Selasa, 30 April 2013

[Movie] 9 Summers 10 Autumns (2013)


9 Summers 10 Autumns
(2013 - Angka Fortuna Sinema)

Directed by Ifa Isfansyah
Screenplay by Fajar Nugros, Ifa Isfansyah, Iwan Setyawan
Based on the novel by "9 Summers 10 Autumns: Dari Kota Apel ke the Big Apple" by Iwan Setyawan
Produced by Edwin Nazir, Arya Pradana, Diana Nazir
Cast: Ihsan Tarore, Alex Komang, Dewi Irawan, Agni Pratistha, Dira Sugandi, Hayria Faturrahman, Shafil Hamdi Nawara, Epy Kusnandar, Ence Bagus, Ria Irawan, Ade Irawan


Jaminan mutu sudah tertera pada film 9 Summers 10 Autumns ini. Ada nama-nama aktor sekaliber Alex Komang dan Dewi Irawan, pun ada sutradara Ifa Isfansyah. Well, karya Ifa sebelumnya, Ambilkan Bulan mungkin terlalu "coba-coba" jika dibandingkan film-filmnya yang lebih apik seperti Garuda di Dadaku atau tentu saja Sang Penari, namun mantu Garin Nugroho ini semakin hari semakin layak dipercaya dalam menghasilkan karya berkualitas dan enak ditonton. Yang jadi garapannya kali ini adalah kisah nyata seorang putra dari keluarga sangat sangat sederhana di Batu (tetangganya Malang) yang dalam usia awal 30-an sukses menjabat posisi direktur sebuah perusahaan di New York! Yoih, New York yang itu. Anak sopir angkot dari sebuah daerah yang bahkan banyak orang yang gak yakin letaknya di mana, bisa memimpin sebuah perusahaan multinasional di kota terbesar di dunia. 

Iwan Setyawan (Ihsan Tarore, waktu kecil dimainkan Shafil Hamdi Nawara), atau sering dipanggil Bayek, adalah semacam anak harapan keluarga karena dialah satu-satunya anak laki-laki dari lima anak yang dipunyai Bapak (Alex Komang) dan Ibuk (Dewi Irawan). Walaupun hidup pas-pasan di rumah yang sempit, Iwan termasuk anak cemerlang yang giat belajar, bahkan digambarkan suka dengan pelajaran yang di atas stratanya, terutama hitung-hitungan. Setelah lulus SMA, Iwan berhasil masuk Institut Pertanian Bogor jurusan Statistika lewat jalur PMDK (tanpa tes UMPTN, atau apalah itu istilahnya sekarang), lalu bekerja di perusahaan surveyor di Jakarta hingga akhirnya berhasil lolos untuk bekerja dalam bidang yang sama di New York mulai tahun 2001, dan beberapa tahun kemudian bisa menduduki jabatan tertinggi di sana.

Tentu saja penceritaan nggak cuma segitu doang. Soal kesulitan ekonomi tentu ditunjukkan, tetapi masa kecil Iwan dan posisinya dalam keluarga juga patut disimak. Ia anak yang berprestasi di tengah segala keterbatasan itu (termasuk sifat pemalunya yang banget-banget), dijaga betul sama Ibuk dan kakak-adiknya, tetapi tidak serukun itu dengan si Bapak. Ibuk menanamkan Iwan kelak dapat memperoleh lebih dari yang mereka punya sekarang, sedangkan harapan Bapak tak jauh-jauh ingin anaknya kelak jadi "laki-laki", tulang punggung keluarga seperti dirinya. Yah, bisa dimengerti sih kegemasan si Bapak melihat kesenangan dan kegiatan Iwan emang kurang "anak laki" pada umumnya: nyaris gak pernah main di luar, dan lebih sering membantu Ibuk dan kakak-kakaknya di dapur ketimbang bantuin Bapak merawat mobil angkot. Pas udah gedean lumayanlah Iwan mau disuruh jadi kernet angkot sepulang sekolah. Namun, tetap saja didikan keras Bapak yang ingin putranya membantu usahanya dan stop berpolah gunyu-gunyu itu menimbulkan konflik batin pada Iwan yang memang lebih suka sama hal-hal akademik dan seni. Ini semakin memuncak ketika Bapak keberatan sama niat Iwan ke IPB, yang berarti meninggalkan seluruh keluarga.

Gw salut dengan kisah yang diangkat dalam film ini. Iwan Setyawan asli yang (menurut kredit) ikut dalam penulisan naskahnya kelihatan sekali begitu sayang pada keluarganya. Salutnya lagi, film ini (paling tidak kesannya) bertutur apa adanya bukannya hanya menunjukkan yang bagus-bagus aja. Terlepas dari distorsi memori ataupun dramatisasi, setidaknya penggambarannya menjadi tidak one-dimensional. Iwan tidak malu dengan gambaran Bapak yang pernah masuk penjara, tidak keberatan film ini menunjukkan sense of fashion-nya yang ngondek mencolok kayak lebih cocok untuk cowok-cowok Osaka daripada New York, tidak malu juga dengan penggambaran dirinya pernah abai membiayai keluarga demi pergaulan middle-class sok-kaya ala Jakarta. Ia bahkan tidak ragu menempatkan dirinya sendiri sebagai tokoh yang, well, paling "kurang ajar" di antara anggota keluarganya. Kentara bahwa tujuan dibuatnya kisah ini bukan untuk bilang "aku hebat", tapi "keluargaku hebat". Sebab, tanpa keluarga serta dinamika hubungannya, terutama dengan Ibuk dan Bapak, ia tidak bakal bergerak untuk mencapai segala yang akhirnya dia capai, pun dengan tetap menjadi dirinya sendiri (perlu diperhatikan bahwa Iwan menekuni bidang yang memang dia gemari).

Salut juga perlu ditujukan pada Ifa Isfansyah dan tim yang berhasil menata kisah perjalanan hidup Iwan, yang jujur saja berpotensi berjalan datar karena absennya konflik besar, menjadi suguhan sinematik yang rapih dan mudah dinikmati. Kepekaannya pada hal-hal kecil membuat adegan demi adegan selalu tampak berwarna, selalu ada yang menarik disimak. Ada jenaka, ada haru, ada cinta monyet, namun semua terasa alami dan mudah terhubung dengan penontonnya. Di sisi lain, penggambaran kesepian Iwan di New York dengan membuatnya berinteraksi khayal dengan Iwan kecil juga tidak terasa janggal. Kisah dituturkan perlahan tapi pasti dan membuat penasaran sekalipun penonton sudah punya bayangan bagaimana akhirannya. Detil-detil produksinya nyaris tiada cela. Tata adegan, sinematografi, tata suara, tata musik, penyuntingan, semua terlihat dan terdengar indah, cakep dah. Sudut-sudut yang dalam kenyataan tampak nggak enak dilihat pun bisa terkesan estetik (kayak rumah Iwan di Batu, kostnya di Bogor, dsb). Desain produksi juga perlu diberi pujian atas keberhasilannya menggambarkan pergantian era dari 1980-an hingga 2010-an dengan mulus sampai ke properti terkecil seperti kaleng margarin Palmboom vintage ataupun budaya pop 1990-an seperti Catatan Si Boy dan Asia Bagus =).

Sekarang dari segi akting, Ihsan kali ini sukses meyakinkan bahwa dia mampu berakting dengan baik dan berdedikasi. Mungkin juga karena perjalanan hidup Iwan Setyawan tidak terlalu beda dengannya yang juga memperoleh sukses nasional sekalipun datang dari keluarga sangat sederhana *eh inget aja gw =p*, penggunaan aksen Jawa-nya pun tidak tampak kaku. Namun, jawara akting tentu saja ada pada Alex Komang dan Dewi Irawan yang bikin gw nggak bisa bayangkan kalau yang main bukan mereka. Pak Alex sukses menjadi seorang Bapak pekerja keras dan berwatak keras yang punya cara sendiri dalam menunjukkan kasih pada sang putra, dan Ibu Dewi tak kalah cadas sebagai Ibuk yang selalu ada untuk Iwan, termasuk membelanya dari kekeraskepalaan sang Bapak. Sedangkan penampilan aktor-aktor lain umumnya tak terlalu banyak namun cukup berkesan, seperti Agni Pratistha, Hayria Faturrahman, Epy Kusnandar, Ence Bagus (jadi sopir mikrolet yang sering gw naikin, M-26 Kampung Melayu-Bekasi =)), aktor-aktor cilik yang asli dari sekitaran Malang, hingga yang singkat banget tapi apik dari Ade Irawan sebagai eyang putri dan Ria Irawan sebagai ibu jual pecel lele. Mungkin justru aktor-aktor bulenya yang kaku banget. O well, nggak papa lah.

9 Summers 10 Autumns bisa dianggap hanyalah satu lagi kisah sukses yang diharapkan dapat menginspirasi banyak orang. Setahu gw penonton Indonesia banyak yang suka dengan film semacam ini, seperti terlihat pada sambutan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, atau Negeri 5 Menara. Nah anggaplah 9 Summers 10 Autumns ini versi penyendirinya. Tetapi, kelebihan film ini adalah caranya memberi perspektif berbeda. Film ini tidak cuma memperagakan bagaimana Iwan kecil yang "takut miskin" akhirnya bisa jadi lebih dari yang dia impikan, kalau gitu doang mah baca sinopsis juga selesai. Film ini bercerita dari perenungan Iwan di tengah kesuksesannya di negeri orang yang merindukan pusat hidupnya: keluarganya. Keluargalah penggerak utama kisah ini. Itu pula yang dapat menjelaskan kenapa lebih banyak adegan ber-setting Indonesia ketimbang di New York, karena bukan New York-nya yang harus diagung-agungkan—sekalipun bagian New York-nya memang asli 100% di New York *ala-ala film apaaa gitu ya*. Cerita sederhana dan membangkitkan, penuturan enak dan menghibur, aktor-aktor bagus, dilengkapi dengan tata audio visual serba apik, 9 Summers 10 Autumns (yang btw artinya 9 musim panas dan 10 musim gugur=10 tahun, kali aja ada yang nanya) adalah film yang hangat, memberi banyak senyuman, serta harusnya banyak ditonton masyarakat. Ucapkan salam.




My score: 8/10

Selasa, 23 April 2013

[Movie] Oblivion (2013)


Oblivion
(2013 - Universal)

Directed by Joseph Kosinski
Screenplay by Karl Gajdusek, Michael DeBruyn
Based on the graphic novel, original story by Joseph Kosinski
Produced by Joseph Kosinski, Peter Chernin, Dylan Clark, Barry Levine, Duncan Henderson
Cast: Tom Cruise, Morgan Freeman, Olga Kurylenko, Andrea Riseborough, Melissa Leo, Nikolaj Coster-Waldau


Entah datangnya dari mana, tahun-tahun belakangan ini gw agak enggan untuk buru-buru menyaksikan film-film yang dibintangutamai Tom Cruise. Mungkin eneg karena hampir setiap poster film-filmnya harus kudu ada muka dan nama dia gede-gede? Mungkin karena rata-rata aktingnya terlalu sadar-diri-kalau-keren-dan-terkenal-jadi-harus-belagak-cool-terus-terusan? Atau mungkin karena gw sirik aja? Anyway, begitu pula dengan Oblivion ini. Sure, film ini bakal laris, sebuah film fiksi ilmiah futuristik penuh efek visual dan ada Tom Cruise-nya pula. Tapi ya gw nggak excited-excited amat. Gw memutuskan menunda nonton film ini di minggu pertama dengan pertimbangan supaya nggak merusak anggaran dasar nonton bioskop bulanan (karena HTM semua bioskop udah pada naik rata-rata 20%, cih), dan juga memprioritaskan film-film Indonesia yang umumnya berumur lebih pendek di bioskop. Gw rasa bulan depan juga film ini masih ada, Tom Cruise gitu loh. Pun rupanya reaksi teman-teman yang sudah nonton duluan sungguh bervariasi layaknya harga tiket pesawat terbang di internet. So let's see.

Tahun 2017, Bumi diinvasi makhluk asing yang disebut Scavs dengan meledakkan Bulan, sehingga memaksa manusia melawan dengan senjata nuklir. Kaum manusia menang, tetapi Bumi tetap luluh lantakh ("kh" supaya kayak Bams Samsons). Tahun 2077, sebagian penduduk Bumi telah bermigrasi ke salah satu satelit Saturnus, Titan. Sebagiannya lagi masih singgah di stasiun luar angkasa yang mengorbit Bumi yang disebut Tet, jangan tambah "e" lagi. Jack Harper (Tom Cruise) bersama rekan-tapi-mesranya, Vika (Andrea Riseborough) kini dalam sisa 2 minggu shift kerja sebelum bisa balik ke Titan, sebagai petugas pengawas mesin-mesin yang sedang mengumpulkan sumber energi Bumi yang masih tersisa agar dapat dibawa ke Titan. Dan demi kelancaran dan fokus dalam bertugas, baik Jack maupun Vika sudah dihapus ingatannya sebelum terjun ke Bumi. Tak hanya inspeksi dan memperbaiki kalau ada mesin yang rusak, Jack harus melindungi mesin-mesin itu dari gerilya kaum alien Scavs yang ternyata masih ada tersisa di Bumi. Meski tak memiliki ingatan masa lampau, Jack rupanya masih sering diganggu mimpi-mimpi tentang kota New York sebelum perang yang selalu dibintangi sesosok wanita yang sama. Suatu ketika dalam inspeksinya ia menemukan Julia (Olga Kurylenko), wanita yang selalu muncul dalam mimpinya itu. Kehadiran Julia menjadi awal dari pengungkapan segala hal, membuat Jack mempertanyakan semua yang ia ketahui dan yakini selama ini.

Oblivion sejak awal sudah mengetengahkan tone misteri dalam kisahnya. Keadaan yang sunyi, polos, monokromatis, dunia serasa milik Jack dan Vika berdua bahkan yang ngontrak pun nggak ada, dan senantiasa ada pertanyaan demi pertanyaan yang menghinggapi penonton, mulai dari apa, siapa, bagaimana, mengapa, hingga kapan...kapan ini film selesai, hahaha. Harus diakui bahwa plot yang dibangun oleh sutradara Joseph Kosinski memang bergerak lambat. Perkenalan tokoh dan situasi Bumi 2077 ini terlihat terperinci dan di saat yang sama terasa lelet, malah konflik baru muncul ketika Julia hadir, yakni nyaris satu jam setelah film berjalan...atau setidaknya rasanya satu jam, entahlah, you know what I mean lah. Tapi di mata gw, itu semua sebenarnya cukup terlunasi, terutama dari segi visual.

Terlepas dari laju cerita yang mungkin terlalu terulur, serta tidak semua misteri terungkap dengan jelas atau terlalu sambil lalu (ini merujuk pada kemunculan Morgan Freeman and the gang =p), Oblivion sesungguhnya adalah film yang dibuat dengan jeli, dan tentu saja layak ditonton. Selambat-lambatnya penuturan dan seaneh-anehnya beberapa titik cerita, film ini tetap cukup solid dalam membangun alur dan karakternya. Apalagi, sebagaimana karya debut Kosinski sebelumnya, TRON: Legacy yang juga (malah lebih) lemah di jalan cerita, adegan-adegan laga dan rancangan visual grande-nya sangat memuaskan. Adegan laganya  bahkan 1-2 kali memancing gw untuk berseru "anjreet" =). Demikian pula desain futuristik minimalis nan sophisticated dari rumah, mesin-mesin serta peralatan yang diperlihatkan—dengan tema desain "bundar-bundar"—sungguh memanjakan mata. Efek visualnya jempolan, khususnya karena dapat membuat mesin-mesin terbang jadi tampak sangat tangible. The swimming pool on the tower is really fancy.

Tapi kolamnya serem juga sih kalau bawahnya bening gitu...

Faktor pemainnya turut melengkapi dengan oke sekalipun nggak terlampau istimewa karena nggak pakai telor. Mungkin yang paling menonjol adalah penampilan Andrea Riseborough yang tampak cerah tapi misterius itu. Cakep banget sih enggak, tapi British accent-nya itu lho =). Dan, yaah, Tom Cruise okelah, tetep dengan kesan gw-bintang-utama-jadi-harus-selalu-tampak-dan-terdengar-keren-termasuk-di-intonasi-bicara, tapi setidaknya di sini beberapa kali tampak jelas doski melakukan adegan-adegan berbahaya (stunt) sendiri tanpa pengganti—jika bukan berarti visual efeknya canggih banget =p. Salut lah.

All in all, techincally, Oblivion ini oke sekali. Gambarnya clean dengan komposisi yang anggun (dan katanya disyut dengan kamera digital beresolusi 4K yang sangat jernih), tata suaranya keren, tata musiknya yang dibuat grup elektronik Prancis M83 juga asoy sekalipun sering terdengar seperti versi remix karya-karya Hans Zimmer. Gambaran keadaan alam Bumi yang hancur dan kosong juga menimbulkan kekaguman karena sebagian bukanlah gambar murni animasi melainkan pemandangan lokasi betulan, yang mengingatkan pada adegan pembuka Prometheus...dan emang ambil lokasinya sama-sama di Islandia juga. Ih, kok nyontek sih?

Well, untuk hal ini, jika diperhatikan Oblivion memang mengambil banyak referensi dari kisah-kisah di film lain, terutama yang fiksi ilmiah. Selama perjalanan film ini, kita bisa merasakan vibe seperti film-film fiksi ilmiah terkenal macam Wall-E, The Matrix, Dark City, Star Wars, Moon, Independence Day, Total Recall, Planet of the Apes, hingga 2001: A Space Odyssey. Bahkan referensi film yang terakhir itu cukup "vulgar" dengan pemakaian Odyssey sebagai nama pesawat naas yang ditumpangi Julia. Dan rasa-rasanya, kalau paham sama referensi-referensi tersebut, penonton bakal banyak tersenyum dengan Oblivion ini, baik karena gambar maupun jalan ceritanya yang "wah, ini/itu/anu banget nih". Tapi, mungkinkah Joseph Kosinski yang juga menggagas cerita aslinya dalam format komik ini (tapi belum terbit) emang nggak kreatip dan bisanya nyontek doang, atau justru meniatkan Oblivion sebagai penghormatan pada genre ini? Silahkan nilai sendiri. Sedangkan buat gw, ide-ide "orang lain" itu dileburkan dengan cukup baik dan mulus kok, malah bikin gw penasaran untuk menyimak hingga akhir, dengan cara seperti (film) apa Kosinski akan menyelesaikan filmnya. Oblivion, sebuah suguhan cukup apik dan traktiran yang menyenangkan khususnya bagi penggemar bidang sci-fi, dan umumnya bagi siapa pun yang mau sedikit bersabar =P.




My score: 7/10

Jumat, 19 April 2013

[Movie] Mursala (2013)


Mursala
(2013 - Raj's Production)

Directed by Viva Westi
Written by Tubagus Deddy, Viva Westi
Produced by Anna Sinaga
Cast: Rio Dewanto, Titi Rajo Bintang, Mongol Stress, Anna Sinaga, Tio Pakusadewo, Reins Christiana Situmeang, Rudy Salam, Roy Ricardo, Elza Syarief


Mungkin memang agak berlebihan jika mengharapkan Mursala akan segemilang karya apik Viva Westi sebelumnya, Rayya Cahaya di Atas Cahaya yang jadi film nomer 1 gw tahun lalu. Benar mbak Westi memboyong beberapa "tim sukses"-nya di film itu, yakni Titi Rajo Bintang d/h Titi Sjuman, lalu Tio Pakusadewo, juga sinematografer Ipung Rachmat Syaiful. Tetapi harus diingat juga bahwa film ini diinisiasi oleh tim yang bisa dibilang masih baru dalam dunia film, yang dipimpin oleh Anna Sinaga (di filmnya ditambahkan "SH"), pengacara muda yang juga ikut tampil berakting di sini. Ditambah lagi film ini mengemban pesan pariwisata Pulau Mursala di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, juga mengangkat kebudayaan Batak nan kental dalam plotnya. Di satu sisi ini sangat menjanjikan, namun di sisi lain, ternyata...hmm, entah karena kecapekan atau kebanyakan pressure atau apa, hasilnya tidak terlalu maksimal di beberapa aspeknya yang cukup krusial.

Film Mursala berpusat pada Anggiat Simbolon (Rio Dewanto), seorang pengacara muda asal Tapanuli Tengah yang kariernya sukses di Jakarta, yang berharap dapat menikah dengan kekasihnya, Clarissa Saragih (Anna Sinaga). Sayangnya ketika niat ini dibawa ke sang inang (Reins Christiana Situmeang) dan warga kampungnya, kedua insan Batak ini tidak diperbolehkan menikah karena marga mereka termasuk dalam PARNA, yakni 70 marga yang masih dalam satu keturunan sehingga dianggap "saudara sekandung". Jika melanggar, maka Anggiat akan dikeluarkan dari adat, imbasnya tidak boleh pulang ke kampung halamannya lagi. Inang tak tega dengan kegelisahan putranya, mulai mengarahkan Anggiat ke paribannya (sepupu) yang seorang aktivis lingkungan di sekitar pulau Mursala, Uli Sinaga (Titi Rajo Bintang) yang sudah dikenalnya sejak kecil. Lalu apakah Anggiat akan tetap memperjuangkan cinta atas adat?

Bagi orang-orang "romantis", jawaban pertanyaan di atas adalah "Ya iya dong! Cinta jelas mengalahkan segalanya! nya! nya! *gema*". Tapi inilah hal menarik yang juga cukup berhasil diangkat dalam film ini. Penghormatan orang-orang Batak terhadap adatnya sangatlah kuat. Sangat kuat. Bahkan dalam film ini digambarkan tokoh bersuku Batak yang tidak dibesarkan dalam lingkungan adat pun tidak berani macam-macam untuk perkara ini. Cinta beda bangsa udah susah, beda agama susah, beda budaya susah, lah ini budayanya sama kok masih susah juga. Tampak tak masuk akal, tapi ini benar adanya, karena ini menyangkut harta yang paling berharga, keluarga. Hal ini juga ditegaskan dengan Anggiat yang bisa dibilang "kelas atas" tidak canggung untuk bergaul dengan tulang/pamannya (Tio Pakusadewo) yang seorang sopir Metro Mini, di lapo sederhana di Jakarta. Karena keluarga. 

Story-wise, film Mursala ini sangat menarik, lengkap, dan tidak mengada-ada. Gambaran tentang adat Batak dan orang-orangnya di berbagai keadaan juga ditampilkan dengan komprehensif dan dapat (dengan mudah) ditemukan dalam keseharian. Susunan cerita human drama tentang pertentangan demi pertentangan antara cinta, keluarga, adat, karier, dan persahabatan menyatu dengan tidak berlebihan. Salah satu hal yang menarik gw adalah halusnya bangunan hubungan Anggiat dan Uli, yakni kesamaan mereka menentang ketidakadilan lewat profesi masing-masing. Jadi, kasus pencurian sendal dan penyuluhan anti-bom ikan bukan cuma selingan yang kepanjangan, tetapi membangun hubungan karakter mereka berdua, yang bukan karena terpaksa, atau bukan juga karena tuntutan ini film bertema cinta jadi harus miraculously segera bersatu.

Naaah...masalah mulai muncul pada tahap eksekusi. Sangat banyak bukti visual bahwa mbak Viva Westi struggling untuk menampilkan performa terbaik dari pemainnya. Rio Dewanto seperti belum mengeluarkan akting terbaiknya, masih kayak FTV. Pemain-pemain debutan seperti Anna Sinaga, Reins Situmeang (ibunda Anna), Roy Ricardo (adiknya Melaney Ricardo) dan...ehm...pengacara kondang Elza Syarief sebagai dirinya sendiri terlihat canggung sekali. Kalau satu dua adegan sih nggak apa-apa ya, cuman...emm...gimana ya...sepertinya mbak Westi dan editornya kehabisan stok gambar berisi performa bagus sehingga yang ditampilkan yang ya-udah-mau-gimana-lagi. Kaku banget. Kalau mau diibaratkan, maap-maap nih, sebagian besar adegan film ini seperti sinetron lepas produksi TVRI daerah era 90-2000an yang minim budget dan memakai pemain-pemain non-profesional. Continuity-nya juga kadang melompat-lompat agak jauh, kadang nggak masuk akal. Dan yang bikin gw ampe tutup muka saking malunya tuh product placement Telkomsel yang menurut gw bisa lebih halus lagi. Daripada "aku 'kan pake Telkomsel," bernada iklan radio, mendingan "iya, ternyata bisa nih pake Telkomsel," dengan nada biasa aja dan agak terkejut basa-basi *saran aja*.

I really wanted to love Mursala, dan memang masih banyak hal yang membuat gw bisa bertahan mantengin film berdurasi 1,5 jam ini. Titi Rajo Bintang sekali lagi membuktikan ia aktris yang berdedikasi tinggi, dengan segala aksen, bahasa, dan gestur yang digunakan. Penampilan Mongol Stress sebagai Sahat si pengarang/penulis juga hitungannya termasuk top 3 bersama Titi dan Tio. Beberapa gag berhasil menghibur, misalnya waktu Sahat di perahu bisa berkomunikasi lancar dengan Uli di dermaga padahal jaraknya nggak deket—hence, jawaban mengapa banyak orang Batak kalo ngomong biasa aja tetep suaranya keras =). Sinematografinya asik (syutingnya pake seluloid, berasa film banget), apalagi ada bonus pemandangan air terjun Mursala yang heavenly itu—sayang kayaknya proses konversi gambar ke digital-nya kurang mantep jadi banyak yang kelihatan burem dan kasar gitu. Musiknya mengalun mulus, dan lagu tema "Mursala" dari Iwan Fals di akhir juga menjadi salah satu aspek paling baik film ini. Serta tentu saja ceritanya yang sebenarnya punya kualitas jempolan dan berhasil menggambarkan masyarakat dan budaya Batak dari sudut pandang orang-orangnya sendiri, bukan kartunis seperti biasa terjadi di film/sinetron/lawak nasional. Informasi-informasi tentang adat serta profesi (dan kritik sosial dikit-dikit) pun tidak asal tempel. Nevertheless, gw harus jujur, film ini terbata-bata dalam bertutur dan kagok dalam mengusahakan segenap modal yang sebenarnya sudah baik itu. And don't get me started on the poster design...  




My score: 6,5/10

Rabu, 17 April 2013

[Movie] Hari Ini Pasti Menang (2013)


Hari Ini Pasti Menang
(2013 - Bogalakon Pictures)

Directed by Andibachtiar Yusuf
Written by Swastika Nohara, Andibachtiar Yusuf
Produced by Andibachtiar Yusuf, Mega Setiawati Widjaja
Cast: Mathias Muchus, Ray Sahetaphy, Zhendy Zain, Tika Putri, Ibnu Jamil, Ramon Y. Tungka, Verdi Solaiman, Henky Solaiman, Deddy Mahendra Desta, Manahan Hutauruk, Ario Prabowo


Nama sutradara dan penulis Andibachtiar Yusuf sangat lekat dengan sepakbola jika menilik filmografinya yang semuanya berkaitan dengan permainan yang konon paling digemari bangsa Indonesia itu. Mulai dari dokumenter The Conductors sampai fiksi panjang perdananya Romeo Juliet yang sempat ribut-ribut itu (yang justru semakin membuktikan bahwa premis filmnya nggak ngarang doang). Hari Ini Pasti Menang lagi-lagi mengangkat sepakbola, namun gw sendiri tidak melihat bahwa ini "film olah raga", gw malah melihatnya sebagai sebuah political thriller. Film ini sama sekali bukan kisah zero to hero, dengan klimaks kemenangan tim protagonis yang membanggakan mengharu biru. Hari Ini Pasti Menang bergulir "setelah" memiliki kemenangan itu, yang dapat dikatakan tidaklah lagi membanggakan.

Hari Ini Pasti Menang adalah sebuah perumpamaan tentang suatu bangsa yang "ketergantungan"-nya terhadap sepakbola diam-diam telah diperalat segelintir pihak. Ini bukan Indonesia yang kita kenal, ini "Indonesia" yang tim sepakbolanya punya prestasi yang grafiknya terus naik, bahkan sukses menembus perempat final Piala Dunia 2014 di Brazil. Pemain mudanya, Gabriel Omar Baskoro (Zhendy Zain) menjadi bintang idola setelah menyandang top scorer di sana. Gw yakin kalian yang membaca mulai bereaksi "ih, nghayalnya ketinggian banget", tapi sudahlah, that's not the whole point. Kisah film ini dimulai dari investigasi yang dilakukan wartawati sekaligus teman kecil Gabriel, Andien (Tika Putri) tentang judi dan pengaturan hasil pertandingan sepakbola di "Indonesia" ini. Praktik ini bukan sekadar taruhan-taruhan kecil, tetapi sudah merambah ke tingkat pemerintahan, pengusaha, bahkan pelatih, wasit, dan pemainnya sendiri, baik liga nasional maupun laga internasional, dengan nominal yang fantastis.

Film ini menyampaikan ironi. Di tengah gambaran ideal prestasi persepakbolaan Indonesia layaknya di Eropa, ditunjukkan pula bahwa ada harga yang harus dibayar. Sepakbola semakin digemari, di saat yang sama semakin digerakkan oleh uang, sehingga siapa saja yang niat dan kuat bisa menghasilkan uang dari sepakbola meskipun tidak terlibat secara kasat mata lewat judi dan match-fixing. Tujuannya bukan lagi menumbuhkan prestasi, melainkan pertumbuhan rekening dan gengsi. Malahan dari info salah satu narasumber Andien, prestasi sepakbola "Indonesia" hingga tahun 2014 itu merupakan salah satu efek dari praktik-praktik tersembunyi itu. Gaya hidup hedonis Gabriel pun tak luput dari pertanyaan, apakah benar itu semua murni didapat dari "jerih payah"-nya, terlepas dari kemampuannya yang diakui luar biasa. Mungkinkah kepercayaan publik, dan juga kebanggaan sang ayah Edi Baskoro (Mathias Muchus) yang setulus hati, jiwa, dan raga mendukungnya menjadi pemain sepakbola profesional, selama ini telah dikhianaaati *pasang lagu Kerispatih* demi uang dan kesenangan duniawi? Pengungkapan hal ini, terutama karena melibatkan orang-orang "besar" tentu akan berdampak masif, dan pihak yang "risih karena nggak merasa bersih" tentu tak akan tinggal diam.

Yes, gw lebih suka melihat film ini sebagai thriller konspirasi ketimbang drama berlatar olah raga. Emang sih kecenderungan gw lebih suka thriller-misteri ketimbang olah raga apalagi sepakbola. Benar kita melihat ada dinamika hubungan antar manusia dari Garbiel, ayahnya, dengan Andien, dengan coach Bram (Ray Sahetapy), juga manajer Gabriel, Emir (Desta), tetapi konflik di antara mereka muncul akibat isu ketidakjujuran itu. Adegan pertandingan sepakbola pun tidak sedikit, namun (cerdasnya) penonton diajak untuk lebih memperhatikan pengaruh judi dan match-fixing terhadap pertandingan itu. And everything is presented really well. Ada sih kecenderungan nyinyir dan banyak banget nyindir sana sini (dan umpatan-umpatan vulgar tapi kurang variatif =p), tetapi tidak terlalu mengacaukan fokus terhadap topik yang ingin disampaikan, sebab terlihat jelas bahwa Andibachtiar Yusuf dan timnya tahu betul apa yang mereka bicarakan. Dan karena stay to the topic itu pula film ini jadi punya sisi yang dapat menarik penonton awam atau yang rabun sepakbola kayak gw.

In the other hand, Hari Ini Pasti Menang juga cukup memuaskan sebagai sebuah sajian sinematik. Jalinan plot yang tampak kompleks terpapar cukup jelas dan dibangun dengan mantap. Pun gambaran "Indonesia" dimensi alternatif ini cukup mendukung, misalnya pemilihan sudut-sudut kota Jakarta yang terlihat "maju", atau lembar uang 200.000 bergambar Gus Dur. Sekhayal-khayalnya, setidaknya masih plausible. Sinematografinya nyaman dipandang, tata suara dan musiknya oke, efek visualnya...emm..."lolos"-lah, dan penyuntingannya tepat guna, tidak terlalu ada yang menyeret-nyeret atau terlalu cepat. Penampilan deretan aktornya pun bisa dibilang top of the game *halah*. Kita bisa menyaksikan Mathias Muchus dan Ray Sahetapy kembali unjuk performa kelas tuna. Demikian pula Tika Putri, Verdi Solaiman, Henky Solaiman, dan sang scene-stealer Ario Prabowo sebagai bandar judi di lapangan, yang tampil sangat meyakinkan.

Penampilan perdana Zhendy Zain yang mukanya campuran Darius Sinathrya dan Naga Lyla itu juga nggak jelek-jelek amat, tapi mungkin agak kebanting sama aktor-aktor yang lain, atau mungkin juga karena ceritanya sendiri tidak memberi kedalaman lebih lanjut terhadap karakter Gabriel Omar, misalnya apa sebab gaya hidup dan tindak-tanduknya tidak terlalu dijelaskan selain karena...emmm...orangnya sok iye aja. Bagi penggemar sepakbola sendiri tampaknya akan diberi "traktiran" berupa banyaknya referensi tentang dunia sepakbola baik nasional maupun internasional di dunia "nyata", juga cameo beberapa pemain sepakbola betulan, selain tentu saja adegan-adegan pertandingan yang cukup ekstensif. Tapi tentang adegan-adegan pertandingan ini gw pribadi mungkin gak terlalu dipuaskan karena pengambilan gambarnya yang tidak sedinamis harapan gw. Pengennya kamera gak cuma mengamati, namun juga "ikut main", seperti misalnya pertandingan rugby di Invictus, sehingga dapat membawa penononton seakan terlibat di lapangan. Tapi gak masalah, bisa dimaklumi, ya karena itu tadi, bukan di sana intinya. 

Hari Ini Pasti Menang adalah film yang impresif buat gw. Sajian yang tak hanya cukup berbeda dan menghibur, namun juga memberikan asupan pemikiran. Tak hanya bagi pemerhati sepakbola, tetapi bagi semua yang merasa jadi bagian bangsa ini. Gw nggak menganggap bahwa film ini gegabah menuduh bahwa persepakbolaan Indonesia saat ini dipenuhi sama orang-orang jahat, atau menyatakan bahwa judi dan match-fixing benar-benar terjadi (kalo di Eropa sih gw denger emang terjadi). Wong setting-nya aja "dunia lain". Tetapi film ini tetap sebuah statement yang berani tanpa harus banal, bahwa kalau pun keadaan sudah lebih baik tapi orang-orangnya nggak berubah, ya sama aja bohong. Kalau motivasi orang-orangnya tetep nggak bener, mau sebagus apa pun prestasi sepakbola kita, tetep aja nggak bakalan benar-benar maju. Ironi-ironi itu rupanya terus ditunjukkan hingga detik terakhir durasi film ini (setelah kredit akhir bergulir...eh ini spoiler bukan yah? =p), yang seakan mengajak penonton untuk terus merenung, mau sampai kapan Indonesia membiarkan persepakbolaannya, atau bidang apapun yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dikacaukan diurus oleh orang-orang yang tak benar-benar peduli dan tak bermotivasi murni. Kita dahaga akan gelar, penghormatan, dan kebanggan, tapi kita juga butuh kejujuran...tapi...hmm....




My score: 7,5/10

Senin, 15 April 2013

[Movie] Finding Srimulat (2013)


Finding Srimulat
(2013 - MagMA Entertainment)

Written & Directed by Charles Gozali
Produced by Hendrick Gozali, Yusuf Hamdani
Cast: Reza Rahadian, Rianti Cartwright, Kadir Mubarak, Kabul "Tessy" Basuki, Mamiek Prakoso, Gogon Margono, Djujuk Djuwariah, Nadila Ernesta, Butet Kartaredjasa, Fauzi Baadila, Ray Sahetapy, Nungky Kusumastuti, Adi Kurdi, Tri Retno "Nunung" Prayudati, Mongol, Insan Nur Akbar


Bagi *uhuk* adik-adik yang mungkin kurang familiar, Srimulat itu adalah grup pertunjukkan komedi a.k.a. lawak yang bermula di Solo, Jawa Tengah sekitar tahun 1950-an, yang kemudian berjaya di jagat hiburan Nusantara lewat penampilan di televisi nasional dan (kalo nggak salah) beberapa film layar lebar. Anggotanya terbilang sangat banyak dan bergenerasi-generasi bahkan bercabang (ada cabang Solo, Jakarta dsb.), dengan karakteristik dan penggemar masing-masing, sampai kadang ada yang bikin sub-grup atau solo karier atau mungkin keluar dari kelompok Srimulat membentuk grup baru. Yah macem versi sepuh dari AKB48. Nothing is original under the sun. Gw sendiri sempet "akrab" dengan Srimulat lewat acara TV "Aneka Ria Srimulat" yang ditayangkan Indosiar pada era 1990-an, yah gara-gara ortu juga sih yang rajin nonton, hehe. 

Tetapi lewat itu gw jadi bisa menangkap sedikit demi sedikit karakteristik pertunjukan Srimulat dan juga pemainnya. Meski dengan set-up bermacam-macam, setting panggung tak pernah jauh dari ruang tamu sebuah rumah, ada pembantu dan majikan (dan ibu Djujuk selalu jadi majikan, kebalikan dengan Nunung =D), lalu kalau ada twist horor di akhir yang jadi demit selalu yang namanya Yongki atau Paul (keduanya sekarang sudah wafat). Penonton kerap melempari bingkisan ke panggung, umumnya rokok, yang pasti akan ditanggapi spontan oleh para pelakon, misalnya "sekali-sekali lempar duit dong"—and sometimes they really got thrown some money. Pakemnya memang seragam, toh yang jadi hiburan utama adalah lawakan-lawakan dari para pelakon yang umumnya berupa spontanitas yang hidup. Gags yang sederhana, akrab, membumi, slapstick tapi tak lepas dari kesan cerdas menjadi ciri khas Srimulat yang tidak pernah dirasa membosankan. Mungkin justru anggota Srimulatnya yang letih dengan itu semua, sehingga kerap terjadi naik-turun performa dan eksistensi. 

Sutradara dan penulis Charles Gozali mencoba mengangkat sejarah dan kondisi grup Srimulat itu dalam kisah film Finding Srimulat. Sesosok event organizer muda bernama Adi (diperankan oleh everybody's favorite actor Reza Rahadian) harus menghadapi beban bertubi ketika kantornya tutup dan otomatis tak punya biaya untuk kelahiran anak sulungnya dari sang istri, Astrid (Rianti Cartwright) yang di-insist oleh dokternya untuk operasi Caesar (tentu saja). Perhatikan korelasi operasi Caesar dan biaya =p. Namun, justru di kondisi seperti ini, Adi melihat peluang dalam pahlawan masa kecilnya, Srimulat, sekalipun grup ini sudah menua. Ia menggagas sebuah pertunjukan comeback Srimulat sebagai sebuah grup instead of terpisah-pisah seperti saat ini. Lalu dimulailah usaha untuk mengumpulkan anggota-anggota Srimulat yang tersebar, mulai dari Kadir, Tessy, Mamiek Prakoso, hingga Gogon, yang mewakili anggota-anggota Srimulat yang "sepi job" di dunia hiburan, dan terakhir sang pemimpin, ibu Djujuk. Masalahnya tentu saja mengenai pembiayaan, serta apakah benar-benar revival panggung Srimulat yang tradisional ini akan ada yang nonton di era busway. Ditambah lagi Adi melakukan ini tanpa sepengetahuan istrinya yang sebentar lagi melahirkan, termasuk dalam penggunaan dana pribadi.

Ada kesan kuat bahwa film ini adalah passion project dari Charles Gozali. Ini terlihat dari isi ceritanya yang memuat pengetahuan tentang Srimulat dengan cukup teliti dan lengkap, pun memasukkan beberapa unsur kisah nyata pengalaman dan keadaan para anggota Srimulat, sehingga bukan tak mungkin sosok Adi juga adalah cerminan Charles yang antusias ingin menghidupkan Srimulat lagi. Untungnya, passion itu tersalurkan dengan baik lewat konsep dan naskah yang menurut gw ditata cerdas. Tone absurd film ini memang sudah ditekankan lewat pembukaan ketika Adi ngomong langsung ke kamera dan juga cerita proses kelahiran dirinya yang lain dari yang lain. Akan tetapi film ini tak terus berkutat di sana, karena nyatanya keseluruhan plot dan peristiwa-peristiwa yang dirangkum dalam ceritanya tidaklah asal masuk, justru sangat rapi dan logis. Salah satu contohnya ketika film ini mengakali sulitnya mengumpulkan sebanyak mungkin anggota Srimulat terutama yang lagi padat jadwal untuk ikut main, poin ini dengan mulus dimasukkan ke dalam cerita yang diwakili oleh tokoh Nunung. Gags klasik khas Srimulat pun ditaruh tidak salah tempat dan tetap mampu memancing tawa sekalipun sudah familiar bagi penggemarnya (like my Mum correctly guessed the cigarette gag =D). Adegan flash mob di Stasiun Balapan, Solo juga termasuk cara jitu menginklusi sentuhan kekinian dengan Srimulat, dan bermanfaat juga bagi jalan cerita. Kayak konyol, tapi tidak tak mungkin.

Jalan ceritanya gw kasih jempol deh, tapi soal presentasi keseluruhan itu beda cerita ya, hehe. Eksekusi Finding Srimulat memang kebanyakan absurd dan komedi Indonesia banget yang memang agak alon-alon temponya. Bagi generasi yang lebih muda mungkin akan merasa film komedi ini kurang "meledak" tawanya, ya karena leluconnya memang termasuk klasik nyaris out-of-fashion kalau nggak mau disebut segmented  atau angkatan-babe-guwe (dan lagi yang bahasa Jawa nggak pake subtitel, hehe), tapi gw yakin pasti masih ada yang bikin ketawa bagi angkatan ini. Problem utama gw sebenarnya di tata adegannya yang tidak terlampau istimewa, malah cenderung kaku. Beberapa adegan masih kelihatan banget "syutingnya nggak barengan" sehingga kesannya kurang tek-tok atau editing-nya kurang mantep gitu (cth: adegan si Mongol di bengkel atau Dion di panggung). Akan tetapi, atas nama absurditas, itu tak selamanya menganggu. Toh, nilai hiburan film ini jauh melebihi nilai-nilai teknisnya itu.

Penampilan Reza sebagai tulang punggung cerita tidak tercela, demikian juga Rianti (yang makin ke sini malah makin bagus mainnya) jika mengabaikan palsunya perut dan gerak-gerik hamilnya =P. Sedikitnya, mereka mampu mengimbangi kharisma senior mereka anggota Srimulat yang seperti biasa dapat diandalkan untuk tampil dengan sungguh-sungguh, dalam adegan dramatis sekalipun. Tessy mungkin yang paling lemah di antara kawan-kawannya (terutama Mamiek dan Gogon) tetapi usahanya dalam peran dramatis tetap patut diapresiasi. And to my surprise, ibu Djujuk ternyata menjadi pelakon Srimulat yang menurut gw paling meyakinkan di film ini, sebab untuk pertama kalinya gw melihat dimensi ketokohan ibu Djujuk selain citra pipih "nyonya majikan"-nya selama ini.

Film ini memang komedi-drama (dan semi-dokumenter?) yang berniat menghibur sekaligus membangkitkan nostalgia. Kelihatan betul bahwa film ini dibuat oleh orang-orang yang peduli dan menyayangi Srimulat, bukan justru mempermalukannya dan memperlakukannya asal-asalan sebagai alat jualan semata (eh, ini ada di ceritanya juga =)). Salut atas bagaimana film ini menggabungkan modernitas dan tradisi, tua dan muda, komedi dan drama, kecerdasan dan keabsurdan menjadi sebuah tontonan yang enak dan nggak terlalu maksa. Well, beberapa adegan emosionalnya mungkin agak dipaksa, tetapi porsinya tidak sampai "mencemari" hakikat film ini yang harusnya menggelakkan penonton dengan tulus sekaligus menyentuh hati. Finding Srimulat adalah sebuah tontonan yang tepat sebagaimana janjinya, sederhana namun cerdik dan berselera humor yang pas. Mungkin tidak sempurna, namun tidak bisa dipungkiri ia tak bisa dipandang sebelah mata. Mungkin juga film ini akan lebih meriah seandainya lebih banyak lagi anggota Srimulat yang bergabung, misalnya Tarsan atau Eko DJ, atau porsi Nunung yang diperbanyak. Tetapi dengan anggota Srimulat yang tidak terlalu banyak pun Charles Gozali berhasil menyajikan sebuah tribute yang penuh hormat, kekaguman, harapan, dan kasih sayang, serta penegasan bahwa sesungguhnya Srimulat tidak pernah kehilangan pecintanya.




My score: 7/10


NB: anggota Srimulat terfavorit gw adalah alm. Triman, yang jago tap dance, dan gag andalannya adalah mengucapkan nama aliasnya dengan mulut terbuka lebar, "Bambaaaang...." XD

Jumat, 05 April 2013

[Movie] Cloud Atlas (2012)


Cloud Atlas
(2012 - Focus Features International/Warner Bros./Cloud Atlas Production/X-Filme Creative Pool/Anarchos Pictures)

Written for the Screen & Directed by Lana Wachowski, Tom Tykwer, Andy Wachowski
Based on the novel by David Mitchell
Produced by Grant Hill, Stefan Arndt, Lana Wachowski, Tom Tykwer, Andy Wachowski
Cast: Tom Hanks, Halle Berry, Hugh Grant, Jim Broadbent, Jim Sturgess, Ben Whishaw, Hugo Weaving, James D'Arcy, Bae Doona, Susan Sarandon, Keith David, David Gyasi, Zhou Xun


Harus mulai dari mana? Cloud Atlas adalah film rilisan 2012 yang gw nanti-nantikan, dan akhirnya setelah menyaksikannya (tahun ini) menjadi film yang I just can't get enough of. Adaptasi novel unik karya David Mitchell ini memenuhi segala perkiraan tentangnya, bahkan lebih. Benar film ini akan mengagumkan, memanjakan mata dan telinga dengan segala kelengkapan produksinya: visual yang apik tenan, kisah-kisah yang membuat penasaran, kepiawaian akting, musik yang powerful, dan segalanya megah gempita. Di saat yang sama, benar juga film ini akan membingungkan dan mungkin akan menjengkelkan sebagian penontonnya. Oh, gw hakul yakin akan kubu-kubu penonton yang suka banget dan juga yang benci banget. Tapi faktanya, ketika gw nonton di bioskop, apa pun pendapatnya, semua penonton tidak ada yang menyerah di tengah jalan sepanjang menonton sajian 3 jam kurang 10 menit ini. Di Bekasi lho nih padahal.

Cloud Atlas sudah begitu intriguing lewat konsep yang digembargemborkan sekalipun premis-nya tidak spesifik menjelaskan film ini tentang apa, kecuali Anda pernah membaca novel aslinya. Pertama-tama film ini terdiri dari enam cerita "terpisah", berbeda setting tempat dan waktu. Ada yang masa lalu, masa kini, bahkan masa depan. Film ini diarahkan oleh dua unit kru: satu unit yang dipimpin sutradara Jerman, Tom Tykwer (yang bikin Run Lola Run dan The International) mengurus cerita yang berlatar tahun 1936, 1973 dan 2012; satunya lagi oleh duo kakak-adik otaku Lana (dahulu Larry, beneran) dan Andy Wachowski (yang bikin The Matrix dan Speed Racer) bertanggung jawab buat kisah berlatar 1849, 2144, dan yang masa ratusan tahun setelahnya. Yang mungkin paling sensasional adalah film ini memberdayakan aktor-aktornya untuk bermain di setiap segmen cerita dengan karakter yang berbeda-beda, bahkan berbeda kelamin dan ras. Silahkan nonton untuk melihat bagaimana Hugh Grant jadi sipit, atau Hugo Weaving jadi ibu-ibu, atau Zhou Xun jadi bule, tentu saja dengan bantuan makeup effects yang...err...efektif. Mencari-cari aktor anu di setting anu jadi siapa dan tampangnya gimana, ataupun tokoh ini yang main siapa, tak pelak jadi nilai hiburan yang paling mudah dinikmati penonton dari film ini, dijamin.


Namun daya tarik Cloud Atlas tak hanya itu. Perhatikanlah sedikit lebih seksama, maka kita akan menemukan 6 kisah yang ada ditata dengan genre yang berbeda-beda. Dalam satu film ini, kita akan disodorkan drama kemanusiaan, tragedi, thriller konspirasi, komedi, fiksi ilmiah, hingga petualangan (semacam jenis-jenis novel kali ya, yang nggak ada cuma romance dan bokep). Masing-masing kisah berdiri sendiri, dengan tokoh-tokoh tersendiri, juga punya konflik dan klimaks masing-masing. Lalu apa yang mengubungkannya? Nyaris tidak ada. Nyaris. Apakah semuanya memiliki tema yang sama? Mungkin. Lokasi sama? Enggak semua tuh. Terkait satu dengan yang lain seperti sebab akibat? Bisa ya bisa tidak. Soal reinkarnasi? Nggak juga. Rasanya, dengan plot dan gaya penceritaan yang berbeda-beda, sulit untuk menangkap kenapa 6 kisah ini harus jadi satu film. Tetapi pada satu titik, baik langsung maupun tidak langsung, semuanya terhubung. Mungkin penggunaan aktor yang itu-itu aja dalam setiap segmen menjadi solusi yang menegaskan keterkaitan itu, atau juga merupakan usaha supaya penonton tetap terbangun karena diajak "tebak-tebakan" tadi, dan akhirnya jadi memperhatikan keterkaitan 6 cerita ini.

Mungkin Cloud Atlas juga perlu disalahkan karena membuat kehidupan sosial penontonnya jadi ribet, yakni kalau ada teman menyanyakan film ini "tentang apa". Jika mau dijawab, maka kita harus menjawabnya dengan menceritakan 6 buah garis besar cerita, nggak akan selesai dalam satu kalimat. Tahun 1849, seorang pengacara muda Adam Ewing (Jim Sturgess) membentuk ikatan persahabatan dengan seorang budak (David Gyasi) dalam perjalanan dari Kepulauan Pasifik ke Amerika. Tahun 1936, seorang struggling artist Robert Frobisher (Ben Whisaw) menyurati kekasihnya Rufus Sixsmith (James D'Arcy) tentang pengalamannya menjadi juru tulis seorang komposer uzur (Jim Broadbent). Tahun 1973, wartawati Luisa Rey (Halle Berry) mencium adanya ketidakberesan dalam pembangunan pembangkit tenaga nuklir di San Francisco. Tahun 2012, editor bangkrut Timothy Cavendish (Jim Broadbent) dijebak oleh kakaknya (Hugh Grant) masuk panti jompo karena berutang. Tahun 2144 di Neo Seoul, seorang fabricant/manusia buatan bernama Sonmi-451 (Bae Doona) menyerukan kebebasan dan penghapusan sistem yang membelenggu kaumnya. Di masa depan ketika peradaban manusia lenyap (keterangannya 106 tahun setelah "kejatuhan"), Zachry (Tom Hanks) dari kaum primitif membantu Meronym (Halle Berry) dari kaum terpelajar untuk menuju gunung berbahaya demi kelangsungan hidup umat manusia. So, there you go *tarik napas*.


Film ini termasuk anti-spoiler. Mau menceritakan ulang isinya sampe berbusa juga nggak ada faedahya kalau tidak menyaksikan sendiri filmnya. Nyeritain premisnya aja udah capek sendiri. Dan seperti menambah alasan orang untuk merasa bingung dan benci, Tykwer dan kakak-adik Wachowski menuturkan keenam kisahnya secara selang-seling bukannya satu-satu bergiliran. Pergantian adegannya tidak selalu saling berkaitan, hanya saja momentumnya mirip. Misalnya saat semua kisah mencapai klimaks, semuanya ditampilkan barengan. Tetapi inilah satu lagi pencapaian dari Cloud Atlas, khususnya editornya, yang membuat keenam kisah berbeda yang dilebur dan diacak ini tetap mudah diikuti. Pembangunan momen demi momen tiap kisah begitu rapi dan ditampilkan sedemikian rupa seakan tidak membiarkan penonton (at least gw) tertidur. Itu sih yang gw rasakan, tetapi lucunya gw tetap merasa ingin mengikuti terus. Sebingung apa pun gw, gw tetap bisa menyaksikan keindahan dan kekerenan baik gambar, suara, jalan cerita, maupun dialognya. Dan tentu saja ada action-nya yang seru. Masih ingat 'kan kalo film ini melibatkan kreator The Matrix? Well, gw juga hampir lupa saking terhanyutnya. Editornya jago, membuat karya ketiga sutradara ini begitu menyatu dan nyaris nggak kentara mana buatan siapa.

Namun, tetap saja perasaan ingin mencari-cari apa makna keseluruhan Cloud Atlas ini terus mengusik. Kaitan langsungnya sih ada: jurnal perjalanan Adam Ewing dibaca Frobisher; karya musik Frobisher didengarkan oleh Rey; novel kisah hidup Rey sedang disunting oleh Cavendish tetapi tidak ditindaklanjuti; film tentang pengalaman Cavendish di rumah jompo ditonton dan menginspirasi Sonmi; dan semangat revolusi Sonmi dijadikan pedoman hidup yang dianut suku di The Valley, oleh Zachry, bahkan kata "god" (Tuhan/dewa) sudah diganti dengan "Sonmi" di bahasa yang mereka pergunakan. Tetapi ada pula kaitan yang longkap-longkap. Semisal tenaga nuklir jadi penyebab terancamnya kelangsungan manusia di kisah Zachry. Atau bagaimana di kisah Ewing ketika perbudakan terhadap kaum kulit hitam dihapuskan, lalu di kisah Rey warga kulit hitam jadi setara (dari segi profesi), dan di kisah Zachry, kaum terpelajar (Prescient) sebagian besar berkulit hitam kontras dengan kaum primitif yang berkulit putih. One thing does lead to another, tetapi tidak selalu langsung. Malahan, hal-hal kecil dan mungkin dianggap sepele ketika dilakukan, baik perkataan, tindakan, bahkan tulisan, dapat berdampak besar di masa depan, bahkan bisa lebih dari yang dibayangkan. Kira-kira begitu yang gw dapet, tapi entahlah. Setiap orang bebas kok menginterpretasi.


Gw mengerti kenapa studio-studio besar begitu reluctant untuk memproduksi film ini. Film yang begitu mahal tetapi tampak berat (padahal nggak juga) dan tidak "memanjakan" sebanyak mungkin penonton segala usia (gw ngomongin film apa sih? =P) bukanlah bisnis yang menguntungkan. Ini mengakibatkan pendanaan film ini harus dicari secara independen, kebanyakan dari institusi-institusi perfilman di Jerman (di wiki film ini disebut "film Jerman"...mungkin faktor Tykwer juga sih) dan juga dana pribadi kakak-adik Wachowski. Akan tetapi gw juga mengerti mengapa pembuat film dan para aktornya tetap bersedia memproduksi film ini. Film yang penuh tantangan dan penuh resiko, tetapi juga penuh akan potensi keindahan dan pengalaman menonton yang jarang ada. Untunglah hasil akhirnya begitu worth it. Tykwer dan kakak-adik Wachowski telah mewujudkan visi mereka dengan tak sia-sia, bahkan mungkin telah berhasil membuat versi film ini memiliki daya tarik yang berbeda tapi sama kuat dengan versi aslinya *ini agak sotoy sih*. 

Apapun itu, rasanya hanya kata puas dan mengambil-napas (maksudnya breathtaking =P) yang bisa gw sematkan untuk Cloud Atlas. Well, kecuali penyensoran LSF yang sedikit tapi lumayan mengesalkan sih jadi nggak bisa lihat Sonmi telenji. Penuturannya berani, visual epik, performa aktornya top abis (perhatian gw tertuju pada Tom Hanks, Bae Doona, Zhou Xun, dan (bahkan) Halle Berry) dan segala hal lain yang melengkapinya pokoknya jempol deh. Film yang menghadirkan campuran berbagai genre dan pokok cerita dengan mulus, tetapi setiap segmennya juga berkerja dengan sangat baik bahkan bisa dibahas panjang satu per satu. Meskipun seperti mengandung kedalaman filosofi kehidupan tersebar di berbagai sudut, konten naskahnya toh nyatanya tidaklah terlalu berat dan masih bisa dicerna dengan cukup mudah (dan subtitel Indonesia, terutama di kisah Zachry yang bahasa Inggrisnya agak lain, rupanya sangat-sangat menolong, hehe). 

Tetapi jika tidak ada waktu dan niat untuk itu, nggak dipikirkan atau dibahas juga nggak apa-apa kok. Saksikan saja kisah-kisah ini dengan apa adanya. Nikmatilah saja Cloud Atlas sebagai satu kesatuan cinematic experience yang mengagumkan dan (menurut pendapat gw) mengasyikkan. Jika memang akhirnya tidak menyukainya, minimal pasti film ini tidak akan mudah terlupakan. Uang dan waktu yang dihabiskan untuk menonton film ini tidak akan percuma. Lebih "gampang" dari The Matrix 2 & 3 kok. Inilah akhir ulasan gw, dan waktunya Anda menyadari bahwa setiap gambar yang gw pasang di postingan ini ada Halle Berry-nya =).




My score: 9/10

Selasa, 02 April 2013

[Movie] Tampan Tailor (2013)


Tampan Tailor
(2013 - Maxima Pictures)

Directed by Guntur Soeharjanto
Written by Alim Sudio, Cassandra Massardi
Produced by Ody Mulya Hidayat
Cast: Vino G. Bastian, Marsha Timothy, Ringgo Agus Rahman, Jefan Nathanio, Lisye Herliman, Epi Kusnandar


Judul Tampan Tailor dan rumah produksi Maxima memang sekilas bikin ilfil. Reputasi Maxima, sekalipun desain posternya bagus-bagus (ada yang banget), cukup notorious di kalangan pemerhati film Indonesia karena ia pula yang bertanggung jawab atas Tali Pocong Perawan, Paku Kuntilanak, Tiren, Tiran, Suster Keramas, Air Terjun Pengantin, Pocong Keliling, hingga Bukan Bintang Biasa, Menculik Miyabi, dan masih banyak lagi sejenisnya. Tetapi bisa saja Maxima memproduksi film-film semacam itu supaya bisa punya modal cukup untuk bikin film-film "bener". And you know what, dengan Tampan Tailor, I can actually buy that excuse. Honest. Saudara-saudara, bahwa sesungguhnya Tampan Tailor adalah film yang "bener", dan saya tidak keberatan kalau film ini akan laku keras atau dapat penghargaan film nasional (nasional lho ya). Serius.

Nama Tampan Tailor mungkin terdengar nggilani, tetapi sejarah di balik nama itu tidak demikian. "Tampan" adalah perpaduan nama suami-istri pengusaha jasa jahit pakaian, Tami dan Topan (Vino G. Bastian), dan menjadikannya nama usaha tailor mereka. Diceritakan di awal, Tami meninggal akibat kanker, meninggalkan Topan dan putra mereka, Bintang (Jefan Nathanio). Tak hanya itu, keuangan Topan juga mengalami resesi sehingga terpaksa menutup usahanya, menjual dan menggadaikan barang-barang miliknya (termasuk mesin jahit Singer-nya), dan terpaksa menumpang di rumah saudaranya, Darman (Ringgo Agus Rahman). Maka dimulailah usaha Topan untuk bertahan hidup dan menghidupi putra semata wayangnya. Apa pun mau dilakukan Topan asal dapat sedikit nafkah, mulai dari jadi calo tiket kereta hingga peran pengganti di produksi film. Apakah Topan akhirnya bisa kembali bangkit dari keterpurukan? Apakah passion dalam bidang jahitnya akan terkubur begitu saja karena kejamnya ibukota?

Jika mau menggambarkan bagaimana film Tampan Tailor itu, bayangkan saja sebuah episode acara televisi tentang profil wirausahawan atau riwayat sukses orang terkenal yang direka ulang secara dramatis. Itu bukan hal yang buruk, karena Tampan Tailor yang katanya terinspirasi dari kisah nyata ini bercerita dengan baik dan lancar. Menurut gw sebenarnya film ini kesukaan orang Indonesia banget. Kisah Topan yang pantang menyerah di tengah kesulitan hidup, hubungan sang ayah dan putra kecilnya yang mengingatkan pada Life is Beautiful atau The Pursuit of Happyness, intrik dunia kerja dan usaha, dan di tengah-tengahnya ada benih-benih asmara dengan Prita (Marsha Timothy), wanita pemilik penitipan anak di stasiun yang akrab dengan Bintang dan juga memikat hati Topan. Zero to hero, dengan berbagai bumbu yang mengharukan dan menggembirakan. Sasaran empuk sinetron, tetapi untungnya treatment dalam film ini tetap sinematik, dan tidak cengeng.

Satu hal yang paling menarik perhatian gw adalah betapa apiknya tata teknis film ini. Desain produksi dan pemilihan lokasi setiap adegannya kelihatan otentik, Jakarta yang riil tapi nyaman dipandang walaupun tanpa hiasan menor. Bidang ini pun diperkuat oleh sinematografi yang sengaja dibuat agak "goyah" seakan menggambarkan hiruk pikuk Jakarta, komposisi gambarnya dan warnanya juga enak dipandang tanpa poles-polesan pascaproduksi berlebihan. Malah gw berani bilang film ini salah satu yang terbaik dalam penggunaan kamera digital high-definition/high-frame-rate/apalah. Mungkin bagi sebagian orang jadi kayak nonton TV, tapi buat gw tetep terasa "film"-nya kok. Dan satu lagi bidang yang cukup pantas diberi pujian adalah penyuntingan gambar yang sukses membuat film ini laju-nya enak, lincah tetapi tidak terasa terburu-buru, nggak bosenin deh.

Kendati demikian, film ini memang tidak sesempurna jahitan jas Topan. Ada beberapa titik cerita yang hampir nggak bisa gw maafkan. Salah satunya keberadaan Prita yang di mana-mana banget. Menurut gw dengan segala set-up dan believability yang sudah ditampilkan film ini, ke-mahaada-an Prita yang tanpa penjelasan bikin jadi agak gimanaaa gitu. Dia punya kios di luar stasiun, tiba-tiba beberapa kali ada di dalam stasiun baik siang maupun malam, padahal kiosnya nggak ada yang jaga selain dirinya seorang. Untung saja akting Marsha Timothy yang begitu natural tanpa beban lumayan bisa membuat gw melupakan bug itu. Tapiii, mungkin unsur satunya lagi memang tak termaafkan: tata musik. Huff...Ini nonton film atau dengerin kaset 30 Nonstop Hits? Maeennn mulu kagak berhenti-berhenti. Film bisu juga bukan. Ayolah, seperlunya aja. Nggak perlu setiap pelukan harus dikasih "jreng jrengggg!!" kan? Bahwa penata musiknya adalah orang yang sama dengan yang mengurus Ayat-Ayat Cinta, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Habibie & Ainun mungkin explains it all, tapi masak udah 2013 gayanya masih begitu terus. Dan sutradara/produsernya ngebiarin pula. Bingung saya.

Tetapi kembali lagi, Tampan Tailor bukanlah film yang buruk, malah termasuk jajaran film drama melankolis yang berkualitas baik. Baiklah, ada keanehan di satu-dua titik, ada beberapa adegan dramatis yang (harus banget ya?) slow-motion, dan tata musiknya menjengkelkan, tetapi aspek-aspek lainnya cukup berhasil menutupinya. Jalan ceritanya dijalin logis dan tidak terlalu terkesan mengada-ada. Pengarahan adegannya memang film banget, tapi tidak terlalu berlebihan. Akting pemainnya nggak ada yang tercela, ya termasuk Vino G. Bastian yang membuat gw sejenak lupa dengan perannya yang berbeda di film Madre yang gw tonton sehari sebelumnya. Dan saking menghayati dan konsistennya mas Vino, gw juga berhasil mengabaikan logika bahwa mas Vino ini terlalu pretty untuk kerja jadi calo atau kuli atau dipekerjakan jadi stuntman bukannya aktor. 

Apapun itu, Tampan Tailor adalah film yang nyaman sekaligus enak disaksikan dan dinikmati, malah bukan tak mungkin sebagian orang akan merasa tersentuh dan terharu (gw sih belum segitunya, hehe, mungkin gara-gara musiknya ^_^!). Keselarasan cerita, dialog, penceritaan, presentasi visual dan juga akting mantap pemainnya adalah sebabnya, juga dihiasi humor membumi yang menambah nilai hiburannya. Dibilang adikarya memang bukan, tetapi setidaknya sukses masuk jajaran film nasional yang pantas diapresiasi sekaligus disukai. Ini seperti sinetron/FTV yang wonderfully enhanced, atau bagaikan film produksi Demi Gisela versi less pretentious. It's pretty good. Dan setidaknya di sini ada sedikit pengetahuan tentang profesi penjahit, bahwa yang namanya "lem kodok" itu bukan lem =P.




My score: 7,5/10

[Movie] Madre (2013)


Madre
(2013 - Mizan Productions)

Directed by Benni Setiawan
Screenplay by Benni Setiawan
Based on the novella by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Putut Widjanarko, Avesina Soebli
Cast: Vino G. Bastian, Laura Basuki, Didi Petet, Titi Qadarsih, Savitri Nooringhati, Gatot W. Dwiyono, Lisa H. Pandansari, Framly Nainggolan


Madre adalah karya tulisan Dewi "Dee" Lestari ketiga yang diangkat ke layar lebar dalam satu tahun terakhir ini. Setelah Perahu Kertas yang (mesti banget ya?) dipecah 2 volume dan 5 dari 11 cerita pendek dalam Rectoverso jadi sebuah film omnibus, Madre adalah yang pertama berformat "normal" sekali jalan. Sedikit latar belakang, Madre adalah salah satu dari 13 cerita pendek dan novel pendek—atau istilahnya novelet—karya Dee yang dimuat dalam buku kumpulan cerita karyanya, buku itu juga akhirnya diberi judul Madre. Nggak, gw belum baca, ini taunya juga dari temen+wiki kok =p.

Tansen (Vino G. Bastian), seorang free-spirited surfer dan blogger yang tinggal di Bali, mendapati sebuah kabar mengejutkan bahwa ia sesungguhnya adalah cucu dari pengusaha toko roti bernama Tan Sin Gie di Bandung. Selepas kakeknya itu meninggal, Tansen dipanggil untuk mengambil warisan yang jadi haknya, yang membawanya pada toko roti Tan De Bakker yang sudah tidak beroperasi di Jalan Braga. Warisan yang ia terima adalah sebuah kunci untuk membuka sebuah kulkas di sana, yang berisi setoples Madre. Menurut pak Hadi "heu'euh" (Didi Petet) si penjaga toko terbengkalai itu, Madre adalah rahasia kelezatan roti Tan De Bakker di masa lampau, mungkin si engkong mengharapkan Tansen menghidupkan kembali toko itu. Di tengah kekagetan dan keengganan Tansen, muncul Mei (Laura Basuki) pengusaha toko roti modern waralaba Fairy Bread yang hendak membeli dan memiliki Madre. Tansen harus memilih akan menyerahkan semua warisan keluarga yang asing baginya itu lalu kembali ke kehidupan bebasnya, atau menjalankan mandat menghidupkan kembali Tan De Bakker yang mungkin memang jadi takdirnya.

Gw tertarik membahas apa itu Madre. Dijelaskan di film ini, Madre adalah biang roti yang dibuat Tan Sin Gie untuk bahan roti jualannya. Madre ini juga "hidup" sehingga harus "diberi makan" sehingga sekalipun terus diambil untuk membuat roti, Madre tetap dapat bertambah besar dan memenuhi toples wadahnya. Katanya lagi, sudah jarang penjual roti yang memakai biang roti dalam pembuatannya, karena tidak semua orang berhasil membuat biang roti, boro-boro yang bermutu baik. Dari informasi ini saja, kita dapat membayangkan bahwa Madre ini adalah semacam karakter tersendiri, sakral, bahkan dikiaskan sebagai "ibu" (karena "madre" itu bahasa Spanyol-nya ibu)  dsb dsb. Dari sini saja pula, gw menangkap bahwa film Madre mengembangkan ide dan konsep dasar ini dengan penyampaian yang agak miss.

Roti dengan biang roti sendiri adalah salah satu dari beberapa metode membuat roti. Setelah ulak-ulik Google, biang roti (sponge) itu ya sebenernya adonan roti yang difermentasi sekian lama, lalu dicampur dengan adonan kedua, jadi basically bikin adonan 2 kali. Merepotkan, tapi konon hasilnya adalah roti dengan tekstur lebih lembut, lebih wangi, dan lebih tahan lama, sedikit berbeda dengan metode adonan langsung atau metode adonan instan yang lebih ringkas tapi tak bertahan terlalu lama. It's a shame bahwa gw harus mendapat informasi ini dari internet ketimbang dari film yang menjadikan biang roti sebagai judulnya.

Ya, Madre itu nama biang rotinya. Yes. Adonan dikasih nama. Yap. I know. It's like a Chinese restaurant cook naming their lard "Ti Pat Kay", or how people find various ways to refer ganja in mie Aceh. Konyol kedengarannya. It's a goddamn adonan. Namun, sebagaimana konyolnya anime-anime Jepang kayak "Mister Ajikko/Born to Cook", yang mengesankan hal-hal yang dianggap kecil semisal "cara iris ikan" adalah penentu kelestarian umat manusia, Madre yang tokoh-tokohnya begitu mengagungkan si biang roti spesial ini harusnya bisa juga demikian. Setidaknya lebih bisa menunjukkan betapa penting bangetnya si biang roti ini buat orang awam seperti gw, bukan sekadar gimmick. Sayangnya, pembuat film Madre mungkin tidak menangkap potensi tersebut, instead malah membuat film yang maunya buru-buru filosofis romantis melankolis sebelum gw berhasil menyerap benar tentang dunia pe-roti-an Tan De Bakker yang, jujur saja, sangat komikal itu. Padahal model rambut Tansen udah "lucu" gitu, setting-nya pun sudah seperti komik. Kenapa hanya sampai di situ?

Oke, ini memang terdengar sok ngatur, tapi I really really wish film ini lebih berat ke komedi dengan sentuhan filosofi plus cinta, ketimbang sebaliknya, maka niscaya konsep "Madre si biang roti super" itu sendiri akan lebih mudah gw terima, lebih pas, lebih kena, lebih istimewa, dan niscaya juga akan lebih manis semanis wajah Laura Basuki. Bukannya film ini nggak ada lucunya, tetapi tone gambar dan penceritaannya kurang bisa mengeluarkan kelucuan yang maksimal, terlalu sendu dan lamban buat gw, jadinya not fun enough. Untunglah Madre tertolong dengan visual yang memikat (Jalan Braga gitu loh) dan tata musik yang cukup asyik. Penampilan para aktornya pun nggak jelek-jelek amat, baik Vino, Laura Basuki maupun Didi Petet dan empat manula komikal pegawai Tan De Bakker (tuh tokoh-tokohnya aja udah komikal kok filmnya enggak?). Gw terkesima dengan Laura yang sangat fasih dan natural ketika ngomong soal bisnis, bakat banget kayaknya =). 

Buat gw Madre adalah film yang cukup nyaman dinikmati, tidak sampai mengesalkan, dan setidaknya mendorong gw untuk tahu lebih jauh tentang roti =p. Tapi, ya itulah, pada akhirnya gw merasa eman, film ini mestinya bisa lebih baik lagi, bisa lebih lucu, bisa lebih lincah, bisa lebih cerah, bisa lebih menghibur, lebih heart-warming, dan juga dengan latar utamanya bisa lebih informatif lagi tentang seluk-beluk usaha bakery. It could've been a different and more interesting movie than this "safe" one. Salah satu ide nih, film ini bisa aja memasukkan info bahwa kalo bikin roti pake biang roti seperti Tan De Bakker, nggak perlu pewangi ruangan tambahan supaya bikin tokonya terkesan wangi roti banget, nggak kayak toko-toko "roti ngobrol" ituh...




My score: 6,5/10

Senin, 01 April 2013

Product Placement Paling Wajar dalam Film

Tahukah mengapa Ian (Igor Saykoji) dalam film 5cm. (2012) harus mengisi bahan bakar mobilnya dengan Pertamax? Atau, mengapa tokoh utama The Impossible (2012) menjadi nasabah Zurich Insurance? Ya, itulah product placement. Eits, tapi jangan keliru menyebutnya sebagai iklan terselubung ya. Sebab, faktanya memang jelas-jelas kentara. 

Product placement merupakan bentuk iklan yang lebih spesifik. Pakar komunikasi Siva K. Balasubramanian, dalam artikel "Beyond advertising and publicity: Hybrid messages and public policy", mendefinisikan product placement sebagai pesan berbayar dari produk bermerek tertentu untuk memengaruhi ketertarikan penonton film (atau televisi) terhadap produk atau merek itu. “Caranya dengan memasukkan produk atau merek itu ke dalam naratif film (atau program televisi) secara sengaja, namun tidak menganggu,” jelas Siva dalam artikelnya. 

Gerai 7-Eleven  digempur di film Thor (2011)

Product placement ini jadi salah satu sumber uang bagi para produser, karena kita tahu produksi film perlu sokongan dana yang tidak sedikit. Otomatis simbiosis mutualisme terjadi. Pengiklan butuh medium promosi yang tepat sasaran untuk calon konsumennya, dan produser film perlu dana. Produk, merek atau logo dari pihak-pihak pengiklan atau sponsor itu lalu ditampilkan di dalam filmnya. Bisa juga dalam materi promosi, seperti poster dan trailer. Tujuannya simpel, yakni agar produk-produk ini dapat dilihat oleh penonton film. 


SEJARAH & VARIASI PRODUCT PLACEMENT 

Percaya atau tidak, product placement bukan hal baru dalam industri film. Film pertama pemenang Oscar, Wings (1927), ternyata sudah menampilkan produk perusahaan cokelat Amerika Serikat, Hershey’s. Product placement pun makin jamak dilakukan di Hollywood sejak dekade 1980-an. Lihat saja E.T. The Extra Terrestrial (1982) yang menggunakan permen cokelat Reese’s Pieces untuk dipungut si E.T. hingga tiba ke rumah si bocah Elliott. 

Hingga kini product placement berbayar semakin sering dilakukan dalam produksi film dari berbagai skala, tak terkecuali di Indonesia. Video dari Filmdrunk.com ini bisa menjelaskan secara ringkas tentang eksistensi product placement dalam film-film Hollywood.


Sejak muncul pada tahun 1927, tentu variasi product placement makin banyak. Ada yang menunjukkan wujud produk atau logo merek secara visual, lewat dialog para tokohnya, atau gabungan keduanya. Ada juga cara paling sederhana dengan menampilkan logo sebelum atau sesudah film. Malah, ada pula yang memasukkannya sebagai bagian penting dalam plot. 

Coba perhatikan film Happy Gilmore (1996) yang menampilkan restoran sandwhich Subway sebagai titik balik karir golf tokohnya Adam Sandler; film sci-fi komedi Evolution (2001) yang memakai sampo Head & Shoulders sebagai amunisi untuk membasmi alien; atau Harold & Kumar Go to White Castle (2004) yang berpetualang dengan tujuan akhir restoran burger White Castle, tentu saja.