Jumat, 31 Mei 2013

[Movie] Epic (2013)


Epic
(2013 - 20th Century Fox/Blue Sky Studios)

Directed by Chris Wedge
Story by William Joyce, James V. Hart, Chris Wedge
Screenplay by James V. Hart, William Joyce, Daniel Shere, Tom J. Astle, Matt Ember
Based on the book "The Leaf Men and The Brave Good Bugs" by William Joyce
Produced by Jerry Davis, Lori Forte
Cast: Amanda Seyfried, Colin Farrell, Josh Hutcherson, Christoph Waltz, Beyoncé Knowles, Aziz Ansari, Chris O'Dowd, Steven Tyler, Jason Sudeikis, Pitbull


Ketika banyak pemerhati film agak silau sama merek Pixar dan DreamWorks saat membicarakan produk film animasi komputer/CGI, sesungguhnya ada satu lagi studio yang tak kalah sukses dalam mempersembahkan film-film karyanya, yakni Blue Sky Studios—yang diinduki 20th Century Fox. Meski kerap "terlewatkan" dari radar penghargaan bergengsi, tak dipungkiri bahwa Blue Sky termasuk konsisten dalam menghasilkan film-film yang menghibur dan berkualitas baik, pun sukses secara komersial. Sejauh ini gw nggak pernah kecewa dengan film-filmnya Blue Sky. Gw emang baru nonton Ice Age, Robots, Ice Age 3, dan Rio (kurang Horton Hears a Who dan 2 seri Ice Age lainnya), tapi semuanya adalah film-film menyenangkan dengan karakter-karakter berwarna dan visual yang indah nan canggih. Nah, lewat Epic, Blue Sky seperti berusaha menaikkan level, masih mengandalkan keindahan visual, tetapi ceritanya tidak se-haha-hihi film-film mereka sebelumnya.

Mary Katherine atau biasa dipanggil M.K. (Amanda Seyfried), seorang remaja rada emo yang baru ditinggal wafat sang ibunda dan terpaksa harus tinggal dengan ayahnya, Prof. Bomba (Jason Sudeikis) di tempat penelitiannya di hutan, mendapati dirinya masuk ke dalam sebuah "dunia lain" yang tak kasat mata. Pertemuannya dengan seorang ratu peri Tara (Beyoncé) membuat tubuh M.K. menyusut dan kemudian menyaksikan sendiri bahwa terdapat sekumpulan peri—yang berukuran kira-kira sebesar jari manusia—yang tak hanya menghuni seluruh hutan, tetapi menjaga kelangsungannya. M.K. pun secara tiba-tiba ditugaskan untuk menghantar sebuah kelopak bunga berisi "nyawa hutan" yang harus diberikan kepada yang berhak, namun kelompok peri pembusuk/penggersang yang dipimpin Mandrake (Christoph Waltz) juga menginginkan "nyawa hutan" itu dalam genggamannya agar segenap hutan berada di bawah kekuasaannya. M.K. tak sendiri, ia dibantu dan dilindungi pasukan Leaf Men, Jenderal Ronin (Colin Farrell) dan Nod (Josh Hutcherson), serta duo siput+keong penjaga kelopak bunga Mub (Aziz Ansari) dan Grub (Chris O'Dowd) untuk menuntaskan tugasnya, agar Mandrake tak berkuasa dan merusak keseimbangan alam.

Ratu Tara di telaga. Elok nian.

Blue Sky did it again. Epic adalah film animasi yang exciting dan seru, gw sudah lama tidak merasakan sebuah keseruan serupa dalam film animasi semenjak Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole keluaran studio Animal Logic/Warner Bros. Ga'Hoole, yang buat gw kayak film 300 versi burung hantu, mungkin jadi perbandingan yang tepat buat Epic karena sama-sama berjenis dongeng fantasi petualangan, dan ada perang-perangannya. Bagian perang-perangan inilah yang mungkin jadi jualan utama Epic, membuatnya seperti versi "mini" dari The Lord of the Rings (plot-nya juga mirip-mirip sih), but it worked, seru banget dan tampilannya keren. Impresifnya tampilan film ini dipersenjatai oleh teknik animasi, tata visual plus efek visual yang sangat cakep. Desain visual serba hijau daun terpadu indah dengan detil-detil dunia kaum peri, begitu pula menyatu dengan desain karakternya, terutama para peri itu sendiri yang seakan memakai pakaian indah (atau tidak indah, tergantung di pihak yang mana) langsung dari alam. Soal ini gw secara khusus suka banget sama armor para Leaf Men yang mirip baju zirah samurai (mungkin ada hubungan sama nama Jenderal Ronin) dengan detil warna dan motif yang "minta banget" dijadiin inspirasi cosplay. Pokoknya secara visual yang juga melibatkan William Joyce, penulis buku sumbernya (yang juga penulis materi sumber film Rise of the Guardians-nya DreamWorks) sebagai production designer, Epic memang memenuhi janjinya dalam menyajikan tontonan yang indah dan apik.

Di sisi lain, kisah yang diusung Epic memang terbilang plain and simply dongeng, intinya sih tentang baik versus jahat sebagaimana sering dijumpai dalam cerita-cerita yang ditargetkan pada anak-anak. Tetapi gw senang dengan penanganan sutradara Chris Wedge dan timnya dalam mempertajam dunia dongengnya ini, nggak memperlakukannya sekedar saja. Berbagai justification yang ditampilkan, misalnya kenapa peri tidak bisa dilihat oleh mata manusia, rasanya mudah diterima, justru membuat gw semakin terhanyut dalam dunianya. Namun yang lebih oke lagi adalah bagaimana mereka membangun tiap karakternya dengan distinctive dan simpatik. Gw suka banget gambaran awal hubungan awkward antara M.K. dan ayahnya karena telah cukup lama gak connect karena perceraian, atau vibe yang muncul antara Ronin yang supercool itu dengan Ratu Tara, singkat tetapi kena banget. Ritme filmnya juga diatur dengan sangat baik, rapih, nggak ada yang terasa terburu-buru. Dan untungnya lagi, sekalipun tone keseluruhan filmnya tidak mengutamakan komedi, penempatan humor dalam film ini pun oke dan menghibur, kemunculan tokoh "alat khusus pemancing tawa", Mub dan Grub bekerja cukup baik dan tidak mengganggu. Aziz Ansari is phenomenal =D.

Look at the armors' detail

Yah, bisa saja banyak yang menganggap film ini lebih cocok buat anak-anak saking sederhananya cerita yang dibawakan. Tidak ada pesan-pesan moral yang kompleks, metafora dan alegori kontemplatif dan sebagainya. Namun, menurut gw, kadang sebuah tontonan yang bagus (dan asyik) tidak perlu itu semua, asalkan disajikan dengan cara yang enak dan tepat, sehingga membuat penonton sok gede sekalipun rela melepaskan inner child mereka. Epic buat gw tetap mengasyikkan, keren malahan. Apalagi ini datang dari studio yang sebelumnya lebih banyak berkecimpung di ranah komedi keluarga, Epic ini membawa angin segar. Film ini seperti jawaban Blue Sky akan tantangan memadukan kisah fairy tale khas Disney klasik yang dulu sangat disukai dengan adegan-adegan laga yang lebih diakrabi sama penonton zaman sekarang, dan hasilnya oke beratts. Gw akui sih film ini sedikit terlalu ambisius dalam memoles kesederhanaan ceritanya, termasuk dalam pemberian judulnya, serta pemaksaan menjual nama selebritas terkenal dalam jajaran pengisi suaranya (Steven Tyler okelah. But, Pitbull? Seriously?), namun tidak menghalangi gw dalam menikmati setiap momen yang disajikannya. Indah dipandang, enak diikuti, dan seru!




My score: 7,5/10

Rabu, 29 Mei 2013

[Movie] Laura & Marsha (2013)


Laura & Marsha
(2013 - Inno Maleo Films)

Directed by Dinna Jasanti
Written by Titien Wattimena
Produced by Leni Lolang
Cast: Prisia Nasution, Adinia Wirasti, Ayal Oost, Ratna Riantiarno, Tutie Kirana, Restu Sinaga, Amina Afiqah Ibrahim


Film yang berkisah tentang perjalanan, atau sering diistilahkan road movie, senantiasa punya dua daya tarik utama. Pertama, lokasinya. Seringkali dalam film ditampilkan lokasi perjalanan yang menarik bahkan eksotis bagi kebanyakan penonton, bisa jadi semacam virtual traveling gitu. Kedua, karakternya. Tentu menarik menyaksikan interaksi dan perkembangan karakter-karakter yang sedang melakukan perjalanan bersama, apalagi kalau sifat-sifatnya ekstrim atau bertolak belakang. Malahan "drama" dapat terjadi hanya karena perbedaan karakter itu tanpa harus dipicu peristiwa atau keadaan sekitar. Film terakhir yang dalam ingatan gw berhasil mempersembahkan itu semua dengan baik adalah Rayya Cahaya di Atas Cahaya karya Viva Westi. Laura & Marsha karya Dinna Jasanti juga adalah contoh basic dalam mengusung dua daya tarik utama sebuah road movie. Film ini mengisahkan dua perempuan bersahabat yang melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa, dan dikisahkan juga dua orang ini punya sifat bertolak belakang. Secara filmis ini tentu menarik, sekalipun semua orang juga tahu kalau seorang yang well-planned melakukan perjalanan bersama seorang yang slebor adalah completely the worst traveling idea ever.

Laura (Prisia Nasution) kerja di sebuah agen perjalanan, punya seorang putri kecil (Amina Afiqah Ibrahim) yang diurusnya bersama sang bunda (Ratna Riantiarno) karena sudah empat tahun ditinggal entah ke mana oleh suaminya, Ryan (Restu Sinaga). Sempat mengalami koma sehabis ditabrak truk di depan kantornya di kompleks rukan Wijaya *sotoy*, Laura akhirnya mengiyakan tawaran sahabatnya seorang travel enthusiast dan penulis yang sebatang kara, Marsha (Adinia Wirasti), untuk jalan-jalan berdua ke Eropa. Hidup cuma sebentar, katanya. Jadi mereka mulai di Amsterdam, Belanda lalu nyewa mobil untuk jalan ke Jerman sampai  2 minggu kemudian berakhir di Venezia, Italia. Rencananya sih gitu. Rencananya.


Here's the thing, tentu akan menarik jika melihat dua watak bertolak belakang "bertarung" untuk menikmati perjalanan yang terbaik menurut masing-masing. Lagipula, konon katanya sifat asli seseorang akan kelihatan jelas saat traveling bersama. Laura sejak awal sudah ditunjukkan sebagai orang yang, meskipun kerja di agen perjalanan, banyak mikir dan kaku, juga terkesan "nggak menikmati perjalanan" karena masih terikat sama anaknya di rumah sehingga harus nelpon terus. Marsha digambarkan sebagai orang yang asyik aja, spontan, ingin coba segala sesuatu, gemar tantangan, cepat akrab sama orang baru, lalala yeyeye dan sejenisnya. Di atas kertas, ini adalah tontonan banget...hingga pada titik gw merasa pembuat film terlalu berusaha keras untuk membuat perjalanan Laura & Marsha ini lebih dramatis. Datanglah tokoh cowok lokal bernama Finn (Ayal Oost) yang sembarangan aja diajak naik mobil sama Marsha karena "dia 'kan tahu jalan". Lalu tibalah momen mereka tersesat di hutan di Jerman, dilanjutkan mereka harus susah payah melanjutkan perjalanan yang menguras tenaga dan emosi. Seakan gesekan dua insan berbeda sifat, dua sahabat tapi belum sepenuhnya saling jujur ini (which is strange) tidak dirasa cukup untuk memunculkan konflik dan drama. Ketimbang saling membongkar karakter asli masing-masing, yang gw lihat pada akhirnya adalah Laura yang sedang di-"inisiasi" oleh Marsha (yang menurut gw lama-lama jadi obnoxious) dalam situasi yang serba sulit. Cari perkara banget, menjurus kriminal pula. Ngajak-ngajak lagi. Merasa nggak salah lagi. Idih.

Filmnya sendiri nggak ada yang salah sih sebenarnya. Mungkin demi menonjolkan sisi adventure yang dinamis, dan memperkuat motivasi, peristiwa-peristiwa "akbar" yang terjadi di tengah-tengah film diputuskan perlu dimunculkan. Buat gw sih sedikit overdramatic, tapi ya nggak salah juga, bukan nggak mungkin bisa terjadi juga, toh. Beberapa kelucuan yang coba ditampilkan lama-lama ngeselin, tetapi gw yakin banyak yang akan terus menikmati. Kenyataan bahwa gw punya "perasaan" sama kisahnya pun justru menunjukkan keberhasilan filmnya, yakni melibatkan emosi gw. Entah emang maksudnya pembuatnya demikian atau enggak, gw jadinya pro-Laura, yang seakan dizalimi terus menerus oleh tingkah langkah Marsha, dan bukannya nggak sengaja(!). Gw memang tidak senaif Laura dalam hal melancong (ih, perlu gw sebut berapa negara udah gw kunjungin? *dicabein* *dilindes di Romantic Road*) tetapi, come on, to make her through all that? Not cute at all. Tetapi harus gw akui tiap karakter dibangun baik. Apalagi pembawaan Prisia dan Adinia yang prima dan intens, membuat gw tetap rela mengikuti perjalanan mereka hingga akhir. Sesungguhnya penampilan dua aktris inilah yang pada akhirnya jadi daya tarik utama film ini, termasuk keberhasilan Adinia membuat gw kesal sama tokoh Marsha bagaikan ibu-ibu penonton sinetron yang pengen nyubitin Dinda Kanya Dewi atau Leily Sagita kalau ketemu di mal. Yeah, that much.


Mungkin perlu diperjelas, komentar gw di atas bukanlah menyatakan filmnya jelek. Gagasan, maksud, tujuan, dan penuturan kisahnya oke, gwnya aja yang nggak seneng sama model cerita yang terlalu sengaja cari-cari masalah. Dalam segala hal yang lain, film ini perfectly fine. Penggarapannya matang, aliran ceritanya lancar dan mudah dipahami, dialognya mengalir enak dan alami, gambarnya nyaman, penyuntingannya asik, tata musiknya oke, dan penataan adegannya juga terasa natural sekali. Sedikit yang kurang sreg, gw pikir set-up awal ceritanya bisa dipangkas, atau setidaknya lebih konsisten. Kalau sebelum berangkat ke Eropa dimaksudkan sebagai latar belakang, maka harusnya kedua tokoh mendapat porsi di sana, jangan salah satu saja. Kalau mau diselipkan di tengah-tengah, ala-ala "Lost" gitu, harusnya keduanya juga caranya sama. Atau dibuang aja adegan latar belakangnya, biarkan penonton tahu sendiri lewat dialog antara mereka berdua sambil cerita berjalan. Dan dari segi traveling, film ini juga sedikit sekali memberi informasi tentang traveling itu sendiri, selain soal sewa mobil, SIM internasional, dan bisa beli ganja legal di "coffee shop" Amsterdam. Bagaimana dengan visa, imigrasi, bandara, perbatasan, bayar tol dan parkir? Nggak penting sih, cuma akan jadi knowledge yang lumayan berfaedah, kali aja ada yang ingin melakukan perjalanan seperti Laura & Marsha.

Laura & Marsha, sebagai sebuah road movie, pada dasarnya ingin menitikberatkan pada "menguji" persahabatan dua perempuan yang sama-sama pernah mengalami situasi-situasi yang berat, terutama bila dilihat dari sudut pandang perempuan ini (ditinggal suami, ditinggal ibu dll.). Di samping "pembongkaran" karakter dua sahabat ini, film ini juga di dalamnya memasang berbagai kebetulan dan peristiwa teromantisasi *uhuk* *klimaksnya* yang menurut gw sih kelihatan banget sebagai "iseng"-nya para pembuat film ini hanya demi bikin filmnya lebih seru aja, tidak lebih. Atau perlukah ditambah lebih banyak kemunculan landmark terkenal? Ah, terlalu turis itu, bukan traveler =p. Tetapi bila tetap berkonsentrasi pada sisi persahabatannya, film ini sudah menunjukkannya dengan baik, terima kasih juga pada kedua aktris utamanya yang bermain luar biasa. Amanah moralnya? Nggak usah travel bareng orang yang minatnya nggak sejalan, cari masalah banget itu sih. And try public transportations!




My score: 7/10

Senin, 27 Mei 2013

Sutradara Perempuan Penggerak Sinema Indonesia Masa Kini

Seiring dengan meningkatnya produksi film Indonesia belakangan ini, terdapat satu fenomena menarik, yaitu banyaknya film yang dibuat oleh sutradara perempuan. Salah satu dampaknya, dalam penyelenggaraan Festival Film Indonesia (FFI) sejak tahun 2004, kategori Sutradara Terbaik selalu ada minimal satu nomine perempuan, kecuali pada tahun 2007. Tentu saja keberadaan sutradara perempuan dalam perfilman nasional bukanlah hal baru. Namun, ramainya produksi film Indonesia yang dikomandoi perempuan dalam satu dasawarsa ini tetap saja mengundang perhatian. Apalagi, sebagian besar hasil karyanya mendapat sambutan positif, baik secara komersial maupun kritikal, nasional maupun internasional. Ini bisa jadi bukti bahwa kompetensi sutradara perempuan Indonesia tidak bisa dianggap remeh.

Nama Nan T. Achnas adalah salah satu sineas perempuan Indonesia yang banyak disorot pada awal dekade 2000-an, terutama karena pengakuan internasional yang didapatkannya. Salah satu sutradara film Kuldesak (1998) ini sukses membawa film panjang perdananya, Pasir Berbisik (2001) melanglangbuana di festival-festival film internasional. Bahkan, film ini menerima beberapa penghargaan di Deauville (Prancis), Singapura, dan tiga penghargaan dalam Asia Pacific Film Festival 2001 di Jakarta.

Nan T Achnas
(foto dari Karlovy Vary International
Film Festival)

Nan selanjutnya membuat film anak-anak bertema nasionalisme, Bendera (2002), yang sayangnya kalah tenar dari lagu temanya sendiri yang dinyanyikan band Cokelat. Karya Nan selanjutnya, film drama The Photograph (2007), lagi-lagi berbuah penghargaan internasional, seperti NETPAC Award dalam Taipei Golden Horse Film Festival 2008 serta dua penghargaan di Karlovy Vary International Film Festival 2008 di Republik Ceko.

Sutradara perempuan Indonesia yang juga mencuat di milenium baru ini adalah Nia Dinata. Memulai debut layar lebar dengan adaptasi novel Ca-Bau-Kan (2002), yang didaftarkan sebagai wakil Indonesia dalam ajang Academy Award atau Oscar, Nia lalu semakin disorot lewat film komedi satir perkotaan Arisan! (2003). Film ini menarik perhatian publik karena kisahnya juga memuat problem pasangan gay, sesuatu yang terbilang berani untuk film Indonesia di kala itu. Arisan! terbilang sukses, bahkan lima Piala Citra dalam FFI 2004 termasuk Film Terbaik berhasil diraih.

Nia Dinata
(foto dari www.indonesianfilmcenter.com)

Nyaman dengan karya berbau satir, Nia semakin vokal membela kaum perempuan lewat film ketiganya, Berbagi Suami (2006), yang juga merupakan sebuah kritik terhadap praktik poligami. Film ini juga cukup sukses dalam ajang FFI 2006, dan menerima penghargaan di beberapa festival film di Hawaii (Amerika Serikat), Lyon (Prancis), dan Brussels (Belgia). Belum lama ini Nia merilis sekuel Arisan, Arisan! 2 (2011) yang disambut cukup baik oleh penonton dan sempat ditayangkan di festival film internasional di Los Angeles dan Amsterdam.

Jumat, 24 Mei 2013

[Movie] Optatissimus (2013)


Optatissimus
(2013 - Flix Pictures)

Written & Directed by Dirmawan Hatta
Produced by Heru Winanto
Cast: Rio Dewanto, Nadhira Suryadi, Landung Simatupang, Gunawan Maryanto, Rukman Rosadi


Melihat trailer dan membaca sinopsis resminya, gw gak berhasil menangkap maksud dari film berjudul Optatissimus yang kemudian diberi subjudul "doa pertama" ini. Heck, gw bahkan nggak tau sebenarnya film ini niat tayang atau enggak, hehe. Tanpa promo apa-apa selain merilis poster dan trailer di dunia maya beberapa pekan lampau, Optatissimus sepertinya hanya bermodalkan doa agar dapat ditonton orang. Well, anggap aja gw adalah salah satu, dari tiga, jawaban doa itu di jam malam salah satu studio bioskop di Bekasi. Sedikit pencerahan datang dari salah satu rekan movie-blogger (thanks to Elbert Reyner) yang berkicau bahwa film ini berdasarkan kisah hidup seorang pendeta bernama Alex Tanuseputra yang adalah salah satu pendiri Gereja Bethany Indonesia, yang—kata wiki—juga adalah opanya Miss Indonesia 2008, Sandra Angelia. So that explains the modest (or absence) of necessary marketing...maybe, I don't know. Apakah film ini hanya ditujukan bagi penonton Kristen? Tergantung dari mana melihatnya. Unsur spiritualitas dan agama yang ditampilkan film ini jelas Kristiani (khususnya Protestan), tetapi dari sisi humanis film ini juga seharusnya bisa dipahami oleh siapa saja...or maybe not =P. 

Benang merah film ini sederhana saja sebenarnya. Andreas (Rio Dewanto) berada di tengah kerenggangan rumah tangga dengan istrinya, Yunita (Nadhira Suryadi), juga dalam kesulitan ekonomi, sampai-sampai menggadaikan mobil Mini Cooper mereka berdua. Ketika rezeki datang dan Andreas bisa menebus mobilnya, di perjalanan pulang ia menabrak, dan melindas, seorang pengangkut susu. Seperti versi mini dari The Tree of Life, kita pun dibawa Andreas, melalui percakapannya dengan pengurus gedung gereja (Landung Simatupang), menuju masa lalunya, ketika ia mulai mengalami "kebetulan-kebetulan" sejak tersesat di gunung, pertemuan dengan Yunita, hingga pada present day. You know, sama seperti kita kalau mengalami sebuah peristiwa luar biasa "sial" sehingga mulai bergalau dalam hati "bego banget sih gw, gw salah apa sih sampe begini amat?" dan mulai memeriksa masa lalu. Isi filmnya sih kira-kira begitu, dan ending-nya ketika Andreas dapet ketenangan dan pencerahan.

Kisah seperti ini sesungguhnya sangat familiar bagi jemaat Kristiani (kalau sering ibadah ya) yang kerap mendengar kisah pengalaman/kesaksian orang-orang tentang pertobatan. Jika mengacu pada poin ceritanya dan juga keterangan di akhir film, Optatissimus mencoba menggambarkan tentang titik balik seseorang yang "gitu-gitu aja" dan tidak akrab dengan religiusitas (meskipun identitas agamanya jelas, Indonesia gitu loh) mengalami peristiwa yang mengubah hidupnya, bahkan benar-benar berbalik untuk jadi lebih bermanfaat bagi banyak orang, "melayani Tuhan"-lah istilahnya. Ya seperti latar belakang itu tadi, tokoh yang jadi inspirasi film ini malah kemudian jadi pendeta dan pendiri gereja yang jumlah jemaatnya besar. Premis titik balik ini tentu universal, tak cuma dimengerti umat Kristen. Namun, mungkin inklusi istilah-istilah pertobatan, penebusan, kebinasaan, "meminta tanda", "orang yang diberkati", dan seterusnya mungkin akan lebih mudah dipahami dalam mindset Kristen. Contohnya, bagaimana bisa Andreas yang impassionate, bebal dan "menolak" Tuhan masih tetap mendapatkan berkat, beristri setia dan punya rumah sendiri, bahkan pelbagai "keajaiban". Ini gambaran yang sesuai tentang "kasih", bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia sekalipun manusia meninggalkan Dia, dan tidak cuma memanggil dan memberkati orang yang "baik-baikin" Dia doang. Ini common concept dalam Kristianitas yang sering terlupakan ataupun ditolak (termasuk oleh umatnya sendiri) karena "nggak masuk akal", ya seperti yang dilakukan Andreas.

Nah, di saat yang sama gw juga rada paham dengan yang dilakukan Dirmawan Hatta (penulis naskah The Mirror Never Lies) dalam debut penyutradaraannya ini. Meskipun jelas-jelas akan lebih appealing pada umat Kristen, Dirmawan terlihat sekali mencari cara agar Optatissimus jadi not too inclusive dalam penyampaiannya, sehingga istilah-istilah "intern" tidak terlalu dijelaskan, dan dalam dialog tak sekali pun nama Kristus disebutkan. Disusunlah adegan demi adegan dengan simbol-simbol (misalnya wanita misterius mirip Yunita, akordion dsb.) dan dialog-dialog dalam bahasa-bahasa agak baku, sedikit sekali memakai bahasa/aksen daerah meskipun ber-setting di Mojokerto/Sidoarjo/Malang/ya-sekitaran-situ-deh, narasi dari tokoh Andreas pun sastrawi sekali. Hasilnya, kebanyakan jadi agak membingungkan, teatrikal, bahkan aneh dan tidak jelas konteksnya sehingga terkesan mengkhotbahi. Ini juga "didukung" oleh penyusunan adegan yang acak (maju-mundur) dan kurang gw pahami keterkaitannya. Andreas mendatangi orang sakit jiwa yang dibuang di tengah danau (Gunawan Maryanto) itu kejadiannya sebelum atau sesudah nabrak orang, ya? Terus, Andreas kerjanya apa sih sebelum jadi sales jual-beli mobil? Terlalu banyak pertanyaan, mungkin pembuat filmnya terlalu asik dalam menyebarkan clue sana-sini sehingga keteteran sendiri dalam memperutuh kisahnya. Bahkan bisa dibilang 25% pemahaman gw tentang maksud film ini justru dari keterangan di bagian akhir film.

Akan tetapi harus diakui bahwa Optatissimus adalah sebuah produksi yang sangat baik. Penggarapan teknisnya apik, mulai dari pemilihan lokasi nan cantik, sinematografi keren, tata musik, tata suara, hingga penataan adegan yang penuh citarasa, sedikit Garin Nugroho-esque. Film ini lebih ke art film ketimbang film religi sih menurut gw...kelihatan dari adegan yang banyak hening dan shot yang lama =P. Nggak deing, maksudnya dari cara bercerita dan tata adegannya tadi yang berbeda dari film-film biasa. Gw suka banget deh rancangan visual di danau dengan kandang orang gilanya, keren banget. Pilihan untuk tidak mengangkat peristiwa spiritual dengan cara serba bombastis, sebagaimana pula penggambaran Andreas yang bukan "penjahat" ekstrim ("sekadar" malas berdoa atau ke gereja), membuatnya lebih relate pada penonton. Performa aktornya tiada cela, baik Rio, Nadhira, maupun pak Simatupang memainkan perannya dengan mendalam dan sukses mengujarkan dialog-dialog baku nan puitisnya dengan meyakinkan. Peforma menonjol menurut gw datang dari Rukman Rosadi sebagai kakak korban tabrakan, satu adegan doang tapi ancaman pasif-agresifnya untuk mencabut nyawa Andreas bener-bener nakutin dan berkesan. 

Optatissimus punya modal yang cukup untuk jadi nearly undiscovered gem tahun ini, atau sedikitnya jadi film yang dapat menginspirasi, khususnya bagi penganut Kristianitas. Tapi ya mau gimana kalau penyampaiannya tidak terlalu mudah dipahami gini, filmnya bercerita tentang apa aja masih sangat samar meskipun film sudah berakhir, menurut gw sih karena kehidupan Andreas pascatobat ditunjukkan sedikit sekali, sehingga titik baliknya kurang terasa dampaknya bagi penonton. Satu lagi, brewok Rio Dewanto waktu masa lalu dan masa kini terlalu sama, mana nih tim makeup-nya? Anyway, it’s not bad, tetapi yah, karena agak abstrak gw jadi agak nggak ngerti gitu deh, makna "optatissimus" aja nggak dijelasin *atau gw yang ketinggalan*. Setidaknya masih patut diapresiasi ada film yang mengisahkan pergumulan spiritual dari sudut pandang Kristianitas yang berani dibuat dan tampil di bioskop nasional. Terima kasih, Tuhan memberkati =). 




My score: 6,5/10

Senin, 20 Mei 2013

[Movie] The Great Gatsby (2013)


The Great Gatsby
(2013 - Warner Bros.)

Directed by Baz Luhrmann
Screenplay by Baz Luhrmann, Craig Pearce
Based on the novel by F. Scott Fitzgerald
Produced by Baz Luhrmann, Catherine Martin, Douglas Wick, Lucy Fisher, Catherine Knapman
Cast: Leonardo DiCaprio, Tobey Maguire, Carey Mulligan, Joel Edgerton, Elizabeth Debicki, Isla Fisher, Jason Clarke, Amitabh Bachchan


Baz Luhrmann, sutradara internasional asal Australia yang namanya diasosiasikan dengan gaya lincah, komikal, stylish, dan juga bisa dibilang "norak", baik dalam audio visual maupun dalam bercerita, mungkin mencerminkan orangnya juga *sok kenal*. Itu juga yang membuat Luhrmann menjadi salah satu sutradara yang setiap karyanya gw nanti-nantikan, pretty much karena gayanya yang mencolok itu. Film-filmnya sebelum ini yang udah gw pernah tonton punya kualitas produksi dan artistik (sangat) luar biasa, dan nggak satu pun yang gw benci. Dari Romeo+Juliet, lalu salah satu top favorite gw sepanjang masa Moulin Rouge!, bahkan Australia (Yes, I like that one, too. Problem?) selalu meninggalkan kesan. Kali ini Luhrmann kembali beraksi dengan adaptasi karya sastra terkenal Amerika karya F. Scott Fitzgerald, yang sebelumnya sudah pernah dua kali diangkat ke media film, The Great Gatsby. Dengan nama bintang-bintang papan atas, dan juga nama Luhrmann yang menjanjikan tontonan membelalak mata, dan setelah ditunda penayangannya dari Desember 2012 ke bulan Mei ini, was it worth the anticipation

Meskipun judulnya ada salah satu tokohnya (bukan nama minyak rambut ya), The Great Gatsby diceritakan dari sudut pandang Nick Carraway (Tobey Maguire), seorang pegawai Wall Street yang baru pindah ke kawasan elit di Long Island, sarangnya orang-orang tajir *pasang lagunya Geger* dan hedonis. Kisah utamanya sendiri adalah tentang segala hal yang dilakukan tetangga sebelah rumah Nick, sang jutawan muda misterius Jay Gatsby (Leonardo DiCaprio) demi mendapatkan cinta Daisy Buchanan (Carey Mulligan), sepupu Nick, juga istri dari Tom Buchanan (Joel Edgerton) yang gemar selingkuh sana-sini. Di tengah konteks ekonomi kota New York yang lagi melesat di tahun 1922 yang berefek pada gaya hidup pesta dansa dansi, kriminalitas, kesenjangan sosial, alkohol dan candu, musik jazz dan lain sebagainya, Baz Luhrmann rupanya mengarahkan pandangan pada persoalan cinta yang pelik antara Gatsby dan Daisy. Segala sesuatu yang lain bukannya tak penting, tetapi dibuat dalam porsi secukupnya agar mendukung perihal yang ingin diutamakan itu. 

Tapi "secukupnya" versi Baz Luhrmann yah bedalah sama versi resep masakan. Menyaksikan The Great Gatsby yang berlatar Amerika 1920-an bukan berarti kita akan melihat segala kekunoan. Luhrmann kembali membuat sebuah dunia yang sensasional, bukan historikal. Jadi jangan heran bila melihat pemandangan kota yang "gambar banget", kostum kinclong, editing patah-patah super cepat, ataupun soundtrack yang sangat kontemporer. Seperti di Moulin Rouge!, Luhrmann ingin menyajikan sensasi sebuah zaman yang diterjemahkan sedemikian rupa agar dapat juga dirasakan (bukan cuma ditonton) oleh penonton zaman sekarang. Contoh yang paling kentara ya penggunaan musik di pesta-pesta kediaman Gatsby, bukannya jazz tapi malah jazz dugem R&B/hiphop campursari, seakan yang penonton dengar berbeda dengan yang didengar para tamu pesta yang berdansa tetap dengan gaya lawas. Tetapi mungkin itulah sensasi "pesta liar" jika diterjemahkan ke mindset penonton sekarang. Itulah "norak"-nya Baz Luhrmann, selalu memunculkan hal-hal mencolok dan menarik perhatian, kesannya asal taruh saja (masak udah ada yang masang lagu "H to the Izzo"-nya Jay-Z =D), tetapi anehnya tidak mendistraksi apalagi meruntuhkan penyampaian inti ceritanya. Yang satu ini, cuma Luhrmann yang bisa. 

Telenovela banget ye posenya ^_^

Nah, kalau membandingkan dengan karya-karya Luhrmann sebelumnya, sebenarnya menurut gw The Great Gatsby seperti lebih jinak dari biasanya. Meskipun tidak sekonvensional Australia, tetap saja gw merasakan bahwa Gatsby ini tidak se-fun sebagaimana biasanya Luhrmann. Lincah, tapi tidak selincah itu. Stylish, tetapi tidak se-extravagant itu. Lucunya pun sedikit sekali. Yang menonjol justru atmosfer sendu dan melodramatik. Nggak jelek kok, dari dulu filmnya Luhrmann emang melodramatik, tapi mungkin Gastby adalah yang paling demikian—terima kasih juga pada lagu “Young& Beautiful”-nya Lana del Rey yang komposisinya “menghantui” di momen-momen terpenting. Adegan komikal khas Baz hanya kelihatan ketika kemunculan pertama Jay Gatsby (pake lagu “Rhapsody in Blue” dan kembang api ^_^) dan undangan teh sore di rumah Nick Carraway. Sisanya, mungkin menyesuaikan mood galau dari kisah cintanya sendiri. Terasa “kurang warna” buat gw, tetapi mungkin memang dimaksudkan begitu. 

But to be fair, The Great Gatsby versi Luhrmann ini tetap enak dinikmati. Penceritaannya cukup lancar hingga akhir tanpa ada hambatan berarti *dikira jalan raya* sekalipun durasinya 2,5 jam, apalagi production value-nya yang mewah, cakep-cakep ribet gimana gitu, membuatnya sangat pantas disaksikan di layar bioskop (versi 3D pun tak ada ruginya). Dan sekalipun agak-agak nepotisme sesama Aussie dalam hal casting, jajaran pemerannya bermain apik seapik tampilan fisiknya, mulai dari DiCaprio, Maguire, Mulligan, hingga yang pendukung seperti Edgerton (an Aussie guy), Isla Fisher (an Aussie girl) sebagai salah satu selingkuhan Tom Buchanan, Jason Clarke (Aussie too), serta legenda Bollywood Amitabh Bachchan tetap bisa berkesan walaupun karakterisasi mereka gw rasa agak kurang utuh. Maguire sendiri pantas dipuji karena meskipun tokoh Nick seperti hanya “pengamat”, ketika dibutuhkan ia tak kalah “hadir” dibandingkan DiCaprio atau Mulligan. Namun mungkin yang paling bersinar adalah penampilan Elizabeth Debicki (again, Aussie) sebagai Jordan Baker, pegolf sosialita yang jadi love interest-nya Nick (walau tidak digali cukup dalam di film ini). Kecantikan dan bawaannya yang anggun selalu menarik perhatian setiap kali muncul di layar meski frekuensinya tak banyak. 

Mungkin ada sejumput kecewa setelah selesai menyaksikan The Great Gatsby, karena ekspektasi gw terhadap sebuah film karya Baz Luhrmann yang biasanya hiperaktif dan fun. Namun, rasanya itu tidak sampai membutakan gw untuk melihat bahwa film ini jauh dari kata jelek atau menjengkelkan. Far from it. Meski tidak seliar yang disangka, toh Luhrmann sukses menceritakan apa yang (dirasa) penting diceritakan tetap dalam gayanya sendiri, tentang things someone would do for love—lagu “Crazy In Love” yang di film ini di-cover oleh Emeli Sandé rasanya sangat mewakili film ini =). Dan seperti bagian awal narasi dari Nick, yang memutuskan untuk selalu mengingat hal terbaik dari setiap orang yang tak terpuji sekalipun—khususnya tentang Jay Gatsby (yang dengan baik dilambangkan dengan letak pengungkapan pribadi Gatsby sesungguhnya tidak di klimaks cerita), gw pun memutuskan untuk mengingat hal-hal terbaik dari film ini, sambil dengerin lagu-lagu soundtrack-nya yang keren-keren. Belum sampai tahap mengagumkan, namun sepertinya akan selalu menarik bila me-revisit film ini di kemudian hari. 




My score: 7/10

Kamis, 16 Mei 2013

[Movie] Star Trek Into Darkness (2013)


Star Trek Into Darkness
(2013 - Paramount)

Directed by J.J. Abrams
Screenplay by Roberto Orci, Alex Kurtzman, Damon Lindelof
Based on the television series "Star Trek" created by Gene Roddenberry
Produced by J.J. Abrams, Bryan Burk, Damon Lindelof, Alex Kurtzman, Roberto Orci
Cast: Chris Pine, Zachary Quinto, Benedict Cumberbatch, Zoe Saldana, Alice Eve, Karl Urban, Simon Pegg, John Cho, Anton Yelchin, Peter Weller, Bruce Greenwood, Leonard Nimoy


Star Trek perlu perkenalan lagi gak ya? Perlu ya? Nggak usah deh =p. Well, bagi generasi gw yang pernah melewati masa ketika saluran televisi cuma ada empat dan tidak dua puluh empat jam, "Star Trek" adalah salah satu tontonan impor yang sukses mengisi waktu santai bersama keluarga. I was just a casual viewer, gw gak bisa dibilang menggemari apalagi mengaku sebagai Trekkie, nggak pernah juga nonton satu pun versi layar lebar dari serial aslinya, tapi nggak benci juga. Palingan gw cuma tahu konsep dan beberapa karakter...lalu sisanya lupa, hehe. Anak-anak generasi sekarang yang udah tahu iPhone, iPad, dan film-filmnya Michael Bay pun kalau disuruh nonton "Star Trek" lama pasti bakal menilai serial fiksi ilmiah berlatar antariksa ini cupu dan mbosenin, dan nggak realistis *ciee tau deh yang udah pinter*. Mungkin untuk itulah mengapa Paramount membuat penyegaran dengan film Star Trek (2009) yang disutradarai J.J. Abrams, yang sukses menggaet penonton masa kini yang lebih suka hingar bingar dan haha-hihi—contohnya gw =p, sekaligus respek terhadap materi aslinya. 

Respek bagaimana maksudnya? Ya karena Star Trek 2009 bukan merombak yang lama, melainkan melanjutkan konsep semesta "Star Trek" yang sebagian besar merupakan "peragaan" dari teori-teori ilmiah ini. Meskipun sebuah reboot, Star Trek 2009 juga masih "lanjutan" kisah aslinya. Kalau sudah nonton, maka Anda akan tahu bahwa Star Trek 2009 adalah alternate universe dari kisah-kisah "Star Trek" yang sudah ada. Artinya, semesta utama tetap dibiarkan ada, "sudah terjadi", kontinuitasnya tidak diganggu. Sedangkan Star Trek 2009 ini jadi beda karena pihak-pihak tertentu, yang berasal dari semesta utama *ups* telah mengubah sejarah, dan mengubah segalanya jadi berbeda dari yang seharusnya. Karakter-karakternya sama, tetapi karena persitiwa itu—yang melibatkan black hole dan time-travel, jalan hidup setiap orang berubah. Nah, dari segi kreatif, Abrams dan tim pun dengan ini bisa mengembangkan kelanjutan kisah Kapten Kirk dkk ini dengan lebih leluasa.

Lalu apakah mereka langsung semena-mena dalam bikin cerita? Star Trek Into Darkness membuktikan, tidaklah demikian. Rupanya, perkenalan tokoh-tokoh—yang ditata dengan brilian—di Star Trek 2009 belumlah "selesai". Into Darkness memperdalam itu, utamanya Kapten Kirk (Chris Pine) dan Mr. Spock (Zachary Quinto). Bertugas dalam misi yang sama di kapal Enterprise bukan berarti mereka langsung sepikiran seia sekata. Kirk yang masih slengean dan emosional (dan kekurangan sosok ayah sejak lahir) terus bertabrakan dengan Spock, blasteran Vulcan-manusia, yang taat peraturan dan mengandalkan logika. Terlepas dari plot yang awalnya kayak-biasa-lalu-berbalik-jadi-agak-ribet-tapi-nggak-ngagetin-amat, menurut gw inti Into Darkness adalah kembali pada Kirk dan Spock. Bagaimana kemudian kedua watak berbeda ini menyatu dan betul-betul jadi rekan seperjuangan tidak terjadi begitu saja, ada proses pematangan karakter di sini. Ada Kirk yang kemudian berusaha jadi "bener" dan meraih status pemimpin yang sejati (setelah sebelumnya banyak "ditolong" oleh keadaan =)), dan ada Spock yang terus digedor sisi kemanusiaannya yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Segala tembak-tembakan, kejar-kejaran, humor-humor, intrik-intrik politik, kehadiran villain yang impossibly tangguh, rupanya hanyalah "alat" untuk—pake istilah Paskibraka—menggembleng tokoh-tokoh kita sebelum akhirnya terbukti benar-benar pantas mengemban misi panjang menjelajahi semesta raya. 

Star Trek Into Darkness mungkin tidak memiliki plot terpintar, but they definitely have a clever USE of it. Dasar mas J.J., inti utama itu lagi-lagi dibalut dalam sebuah persembahan yang begitu asyik dan "melarang" mata ini kelayapan ke mana-mana. Usahanya membuat seri Star Trek lebih seru kembali dilanjutkan bahkan lebih lagi. Gw malah lebih ingat momen-momen laga di Into Darkness dibanding sebelumnya. Sekalipun rada generik, kejar-kejaran di Planet Nibiru dengan hutan merahnya, baku tembak di Kronos (planetnya bangsa Klingon), space-diving, hingga baku hantam di atas truk sampah terbang begitu seru. Desain produksinya apik, sinematografinya tetap konsisten dengan warna-warna cerah, musiknya mantap (gw suka sama theme-nya John Harrison), dan dilengkapi dengan efek visual yang lebih jempolan lagi. Dari indera penglihatan dan pendengaran, film ini bisa dibilang setingkat di atas pendahulunya, apalagi kalau disaksikan dalam format IMAX (karena beberapa adegan memang ditangkap pakai kamera IMAX). Dua jam lebih dikit nggak terasa lama saking dipenuhi dengan keseruan audio visual yang fun dan thrilling, juga karena pacing-nya terjaga baik. Terlebih lagi, semua itu digunakan bukan supaya keren aja, tetapi ada fungsinya, seperti gw bahas sebelumnya.

Pengen seragamnya dah...

Emphasize film terhadap karakter-karakternya pun disambut baik oleh performa setiap aktor yang terlibat di dalamnya. Ketika dibutuhkan untuk lebih emosional, maka cast lama seperti Pine, Quinto, Karl Urban, Zoe Saldana, John Cho, Anton Yelchin, Bruce Greenwood, dan still my favorite Simon Pegg mengerjakannya dengan sangat baik, hubungan antar tokoh pun terlihat makin erat. Chemistry Pine dan Quinto semakin kompak, bahkan mungkin para penikmat yaoi sudah bisa langsung bikin fan-fiction mereka ciuman, dasar ngeres. Demikian pula okenya penampilan aktor Peter Weller sebagai Laksamana Marcus yang kehadirannya signifikan, tetapi tentu saja yang paling menarik perhatian adalah penampilan teatrikal nan meyakinkan dari Benedict Cumberbatch sebagai John Harisson yang manipulatif. However, they all blended perfectly. Seperti film sebelumnya, tidak ada yang lebih unggul dari yang lain, semua pemainnya mantep dalam perannya. Palingan cuma Alice Eve sebagai Dr. Carol yang cenderung biasa aktingnya, tapi nggak jelek juga.

Dan jangan salah, detil-detil yang (mungkin) lebih menarik para Trekkies tentang "itu apa ini apa kok bisa gini kok bisa gitu" juga tetap dihadirkan dengan tidak terlalu membingungkan, seperti prinsip-prinsip korps Starfleet, permesinan pesawat Enterprise, apa hubungan shield pesawat dengan transporter, sistem gravitasi di pesawat, tentang bangsa Klingon...wait, gw merasa sedang di-Star-Trek-isasi nih sama film ini, haha. Anyway, mungkin itulah yang jadi keberhasilan film-film Star Trek versi J.J. Abrams ini, yakni merangkul non-fans untuk masuk ke dalam dunia "Star Trek" yang penuh wonder dengan cara yang menghibur dan lebih universal, nggak ekslusif tetapi masih menyematkan detil-detil khas Star Trek yang membuatnya berbeda dari film-film petualangan fiksi-ilmiah lainnya (toh katanya mas J.J. juga lebih nge-fan sama Star Wars...eh dianya skarang lagi siap-siap bikin Star Wars episode VII =|).

Jadi di manakah letak Star Trek Into Darkness di mata gw, berhubung Star Trek 2009 adalah salah satu film favorit gw yang udah gw tonton lebih kurang 7 kali? Let's just say, Into Darkness sama bagusnya dengan Star Trek 2009, sedikit pembeda adalah yang 2009 lebih cerah ceria, lebih fun, sedangkan Into Darkness lebih pol action-nya, jadi lebih fun *lho*. Gw puas sama dua-duanya, dan ditonton berapa kali pun tidak bosan. Toh kedua film ini adalah sebuah rangkaian yang solid mengenai karakter-karakternya. Star Trek 2009 adalah introduction yang sangat baik, sedangkan Into Darkness mengembangkannya dengan sangat baik pula. Keduanya jadi paket dasar yang komplet sebelum menuju petualangan-petualangan yang lebih besar di kemudian hari. Dengan pengokohan di penokohan, maka gw pun siap ikutan petualangan mereka selanjutnya dengan senang hati...ke tempat-tempat yang belum pernah dijamah manusia *eaaa*.




My score: 8/10

Selasa, 14 Mei 2013

Nonton di Gading XXI IMAX (3D): Star Trek Into Darkness

Yuhu, perasaan baru kemarin deh, sekarang kita udah bahas lagi yang namanya teater IMAX. Abisnya, IMAX dan konconya si grup 21/XXI telah membuka lagi teater IMAX komersial baru di Jakarta. Dari Gandaria City Mall di Jakarta Selatan kita menuju Utara agak ke Timur, ke salah satu kompleks perbelanjaan terbesar dan paling disayangi penduduk Jakarta, Mal Kelapa Gading, tepatnya di atap gedung Mal Kelapa Gading 2...tapi masuknya musti dari Gading XXI jadi itungannya masuk Mal Kelapa Gading 3 *ribet* *mal aja bersekuel*.

Puji Tuhan semesta alam, selain karena berada di mal yang bisa dibilang terfavorit gw (karena toko/resto kesenangan gw hampir semua ada di situ, dan kalo ke sana nggak ada peer-pressure harus berpakaian indah kayak di mal-mal horangkayah daerah Pusat/Selatan =p), letak teater IMAX baru ini lebih dekat dan lebih nggak ngerepotin dari rumah gw di Bekasi dibandingkan kakaknya di Gandaria City. Itu mah subjektif ya. Tapi ternyata, dalam berbagai segi, harus diakui bahwa Gading IMAX adalah teater IMAX sejauh ini paling mendekati ideal yang pernah ada di Indonesia.

Gading IMAX baru dibuka tangga 25 April 2013 lalu, bertepatan dengan rilisnya film Iron Man 3 yang juga tersedia dalam format IMAX 3D. Sama seperti pembukaan Gandaria IMAX tahun lalu, gw 'kan agak-agak anti-mainstream gitu ya *ditabok*, jadi nggak langsung coba nonton itu di Gading IMAX. Mengingat harga tiketnya sekitar dua kali harga tiket bioskop reguler dan gw nggak segitu nge-fan-nya sama Iron Man, gw harus selektiflah sama film-film yang gw mau tonton di IMAX. Untungnya, salah satu film yang gw nantikan tahun ini, Star Trek Into Darkness diputar juga dalam format IMAX 3D, dan lebih untung lagi, filmnya bisa ditonton pada pemutaran midnight tanggal 11 Mei 2013, 4 hari sebelum peredaran resminya tanggal 15 Mei. Aseekkk, langsung coba ah bioskop barunya....


Bersama 3 orang teman di larut malam gw pun mulai menjajal si teater baru ini. Tanpa ragu harus dikatakan, Gading IMAX lebih oke daripada Gandaria IMAX. Well, standar layar persegi melengkung dan tata bangku ala stadion (bisa lihat jelas dari posisi mana pun) jelas sudah dipenuhi, tapi ada lagi keunggulan yang lain. Pertama dari jumlah kursinya yang mencapai 539. Angka 500-an adalah jumlah yang sangat besar untuk ukuran bioskop komersial, jadi kemungkinan nggak kebagian tiket bisa diperkecil. Kedua, dan yang terpenting, ukuran layarnya yang quite significantly lebih besar dari Gandaria City IMAX, yakni (diklaim) 24x14 meter (3 meter lebih panjang dan 4 meter lebih tinggi). Ngeliatnya juga jadinya lebih enak dan lebih puas sentosa. 

Secara angka mungkin masih tidak sebesar Teater IMAX Keong Emas, TMII yang layarnya berukuran 28,28 x 21,38 meter (ukuran yang tercatat di Museum Rekor Indonesia sebagai layar bioskop terbesar di Indonesia) dan bisa muat sampe 956 orang, tetapi tentu saja IMAX versi XXI unggul di kenyamanan bangku dan tata suara yang lebih bertanggung jawab, dan bisa 3D. Itu sebabnya gw bilang Gading IMAX itu paling mendekati ideal, ia punya kenyamanan khas XXI, juga punya IMAX sensation yang lebih mufakat dari segi suara, gambar, dan ukuran layarnya. I still wish it was bigger, tetapi gw sudah cukup puas dengan ukuran layar di Gading IMAX ini ketimbang di Gandaria IMAX yang jomplang banget nget sama Keong Emas. Kalau 21/XXI mau bikin teater IMAX lagi, seiogianyalah minimal seperti yang di Gading ini *maunya*.

Gambaran perbandingan ukuran layar IMAX
yang ada di Indonesia sampai tahun 2013

Nah, bagaikan sebuah permainan takdir, film pertama yang gw tonton di Gading IMAX adalah Star Trek Into Darkness, sekuel dari Star Trek yang merupakan film fiksi pertama dalam format IMAX yang gw tonton (dua kali) di Teater IMAX Keong Emas tahun 2009 lalu. Tak cuma film biasa yang di-blow-up sesuai presentasi IMAX beresolusi tinggi, Star Trek Into Darkness ternyata juga dari sononya syuting menggunakan kamera khusus IMAX untuk beberapa adegannya, terutama yang setting-nya di luar ruangan. Konon sih ada total 30-an menit dari 130-an menit durasinya. Sama seperti The Dark Knight Rises versi IMAX, tampilan gambar film ini pun bergantian antara yang widescreen biasa (layar nggak penuh), dengan gambar-gambar IMAX yang memenuhi seluruh layar besarnya. And I got to tell you, gambar-gambar IMAX-nya memang cakep dan jernih, adegan pun jadi terasa lebih nampol dan seru. Banget.

Tetapi bedanya dengan The Dark Knight Rises IMAX, Star Trek Into Darkness versi ini dipresentasikan dalam IMAX 3D. 3D-nya di sini hasil konversi dari gambar 2 dimensi, jadi saat syuting sebenarnya tidak dimaksudkan jadi 3D (beda dengan Prometheus yang disyut pake kamera 3D), sehingga menurut pengamatan gw, efek 3D-nya nggak ngaruh-ngaruh amat, cuma beberapa kali aja yang berasa. Tetapi mengingat adegan-adegan khusus format IMAX-nya saat ini hanya bisa dinikmati memakai kacamata 3D, jadi ya udahlah, tetep oke kok, setimpal sama harga yang dibayar dan usaha penonton untuk dapat menontonnya. Intinya sih, gw lebih merasa wow sama gambar-gambar skala besar khas IMAX-nya ketimbang efek 3D-nya. Lagian, Star Trek Into Darkness sendiri adalah salah satu film yang saking okenya, 3D atau enggaknya udah nggak ngaruh sama kenikmatan menonton, hehe (review-nya di sini).

Poster Star Trek Into Darkness
versi IMAX 3D
Keterangan paling bawah itu
penting!

Kesimpulannya, Gading XXI IMAX ini adalah pengalaman sinema yang musti dicoba oleh para pecinta film. Sejauh ini dari segi harga masih sama dengan Gandaria IMAX, tetapi menurut gw sih lebih worth it...yah kecuali kalau Anda memang berdomisili di bagian Selatan atau Barat Daya Jakarta, cukup ngerepotin sih kalo itu. Setelah di Jakarta Selatan dan Jakarta Utara, katanya juga grup 21/XXI masih akan membuka teater IMAX di beberapa tempat lagi, baik di luar Jakarta maupun di setiap kota administratif DKI Jakarta, kalo gak salah sih total mau bikin 8 lagi. Nah saran aja nih buat IMAX dan 21/XXI: 'kan Jakarta Timur udah ada Keong Emas tuh, gimana kalo bikin di Bekasi aja? *maunya*.


Gading XXI IMAX
Mal Kelapa Gading 3 lt. 3, Jl. Bulevar Kelapa Gading, Kelapa Gading, Jakarta Utara
Harga tiket per orang:
Rp 60.000,- (Senin-Kamis)
Rp 75.000,- (Jumat, hari sebelum tanggal merah)
Rp 100.000,- (Sabtu, Minggu, hari tanggal merah)
Parkir Mobil: Rp 3.000,- per jam
Informasi lengkap http://www.21cineplex.com/imax

Jumat, 10 Mei 2013

[Movie] Iron Man 3 (2013)


Iron Man 3
(2013 - Marvel Studios/Walt Disney)

Directed by Shane Black
Screenplay by Drew Pearce, Shane Black
Based on the comic book by Stan Lee, Don Heck, Larry Lieber, Jack Kirby
Produced by Kevin Feige
Cast: Robert Downey Jr., Gwyneth Paltrow, Don Cheadle, Guy Pearce, Rebecca Hall, Jon Favreau, Ben Kingsley, James Badge Dale, Ty Simpkins, William Sadler, Miguel Ferrer, Stephanie Szostak, Paul Bettany


Karena nggak terlalu gimana gitu sama Iron Man dan Iron Man 2, gw jadinya nggak punya ekspektasi gimana gitu sama Iron Man 3 *terlalu banyak "gimana gitu"*. Dulu sih komplain gw terletak pada tata adegan laga yang kurang menggelegar, tetapi gw masih termasuk suka karena kedua film pertamanya itu punya karakter, selera humor, dan gaya penyutradaraan non-laga yang asyik banget. Kini tiba di Iron Man 3 yang menanggung beban untuk jadi "harus besar", pun tak lagi disutradarai oleh Jon Favreau, melainkan oleh Shane Black, yang baru pernah menyutradarai satu film berjudul Kiss Kiss Bang Bang (dibintangi Robert Downey, Jr. juga) tetapi berpengalaman dalam menulis skenario film-film action macam Lethal Weapon dan The Long Kiss Goodnight. Mungkin ini pertanda bagus dan dapat menambal apa yang kurang di dua film pertama. Or maybe not.

Keadaan mulai menenang pascaperistiwa di The Avengers, tapi Tony Stark (Robert Downey, Jr.) malah semakin sering berkutat pada pengembangan zirah Iron Man-nya, sehingga waktu istirahat ataupun bercengkerama dengan kekasihnya, Pepper Potts (Gwyneth Paltrow) semakin sedikit. Ditambah lagi, ada ancaman dari sesosok teroris eksentrik, The Mandarin (Ben Kingsley) yang meresahkan warga Amerika. Ancaman itu tak main-main, sebuah peristiwa peledakan bioskop Mann's Chinese yang disaksikan ajudan Tony, Happy Hogan (Jon Favreau) yang begitu sulit diselidiki karena tak ada jejak bahan peledaknya, diklaim sebagai salah satu aksi The Mandarin, dan ia mengancam akan melakukan yang lebih besar lagi. Di saat yang sama, kemunculan ilmuan dari AIM, Aldrich Killian (Guy Pearce) dari masa lalu Tony pun memperumit keadaan karena rekayasa gen penyembuhan kerusakan tubuh secara cepat miliknya ditolak oleh Stark Industries—tepatnya oleh Pepper sebagai CEO-nya, karena berpotensi jadi senjata berbahaya. Apakah kedua perkara ini berhubungan? Well, duh, of course.

Cerita yang diangkat Iron Man 3 ini fine-fine aja sebenarnya, yah mungkin agak kurang fresh alias udah lumayan familiar karena pernah ada pola serupa di salah satu installment Spider-Man atau Batman The Dark Knight, tentang pahlawan kita yang harus jatuh banget saking kuatnya musuh dan perlu "retreat" demi membangun motivasi lagi yang lebih kokoh untuk comeback, demikian pula pengungkapan main villain-nya yang pernah juga gw saksikan di Equilibrium. Nothing's really new here, but that's okay. Kisahnya sendiri disampaikan cukup rapi, intrik-intriknya nggak gampangan, hal yang satu dengan yang lain pasti ada hubungannya, dan sebagainya dan sebagainya. Yang jadi masalah gw adalah, tone redup film ini bikin agak nggak nyaman. Ya, nggak apa-apa sih bila di film ketiga ini mau dibikin lebih serius di segala bidang, tetapi menurut gw itu malah bikin fun factor yang gw temukan dari dua film sebelumnya nyaris menguap...lagipula kalau mau dibikin "serius", adanya Extremis (emm...kasih tau gak ya ini apaan? =p) tidaklah mendukung itu. Sorry, dari perkara senjata pemusnah masal di film pertama dan teknologi pesaing Iron Man di film kedua, metode musuh di film ketiga ini agak...errr...I mean, fire-y people? Really? Kurang nakutin ah *belagu*.

Yaudah sih. Nggak masalah kalau memang inti dari film ini bukan soal si musuh dan metodenya melainkan soal titik balik Tony Stark (dikuatkan adegan paling akhir setelah kredit) or...something, cukup tersampaikan kok. Toh meskipun berkurang unsur lucu dan fun-nya, atau setidaknya lucunya tidak dengan cara yang sama dengan versi Jon Favreau, dan kayaknya berkurang juga unsur improvisasi yang membuat dua film pertamanya jadi mengalir asyik, Iron Man 3 masih bisa unggul di adegan-adegan aksi yang lebih spektakuler dan mengundang decak kagum, suatu hal yang tidak gw temukan di pendahulunya. That climax is a killer, add that with the Stark house attack and skydiving scenes, awesomeness! Efek visualnya lebih jagoan, akting pemainnya pun nggak ada yang mengecewakan. Gampangnya, Iron Man 3 tetaplah sebuah film hiburan yang cukup berhasil. Tapi apakah lebih dari itu? Gw rasa sih enggak. Beda soal kalau ini film perdana tentang Iron Man. Tetapi setelah film Iron Man 1 dan 2 yang lebih "realis" dan lebih asyik pembawaannya, perubahan yang diambil Iron Man 3 ini nggak juga membawa gw untuk lebih lagi menyukai dunia Iron Man. Lebih unggul di satu unsur tapi di unsur lain (yang justru gw suka) malah berkurang, jatuhnya ya sama aja. Entahlah, dari dulu gw emang nggak berjodoh sama Iron Man.




My score: 6/10

Selasa, 07 Mei 2013

[Movie] Kisah 3 Titik (2013)


Kisah 3 Titik
(2013 - Lola Amaria Production/Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI)

Directed by Bobby Prabowo
Written by Charmantha Adjie
Produced by Lola Amaria
Cast: Ririn Ekawati, Maryam Supraba, Lola Amaria, Rangga Djoned, Dimas Hary CSP, Ingrid Widjanarko, Gesata Stella, Donny Alamsyah, Miea Kusuma, Arswendi Nasution, Gary Iskak, Joshua Pandelaki, Haffez Ali, Richa Novisa, Ella Hamid, Ence Bagus, Gia Partawinata


Dengan tema yang diusungnya, Kisah 3 Titik memang sengaja diputar berdekatan dengan Hari Pekerja (1 Mei), yang juga biasa dikenal sebagai hari banyak-banyaknya serikat buruh berunjuk rasa di kota-kota. Tetapi kita tahu sendiri bahwa unjuk rasa buruh itu nggak cuma tiap 1 Mei. Setidaknya setahunan terakhir ini sebagaimana terangkat di media massa nasional, unjuk rasa serikat buruh ini kayak kegiatan dwibulanan, sering banget, bahkan ampe ada yang nutup jalan tol segala. Isu yang sering diangkat adalah soal kenaikan upah dan penghapusan sistem outsourcing. Lalu biasanya “dilawan” oleh kaum pengusaha bahwa kenaikan upah dan penghapusan outsourcing artinya kenaikan ongkos produksi, sehingga secara pasif-agresif “mengancam” akan gulung tikar, PHK besar-besaran, atau investor pindah ke negara lain sehingga akan terjadi pengangguran masal di negeri kita ini. Orang yang (terlampau) awam pasti hanya bisa bereaksi “ih apaan sih bikin macet aja deh”, yang sebenarnya sama saja kayak bilang “ya udah terima aja nasib lo” atau “cari aja kerjaan lain napa sih *sambil sruput Starbucks*”, padahal permasalahan sebenarnya lebih besar dari yang kasat mata.

Setidaknya itulah yang coba diangkat dalam film produksi Lola Amaria ini. Lola yang sebelumnya sukses memotret kehidupan buruh migran/TKW Indonesia di Hong Kong dalam Minggu Pagi di Victoria Park, kali ini memotret perihal yang lebih pelik tentang dunia kerja dan berada tepat di tanah air. Beberapa permasalahan tenaga kerja di Indonesia ini diwakili oleh tiga karakter perempuan yang bernama—atau dipanggil—Titik, dalam keadaan lingkungan kerja yang berbeda satu dengan yang lain, namun memiliki tantangan dan permasalahan yang sama-sama pelik. Lumayanlah untuk menjawab keingintahuan tentang duduk perkara di balik—contohnya saja—demo-demo itu.

Titik Sulastri (Ririn Ekawati yang bermain gemilang) adalah janda miskin satu anak yang baru saja ditinggal wafat oleh suaminya dalam keadaan hamil. Tak punya siapa-siapa lagi di ibukota, demi menghidupi keluarga dan mempersiapkan kelahiran, Titik pun kemudian bekerja di sebuah pabrik, dan terpaksa merahasiakan kehamilannya. Namun, kebijakan, peraturan, serta pergaulan di tempat kerja tak menguntungkannya, khususnya sebagai perempuan hamil. Apalagi statusnya hanya sebagai buruh kontrak yang tidak punya tunjangan-tunjangan dan hak-hak layaknya pegawai tetap, libur tanpa digaji pun nggak bisa lama-lama, boro-boro cuti melahirkan. Mulut ember sesama rekannya membuatnya harus menghadapi personalia dan dihadapkan pada pilihan...well, bukan pilihan sih. Kontrak Titik diputus di tengah jalan, dan hanya dapat kembali lagi seandainya masih ada lowongan. (Inilah yang membuat karyawan kontrak/outsource lebih banyak dipakai perusahaan-perusahaan manufaktur ketimbang menerima karyawan tetap: lebih murah dan replacable. Kalau kontraknya habis tinggal cari yang lain atau perpanjang yang sudah ada, bila perlu kontrak terus sampai bertahun-tahun.)

Kisah kedua datang dari Kartika (Maryam Supraba), gadis berperawakan tomboy yang bekerja di pabrik sepatu rumahan. Datang dari latar belakang yang keras dan gelap, Kartika berharap dapat membangun kehidupan baru lewat pekerjaannya yang halal ini. Namun situasi tempat kerjanya begitu mengusiknya ketika perusahaan mem-PHK sejumlah pegawai akibat masalah keuangan, lalu mandornya memberi tugas yang lowong kepada anak-anak SD yang dikoordinir preman. Gimana nggak geram, anak-anak yang sepatutnya sudah ada di jalur yang benar untuk masa depan lebih baik malah dimanfaatkan, bahkan “diracuni” oleh pihak-pihak yang hanya mau ambil untung.

Di sisi yang agak kontras, ada Titik Dewanti (Lola Amaria), pegawai kantor manajemen perusahaan manufaktur yang selama ini merasa telah bekerja keras namun minim apresiasi, akhirnya diangkat sebagai manajer SDM untuk pabrik inner beauty alias pakaian dalam (tempat kerja Titik Sulastri) yang baru diakusisi perusahaan. Lewat jabatan barunya, Titik berusaha membuat penyesuaian regulasi ketenagakerjaan, mulai dari sistem kenaikan upah hingga jaminan sosial, sesuai peraturan pemerintahlah (ciee, titipan nih ye), pun dengan dukungan penelitian di lapangan. Namun apa yang didapat justru penolakan mentah-mentah, bahkan cenderung menindas, baik dari bawahannya maupun manajemen di atasnya, dan justru Titik-lah yang ujung-ujungnya diantagonisir. Ini orang-orang maunya apa sih! *ikutan emosi*

Yup, menyaksikan Kisah 3 Titik ini cukup bikin emosi saking nyatanya keadaan dan permasalahan yang digambarkannya. Pada titik ini—no pun intended—gw harus memuji kejelian dan ketelitian para pembuat film ini terhadap isu yang diusungnya. Permasalahan ketenagakerjaan dalam negeri, dari yang kecil sampai yang besar, dari buruh rendahan hingga manajemen di kantoran, disampaikan dengan komprehensif, lugas, dan nggak mengada-ada, mewakili banget deh (demikian kata seorang teman yang pernah kerja di pabrik). Pengetahuan-pengetahuan tentang buruh kontrak/outsourcing, hierarki kerja, "permainan" kotor, politik kantor, hingga apa pentingnya cuti melahirkan bagi perempuan, disampaikan dengan baik tanpa menggurui. Argumen kesejahteraan versi buruh vs versi pengusaha pun disematkan dengan cukup mudah dipahami, serta menguatkan kelebihan film ini yang melihat dari berbagai, err, titik pandang, tidak hanya pembelaan tak berimbang. Sebagai film yang dapat menambah wawasan, Kisah 3 Titik perlu diberi jempol.

Namun, sebuah film cerita yang baik tak cukup berhenti di menambah wawasan, tentu harus diimbangi dengan unsur naratif yang dapat membawa penonton terlibat di dalamnya. Untungnya, penceritaan film ini cukup memuluskan jalan bagi penonton untuk ikut mengalami apa yang dialami para tokohnya, semua ditampilkan tanpa dramatisasi yang terlampau nghayal. Mungkin yang jadi masalah, sesungguhnya arah penceritaan ketiga kisah ini tidak terlalu konkrit, kalau tidak mau dibilang nggak utuh. Ketiga cerita tampak seperti cuma perkenalan karakter dan lingkungannya, baru mengarah pada permasalahan utama di bagian akhir banget, lalu selesai. Hal ini paling kelihatan dari kisah Kartika yang konflik utamanya agak ketutup sama office romance dengan Anto (Donny Alamsyah), jadi peralihannya agak tiba-tiba. (Terlalu) Banyaknya karakter yang ditampilkan berpengaruh juga kali ya, jadi agak overload gitu, dan gw nggak tahu fungsi penting mereka selain tak lebih dari penegas deskripsi ruang dan sosial saja. Tetapi mungkin inilah visi kreatif film ini. Film ini hanya bercerita, hanya berkisah, serta, dengan akhiran yang ditampilkan, seperti bertanya kepada penonton "now that you know, how do we solve it?". Hanya ada bagian "diketahui" dan "ditanyakan", sedangkan jawabannya harus cari sendiri *berasa ujian IPA*. Jurus yang jitu, membuat film ini bukan cuma sebagai penambah pengetahuan, tetapi juga memancing diskusi, apalagi bagi yang memang berada dalam dunia kerja atau bidang-bidang yang ditunjukkan film ini. Ngerasa banget deh.

Setidaknya misi film ini untuk jadi "filmnya para pekerja" terbilang berhasil. Gw meskipun gak punya pengalaman di sektor manufaktur, tetap bisa mengerti kegelisahan dan motivasi tiap-tiap orang yang ada di sini, termasuk yang tukang jilat dan tukang tikung itu—walau masih heran aja kenapa ada orang-orang "sampe segitunya" pengen survive/naik kariernya, idih. Anyway, secara filmis pun film perdana sutradara Bobby Prabowo ini jauh dari kata jelek. Kemasan penceritaan dan audio visualnya mungkin sekilas tidak istimewa, tetapi masih efektif, terutama dalam hal menunjukkan sudut-sudut kontras kota Jakarta yang menegaskan gambaran realitas yang ada (sekalipun film ini fiksi). Gw juga senang dengan penggambaran tokohnya yang tidak all saints *pasang "Never Ever"* yang bisa dijadikan simbol tentang sulitnya jadi orang "bener" di dunia kerja. Plus gambaran bahwa di mana pun Anda berada, tukang gunjing itu pasti ada. Human nature yang satu itu...




My score: 7/10

Jumat, 03 Mei 2013

[Movie] What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)


What They Don't Talk About When They Talk About Love
a.k.a. Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta
(2013 - Cinesurya Pictures/Amalina Pictures)

Written & Directed by Mouly Surya
Produced by Rama Adi, Tia Hasibuan, Fauzan Zidni, Ninin Musa
Cast: Karina Salim, Ayushita Nugraha, Nicholas Saputra, Anggun Priambodo, Lupita Jennifer, Jajang C. Noer, Tutie Kirana, Khiva Iskak


Dari segi mana pun, kesan yang terpancar dari What They Don't Talk About When They Talk About Love adalah "wih pasti aneh nih". Judulnya panjang bangeut, pake bahasa enggris, apalagi sebelumnya menjadi film Indonesia pertama yang masuk kompetisi di Festival Film Sundance 2013 di Amerika Serikat—festival film independen terkemuka dunia, kesan "film festival yang sulit dicerna" pun semakin nempel. Honestly, film ini memang bukan tipe crowd-pleasing, butuh kesabaran dan niat tulus untuk menontonnya, bukannya sekadar sebagai selingan. Tetapi jika melesapkan semua kecurigaan dan harapan yang enggak-enggak, film ini sendiri nyatanya sebuah karya yang manis, heartfelt, dan orisinal. Gw malah merasa film ini salah satu yang paling orisinal yang pernah gw tonton. Intinya, film ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, lagipula nggak se-aneh itu kok. Dan gw selanjutnya akan merujuk film ini sebagai "film ini" saja, karena judulnya kepanjangan, dan singkatan resminya (Don't Talk Love/Tidak Bicara Cinta) rasanya kurang mencakup, jadi ya udahlah ya.

Film ini hendak bercerita tentang cinta antar remaja usia SMA di sebuah Sekolah Luar Biasa di Jakarta, dalam hal ini SLB untuk penyandang tunanetra (istilahnya SLB A *abis ngewiki*). Ada Diana (Karina Salim) yang dari keluarga berada mengalami cinta pertamanya dengan teman sekelasnya, Andhika (Anggun Priambodo). Lalu ada Fitri (Ayushita Nugraha, iya, Ayushita yang dulu poninya bentuk lope-lope itu), yang gemar dengan kisah supranatural, menemukan cintanya dengan "hantu dokter", yang sebenarnya adalah manusia bernama Edo (Nicholas Saputra), anak ibu warung dan penghuni lingkungan SLB (Jajang C. Noer). Kedua kisah ini akan biasa banget bila kita melupakan bahwa Diana itu penyandang low-vision—bisa melihat hanya dari jarak deket banget/nempel muka, Andhika dan Fitri penyandang tunanetra total, dan Edo si anak punk tunarungu. Dalam keadaan masing-masing, proses mereka menemukan cinta itu tentu tidak biasa. Bagaimana Diana bisa menarik perhatian Andhika tanpa saling lihat-lihatan dulu? Bagaimana Edo yang tak bisa bicara dan mendengar menyampaikan perasaannya kepada Fitri yang tidak bisa melihat? Penggambaran proses inilah yang bagi gw menjadikan film ini unik, karena gw belum pernah menyaksikan yang seperti ini. Begitu telaten dan detil, dan tetap bikin senyam-senyum saking manisnya.

Dengan setting, karakter, serta fokus penceritaan, sebenarnya gampang saja menangkap apa yang mau disampaikan sutradara dan penulis Mouly Surya lewat film bioskop keduanya sejak Fiksi. (2008) ini. Bahwa meski memiliki kekurangan fungsi fisik, mereka sama kok kayak umumnya remaja, caranya aja yang beda. Mereka punya segala kesukaan dan kemauan, dan labil, hanya saja perlu cara tersendiri untuk menyampaikan dan memenuhinya. Bandel-bandelnya juga nggak jauh beda sama yang anak-anak yang fisiknya berfungsi lengkap. Diana-Andhika adalah contoh cinta monyet paling standar, innocent, pula jenaka, menyaksikan kisah mereka adalah bagian menghibur dalam film ini. Fitri-Edo adalah versi nakalnya, yang digerakkan oleh gejolak nafsu kawula muda, namun tak kalah romantisnya. Keberhasilan film ini bukan untuk mengajak mengasihani keadaan tokohnya, tetapi membawa penonton (setidaknya gw) untuk benar-benar memandang segala sesuatu dari sudut pandang mereka, yang sudah sampai pada tahap nyaman dan santai saja dengan kehidupannya sekalipun fungsi inderanya tidak lengkap.

Memang seakan-akan tokoh-tokoh ini seperti steril dari keadaan sosial lebih luas, hanya berkutat pada lingkungan SLB (ada asramanya) yang fasilitasnya relatif cukup baik, tetapi mungkin memang sejauh itulah dunia mereka di usia ini, belum saatnya mengkhawatirkan hal yang lain-lain. Persentuhan tokoh-tokoh ini dengan dunia luar digambarkan minim, paling hanya diwakili Maya (Lupita Jennifer) si remaja ngartis penggemar rainbow cake yang sering mampir dan ikut kegiatan di SLB, atau Edo yang beli rokok di 7-Eleven, atau pacar Fitri yang sehat-lahir-tapi-batin-belum-tentu (Khiva Iskak) yang kerap memanfaatkan Fitri demi isi celananya. Namun, film ini tidak membahas tentang pembedaan anak-anak penyandang cacat dengan yang bukan, tidak juga bertitikberat pada perlakuan yang mereka dapatkan dari masyarakat. Film ini hanya bicara, emmm, cinta. Sesederhana itu. Ditambah dengan sebuah segmen "what-if" yang jujur agak mengejutkan dan membingungkan, gw malah semakin jelas menangkap bahwa yang ingin disampaikan mbak Mouly ketika membuat kisah cinta antar remaja dengan disabilitas ini adalah penekanan pada cinta remajanya, bukan semata-mata soal disabilitasnya. Artinya—sekalipun tentu menyematkan misi awareness—film ini hanya mau bercerita tentang cinta "biasa" milik anak-anak remaja luar biasa ini, bukan mengeksploitasi dengan haru biru apalagi merendahkan. Tentang kehidupan normal, but different version of normalAnd I think she did it brilliantly.

Konsep dan pengisahan yang brilian itu pun semakin memukau dengan presentasinya yang sangat cantik ciamik joss gandhos. Dengan kisah yang visioner dan orisinal seperti ini, aspek lain pun melengkapi dengan eloknya. Production design-nya terlihat apa adanya namun sangat teliti dan berfungsi, pun tata sinematografinya begitu menggoda iman saking kerennya, bahkan dari shot paling awal dengan angle-angle artistik. Presentasinya visual begitu artsy, melengkapi tata adegannya yang panjang-panjang dan, well, banyak yang akan menganggapnya lamban (contohnya ngitung 70 sampe 100 sambil sisiran tanpa cut =p), jarang dialog pula. Tetapi anehnya gw selalu merasa ada yang menarik untuk disaksikan di layar. Menyaksikan sebuah proses kegiatan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh kita secara seksama itulah yang berhasil membawa gw masuk ke dalam dunia plus jalan pikiran Diana cs. Tambahkanlah itu dengan tata suara yang fungsional, penyuntingan yang nggak nyiksa, musik yang cantik, bahkan pemilihan lagu-lagu soundtrack yang tak sembarang ("Nurlela"-nya Bing Slamet itu highlight), dan tentu saja kunci pentingnya ada di performa aktor yang nyaris tanpa cela. Akting mereka di sini, terutama empat tokoh utama kita, bukan cuma soal memerankan tokoh dengan disabilitas, namun juga penyampaian emosi ala anak-anak remaja yang genuine dan mengundang empati. Perihal ini, predikat istimewa versi gw akan diberikan pada Karina Salim yang innocence-nya begitu believable, dan Nicholas Saputra yang selalu handal dan terpercaya kualitasnya. 

Yah terserah mau dibilang sok nyeni atau apalah, tetapi buat gw film ini adalah film yang luar biasa. Benar, ini sebuah film art, jenis yang kerap "ditakuti" khalayak umum. Penuturan dan kemasannya memang agak lain dari yang lain, tetapi bila mau bersabar, maka efek menyenangkan seusai menontonnya pasti didapat jua. Ini kisah(-kisah) cinta yang manis, dan semakin manis karena film ini memaparkan cara merajut cinta yang sangat jarang terlihat atau terpikirkan oleh sebagian besar orang, yang disampaikan melalui bahasa gambar yang teliti tak banyak omong. Lewat film ini, mbak Mouly membuktikan bahwa kualitas kerjanya di film Fiksi. yang cermat dan "sakit" itu (dan berbuah 4 piala Citra FFI 2008) bukanlah kebetulan, bahkan kalau jujur film ini melebihi ekspektasi gw berdasarkan film tersebut. I thought it was going to be too weird and distant. Gw justru melihat film ini lebih cermat, lebih indah, lebih pas dengan pacing-nya yang slow, dan lebih terasa emosinya lewat caranya membangun tiap-tiap karakter dengan perlahan. Senyum yang tersungging di muka gw di hampir sepanjang film dan sesudahnya adalah buktinya. Film yang unik dan cantik, sekaligus memberi suka hati dengan caranya sendiri. Film istimewa ya kayak gini ini.




My score: 9/10