Rabu, 04 September 2013

[Movie] Cinta/Mati (2013)


Cinta/Mati
(2013 - Shooting Star)

Directed by Ody C. Harahap
Written by Ody C. Harahap, Akbar Maraputra
Produced by Ody C. Harahap, A. Radityo Wibowo, Padri Nadeak
Cast: Vino G. Bastian, Astrid Tiar, Dion Wiyoko


Sebelum menonton, gw agak raba-raba dengan apa yang mau ditawarkan film Cinta/Mati ini. Dari premisnya tampak mendayu-dayu, tapi posternya yang berbentuk grafis digital tampak seperti thriller. Tetapi ternyata, Cinta/Mati lebih kepada (mungkin) dark comedy, tema yang kelam tetapi dipandang dari sisi lucu-lucunya. Tema utama yang diangkat adalah bunuh diri. Yes, kita tahu bunuh diri itu kerap terkait dengan dosa, egois, gegabah, gangguan jiwa dan sebagainya. Namun, Ody C. Harahap ingin mengangkat secara ringan saja, mau bunuh diri tapi dengan motivasi yang—menurut orang yang nggak mengalami—tidaklah cukup untuk mengakhiri hidup, jadinya lucu.

Acid (Astrid Tiar) mengalami hancur hati setelah menangkap basah calon suaminya (Dion Wiyoko) bersanggama dengan wanita lain. Acid kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidup di jembatan di atas sungai, tapi karena caranya antara lompat-nggak-lompat-nggak, malah nyangkut dan gagal. Sampai akhirnya Acid ditemukan Jaya (Vino G. Bastian) dan mengangkatnya kembali ke atas jembatan dengan selamat. Tapi Acid menganggap Jaya bertanggung jawab atas gagalnya usaha bunuh dirinya, sehingga menuntut ganti rugi berupa mencari ide bunuh diri paling mujarab buat Acid. Jaya akhirnya mengiyakan dengan imbalan seluruh uang yang ada di rekening Acid yang mencapai ratusan juta rupiah *horangkayah*. Yang tadinya bisa selesai cepat malah berkembang jadi pengalaman semalaman, Acid dan Jaya perlahan jadi saling kenal dan terbuka satu dengan yang lain...ya itu juga karena Acid mau bunuh diri aja banyak syarat, nggak mau inilah takut itulah dan seterusnya. Tinggal kita ikuti apakah kedekatan Acid dan Jaya yang singkat ini akan membangkitkan semangat hidup atau malah tambah pengen mati.

Menurut gw film Cinta/Mati adalah semacam "olok-olok" terhadap bunuh diri, khususnya di kalangan muda-mudi labil, di sini diwakili Acid si anak tunggal manja yang moody dan Jaya si anak band yang sok asik. Bisa dibilang poin utama film ini digerakkan pada ide "gitu aja mau bunuh diri?", karena motivasinya adalah yang satu pengkhianatan cinta, satunya lagi *kalo kata dr. Boyke* EDi TanSil. Mungkin dari sudut pandang orang-orang yang mengalami dan tidak punya pegangan lain selain perihal pacar dan syahwat, hal ini harga mati, bila hilang maka apalah artinya hidup. Kedua hal ini ada solusinya selain bunuh diri, dan gw akan enak aja bilang bahwa ini masalah pengetahuan saja, toh dunia nggak sebatas itu dan anu doang kok. Bukan hal remeh memang, tapi ya nggak sebandinglah sama harga sebuah nyawa. Tapi ya namanya anak-anak labil, mungkin belum tahu sampai sejauh itu.

Jika memandang dari sudut itu, maka Cinta/Mati termasuk sajian yang berhasil mencapai tujuannya. Film ini jatuhnya tidak terlalu serius walaupun atmosfernya—terutama visualnya—seperti tidak berusaha melucu. Bagaimana diperlihatkan metode-metode bunuh diri yang dicoba Acid dan Jaya adalah bagian-bagian terbaik, yang paling kena sasaran dari film ini, yaitu hal yang tragis dan mengerikan bisa menimbulkan efek lucu—walau getir. Sayang nggak semua bagian film ini sekuat itu. Gw kurang sreg sama beberapa adegan yang berusaha banget melawak, juga pada penyampaian flashback yang sinetron-ish sekali. Bagian sepertiga akhir film ini—yang berfokus pada Jaya—juga berisi kekonyolan yang terlalu "kenapa harus gitu sih?", tetapi mungkin itu termasuk dalam rangka tema utama "motivasi bunuh diri yang konyol" dari film ini, so yah okelah, walau nggak terlalu enak juga disaksikannya. 

Akan tetapi, menurut gw, secara keseluruhan Cinta/Mati adalah sebuah karya yang cukup lain dari yang lain. Alurnya berjalan hanya lewat dialog—yang disertai kata-kata jorok—dan interaksi Acid dan Jaya saja, yang dimainkan dengan baik oleh Astrid Tiar dan dengan lumayanlah oleh Vino G. Bastian. Suasana kelam tapi unsur lucunya tetap bisa tersaji dengan baik. Sedikitnya gw memang bisa tertawa menyaksikan film ini di banyak bagian, termasuk di final scene-nya yang seperti menebus kelemahan-kelemahan yang ada sebelumnya—dan mungkin bagi sudut pandang tertentu meluluskan bahwa film ini "bermoral", Hidayah-style =). Yah, di luar akting oke, konsep cerita bagus, dan juga tata sinematografi yang diam-diam keren (adegan di puncak mercusuar dan Jaya nyundut kaca loket kereta itu shot favorit gw), ada sajalah kelemahan-kelemahannya. Tetapi buat gw pada akhirnya film ini bisa menghibur dan nggak cuma numpang lewat, karena temanya yang cukup berbeda tadi. Nah, permasalahannya sekarang, gimana cara membaca judul "cinta-garis-miring-mati" ini sebenarnya?




My score: 7/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar