Selasa, 15 Oktober 2013

[Movie] Romantini (2013)


Romantini
(2013 - E-Motion)

Directed by Monty Tiwa
Screenplay by Ivander Tedjasukmana, Sumarsono, Monty Tiwa
Story by Monty Tiwa
Produced by Didi Mukti, Nurmi Pandit, Sumarsono
Cast: Ashanty, Dwi Sasono, Aurel Hermansyah, Ridwan Abdul Ghany, Mario Irwinsyah, Zaid Assidiq, Ria Irawan, Iang Darmawan, Anang Hermansyah, Pongki Barata, Anji, Liza Natalia, Nina Tamam, Aming


Anang, Ashanty, dan Aurel Hermansyah main film. Ini adalah sebuah formula sukses...kalau ini masih tahun 2012. Jujur aja, film Romantini ini adalah proyek aji mumpung demi mengokohkan, atau karena udah tahun 2013 jadinya "merebut kembali" popularitas pasangan selebritas paling fenomenal (tahun 2012) dan anaknya. Mau berkilah gimana pun juga, film ini jelas-jelas maksud dan tujuannya ya itu, mempromosikan bakat keartisan Anang-Ashanty-Aurel beserta lagu-lagunya, plus ditebengin promosi artis-artis label E-Motion (yang memproduksi film ini) dan senam Zumba-nya Liza Natalia. Kalau penonton mengharapkan lebih daripada itu, ya salah sendiri. Namun, sekalipun tampak dibuat dengan all the meh reasons, satu langkah benar yang diambil produser Romantini adalah menggaet Monty Tiwa sebagai sutradara dan salah satu penulis naskahnya. Monty adalah sineas muda Indonesia yang jam terbangnya tinggi, khususnya untuk drama komedi ringan, dan jarang membuat karya tercela (well, gw baru nonton Test Pack aja sih, dan itu film bagus). Pun selain diberi catatan-catatan "harus promosi" dari yang punya film, doski seperti diberi kebebasan untuk meramu cerita Romantini sehingga terlihat seperti film "betulan". 

Kartini (Ashanty) harus mengubur impiannya sebagai penyanyi terkenal karena ditolak sana sini. Bersama suaminya, Rahman (Dwi Sasono), Kartini kini tinggal secara sangat sederhana di Jakarta bersama putri mereka, Pelangi (Aurel Hermansyah). Cekcok rumah tangga sering terjadi lantaran Kartini harus membanting tulang sendiri sebagai pemandu lagu di sebuah klub karaoke (tulisannya sih Illigals, tapi in real life itu jelas-jelas bukan tempat karaoke =p)—etapi gak pake anu-anuan lho, sedangkan Rahman nganggur dan demen minum-minum. Ditambah mereka *tentu saja* masih banyak utang. Pelangi pun jadi sering main keluar rumah, khususnya karena naksir Sony (Ridwan Abdul Ghany, yang tampak kayak bocah kalau tanpa wig Tutur Tinular). Terlebih lagi, bersama Sony, Pelangi dapat menyalurkan hobinya bernyanyi dan menulis lagu. Tetapi karena trauma, Kartini melarang Pelangi meneruskan hobinya itu, termasuk ikut sebuah lomba pencarian bakat. Nah, tambahlah itu semua dengan Rahman yang kena tipu ketika akhirnya dapat kerja jadi tukang ojek, lalu ada bos karaoke (Zaid Assidiq) yang simpati dengan Kartini dan pelan-pelan coba mengambil hatinya...

Okelah, mungkin ceritanya standar sestandar-standarnya, tentang pasangan muda ekonomi pas-pasan yang meninggalkan impian lama yang naif (jadi penyanyi profesional) demi menyambung hidup di Jakarta dengan kerja sedapetnya, lalu impian itu muncul lagi lewat sang anak yang diam-diam mendapat warisan bakat orang tua. You know, hal-hal yang sering diangkat dalam profil harubirukelabu peserta lomba nyanyi di TV. Tetapi, setidaknya dalam satu setengah jam durasinya, gw sempat melupakan bahwa ini film aji mumpung karena ceritanya disampaikan cukup lancar dan punya sebab akibat yang bolehlah. Well, gw jadi inget lagi sih kalo ini aji mumpung setiap kali lihat Aurel berakting =P, but seriously, kalau kamu bisa menikmati FTV-FTV asal-jadi-yang-penting-tayang di televisi, Romantini ini sedikit lebih baik.

Kesan film "betulan" pun semakin kuat terpancar lewat pemilihan aktor Dwi Sasono dan Mario Irwinsyah. Dwi Sasono sebagai Rahman berhasil meluapkan emosi labilnya dengan baik, dan punya chemistry yang cukup oke dengan Ashanty. Sedangkan Mario sukses lancar jaya berperan sebagai waria sahabat Kartini bernama tante Youyoun secara serius tanpa terkesan komikal, bener-bener seperti wanita dalam tubuh pria, nggak main-main. Menurut gw, kalau filmnya cuma asik aja yang penting jadi, nggak mungkin dua peran ini digarap serius. Dan bahkan, surprisingly, Ashanty sebagai pemeran utama mampu berakting dengan baik, lebih dari sekadar passable. Mungkin dibanding Aurel, Ashanty memang lebih pengalaman karena pernah main iklan dan sebagainya, tetapi gw cukup terkesan aja bahwa she can act even better than her singing. Oh iya, ada mas Anang juga di sini sebagai artis/produser bernama Anang. Go figure.

So, secara keseluruhan produksi, Romantini ini bisa dibilang tidak memalukan sekalipun faktanya "hanya" sebuah aji mumpung, bahkan keseriusan penggarapannya pun layak dihargai. Jika saja promosinya benar, pasti ada saja pasar untuk film drama keluarga berbumbu komedi ini. Tapi buat gw, problemnya yang dimiki film ini nggak kecil juga. Dengan segala ke-standar-annya, bagi gw keseluruhan film ini seperti sebuah babak latar belakang yang arah plotnya baru kelihatan di akhiiir banget, sehingga ketika filmnya berakhir dengan *tentu saja* sebuah panggung nyanyian, gw cuma bisa berpendapat, "Udah? Terus..?". Meskipun klimaksnya cukup eventful, masih terlalu banyak pertanyaan yang mengganjal, kayak perjalanan keluarga ini baru separoh saja. Untung saja beberapa gag lawakan yang ditampilkan cukup menghibur, sehingga apa yang mengganjal bisa dicuekin aja. Yeah, gag bahwa Pelangi nggak kenal artis bernama Anang juga lumayan bisa bikin nyengir sinis. Yang penting 'kan udah liat Anang-Ashanty-Aurel akting =P.




My score: 6/10

3 komentar:

  1. Ashanti akting nya lumayan cuman blom bisa ngimbangi aktor2 laennya jadi kayak nya feelnya gak ada..Trus aku heran si Aurel nih dia ini lagi ngapain ya?!maen film ato kebingungan seh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan gitu, ada bapaknya lho =D

      Hapus
  2. Itu yg jadi bos cafe ashanty sapa min....asing kyaknya tpi cocok sih klo akting ma ashanty yg bahenoll sexyy

    BalasHapus