Senin, 24 Juni 2013

[Movie] World War Z (2013)


World War Z
(2013 - Paramount)

Directed by Marc Forster
Screenplay by Matthew Michael Carnahan, Drew Goddard, Damon Lindelof
Screen story by Matthew Michael Carnahan, J. Michael Straczynski
Based on the novel by Max Brooks
Produced by Brad Pitt, Dede Gardner, Ian Bryce, Jeremy Kleiner
Cast: Brad Pitt, Mireille Enos, Daniella Kertesz, James Badge Dale, Ludi Boeken, Fana Mokoena, Elyes Gabel, David Morse, Matthew Fox


Setelah konon katanya melewati proses produksi yang nggak kelar-kelar sejak 2011 akibat perubahan naskah dan syuting ulang hingga biayanya membengkak dan rilisnya ditunda, film bertema disaster yang melibatkan zombie dan Brad Pitt, World War Z akhirnya brojol juga di layar bioskop. Tidak ada hubungannya sama Dragon Ball Z, World War Z ini digambarkan sebagai film teror mayat hidup tingkat global yang menjanjikan thrill dan juga aksi fantastik. Film ini mengikuti Gerry Lane (Brad Pitt) dari encounter pertamanya dengan "wabah" zombie yang cepat sekali menular—dan lagian zombie-nya bisa lari kenceng banget, damn—di kota Philadelphia, memaksanya untuk melarikan istri (Mireille Enos) dan kedua putrinya (Sterling Jerins, Abigail Hargrove) menuju tempat aman. Pertolongan datang dari mantan atasannya, pejabat PBB Thierry (Fana Mokoena) yang bersedia membawanya mengungsi ke pusat kendali PBB di lepas pantai, namun dengan syarat Gerry bersedia bertugas menyelidiki sebab-musabab dan cara mengatasi "wabah" ini, sekalipun harus mendatangi wilayah-wilayah dunia yang paling berbahaya.

Dalam durasi dua jam kurang dikit, World War Z menyampaikan beberapa sisi tontonan yang memikat. Pendekatan yang lebih ke bencana dan dampaknya pada masyarakat—yang membuat gw yang nggak suka horor ini tertarik menontonnya—digambarkan cukup baik, walaupun disampaikan serba genting dan tidak terlalu detil. Beda kalau dibandingkan dengan Contagion yang punya penggambaran bencana dan chaos serupa tapi lebih detil. Ada juga segi petualangannya, karena penyelidikan Gerry mengharuskan pergi dari Philadelphia ke proyek rumah susun di New Jersey, lalu ke pangkalan militer Amerika di Korea, wilayah yang menurut media kapitalis disebut sebagai Israel, hingga dataran sendu di Wales, UK. Tentu saja tiap tempat musti ada insiden, biar seru. Zombie-nya yang di sini digambarkan dapat menjangkit hanya dalam hitungan detik sampai menit saja, dan setelah jadi zombie mereka langsung menyerang setiap manusia yang ada di hadapannya bahkan kalau perlu headbang mecahin kaca, dan juga lari sekencang-kencangnya. Gw gak bisa mengungkap banyak-banyak perihal zombie ini selain cara melawan/mengatasinya tidak mudah. Bukan cuma karena bakal spoil bagi yang belum nonton, film ini sendiri emang ceritanya baru langkah pertama gitu deh, jadi belum ada penjelasan yang utuh dan lengkap...ya baru segitu doang. Semoga saja sekuelnya jadi dibuat lah *walaupun penasara-penasaran banget juga enggak sih*.

Penyatuan beberapa unsur tadi, ditambah sedikit politik, cukup mulus dan disampaikan dalam pace yang oke, bikin tegang degdegan seperlunya, apalagi dihiasi adegan-adegan spektakuler dari zombie-zombie itu lewat bantuan efek animasi CGI yang seru. Jika ada hal yang kurang, maka itu terdapat pada karakterisasinya yang kurang mendalam, dan untuk tokoh selain Gerry, durasinya terbatas sekali. Aktingnya bagus-bagus, khususnya Mireille Enos yang natural sekali, tapi emosinya kurang bisa terhubung dengan gw, mungkin karena momen-momen emosionalnya sedikit akibat penceritaan yang cepat dan genting itu tadi. Matthew Fox bahkan nggak dikasih dialog panjang ataupun close-up lho *kasian*. Tapi gak masalah lah, asalkan sudah dibangun, nggak tiba-tiba begini dan begitu, porsi karakternya termasuk cukup untuk film seperti ini. Anggap saja filmnya memang konsen ke plot daripada karakter *yaokelah*.

World War Z adalah sebuah tontonan yang seru, tegang-tegang menyenangkan gitu. Ramuan kisah bencana globalnya dibuat dengan logis, penyampaian dari sutradara asal Swiss-Jerman Marc Forster pun terbilang baik dengan berbagai kelengkapan teknis (tata artistik, makeup, sinematografi, suara, efek khusus dan visual) dan aktor-aktor yang memadai. Setidaknya Forster nggak kebelet memecahkan semua kaca beling yang dia punya seperti yang dilakukannya di 007 Quantum of Solace =p. Hanya saja film ini masih belum bisa dikatakan solid dan kurang ugh. Misalnya, film ini tidak terlalu vulgar mempertontonkan horornya, supaya bisa diberi rating remaja (di Amerika), padahal kayaknya bakal lebih nendang seandainya lebih berdarah-darah. Juga, kurang solidnya tone 2/3 awal dengan bagian akhirnya. Ketika bagian awalnya begitu kolosal dan resah, bagian akhirnya begitu minimalis, nyaris seperti nonton dua film berbeda. Faktor perombakan naskah mungkin bisa menjelaskan itu (konon bagian terakhir itu tambahan yang baru syuting di akhir tahun lalu setelah syuting keseluruhannya udah rampung). Namun, secara garis besar sih tidak terlalu melenceng, tetep nyambung sama gagasan besarnya, toh bagian akhirnya juga cukup seru bagaikan film-film horor zombie pada umumnya *ini agak sotoy sih*, meski yah jadi nggak semenggelegar yang diharapkan.

Terlepas dari kenanggungannya, juga disertai kekecewaan gw gak bisa melihat kinerja sinematografi Robert Richardson di sebuah film blockbuster karena beliau mundur di tengah produksimungkin karena produksinya kelamaan tadi, walaupun sepertinya film ini masih menyisakan beberapa shot buatannya, gw masih bisa menikmati World War Z secara keseluruhan. It's good kok. Penggabungan genre bencana dan horor zombie yang cukup asyik, nggak serba ledak dan ancur-ancuran semata, mudah diikuti, dan, somehow, nyaman disaksikan. Tipe film yang bakal oke untuk ditonton ulang kalau ada waktu luang.




My score: 7,5/10

2 komentar:

  1. "jadi nggak semenggelegar yang diharapkan." : Ini film serba nanggung. Actionnya nanggung. Horrornya nanggung. Thrillnya nanggung. Endingnya juga nanggung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo ending nanggung sih mungkin supaya bisa bersekuel. tapi overall okelah untuk instalmen pertama.

      Hapus