Jumat, 29 Maret 2013

[Movie] Argo (2012)


Argo
(2012 - Warner Bros.)

Directed by Ben Affleck
Screenplay by Chris Terrio
Based upon selections of the book "The Master of Disguise" by Antonio J. Mendez
and the article "Escape from Tehran" by Joshuah Bearman
Produced by Grant Heslov, George Clooney, Ben Affleck
Cast: Ben Affleck, John Goodman, Alan Arkin, Bryan Cranston, Victor Garber, Tate Donovan, Clea DuVall, Scoot McNairy, Rory Cochrane, Christopher Denham, Kerry Bishé, Kyle Chandler, Chris Messina, Željko Ivanek


Ketika uang dan so-called spekulasi bisnis berbicara, munculnya materi-materi promosi film Argo di bioskop kita di paruh kedua tahun lalu rupanya hanya janji janji tinggal janji. Argo, karya penyutradaraan ketiga dari the-better-looking-buddy-of-Matt-Damon, aktor Ben Affleck, rencananya udah mau tayang sekitar bulan Oktober 2012 lalu di negeri kita. Tetapi rupanya "seseorang" yang berwenang dalam pengedarannya menanggapnya nggak bakal laku, jadinya sekitar beberapa minggu sebelum hari-H penayangannya resmi dibatalin aja gitu. Enam bulan, 3 Piala Oscar, puluhan penghargaan lain, tumpukan keping DVD bajakan, dan jutaan kali download-an ilegal kemudian, film ini akhirnya "dipaksa" tayang di bioskop kita. Better late than never. Tapi doa si "spekulan" ternyata jadi kenyataan, filmnya nggak seberapa laku meski udah di-push citranya sebagai Best Picture di Oscar tempo hari. Yaeeeyalah, Oscar-nya kapan hare gene baru tayang!! Lalu sebenarnya apa istimewanya Argo sehingga bisa menang segudang penghargaan di award season baru lalu? 

Argo mengangkat sebuah kisah nyata tentang penyusupan enam orang WN Amerika Serikat keluar (exfil) dari Iran pada masa revolusi di negara Islam Syi'ah tersebut tahun 1979-1980. Enam orang ini berhasil lolos dari penyanderaan kedutaan besar AS di Teheran yang dilakukan oleh gerakan revolusi Iran yang menuntut esktradisi mantan pemimpin mereka supaya diadili, Shah Reza Pahlavi yang kala itu adalah "konco"-nya AS dan mendapat suaka di sana. Karena tak mungkin keluar dari negeri itu tanpa tertangkap pihak tentara revolusi, keenam orang ini bersembunyi di kediaman duta besar Kanada selama berbulan-bulan. Yang bikin "lucu" adalah penyamaran yang digunakan untuk mengeluarkan keenam orang berkode "tetamu" ini (suka-suka gw dong nerjemahin "houseguests" gimana =p), yaitu menjadikan mereka kru film fiksi ilmiah produksi Kanada yang sedang riset lokasi "eksotis" di Iran, dengan harapan bisa lolos pemeriksaan di bandara. Proses penyelamatan inilah yang diangkat dalam film ini.

Agen CIA spesialis exfil, Tony Mendez (Ben Affleck) mendapat mandat untuk membawa keluar keenam warga AS itu (yang belum diketahui keberadaannya oleh pihak penyandera). Mengetahui ketat dan jelinya pihak Iran mengenai mata-mata dan warga AS, sekalipun belum zaman internet, Tony harus membuat set-up semeyakinkan mungkin agar tidak dicurigai, termasuk mencari naskah, membuat rumah produksi, dan mempromosikan sebuah film fiksi ilmiah pengekor Star Wars yang berjudul "Argo" seakan-akan ini proyek  film betulan...padahal tentu saja tidak akan diproduksi. Bekerja sama dengan seniman rias ternama John Chambers (John Goodman) dan produser gaek Lester Siegel (Alan Arkin), mereka sukses membohongi publik Hollywood dan dunia tentang produksi film bohong-bohongan itu. Sisanya tinggal eksekusi. Resiko tetap besar, karena pihak revolusi Iran cepat atau lambat akan mengetahui mereka kekurangan 6 orang sandera dan akan mencarinya. Keenam "tetamu" itu juga hanya warga biasa yang tidak berpengalaman dalam penyamaran, dan Tony hanya bekerja sendirian.

Ben Affleck tampaknya memang lebih mumpuni sebagai orang di belakang layar ketimbang aktor. Sudah dua piala Oscar yang ia peroleh, tetapi masing-masing untuk penulis naskah (Good Will Hunting (1997)) dan produser untuk Argo ini. Sebagai sutradara, mas Ben sebelumnya mengarahkan Gone Baby Gone (2007) dan The Town (2010) yang masing-masing juga tersentuh nominasi Oscar (Best Supporting Actress dan Actor). Gw baru nonton The Town, dan itu film thriller yang bagus. Kini lewat Argo, mas Ben mencoba main di skala yang lebih besar, dengan setting internasional, masa lampau, dan latar belakang sejarah yang cukup kontroversial, berdasarkan kisah nyata pula. Hasilnya, Argo adalah film yang berhasil tampak sebagaimana seharusnya. Mas Ben berhasil mengumpulkan tim yang keren dalam membentuk film ini, mulai dari desain produksi (semua setting Iran kebanyakan syuting di Turki, gak mungkin lah di Iran, duh), tata kostum dan rias yang sukses ber-vintage ria, sinematografi, tata suara, musik, editing, serta tentu saja penulis naskah dan aktor-aktor ciamik yang sangat tepat menghidupkan kisah ini. Bagaimana setiap detil terkecil pun bisa difungsikan besar dalam plotnya (misalnya minuman beralkohol) adalah salah satu nilai unggul film ini. Demikian pula bagaimana setiap aktor yang banyak itu tampil prima, termasuk keenam "tetamu" yang somehow mudah dikenali, menjadi nilai unggul lainnya. Bahkan akting mas Ben sendiri cukup sesuai, apalagi setelah liat Tony Mendez aslinya yang emang datar dan agak kayak gak punya semangat hidup gitu. Semua tertata sangat rapi sampai-sampai hampir nggak nyangka film ini dikomandoi seseorang yang pernah jadi DareDevil dan tokoh pemanis di Armageddon.

Saat menonton pertama kali di unduhan bajakan, Argo menjadi sebuah film drama spionase yang membumi, masuk akal, dan sangat menegangkan, terutama di bagian klimaksnya yang bikin jantungan. Menonton kali kedua, mungkin ketegangan itu tidak sebrengsek ketika pertama kali, tetapi ada banyak yang bisa diulik yang tadinya gw nggak perhatikan. Gw nggak merasa Argo ini hanya mengagung-agungkan Amerika belaka, tetapi sebenarnya cukup seimbang dalam menampilkan isunya. Buktinya di bagian prolog (yang sangat menarik karena ditampilkan seperti storyboard film dan potongan gambar media) dijelaskan bahwa krisis penyanderaan ini salahnya Amerika juga, film ini tidak sepenuhnya mengantagonisir rakyat Iran kala itu. Pun bagaimana film ini mengatur tone di setiap bagian, dari proses pendudukan dan penyanderaan kedutaan yang seperti dokumenter, lalu proses "pembuatan" film yang lebih cerah bahkan jenaka akibat banyak sindiran tentang Hollywood, kemudian ketika misi dijalankan yang lebih tense, terlihat pas dan peralihannya rapi. Yah, mungkin kurang dieskposnya peran Kanada dalam kesuksesan misi ini akan menjengkelkan orang-orang Kanada, but I think Canadians aren't going to be that mad, right? *stereotipe*. Anyway, dramatisasi fakta yang dilakukan film ini, meskipun jatuhnya jadi film banget, juga rasanya tidak terlalu berlebihan. Semisal bagian klimaks memang kelihatan banget banyak "polesan"-nya, tetapi untuk menggambarkan dag-dig-dug-duerr para pelaku aslinya, it works great.

Sedangkan kenapa pada pemutaran di bioskop tanah air yang nggak terlalu laku? Well, selain karena TELAT BANGETT, mungkin karena film ini memang lebih banyak ngobrol daripada aksi, toh ini memang bukan film action. Tetapi yang tak keberatan dengan film thriller dan spionase yang nggak terlalu over-the-top, Argo adalah tontonan yang tepat, juga menghibur. Rasanya juga gw nantinya bakal menyaksikannya berulang-ulang di DVD, sebab nilai entertainment film ini cukup tinggi, isi yang ditampilkan juga tidak seberat yang dibayangkan. Harus diakui buat gw Argo bukanlah film yang TER-baik setahun belakangan ini, dan gw yakin mas Ben bakal sanggup bikin film yang lebih keren lagi, tetapi Argo layak diingat sebagai film yang unggul dalam berbagai lini yang disatukan dengan solid, dan yang penting, menghibur.




My score: 8/10

Kamis, 28 Maret 2013

[Movie] The Croods (2013)


The Croods
(2013 - DreamWorks Animation/20th Century Fox)

Directed by Chris Sanders, Kirk De Micco
Story by John Cleese, Chris Sanders, Kirk De Micco
Screenplay by Chris Sanders, Kirk De Micco
Produced by Kristine Belson, Jane Hartwell
Cast: Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, Catherine Keener, Cloris Leachman, Clark Duke, Chris Sanders, Randy Thom


Betapa menariknya riwayat The Croods dan orang-orang di baliknya. Dulu ketika DreamWorks mendistribusi film-filmnya sendiri, divisi DreamWorks Animation mengajak kerjasama studio animasi Inggris, Aardman Animations (yang juga bikin "Shaun the Sheep") untuk bikin film bioskop bareng. Hasilnya ada Chicken Run (2000), pemenang Oscar Wallace & Gormit: The Curse of the Were-Rabbit (2005), dan Flushed Away (2006). Ketika DreamWorks terkatung-katung sehingga harus numpang distribusi di Paramount Pictures, kerjasama dengan Aardman pun habis. Tetapi sebuah kisah berlatar zaman prasejarah hasil pemikiran aktor/komedian Inggris John Cleese dan "lulusan" Warner Bros., Kirk De Micco (penulis naskah Quest for Camelot (1998)) yang rencananya dibuat Aardman, masih dipegang DreamWorks Animation. Kisah itu kemudian dikembangkan lagi oleh Chris Sanders, si "lulusan" Walt Disney pembuat Lilo & Stitch (2002), yang pernah membuat How to Train Your Dragon (2010) untuk DreamWorks. Proyek ini pun akhirnya jadi juga dengan judul The Croods, yang jadi film DreamWorks Animation pertama yang didistribusikan oleh Fox setelah kerjasama dengan Paramount habis. Btw, untuk DreamWorks yang non-animasi, distribusinya numpang Touchstone/Walt Disney. Phew.

Dan inilah hasil akhirnya. The Croods mengisahkan keluarga Crood, satu-satunya keluarga manusia yang tersisa di masa prasejarah ketika bumi sedang mengalami gonjang-ganjing dan perubahan bentuk. Keluarga Crood yang primitif ini akhirnya memutuskan untuk mencari tempat hidup yang lebih baik agar selamat setelah diyakinkan oleh sang putri tertua, Eep (Emma Stone)—tanpa Syaifullah Fatah, lagian dibacanya "iiip". Ini karena Eep mengikuti saran seorang pemuda yang ditemuinya, Guy (Ryan Reynolds), yang penuh dengan ide-ide lebih "modern" dalam segala hal, yang tentu tidak mudah diterima oleh sang kepala keluarga Crood, Grug (Nicolas Cage). Ceritanya ya gitu aja. Maka dari itu, proses bergulirnya peristiwa demi peristiwa seiogianya ditata dengan sedemikian rupa sehingga tidak jadi membosankan. Untungnya, The Croods hasilnya tepat seperti demikian. Perjalanan The Croods featuring Guy menuju tempat baru yang lebih aman diwarnai dengan hal-hal yang seru, penuh tawa, dan pemandangan keren.

Dan di antaranya, ada juga pertentangan demi pertentangan antara Grug yang pro status quo dan Guy yang lebih open-minded. Grug masih memegang prinsip-prinsip bahwa kegelapan dan makhluk selain mereka adalah musuh, berpikir tempat tinggal yang paling aman adalah di dalam goa, "melindungi" keluarga dengan menanamkan rasa takut, mengandalkan kekuatan otot, serta semua hal yang baru sudah dicap berbahaya. Sedangkan Guy, meskipun bertubuh kering dan hanya sendirian bersama "kungkang" peliharaannya, Belt (Chris Sanders), selama ini bisa sintas karena mengandalkan akalnya dengan berbagai-bagai teknologi (tentu sesuai zamannya, 'kan ini bukan The Flinstones =p), termasuk mengatasi kegelapan malam dengan hal baru yang bernama api. Runyamnya, Eep dan anggota keluarga Crood yang lain terkesima dengan Guy dan cenderung mendukungnya, membuat Grug merasa ditinggalkan. Padahal niat dari kedua prinsip bertentangan itu sama-sama baik.

Well, metafora-metafora tentang keberadaban manusia tadi tentu akan menggirangkan para simpatisan gerakan aufklärung, tetapi jangan khawatir buat penonton yang lain, karena ya itu tadi, The Croods menampilkan segala yang dipunyainya dengan ringan dan menyenangkan. Rancang gambarnya, baik tokoh maupun lanskap, cakep dan dinamis sekali. Leluconnya dibuat lincah, fast-paced seperti gaya Looney Tunes, pokoknya sangat menghibur dan masih aman untuk keluarga. Karakterisasinya juga dibangun dengan baik, dari keluarga Crood beserta hubungan antar mereka dan kebiasaan-kebiasaan mereka (yang nyeleneh tapi masuk akal), hingga makhluk-makhluk "ajaib" yang melengkapi tema masa peralihan dan evolusi tadi. Tentang makhluk-makhluk ini gw rasa adalah satu lagi bukti kegilaan Chris Sanders setelah tokoh Stitch dan Toothless di film-filmnya sebelum ini . Di setting purba ini, doi semakin liar dengan memadukan berbagai hewan yang kita kenal sekarang menjadi makhluk-makhluk yang kelihatan grotesque tetapi tetap cute. Mulai dari paus berkaki, gajah segede tikus, buaya kecil kayak anjing, hingga yang paling menggemaskan adalah harimau berkepala gede banget berwarna mirip burung makaw. A fusion of creativity and craziness at its best.

Hewan-hewannya aneh tapi lucu ^_^

The Croods adalah satu lagi karya yang melibatkan Chris Sanders (tanpa bermaksud mengesampingkan Kirk De Micco) yang asyik dan layak disaksikan. Pengusungan nilai-nilai keluarga dan pembaruan digarap dengan mulus, seimbang, dan jenaka. Pun jalan cerita serta animasinya sangat menarik, didukung oleh efek visual yang keren dan musik yang menggugah. Namun demikian, sayangnya The Croods belum dapat berhasil menyentuh nurani terlalu dalam. Perubahan mood menjelang akhir tampaknya terlalu tiba-tiba, tidak semulus bagian-bagian sebelumnya. Sehingga ketika harusnya terharu, gw nggak. Tetapi dengan kerapihan cerita, imajinasi liar yang ditampilkan jenaka sekaligus apik, warna-warni memanjakan mata, dan berbagai gags yang tak pernah gagal, The Croods sudah berbuat cukup untuk berstatus memorable buat gw. Menyaksikannya dalam format 3-Dimensi pun sangat, sangat tidak merugikan.




My score: 7,5/10

Sabtu, 23 Maret 2013

[Album] Imagine Dragons - Night Visions


Imagine Dragons - Night Visions
(2012 - Interscope/Universal Music Group)
Produced by Imagine Dragons, Alex Da Kid, Brandon Darner

Tracklist:
1. Radioactive
2. Tiptoe
3. It's Time
4. Demons
5. On Top of the World
6. Amsterdam
7. Hear Me
8. Every Night
9. Bleeding Out
10. Underdog
11. Nothing Left to Say/Rocks
12. Cha-Ching (Till We Grow Older) >int'l ver. bonus track<
13. Working Man >int'l ver. bonus track<


Berawal dari pendengaran single "It's Time" di radio yang bikin gw tertarik kulik lebih jauh tentang artis/band yang menyanyikannya, ternyata emang jadinya suka sama album di mana lagu tersebut bernaung. Peringkat ke-6 dalam My Top 10 Albums of 2012 gw kemarin, Night Visions dari Imagine Dragons akhirnya dirilis secara resmi di Indonesia (eh berarti kemarin gw bisa denger gimana caranya? Yaaa, gitu deh =P). Album ini kemudian bertumbuh jadi favorit gw beberapa bulan terakhir ini, dan gw pikir jikalau gw dengerinnya lebih awal, pasti peringkat favorit tahunannya bisa lebih naik lagi. So, yeah, seperti itulah kesan full album perdana Imagine Dragons ini buat gw. It's that good

Perkenalkan Imagine Dragons, band asal Las Vegas, Amerika Serikat yang terdiri dari Dan Reynolds (vokal), Wayne Sermon (gitar), Ben McKee (bass), dan Daniel Platzman (drum, viola). Musik yang diusung adalah apa pun jenis yang bisa kita ingat saat ini. Rock? Pop? Hiphop? Electronic? Folk? New waveDubstep? Semuanya deh ada di sini. Mendengar Imagine Dragons mengingatkan kita sama sound band-band rock alternatif macam Coldplay atau The Killers, yang rada ke-Eropa-Eropa-an gitu deh, tapi dengan melodi lagu yang lebih catchy, dan vokal yang lebih keren (sorry, but I mean it). Tetapi dalam Night Visions ditunjukkan bahwa mereka nggak gegabah mencampurkan segala bunyi-bunyian yang mereka mau dalam setiap lagu. Malah ada kecenderungan setiap lagu ramuannya berbeda beda. Mungkin inilah yang menjadi kunci kenapa album mereka ini enjoyable dan nggak bosenin.

Jika banyak yang sudah kenal dengan single "It's Time" yang sangat catchy dan dipermanis bunyi mandolin dan tepukan tangan, mungkin akan kaget dengan track pembuka album ini, "Radioactive", yang meski diawali dengan dentingan dawai gitar dan chant yang menenangkan, tiba-tiba langsung dihantam dentuman kencang dan suara "wok-wok-wok" yang katanya anak sekarang sih dubstep, tapi hasilnya garang dan membuka album ini dengan menggelegar. Album ini pun mengalir sangat mulus sehingga 6 track pertama langsung jadi lagu-lagu favorit gw, that's a good sign. "Tiptoe" sangat asik dengan lompatan nada-nadanya yang drastis dan permainan drum "nanggung"-nya; "Demons" yang menonjolkan vokal Dan Reynolds, singkat tapi keren dengan beat yang agak mengingatkan pada OneRepublic; "On Top of the World" yang lebih ceria dan asik buat angguk-angguk sambil nyanyi bareng; hingga "Amsterdam" yang terdengar antara American rock dan new wave yang begitu intens dan powerful

"Hear Me" mungkin terdengar pop-rock biasa saja dan jadi lagu yang least exciting di album ini, tetapi 4 track terakhir cukup menutupinya. "Every Night" adalah lagu yang paling "pop ballad" di album ini tetapi latar efek elektroniknya membuat lagu ini lebih berbobot. Secara kontras, "Bleeding Out" adalah lagu nge-rock tetapi juga sudah dicampur dengan beat hiphop yang memberi penekanan pada keseluruhan lagu. Kejutan juga datang dari "Underdog" yang memasukkan unsur etnik seperti bunyi steelpan (yang buat musik-musik ala pulau-pulau Karibia) dan ditambahkan dominasi synthesizer, kesannya agak mirip dengan "On Top of the World" tetapi versi lebih santai. Album pun ditutup dengan "Nothing Left to Say" yang  megah karena string section dan solo viola, dan di track yang sama ditambahkan lagu "Rocks" yang lagi-lagi terdengar etnik dengan irama kencang ala Afrika/Amerika Latin. Sedangkan bonus track-nya yaitu "Cha-Ching" yang meditatif dan "Working Man" yang lagi-lagi pake steelpan dan beat etnik, hanya menambah tegas keragaman musik Imagine Dragons.

Bagi yang mengharapkan musik rock alternatif berdistorsi dan emosional, mungkin Imagine Dragons, setidaknya album Night Visions ini, akan terdengar tanggung. Tetapi bagi gw sendiri, keragaman dan gabung-menggabung bunyi yang dilakukan Imagine Dragons sangatlah asik dan menyenangkan dengan caranya sendiri. Pun porsi setiap bunyi-bunyian yang beragam itu tidak pernah berlebihan, komposisinya selalu pas dan setiap lagu jadi satu kesatuan yang solid. Vokal "laki banget" dari Dan Reynolds pun jadi daya tarik tersendiri, karena begitu fleskibel, bisa santai bisa juga sangar, tetapi tidak menghilangkan karakter suaranya yang mantap dan artikulasinya yang enak didengar. Sesuai kebutuhan lah. Tambahkan dengan anggota band lain yang ikut chorus, tak hanya memberi kesan lebih grand, tetapi juga menegaskan harmoni dan kesatuan mereka secara artistik.

Again, gw menikmati sekali album Night Visions ini sekalipun udah berulang kali diputar. Urutan lagunya enak banget. Antara yang kenceng dan yang medium, yang "minor" dan yang beraura positif disusun dengan cakep. Mungkin tidak bisa dibilang orisinil, tapi bagi gw mereka tetap fresh. Dalam usahanya menjelajah berbagai jenis musik yang membalut melodi yang cathcy sehingga jadi sebuah persembahan rock alternatif yang sangat bisa dinikmati, Imagine Dragons lewat Night Visions sudah berhasil menunaikannya. Keren.



My score: 8/10


Imagine Dragons



Click "read more" for previews

Selasa, 19 Maret 2013

[Movie] Lincoln (2012)


Lincoln
(2012 - 20th Century Fox/DreamWorks/Touchstone)

Directed by Steven Spielberg
Screenplay by Tony Kushner
Based in part on the book "Team of Rivals: The Political Genius of Abraham Lincoln" by Doris Kearns Goodwin
Produced by Kathleen Kennedy, Steven Spielberg
Cast: Daniel Day-Lewis, Sally Field, Tommy Lee Jones, David Strathairn, James Spader, John Hawkes, Tim Blake Nelson, Hal Holbrook, Joseph Gordon-Levitt, Gulliver McGrath, Bruce McGill, Jackie Earle Haley, Jared Harris, Lee Pace, Peter McRobbie, Gloria Reuben, Walton Goggins, Michael Stuhlbarg, David Costabile


Selain George Washington yang menjadi presiden pertama negara Amerika Serikat, ada satu lagi nama presiden negara itu yang sering sekali disebut-sebut, Abraham Lincoln. Nama yang begitu terkenal sehingga banyak dipakai sebagai nama tempat di Amerika, sampai menginspirasi sebuah band rock untuk jadi nama mereka dengan sedikit pelesetan, Linkin Park. Baiklah, agak out of topic memang =P. Itu cuma gambaran bahwa kalaupun Anda (dan warga non-USA lainnya) nggak tahu-menahu mengenai kebesaran tokoh sejarah bernama Abraham Lincoln itu, di Amerika sebaliknya. Sebagai presiden ke-16 yang terpilih selama 2 periode selama tahun 1861-1865, Lincoln berada dalam situasi penting dan membuat sebuah keputusan yang terpenting dalam sejarah berdirinya bangsa Amerika Serikat, yaitu mengakhiri praktek perbudakan, menegaskan prinsip negara itu bahwa semua manusia diciptakan setara. Hal ini menjadi tonggak penting dan berpengaruh hingga sekarang, dan itulah sebabnya (konon) beliau adalah presiden yang paling dicintai Amerika sepanjang masa.

Film Lincoln ini adalah effort teranyar menggambarkan ketokohan Abraham Lincoln tersebut secara lebih mendekati sejarah, bukan kisah karang-karangan tentang pembasmian vampir. Tetapi ini bukan juga film riwayat hidup, melainkan sebuah episode penting dalam hidupnya. Sepanjang 2,5 jam, kita akan melihat bagaimana Lincoln berjuang agar amandemen ke-13 UUD yang dapat menghapuskan perbudakan di seluruh wilayah hukum Amerika Serikat bisa disahkan di DPR. Memangnya ada apa dengan perbudakan? Well, tonton aja Django Unchained, you'll get the picture. Lha terus udah tahu perbudakan (yang memperlakukan manusia yang dianggap kelas bawah sebagai barang hak milik) itu nggak bener kenapa mengesahkan pelarangannya itu susah? Nyatanya kala itu, tidak semua orang berpikiran demikian. Bahkan persoalan boleh enggaknya perbudakanlah yang memicu Perang Saudara Amerika selama Lincoln berkuasa. Negara-negara bagian di Utara menuruti dihilangkannya perbudakan, sedangkan negara-negara bagian di Selatan tidak terima dan menuntut pemisahan diri dari negara Amerika Serikat, kelompok ini kemudian dikenal sebagai Konfederasi.

Presiden Abraham Lincoln (Daniel Day-Lewis) sudah bertekad untuk menghapus perbudakan di negara yang dipimpinnya secara konstitusional, yang pada efeknya dapat mengakhiri perang. Tetapi di DPR, meskipun partai Lincoln bernaung yaitu Partai Republik jumlahnya mayoritas, tidak menjamin bisa memenuhi syarat pengesahan yang harus disetujui sedikitnya dua per tiga jumlah anggota DPR. Lawannya, Partai Demokrat jelas akan menjegal usulan ini...and basically apa pun yang diputuskan Lincoln. Namanya juga oposisi, apa aja pasti diprotes. Untuk mengatasi ini, Presiden Lincoln menugaskan William Seward (David Strathairn) sang Secretary of State (terjemahan resminya "Menteri Luar Negeri" tapi kok gw lebih sreg ke Menteri Sekretariat Negara ya?) untuk diam-diam membentuk tim yang dapat melobi dan memenangkan dukungan dari beberapa anggota fraksi Demokrat yang peragu. Fraksi Republik sendiri terjadi dualisme: ada kelompok radikal yang dimotori Thaddeus Stevens (Tommy Lee Jones) yang murni ingin penghapusan perbudakan, ada pula kelompok konservatif yang di-dewan-suro-i oleh Preston Blair (Hal Holbrook) yang lebih ingin menghentikan perang dan negara-negara Konfederasi bisa bersatu lagi dengan Serikat. Lobi kepada dua kubu ini pun bukan mudah. Stevens bukanlah simpatisan Lincoln, dan Blair hanya mau memenuhi permintaan Lincoln jika sudah ada usaha damai dan gencatan senjata dengan pihak Konfederasi, tak peduli amandemen UUD ke-13 itu tembus atau tidak.

With all sok-ngerti-ness aside, gw melihat cara film ini memaparkan proses politik serta intrik-intriknya dengan cukup jelas dan porsi seimbang. Seimbang dalam artian bisa menitikberatkan berbagai titik cerita tadi (lobi pihak ini pihak itu dan juga persidangan di gedung DPR) bisa berjalan beriringan dan cukup mudah dikaitkan satu dengan yang lain. Problemnya, durasinya jadi panjang. Set-up situasi seputar usaha pengesahan amandemen ke-13 UUD itu memang cukup panjang dan akan cukup menyulitkan untuk diikuti, apalagi bagi yang memang meh sama dunia hukum dan pemerintahan, alih-alih hukum dan pemerintahan negeri orang. But it did pay off, rasanya tidak ada yang mubazir karena semua unsur cerita terasa saling melengkapi. Dan untung saja khusus untuk versi bioskop luar Amerika (contohnya Indonesia), ada bagian prolog berisi penjelasan situasi di awal film sehingga dapat mengurangi kebingungan penonton awam tentang latar belakang sejarahnya.


Di saat yang bersamaan film ini juga mencoba menggambarkan kepribadian Presiden Lincoln, yang diperlihatkan begitu down to earth, ramah, gemar bercerita ngalor ngidul, tetapi bisa tegas dan keras demi hal yang diyakininya benar. Ideal sekali memang digambarkan, bahwa Lincoln tidak hanya mau menghapuskan perbudakan di negaranya karena tekanan sesaat saja, melainkan juga mempertimbangkan dampaknya hingga generasi-generasi selanjutnya. Ia tahu apa yang terbaik bagi rakyatnya, dan tak gentar memperjuangkannya, meskipun harus juga berkompromi dan memakai "akal-akalan", but again demi kebaikan semua. Tapi yang menurut gw menarik juga, adalah bagaimana film ini masih menyisakan ruang untuk menunjukkan sisi rapuh Lincoln, terutama berhubungan dengan keluarganya. Sang Ibu Negara, Mary "Molly" Lincoln (Sally Field) masih membawa kesedihan mendalam atas wafatnya salah satu anaknya ketika masih kecil, yang menyebabkan emosinya kurang stabil, sehingga pertengkaran sering tak terhindarkan. Hubungan Lincoln dengan sang putra sulung, Robert "Bobby" (Joseph Gordon-Levitt) juga kurang mesra akibat Lincoln yang seakan kurang perhatian dan Bobby yang tiba pada fase nggak mau nurut orang tua.

Mudah sekali menilai film Lincoln ini sebagai karya kolosal sejarah yang dikerjakan dengan sangat baik dan rapi. Lihat saja dari tampilan ruangnya yang otentik (gw suka lampu petromak kaca buletnya yang ada di mana-mana =)), tata visual yang ganteng, juga akting menawan dari deretan aktor jempolan yang (cukup) terkenal. Namun untuk menikmatinya memang tidak mudah, karena sifatnya yang drama berbalut politik. Pacing-nya tidak terlalu cepat, dan gw malah melihat tata adegannya banyak yang European-style, pun film ini nyaris tak punya adegan "gebyar" berskala besar. Publik Amerika jelas tetap akan lebih mudah menerimanya. Buktinya di antara 9 nomine Film Terbaik Oscar tahun ini, Lincoln adalah yang pendapatan peredaran bioskopnya paling tinggi di sana. Sedangkan bagi yang lain, film ini seakan jadi film "tersegmen" yang hanya akan menarik bagi penggemar sejarah dan politik, selain tentu saja penggemar film yang penasaran dengan 12 nominasi Oscar yang diterimanya serta performa teranyar dari aktor level dewata, Daniel Day-Lewis. 

Oh, hey, jangan lupa film ini adalah garapan Steven Spielberg yang sudah sangat fasih dalam menjalin momen demi momen dalam setiap filmnya agar dapat berkesan oleh penontonnya, seberat apa pun kontennya. Bahkan dalam film sejarah seperti ini, Spileberg tetap sukses menyematkan kehangatan di antara kisah pergolakan politik pada zaman itu. Percayalah, di permukaan mungkin akan sedikit menjemukan (apalagi kalau nontonnya tanpa sedikit pengetahuan tentang Perang Saudara Amerika...atau nontonnya di bajakan bukannya yang versi bioskop internasional =p), tetapi jika diperhatikan dengan seksama, Lincoln sama sekali tidak mengecewakan. Lincoln malahan jadi contoh film ketokohan *apa pula istilah ini* yang baik, terutama mengingat film ini nggak cuma mempertunjukkan yang baik-baiknya saja tentang tokoh yang dipuja-puja bangsa itu *senggol salah satu film biopik Indonesia baru-baru ini*. Jelas ada glorifikasi dan patriotisme, tetapi film ini juga tidak menutup-nutupi kondisi sosial politik masa lalu yang belum stabil, juga efek penghapusan perbudakan yang tak selamanya manis.




My score: 8/10

Senin, 18 Maret 2013

[Movie] Oz the Great and Powerful (2013)


Oz the Great and Powerful
(2013 - Walt Disney)

Directed by Sam Raimi
Screenplay by Mitchell Kapner, David Lindsay-Abaire
Based on the works by L. Frank Baum
Produced by Joe Roth
Cast: James Franco, Mila Kunis, Rachel Weisz, Michelle Williams, Zach Braff, Bill Cobbs, Joey King, Tony Cox


Kisah tentang dunia Oz dari seri literatur anak-anak karya sastrawan L. Frank Baum kalau nggak salah mulai mendunia ketika versi film musikalnya berjudul The Wizard of Oz dilepas tahun 1939 dengan sangat sukses, termasuk salah satu lagu di dalamnya jadi evergreen hit, "Over the Rainbow". Sejak itu berbagai versi mulai bermunculan, mulai dari versi "blaxploitation" The Wiz (1978) yang dibintangi Diana Ross dan Michael Jackson, versi anime Jepang tahun 1980-an, hingga versi mengarah sci-fi dalam miniseri televisi "Tin Man" (2007). It's very famous. Saking terkenalnya sampai para inisiator Oz the Great and Powerful santai aja terhadap kenyataan bahwa keseluruhan film terbaru mereka ini sebenarnya adalah spoiler bagian akhir The Wizard of Oz =D. Oz the Great and Powerful ini adalah semacam prekuel The Wizard of Oz, kisah bikinan baru yang mau mengisahkan asal muasal Sang Penyihir Oz yang jadi penguasa dan penolong warga negeri Oz itu.

Oscar Diggs (James Franco) adalah pesulap yang tergabung dalam rombongan sirkus, yang dalam perhentiannya di Kansas, ia terbawa tornado hingga sampai ke sebuah negeri indah nan ajaib yang belakangan diketahui bernama Oz, sama dengan nama persona panggung Oscar selama ini: Oz the Great and Powerful, sang penyihir dari negeri padang pasir *yakali*. Setibanya di Oz, Oscar ditemukan oleh Theodora (Mila Kunis), seorang "penyihir baik" yang memberitahukan adanya ramalan bahwa negeri Oz akan kedatangan penyihir negeri lain yang akan jadi raja negeri Oz. Oscar pun mengikut Theodora menemui sang kakak, Evanora (Rachel Weisz) yang selama ini menjaga tahta pemimpin negeri Oz di kota Zamrud (hehe, maksudnya Emerald City). Tapi untuk menerima tahta, Oscar mesti mengalahkan si "penyihir jahat" bernama Glinda (Michelle Williams) yang katanya telah membunuh raja negeri Oz sebelumnya. Oscar yang dari awal cuma iya-iya aja, bahkan nggak ngaku kalau dirinya bukan penyihir betulan, akhirnya bersedia melakukannya setelah melihat tumpukan uang yang luar biasa melimpah apabila jadi raja. Perburuan pun dimulai, meski sebenarnya apa yang diketahui Oscar selama ini tentang negeri Oz ternyata keliru.

Tadinya gw agak ogah menyaksikan film ini mengingat "trauma" film Alice in Wonderland (2010) karya Tim Burton yang terlalu asik sendiri sampe gw nggak diajak ngerti bagusnya di mana. Film itu diproduseri Joe Roth untuk Walt Disney, dan sama-sama banyak pake animasi CGI buat dunia ajaibnya sebagaimana Oz baru ini. Tetapi untungnya Oz tidak se-"parah" itu. Oz garapan Sam Raimi ini lebih enjoyable dan jalan ceritanya lebih jelas. Lebih sederhana dan Disney banget tentang pencarian jati diri dan "where to belong", dan mesti ada adegan "perang kolosal" di klimaks, tapi toh materi asalnya juga targetnya anak-anak, jadi ya masih bisa dimaafkan kalo agak kekanak-kanakan. 

Konsepnya pun menarik, sedikit meniru konsep film The Wizard of Oz yang lama: dunia "nyata" gambarnya hitam putih, ketika sampai negeri Oz langsung berwarna (plus layar melebar). Tampilan visualnya terbilang memukau dengan komposisi warna yang elok dan desain yang cukup indah sekalipun terlihat "kartun", animasinya lumayan mulus (paling suka animasi tokoh China Girl/Gadis Keramik (Joey King)). Tetapi  mungkin yang jadi nilai plus film ini adalah efek 3-dimensi-nya yang memang bekerja dengan baik terhadap gambar dan ceritanya, baik kedalaman gambar maupun penonjolan yang tampil silih berganti, jadi bikin yang nonton excited dan terbangun sepanjang durasinya yang lumayan juga (130-an menit). Nggak menyangka, the whole film is actually not disapponting at all.

Kenikmatan menonton Oz sesungguhnya tidaklah sempurna, terkhusus dengan kurang mantapnya performa para aktor, meskipun harus dimaklumi interaksi di antara mereka tampak sengaja seperti pertunjukan sandiwara untuk anak-anak. James Franco sebagai Oscar Diggs yang seharusnya digambarkan sebagai penipu kelas teri tetapi memiliki hati yang mulia dan mengundang simpati, bagian hati mulianya nggak kelihatan. Dari ketiga penyihir wanita yang ditampilkan, mungkin hanya Rachel Weisz yang dapat membawakan tokohnya tanpa masalah berarti, sedangkan Mila Kunis dan Michelle Williams (yang tiaranya selalu nggak pas di tengah jidat =/) sekalipun begitu rupawati sekali, pembawaannya agak ngambang gitu deh. Tidak juga salah mereka mungkin, karena penokohan masing-masing penyihir ini juga agak lemah. Untuk sebuah kisah asal muasal, motivasi dasar para penyihir untuk menguasai/mengusik negeri Oz tetap tidak terungkap jelas. Dan oh-so-classic-question ketika ada kesempatan menyakiti lawan kenapa nggak langsung saja? Semacam itulah.

Tetapi lagi-lagi, Oz the Great and Powerful tetaplah sebuah tontonan yang menghibur yang harmless, terutama kalau pakai teknologi 3-dimensi. Lebih nikmat jika ditonton dengan semangat kanak-kanak yang penuh wonder =).



My score: 7/10

Jumat, 15 Maret 2013

[Movie] Flight (2012)


Flight
(2012 - Paramount)

Directed by Robert Zemeckis
Written by John Gatins
Produced by Walter F. Parkes, Laurie MacDonald, Steve Starkey, Robert Zemeckis, Jack Rapke
Cast: Denzel Washington, Kelly Reilly, Bruce Greenwood, Don Cheadle, John Goodman, Melissa Leo, Brian Geraghty, Tamara Tunie, Nadine Velazquez


Sebelum tertipu poster dan trailer: bukan, Flight bukan film action-disaster. Permasalahan utama Flight bukanlah tentang kecelakaan pesawat, tetapi tentang tanggung jawab moral dari sang pilot, William "Whip" Whitaker (Denzel Washington). Di awal film penonton melihat Whip bangun-bangun santai di hotel bersama wanita muda tanpa busana yang dipanggil Trina (Nadine Velazquez) yang belakangan diketahui adalah pramugari sepesawat Whip. Ia terima telepon dari mantan istri sambil minum miras dan menghirup bubuk putih lewat hidung, sebelum akhirnya keluar kamar dan siap bertugas menerbangkan pesawat yang nantinya nahas. Oh wait, adegan 3 menitan ini di-cut seluruhnya dalam versi bioskop di Indonesia, hehe. Abisnya si mbak Trina eksis banget mondar-mandir gak pake baju di depan kamera. Hadeuh =P. *abis baca langsung deh pada cari bajakannya nih, dasar*. Intinya sih, (harusnya) penonton sudah tau tabiat Whip sejak awal.

Singkat cerita, setelah kerusakan mesin yang menyebabkan pesawat kehilangan kendali otomatis, Whip berhasil meminimalisir dampak kecelakaan (4 penumpang dan 2 awak tewas dari 100-an orang yang ada dalam pesawat), dengan menjatuhkannya di sebuah lapangan terbuka. Di satu sisi, Whip jadi seorang pahlawan yang dicari media. Di sisi lain, penyelidik dari badan pemerintahan urusan perhubungan mempertanyakan hasil tes darah yang diambil ketika Whip dirawat di rumah sakit, yang mengindikasikan positif alkohol dan zat-zat terlarang dalam kadar yang terbilang tinggi. Jika terbukti benar, Whip harus dipenjara (karena konsumsi alkohol di luar batas ketika bertugas), dan reputasi "pahlawan"-nya, beserta citra profesi pilot dan perusahaan penerbangan pun akan jatuh.

Keseluruhan film ini bagi gw membahas soal penyangkalan. Penonton dibiarkan mengetahui segala fakta sembari melihat bagaimana Whip dan juga pihak ikatan pilot yang dipimpin oleh sahabatnya, Charlie (Bruce Greenwood) dan pengacara Hugh Lang (Don Cheadle) berjuang untuk menyangkal sangkaan bahwa Whip telah melakukan kecerobohon yang berakibat fatal. Faktanya, kecelakaan memang bukan salah Whip, tetapi masalahnya, doski emang "high" kala itu. Selama proses hukum berjalan, Whip bersembunyi dan harus berjuang melawan kebiasaan lamanya itu, sekalipun antara mau-tak-mau, setidaknya sampai pemeriksaan selesai. Ia juga bertemu seorang gadis pecandu narkoba, Nicole (Kelly Reilly) yang diajak menginap di rumahnya karena status si cewek ini nggak punya uang. Rumah tempat persembunyian Whip justru bermanfaat (selain manfaat "gituan" =p) bagi Nicole yang memang ingin sembuh. Tetapi Whip? Not so fast.

Kelengkapan sebab akibat, elemen-elemen, dan karakterisasi dalam Flight patut dipuji. Bagaikan tidak ada yang tertinggal, semua menyatu dan berkait bahkan untuk tokoh-tokoh se-"sepele" Trina dan bandar "barang" Harling Mays (John Goodman). Menarik sekali cara film ini dapat menggabungkan proses investigasi kecelakaan pesawat, proses hukum yang berlaku, perlawanan Whip terhadap masalah kecanduan, juga elemen sosial seperti euforia media dan penduduk negara bagian Georgia yang konon memang lebih "ingat Tuhan" ketimbang daerah Amerika lain, dengan baik dan cukup jelas. Beruntung, film ini ditangani sutradara yang bukan sembarang, Robert Zemeckis, yang akhirnya bikin film "orang hidup" lagi setelah nyaris satu dekade berkutat di animasi motion-capture (terakhir bikin A Christmas Carol bareng Jim Carrey). Seperti tahu benar intensitas setiap adegan harus seperti apa, Zemeckis menata adegan-adegan filmnya dengan baik, mulai dari detil kecelakaan pesawat yang menegangkan, hingga human drama yang lebih kental akan konflik batin. Untungnya lagi, Flight memasang Denzel Washington sebagai tokoh utama. Well, it's Denzel, berkebalikan dengan Whip, Oom Denzel ini reputasi dan harga honornya emang nggak ngebo'ong =D.

Meskipun rapi dan nyaris lengkap paripurna termasuk dari segi teknis, Flight mungkin tidak sebegitunya menonjolkan sisi "hiburan" yang wow ataupun heartwarming. Malahan cenderung depressing, walaupun tetap ada lucunya dan mengarah ke optimisme. Panjangnya pergolakan batin Whip dengan orang-orang sekitarnya yang lebih banyak dihiasi dialog-dialog mungkin dapat menimbulkan kebosanan (gw mengalami di beberapa momen). Akan tetapi Flight tetaplah sebuah finely-crafted film, dan sukses dalam menggambarkan keterpurukkan seorang manusia dibalik kehebatan dan sanjungan. Dan, bila sanggup mengabaikan adegan-adegan anonoh dan penggunaan narkoba, film ini punya banyak pesan religius lho =). 




My score: 7/10

Senin, 04 Maret 2013

[Movie] Silver Linings Playbook (2012)


Silver Linings Playbook
(2012 - The Weinstein Company)

Directed by David O. Russell
Screenplay by David O. Russell
Based on the novel "The Silver Linings Playbook" by Matthew Quick
Produced by Donna Gigliotti, Bruce Cohen, Jonathan Gordon
Cast: Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert De Niro, Jacki Weaver, Chris Tucker, Anupam Kher, John Ortiz, Julia Stiles, Dash Mihok, Shea Wingham, Paul Herman


"Silver lining" adalah istilah yang dipakai untuk mengungkapkan hal positif dari sebuah peristiwa atau keadaan seburuk apa pun. Mungkin bahasa kitanya disebut "hikmah". "Silver lining" inilah yang dicari oleh Pat Solitano, Jr. (Bradley Cooper) dari kejadian yang sedang menimpanya. Pat didiagnosis menderita bipolar disorder, gangguan kejiwaan di mana perasaan gembira dan sedih/marah bisa berganti secara drastis dan ditunjukkan dengan sikap dan perilaku yang ekstrim. Gangguan itu baru ketahuan ketika Pat memergoki istrinya, Nikki (Brea Bee) berselingkuh, dan Pat nyaris membunuh si selingkuhan dengan tangannya sendiri. Setelah delapan bulan di RSJ sesuai perintah pengadilan (meski belum "sembuh" benar), Pat dibawa pulang ke rumah orang tuanya (Robert De Niro dan Jacki Weaver).

Ketika orang-orang di sekitarnya mengharapkan Pat memulai hidup baru yang normal dan lebih tenang, Pat sendiri merasa bahwa "silver lining" dari keadaannya sekarang sehabis dirawat—bisa berpikir lebih positif dan juga turun berat badan—adalah supaya bisa bersatu lagi dengan Nikki. Itulah satu-satunya yang ada di pikirannya, padahal Nikki sudah pergi dan ada restraining order Pat tidak boleh menghubungi dan mendekati Nikki ataupun tempat kerjanya karena dianggap membahayakan. Pat kemudian dipertemukan dengan seseorang yang punya keadaaan lebih kurang sama. Tiffany (Jennifer Lawrence) adalah janda muda dari seorang polisi yang meninggal. Tiffany sempat mengalami masa depresi dari minum obat-obat penenang sampai bersedia "ho-oh" dengan siapa saja, sehingga reputasinya di antara warga jadi agak-agak gimana gitu.

Karena premisnya udah dibilang ini "romantic comedy" jadi ya kita bisa perkirakan ada ketertarikan antara Pat dan Tiffany. Tiffany agak lebih vulgar menunjukkannya, tetapi Pat masih "terperangkap" pada pemikiran harus kembali pada Nikki. Inilah yang membuat perjalanan romansa film ini menjadi menarik dan berbeda. Ketimbang dihiasi dengan emosi melankoli dan kegalauan, interaksi Pat dan Tiffany diwarnai dengan kecanggungan dan adu dialog "nge-gas" akibat ke-keukeuh-an Pat dan Tiffany yang nggak ada lembut-lembutnya, apalagi secara psikis kedua orang ini tidak stabil. Tetapi dengan cara demikianlah mereka bisa nyambung, saling mengerti. Inilah "normal" bagi mereka. Ketika orang-orang lain yang "waras" kerap tidak tahu bagaimana cara menghadapi mereka berdua, Pat dan Tiffany bisa memperlakukan satu dengan yang lain dengan apa adanya.

Sebagai sebuah rom-com, Silver Linings Playbook nyatanya tidak berpakem pada yang santai-santai lempeng kayak film-film Katherine Heigl. Film ini punya romantisme yang ganjil, karena dipadukan dengan logika orang-orang yang memiliki masalah kejiwaan, bahwa sesungguhnya keadaan jiwa tidak menghalangi keberadaan hati. Komedinya tidak hanya hadir dari keganjilan atau cerdasnya dialog, tetapi juga bagaimana sutradara dan penulis naskah David O. Russell berhasil membuat penonton berada di pihak Pat dan Tiffany. Dalam cara pandang mereka diperlihatkan justru orang-orang "waras"-lah yang sering berlaku aneh. Keluarga Pat memandang dan berbicara padanya seakan selalu prihatin dan kayak pada mau nangis—kecuali si bapak yang emang agak-agak mental juga. Keluarga Tiffany pun seperti kehabisan akal menghadapinya sampe garasi di pekarangan rumah orang tuanya dibiarkan jadi rumah tambahan supaya Tiffany bisa bebas ngapain aja tanpa melibatkan keluarga. Ketika Pat dan Tiffany melakukan sesuatu yang membanggakan dan positif, reaksi kerabat dan teman bagaikan para orang tua muda pertama kali melihat anaknya usia 3 tahun nyanyi di acara sekolah TK. Lucu, tapi riil.

Dalam usahanya membuat kisah cinta dari sudut pandang berbeda, dengan tokoh-tokoh yang terbangun kuat, penggunaan berbagai unsur dalam film (hukum, kultur, olah raga, dsb) sebagai plot device yang tak sia-sia, serta soundtrack yang apik, Silver Linings Playbook adalah keberhasilan. Lebih khusus lagi keberhasilan dalam membangun kepedulian pada tiap tokohnya, yang dimainkan nyaris tanpa cela oleh para aktornya. Pun yang bikin film ini enak ditonton adalah bagaimana David O. Russell mengemasnya dengan lincah, jenaka (tapi bukan ngelawak), seakan ringan, namun memiliki lapisan-lapisan yang layak simak dan juga hati. Rapih dan menghibur. Tapi jika itu dirasa belum cukup, nikmati saja keserasian Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence yang berhasil menanggalkan citra peran-peran mereka sebelumnya dengan akting yang memukau dan meyakinkan. Entah bagaimana caranya Lawrence yang masih muda (21 tahun saat syuting film ini) bisa berperan dewasa tanpa terlihat sok gede. Keren lah.




My score: 8/10

Jumat, 01 Maret 2013

[Movie] Belenggu (2013)


Belenggu
(2013 - Falcon Pictures)

Written & Directed by Upi
Produced by Frederica, Upi
Cast: Abimana Aryasatya, Imelda Therinne, Laudya Cynthia Bella, Verdi Solaiman, Jajang C. Noer, Arswendi Nasution, Rifnu Wikana, Bella Esperance, Davina Veronica, Avrilla, Early Ashyla


Film ini menurut gw lumayan mengundang banget untuk ditonton. Posternya mungkin sekilas agak gimana gitu (tapi sebenarnya cukup menjual kalau untuk penonton kita), tapi kalo liat-liat promonya, premis dan gaya visualnya sepertinya sih kesukaan gw banget *ciailah*. Belenggu adalah film kesekian dari sutradara wanita Upi (Avianto) namun yang pertama yang bergenre thriller—bukan horor ya. Hei, ini juga film Upi pertama yang gw tonton, hehe. Melanjutkan tradisi film-film sejenis misalnya buatan Joko Anwar (Kala atau Pintu Terlarang) dan film-film produksi Amerika ataupun Korea, Belenggu adalah sebuah film bernada misteri yang akan berkurang kenikmatannnya kalau terlalu banyak diungkapkan apa plotnya. Itu sebabnya gw nggak bisa menulis tentang "makna" film ini secara lugas, karena itu butuh spoiler habis-habisan. Ya nggak seru aja kalau dibongkar semua di sini.

Kita diperkenalkan pada Elang (Abimana Aryasatya), seorang bartender (atau bahasa ala-ala teks terjemahan di TV: pramutama) yang kerap mengalami mimpi buruk, di dalamnya selalu memunculkan sosok orang berpakaian badut kelinci dan seorang wanita modis berambut pendek. Ia merasa mimpi itu berkaitan dengan kengerian yang terjadi di lingkungannya, yaitu adanya pembunuhan berantai terhadap wanita yang belum terungkap siapa pelakunya, dan setiap penduduk saling mencurigai. Suatu hari, Elang menemukan wanita bersosok persis seperti di mimpinya, namanya Jingga (Imelda Therinne). Kehadiran Jingga tak hanya membawa cita cinta harapan dan ku terbawa dalam kisah lama *itu mah lagu 90-an*, tetapi meyakinkan Elang bahwa yang dia lihat dalam mimpi-mimpi buruknya adalah kebenaran, termasuk sosok badut kelinci itu yang diyakininya adalah si pembunuh.

And that's not even half of the story =D. Penuturan film ini mengikuti gaya-gaya misteri yang sepertinya bercerita tentang apa tapi ternyata sebenarnya tentang apa. Orang-orang menyebutnya "twist", umumnya disimpen-simpen sampe akhir banget, dan seharusnya menjadi kejutan buat penonton sehingga membuat film itu berkesan "wow". Tapi kita kan udah bosen ya sama model begituan (apalagi yang "ternyata semua itu hanya mimpi" *siram air* =p). Belenggu ini berbeda. Secara keseluruhan memang sepertinya sudah bisa kita temukan di film-film lain, ada twist-nya lah, tetapi cara penuturannya menurut gw memiliki sesuatu yang indah, nggak "here's the twist!" terus selesai. Tidak ada yang dipaksakan harus "hehe, nggak nyangka kan loe?" sambil menertawakan penontonnya, melainkan diuraikan pelan-pelan sehingga ceritanya semakin utuh dan tidak membuat penonton merasa bodoh bertanya-tanya. Btw, gw suka struktur penuturannya yang seakan bergerak maju, terus di satu titik bergerak mundur lagi dari sudut pandang berbeda. Simetris.

Ceritanya memang punya struktur yang menarik, tetapi cukup sayang gw merasa paruh awalnya agak melelahkan, pacing-nya cukup tersendat seperti dipanjang-panjangkan. Terus terang gw nggak bisa enjoy bagian itu karena "aneh"-nya berasa kelamaan, tata musiknya pun nggak membantu. Baru pada paruh kedua gw mulai semangat lagi karena penuturannya lebih enak. Namun, satu hal utama yang membuat gw betah pantengin Belenggu terus-terusan adalah production value yang sangat juara, baik dream sequence maupun yang nyata (eh? nyata? =P). Ini baru namanya film. Tata artistiknya yang bernuansa vintage tampil misterius tapi tampak plausible, tidak mengada-ada, dan juga tanpa product placement yang kurang ajar. Gerombolan lampu bohlam di dalam bar tempat Elang kerja itu brilian! Tata sinematografinya dengan apik dan cakepnya berhasil menangkap semua kemisteriusan itu. Presentasi gambarnya juga sangat enak dilihat di layar besar (mungkin karena bukan pake kamera foto yang lagi ngetren banget itu =P).

Oh iya, penampilan aktornya juga baik. Abimana menjalankan tugasnya dengan sukses sebagai pemeran utama meskipun adegan"solo"-nya tidak sebaik ketika ia berinteraksi dengan pemeran lain *ih sotoy banget gw*. Kredit khusus gw mau berikan bagi Imelda Therinne dan Arswendi Nasution yang selalu menunjukkan depth ketika muncul di layar. Imelda mungkin emang cocok sama peran-peran psycho depresif gitu kali ya =) (inget Medley).

Belenggu adalah thriller misteri psikologis dengan packaging yang sangat meyakinkan, cukup menegangkan dan mengundang rasa penasaran. Sekalipun agak sedikit tersendat di sebagian penuturannya, gw suka film ini secara keseluruhannya. Ide cerita yang sepertinya tidak baru pun—yaitu menggabungkan beberapa ide dasar yang muncul di film-film sejenis (kalau disebut ntar spoiler, jangan deh)—menurut gw dikelola oleh Upi dengan baik dan kawin, nggak kacau atau sekadar rip-off belaka. Adegan-adegan berdarahnya mungkin tidak terlalu shocking gimana gitu, malah cenderung jinak (kalau dibanding The Raid atau Gending Sriwijaya), tetapi semua kekurangan-kekurangan itu bisa tertutupi dengan konsep dan penataan cerita yang baik, visual sangat keren, dan tentunya niat yang baik.




My score: 7,5/10