisasi, dialognya, ke-sok-serius-annya, bentuk wajah para aktornya, bahkan sampai pada adegan ngobrol/makan berlatar mecha yang sedang parkir, dan juga tokoh-tokoh multinasional dengan nama aneh-aneh kecuali nama orang Jepangnya =D. Dalam situasi lain, hal seperti ini akan sangat cheesy, tetapi dalam situasi dunia diserang monster dari dimensi lain, why the hell not? Ketimbang terlalu serius dan merasa terganggu dengan minimnya pengembangan karakter dan plotnya yang ringan dan tidak revolusioner, gw malah semakin terbawa masuk dalam dunia Pacific Rim yang luas dan penuh warna serta memuat berbagai elemen mendetil dari penjabaran tentang asal muasal Kaiju, ke mana larinya penduduk awam ketika kota porakporanda, sampai ke dampak sosialnya (komersialisasi, pasar gelap, dan sebagainya). Memang muatan yang sebenarnya banyak itu tidak bisa ter-cover sempurna jika harus menjaga durasinya. Tapi buat gw, dalam durasinya yang mencapai 2 jam 10 menit di hasil akhirnya, penyederhanaan kisahnya masih oke dan mudah diikuti tanpa ada kehilangan yang terlalu. Human story-nya tetap menggerakkan laganya, laganya pun terarah dan tidak tak beralasan, nggak ada kebingungan whatsoever. Dan itu bagus.

Akan tetapi menurut gw yang jadi jawara dari Pacific Rim adalah penataan gambarnya. Sure, pertarungan Jaeger vs Kaiju-nya spektakuler—and I mean extreeemely spectacular—dengan berbagai efek visual canggih ditambah tata suara yang apik yang bikin gw "waah" "aish" "oughh" "iigh" dan seterusnya. Namun di atas semuanya itu, gw lebih jatuh cinta pada padunya kinerja sinematografi dan tata artistik dalam memproyeksikan dunia fantasi Guillermo del Toro ini. Permainan warna yang sangat bold dari tata cahayanya yang merupakan signature dari sutradara Meksiko yang satu ini tampil lebih "liar" lagi. Hampir pasti nggak cuma ada satu warna dalam satu gambar, pasti ada warna-warna yang saling kontras menyala (misalnya latar biru tapi aktornya kuning) yang menyatu apik dalam satu bingkai, terutama di dalam ruangan, apalagi di dalam kokpit Jaeger, dan lebih lagi di jalanan kota Hong Kong di malam hari. Color coordination yang ayu tenan ini semakin memaksimalkan feel fantasinya. Demikian pula konsistensi skalanya, perbandingan ukuran robot dan manusia ditata sedemikian rupa sehingga terasa banget itu gedenya—dan juga efek gerakannya yang agak lambat karena beratnya =D—yang sayangnya sedikit terdistraksi kalau disaksikan dalam format 3-dimensi.

oh warna warna...

So, Pacific Rim ini memenuhi ekspektasi gw. Kekurangannya mungkin hanyalah dia tidak melebihi ekspektasi gw itu. Jalan ceritanya nggak unexpected, kurang mengeksplorasi emosi lebih mendalam atau juga humornya nggak sampai "meledak", tetapi itu bukanlah masalah besar buat gw. Pacific Rim bisa membawa ceritanya dengan solid dan hubungan antar tokoh yang cukup jelas, penjelasan fiksi ilmiahnya juga logis, production value superkeren, tata musik yang juga asyik. Permainan aktornya sih nggak seberapa, mungkin highlight-nya pada Idris Elba satu-satunya aktor di film ini yang dapat mengujarkan dialog-dialog cheesy dengan meyakinkan, Rinko Kikuchi sebagai Mako Mori yang Japanese-ly awkward-nya dapet (yaiyalah) dan Mana Ashida sebagai Mako cilik yang mencuri perhatian, juga Charlie Day sebagai Dr. Newt yang surprisingly tampil tidak menyebalkan dengan suaranya yang menyebalkan itu. O wait, kok gw hampir lupa nyinggung desain Jaeger yang tegap keren-keren dan Kaiju yang eksotik-ngeri-tapi-cantik, ya? Ah kerenlah pokoknya. Robot raksasa lawan monster raksasa, dengan tokoh utama yang bukan unggulan tapi membuktikan ketangguhannya? The child in me hendak berseru ini film paling keren tahun ini. The adult me tinggal menyatukan pikiran the child in me sepanjang durasi Pacific Rim ini hingga di akhir main title dengan pose para Jaeger yang, again, anime banget itu. Bisa bikin gw duduk terpaku sampe bergestur injek-pedal-rem saking serunya sudah cukup bukti bagaimana film ini bagi gw. Anjreeet...girang gw ^o^.




My score: 8/10

Kamis, 11 Juli 2013

[Movie] The Lone Ranger (2013)


The Lone Ranger
(2013 - Walt Disney)

Directed by Gore Verbinski
Screenplay by Justin Haythe, Ted Elliott, Terry Rossio
Screen story by Ted Elliot, Terry Rossio, Justin Haythe
Produced by Jerry Bruckheimer, Gore Verbinski
Cast: Johnny Depp, Armie Hammer, William Fichtner, Tom Wilkinson, Ruth Wilson, Bryant Prince, Helena Bonham Carter, Barry Pepper, James Badge Dale, Mason Cook


Lagi-lagi sebuah rilisan yang mengingatkan pada masa kecil gw yang nggak pernah keluar rumah dan demennya nonton TV doang. "The Lone Ranger" gw kenal sebagai sebuah serial zadul (gambarnya juga hitam putih) yang pernah ditayangkan di stasiun televisi swasta medio 1990-an (gw lupa RCTI atau SCTV). Kisahnya tentang pahlawan "koboi" bertopeng yang membantu orang kesusahan di setiap episodenya, keingetnya itu doang sih (Zorro versi koboilah kira-kira). Kini Walt Disney mencoba mengangkatnya ke versi layar lebar modern dengan mempekerjakan sutradara Gore Verbinski, aktor Johnny Depp, juga tim penulisnya, pokoknya tim suksesnya seri Pirates of the Caribbean deh. Gw sendiri gak terlalu excited sama film ini, dikarenakan emang nggak nge-fan juga sama Lone Ranger, ditambah lagi yang versi film baru ini kok kayak terlalu mengedepankan Johnny Depp yang berperan sebagai si sidekick Tonto, ketimbang tokoh yang namanya dijadikan judulnya. Aneh aja sih.

Film The Lone Ranger kali ini adalah origin story, bagaimana "tercipta"-nya sosok bertopeng berkuda putih yang bikin para bandit waswas tapi jadi pahlawan rakyat itu. Melalui narasi seorang Indian tua yang mengaku sebagai Tonto (Johnny Depp) di San Francisco tahun 1933, kita dibawa pada tahun 1869 di desa Colby, Texas, ketika penjuru Amerika sedang saling dihubungkan dengan pembangunan rel kereta api, yang tentu saja harus bersinggungan dengan wilayah bangsa native a.k.a. Indian di sana. Keberadaan bandit kejam pemburu orang-orang Indian, Butch Cavendish (William Fichtner) menambah tegang hubungan antar komunitas bule dan Indian. Ketika Cavendish berhasil kabur lagi, seorang jaksa yang baru pulang dari kota besar, John Reid (Armie Hammer) diajak oleh kakaknya, Ranger Dan Reid (John Badge Dale) untuk ikut regu pemburu Cavendish melewati padang gurun. Akibat sebuah pengkhianatan, regu ranger ini diserang geng Cavendish hingga habis. Namun, ternyata John masih hidup, ini disaksikan sendiri oleh Tonto muda yang nyaris menguburkannya sebelum seekor kuda putih (yang dipercaya sebagai pembawa roh) datang dan "membangkitkan" John. Tonto kemudian mengungkapkan bahwa dirinya juga hendak membasmi Cavendish atas dendam pribadi, mengajak John untuk terus memburu Cavendish, namun harus dengan kamuflase supaya menimbulkan intimidasi, termasuk menggunakan topeng. Petualangan John bertopeng dan Tonto ber-makeup pun dimulai, tanpa mereka ketahui permasalahan yang lebih besar sedang terjadi.

Mengambil jalur komedi petualangan yang kerap menertawakan konsepnya sendiri (misalnya, kenapa juga harus pake topeng? =D), The Lone Ranger ini memang seperti diniatkan banget sebagai petualangan epik, terlihat sekali dengan rancangan set, kostum, dan tata rias yang mendetil serta penataan adegan aksi yang menggelegar. Namun, ini juga diartikan filmnya harus memuat banyak hal dan durasinya panjang. Hal terakhir ini yang agak bermasalah buat gw. Oke fine supaya nggak serba gampang plotnya tidak hanya soal dendam, tetapi juga soal keserakahan, tapi mungkin akan lebih enak kalau dipadatkan, nggak perlu berpanjang-panjang menunjukkan rupa-rupa momen komedinya Johnny Depp sebagai seorang Indian yang berperilaku nyentrik hanya karena doi bahan utama jualan film ini. Haha, gak banget ya alasannya. Tapi ya gitu, kerasa deh kalo film ini seperti dipanjang-panjangin. Tetapi di sisi lain film ini juga berhasil melakukan keisengan yang pretty much cerdas: kisah Lone Ranger ini diceritakan oleh Tonto di masa tua kepada seorang anak kecil (Mason Cook), maka plotholes (sengaja atau tidak) dan unsur mistis yang actually worked jadi termaafkan. Kalau Anda protes "hah ini dari mana? kok bisa gitu?" dan seterusnya, penulis naskahnya malah akan tertawa semakin keras. Namanya juga cerita kakek-kakek, serius amat...

Nevertheless, The Lone Ranger ini tidak rugi-rugi amat kalau disaksikan. Cukup menghibur, terutama pada adegan laga di klimaksnya, yang merupakan "resmi" aksi perdana John Reid sebagai Lone Ranger, bareng Tonto dan si kuda putih yang dinamai Silver. Fantastis, konyol, tapi seru lah. Yah, memang perlu menunggu 120 menit agar sampai pada momen ini (total durasi 2,5 jam =.=) tapi cukup worth the wait, toh di tengah-tengah filmnya juga disuguhkan beberapa adegan aksi yang oke juga. Tetep sih gw rasa Johnny Depp/Tonto terlalu overexposed, tapi pembangunan tokoh Lone Ranger-nya sendiri sudah disampaikan cukup baik, khususnya di bagian ending yang memantapkan prinsip "lone", yang tak bertuan dan independen membela rakyat *kayak kalimat kampanye ye*. Kurangnya, mungkin karena harus kudu mengedepankan Johnny Depp, pemilihan pemeran John Reid/Lone Ranger kayak disengaja nggak boleh lebih terkenal, lebih bagus, atau lebih karismatik dari Depp. Armie Hammer nggak jelek sih, tapi ya jadinya emang begitu, sepanjang film agak kurang simpatik, kurang bisa mengalihkan perhatian penonton dari gelagat nyentrik dan aneh dari Depp. Lagi-lagi, padahal 'kan Lone Ranger tokoh utamanya yang jadi judulnya. GIMANA SIH?! *sabar Pak*. Well, setidaknya dengan production value yang keren, termasuk tata musiknya yang cantik, dan cerita yang cukup mudah diikuti, The Lone Ranger adalah tontonan tak merugikan, konyol tapi cukup menyenangkan. Penting? Belum tjentju =p. 

Dan, oh, bila dirasa dominasi-tak-seharusnya dari Johnny Depp/Tonto masih kurang, saksikanlah end credits-nya yang berlatar gambar statis Tonto tua berjalan pelan membelakangi penonton di padang gurun selama hampir 10 menit tanpa cut. Dedikasi tuh. Monggo.




My score: 6,5/10

Sabtu, 06 Juli 2013

[Album] ASIAN KUNG-FU GENERATION - Landmark


ASIAN KUNG-FU GENERATION - ランドマーク Landmark
(2012 - Ki/oon Music/Sony Music Japan)
Produced by ASIAN KUNG-FU GENERATION

Tracklist:
1. All right part2 (featuring Eriko Hashimoto from Chatmonchy)
2. N2
3. 1.2.3.4.5.6. Baby
4. AとZ   A to Z
5. 大洋航路   Taiyou korou
6. バイシクルレース   Bicycle Race
7. それでは、また明日   Soredewa, mata ashita
8. 1980
9. マシンガンと形容詞   Machine Guns to keiyoshi
10. レールロード   Railroad
11. 踵で愛を打ち鳴らせ   Kakato de ai wo uchinarase
12. アネモネの咲く春に   Anemone no saku haru ni


Jika ada rilisan yang gw nggak excited about dari band favorit gw, maka album Landmark-nya band alternative rock asal Jepang ASIAN KUNG-FU GENERATION inilah barangnya. Dirilis hanya selang delapan bulan sejak album kompilasi BEST HIT AKG pada Januari 2012 (ya review ini memang telat =P), full album ketujuh AKG ini seperti hanya ingin membuktikan bahwa mereka tidak "selesai" setelah merilis album best. Hasilnya nggak jelek-jelek amat sih, cuma gw merasa konten dan susunan track dalam album Landmark ini seperti matangnya nggak merata: sebagian oke, sebagian aneh, sebagian lagi simply AKG-ish songs seperti pengulangan dari karya-karya mereka sebelumnya, and I even call myself a huge fan yang biasanya lebih maklum sama hal-hal seperti itu.

Gw sepertinya pernah bilang bahwa lagu-lagu AKG itu paling bagus kalau mainnya lepas tanpa beban. Ini tidak ada hubungannya dengan "usia", karena selain album debutnya Kimi Tsunagi Five M yang amazing itu, AKG juga pernah membuat World World World (album keempat) dan Surf Bun'gaku Kamakura (album kelima), yang rancak dan bersemangat. Bahkan album keenam, Magic Disk yang banyak mencoba memasukkan instrumen-instrumen "tamu" pun tetap terasa semangatnya. Di album ini semangat itu agak menurun. Kayaknya sih album ini memang berat di lirik, dan gw yakin liriknya punya pesan bagus *yakin aja deh =P*. Tapi jika hanya dari pendengaran, Landmark ini agak nanggung, dibilang asyik nggak terlalu, dibilang berat juga nggak terlalu. Alas, Landmark mungkin jadi album AKG yang paling nggak bisa dinikmati dengan segera, butuh mungkin lebih dari 6 kali putar sebelum benar-benar nyambung dengan vibe-nya. 

Satu-satunya highlight dari album ini adalah track sekaligus single yang mereka rilis pertengahan tahun lalu, "Soredewa, Mata Ashita", yang menurut gw adalah lagu terbaik AKG sejak bertahun-tahun lamanya (dan ini jadi lagu Jepang no. 1 gw tahun 2012). Lagu ini fresh, catchy, energinya pas, sedikit berbeda dari karya AKG yang lain, dan mantep banget bercokol di ingatan. Sayangnya, lagu-lagu yang "mengelilingi" lagu itu di album Landmark belum dapat menyamai. "All right part2" terlalu generik dengan chorus yang udah-gitu-doang, "1980" seperti adeknya "Blackout" dengan irama disco dan dominasi melodi gitar, "Machine Guns to keiyoushi" hanya mengekor "Shinseiki no Love Song" demikian pula "Anemone no saku haru ni" yang mengikuti pola "Sayonara Lost Generation" (keduanya dari album Magic Disk). Atau "Taiyou Korou" dan "Railroad" seperti lagu-lagu dalam Surf Bun'gaku Kamakura. Malahan "Bicycle Race" kayak carbon copy dari "Mustang" (mini album Mada Minu Ashita ni), beda warna aja, lebih ceria dikit. Tapi anehnya, lagu-lagu "pengulangan" inilah yang paling mudah gw nikmati dari album ini setelah "Soredewa, Mata Ashita" tadi. Apakah ini artinya gw nggak bisa move on dari masa lalu? *halah*." Entahlah. 

Namun, album ini nggak semuanya pengulangan juga sih. Di sisi lain, ada segi eksperimental dari track "N2" yang vokalnya didistorsi (N2 itu katanya singkatan "no nukes", kampanye anti-nuklir yang didukung vokalis Masafumi Gotoh khususnya pascagempa besar Jepang tahun 2011 dan kebocoran radiasi PLTN sesudahnya), "1.2.3.4.5.6. Baby" yang main-main di lirik, dan "A to Z" yang beat-nya diberi variasi perkusi, awalannya lucu tapi belakangnya malah nanggung. Single "Kakato de Ai wo Uchinarase", track paling cerah di album ini, juga menyimpan eksperimen di ketukan drum dan susunan melodi yang ingin mencoba memperlebar range vokal. Sayangnya, keempat track ini tidak selalu mengesankan sebegitunya.

Setelah mengkaji demikian, gw jadi berpikir apakah AKG (secara tak sengaja?) menjadikan Landmark sebagai album napak tilas gaya musik mereka yang lalu-lalu dan menuangkannya dalam lagu-lagu baru? Who knows, bisa jadi 'kan. Gw bilang hasilnya jadi kayak KW saja, kurang kawin dan kurang maksimal gitu deh jika dibandingkan album-album mereka sebelumnya. Tetapi jika dalam keadaan tenang dan niat, Landmark tetap menyimpan "aura keren" AKG yang tak pernah lepas sejak kemunculan pertama mereka, ya masih enak-enak aja kok. Permasalahan gw sehingga nggak bisa langsung suka album ini bisa jadi juga dari pengaturan urutan track-nya, paruh awalnya tidak membangkitkan semangat, baru paruh terakhirnya lebih mendingan dan (sedikit) lebih enjoyable. Tak apalah. Semoga di karya-karya selanjutnya semangatnya bangkit lebih lagi dan dapat memberikan sesuatu yang lebih fresh buat penikmatnya. Amin.




My score: 6/10

ASIAN KUNG-FU GENERATION


Previews

Jumat, 05 Juli 2013

[Album] The Lumineers - The Lumineers


The Lumineers - The Lumineers
(2012 - Dualtone/Decca/Universal Music Group)
Produced by Ryan Hadlock

Tracklist:
1. Flowers in Your Hair
2. Classy Girls
3. Submarines
4. Dead Sea
5. Ho Hey
6. Slow It Down
7. Stubborn Love
8. Big Parade
9. Charlie Boy
10. Flapper Girl
11. Morning Song


Oke, setelah sekian lama berutang, inilah saatnya gw menggelontorkan ulasan album musik lagi. Berikut yang gw bahas adalah salah satu yang masuk top 10 album tahun 2012 gw kemarin, album berjudul-diri (maksudnya self-titled =p) dari band folk-rock asal Amerika, The Lumineers. Meskipun suka albumnya, tadinya gw nggak menargetkan bisa review album mereka ini karena gw dengerinnya dalam format "anuan", tetapi ternyata, terlepas dari status album ini yang produksi independen dan warna musiknya mungkin "terlalu Amerika", awal tahun 2013 ini distributor Universal Music Indonesia dengan berani dan berbaik hati merilis CD album perdana dari band yang terkenal berkat single keren "Ho Hey" ini. Beda nyaris setahun dari rilis aslinya di Amerika (mending lah, ulasan ini beda 1,5 tahun =P), tapi nggak masalah, gw tetap merasa harus beli, because it's that good.

Single "Ho Hey" yang liriknya rada sedih tapi bikin jungkat-jungkit kecil dan ngajak nyanyi rame-rame itu sebenarnya cukup menggambarkan bagimana isi full album debut The Lumineers ini. Ringkas, padat, tulus, sederhana. The Lumineers mengambil jalur folk-rockgenre yang memang akhir-akhir ini jadi makin keangkat ke ranah mainstream bersamaan dengan kesuksesan Mumford & Sons, menampilkan lagu-lagu yang mengandalkan lirik yang bercerita dan memakai instrumen-instrumen yang sebagian besar akustik—mungkin orang sini bilangnya "musik balada" kali ya. The Lumineers sendiri (aslinya) trio yang terdiri atas Wesley Schultz di vokal dan gitar akustik maupun elektrik, Jeremiah Fraites pada alat ritmis dan bantuin vokal, dan Neyla Pekarek pada selo (maksudnya cello, bukan ubi *bahasa Bali*) dan bantuin vokal, lalu sejak rilis album ini di tahun 2012 mereka merekrut additional players mereka Stelth Ulvang (piano, gitar, akordion dll) dan Ben Wahamaki (bas) menjadi anggota reguler. Jadi, dari macam instrumen yang dimainkan udah kebayang dong "bunyi" The Lumineers ini kayak gimana (ya kalo enggak bisa langsung skip ke bagian previews di bawah, hehe).

Lima track pertama album ini mungkin bagian yang paling legit karena begitu mudahnya untuk diakrabi akibat melodinya yang cukup catchy. Dibuka dengan track singkat (1 menit 50 detik) nan ceria "Flowers in Your Hair", lalu lebih menghentak lagi dengan "Classy Girls", "Submarines" mengandalkan piano dan drum, dilanjutkan dengan ballad galau "Dead Sea" yang menjadi track favorit gw di album ini setelah "Ho Hey" yang ditampilkan sesudahnya (lagu terfavorit gw tahun 2012, no further explanation needed =)). Selanjutnya mungkin tidak serenyah paruh awalnya tadi, namun selalu berhasil merebut perhatian karena tiap lagunya yang berkarakter. "Slow It Down" adalah lagu paling...emm...slow di album ini, hanya dengan vokal Wesley dan dentingan gitar elektrik namun sudah menimbulkan efek emosional maksimal. Lalu ada single kedua mereka, "Stubborn Love" yang berlirik anthemic dalam balutan musik menyegarkan, kemudian "Big Parade" yang traditionally asyik dan liriknya ramai dengan cerita, "Charlie Boy" yang terkesan meditatif dengan mengandalkan dentingan mandolin dan selo, "Flapper Girl" yang kalem-kalem playful, dan diakhiri track paling nge-(slow)rock "Morning Song". Terbukti, meski sederhana, The Lumineers tetap menghadirkan dinamika yang cukup untuk menghindarkan album ini dari kesan kedengaran "gitu-gitu aja", susunan track-nya pun dibuat tanpa cela, asyik dengerinnya.

Setiap lagu yang digulirkan dalam album ini memang tiada terdengar hingar bingar, sebaliknya justru begitu laid-back dan minimalis. Namun demikian, The Lumineers tetap memunculkan kekayaan lewat variasi permainan instrumen harmonis dan ber-"nyawa" mengiringi lantunan nada-nadanya yang sebenarnya ringan saja, sehingga membuatnya tetap berenergi. Silakan mau dibilang lebai, tapi mendengarkan album ini gw merasakan keintiman, setiap lagu memunculkan kesan organik, passionate, tanpa terdengar terlalu diatur, tetapi juga nggak asik-sendiri-nggak-ngajak-ngajak atau terlalu aneh. Gw seperti berada di satu ruangan dengan anak-anak The Lumineers *berasa akrab* yang lagi nge-jam, di mana gw boleh ikutan "main", ikut nyanyi atau memukul-mukul sesuatu mengikuti irama lagu apa pun yang merek mainkan. Tambahkan dengan pembawaan vokal rada parau Wesley yang effortless dan dari hati, gw memang nggak langsung mengerti apa yang diceritakan (maklum listening skill agak kurang ^_^;), tetapi gw tetap bisa terkoneksi dengan lagu-lagunya. Koneksi yang terasa cepat dan dekat itulah yang membuat album ini, dan The Lumineers sendiri, jadi keren. The magic of music.



My Score: 8/10

The Lumineers

Previews

Rabu, 03 Juli 2013

[Movie] Monsters University (2013)


Monsters University
(2013 - Walt Disney/Pixar)

Directed by Dan Scanlon
Screenplay by Daniel Gerson, Robert L. Baird, Dan Scanlon
Story by Dan Scanlon, Daniel Gerson, Robert L. Baird
Produced by Kori Rae
Cast: Billy Crystal, John Goodman, Helen Mirren, Steve Buscemi, Nathan Fillion, Peter Sohn, Joel Murray, Sean Hayes, Dave Foley, Charlie Day, Alfred Molina, Tyler Labine, Aubrey Plaza, David Moynihan, John Krasinski


Walaupun sebenarnya nggak suka-suka amat sama Monsters, Inc. yang dirilis tahun 2001 silam, gw tak kuasa untuk nonton prekuelnya, Monsters University ini. Apalagi film-film buatan Pixar nyaris tak pernah mengecewakan. Oke, mungkin Brave tahun lalu tidak ada di deretan terbaik karya mereka, dan mungkin kecenderungan Pixar akhir-akhir ini memberbanyak sekuel/prekuel dirasa menjemukan, tetapi yah, sedikitnya gw bisa mengharapkan dapat hiburan, nggak ada salahnya to. Sedikit penyegaran latar belakang, dulu Monsters, Inc. menceritakan tentang perusahaan yang berisi para monster yang dikerahkan untuk menakut-nakuti anak-anak manusia di malam hari, lalu jeritan anak-anak yang ketakutan itu dijadikan sumber energi untuk menghidupi dunia para monster. Tarik ke belakang lagi, ini adalah pengembangan Pixar tentang "budaya" anak-anak bule sono yang kerap ketakutan sewaktu mau tidur di malam gelap karena merasa di dalam lemari atau di bawah kasur ada monster menakutkan. Mungkin ini agak asing di negeri kita, anak-anak di sini sejak kecil sudah diajari agama, jadi gak mungkin takut begituan *uhuk*. But anyway...

Monsters University mengambil kisah jauh sebelum dua tokoh utama kita, Sully dan Mike bekerja di perusahaan Monsters, Inc., tepatnya di—you guessed it—masa perkuliahan para monster. Yup, monster juga perlu kuliah supaya bisa sukses di dunia kerja, entah sebagai monster "penambang" jeritan anak-anak, pembuat pintu portal, ataupun teknisi tabung energi. Dipertemukan di kampus Monsters University, Mike Wazowski (Billy Crystal) adalah monster bermata satu yang cerdas nan imut yang bekerja keras supaya bisa jadi monster spesialis menakut-nakuti, sedangkan monster biru besar berbulu James P. "Sully" Sullivan (John Goodman) adalah monster "seram alami" karena ayahnya juga salah satu monster yang paling disegani. Suatu ketika perselisihan antara Mike yang begitu ambisius dan Sully yang belagu dan sembrono berbuah fatal hingga dekan intimidatif Hardscrabble (Helen Mirren) mengeluarkan mereka dari "program pengutamaan menakut-nakuti". Tidak terima keadaan, Mike dan Sully (terpaksa) memutuskan untuk bekerja sama demi mengembalikan kehormatan, membuktikan bahwa mereka sanggup jadi monster pembuat takut yang kompeten.

The rest of the story adalah proses mengikat Mike dan Sully menjadi sahabat, dengan perlombaan mirip olimpiade kampus Scare Games sebagai alatnya, yang juga memaksa mereka harus bergabung dengan persaudaraan kost-kostan paling cupu di kampus, Oozma Kappa yang disingkat O.K. saja =D, supaya memenuhi syarat ikut perlombaan. Agak mudah ditebak sih kalau dari sini, jadi kisah zero to hero demi pembuktian diri. Tidak ada yang terlalu mengejutkan atau revolusioner di sini. Namun bukan berarti prosesnya tidak enak dinikmati. Justru sebaliknya, Monsters University mempersentasikan proses itu dengan asyik dan menghibur, tidak pernah ada yang menganggu kenikmatan meskipun sudah tahu akhirannya seperti apa, at least for me.

Dan di sisi lain, menurut gw Monsters University juga berhasil dalam ekspansi dunia para monster yang sudah diperkenalkan dalam Monsters, Inc. sebelumnya. Bahkan sepertinya bagi yang belum nonton atau lupa sama film pertamanya tidak akan kesulitan dalam memahami Monsters University. Dari maksud adanya perusahaan monster, kenapa harus pakai jeritan anak-anak, adanya perusahaan selain Monsters, Inc.—dan juga kampus selain Monsters University, hingga tentu saja lebih banyak aneka ragam monster warna warni yang ditampilkan dengan berbagai sifatnya, yang didesain sedemikian rupa sehingga aneh dan seram tapi nggak terlalu seram untuk dilihat anak-anak. Pokoknya komplet dan merata. Humornya pun masih terasa segar, apalagi dengan aneka ragam karakteristik dan perilaku penghuni kampus yang sedikit banyak dapat merepresentasikan secara karikatural tentang dunia kampus di dunia nyata (khususnya di Amerika sono kali ya, ini sotoy aja sih). Gambaran perbandingan nilai antara kemauan keras dengan bakat alami juga menarik dan mengena, in the end keduanya tidak bisa dipisahkan kalau mau mencapai sukses *motivasi* *kepal tangan*.

Dengan kisah yang asyik, visual yang canggih dan berwarna, tata suara dan musik yang sangat pas (musiknya  ada unsur marching band gitu), serta performa pengisi suaranya yang membuat tokoh-tokohnya semakin lovable, Monsters University sekali lagi membuktikan, paling tidak, kesanggupan Pixar untuk membuat film-film yang menghibur keluarga, dewasa dan (mungkin) anak-anak. Kisah yang mungkin terlalu familiar dan juga perubahan tone yang sedikit bumpy di penghujung mungkin masih menyisakan suatu ketidakrelaan terhadap kenyataan bahwa film ini buatan Pixar yang kerap dielu-elukan sebagai studio animasi terbaik di dunia saat ini. Buat gw sendiri itu nggak masalah. Pixar toh juga isinya manusia. Masih ingat 'kan sama motonya Dorce? Exactly. Gw sudah cukup senang dengan Monsters University. Se-kurang-kreatif-nya dan se-bukan-adikarya-nya, Monsters University masih membuktikan Pixar sanggup bikin tontonan berkualitas, yang hidup, menghibur, enak dipandang, dan lucu dengan cerdasnya. Well, siapa menyangka emak-emak monster yang pinky unyu ternyata menggemari musik kayak gitu *ngakak*.



My score: 7,5/10

Senin, 01 Juli 2013

[Movie] Leher Angsa (2013)


Leher Angsa
(2013 - Alenia Pictures)

Directed and Produced by Ari Sihasale
Written by Musfar Yasin
Cast: Bintang Panglima, Lukman Sardi, Alexandra Gottardo, Yudi Miftahudin, Fachri Azhari, Agus Prasetyo, Ringgo Agus Rachman, Teuku Rifnu Wikana, Tike Priatnakusumah


Hmmm...Gw bingung harus mulai dari mana dalam menanggapi film produksi Alenia terbaru ini. Ini pertama kalinya gw nonton filmnya Alenia—yang setiap tahun konsisten merilis film dengan tema anak-anak berlatar berbagai daerah di Nusantara—sejak produksi perdana mereka, Denias Senandung di Atas Awan yang turut mempelopori film-film nasional dengan tema sejenis dan menurut gw juga filmnya emang bagus. Kali ini Alenia, yang adalah gabungan nama pendirinya, suami istri Ari "Ale" Sihasale dan Nia Zulkarnaen, menelurkan *no pun intended* Leher Angsa, yang disutradarai sendiri oleh Ari Sihasale (Di Timur Matahari, Tanah Air Beta, King) atas olahan naskah Musfar Yasin (Alangkah Lucunya Negeri Ini, Get Married, Nagabonar Jadi 2). Latar yang diambil adalah pulau Lombok provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di kecamatan Sembalun yang terletak di kaki gunung Rinjani yang permai. Penggerak ceritanya masih anak-anak usia SD, sedangkan isu yang diangkat adalah...emmm...apa ya? Well, jujur saja, "Apa ya?" adalah respons gw setelah film ini menyelesaikan durasi nyaris 2 jamnya yang terasa banget panjangnya itu.

Kalau dari judulnya, meski sekilas terdengar "puitis", film ini membahas isu sanitasi di pedesaan. Karena, "leher angsa" adalah istilah untuk kloset/WC yang biasa kita gunakan sehari-hari. Gak tau? Coba cek buku pelajaran SD-nya lagi ya. Anyway, di desa tokoh utama kita Aswin (Bintang Panglima), kloset leher angsa memang barang alien, warga tidak biasa atau mungkin tidak tahu. Selama ini mereka nyaman saja berbagi ruang tanpa sekat untuk membuang apapun-yang-perlu-dibuang di sungai mengalir, bahkan digambarkan di film ini mereka bisa berbaris ramai-ramai dan sambil ngobrol. Hanya Pak Kepala Desa (Ringgo Agus Rahman) yang punya WC leher angsa di rumahnya, eksklusif. Isu sanitasi ini awalnya muncul dari ibu tiri Aswin (Alexandra Gottardo), yang berasal dari luar daerah (kayaknya Jawa) yang menanyakan kepada Aswin di mana ada WC, hingga akhirnya beliau terpaksa membiasakan diri untuk buang hajat di sungai dengan berbagai penyesuaian. Isu ini muncul lagi ketika Pak Guru ngondek Haerul (Teuku Rifnu Wikana) sedang menyampaikan materi tentang sanitasi, murid-murid tidak mengerti karena tidak pernah lihat WC leher angsa yang diceritakannya. But to my surprise, isu ini tuh cuma seiprit porsinya dari keseluruhan cerita, malah kalau disatukan bisa kali selesai dalam 10 menit.

Gw pun kurang mampu mengaitkan esensi WC leher angsa dengan kisah-kisah lain di film ini. Film Leher Angsa seperti kepenuhan isu yang ingin disampaikan, sehingga jatuhnya tidak menyatu dan pecah-pecah. Pada awalnya sih dibuka dengan hubungan ayah dan anak, utamanya tentang kerenggangan hubungan Aswin dengan sang ayah (Lukman Sardi), yang dianggapnya bersalah atas musibah meninggalnya sang bunda (Tike Priatnakusumah). Tetapi setelah itu, film ini sangat, terlalu ke mana-mana. Kita kemudian diperkenalkan dengan tiga kawan Aswin yang unik-unik dan komikal, persoalan bisul, kepala desa arogan, kucing mutan, dan the Indonesian movie moment of the year: visualisasi karangan Aswin yang mencakup balapan feses berwajah *ini beneran*. Lalu di antaranya ada konflik keluarga dan juga satu lagi kematian yang tragis tetapi nggak berefek apa-apa buat kelanjutan kisahnya. Entah kenapa untuk membangun haru harus begitu caranya, bukankah ini untuk ditonton anak-anak? Entahlah, rasanya apa yang dipikirkan oleh para pembuat film ini sedang tidak klik dengan pikiran gw. Memang ada beberapa momen tawa menghibur, tetapi sisanya gw hanya bisa kebingungan apa sebenarnya yang mau disampaikan film ini. Kisahnya "bingung", pembangunan karakternya pun kurang mulus, seperti kenapa kesukaan Aswin membaca baru benar-benar dimunculkan setelah perkenalan para karakternya sudah beres, jadi seperti tempelan saja. 

Namun di sisi lain, harus diakui kualitas produksi film ini sangat baik. Sinematografinya gw suka banget, bersih dan nyaman dilihat, apalagi ada bonus pemandangan gunung Rinjani yang indah. Tata gambarnya ini setidaknya menyelamatkan film ini dengan sangat. Tata suara dan musiknya juga terpuji. Bahkan efek visual/animasinya salah satu yang paling niat dan efektif di perfilman Indonesia. Ngefek banget, sampe geli-geli gimana gitu =p. Kecuali itu, gw tidak sanggup menikmati film ini sebagaimana yang gw harapkan. Pace-nya bermasalah, kebanyakan isu dan keberatan subteks dalam rangka sindir-menyindir, "pesan pendidikan"-nya terajut kurang rapih, jadinya malah ribet, dan...well, kalau mau diinget-inget perihal paling menonjol film ini adalah  hal-hal "jorok"-nya, seperti BAB, bisul, korek mulut, dan lain sebagainya, yang sayangnya tanpa pengembangan yang memuaskan. Ini bukan film ancur, niatnya baik, tapi tetap terasa janggal...dan nggilani.




My score: 5,5/10