Senin, 24 Juni 2013

[Movie] World War Z (2013)


World War Z
(2013 - Paramount)

Directed by Marc Forster
Screenplay by Matthew Michael Carnahan, Drew Goddard, Damon Lindelof
Screen story by Matthew Michael Carnahan, J. Michael Straczynski
Based on the novel by Max Brooks
Produced by Brad Pitt, Dede Gardner, Ian Bryce, Jeremy Kleiner
Cast: Brad Pitt, Mireille Enos, Daniella Kertesz, James Badge Dale, Ludi Boeken, Fana Mokoena, Elyes Gabel, David Morse, Matthew Fox


Setelah konon katanya melewati proses produksi yang nggak kelar-kelar sejak 2011 akibat perubahan naskah dan syuting ulang hingga biayanya membengkak dan rilisnya ditunda, film bertema disaster yang melibatkan zombie dan Brad Pitt, World War Z akhirnya brojol juga di layar bioskop. Tidak ada hubungannya sama Dragon Ball Z, World War Z ini digambarkan sebagai film teror mayat hidup tingkat global yang menjanjikan thrill dan juga aksi fantastik. Film ini mengikuti Gerry Lane (Brad Pitt) dari encounter pertamanya dengan "wabah" zombie yang cepat sekali menular—dan lagian zombie-nya bisa lari kenceng banget, damn—di kota Philadelphia, memaksanya untuk melarikan istri (Mireille Enos) dan kedua putrinya (Sterling Jerins, Abigail Hargrove) menuju tempat aman. Pertolongan datang dari mantan atasannya, pejabat PBB Thierry (Fana Mokoena) yang bersedia membawanya mengungsi ke pusat kendali PBB di lepas pantai, namun dengan syarat Gerry bersedia bertugas menyelidiki sebab-musabab dan cara mengatasi "wabah" ini, sekalipun harus mendatangi wilayah-wilayah dunia yang paling berbahaya.

Dalam durasi dua jam kurang dikit, World War Z menyampaikan beberapa sisi tontonan yang memikat. Pendekatan yang lebih ke bencana dan dampaknya pada masyarakat—yang membuat gw yang nggak suka horor ini tertarik menontonnya—digambarkan cukup baik, walaupun disampaikan serba genting dan tidak terlalu detil. Beda kalau dibandingkan dengan Contagion yang punya penggambaran bencana dan chaos serupa tapi lebih detil. Ada juga segi petualangannya, karena penyelidikan Gerry mengharuskan pergi dari Philadelphia ke proyek rumah susun di New Jersey, lalu ke pangkalan militer Amerika di Korea, wilayah yang menurut media kapitalis disebut sebagai Israel, hingga dataran sendu di Wales, UK. Tentu saja tiap tempat musti ada insiden, biar seru. Zombie-nya yang di sini digambarkan dapat menjangkit hanya dalam hitungan detik sampai menit saja, dan setelah jadi zombie mereka langsung menyerang setiap manusia yang ada di hadapannya bahkan kalau perlu headbang mecahin kaca, dan juga lari sekencang-kencangnya. Gw gak bisa mengungkap banyak-banyak perihal zombie ini selain cara melawan/mengatasinya tidak mudah. Bukan cuma karena bakal spoil bagi yang belum nonton, film ini sendiri emang ceritanya baru langkah pertama gitu deh, jadi belum ada penjelasan yang utuh dan lengkap...ya baru segitu doang. Semoga saja sekuelnya jadi dibuat lah *walaupun penasara-penasaran banget juga enggak sih*.

Penyatuan beberapa unsur tadi, ditambah sedikit politik, cukup mulus dan disampaikan dalam pace yang oke, bikin tegang degdegan seperlunya, apalagi dihiasi adegan-adegan spektakuler dari zombie-zombie itu lewat bantuan efek animasi CGI yang seru. Jika ada hal yang kurang, maka itu terdapat pada karakterisasinya yang kurang mendalam, dan untuk tokoh selain Gerry, durasinya terbatas sekali. Aktingnya bagus-bagus, khususnya Mireille Enos yang natural sekali, tapi emosinya kurang bisa terhubung dengan gw, mungkin karena momen-momen emosionalnya sedikit akibat penceritaan yang cepat dan genting itu tadi. Matthew Fox bahkan nggak dikasih dialog panjang ataupun close-up lho *kasian*. Tapi gak masalah lah, asalkan sudah dibangun, nggak tiba-tiba begini dan begitu, porsi karakternya termasuk cukup untuk film seperti ini. Anggap saja filmnya memang konsen ke plot daripada karakter *yaokelah*.

World War Z adalah sebuah tontonan yang seru, tegang-tegang menyenangkan gitu. Ramuan kisah bencana globalnya dibuat dengan logis, penyampaian dari sutradara asal Swiss-Jerman Marc Forster pun terbilang baik dengan berbagai kelengkapan teknis (tata artistik, makeup, sinematografi, suara, efek khusus dan visual) dan aktor-aktor yang memadai. Setidaknya Forster nggak kebelet memecahkan semua kaca beling yang dia punya seperti yang dilakukannya di 007 Quantum of Solace =p. Hanya saja film ini masih belum bisa dikatakan solid dan kurang ugh. Misalnya, film ini tidak terlalu vulgar mempertontonkan horornya, supaya bisa diberi rating remaja (di Amerika), padahal kayaknya bakal lebih nendang seandainya lebih berdarah-darah. Juga, kurang solidnya tone 2/3 awal dengan bagian akhirnya. Ketika bagian awalnya begitu kolosal dan resah, bagian akhirnya begitu minimalis, nyaris seperti nonton dua film berbeda. Faktor perombakan naskah mungkin bisa menjelaskan itu (konon bagian terakhir itu tambahan yang baru syuting di akhir tahun lalu setelah syuting keseluruhannya udah rampung). Namun, secara garis besar sih tidak terlalu melenceng, tetep nyambung sama gagasan besarnya, toh bagian akhirnya juga cukup seru bagaikan film-film horor zombie pada umumnya *ini agak sotoy sih*, meski yah jadi nggak semenggelegar yang diharapkan.

Terlepas dari kenanggungannya, juga disertai kekecewaan gw gak bisa melihat kinerja sinematografi Robert Richardson di sebuah film blockbuster karena beliau mundur di tengah produksimungkin karena produksinya kelamaan tadi, walaupun sepertinya film ini masih menyisakan beberapa shot buatannya, gw masih bisa menikmati World War Z secara keseluruhan. It's good kok. Penggabungan genre bencana dan horor zombie yang cukup asyik, nggak serba ledak dan ancur-ancuran semata, mudah diikuti, dan, somehow, nyaman disaksikan. Tipe film yang bakal oke untuk ditonton ulang kalau ada waktu luang.




My score: 7,5/10

Minggu, 23 Juni 2013

My J-Pop 44

Saatnya gw gulirkan playlist kompilasi J-Pop terbaru gw yang ke-44, dalam jeda yang terpanjang dari volume sebelumnya (7 bulan). Well, mungkin ini karena iklim J-Pop juga kena imbas perubahan *sok nyambung-nyambungin*, banyak hal yang dulu tidak biasa terjadi dalam J-Pop yang makin sering terjadi. Contoh paling jelas adalah artis-artis yang pindah label, atau dari label major ke indie, juga segi penjualan fisik yang kini hanya dikuasai kawanan AKB48 dan Johnny's Agency saja, hanya bisa disaingi oleh beberapa artis senior mapan, tapi itu pun udah nggak sampe 1 juta keping lagi. Belum lagi artis-artis pop Korea yang  marak "buka lahan" dengan materi-materi berbahasa Jepangnya. The music industry has changed, J-Pop is no exception. Tetapi bukan berarti runtuh, karena arena digital (semisal iTunes) kini jadi makin marak, menjadi wadah yang paling strategis buat artis-artis baru ataupun yang gak terkenal banget, dan untungnya warga Jepang adalah tipe yang tunduk pada hukum secara mendarah daging, sehingga mereka tidak keberatan untuk mengkonsumsi musik digital dengan membayar instead of cari gratisan melulu.



Anyway, pergeseran itu mungkin tercermin dalam playlist My J-Pop ke-44 ini, yang bener-bener baru dan gw suka musti gw cari di "pelosok", gak bisa lagi cari di tangga Oricon. Kebanyakan masih diisi oleh artis-artis "muka lama" yang emang gw udah suka, seperti Hata Motohiro, ASIAN KUNG-FU GENERATION, Yu Takahashi, Angela Aki, dan MONKEY MAJIK. Lainnya adalah comeback setelah pernah masuk beberapa kali sebelumnya seperti AI (untuk single-nya yang rilis akhir 2011, hehe), Gen Hoshino, Namie Amuro, Perfume (dengan single yang akhirnya sedikit menunjukkan vokal mereka tanpa efek digital), noanowa, dan juga single terakhir FUNKY MONKEY BABYS sebelum mereka bubar tahun ini karena DJ-nya mau jadi pendeta di kuil keluarganya *ini serius*. You see, dari mereka ini mungkin hanya 3-4 saja yang bisa ditemukan pernah mampir di bagian atas tangga Oricon yang mengandalkan penjualan fisik itu.

Beberapa nama yang baru pertama kali masuk kompilasi gw adalah 9mm Parabellum Bullet yang dari dulu gw pengen bisa masukkan karena namanya keren tapi dulu lagunya belum ada yang gw suka, band jazz instrumental SOIL & "PIMP" SESSIONS yang berkolaborasi dengan Ringo Sheena, vokalis EXILE ATSUSHI yang berkolaborasi dengan pianis tuna netra Nobuyuki Tsuji'i, dan band garage rock THE BAWDIES yang sok iye banget lagunya pake full bahasa Inggris =P. Dan it's a bit strange dalam volume ini gw memasukkan banyak lagu yang melibatkan orang non-Jepang. Selain MONKEY MAJIK tadi yang pemain utamanya bule Kanada, ada Hemenway yang dimotori orang Korea-Amerika, GIRLS' GENERATION yang tentu saja dari Korea, dan juga ada Scott & Rivers, project berbahasa Jepang dari dua vokalis band rock Amerika, Scott Murphy dari Allister, yang sudah beberapa kali menelurkan album cover berbahasa Jepang, dan Rivers Cuomo-nya Weezer (!) yang memang beristri WN Jepang. Jadi ini edisi paling bercitarasa internasional deh, hehe.

Yuk silakan disimak 19 lagu J-Pop yang gw suka dalam 7 bulan terakhir ini. Hei, kali ini juga gw berhasil mengumpulan previews (baik video musik maupun audio streaming) untuk semua lagunya. Selamat menyimak =).



My J-Pop vol. 44


1. 秦 基博 - グッバイ・アイザック (Hata Motohiro - Goodbye Isaac)
2. Hemenway - 祈り (Inori)
3. アンジェラ・アキ - 夢の終わり 愛の始まり (Angela Aki - Yume no owari, Ai no hajimari)
4. ASIAN KUNG-FU GENERATION - 今を生きて (Ima wo ikite)
5. 星野源 - 知らない (Gen Hoshino - Shiranai)
6. SOIL&"PIMP"SESSIONSと椎名林檎 - 殺し屋危機一髪 

(SOIL & "PIMP" SESSIONS and Ringo Sheena - Koroshi-ya kiki ippatsu)
7. 9mm Parabellum Bullet - Answer And Answer
8. 少女時代 - リンガ・フランカ (GIRLS' GENERATION - Lingua Franca)
9. EXILE ATSUSHI & 辻井伸行 - それでも、生きてゆく 
(EXILE ATSUSHI & Nobuyuki Tsuji'i - Soredemo, ikite yuku)
10. AI - ハピネス (Happiness)
11. 安室奈美恵 (Namie Amuro) - Big Boys Cry
12. 秦 基博 - 言ノ葉 (Hata Motohiro - Koto no ha)
13. 高橋 優 - 同じ空の下 (Yu Takahashi - Onaji sora no shita)
14. Perfume - Magic of Love
15. MONKEY MAJIK - If
16. のあのわ (noanowa) - I AM HERE
17. THE BAWDIES - SING YOUR SONG
18. FUNKY MONKEY BABYS - ありがとう (Arigatou)
19. Scott & Rivers - HOMELY GIRL



All previews below

Kamis, 20 Juni 2013

[Movie] Now You See Me (2013)


Now You See Me
(2013 - Summit Entertainment)

Directed by Louis Leterrier
Screenplay by Boaz Yakin, Ed Solomon, Edward Ricourt
Story by Boaz Yakin, Edwart Ricourt
Produced by Alex Kurtzman, Roberto Orci, Bobby Cohen
Cast: Jesse Eisenberg, Mark Ruffalo, Woody Harrelson, Isla Fisher, Mélanie Laurent, Morgan Freeman, Dave Franco, Michael Caine, Michael Kelly, Common, David Warshofsky


Gw bukan termasuk orang yang terlalu "nyari" pertunjukan sulap dan sejenisnya, untuk hiburan sekalipun. You know, karena udah tahu kalau para pesulap dan sejenisnya itu nggak punya ilmu gaib betulan *polos*, jadinya not easily impressed gitu deh. Yah lambat laun juga tahu dan respek bahwa sulap dan sejenisnya lebih kepada permainan trik yang butuh keahlian khusus, apalagi ini umumnya dipertunjukkan di hadapan live audience, tapi tetep aja... Anyway, Now You See Me, sebuah persembahan independen di musim liburan yang ramai, mengambil premis yang cukup menarik mengenai sekelompok pesulap dan sejenisnya *gw pake istilah ini biar mereka yang nggak mau disebut "pesulap" macam Deddy Corbuzier dan Demian nggak tersinggung*, yang merampok bank secara besar-besaran dengan ilmu yang mereka punya...secara terbuka di hadapan ratusan penonton, lalu membagi-bagikan hasilnya kepada penontonnya. Gw tadinya nggak tertarik sama film ini, apalagi melihat sutradaranya, Louis Leterrier yang film-film sebelumnya tidak pernah benar-benar mengesankan gw seperti The Incredible Hulk dan Clash of the Titans. Yang paling oke dari filmografinya mungkin film laga berlagak The Transporter yang cukup asyik, walaupun mungkin karena faktor co-director/fight coreographer Corey Yuen juga sih. Tapi mungkin saja Monsieur Letterier bisa kembali menyajikan keasyikan di film produksi Amerika terbarunya ini.

Adalah pesulap jalanan/underground Daniel Atlas (Jesse Eisenberg), mantan asistennya Henley (Isla Fisher), mentalis dan copet Jack Wilder (Dave Franco, adeknya James Franco), serta ahli hipnotis Merritt McKinney (Woody Harrelson) yang dikumpulkan secara misterius oleh orang tak dikenal dan tak berwujud untuk sebuah misi. Setahun kemudian, keempatnya membuat pertunjukan sulap di panggung besar di Las Vegas dengan nama unit The Four Horsemen, dan langsung membuat kehebohan karena berhasil merampok brangkas sebuah bank di Paris, Prancis, sedangkan di saat yang persis sama uang hasil rampokannya "disiramkan" ke penonton mereka di Las Vegas (ini di Amerika, kali aja ada yang nggak ngeh). Mereka lalu diringkus agen FBI, Dylan Zhodes (Mark Ruffalo) bareng orang Interpol dari Prancis, Alma Day (Mélanie Laurent) yang tak habis pikir bagaimana cara mereka melakukannya. Kekurangan bukti selain "karena sulap" membuat keempatnya dilepas lagi. Pun The Four Horsemen menarik perhatian seorang ahli sulap, Thaddeus Bradley (Morgan Freeman) yang selama ini terkenal karena membongkar rahasia dan trik-trik sulap paling sulit sekalipun. Percobaan penangkapan The Four Horsemen berlanjut tanpa mereka tahu bahwa keempat pesulap ini telah merencanakan aksi-aksi yang lebih dahsyat lagi.

Dengan set-up cerita yang komik banget, bagian paling menyenangkan dari Now You See Me adalah bagaimana aksi The Four Horsemen ini tak hanya menipu para pengejarnya, tetapi juga penontonnya. Bagi yang intrigued sama dunia sulap, pasti sejak awal sudah berusaha memecahkan rahasia dibalik aksi-aksi sulap spektakuler dari keempat pesulap/rampok ini, sebagaimana karakter Bradley. Namun cerita berjalan begitu cepat sehingga ketika kita sedang mencari jawaban, The Four Horsemen sudah berulah lagi dengan aksi-aksi yang tak terduga dan lebih mengundang penasaran. Seperti pada sebuah dialog, mereka selalu beberapa langkah lebih dulu daripada yang lain. Baru secara perlahan pengungkapan demi pengungkapan digulirkan yang "memaksa" penonton untuk bilang "hoooo, gitu toh...". Karena sudah tahu begitu, maka lebih baik menonton film ini secara rileks, nikmati saja, nanti juga semuanya terungkap. Hmm, atau kalau peka sama asas persulapan yang selalu diungkit di film ini, "distraction", dan ternyata apa yang kita curigai memang benar (gw bener dong *belagu*), itu juga nggak mengurangi kenikmatan karena penempatannya tak terduga, jatuhnya tetap terasa menyenangkan. Just like magic, film ini juga oke sekali dalam mendistraksi.

Konsekuensi dari alur dan pacing yang berkonsentrasi pada aksi-aksi "ajaib", membuat Now You See Me ini harus diakui kurang mantap dalam hal karakterisasi dan emosi. Aksi The Four Hoursemen memang simpatik, tetapi merekanya enggak. Justru yang "antagonis"-lah, si pihak penegak hukum yang lebih mengundang kasihan, entah sengaja atau tidak. Beruntung film ini berhasil mengumpulkan aktor-aktor mumpuni yang berkarakter, khususnya Ruffalo, Eisenberg, Harrelson, Freeman plus Michael Caine, sehingga sekalipun penokohannya nggak mendalam secara skrip, mereka tetap berkesan dan mudah diingat oleh penonton, walau mungkin bukan ingat nama tokohnya =p. Selebihnya, Now You See Me adalah sebuah film hiburan yang pas dan mudah diikuti walau berlaju cepat, walau juga motivasinya agak "seriously?" =D. Visualnya ditata cukup oke dan menyegarkan meski gw cukup menyayangkan banyak trik-trik sulap yang "curang" pake efek CGI...tapi mungkin karena bukan di sana intinya, ya nggak? *kedip-kedip*. Bukan film wow, bukan film terpintar, tetapi menghibur tanpa mencelakakan itu pasti. Nontonnya jangan terlalu dipkirin =).




My score: 7/10

Rabu, 19 Juni 2013

[Movie] Cinta dalam Kardus (2013)


Cinta dalam Kardus
(2013 - KG Studio)

Directed by Salman Aristo
Written by Raditya Dika, Salman Aristo
Produced by Salman Aristo, Ruben Adrian S.
Cast: Raditya Dika, Anizabella Lesmana, Ryan Adriandhy, Hadian Saputra, Dahlia Poland, Fauzan Nasrul, Lukman Sardi, Tony Taulo, Tina Toon, Sharena Gunawan


Meskipun bukan "penganut" Raditya Dika sebagaimana banyak remaja dan pemuda urban masa kini, gw cukup tertarik dengan film kedua dari tiga (!) film layar lebar Dika yang dirilis tahun 2013 ini, Cinta dalam Kardus. Pasalnya, film ini semacam edisi khusus dari "Malam Minggu Miko", sebuah serial komedi yang tayang di jaringan Kompas TV, yang gw cukup sukai. Pada akhirnya memang film ini bukan "Malam Minggu Miko: The Movie" karena pendekatan yang dilakukan sama sekali berbeda, nggak ada tuh gaya dokumenter dengan testimoni dari masing-masing tokohnya. Namun, film ini tetap "meminjam" tokoh dari serial tersebut, yakni Miko (Raditya Dika), si pemuda awkward pencari cinta, versi innocent-nya Dika lah kira-kira, dan teman sekontrakannya yang sok kegantengan, Rian (Ryan Adriandhy), serta tak lupa pembantu lugu (banget) mereka Mas Anca (Hadian Saputra). Akan tetapi, fokus film ini tetap pada Miko, yang kali ini sedang gundah karena hubungan dengan kekasihnya yang seorang graphic artist/designer/semacam itulah, Putri (Anizabella Lesman) kini tak seperti dulu lagi, lebih banyak berantemnya, layaknya salah satu mereka sudah berubah jadi orang yang berbeda. Miko menyebutnya "sindrom BTB", berubah tidak baik.

Di suatu malam minggu, Miko pun mencoba melampiaskan kegundahannya lewat stand-up comedy night di sebuah kafe. Awalnya gagal, karena tak satu pun pengunjung kafe yang tampak terhibur dengan keberadaannya di panggung. Namun kemudian Miko membuka ruang obrolan dengan beberapa pengunjungnya, terutama perihal pandangannya tentang cinta yang kebanyakan bernada sinis dan negatif. Berawal dari menggugat "keanehan" cinta remaja kepada sepasang anak SMA labil Caca (Dahlia Poland) dan Kiplik (Fauzan Nasrul) yang sudah saling memanggil ayah-bunda padahal belum sebulan jadian, stand-up Miko bukannya jadi ajang menghibur audiens kafe dengan kelucuan, malah jadi ajang pembongkaran diri Miko, terutama perihal kehidupan cintanya yang tak pernah berjalan mulus dan atau langgeng. Miko pun kemudian bercerita mengenai setiap benda "peninggalan" dari mantan pacar/gebetan yang ia simpan di dalam sebuah kardus, yang tadinya mau dibuang, menceritakan satu per satu pengalamannya yang pahit hingga aneh, sebagai bentuk pembelaannya terhadap teori sindrom BTB-nya itu, yang kerap didebat audiensnya yang menganggap Miko-lah yang salah menyikapi cinta.

Di luar ekspektasi gw, ternyata Cinta dalam Kardus ini sebuah sajian yang agak surreal. Tak hanya dari premisnya yang "harusnya stand-up kok malah ngobrol serius sama penonton" sehingga sama sekali tidak terkesan seperti stand-up comedy night betulan *kayak pernah liat aja*, tetapi presentasinya pun cukup eksperimental, terutama dengan cara sutradara Salman Aristo membuat peragaan/imaji kenangan setiap kisah mantan Miko dengan properti dan dekorasi dari bahan kardus. The whole set-up is a bit weird, tetapi bukan berarti jelek, malahan membuatnya berbeda dari komedi kebanyakan. Toh film ini memang bukan komedi biasa, gw pun ragu kalau film ini bisa dideskripsikan sebagai "lucu", setidaknya bukan lucu huakakakak gitu. Meski diisi dengan berbagai dialog dan gags yang mengundang tawa, nyatanya inti cerita film ini...well...galau. Rasanya feel "galau" ini lebih mendominasi, apalagi dengan pernyataan-pernyataan dan teori-teori Miko (atau Dika) yang bawel tetapi banyak kali menyindir downside dari hubungan percintaan dengan jitu, khususnya di kalangan muda-mudi. Namun, semuanya dibungkus dengan berbagai keabsurdan (khususnya kisah tentang para mantan Miko), sehingga kesannya film ini ya tetap komedi. Perpaduan ini menurut gw cukup berhasil dan menghibur, walaupun ada saatnya pula gw merasa pembuat film ini terlalu berusaha dalam membuat momen emosional/sentimental di antaranya.

Di luar penuturannya yang menarik, Cinta dalam Kardus didukung dengan mantap oleh production value yang menambah daya tariknya. Set design-nya yang memakai kardus itu cukup berhasil dan tidak terkesan asal-asalan, sinematografinya pun berhasil menangkapnya dengan tata gambar dann warna yang menarik, ditambah dengan musik latar yang terasa pas. Dari permainan aktor tidak ada yang bisa dikatakan istimewa, mungkin yang paling menarik adalah Dahlia Poland yang bermain natural, yah selain si Mas Anca yang selalu bikin geleng-geleng. Namun rasanya mereka semua sudah terbantu dengan rancangan karakter yang kuat dari dalam naskahnya, jadi setiap tokoh yang muncul di film ini tetap terkesan menarik, bagaimanapun konyolnya. Oh ya, jangan lupa menyimak lagu tema "Cinta dalam Kardus" dari Endah N Rhesa yang ringan, quirky, dan jenaka tapi menyimpan kegundahan, pretty much describes the film =).

So, yeah, gw menikmati Cinta dalam Kardus yang adalah produksi layar lebar perdana KG (Kompas Gramedia) Studio ini. Jujur sih kalau dari ceritanya film ini nggak terlalu lingering ke gw setelah nonton, mungkin karena kurang relate, tetapi setidaknya konsep dan presentasi keseluruhannya bisa membuatnya tak mudah dilupakan begitu saja. Ini film yang digarap dengan baik, tahu apa yang mau disampaikan, tetap bisa fokus walaupun berisi potongan-potongan kisah berbeda, pacing-nya juga cukup enak dan pas dalam durasi 88 menit. Mungkin masih ada timing komedinya yang meleset, tetapi frekuensi tertawa gw terhadap humornya lumayan sering, jadi nggak ada masalah sebenarnya, oke kok. Dan sekalipun tokoh Miko di sini banyak "menggugat" tingkah laku muda-mudi yang bercinta dengan segala keanehannya, dari gombal-gombal lebay pas baru jadian sampe bertengkar atas persoalan kecil karena si cowok dianggap gagal untuk baca pikiran si cewek (ingat bahwa film ini dari sudut pandang cowok), Cinta dalam Kardus tetap menyimpan sweetness yang, well, mungkin bisa dianggap terlalu teoritis, tetapi tidak keliru juga. Sebuah sajian cukup unik dalam mendewasakan tokoh Miko yang sedang dalam masa transisi cinta-cintaan anak muda penuh ego menuju yang lebih hakiki. Nice.




My score: 7/10

Sabtu, 15 Juni 2013

[Movie] Man of Steel (2013)


Man of Steel
(2013 - Warner Bros.)

Directed by Zack Snyder
Screenplay by David S. Goyer
Story by David S. Goyer, Christopher Nolan
Based upon "Superman" characters created by Jerry Siegel, Joe Shuster
Produced by Charles Roven, Christopher Nolan, Emma Thomas, Deborah Snyder
Cast: Henry Cavill, Amy Adams, Michael Shannon, Diane Lane, Russell Crowe, Kevin Costner, Laurence Fishburne, Antje Traue, Christopher Meloni, Harry Lennix, Richard Schiff, Ayelet Zurer


Pengakuan: karena nggak ngefan-ngefan amat sama Superman, arguably superhero komik paling terkenal di dunia, gw sampai saat ini belum pernah menonton film-film Superman lawas kisaran 1970-1980-an, dan gw agak lupa-lupa gimana gitu sama Superman Returns (2006), tapi seinget gw sih filmnya cukup menghibur...sepertinya. Pun pegangan gw dalam pengetahuan seputar Superman paling banter cuma dari "Superboy", "Lois & Clark" dan "Smallville" di TV, plus salah satu monolog David Carradine di Kill Bill vol. 2. Nah, rupanya DC Comics dan Warner Brothers belum menyerah untuk bikin film Superman meskipun respon terhadap Superman Returns kemarin tidak sebesar yang diharapkan (khususnya box office yang labanya tak seberapa). Melihat kesuksesan Batman dalam trilogi The Dark Knight yang disutradarai oleh Christopher Nolan, mereka pun memanggil lagi mas Chris untuk menjadi "mentor" film Superman baru, yang kemudian mengerjakan ceritanya bersama David S. Goyer (juga penyusun cerita trilogi The Dark Knight). Lalu dipanggil pula filmmaker kesayangan Warner yang lain, Zack Snyder untuk jadi sutradaranya. Tak hanya sampai situ, dalam rangka masih anget-angetnya judul The Dark Knight untuk Batman, Superman terbaru pun judulnya juga nggak pake nama tokoh utama/merek dagangnya, hanya berupa julukan: Man of Steel.

Man of Steel sendiri memang dirancang sebagai sebuah reboot, atau reimagining, atau reestablishment, atau reinstallation *halah*, atau apalah. Intinya sih film ini mulai dari nol tentang asal usul Superman a.k.a. Clark Kent a.k.a. Kal-El (Henry Cavill), dari dia lahir di planet Krypton sampai diakui sebagai penyelamat umat manusia di Bumi. Detil-detil tentang Superman kali ini sedikit berbeda dari yang pernah dikenal (dari komik aslinya juga selalu berubah-ubah sih) dan memang diniatkan tidak berhubungan dengan Superman versi manapun. Salah satu yang paling kelihatan bedanya adalah yang berkaitan dengan Lois Lane (Amy Adams) yang pada versi ini sudah mengenal siapa dan bagaimana itu Clark Kent sebelum munculnya Superman, selain perbedaan tampilan fisik Lois yang berambut merah instead of hitam *persoalan*. Anyway, ini seperti 'Superman Begins', fokus penceritaan film ini berkaitan dengan latar belakang serta pencarian jati diri seorang Kal-El/Clark Kent, kenapa ia dikirim orang tua kandungnya (Russell Crowe & Ayelet Zurer) ke Bumi, tentang hubungannya dengan orang tua yang merawatnya di Bumi (Diane Lane & Kevin Costner) yang mengajarkan Clark untuk hidup bersahaja, apa sebab ia punya kekuatan super-segalanya, juga tentang keputusan yang harus diambilnya ketika Bumi tempatnya tumbuh diserang oleh kaum planet asalnya, Krypton pimpinan Jenderal Zod (Michael Shannon).

Atmosfer cerah dan beraura positif dari dunia Superman jadi lebih redup di sini, namun masih menarik karena secara tema film ini menekankan pada sosok Clark Kent/Kal-El yang adalah seorang alien, baik alien karena saat tumbuh di sebuah desa ia sadar ia berbeda dari yang lain, juga alien dalam arti berasal dari planet lain, lalu alien juga karena tidak mengenal tempat dan kaum asalnya. Film ini tidak menekankan Superman sebagai pahlawan yang dielu-elukan atau (dikutuk), tetapi lebih kepada Clark Kent yang mencari jati diri. Kita diajak untuk mengerti kenapa umat manusia (well, Amerika) mau saja mengandalkan seorang manusia yang sebenarnya adalah makhluk asing. Dengan angle ini, rasanya sah-sah saja kalau feel film ini lebih serius, menggali hakikat Superman yang bukan cuma sekadar pahlawan penyelamat mahahadir tetapi juga punya pergumulan pribadi, serta di sisi lain mengangkat reaksi Bumi ketika melihat sendiri keberadaan makhluk dunia lain di tengah-tengah mereka. At times, film ini lebih terasa sci-fi/disaster ketimbang film superhero. Dan untungnya lagi, penuturannya cukup mudah dimengerti meski alurnya agak acak—bolak-balik masa kini dan memori masa lalu, mengingatkan gw pada film Watchmen karya Zack Snyder yang penuturannya nyaris serupa.

Desain peradaban Krypton-nya keren

Ngomong-ngomong Zack Snyder, rasanya gw tidak pernah kecewa terhadap karya-karya doi sebelumnya yang pernah gw tonton. Ia sutradara yang lihai membuat adegan-adegan laga eye-candy nan fantastis lewat 300 dan Sucker Punch, bahkan bisa bikin perang antar burung hantu animasi jadi terlihat sangat keren di Legend of the Guardians, juga sudah teruji (sukses) dalam menerjemahkan kisah superhero komik lewat Watchmen, walaupun yang satu ini lebih condong ke drama. Gw suka gayanya yang menampilkan tata gambar dan pengarahan yang mungkin bisa dibilang gak-ada-maksud-selain-biar-kelihatan-keren-aja dengan apik dan nggak sembrono, mungkin bisa dibilang seperti gambar komik bergerak, tapi senantiasa menarik dan bahkan puitis. Nah, dalam Man of Steel ini, sepertinya Snyder berusaha berubah gaya. Yang masih tetap mungkin adalah desain visualnya, kali ini cenderung monokromatis dan sendu, tapi masih keren dan lumayan comic-like. Pembukaan film ini di planet Krypton yang punya teknologi sangat maju berpadu dengan kebudayaan yang eksotis ditampilkan dengan sangat keren, mulai dari pakaian, bangunan, hingga peralatannya dengan segala kompleksitas desainnya. Adegan lain yang paling gw suka adalah ketika proyeksi ayah kandung Clark, Jor-El menceritakan tentang hari-hari terakhir Krypton di dalam kapal kepada Clark dewasa lewat tampilan relief bergerak, itu keren banget! 

Di sisi lain ada perubahan gaya yang sangat mencolok, yang bisa menyenangkan bisa juga tidak. Paling kentara adalah kesan tata sinematografinya mencoba meng-Nolan dengan pergerakan dinamis yang mirip-mirip Inception, tapi versi lebih goyah, banget. Agak gw sayangkan kenapa gaya visual Snyder yang biasanya berkomposisi cantik dan indah bagai lukisan (terutama karena pewarnaan gambar/color-grading di pascaproduksinya) harus berkurang keindahannya gara-gara kameranya selalu dalam posisi hand-held yang terombang-ambing tanpa topangan sepanjang durasi, tak peduli mau alasan "biar realistis" atau apa, kelihatan terlalu kasar. Belum lagi editing-nya yang dibuat melaju cepat sehingga seringkali gw nggak sempet meresapi "rasa" adegan dan keindahan visualnya. Hasilnya gw jadi kurang bisa menikmati film ini dibandingkan film Snyder yang lain yang memang lebih alon dan telaten dalam membangun momen visual sekalipun ada saatnya ceritanya tidak seberisi Man of Steel ini.

A potential Zack Snyder-y shot. Potential. :|


Tetapi ada pula keuntungan dari gaya seperti itu, khususnya di bagian klimaks. Karena mengambil gaya semi dokumenter, kita akan lihat kamera seakan selalu kalah cepat dari perpindahan posisi Superman (dan kaum Krypton) ketika bertarung. Pas kamera udah nyorot di sini, eh orangnya udah pindah lagi, kamera geser, kesorot 1 detik, eh orangnya pindah lagi =D. Gw tadinya sedikit kecewa nggak ada sudden slow-motion sok-cool ala Snyder, tetapi tampilan yang disebut barusan dapat mengobatinya. Bukan hanya seru dan efektif, tetapi ini cara jenius dalam menunjukkan definisi faster than a speeding bullet pada deskripsi Superman, karena slow-motion ala "6 Million Dollar Man" sudah terlalu usang. Faster indeed. Demikian juga pada dampak kehancuran dari pertarungan super destruktif di klimaksnya, ada kalanya terasa kelewat panjang dan melelahkan, tetapi paling nggak itu dibuat berdasarkan konsep yang tepat dan sesuai dengan karakter Superman yang memang, well, super, jadi ya nggak salah juga.

Man of Steel adalah sebuah film yang digarap dengan baik dan juga menunjukkan ketokohan Superman dengan komprehensif, cukup mudah dipahami tanpa terkesan konyol, malah membuatnya hadir with a big, big bang. Jajaran pemain kelas wahidnya pun tidak mengecewakan meskipun belum bisa bikin gw terhanyut atau peduli. Selain permainan Cavill dan Adams yang mmm...okelah, ada Kevin Costner, Russell Crowe, Michael Shannon, Laurence Fishburne, Diane Lane, dan aktris Jerman Antje Traue yang masing-masing sempat punya momen yang cukup memorable. Tetapi masih ada celah yang membuat gw nggak bisa menikmatinya senikmat yang gw pinginin. Mungkin dari dialognya yang kadang terlalu "tinggi", kurangnya humor, kurang merasa keterlibatan emosional (kecuali adegan-adegan yang melibatkan Kevin Costner sebagai bapak angkat Clark, he's very good), kurangnya pemahaman sama konsep Jor-El's conscious, atau mungkin simply terganggu sama gambarnya yang terlalu goyang-goyang dan nggak ada sudden slo-mo barang satu pun *tetep*. Untuk kali ini, gw cuma bisa bilang cukup menikmati dan terhibur. Paling nggak gw sudah suka dengan konsepnya, angle dan penuturan ceritanya, penanganan tokoh Superman-nya, juga rancangan visualnya yang spektakuler. Yah, kalau mau disederhanakan, dari 2 jam 20 menitan durasi filmnya, setidaknya gw nggak merasa bosan. Tapi jika boleh milih, gw akan mendahulukan Watchmen dibanding Man of Steel.





My score: 7,5/10

Jumat, 07 Juni 2013

[Movie] After Earth (2013)


After Earth
(2013 - Columbia)

Directed by M. Night Shyamalan
Story by Will Smith
Screenplay by Gary Whitta, M. Night Shyamalan
Produced by Caleeb Pinkett, Jada Pinkett Smith, Will Smith, James Lassiter, M. Night Shyamalan
Cast: Jaden Smith, Will Smith, Zoë Kravitz, Sophie Okonedo


Begini yah, kayaknya selama ini kita memang sudah salah sangka dengan M. Night Shyamalan. Pelajaran yang bisa diambil dari film-film yang dibuatnya adalah bahwa jalan pikiran doski nggak sama dengan pemikiran kita-kita. Karya fenomenal yang mengangkat namanya, The Sixth Sense juga, kita kira ini film horor, eh taunya nggak juga, tapi kita suka ke-"nggak nyangka"-an itu. Lalu hal yang sama juga terjadi di Unbreakable yang ternyata film superhero, dan film alien Signs ternyata adalah film ketuhanan, tetapi itu pun membuat kita semakin kesengsem. Tapi lama-lama kita capek. The Village nggak terduga tapi nggak mengesankan, dan Lady in the Water itu dongeng anak-anak yang tidak punya "rahasia", kita mulai merasa jenuh akan harapan kita sama Shyamalan. Lalu datanglah The Happening yang ide disaster-nya brilian tetapi pengembangannya "udah gitu doang?". Sejak itu, gw memperhatikan apapun yang dibuat oleh Shyamalan selalu dianggap salah dan nista, khususnya di mata sebagian besar orang yang pernah mengaku kesengsem sama dia. Adaptasi kartun The Last Airbender, pertama kalinya dia keluar dari ranah thriller, jadi korban pertama. Setiap jengkal film ini dikutuk bertubi-tubi. Gw sendiri merasa film itu tidak seburuk yang dikatakan orang, tetapi gw mengerti, mungkin karena telanjur sakit hati Shyamalan nggak bikin macam The Sixth Sense atau minimal The Village lagi, emosi telah meracuni penilaian mereka sebagaimana sentimen negatif kita terhadap keberadaan Syahrini sampai menafikan bahwa dia sebenarnya bisa nyanyi. 

Seperti seseorang yang sedang putus cinta/berpisah akan menjelek-jelekkan pasangannya di hadapan orang lain, terlalu mudah ditebak bahwa karya Shyamalan terbaru, After Earth akan dicaci maki saja dirinya bila itu bisa membuat mereka kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala. Tidak seperti pemikiran Shyamalan, pemikiran orang-orang ini mudah sekali ditebak. Sedangkan bagi gw pribadi, 4 film terakhir Shyamalan sebenarnya seperti skema yang, entah disengaja atau tidak, mengajar gw untuk berhenti berharap yang "aneh-aneh" pada karya-karya selanjutnya. The Sixth Sense adalah karya hebat, itu salah satu film top favorite gw sepanjang masa, tetapi mengharapkan semua karya Shyamalan seperti itu ya sama seperti mengharapkan Steven Spielberg gak usah bikin The Color Purple atau Catch Me If You Can, bikin model E.T. dan Jurassic Park aja terus. Shyamalan sendiri sudah move on dari twist-twist-an semenjak Lady in the Water, masak kita nggak? Justru ini membuat gw jadi melihat bahwa daya tarik film-film Shyamalan sesungguhnya bukan pada bagaimana cara bikin twist, tetapi bagaimana ia secara khas mempresentasikan filmnya dalam bentuk visual yang clean, simplisitik, dan mengandalkan dialog.

Karena sikap itulah, gw termasuk golongan yang bisa menikmati After Earth, film pertama Shyamalan yang emang bener-bener proyek orang lain, bukan inisiatif dirinya, which makes the concealing of his name in the film promos kind of made sense, apart from the suspicion that many thought that it would make people ilfil. After Earth lebih merupakan proyeknya keluarga Will Smith, di mana materi ceritanya disusun oleh Will Smith bersama adik iparnya Caleeb Pinkett, lalu mengedepankan putra remajanya, Jaden Smith sebagai bintang utama, dan nama sang istri Jada Pinkett juga turut tercantum sebagai produser. Plotnya sederhana, banget, tentang ayah dan anak yang selamat dari sebuah kecelakaan maut di tempat antah berantah tak berpenghuni, berusaha untuk sintas dan meminta pertolongan. Lalu kisah ini dibungkus dalam setting 1000 tahun sejak Bumi tak layak huni karena polusi sehingga umat manusia sekarang hidup di sebuah planet bernama Nova Prime. Di tengah perjalanan ke planet lain dalam rangka menuju pelatihan prajurit Ranger, Cypher Raige (Will Smith) dan putranya, Kitai(Jaden Smith) mengalami kecelakaan di planet nenek moyang mereka, Bumi. Tetapi Bumi kini sudah berubah dan tak menopang hidup manusia, dan usaha agar bisa pulang bukanlah perkara mudah.

Tidak ada twist di film ini, deal with it already! After Earth adalah kisah petualangan sekaligus fiksi ilmiah yang lurus-lurus saja, tidak ada usaha untuk memperumit atau gimana, karena memang tidak perlu. Intinya Kitai ditugaskan mencari alat SOS yang tersedia di bagian pesawat yang jatuh sangat jauh dari posisi mereka, sedangkan Cypher nggak bisa ikut karena dalam kondisi terluka. Tetapi dibilang lurus banget juga nggak sih, karena di luar kisahnya yang sederhana dan bangunan ruang yang cukup megah, film ini lebih menekankan pada hubungan antar karakter. After Earth bisa dipandang sebagai proses pendamaian dua karakter yang terikat hubungan darah. Cypher adalah jenderal Ranger yang tangguh, tegas, dan tanpa rasa takut—sehingga bisa dengan mudah melawan hewan alien Ursa yang buta tapi bisa mencium ketakutan—yang juga membuatnya jarang di rumah, dan hubungannya dengan Kitai agak distant dan kaku. Sedangkan Kitai, namanya juga ababil sok, agak krisis percaya diri melihat ayahnya sebagai sosok legendaris yang dihormati, ia ingin membanggakan sang ayah, ia ingin jadi tangguh dan dapat diandalkan oleh ayahnya padahal ia sendiri gagal lulus jadi Ranger.

Tarik napas...

Di sisi lain gw juga memperhatikan ada perumpamaan spiritual. Bukan, gw nggak bahas Scientolo-apalah-itu, tetapi gw melihat hubungan Chypher sebagai bapak dengan Kitai sebagai anak mengumpamakan secara sederhana hubungan manusia dan sang Pencipta. How so? Yah, sekalipun Kitai harus jalan sendirian, Chypher menekankan bahwa ia selalu bersama Kitai lewat alat komunikasi, bahwa ia akan terus melindungi. Tetapi kenyataan di lapangan membuat Kitai cenderung tidak menuruti petunjuk bahkan melawan perintah ayahnya, sampai komunikasi mereka terputus setelah Kitai "jatuh". Mulai di titik ini yang bisa dilakukan Cypher adalah mengawasi Kitai secara satu arah tanpa bisa saling berkomunikasi, dan hanya berharap anaknya tahu apa yang harus dilakukan. Sedangkan Kitai yang tersesat hanya bisa berusaha mengingat-ingat apa yang sudah diperintahkan ayahnya agar dapat sampai ke tujuan dan menyelesaikan misinya. It is about trust, and also faith, sesuatu yang sesungguhnya tidak terlalu mengherankan bila mengingat Shyamalan pernah bikin Signs, dan penulis naskah Gary Whitta sebelumnya juga menulis naskah film The Book of Eli.

Gw sih nggak bisa bilang film ini jelek. Well, okay, memang Jaden Smith aktingnya datar aja, tetapi selebihnya film ini fine-fine aja. Ceritanya punya sebab akibat yang jelas, bermakna dalem, lalu ada pengarahan khas Shyamalan yang minimalis dan sunyi dibumbui beberapa momen suspense yang efektif. Beberapa konsep fiksi ilmiah dan dunia masa depannya mungkin tidak w-o-w ataupun orisinal, namun gw merasa semuanya dibangun cukup baik dan detil, dari pakaian militer yang bisa berubah warna sesuai keadaan dan juga pedang yang punya banyak pilihan bentuk, sampai ke alat makan dan aksen bahasa yang rada nyerempet British, eh pesawatnya pake warp juga loh. Penggambaran Bumi pascaperginya umat manusia juga cukup menarik, udaranya sudah berubah, hewan-hewan pun sudah berevolusi dan membahayakan manusia. Bagi orang-orang yang sudah punya praduga bersalah hal-hal ini bisa dipandang lame, tetapi buat gw ini membuktikan para pembuatnya nggak asal bikin, dan setidaknya enak dilihat.

Sekali lagi, karena gw sudah lebih rileks dalam "menghadapi" Shyamalan, pada akhirnya gw bisa menikmati karya terbarunya ini sebagaimana adanya. Gw nggak lagi berharap Shyamalan bikin film se-"pecah" trio The Sixth Sense-Unbreakable-Signs, tetapi sedikitnya lebih bagus dari The Last Airbender yang berdialog aneh dan casting-nya ble'e aja sudah cukup, dan After Earth sudah memenuhi itu. After Earth is no classic, but it is definitely bukan film busuk. Silahkan tidak suka dengan ceritanya yang sederhana banget, pacing-nya yang agak lambat dan minim action (atau menurut gw intens, lagian nggak se-slow Oblivion kemaren), konsep dunia masa depan yang tampil sekilas saja, efek visual/animasi yang beberapa di antaranya nggak halus. Silahkan. Terserah. Tetapi menghakimi (atau menurut gw menzalimi) film ini dengan bilang ancur banget adalah sebuah sikap yang....yah terserah juga sih, siapa gw ngatur-ngatur hidup eloh =P. Lagian bisa saja penerimaan gw terhadap film ini hanya karena gw memang terlalu mudah dibodohi, atau pelet Shyamalan masih berlaku ke gw, tetapi dari cerita, jalan cerita, konsep cerita, tata visual dan suara, musik dll., After Earth bagi gw adalah film yang watchable dan bahkan enjoyable. Gw suka. Setidaknya gw kali ini bisa menikmati karya Shyamalan yang nggak narsis, udah mau pake naskah orang lain (sebagian) sehingga konsen di penyutradaraan, dan nggak ikut cameo. Akhirnya.




My score: 7,5/10

Rabu, 05 Juni 2013

[Movie] Jurassic Park (1993)


Jurassic Park
(1993, 2013 re-release in 3D - Universal)

Directed by Steven Spielberg
Screenplay by Michael Crichton, David Koepp
Based on the novel by Michael Crichton
Produced by Kathleen Kennedy, Gerald R. Molen
Cast: Sam Neill, Laura Dern, Jeff Goldblum, Richard Attenborough, Bob Peck, Joseph Mazzello, Ariana Richards, Wayne Knight, Martin Ferrero, Samuel L. Jackson


Mungkin ya, tahun 1993 adalah tahun konfirmasi seorang Steven Spielberg sebagai sutradara handal dan versatile. Beliau menyutradarai dua film akbar: Jurassic Park yang mem-"bombardir" box office dunia, lalu Schindler's List yang berjaya di ajang penghargaan. Well, at least pada sekitar tahun itulah gw baru mendengar nama Steven Spielberg sang sutradara hits (udah pernah juga sih nonton Hook tapi nggak perhatiin siapa sutradaranya), maklum baru 7 tahun dan pengenalan akan dunia film masih terbatas, waktu itu taunya film-film Disney aja...di kaset video BetaMax bajakan pulak =D. Nah akibatnya, gw termasuk orang yang tidak menikmati Jurassic Park sebagai sebuah movie event dan fenomena pada masanya, mungkin dulu gw mikirnya yang bukan kartun atau komedi belumlah tontonan untuk gw padahal karena ngeri aja sih liat monster/hewan-hewan besar bergigi tajam. Jadinya gw nonton The Land Before Time aja, hahaha. Kalau nggak salah gw baru nonton utuh waktu SMP lewat VCD, dan gw akui, meski bukan favorit pribadi, Jurassic Park itu sebuah film yang timeless, thrill sebuah film yang berumur hampir satu dekade masih tetap terasa sekalipun lewat media secupu VCD. Lagipula efek-efek yang "membangkitkan" beraneka ragam dinosaurusnya masih terlihat mengagumkan.

Nah, menyambut 20 tahun sejak Jurassic Park dirilis pertama kali, Universal Pictures merilis ulang secara terbatas film favorit banyak orang ini dalam format 3-Dimensi, sama seperti yang dilakukan Finding Nemo dan Titanic tempo hari. Iya sih, Jurassic Park itu film besar yang sukses menjual jutaan home video dan sudah diputar ribuan kali di televisi, bahkan sudah ada dua sekuelnya, kenapa juga musti nonton di bioskop lagi sekarang? Tetapi, kenapa nggak? Mau 3D atau nggak, apa yang salah dengan menyaksikan kembali film favorit di layar besar? Khususnya buat gw yang 20 tahun lalu belum akrab sama bioskop, ini adalah kesempatan gw merasakan sensasi Jurassic Park di bioskop, sekalian kepo apa sih yang dulu bikin film ini hits banget. Dan hasilnya, bagaikan menyaksikan pertama kali, film ini tetap sukses untuk menghibur dan mengundang decak kagum. Lagipula, surprise, efek konversi 3D-nya ternyata asik dan lebih ngefek daripada film-film hasil konversi lainnya. Ngefekkk benerr *masih syok adegan ngidupin saklar*.

Sedikit menyegarkan ingatan bagi yang lupa atau belum tahu (hah? belum tahu?), Jurassic Park ini adalah kisah petualangan sekelompok orang yang terjebak di sebuah pulau taman safari. Tetapi bukan taman safari biasa, karena Jurassic Park di pulau Isla Nublar kawasan Karibia ini adalah taman yang dipersiapkan untuk jadi fenomenal, karena isinya dinosaurus hidup! Sekelompok ilmuan di bawah Mr. Hammond (Richard Attenborough) berhasil meng-kloning pelbagai jenis spesies dinosaurus beserta segenap flora zaman purba yang harusnya sudah punah, mengembangbiakkannya lalu menempatkannya di seluruh taman. Namun, akibat sebuah peristiwa kecelakaan kerja, pemilik modal ingin mengadakan investigasi tentang safety taman yang belum dibuka untuk umum ini. Demi mendapatkan endorsement para ahli, Mr. Hammond pun mengundang Dr. Grant (Sam Neill) si ahli dinosaurus, ceweknya Dr. Sattler (Laura Dern) ahli tanaman purba, juga Dr. Malcolm (Jeff Goldblum) si ahli matematika dan teori chaos untuk inspeksi kelanjutan proyek Jurassic Park. Akibat sebuah skema jahat dari seorang teknisi, Dennis Nedry (Wayne Knight) yang menyebabkan kerusakan sistem taman, termasuk sistem keamanan dan komunikasi (dan "untungnya" kala itu handphone belum memasyarakat), orang-orang ini harus berusaha sintas di tengah badai tropis yang menimpa pulau itu, karena dino-dino berbahaya semacam T-Rex dan Velociraptor kini juga berkeliaran bebas mengikuti naluri hewaninya tanpa ada yang bisa menghalangi. 

Jurassic Park adalah sebuah petualangan yang menegangkan nan mengasyikkan. Konsep taman safari dinosaurus saja sudah mengundang decak kagum seperti kekaguman para tokoh di film ini, tetapi bahwa arahnya jadi inspection gone wrong membuatnya jadi begitu thrilling dan menggedor jantung *masih syok adegan dino beracun di mobil Nedry*. Apalagi efek-efek robot dan animasi untuk menghidupkan dinosaurusnya yang sangat mencengangkan pada zamannya itu masih dan masih tampak mengagumkan  sekaligus masih efektif menimbulkan kengerian (membuktikan practical effects untuk hewan-hewan lebih serem daripada animasi CGI). Oke, mungkin jika dilihat keseluruhannya sekarang sudah tampak "Hollywood banget" dengan tata adegan yang terlalu staged, dan segala situasi dan segala hal dibikin gone wrong dan mepet agar meningkatkan ketegangan kegemesan, juga ditambah segala kebetulan-kebetulan, tetapi itulah juga faktor yang membuat film ini mengasyikkan. Toh film ini tetap menampilkan humor-humor dan karakter-karakter yang menarik dan dibangun dengan sangat baik, di samping sisi fiksi-ilmiahnya yang masih bisa diterima akal. Sekarang setelah menyaksikan lebih saksama di layar besar (plus 3D), gw akhirnya dapat menilai bahwa Jurassic Park memang layak atas kesuksesannya. Sebuah film yang heran, megah, menghibur, dan crazy fun sekalipun sudah berumur. Itulah tandanya film yang klasik yang akan selalu dikenang *masih syok adegan Velociraptor bisa lompat ke meja* *ngeheklah*.




My score: 8/10

Selasa, 04 Juni 2013

[Movie] Sang Kiai (2013)


Sang Kiai
(2013 - Rapi Films)

Directed by Rako Prijanto
Written by Anggoro Saronto
Produced by Gope T. Samtani
Cast: Ikranagara, Christine Hakim, Agus Kuncoro, Adipati Dolken, Ernest Samudra, Dimas Aditya, Meriza F. Batubara, Arswesndi Nasution, Dymaz Shimada, Keio Pamudji, Nobuyuki Suzuki, Norman R. Akyuwen, Royhan Hidayat, Emil Kusumo


Kesuksesan Sang Pencerah pada tahun 2010 lalu seakan meluluskan para pembuat film untuk membuat lebih banyak film-film tentang kisah hidup pahlawan nasional. Tahun lalu hadir pula film Soegija yang berlatar kemerdekaan Republik Indonesia, dan saat ini juga sedang diproduksi film tentang Soekarno. Menurut gw ini kecenderungan yang bagus, karena biasanya (dan seharusnya) film-film seperti ini menampilkan production value yang menjanjikan, sekaligus menjadi sarana pengetahuan yang cukup mengasyikkan. Pertengahan tahun ini Indonesia diajak untuk lebih mengenal Kiai Haji Hasyim Asy'ari yang disebut Hadratussyaikh (maha guru), seorang ulama besar yang juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) lewat film berjudul simply Sang Kiai.

Mengambil latar waktu yang bisa dibilang paralel dengan film Soegija, Sang Kiai mengambil rentang waktu dari tahun 1942 ketika Jepang menduduki wilayah Indonesia hingga 1949 ketika Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan RI. Sang Kiai intinya ingin menceritakan peran KH Hasyim Asy'ari (Ikranagara) dalam kemerdekaan Indonesia, mulai dari penangkapannya oleh tentara Jepang karena dituduh bertanggung jawab atas sebuah penyerangan, lalu pembentukan Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) yang dipimpin Kiai, kemudian berlanjut pada perlawanan terhadap penyerangan Belanda pascakemerdekaan, terkhusus peristiwa 10 November 1945 di Surabaya (bagi yang nggak ngeh, ini nantinya diperingati sebagai Hari Pahlawan). Namun pada film ini juga ditampilkan cerita tentang beberapa pengikut santri (kayaknya fiktif, kayaknya ya) di pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur yang dipimpin Kiai, khususnya santri muda Harun (Adipati Dolken) yang digambarkan punya pola berpikir berbeda dengan Kiai dalam hal melawan penjajahan.

Gw memperhatikan perbedaan pandangan Kiai dan Harun ini menarik. Rako Prijanto dan tim cukup jeli mengangkat sebuah sisi yang sangat mungkin terjadi, yaitu keraguan Harun akan kepemimpinan Kiai yang adalah panutannya. Pasalnya Kiai memimpin Masyumi, yang mengarahkan para ulama untuk memotivasi rakyat (termasuk memakai ayat-ayat suci) demi meningkatkan hasil bumi, untuk kemudian pihak Jepang juga mendapatkan bagian. Masyumi sendiri memang diinisiasi oleh Jepang sebagai strategi agar dapat mengumpulkan dukungan rakyat pribumi lewat jalur agama, namun di sisi lain organisasi ini juga digunakan Kiai beserta rekan-rekannya, termasuk putranya, Wahid Hasyim (Agus Kuncoro) agar pada saatnya bisa melawan dari dalam—dan saat itu tiba ketika Jepang hendak mempersenjatai rakyat pribumi melawan Sekutu, lalu mengizinkan Masyumi membentuk Hisbulloh yang terdiri dari para santri yang dilatih militer. Harun mana tahu soal strategi itu, ia hanya tahu pihak Jepang itu penjajah dan harus dilawan, "kompromi" yang dilakukan oleh Kiai terhadap penjajah membuatnya kecewa, yang menurut gw cukup masuk akal dan memberi sebuah depth dalam kisah film ini. But, fokus filmnya nggak di situ...bahkan kalau mau jujur gw gak tau film ini fokusnya mau di mana. Mungkin terlalu kewalahan dengan pengenalan dan pembangunan banyak karakter (apalagi banyak tokoh-tokoh besar) dan penggambaran situasi, Rako dkk kurang jelas menekankan sebenarnya ingin menyampaikan apa, dalam bingkai apa, atau statement-nya apa.

Nuhun sewu nih kalau saya membandingkan, tetapi sebagai film cerita, Sang Pencerah dengan segala kelemahannya berhasil menyampaikan statement tentang isu perbedaan pandangan, dan dalam bingkai/benang merah terbentuknya organisasi Muhammadiyah. Dalam Soegija, meskipun judulnya agak misleading, punya statement kuat tentang kemanusiaan dan peperangan. Ini yang nggak berhasil gw tangkep dari Sang Kiai. Meskipun judulnya demikian, film ini terbilang "epic" karena rentang waktunya panjang, dan ternyata yang dibahas bukan cuma sang Kiai. Sedangkan dibilang biografi tentang sang Kiai pun porsinya tidak memenuhi, set-up karakter Kiai juga dibangun instan sekali di adegan pembuka, gw sebagai penonton awam tidak sampai paham kenapa KH Hasyim Asy'ari begitu disegani dan pengikutnya sangat banyak. Beliau sebagai pendiri NU saja tidak dibahas. Perihal info-info ini jadinya harus gw cari sendiri di luar filmnya. Agak PR ya. So, jatuhnya film ini hanya bercerita saja, seperti visualisasi buku sejarah yang nge-skip bab pembukanya, agak terasa nggak utuh. Dan lagi meskipun ada momen-momen personal yang ditata apik, momen-momen yang harusnya bisa menggugah rasa tak sedikit seperti lewat saja...serta banyak sekali penjelaskan situasi/peristwa yang dituliskan (as in penonton harus baca, kadang nimpa subtitel), bukannya diujarkan, alih-alih ditunjukkan. Sayang sekali ke-epic-an film ini jadi nanggung. Biaya/deadline-nya mepet kali ya.

Tetapi di luar itu, sadar bahwa filmnya mengusung tokoh-tokoh besar yang dihormati, pembuat Sang Kiai memang tampak sekali tidak main-main dalam hal produksinya. Sang Kiai digadang-gadang sebagai film termahalnya Rapi Films, dan itu dibuktikan dari tampilan film ini. Desain produksi yang tampak otentik, sinematografi jempolan, tata kostum, tata suara, serta efek  khusus a.k.a. ledak-ledakan dan tembak-tembakan yang apik (mungkin pengecualian pada efek animasi digitalnya). Gw bahkan menganggap Sang Kiai adalah salah satu film Indonesia dengan tampilan visual terbaik tahun ini (so far). I mostly enjoy the film for its look. Ini pun diperkuat dengan penampilan para aktor yang meyakinkan, termasuk Adipati Dolken, walau ya tetep masih kalah dari kharisma Ikranagara, Christine Hakim sebagai istri Kiai, serta Agus Kuncoro yang bermain sangat mantap. Namun, casting yang kolosal juga bukan berarti tanpa hambatan. Meskipun sudah cukup teliti dalam menggambarkan tentara Inggris (yang tidak cuma terdiri dari orang Inggris), film ini masih agak kesulitan dalam casting tentara Jepang padahal porsinya cukup besar...yah banyak masih extras yang tidak kelihatan seperti Jepang, baik tampang, gestur, maupun cara bicara yang lebih mirip antek yakuza di film-film daripada tentara. Untungnya untuk peran perwira memakai aktor yang memang orang Jepang (ada Pak Suzuki itu lagi), jadi kejanggalannya nggak berkelanjutan.

Tapi sebenarnya, juga terlepas dari permasalahan mana sejarah mana fiksi dan sebagainya, Sang Kiai ini masih sangat bisa dinikmati, apalagi bagi penyuka period piece pasti suka dengan tampilan visual film ini. Ceritanya pun sebenarnya masih lumayan enaklah diikuti sekalipun ada beberapa kelemahan di awalnya, terima kasih juga kepada jajaran aktornya yang bermain baik. Dan gw udah bilang belum gambarnya oke? Hehehe. Gak mungkin gw kasih penilaian jelek buat film ini, production value-nya terlalu valuable untuk diabaikan. Toh, setidaknya ketokohan KH. Hasyim Asy'ari—yang juga adalah kakek dari mantan presiden KH. Abdurrahman Wahid, baik sebagai pribadi, ulama, maupun pejuang kemerdekaan RI, masih ditampilkan dengan penuh penghargaan. Tidak sempurna, tetapi rada sayang kalau dilewatkan.




My score: 7/10