Senin, 25 Februari 2013

WINNERS of the 85th Academy Awards



24 Februari 2013 malam waktu setempat atau 25 Februari 2013 pagi waktu Indonesia telah digelar malam penganugerahan Academy Awards ke-85, atau untuk tahun ini branding-nya cuma "The Oscars". Seperti gw bilang dalam postingan tebakan pemenang Oscar kemarin, Oscar tahun ini bikin geregetan sekaligus mendebarkan karena banyak dari pemenangnya yang sulit dipastikan sebelum pengumumannya keluar. So, langsung saja yuk kita lihat pemenang tahun ini siapa saja, dan berapa banyak tebakan gw yang benar. 

Jumat, 22 Februari 2013

[Movie] Beasts of the Southern Wild (2012)


Beasts of the Southern Wild
(2012 - Fox Searchlight)

Directed by Benh Zeitlin
Screenplay by Lucy Alibar, Benh Zeitlin
Based on the play "Juicy and Delicious" by Lucy Alibar
Produced by Michael Gottwald, Dan Janvey, Josh Penn
Cast: Quvenzhané Wallis, Dwight Henry, Gina Montana, Levy Easterly, Lowell Landes, Pamela Harper, Jovan Hathaway


Sejak sukses meraih banyak perhatian dan penghargaan di Festival Film Sundance dan Cannes tahun 2012 lalu, terkhusus pada bidang teknisnya, penasaran juga gw sama Beasts of the Southern Wild, sebuah debut film panjang dari sutradara dan penulis Benh Zeitlin. Tentu saja statusnya yang "film independen" (yang artinya punya gaya yang berbeda dengan film-film konvensional/Hollywood) sedikit menimbulkan kewaspadaan, tapi kemudian film ini melenggang mulus juga sebagai unggulan Oscar sehingga...yah...kita coba aja. But then again, Beasts memang agak berbeda dari apa yang pernah gw tonton. Mungkin yang paling mendekati adalah gayanya Terrence Malick dalam film macam The New World dan The Tree of Life, tetapi Beasts masih lebih naratif (lebih ada ceritanya =p)...walau rada absurd juga.

Beasts adalah film fantasi tapi realis yang mungkin nggak enak dilihat. Latarnya adalah di sebuah pulau fiktif di selatan Amerika Serikat yang rawan ditenggelamkan air, hidup sebuah komunitas terasing yang asik sendiri, menolak modernitas dan kekayaan, mungkin semacam hippies. Tempat ini namanya Bathtub, rumah-rumahnya fungsional tapi kumuh, dan penduduknya dekil-dekil doyan udang dan alkohol. Rumah si tokoh utama sendiri isinya kayak hasil mulung sampah. Kebutuhan mereka didapat dari hidangan laut, plus bensin dan beberapa makanan kaleng yang bisa dibeli di kota. Uangnya dari mana? Jangan tanya gw. Satu hal yang unik adalah penonton dibiarkan melihat segala sesuatu dari sudut pandang seorang anak perempuan sekitar 6-7 tahun bernama Hushpuppy (Quvenzhané Wallis), jadi wajar jika ada beberapa hal yang sulit dimengerti karena sebagaimana si tokoh utama, mungkin "belum waktunya" bagi penonton untuk mengerti semuanya *yakale*.

Hushpuppy sebagaimana anak-anak lainnya masih asik bermain ke sana ke mari sambil berkhayal-khayal, termasuk bagaimana ia senang sekali mendengarkan detak jantung makhluk hidup. Ia hidup hanya dengan ayahnya, Wink (Dwight Henry) yang mengajarkannya banyak hal meski agak keras—tapi tidak untuk hal yang dianggap akan sangat-sangat bikin terpukul. Sepengetahuan Hushpuppy ibunya "pergi"—tak jelas minggat atau meninggal, namun ia sering diceritakan kisah-kisah fantastis sang ibu oleh ayahnya, seperti mampu nyalain kompor tanpa pemantik, sendirian bunuh buaya terus digoreng dan dimakan, dsb. Bisa dibilang di tengah-tengah kekumuhan, Hushpuppy diajarkan bahwa hidup mereka sudah cukup dan bahagia. Namun, kebahagiaan dan kecukupan itu diuji ketika Wink sempat menghilang beberapa hari, Bathtub diserang badai, timbul banjir, dan munculnya kembali makhluk celeng purba aurochs (?). 

Simpelnya sih, sepanjang film ini Hushpuppy kecil sedang diajarkan untuk jadi manusia tangguh, bertahan hidup di lingkungan tempat dia tinggal yang menantang itu, belajar untuk mencari ketimbang merasa kehilangan, belajar take charge. Kenapa? Well, itu memang prinsip komunitas mereka, termasuk yang Wink ajarkan kepada Hushpuppy (meski berkali-kali mengujar "you wouldn't understand"), lebih baik bertahan dan berjuang di rumah sendiri yang kebanjiran ketimbang pergi ke pengungsian yang mengekang. Kenapa dini sekali? Karena kali ini, waktunya sudah tak banyak. Hubungan anak dan ayah yang tidak biasa ini menjadi benang merah yang kuat dari Beasts, gw bisa nangkep itu...tetapi hubungannya sama keberadaan/simbolisasi auroch yang bangun dari es kutub dan jalan menuju Bathtub? Tauk deh. Lagi-lagi, mungkin gw belum harus ngerti semuanya tentang film ini =p.

Beasts adalah sebuah karya unik dan bervisi, apa yang mau ditampilkan pembuatnya cukup jelas—setidaknya dari segi visual. Pujian harus gw berikan terutama sutradara Benh Zeitlin yang sukses membangun sebuah dunia sedemikian rupa dengan penuturan yang agak antik, plus penataan musik yang cakep sekali, khas wilayah Louisiana gitu *sotoy*. Apalagi Zeitlin sukses mengumpulkan pemain-pemain non-profesional, termasuk yang jadi Hushpuppy (males nyebut nama aslinya) dan Wink, untuk berperan dengan baik dalam film ini, mereka tampil pada tanpa terlihat amatir-amatir amat. Tata kehidupan warga Bathtub yang rada barbar itu mungkin agak bikin gerah, belum lagi pengambilan gambarnya yang bergoyang-goyang dan redup pun menambah "kegerahan" kala menyaksikannya, tetapi kalau emang begitu maksudnya, ya sudahlah. Ada kok keindahan tersembunyi di balik apa yang disaksikan, misalnya sense of community yang kuat dari warga Bathtub, juga ada keindahan dibalik karakterisasi Hushpuppy yang dibuat selayaknya anak-anak dengan kepolosannya dan kemudian berkembang selayaknya anak-anak pula. 

Tetapi mungkin keindahan-keindahan tersembunyi itu hanya bisa ditemukan seusai menyingkirkan memori tak nyaman dari suasana filmnya, kekesalan sama beberapa karakternya, juga kebingungan gw antara hubungan adegan ini dan adegan itu, peristiwa ini dengan peristiwa itu, serta endingnya, yang mungkin perlu perenungan lanjut atau nonton ulang untuk dapat dipahami. Ya singkatnya, gw sebenarnya nggak terlalu enjoy kala menyaksikan 90-an menit film ini =p. Tapi sedikitnya gw tahu film ini punya maksud baik, apapun gerangan maksud itu. Ow, dan gw nggak mau bayangin tokoh-tokoh di sini baunya kayak apa...




My score: 6,5/10

Rabu, 20 Februari 2013

[Movie] Zero Dark Thirty (2012)


Zero Dark Thirty
(2012 - Panorama Media/Columbia Pictures/Annapurna Pictures)

Directed by Kathryn Bigelow
Written by Mark Boal
Produced by Megan Ellison, Kathryn Bigelow, Mark Boal
Cast: Jessica Chastain, Jason Clarke, Kyle Chandler, Jennifer Ehle, Harold Perrineau, Mark Strong, Édgar Ramírez, Fares Fares, Joel Edgerton, Chris Pratt, James Gandolfini, Stephen Dillane


Tak perlu waktu lama, peristiwa terbunuhnya pemimpin organisasi militan al-Qaidah, Usama bin Laden (atau Osama bin Laden kalau di media-media Amerika-Eropa) oleh paskhas US Navy SEALs di Pakistan tahun 2011 silam diangkat dalam film cerita layar lebar. Sineas yang "dipercaya" untuk menceritakan ulang peristiwa itu tak lain adalah sutradara Kathyrn Bigelow dan penulis Mark Boal, yang sebelumnya sukses meraih piala Oscar untuk film berlatar perang Irak, The Hurt Locker. Dengan bantuan (konon) pihak-pihak yang bertanggung jawab langsung di balik peristiwa ini, Bigelow dan Boal rupanya tidak hanya tertarik mengangkat detil penyergapan yang menewaskan Usama bin Ladin itu, mereka juga terkesan terhadap sesosok wanita agen CIA yang berhasil menemukan lokasi persembunyian tokoh yang dikaitkan kuat dengan penyerangan gedung World Trade Centre di New York dan Pentagon di Washington D.C. pada 11 September 2001 itu.

Sosok wanita itu dalam film ini diberi nama Maya (Jessica Chastain), relatif muda ketika pertama kali ditugaskan ke markas CIA di Pakistan tahun 2003. Tugasnya hanya satu, yakni mencari di mana Usama bin Ladin berada (gw singkat pake kode UBL ya, ngikutin filmnya). Awalnya ia harus mengikuti metode yang sudah berjalan bersama rekannya, Dan (Jason Clarke), yakni menyaksikan interogasi/siksaan anggota al-Qaidah yang berhasil ditangkap CIA, meskipun hasil yang didapat nggak terlalu banyak sebenarnya. Ketika kemudian Maya mendapat suatu petunjuk yang diyakini dapat menguak keberadaan UBL, rekan-rekan dan atasannya malah tidak menganggapnya penting. Penyelidikan pun berjalan panjang dan tertunda-tunda, baik karena sulitnya memecahkan sistematika organisasi al-Qaidah, juga karena perhatian pemimpin intelijen AS mulai terdistraksi dengan banyaknya aksi terorisme lain yang diduga/diakui didalangi kelompok yang sama. Maya seperti berjuang sendirian untuk satu tujuannya itu, namun kegigihan itu tak sia-sia, hingga akhirnya sang target berhasil ditewaskan pada Mei 2011 lewat tengah malam waktu setempat.

Dengan penuturan mengikuti petunjuk-petunjuk yang ditemukan Maya, Zero Dark Thirty adalah thriller yang berhasil menancapkan perhatian dari awal hingga pada operasi penyergapan UBL di akhirnya. Walau hanya berfokus pada penyelidikan Maya yang jauh dari baku tembak atau kejar-kejaran (well, sort of), film ini tak buru-buru mempermudah segalanya (durasinya juga panjang, 2,5 jam, hehe), melainkan mengambarkan begitu banyak keterbatasan dan kesulitan yang dihadapi oleh para agen intel hanya untuk melacak keberadaan UBL, termasuk di dalamnya ada keteledoran dan pengorbanan nyawa, yang pastinya menguras emosi. Menurut gw ini nggak kalah seru dibandingkan adegan operasi penyergapannya, yang disajikan secara real-time di sekitar 30 menit terakhir film ini. Bahkan, kayaknya gw lebih suka bagian penyelidikannya daripada penyergapannya. Namun ada persamaan dari kedua bagian ini, yakni tidak ada dramatisasi berlebihan, semua ditata seakan nyata apa adanya dan tetap menimbulkan suspense yang pada tempatnya. 

Akan tetapi, buat gw yang paling menarik dari Zero Dark Thirty adalah ketiadaan pretensi politik dalam penuturannya—tidak membela Amerika banget atau sebaliknya menimbulkan simpati terhadap kelompok teroris, juga halusnya pernyataan sikap terhadap peperangan. Dengan cara serupa seperti The Hurt Locker, Bigelow dan Boal dengan subtil seakan ingin menujukkan kontras diri seseorang yang bekerja dengan dedikasi dan passion, dalam sebuah situasi yang patut dipertanyakan benar tidaknya secara moral. Dengan banyak korban jatuh dan peristiwa yang terjadi, pertanyaannya adalah did they do the right thing? Kenapa AS yang menjunjung tinggi HAM harus mengorek informasi lewat penyiksaan yang tak berperikemanusiaan? Apakah kematian UBL dapat menghentikan terorisme? Apa yang benar-benar bisa dirayakan? Nyatanya nyaris tidak ada glorifikasi ditunjukkan dalam film ini. Perasaan mengambang itu juga yang timbul ketika film ditutup dengan sebuah adegan yang kuat, antara lega dan kosong, karena dengan tuntasnya misi ini bukan berarti kehidupan jadi lebih mudah.

Zero Dark Thirty memang berisiko tidak bisa jadi tontonan hiburan. Namun, di sanalah letak keistimewaan penggarapan ibu Bigelow, ia bisa membuat film ini akan tetap diingat. Sekalipun tidak "menghibur" (The Hurt Locker masih lebih menghibur) dan seakan rumit, film ini tak akan membiarkan penontonnya terdistraksi dari jalan ceritanya. Toh sebingung-bingungnya, di beberapa titik disampaikan "rangkuman plot" lewat dialog terutama kalo ada tokoh yang baru muncul, jadi tetap bisa diikuti dengan jelas. Dilengkapi penataan teknis khususnya suara, sinematografi, dan penyuntingan yang mumpuni, serta penampilan prima dari Jessica Chastain, Jason Clarke, plus special mention buat Jennifer Ehle, kepenasaranan khalayak tentang apa-apa di balik layar operasi yang menewaskan UBL dibayar dengan lunas, terasa lengkap (yah setidaknya cukup lah) juga elegan, dan tanpa mendikte opini penontonnya.



My score: 8/10

Senin, 18 Februari 2013

Tebak-Tebakan Pemenang 85th Academy Awards

Menjelang perhelatan Oscar, seperti biasa gw akan memposting tebak-tebakan pemenangnya. Ini bukan sekadar "menjagokan" yang artinya gw pasti milih yang paling gw suka atau cuma yang udah gw tonton (which is a definitely wrong method to guess), bukan juga prediksi yang harus benar dan ada alasan super kuat untuk memastikan pemenangnya. Tidak, ini hanya tebak-tebakan. Belum lagi, menebak pemenang untuk Oscar tahun ini tuh kampret banget karena banyak hal yang "menyalahi formula" untuk dapat memenangkan piala. We'll get to that later.

Tetapi mungkin di sanalah letak fun-nya. Akan banyak upset kalau ternyata yang menang bukan yang paling diunggulkan banget atau yang paling kita nggak suka, dan akan ada sukacita kalau ternyata yang menang adalah yang paling kita suka meskipun bukan yang paling unggul. Kalau yang paling diunggulkan yang menang ya biasa aja sih =P. Nah, serunya 85th Academy Awards ini, banyak sekali kategori yang dikatakan "sama kuat" sehingga pemenangnya tidak bisa ditebak dengan pasti, dan penghargaan pra-Oscar pun tidak banyak membantu (Golden Globes, DGA, PGA, SAG, WGA, BAFTA dsb.) karena pemilihan pemenangya agak kontradiktif dengan indikasi dalam nominasi dan sejarah pemenang Oscar selama bepuluh tahun. Pergelaran tahun ini bener-bener anti-spoiler deh. Dengan kata lain, yah, siap-siap tebakannya salah banyak, hehe. Dan inilah dia tebakan saya...



Sabtu, 16 Februari 2013

[Movie] Rectoverso (2013)


Rectoverso
(2013 - Keana Production)

Directed by Marcella Zallianty ("Malaikat Juga Tahu"), Rachel Maryam ("Firasat"), Cathy Sharon ("Cicak di Dinding"), Olga Lydia ("Curhat untuk Sahabat"), Happy Salma ("Hanya Isyarat")
Screenplay by Yosof Munthaha
Written by Ve Handoyo ("Malaikat Juga Tahu", "Cicak di Dinding"), Indra Herlambang ("Firasat"), Ilya Sigma & Priesnanda Dwi Satria ("Curhat untuk Sahabat), Key Mangunsong ("Hanya Isyarat")
Based on the short stories by Dewi "Dee" Lestari
Produced by Marcella Zallianty, Eko Kristianto
Cast: Lukman Sardi, Prisia Nasution, Dewi Irawan, Marcel Domits, Asmirandah, Widyawati, Dwi Sasono, Yama Carlos, Sophia Latjuba, Tio Pakusadewo, Acha Septriasa, Indra Birowo, Tetty Liz Indriati, Amanda Soekasah, Fauzi Baadilla, Rangga Djoned, Hamish Daud


Another omnibus, tetapi jelas Rectoverso ini punya nilai jual yang lebih daripada film-film omnibus Indonesia yang setahun belakangan ini banyak beredar. Selain diangkat dari kumpulan cerpen—atau si pengarang bilang istilahnya "novelet"—best seller karya Dewi "Dee" Lestari yang sepaket sama album berisi lagu hit "Malaikat Juga Tahu" itu loh, Rectoverso juga menampilkan all star cast, melibatkan kru berpredikat mumpuni (semisal sinematografer Yadi Sugandi dan editor Cesa David Luckmansyah), dan uniknya setiap segmen disutradarai oleh orang-orang yang sebelumnya hanya dikenal sebagai aktris, kalo nggak salah ini adalah debut mereka masing-masing sebagai sutradara. Dari sebelas cerita dari buku/album Rectoverso karya Dee, dipilih lima cerita yang ditampilkan dalam satu film berdurasi 110 menit ini.

Karena ada lima cerita, semuanya tentang cinta dari sudut pandang wanita, langsung aja ya gw ungkapkan segmen favorit gw yak. Yang gw paling suka itu ada dua, yaitu "Malaikat Juga Tahu" yang diarahkan Marcella Zallianty dan "Curhat untuk Sahabat" yang diarahkan Olga Lydia. "Malaikat" berkisah tentang seorang penyandang autisme, Abang (Lukman Sardi) yang jatuh cinta pada salah seorang gadis penghuni kost milik Bundanya (Dewi Irawan), bernama Leia (Prisia Nasution). Leia memang selama ini bergaul baik dengan Abang, namun Leia belakangan berhubungan kasih dengan adik Abang, Hans (Marcel Domits). Bisa jadi "Malaikat" adalah segmen yang paling kuat, baik dari cerita, tata adegan, dan terutama akting, yang membuat kisah cinta yang tak biasa ini menimbulkan haru tanpa harus mengharu biru atau dibikin-bikin *usap air mata*.

Sedangkan "Curhat" kisahnya lebih sederhana dan lebih santai namun tak kalah menyentuh, tentang Amanda (Acha Septriasa) yang mengingat-ingat kembali hubungan cintanya dengan berbagai macam pria di masa lalu kepada sahabatnya, Regi (Indra Birowo). Friend-zone alertWell, tentu saja kita tahu arah ceritanya ke mana, tapi...hmmm...gimana yah...penuturannya manis dan sangat cukup menggambarkan bagaimana hubungan Amanda dan Regi tanpa harus capek-capek pake "suara batin" ala sinetron =). It's pretty sweet.

Sedangkan tiga segmen lainnya bagi gw mungkin tidak sekuat yang dua tadi. "Firasat" arahan Rachel Maryam yang bercerita tentang Senja (Asmirandah) yang punya kemampuan "berfirasat" memiliki firasat tak enak untuk orang yang dicintainya, Panca (Dwi Sasono). Arah segmen ini lebih melankolis, tetapi sayangnya melankolis itu juga diartikan "akting sinetron" oleh aktornya, dan penyelesaiannya pun kurang dapat gw pahami. "Hanya Isyarat" arahan Happy Salma sedikit membosankan buat gw, karena intinya tentang sekelompok orang yang travel bareng (menampilkan Amanda Soekasah sebagai Al dan Hamish Daud sebagai incerannya =)) saling cerita tentang pengalaman hidup. Filosofi menarik tentang "punggung" pun juga kurang dapat gw pahami "dalem"-nya tuh di sebelah mananya (ini sih gw-nya aja yang cetek) karena penyampaiannya juga tidak istimewa, but again idenya menarik sekali. "Cicak di Dinding" sedikit lebih menarik meskipun ceritanya paling biasa. Seorang seniman "bernama" Andre (Yama Carlos), terlibat cinta satu malam (atau 15 menit?) dengan Saras (Sophia Latjuba yang senantiasa ber-sex-appeal maknyus), mereka pun dipertemukan lagi sebanyak 2 kali lagi, satu menyenangkan, satu lagi tidak mengenakkan. Biasa sih, dan ke-seniman-an Andre yang sebenarnya cukup krusial masih kurang dikedepankan, tapi mungkin karena ada Sophia Latjuba-nya jadi gimanaa gitu =D.

Walau berisi lima cerita dengan sutradara (dan penulis naskah) berbeda, Rectoverso sendiri dipresentasikan secara selang-seling instead of bergiliran, jadi lebih mirip Dilema, dan ada pula beberapa karakter di satu segmen yang muncul atau disebut di segmen lain meski tak berkaitan langsung. Dengan demikian, kerja keras editor sangat dituntut sehingga sedapat mungkin ketertarikan dan pemahaman penonton terhadap kisah-kisahnya tetap terjaga, untungnya dalam Rectoverso tuntutan itu dapat dipenuhi dengan baik. Ada pula keuntungan dari penceritaan model begini, jika pun ada segmen yang lemah, bisa "ditambal" dengan segmen lainnya yang lebih kuat. Itu juga yang terjadi di Rectoverso ini, "trik" yang digunakan itu berhasil meninggalkan kesan yang sangat kuat selepas menontonnya, terutama pada pemilihan adegan penutupnya, yakni akhiran dari "Malaikat Juga Tahu" yang menampilkan dua kekuatan akting paling juara dari keseluruhan Rectoverso, Lukman Sardi dan Dewi Irawan. Eh, belum lagi tangkapan kamera Yadi Sugandi di semua segmen sangat menyamankan mata, sekalipun agak "terdegradasi" proses pascaproduksi yang kurang sempurna (pada hasil akhir gambarnya, terang-gelap dan beberapa warna tampak kurang halus). 

Rectoverso secara keseluruhan adalah sebuah tontonan menarik, mudah dinikmati, dan suprisingly matang bila mengingat adegan-adegannya diarahkan oleh sutradara-sutradara "baru", terima kasih kepada tim produksi yang memang tampak kompak saling menopang. Kisah-kisah cinta yang disampaikan memang menarik dan tidak biasa-biasa, serta (setidaknya) beberapa di antaranya sukses dalam menyentuh sanubari *aiiih*. Bila ada kelemahan pun sepertinya tidak terlalu menganggu banget lah. Lima kisah cinta yang puitis dan berhasil mencolek rasa, sepertinya sudah cukup berhasil menerjemahkan visi unik dari Dewi Lestari sebagai penggagas tiap-tiap ceritanya ke dalam bentuk film ini. Mungkin mau bikin lagi Rectoverso bagian 2?



My score: 7,5/10

Jumat, 15 Februari 2013

[Movie] Django Unchained (2012)


Django Unchained
(2012 - Columbia/The Weinstein Company)

Written & Directed by Quentin Tarantino
Produced by Reginald Hudlin, Stacey Sher, Pilar Savone
Cast: Jamie Foxx, Christoph Waltz, Leonardo DiCaprio, Kerry Washington, Samuel L. Jackson, James Remar, Dennis Christopher, Don Johnson, Walton Goggins, Laura Cayouette


Here's the thing, terlepas dari kecenderungan dalam karya-karyanya yang kaya akan referensi bahkan "mencontek" sinema generasi lawas, which I am not exactly familiar with—maklum masih muda =P, gw merasa Quentin Tarantino adalah sineas yang cerdas dan iiis..timewaa *chibichibichibi*. Yang bisa gw simpulkan dari karya-karyanya seperti Pulp Fiction, Kill Bill, sampai Inglourious Basterds adalah Tarantino tuh bikin film seenak udelnya aja, tetapi dia tahu persis apa yang dia ingin pertunjukkan. Pernah gw singgung sebelumnya, bahwa Tarantino seperti mengerti betul apa yang diinginkan dan dibutuhkan penontonnya. Contohnya, seringkali ia membuat adegan berisi dialog panjang dan ngalor ngidul, tetapi di saat yang tepat nyaris tak terduga, pasti akan ada turn of event menggelegar yang menghalangi penonton jatuh tertidur. Hasilnya, mau cerita sepanjang apapun dan se-nggak-nyambung apa pun, Tarantino selalu berhasil menjaga interest penontonnya. He's a brilliant storyteller, even if the story was about nothing at all. Keistimewaan itu pun dibuktikan lagi lewat Django Unchained, yang disebut-sebut sebagai fusi spaghetti western (film-film "koboi" buatan Italia era 1960-an) dengan drama perbudakan kaum kulit hitam di Amerika Serikat, terutama di wilayah selatan (southern) abad ke-19. 

Masih berkutat dengan tema pembalasan dendam, Django Unchained bercerita tentang Django (Jamie Foxx), seorang budak yang dibeli oleh bounty hunter (pemburu orang-orang tertentu demi uang) berkedok dokter gigi asal Jerman, Dr. King Schultz (Christoph Waltz). Alasannya karena Django dapat membantu Schultz menemukan beberapa buronan yang diincarnya. Selepas itu, Schultz yang pada prinsipnya menentang perbudakan meng-unchained Django dari status budak, kemudian mengajaknya berkelana sebagai bounty hunter juga. Django sendiri punya tujuan lain, yaitu menemukan istrinya yang terpisah darinya, Broomhilda (Kerry Washington), yang ternyata sekarang sudah dibeli oleh seorang tuan tanah berhobi aneh, Calvin Candie Jr. (Leonardo DiCaprio). Demi memuluskan tujuan itu, Django dan Schultz bekerja sama agar dapat membebaskan Broomhilda. Namun, seperti film-film Tarantino yang sudah-sudah, segala sesuatu tidak pernah berjalan sesuai rencana =D.

Ini adalah sebuah kisah petualangan bermotivasi dendam dan cinta, dan feel petualangan itu pun terasa. Bukan hanya dari durasinya yang sepanjang 2 jam 45 menit, melainkan juga dari peristiwa demi peristiwa yang dialami tokohnya yang rentangnya cukup panjang. Panjang, tetapi terasa lengkap, tidak terburu-buru, tidak juga dipanjang-panjangin. Secara tak buru-buru pula Tarantino mencoba menggambarkan borok kehidupan sosial di wilayah Amerika zaman itu di balik kemakmuran segelintir orang, dan di sinilah gw merasakan Tarantino seakan memberikan pernyataan sikap tentang perbudakan.

Dengan cara yang cukup ekstrem, film ini mengingatkan bahwa perbudakan itu tidak ada baik-baiknya. Dari perbedaan hak majikan kulit putih dan budak kulit hitam, sampai pelbagai bentuk penyiksaan yang memilukan, mulai dari cambuk, dipasung, dirantai, dimasukkin peti, disuruh saling bergulat sampai mati (dalam "olah raga" Mandingo fight), sampai diumpanin ke anjing, pake ada teori pembenaran pula (konon perlakuan ini cukup akurat menurut sejarah). Secara visual sih tidak terlampau gamblang (well, sort of), tetapi efek ngilu yang ditimbulkan bahkan melebihi adegan lainnya yang berisi tembak-tembakan berdarah-darah, karena di sini mereka juga disiksa secara batin. Ini mengejutkan, karena berbeda dengan kesan yang gw dapat ketika menyaksikan kekerasan dalam Kill Bill atau Basterds yang "ngeri" tapi seru, yang ini malah memunculkan suara hati "ya ampun manusia kok begini amat yak...".

Tetapi, hey, bukan Tarantino namanya kalau filmnya tidak menghibur. Di luar aspek tadi yang menurut gw lebih serius dari film beliau yang lain, Django Unchained tetap menyajikan pengalaman menonton yang asyik. Mulai dari gaya visual yang bergaya jadul (banyak zoom tiba-tiba ke muka =D), soundtrack-nya yang kadang nggak nyambung tapi tetep nyatu, sampai opening credits yang norak. Humor satir yang khas masih ampuh memancing tawa, begitu juga tumpahan darah di film ini sensasional karena dibuat sangat berlebihan, setiap tembakan ke tubuh efeknya muncrat membahana kayak buah semangka dibanting ke trotoar.  Mana ada film koboi kayak gini =). Mungkin itu sebagai kompensasi dari kekerasan yang memilukan tadi, biar tetep kelihatan bo'ongan, dan somehow menurut gw itu seru *langsung bikin janji ke psikiater*.

Para aktor yang terlibat termasuk cameo-nya bermain mumpuni, terutama Waltz yang sangat nyaman dan likable, dan DiCaprio yang sukses dalam debut peran (murni) antagonisnya ini, namun pujian terbesar gw jatuh kepada Samuel L. Jackson sebagai tangan kanan Calvin Candie yang nyebelin, Stephen, yang kali ini sedikit di luar watak stereotipikalnya, agak konyol komikal sekaligus serem juga. Tarantino sendiri ikut tampil cameo sangat berkesan dengan "grand exit"-nya =).

Django Unchained adalah satu lagi bukti seorang Quentin Tarantino knows how to keep his audience satisfied. Bagaimana dialog-dialog panjang dengan topik layak simak diselingi aksi hyper-violent dibungkus dengan sinematografi apik dari Robert Richardson, karakterisasi kuat kadang nyeleneh yang dimainkan dengan apik oleh para aktornya, serta banyaknya referensi budaya sampai ke folklor dan sastra Eropa ditata sedemikian rupa bahkan membuat durasi film terasa tidak sepanjang itu, namun kini dengan tambahan...emm...sikap moral (?). Sebuah film beratmosfer gabungan film-film semacam The Good the Bad and the Ugly dengan Gone With the Wind (referensi gw mentok di situ doang =P) dengan konten yang lebih brutal tetapi juga lebih "asyik" disaksikan. Jika di tengah-tengah film muncul pertanyaan "ini film koboi tapi mana tembak-tembakannya?", let me assure you, sekalinya muncul adegan tembak-tembakan akan sama sekali tidak mengecewakan. Keren lah. Film ini tak hanya membuat penasaran, tetapi juga merenggut perhatian. Dan karena film ini gw juga baru tahu kalo sastrawan Alexandre Dumas itu "black" =).



My score: 8/10

Selasa, 12 Februari 2013

55th Grammy Awards / 2013


Penghargaan musik Amerika, Grammy Awards memasuki tahun ke-55 dan baru saja dihelat 10 Februari 2013 waktu setempat. Acara kali ini memang kayak lebih santun dan kalem, mungkin mencoba lebih sophisticated, nggak terlalu hingar bingar, nggak ngelawak, tapi nggak terlalu garing juga, hasilnya so-so lah. Grammy diawali dengan penampilan Taylor Swift dengan hit-single-nya yang sudah mengesalkan sejak judulnya dibaca, "We Are Never Ever Getting Back Together", dalam konsep versi kacau dari video musik Panic! At The Disco, tetapi setidaknya cukup ceria untuk membuka acara. Fun. membawakan "Carry On" sambil hujan-hujanan tidak sedahsyat performa akustik "We Are Young" waktu Grammy Nomination Night lalu. Penampilan klimis Justin Timberlake membawakan dua lagu dari albumnya yang akan datang cukup menyenangkan, Mumford & Sons belum bisa melampaui penampilan wahid mereka di Grammy 2011, tapi yang paling failed tuh mash-up Maroon 5 dan Alicia Keys "Daylight/Girl on Fire", tidak seoke yang dijanjikan.

Pertunjukkan yang exciting baru terasa 1-2 jam kemudian ketika sebuah tribute untuk musik reggae dan alm. Bob Marley dipersembahkan beramai-ramai oleh Bruno Mars, Sting, Rihanna, serta dua anak Bob Marley beda ibu, Ziggy dan Damian. Woh, pecah langsung pada jejogedan dengan medley "Locked Out of Heaven"-nya Mars, "Walking on the Moon"-nya The Police, dan "Could You Be Loved"-nya Bob Marley, apalagi dengan konsep panggung yang atraktif. Penampilan keren lainnya datang dari Jack White, dua lagu dengan dua konsep: "Love Interruption" yang akustik diiringi band perempuan semua, lalu "Freedom at 21" yang elektrik diiringi band laki semua...ancur men keren banget, Jack White sanggup menyamai penampilannya yang spektakuler bersama The White Stripes di Grammy 2004 lalu. Oh, sebelum itu juga ada penampilan sederhana dari The Lumineers membawakan hit-nya "Ho Hey" yang tetap memberikan keasyikan tersendiri...ya ini sih karena emang gw suka lagunya aja, hehe.

Mengenai hasil Grammy, tidak ada yang mendominasi seperti Adele tahun lalu. Paling banyak diraih adalah 3 piala masing-masing untuk Gotye, Jay-Z & Kanye West, Skrillex (no kidding), dan The Black Keys. Bagi frontman The Black Keys, Dan Auerbach sendiri total membawa pulang 4 piala, karena satu lagi ia dapatkan secara individual sebagai Producer of the Year non-klasikal. Tidak banyak yang bisa dikomplain dari pemenang tahun ini, sebagian juga bukan musik "asing" buat gw atau sebagian penggemar musik di Indonesia, apalagi ada beberapa artis dan lagu kesukaan gw yang menang, semisal Fun. yang dapat Best New Artist dan Song of the Year untuk "We Are Young", lagu dari film The Hunger Games "Safe & Sound" milik Taylor Swift & The Civil Wars menang Best Song Written for Visual Media (lagu soundtrack terbaik lah maksudnya), Babel-nya Mumford & Sons menang Album of the Year, serta Adele yang masih "serakah piala" menang Best Pop Solo Performance lewat versi live "Set Fire to the Rain" dari album Live at the Royal Albert Hall. Selamat ya.



Berikut beberapa pemenangnya:

Record of the Year: "Somebody That I Used to Know" / Gotye featuring Kimbra
Album of the Year: Babel / Mumford & Sons
Song of the Year: "We Are Young" / Fun. featuring Janelle Monáe
Best New Artist: Fun.

Gotye feat. Kimbra "Somebody That I Used to Know"


Best Pop Solo Performance: "Set Fire to the Rain [Live]" / Adele
Best Pop Duo/Group Performance: "Somebody That I Used to Know" / Gotye featuring Kimbra
Best Pop Vocal Album: Stronger / Kelly Clarkson

Best Dance Recording: "Bangarang" / Skrillex featuring Sirah
Best Dance/Electronica Album: Bangarang / Skrillex

Best Traditional Pop Vocal Album: Kisses on the Bottom / Paul McCartney

Best Rock Performance: "Lonely Boy" / The Black Keys
Best Hard Rock/Metal Performance: "Love Bites (So Do I)" / Halestorm
Best Rock Song: "Lonely Boy" / The Black Keys
Best Rock Album: El Camino / The Black Keys


The Black Keys "Lonely Boy"


Best Alternative Music Album: Making Mirrors / Gotye

Best R&B Performance: "Climax" / Usher
Best Traditional R&B Performance: "Love on Top" / Beyoncé
Best R&B Song: "Adorn" / Miguel
Best Urban Contemporary Album: Channel Orange / Frank Ocean
Best R&B Album: Black Radio / Robert Glasper Experiment

Miguel "Adorn"


Best Rap Performance: "Ni**as in Paris" / Jay-Z & Kanye West
Best Rap/Sung Collaboration: "No Church in the Wild" / Jay-Z & Kanye West featuring Frank Ocean & The Dream
Best Rap Song: "Ni**as in Paris" / Jay-Z & Kanye West
Best Rap Album: Take Care / Drake

Best Country Solo Performance: "Blown Away" / Carrie Underwood
Best Country Duo/Group Performance: "Pontoon" / Little Big Town
Best Country Song: "Blown Away" / Carrie Underwood
Best Country Album: Uncaged / Zac Brown Band

Best Compilation Soundtrack Album For Visual Media: Midnight in Paris / Various Artists
Best Score Soundtrack Album For Visual Media: The Girl with the Dragon Tattoo
Best Song Written For Visual Media: "Safe & Sound" (The Hunger Games)

Best Short Form Music Video: "We Found Love" / Rihanna featuring Calvin Harris
Best Long Form Music Video: Big Easy Express / Mumford & Sons

Rihanna feat. Calvin Harris "We Found Love"


Producer of the Year, Non-Classical: Dan Auerbach
(for The Black Keys [album El Camino]; Dr. John [album Locked Down]; Hacienda [single "Savage", album Shakedown])

complete winners @ grammy.com

Selasa, 05 Februari 2013

[Rapid Film Review] The Phantom of the Opera - Dreamgirls - Sweeney Todd - Rock of Ages

Setelah menonton Les Misérables (dua kali) tempo hari, gw jadi terpanggil lagi menelusuri film-film musikal yang pernah gw tonton, khususnya yang dirilis di milenium baru ini. Di dekade 2000-an film musikal pelan-pelan bangkit di hadapan penonton mainstream setelah dalam dekade sebelumnya hanya "halal" dilakukan oleh animasi Disney. Sejak Moulin Rouge!-nya Baz Luhrmann dan Chicago-nya Rob Marshall, gw jadi salah satu penyuka film musikal, meskipun pada akhirnya tidak semua film musikal di era ini gw suka. Beberapa effort yang dilakukan pascakesuksesan dua film tersebut (sebelum Les Mis) rasanya sebagian besar belum ada yang bisa menyamai persis, baik kualitas filmisnya maupun excitement-nya, setidaknya buat gw.

Kali ini Rapid Film Review akan mengulas singkat beberapa film musikal yang dirilis sejak masuk abad ke-21 yang udah gw tonton. Empat dulu ya, nanti kalau ada waktu gw akan bahas lagi yang lain.



Theme: musical films of the new millennium


The Phantom of the Opera
(2004 - Odyssey Entertainment/Warner Bros.)
Directed by Joel Schumacher
Screenplay by Andrew Lloyd Webber, Joel Schumacher
Based on the stage musical book by Andrew Lloyd Webber
Based on the novel "Le Fantôme de L'Opéra" by Gaston Leroux
Produced by Andrew Lloyd Webber
Cast: Gerard Butler, Emmy Rossum, Patrick Wilson, Miranda Richardson, Minnie Driver, Ciarán Hinds

Opera Populaire di Paris punya pemilik baru yang berkonflik dengan sang primadona (bintang) Carlotta (Minnie Driver) yang mogok, sehingga terpaksa menggantinya dengan gadis muda berbakat, Christine Daaé (Emmy Rossum), yang dalam semalam sukses menjadi bintang baru. Christine pun bertemu dan CLBK sama seorang bangsawan, Raoul (Patrick Wilson), namun sang penghuni misterius gedung opera tersebut, The Phantom (Gerard Butler) ternyata juga menginginkan gadis itu.

Atau anggap aja ceritanya begitu. Entahlah. The Phantom of the Opera adalah contoh bahwa memindahkan teater musikal ke dalam film tidaklah gampang. Meskipun film ini ditangani langsung oleh Andrew Lloyd Webber, yang empunya musikal "The Phantom of the Opera" versi ini, nyatanya film garapan Joel Schumacher ini kurang dapat menyampaikan ceritanya dengan baik. Schumacher sendiri seperti tidak punya visi dalam pengadeganan nyanyi-nyanyinya, lagunya bagus-bagus tapi tampilannya seperti hanya meng-copy-paste apa yang (mungkin) sudah dilakukan dalam versi teaternya dengan penambahan setting yang 4-dimensi saja, tanpa memunculkan "cengkeraman" yang sepadan dengan yang (konon) dapat membuai penonton versi teaternya. Bagian nyanyi dan dialognya seperti kurang padu, pun casting-nya sendiri agak menundang pertanyaan karena baik Emmy Rossum maupun Gerard Butler memiliki kemampuan vokal yang nanggung senanggung aktingnya, padahal film ini membahas "opera".

My score: 6/10

Emmy Rossum sebagai Christine menyanyikan "Think of Me"


__________


Dreamgirls
(2006 - Paramount/DreamWorks)
Written for the screen & Directed by Bill Condon
Based on the stage musical book by Tom Eyen
Produced by Laurence Mark
Cast: Jamie Foxx, Beyoncé Knowles, Jennifer Hudson, Anika Noni Rose, Eddie Murphy, Danny Glover, Keith Robinson

Tiga gadis muda yang tergabung dalam trio penyanyi, Effie (Jennifer Hudson), Deena (Beyoncé), dan Lorell (Anika Noni Rose) akhirnya mendapat jalan untuk menjadi artis profesional bersama seorang dealer mobil yang terobsesi jadi produser musik, Curtis Taylor Jr (Jamie Foxx). Perjalanan meraih mimpi tak semulus harapan, ketika dihadapkan dengan kerasnya persaingan, asmara, juga hancurnya mimpi dan sakitnya hati karena tuntutan industri.

Dreamgirls merupakan semacam ilustrasi dramatis perjalanan karir penyanyi legendaris Diana Ross (tau "When You Tell Me That You Love Me", kan?). Inkarnasi tokohnya di sini adalah Deena yang cantik dan ketiban rezeki menjadi terkenal sedangkan rekan yang lain cuma jadi seksi hore, padahal vokalnya masih kalah dari leader mereka, Effie. Film ini sendiri menyampaikan kisahnya dengan cukup baik apalagi dengan inklusi musik asyik khas Motown dan performa vokal amazing dari para pemainnya, enak ngikutinnya. Tapi untuk berefek membahana seperti Chicago (Bill Condon adalah penulis naskah film itu), rasanya masih belum. Film ini kurang dapat menyatukan lagu dan ceritanya jadi satu kesatuan yang kuat, malah entah lagu atau dramanya seperti menahan-nahan laju cerita sehingga panjangnya film ini jadi terasa. Nevertheless, film ini tetap mampu tampil memikat dengan tata musik, kostum, desain produksi, penyuntingan, dan jajaran aktornya yang kelas wahid.

My score: 7/10

Jennifer Hudson, Beyoncé, dan Anika Noni Rose sebagai trio 
The Dreamettes mencoba peruntungan dalam audisi dengan lagu "Move".


__________


Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street
(2007 - Warner Bros./DreamWorks)
Directed by Tim Burton
Screenplay by John Logan
Based on the stage musical production by Stephen Sondheim and Hugh Wheeler
Based on the play by Christopher Bond
Produced by Richard D. Zanuck, Walter F. Parkes, Laurie MacDonald, John Logan
Cast: Johnny Depp, Helena Bonham Carter, Alan Rickman, Timothy Spall, Sacha Baron Cohen, Jamie Campbell Bower

Sweeney Todd (Johnny Depp) punya dendam kesumat terhadap Hakim Turpin (Alan Rickman) di London yang telah merebut anak-istrinya serta menjebloskannya ke dalam penjara atas tuduhan palsu. Kepahitan membuatnya jadi bengis, gelap mata, dan tak berbelas kasihan, namun Mrs. Lovett (Helena Bonham Carter) si penjual pie daging berhasil membujuknya untuk membuat perencanaan yang lebih matang dalam membalas dendam. Mr. Todd mulai membangun citra sebagai tukang cukur terbaik di kota supaya akhirnya dapat mengundang Turpin datang dan duduk untuk dicukur wajahnya, lalu membunuhnya dengan pisau cukur kesayangannya.

Sebelum Sweeney Todd, gw belum pernah menyaksikan musikal yang berdarah-darah dan horor. Dalam penekanan itu, film buatan Tim Burton ini terbilang berhasil. Gelapnya dunia dan tokoh-tokohnya dikontraskan dengan merahnya darah dan alunan nada lagu-lagu yang malah (surprisingly) tidak horor, berhasil menampilkan suasana yang pas untuk kisah yang mencekam ini, tetap mengerikan tapi jadi artistik. Dalam konteksnya bercakap-cakap sambil bernyanyi pun tidak terasa aneh karena sejak awal sudah ditunjukkan bahwa bernyanyi adalah bagian dari cara mereka berdialog, dan lagu-lagu yang dipakai memang berfungsi memperjelas karakter dan ceritanya, bukan cuma buat nari-nari belaka (adegan nyanyinya rata-rata singkat saja). Pun performa para aktor sukses mengawinkan ekspresi dan nyanyian dengan meyakinkan. Dan di atas itu semua, Sweeney Todd sukses mengkonversi teater musikal menjadi film semi-opera yang tetap bergaya khas film, khususnya khas Tim Burton, tanpa terasa canggung atau hampa.

My score: 8/10

Johnny Depp sebagai Sweeney Todd berduet "Pretty Women" 
dengan Alan Rickman sebagai Turpin sembari bercukur.


__________


Rock of Ages
(2012 - New Line Cinema)
Directed by Adam Shankman
Screenplay by Justin Theroux, Chris D'Arienzo, Allan Loeb
Based on the stage musical book by Chris D'Arienzo
Produced by Matthew Weaver, Scott Prisand, Carl Levin, Tobey Maguire, Garrett Grant, Jennifer Gibgot
Cast: Julianne Hough, Diego Boneta, Tom Cruise, Russell Brand, Alec Baldwin, Catherine Zeta-Jones, Paul Giamatti, Mary J. Blige, Malin Åkerman, Bryan Cranston

Sherrie (Julianne Hough), gadis daerah berbakat mencoba peruntungan menjadi penyanyi di Los Angeles namun terpaksa menjadi pelayan sebuah klub musik rock The Bourbon Room sebelum mimpinya itu tercapai, untungnya ia bertemu dan saling jatuh cinta dengan bartender Drew (Diego Boneta) yang punya impian serupa. Di sisi lain, The Bourbon sedang di ambang kebangkrutan dan terancam dibredel sama kaum ibu-ibu pengajian konservatif pimpinan istri walikota, Patricia Whitmore (Catherine Zeta-Jones). Harapan The Bourbon hanyalah penampilan terakhir dari superstar rock Stacee Jaxx (Tom Cruise) sebelum bandnya bubar, tetapi kehadiran sang rock star malah sama sekali tidak memperlancar segalanya.

Rock of Ages diangkat dari pertunjukan musikal yang menampilkan lagu-lagu yang sudah terkenal lalu menyatukannya dengan jalan cerita, istilahnya juke-box musical (kata Wiki), konsep yang juga dipakai dalam Across the Universe dan Mamma Mia! dan belakangan dalam serial "Glee". Jujur saja film ini memang konyol-konyolan dan ceritanya pun agak basi (untungnya sih plotnya nggak gampangan), namun lagu-lagunyalah yang menjadi daya tarik utama, bahkan sanggup membuatnya menjadi sebuah tontonan mengasyikkan. Menampilkan lagu-lagu dari band-band classic rock 1980-an macam Def Lepard, Bon Jovi, Foreigner, Scorpions, hingga Journey (pertunjukan broadway-nya lebih dulu meng-cover "Don't Stop Believin'" sebelum anak-anak "Glee", fyi), film ini akan jadi ajang karaoke bagi para penggemar musik era tersebut. Bahkan gw yang bukan anak classic rock aja bisa "tersetrum" dengan banyaknya lagu legendaris yang didendangkan di film ini, sekaligus bisa ketawa geli melihat visualisasi tiap lagu itu yang konyolnya bisa sampe gak ketulungan, sebagaimana gw geli mengingat Tom Cruise yang kalo ngomong sok wibawa tapi nyanyi suaranya kok "kayak gitu", hehe. Dilengkapi dengan pembagian porsi karakter yang pas dan performa aktor yang oke (meski masih nggak habis pikir kok Diego Boneta bisa-bisanya dapet bintang utama =|), Rock of Ages is silly, enjoyable, yet still rockin'.

My score: 7/10

Julianne Hough dan Diego Boneta sebagai Sherrie dan Drew 
meleburkan lagu "Heaven" milik Warrant dan "More Than Words" dari Extreme.


Jumat, 01 Februari 2013

[Movie] 3SUM (2013)


3SUM
(2013 - Graha Visual Nusantara/Electronic City Entertainment)

Written & Directed by Witra Asliga & Andri Cung ("Insomnights"), Andri Cung ("Rawa Kucing"), William Chandra ("Impromptu")
Produced by Sendi Sugiharto
Cast: Winky Wiryawan, Gesata Stella, Aline Adita, Natalius Chendana, Hannah Al Rashid, Dimas Argoebie, Joko Anwar


Berbeda dengan film omnibus/kompilasi film pendek yang sebelumnya beredar, 3SUM terdiri dari 3 film berdurasi masing-masing lebih kurang 30 menit yang bisa dibilang tidak punya kesamaan dalam bentuk apa pun. Baik tema, genre, maupun gaya bercerita yang diangkat ketiganya berbeda satu dengan yang lain. Jika ada yang menyatukan, adalah bahwa ketiga film ini dibuat oleh sineas-sineas muda yang relatif masih baru dalam dunia perfilman—dan yang menarik ada salah satu penulis+sutradaranya yang merupakan rekan movie-blogger gw, pengelola salah satu blog sahabat di daftar tautan sebelah kanan (etapi gw review jujur loh, percaya deh, liat aja *lap keringet*). Konon memang niatnya memberikan complete experience dalam satu tontonan, semacam paket hemat menonton tiga film beda jenis seharga satu tiket, yaitu horor dalam "Insomnights", drama roman dalam "Rawa Kucing", dan laga dalam "Impromptu". Karena emang kayaknya nggak bisa dibahas secara satu kesatuan, gw mau coba bahas masing-masing film aja kali ya.

Dalam "Insomnights", Morty (Winky Wiryawan) mengalami insomnia akut dan parahnya lagi ia sering melihat penampakan yang enggak-enggak di sekitar kamarnya. Film ini bisa dikatakan tepat untuk jadi appetizer, yah karena konsep yang diangkat cukup mengundang kepenasaranan. Namun kalau mau jujur "Insomnights" seperti agak kurang rapi dalam mengungkapkan misterinya, nyaris terasa random, dan tokoh Morty sendiri tidak diberikan tujuan dalam cerita. Mengapa dan untuk apanya bener-bener disimpan di ujuuung banget, tapi tokoh Morty sendiri tidak menggerakkan cerita, selain mengalami ini itu tanpa ingin tahu apa yang terjadi hingga akhirnya terungkap semua dengan sendirinya tanpa sebab-musabab. Konsep dan idenya sih oke, beberapa adegan suspense juga berhasil, cuman mungkin secara eksekusi keseluruhan kurang dapat membuat gw merasa langsung terlibat, dan lajunya agak stretchy juga...atau mungkin itu karena melihat ekspresi-ekspresi aneh dari Winky bikin durasinya terasa lama, hehe.

Film kedua, "Rawa Kucing" mengambil latar komunitas Tionghoa di pesisir ibukota tahun 1980, ketika Ayin (Aline Adita) yang hedonis di malam ulang tahunnya "dihadiahi" gigolo rookie yang tak bisa bicara, Welly (Natalius Chendana), namun pertemuan itu bagi mereka berdua ternyata berkesan lebih daripada urusan transaksi birahi. Jika dibandingkan dengan dua film lainnya, "Rawa Kucing" mungkin yang konsepya paling biasa dan melodramatis, namun film ini buat gw penataan produksinya paling rapih, pun pemaparan tentang tokohnya yang cukup banyak dan colorful itu terbilang efektif dalam waktu yang terbatas. Dan menurut gw dalam film ini juga kita dapat menyaksikan performa akting yang terbaik dari pemainnya dibandingkan film sebelum dan sesudahnya. Dari segi plot mungkin gw tidak terlarut sampe gimana gitu, lajunya agak dragging juga, tapi masih bisa dinikmati dan paling memuaskan nilai produksinya.

Rangkaian 3SUM akhirnya ditutup dengan "Impromptu" yang mengusung genre laga. Sepasang perempuan dan laki-laki misterius berpakaian hitam (Hannah Al Rashid dan Dimas Agroebie) sedang akan menjalankan "misi", namun di tengah jalan mereka dicegat sekelompok polisi yang sebenarnya adalah polisi palsu yang hendak merampok dan memperkosa. Well, those thugs had no idea who were they dealing with =). Menurut gw "Impromptu" memang tepat menjadi penutup, karena kesan yang ditimbulkan memang menyenangkan selepas kredit digulirkan, setidaknya buat gw. Bukan cuma karena ide dan premisnya paling seru, gw juga suka dengan konsep latar belakang paralel terhadap situasi sosial dan politik kita, semisal adanya metafora pemberantas korupsi yang vokal (Joko Anwar) sehingga banyak pembenci. Rasanya "Impromptu" ini paling potensial jika dijadikan film panjang. Masih sedikit stretchy (mau berantem kok nggak mulai-mulai =P), tetapi dengan pemaparan latar dan plot secara sederhana, koreografi dan efek visual yang cukup efektif, serta excitement yang ditimbulkan bahkan setelah filmnya habis, "Impromptu" gw daulat sebagai favorit dari 3SUM ini.

So my verdict, 3SUM adalah sebuah wadah yang cukup baik dalam unjuk kemampuan dari sineas-sineas muda potensial ini. Ide-idenya segar, mungkin eksekusinya yang belum sempurna. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada, 3SUM sesungguhnya masih layak tonton dan juga sebuah suguhan yang unik karena tujuannya dalam memberikan ragam rasa dalam satu paket film sudah cukup tercapai. Mungkin akan lebih enjoyable kalo lajunya agak diringkas lagi, tapi overall nggak jelek kok. Dan kalo mau jujur lagi, kecukupseruan "Impromptu" sukses bikin gw agak lupa sama beberapa kekurangan di dua film sebelumnya. Clever.




My score: 6,5/10