Sabtu, 26 Januari 2013

AJIRENJI MINDSTREAM REVIEWS 4th ANNIVERSARY with TESTIMONIALS


Tanggal 26 Januari 2013 menandakan empat tahun sejak gw menerbitkan postingan perdana di blog Ajirenji Mindstream Reviews, yang kemudian gw jadikan hari "lahirnya" blog ini. Empat tahun. Wow. Kalau diibaratkan manusia, sudah bisa masuk TK. Gw sendiri cukup heran gw ternyata nggak bosan atau musiman untuk ngeblog, tidak seperti nasib Sony PlayStation dan in-line skate CaliforniaPro gw dulu yang antusiasmenya nggak sampe satu tahun setelah dibeliin =D *anak durhaka*.

Mengisi blog Ajirenji tampaknya sudah menjadi hobi permanen gw sebagaimana nonton film dan dengerin musik (dan tidur), you know, hal-hal yang pastinya gw anggap lebih penting daripada pekerjaan sehari-hari. Jelas gw senang blog ini bisa bertahan selama empat tahun, mudah-mudahan bisa tetap terus bertahan dan, yah, semoga bisa berkembang juga (perlu belajar bikin layout yang canggih nih, hehe). Ucapan terima kasih juga harus gw haturkan kepada para pengunjung, pembaca, dan penyimak blog Ajirenji atas dukungannya selama empat tahun ini, dan semoga tidak bosan-bosan mampir ya. Gw juga berusaha tidak bosan-bosan menerbitkan postingan-postingan yang dapat menemani waktu senggang Anda *ibarat acara TV-magazine siang-siang*.

Nah, biar "acara" hari jadi blog Ajirenji ini tambah rame, kali ini gw akan menampilkan beberapa testimoni alias kesan dan pesan dari rekan-rekan sesama blogger tentang blog Ajirenji. Mereka adalah para pengelola blog sahabat yang juga ada di daftar tautan sebelah kanan. Beliau-beliau ini tak hanya rekan blogger yang minat bidangnya serupa dengan gw (film dan musik), tetapi juga jadi panutan dan pengilham gw dalam ngeblog. Blognya keren-keren, dan secara nggak langsung jadi menyemangati gw untuk rajin ngeblog juga. Huge respect for these guys. Penasaran apa pendapat para blogger handal ini? Sama dong, mari kita simak.

Btw, tulisan-tulisan berikut murni dari penulisnya, nggak gw sensor atau ganti kata-katanya biar isinya puja-puji terhadap gw semata, karena gw bukan TrioMacan2000...atau Demian Dematra. Yuk mari.

Kamis, 17 Januari 2013

[Movie] Les Misérables (2012)


Les Misérables
(2012 - Universal)

Directed by Tom Hooper
Screenplay by William Nicholson, Alain Boublil, Claude-Michel Schönberg, Herbert Kretzmer
Based on the musical stage production by Alain Boublil, Claude-Michel Schönberg
Based on the novel by Victor Hugo
Produced by Tim Bevan, Eric Fellner, Debra Hayward, Cameron Mackintosh
Cast: Hugh Jackman, Russell Crowe, Anne Hathaway, Amanda Seyfried, Eddie Redmayne, Samantha Barks, Helena Bonham Carter, Sacha Baron Cohen, Aaron Tveit, Daniel Huttlestone, Colm Wilkinson, Isabelle Allen


Pertama-tama, ada alasan kenapa dalam setiap poster film Les Misérables ada tulisan "The Musical Phenomenon". Ya, karena film ini musikal. Artinya akan banyak adegan nyanyi sepanjang durasi. Jadi yang memang merasa nggak cocok film model beginian, mungkin karena menganggap bernyanyi terus-terusan dalam film adalah hal bodoh, mendingan biaya tiket dan parkirnya disumbangkan ke fakir miskin dan korban bencana. Serius, itu akan lebih baik daripada bayar, duduk, nonton, nggak puas, dan bikin keributan sendiri di dalam bioskop, apalagi bila menonton bersama teman-teman yang beranggapan serupa sehingga bikin keributan bareng-bareng. Tak perlu membuang energi dengan melontarkan komentar-komentar cerdas macam "udah mau mati kok nyanyi?" atau "baca surat aja nyanyi?" sambil cekikikan di tengah film. There, I just saved you *ini sekaligus curhat =p*. 

Tetapi sebenarnya, bagi yang menyukai film musikal seperti gw pun mungkin akan cukup terkejut dengan presentasi Les Misérables versi teranyar ini, yang ternyata lebih mirip sebuah pertunjukan opera, yaitu setiap dialog diujarkan dengan nada nyanyian, hanya sedikit saja yang diujarkan dalam intonasi wajar. Ini film yang full musical, ibarat memindahkan pertunjukan teater musikal "Les Misérables" yang sudah tersohor itu dalam set yang lebih nyata dan tangible. Film terakhir yang model begini yang pernah gw tonton adalah Opera Jawa (2006) karya Garin Nugroho, tetapi kalau dibandingkan, ya Les Misérables ini lebih mudah dinikmati karena ceritanya lugas tanpa simbol-simbol. Penyampaian seperti ini jelas sebuah risiko yang diambil Tom Hooper, sutradara yang sebelumnya dikenal mengarahkan film pemenang Oscar, The King's Speech. Did it work?

Berdasarkan novel Prancis karya Victor Hugo (yang juga mengarang "The Hunchback of Notre Dame"), yang kemudian diadaptasi menjadi pertunjukkan musikal lalu diterjemahkan jadi musikal berbahasa Inggris lalu itu diadaptasi jadi film ini *helanapas*, Les Misérables (bacanya kira-kira 'lé-mi-sé-khaa-bl(e)'), yang judulnya kekeuh tidak diterjemahkan dalam bahasa Inggris entah kenapa, bercerita tentang orang-orang bernasib malang dan terpinggirkan, yang miserable. Berlatar Prancis abad ke-19 ketika kembali ke sistem monarki pascaruntuhnya pemerintahan Napoleon, dan ketimpangan sosial tak pernah selesai. Jean Valjean (Hugh Jackman) adalah mantan terpidana pencurian sepotong roti yang melanggar ketentuan wajib lapor setelah keluar penjara, ia kabur dan mencoba memulai kehidupan baru sebagai pengusaha di sebuah kota kecil. Namun, inspektur polisi Javert (Russell Crowe) yang sangat patuh pada hukum tak pernah berhenti mencarinya. Di saat yang bersamaan ketika kedok Valjean ketahuan oleh Javert dan hendak diringkus, Valjean berjanji kepada Fantine (Anne Hathaway), pekerja pabriknya yang dipecat dan terjebak prostitusi, untuk merawat putri semata wayangnya, Cosette (yang kecil dimainkan Isabelle Allen, sudah remaja dimainkan Amanda Seyfried) yang tak berayah. Dalam pelarian dan persembunyian, Valjean pun mencoba kembali memulai kehidupan baru bersama Cosette di Paris, just in time ketika revolusi akan memuncak.

Dan setiap langkah cerita itu dinyanyikan, nyaris tiada henti.

Bahwa setiap pemain harus menyanyikan dialognya dalam film ini, buat gw adalah sebuah "aturan" dalam semesta kisahnya. Sebagaimana semua tokoh dalam Rayya Cahaya di Atas Cahaya harus berdiksi puitis, atau semua tokoh alien jahat dalam setiap seri "Kamen Rider" harus berbahasa Jepang. Ini tidak berbicara soal otentisitas atau realistis, melainkan yang ditekankan adalah penyampaian cerita. Berbeda dengan Moulin Rouge!, Chicago, atau The Phantom of the Opera yang ber-setting dunia panggung sehingga adegan-adegan bernyanyi more or less bisa diterima dengan wajar, Les Misérables adalah kisah drama realis namun disampaikan dalam nyanyian. Nyanyian jadi kewajaran dalam film ini karena sejak awal sudah ditekankan tokoh-tokoh dalam film ini tidak bercakap-cakap dalam dialog biasa. Bernyanyi bukan hal yang terpisah sendiri, melainkan cara tokoh-tokoh dalam film ini berkomunikasi dalam lingkungannya. Your arguments are invalid.

Ini contohnya.

Gw perlu meng-emphasize persoalan ini karena, somehow, Tom Hooper mengelolanya dengan sangat baik. Dengan cara seperti itu, ia lolos dari jebakan "terlalu teater" (karena faktor editing sih kalo menurut gw), pun tidak memaksakan ikut penuturan ala film musikal konvensional yang menuntut selang-seling dialog dan lagu yang rawan absurditas. Sebuah penerjemahan yang sama sempurnanya dengan Chicago meski berbeda metode. Ia bahkan berani menyuruh para aktornya bernyanyi langsung di lokasi saat syuting layaknya pertunjukan teater (sebagian tanpa cut), ya kayak dialog aja, bukan direkam suaranya dulu terus lipsync. Setelah masuk dan mengikuti "aturan" penceritaan film ini, gw nggak bisa lepas, malah terhanyut dalam usaha tokoh-tokoh ini yang hanya ingin hidup lebih layak dan bahagia, nyanyian lirih dan galau mereka berhasil tertransfer langsung ke sanubari. Penuturannya pun lancar, nggak basa-basi, pembangunan tokohnya tanpa cela, dan terintegrasi dengan musiknya. Ini juga berkat teknik editing cepat dan agak-agak Terrence Malick itu (ah semuanya aja gw bilang mirip Terrence Malick =p). Yah, kecuali pada 1/3 akhir atau babak bentrok rakyat vs aparat yang malah melambat, dan finale-nya yang kurang megah meskipun tetap emosional.

Les Misérables adalah kisah haru biru namun disampaikan dengan indah nan syahdu tanpa merusak logika. Dilengkapi dengan presentasi yang berani, penataan teknis yang matang—desain produksi-kostum-rias-sinematografi-suara dsb., aktor-aktris yang tampil maksimal baik akting maupun vokal (emm, Russell Crowe suaranya paling khas dan sebenarnya enak, tapi kurang power kalo nada tinggi, akhirnya jadi vokalis paling jelek di film ini =P), dan tentu saja penataan musik yang ciamik. Banyak momen yang moving dan menggetarkan, terkhusus performa Anne Hathaway sebagai Fantine menyanyikan "I Dreamed a Dream" dan Samantha Barks sebagai Éponine melantukan soundtrack kaum ter-friendzoned, "On My Own". Bahkan kali ini gw nggak keberatan dengan kecenderungan Tom Hooper dalam sinematografi yang suka "memojokkan" aktornya ke pinggir bingkai gambar, pinggiiir banget. Mungkin juga karena di sini waktu orangnya ada di pojok kanan layar, ada subtitel di kirinya, sehingga tampak imbang, hahaha. I had a great time watching Les Misérables, tak peduli durasinya 2,5 jam. Kisah indah yang dituturkan, atau lebih tepatnya dinyanyikan, dengan indah pula.




My score: 8/10

Sabtu, 12 Januari 2013

[Movie] Gending Sriwijaya (2013)


Gending Sriwijaya
(2013 - Putaar Production/Pemprov Sumatera Selatan)

Written & Directed by Hanung Bramantyo
Produced by Dhoni Ramadhan, Dian Permata Purnamasari, Irene Camelyn Sinaga
Cast: Agus Kuncoro, Sahrul Gunawan, Julia Perez, Mathias Muchus, Jajang C. Noer, Slamet Rahardjo, Teuku Rifnu Wikana, Hafsary Thanial Dinoto, Qausar Yudana, Oim Ibrahim, Otig Pakis, Yati Surachman, Aji Santoso, Early Ashyla, Anwar Fuady


Film semacam Gending Sriwijaya ini adalah salah satu yang gw nantikan. Film dengan latar Indonesia zaman dahulu kala, zaman-zaman kerajaan, dan ada tambahan unsur laganya. There's something intriguing about the genre, sebagaimana gw sadari tahun lalu ketika menonton Roro Mendut (1982). Mungkin banyak yang lupa, bahwa genre yang sering disebut "film kolosal" ini banyak peminatnya, rating tinggi sinetron macam "Misteri Gunung Merapi" dan "Tutur Tinular 2011" sebenarnya sudah cukup menjelaskan itu, cuman sekarang sineas+produser kita aja mungkin yang kurang tanggap atau udah males duluan mikirin budget-nya, meski pasti udah dinanti-nantikan banget sama para costume designers =). Padahal, rasanya genre ini perlu terus diproduksi, baik sebagai hiburan maupun sebagai pengingat akan bagaimana bangsa kita dulu, setidaknya dari kebudayaan, nggak harus peristiwa sejarah juga sih. Saat ini marilah kita sambut Gending Sriwijaya, sebuah film inisiatif dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, yang bertujuan mempromosikan kebudayaan provinsi tersebut ke khalayak luas, dan beruntung mereka bekerja sama dengan sineas yang punya skill serius dan mau "berpetualang" ke berbagai macam genre seperti Hanung Bramantyo.

Kisahnya sendiri adalah intrik klasik perebutan tahta kerajaan sekaligus adanya perlawanan sekelompok rakyat karena ketidakpuasan terhadap pemerintahan. Ada raja yang disebut Dapunta Hyang Mahawangsa (Slamet Rahardjo) yang sakit-sakitan memimpin Kedatuan Bukit Jerai. Bersama Permaisuri Kalimanyang (Jajang C. Noer), Dapunta ingin menyerahkan tahta kepada putra lelakinya yang bungsu dan baru pulang menuntut ilmu di China, Purnama Kelana (Sahrul Gunawan) ketimbang kepada putra mahkota Awang Kencana (Agus Kuncoro) yang lebih lihai berperang, timbullah kecemburuan di sana. 

Di saat yang sama, entah diketahui Dapunta atau tidak, rakyat Bukit Jerai mengalami kemiskinan, sulit memperoleh bahan pangan akibat banyaknya pejabat nakal. Keadaan ini menimbulkan gerakan perlawanan yang dipimpin Ki Goblek (Mathias Muchus) yang sering merampok harta kedatuan, hal yang meresahkan warga istana yang bertekad membasminya. Suatu ketika Dapunta Hyang ditemukan tewas dan bukti mengarah pada Purnama sebagai pelaku pembunuhan. Purnama kemudian ditangkap namun berhasil meloloskan diri berkat beberapa orang kepercayaannya, sampai akhirnya ia ditemukan dan disekap kawanan Ki Goblek. Awang Kencana naik tahta menjadi dapunta dan memulai gerakan militer terhadap rakyat, namun misi utamanya adalah membasmi Ki Goblek cs, dan memastikan kematian Purnama.

Kisah film Gending Sriwijaya ini adalah fiksi, karena menurut pemberitaan, Hanung dan timnya kesulitan dalam mencari data yang cukup lengkap untuk menceritakan sebuah peristiwa sejarah. Sehingga pada akhirnya yang diambilnya adalah sebuah periode peralihan yang jarang tercatat, katanya sih abad ke-16, beberapa abad setelah Kerajaan Sriwijaya nan tersohor bahkan sempat jadi pusat ilmu agama Buddha terbesar itu runtuh dan terpecah-pecah jadi beberapa kerajaan/kedatuan kecil. Ini berarti ketika kerajaan-kerajaan di Jawa masih berjaya, serta beberapa saat sebelum ajaran Islam masuk wilayah bagian tengah pulau Sumatera itu. Singkatnya, Hanung dan timnya dapat lebih leluasa dalam berimajinasi pada setting ini, toh tidak ada bukti yang dapat membenarkan atau menyalahkan, ya termasuk soal senjata api yang mereka dapat dari China itu. Dan menurut gw kefiksian itu ditangani dengan cukup baik dan konsisten. Satu hal yang tetap dipegangnya, dan mungkin ini titipan dari Pemprov Sumsel, yaitu tentang kerinduan dan perjuangan mencapai kejayaan dan kesejahteraan seperti zaman Kerajaan Sriwijaya di masa lalu, which is clearly the main intended point of the film, yang juga menjadi inti dari tarian bernama Gending Sriwijaya.

Yang menarik adalah kelihatan juga ada sebuah subteks yang ingin disampaikan Hanung soal kenegaraan. Pemimpin-pemimpin yang sibuk sendiri sampai mengabaikan kesejahteraan rakyat, yang juga berkuasa mengubah, menyaring serta mencekal sejarah dan budaya rakyat yang dianggap menjatuhkannya *uhuk*. Soal budaya ini juga menarik, di sini gw menemukan seperti ada "curhat" mengenai kesulitan menemukan data sejarah tadi. Kita tahu sendiri, peninggalan budaya dan sejarah bangsa kita, apalagi yang sebesar Sriwijaya dan Majapahit, terbilang sedikit, udah rusak, dirusak, atau sudah tidak ada jejaknya sama sekali, entah disengaja secara politis ataupun tidak. Kalau pun ada, tidak pernah terawat dengan baik, sehingga yang tersisa hanya tulisan-tulisan dan puing-puing bangunan saja. Kalau begitu adanya, gimana kita bisa kenal "kita yang dulu"? Gimana kita yang sekarang bisa tahu apa itu "jaya"? Yang bisa diwariskan hanyalah yang intangible secara turun temurun, seperti tarian Gending Sriwijaya yang dalam film ini diciptakan dan (in the end) hanya bisa diteruskan oleh Malini (Julia Perez)—tentu saja aslinya bukan dia yang menciptakan tarian itu, duh. Jika orang ini hilang, hilanglah sudah tali penghubung kita dengan asal usul kita. Itulah pentingnya budaya.

Menurut gw, film Gending Sriwijaya ini kaya. Punya intrik yang tidak kekanak-kanakan, plotnya yang cukup bikin gw betah sampai akhir dan punya bobot seperti gw ungkap sebelumnya, karakterisasi yang jelas tapi tidak komikal, serta pertunjukkan tata kostum, tata rias (kecuali shading di perut agar terlihat six-pack itu =p), tata gambar, tata suara, dan tata musik yang ciamik. Inklusi lagu/puisi dan tarian Sumatera Selatan juga sangat baik dan mulus. Satu hal yang paling gw suka adalah adegan laga di film ini tidak nanggung-nanggung serunya. Jelas tidak semodern The Raid, tetapi efek dari setiap adegan baku hantam dan bunuh-bunuhannya begitu...wow, seru deh, berdarah! Pecinta film silat pasti terpuaskan dengan tata laga Gending Sriwijaya, termasuk aksi Julia Perez dan para wanita penari Gending Sriwijaya yang sadeeis jurus-jurusnya. Kekayaan film ini semakin lengkap dengan jajaran pemerannya yang bermain baik bahkan moving pada beberapa momen, mungkin yang paling pol adalah Yati Surachman sebagai istri Ki Goblek yang punya satu adegan (dari 4 yang ada beliaunya) yang luar biasa emosional, keren.

Tetapi di sisi lain film ini "kaya-kaya nanggung". Gending Sriwijaya ini jadi berkurang kadar epic-nya ketika beberapa adegan yang berpotensi epik seperti ngaben, penobatan Awang jadi Dapunta, pernikahannya dengan Dang Wangi (Hafsary Thanial Dinoto) yang sesungguhnya mencintai Purnama, penyerangan tambang emas, dan lain sebagainya digantikan oleh gambar-gambar komik bergerak. Bahkan bentuk utuh istana Kedatuan Bukit Jerai pun tak pernah nampak, sense of space-nya kurang jelas. Mungkin keterbatasan dana dan waktu, sayang sekali. Beberapa titik penceritaan juga kurang jelas, khususnya bagian flashback, yang menurut gw disebabkan oleh ketidakkonsistenan subtitelnya, kadang gw nggak ngerti tokohnya yang beraksen Palembang itu ngomong apa tapi subtitelnya nggak ada. Yah...

But overall, gw cukup terhibur dengan 140-an menit film Gending Sriwijaya ini, baik dari intrik klasiknya hingga adegan aksinya. Nggak mungkin gw nggak memberi respon positif. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, gw juga bener-bener berharap Gending Sriwijaya banyak yang nonton, supaya sineas dan pendana film kita lebih bersemangat untuk bikin lebih banyak film berlatar masa lalu Indonesia. Kita butuh itu, asal bikinnya yang bener kayak gini ya.




My score: 7/10

Jumat, 04 Januari 2013

[Movie] Demi Ucok (2013)


Demi Ucok
(2013 - Kepompong Gendut/Royal Cinema Multimedia)

Written, Produced & Directed by Sammaria Simanjuntak
Cast: Geraldine Sianturi, Mak Gondut, Saira Jihan, Sunny Soon, Richard H. Siahaan, Nora Samosir


Perempuan Batak itu tugasnya cuma tiga: kawin sama pria Batak, bikin anak Batak, dan cari menantu Batak. Entah itu adat "baku" dalam kebudayaan suku Batak atau bukan, yang pasti seperti itulah yang dirasakan Gloria "Glo" Sinaga (Geraldine Sianturi), seorang aktris dan filmmaker independen yang punya mimpi lebih besar daripada 3 tugas tadi. Ia merasa, hidup sebagai perempuan Batak konservatif adalah lingkaran maut, yang tidak memaksimalkan potensi diri. Ia berkaca pada opung dan maknya, Mak Gondut (Mak Gondut), yang sewaktu muda punya mimpi besar jadi bintang, tapi akhirnya urung karena "cari aman" dengan menikah muda dan berkeluarga. Lalu datanglah momen putus asa itu. Setelah film pertamanya terbilang sukses dan meraih piala Citra, Glo belum kunjung dapat mewujudkan film keduanya hingga empat tahun, karena tidak ada dana. Melihat usia Glo sudah mencapai 29, kali ini si Mak mau mengusahakan dana buat Glo, tak tanggung-tanggung ia janjikan 1 milyar rupiah...asalkan Glo mau segera menikah...tentu saja sama Batak.

Adalah menarik ketika memeriksa segala cerita dan berita tentang film Demi Ucok ternyata tertuang juga dalam filmnya sendiri. Maksud gw, struggle yang dialami Glo jelas-jelas adalah cerminan dari sang penulis dan sutradara sendiri, Sammaria Simanjuntak. Sammaria adalah filmmaker independen peraih Citra untuk Skenario Asli Terbaik (bersama Sally Anom Sari) lewat film pertamanya yang diputar terbatas tapi disukai banyak orang (kecuali gw =p), cin(T)a tahun 2009, dan baru pada tahun 2012 Sammaria membuat film keduanya ini. Kesulitan dana yang akhirnya terselesaikan oleh crowd-funding (sumbangan khalayak) lewat internet, dan akhirnya meng-cast maknya sendiri, Lina Marpaung sebagai tokoh Mak Gondut (nama yang kemudian dijadikannya "nama artis" sang ibu =]), it's all here. Gw menangkap sinyal Demi Ucok adalah sebuah kisah jujur seorang Sammaria tentang kehidupannya sendiri: hubungan dengan maknya, curhatnya tentang adat budayanya sendiri, dan juga tentang susahnya bikin film, tentu saja di sini semua ditampilkan dalam versi komikal nan absurd demi memaksimalkan komedinya.

Unsur komikal yang dihadirkan Demi Ucok sebenarnya cukup standar, namun komedi yang paling lantang justru datang dari karakterisasi dan dialog-dialog antara Glo dan Mak Gondut. Sebetulnya dua orang ini normal saja, tapi karena pendiriannya beda jadinya selalu ada perselisihan dan perang kepentingan yang "sengit", nyata tapi kocak. Glo adalah seorang yang berusaha idealis yang tidak tertarik dengan cinta dan hanya ingin membuat film, ingin membuktikan bahwa ia bisa live by passion. Sedangkan si Mak adalah...well, emak-emak, yang pada masa senja sejahteranya mencari-cari kesibukan mulai dari arisan sana-sini, MLM, sampe ikutan partai politik, selain sibuk nyariin jodoh buat anaknya (kembali ke kalimat pertama ulasan ini). Kedua orang ini sama-sama keras kepala (tapi si Mak mengejawantahkannya dengan lebih santai dan lucu =D), yang untungnya diberi kalimat-kalimat sindiran tokcer oleh sang pembuat film, bahkan si Mak Gondut tetep bisa jleb jleb jleb kalo soal putrinya yang masih jomblo =D. Sammaria kali ini sukses menata cerita dan karakternya dengan lebih rapi dan mudah dicerna, mungkin karena bercerita dengan jujur (bukan cuma cerdas), sampe-sampe berhasil membuat gw merasakan malunya Glo pada berbagai kelakuan si Mak, sebagimana ada kalanya gw malu sama kelakuan emak gw sendiri. It felt real, and that's what makes the film works

Buat gw, Demi Ucok yang lebih jujur dan lebih ber-hati ini jelas kemajuan besar dari cin(T)a yang pretensius dan ceritanya (kalau memang ada) terhalang oleh barisan quote demi quote yang disambungkan dengan editing yang lebih mirip trailer daripada film itu. Demi Ucok memang masih menyimpan kenyinyiran dan "kata-kata bijak" di mana-mana, tetapi perhatian gw tidak tertuju ke sana, melainkan pada kisah Glo dan maknya, yang mencerminkan banyak sekali kisah tali kasih orang tua dan anak di sekitar kita. Di balik perselisihan Glo dan Mak Gondut masih ada kasih sayang yang terpancar kuat bahkan bisa sampai mengharukan. Banyaknya sindiran tentang berbagai hal, kualitas teknis yang masih indie banget (masih pake kamera video), dan ada beberapa lawak yang kurang lucu dan atau relevan (terutama yang melibatkan tokoh Niki (Saira Jihan), A Cun (Sunny Soon), dan filmmaker Malaysia Qazrina Umi (Nora Samosir)), juga munculnya imaginary alter ego dari Glo yang sangat berlebihan dan tak berfungsi, nyatanya nggak terlalu mengganggu gw dalam menikmati film ini. Terhadap "perang" pendirian Glo dan Mak Gondut yang mendominasi film berdurasi singkat 79 menit ini, gw bisa paham, bisa simpati, tetap terhibur dan bisa tertawa geli, bukan menertawakan. Itu saja sudah cukup.




My score: 7,5/10