Jumat, 08 November 2013

Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2013



Apresiasi Film Indonesia (AFI), ajang penghargaan film yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) menggelar perhelatan keduanya pada 4 November 2013 lalu. Tapi AFI 2013 ini beda banget dari yang tahun lalu. Kalau tahun lalu kategorisasinya persis FFI, dengan pemenang yang agak lebih nggenah daripada FFI, kini AFI merombak total sistem kategorisasinya. Sekarang mereka nggak menilai lagi unsur-unsur printilan dalam produksi film, melainkan beralih pada menilai film secara keseluruhan. Pialanya pun baru, namanya Piala Dewantara (dari nama Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, kali aja pada nggak tau *kalo nggak tau kebangetan sih*) dengan desain gunungan wayang berisi rol film. Ya baguslah, biar beda.

Tapi tetep mereka punya restriction yang sama tentang film-film apa yang pantas dinilai dan pantas menang, yaitu yang mengandung nilai budaya, kearifan lokal, dan membangun karakter bangsa. Pretensius banget ye. Tapi gw melihat, orang-orang kerap keliru mengira bahwa yang dinilai adalah film-film "berpesan moral". Not necessarily. Kalau gw lihat daftar nominasi dan pemenang AFI dua tahun ini, sebenarnya yang dinilai adalah film-film yang di dalamnya menunjukkan budaya Indonesia, termasuk tentang keragaman masyarakatnya, atau setidaknya memuat pengetahuan yang bermanfaat, atau bisa juga awareness tentang suatu permasalahan yang terjadi di bangsa ini. 

Bikin film yang nggak ada nilai-nilai budaya atau pengetahuan sebenarnya juga nggak apa-apa, bisa jadi film bagus juga kok, tapi ya nggak bisa ikut ajang ini aja =p. Although, menurut gw pribadi sih film-film yang bisa dengan smooth memuat nilai-nilai itu punya nilai plus, mungkin itu sebabnya gw tidak pernah merasa bermasalah dengan adanya AFI dan juga hasil penjuriannya (lah, siapa gw?). So far, dalam dua kali penyelenggaraan, hasilnya cukup dapat dipertanggungjawabkan, setidaknya dari pemenang film terbaik.

Setelah tahun lalu memenangkan film Mata Tertutup yang mengangkat permasalahan gerakan separatis ekstrim agama di negeri kita, tahun ini AFI 2013 memenangkan Atambua 39o Celsius film semidokumenter tentang perjuangan hidup pengungsi Timor Timur di Atambua, NTT yang terpisah dari keluarganya setelah kemerdekaan Timor Timur, sebagai film bioskop terbaik, atau istilah mereka Apresiasi Film Bioskop.

Sedangkan dari acara penganugerahannya yang ditayangkan di TVRI, gw rasa ini acara awarding yang paling nggak ngeselin yang gw tahu, apalagi untuk ukuran acara pemerintah...well, tetep ngeselin di beberapa tempat, kayak pembaca kategori lama keluarnya, gitarnya Anda Perdana gak bunyi, sambutan pejabat yang ngabisin durasi tanpa inti, biasalah. Tetapi secara konsep dasar nggak ngeselin. Straight to the point, nggak kecentilan, nggak dibebani "harus rating tinggi", which is a good start. Maunya gw sih setiap award yang "penting" punya konsep dasar seperti ini, tapi mungkin ini hanya mungkin bisa di TVRI aja kali ya. Sambutan para pemenang yang kritis terhadap pemerintah di televisi pemerintah di acara yang diselenggarakan pemerintah =P juga jadi hiburan tersendiri buat gw. Mumpung live, ya tho?

Berikut ini daftar pemenangnya:
Ini cuma suvenir kale  =3=



KATEGORI PENGHARGAAN UTAMA

APRESIASI FILM BIOSKOP
Atambua 39o Celsius (Sutradara: Riri Riza)
Nominasi: 9 Summers 10 Autumns, Cinta tapi Beda, Demi Ucok

APRESIASI FILM INDEPENDEN UMUM (NON-BIOSKOP)
Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (Sutradara: Yosep Anggi Noen)

APRESIASI FILM DOKUMENTER
Denok & Gareng (Sutradara: Dwi Sujanti Nugraheni)
Nominasi: Anak Sabiran di Balik Cahaya Gemerlapan, Love of Insanity, Naga yang Berjalan di Atas Air

APRESIASI FILM ANIMASI
Tidak ada pemenang
Nominasi: Kolam Warna, Leyak & Lost Lollipop

APRESIASI FILM ANAK
Tidak ada pemenang

APRESIASI FILM PENDEK
Halaman Belakang (Sutradara: Yusuf Radjamuda)
Nominasi: Pohon Penghujan, Langka Receh


KATEGORI PENGHARGAAN MONUMENTAL

APRESIASI FILM ADIKARYA
Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969) (Sutradara: Asrul Sani)
Nominasi: Si Mamad (1973), Harimau Tjampa (1953)

APRESIASI ADIINSANI
Garin Nugroho


KATEGORI PENGHARGAAN KHUSUS

APRESIASI SUTRADARA PERDANA
Yosep Anggi Noen (Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya)
Nominasi: Bobby Prabowo (Kisah 3 Titik), Dirmawan Hatta (Optatissimus), Faozan Rizal (Habibie & Ainun

APRESIASI KOMUNITAS
Cinema Lovers Community (Purbalingga, Jateng)
Nominasi: Forum Lenteng, Pecinta dan Pembuat Film Denpasar.

APRESIASI POSTER FILM BIOSKOP
5 cm.
Nominasi: Jakarta Hati, Langit Ke-7, Rectoverso

APRESIASI FILM INDEPENDEN PELAJAR
Tidak ada pemenang.
Tapi ada Penghargaan khusus Dewan Juri untuk film Langka Receh (Sutradara: Eko Susilawati). No kidding.

APRESIASI FILM INDEPENDEN MAHASISWA
Tidak ada pemenang

APRESIASI MEDIA CETAK
Tabloid Bintang Indonesia
Nominasi: Majalah Gatra, Majalah Tempo, Koran Tempo, Total Film Indonesia

APRESIASI MEDIA NON-CETAK
Nominasi: Cinema Poetica, DetikCom, Jurnal Footage, Kapan Lagi, KomunitasFilm.org, Muvila

APRESIASI LEMBAGA PENDIDIKAN
Institut Kesenian Jakarta
Nominasi: SAE Institute, Hellomotion, Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Bina Nusantara

APRESIASI FESTIVAL FILM
Hellofest
Nominasi: Festival Film Dokumenter Jogja, Festival Film Purbalingga, Festival Film Solo, Festival Film Indonesia, Festival Film Bandung


APRESIASI FILM PILIHAN PEMIRSA
Hasduk Berpola (Sutradara: Harris Nizam)
Nominasi: 5 cm., 9 Summers 10 Autumns, Atambua 39o Celsius, Habibie & Ainun, Leher Angsa, Mursala, Pasukan Kapiten, Sang Kiai, Tampan Tailor
Heran? Sammma dong...


Dewan Juri: Totot Indrarto, Dana Riza, Erwin Arnada, Hafiz Rancajale, Jajang C. Noer, Linda Christanty, Mathias Muchus, Nirwan Dewanto, Wahyu Aditya

Tim Ahli (penyeleksi): Ichwan Persada, Bobby Batara, Dewi Hughes, Djoenaedy Siswo Pratikno

Penjelasan Dewan Juri tentang kenapa para pemenang bisa menang bisa dilihat di situs resminya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar