Kamis, 29 November 2012

[Movie] Rise of the Guardians (2012)


Rise of the Guardians
(2012 - DreamWorks Animation/Paramount)

Directed by Peter Ramsey
Screenplay by David Lindsay-Abaire
Based on the book "The Guardians of Childhood" by William Joyce
and the short film The Man in the Moon by William Joyce
Produced by Christina Steinberg, Nancy Bernstein
Cast: Chris Pine, Alec Baldwin, Jude Law, Hugh Jackman, Isla Fisher, Dakota Goyo


Meski mengesankan diri sebagai bangsa rasional dan scientific, nyatanya bangsa Eropa-Amerika atau secara dikotomi orientalis *uhuk*keselek* biasa kita sebut "orang Barat" tak juga lepas dari mitos-mitos, terutama yang mereka tanamkan pada anak-anak. Mitos-mitos ini dipakai biasanya agar lebih mudah mengajar anak-anak untuk bertingkah lebih baik. Di Indonesia, mitos bule yang paling dikenal mungkin tentang Sinterklas (dari bahasa Belanda) atau Santa Claus (versi Coca-Cola), yang konon secara diam-diam memberi kado pada anak-anak berkelakuan baik di malam Natal. Rupanya masih banyak tokoh mitos lain budaya sana yang tidak terlalu populer di kita, yakni Easter Bunny/Kelinci Paskah yang menyembunyikan telur-telur untuk ditemukan anak-anak pada perayaan Paskah (biar mereka cari sendiri, nggak nanya sama orang tua dimana letak telur-telurnya, meski tentu saja sebenarnya orang tua itulah yang menyembunyikannya), Peri Gigi yang menukar gigi susu yang copot dengan duit, Sandman yang memberikan mimpi indah di kala tidur, peri es Jack Frost yang menimbulkan bunga es di kaca jendela dan..err..di mana-mana, serta Boogeyman yang bersembunyi di bawah ranjang dan akan mencelakai anak-anak bila mereka bertingkah nakal.

Ilustrator/pengarang buku/filmmaker William Joyce membuat keajaiban tokoh-tokoh mitos ini menjadi lebih semarak dengan menggabungkan mereka semua dalam satu cerita, Rise of the Guardians, yang kini diangkat ke dalam film animasi panjang oleh DreamWorks. Yang selama ini dipercayai sebagai pemberi upah bagi anak-anak ternyata juga pasukan pelindung anak-anak, The Guardians. Yang biasa kita kenal sebagai Sinterklas sekarang dipanggil North (Alec Baldwin), si Kelinci Paskah punya nama E. Aster Bunnymund (Hugh Jackman), Peri Gigi namanya Tooth (Isla Fisher), dan Sandman dipanggil akrab sebagai Sandy (yang nggak bisa ngomong). Mereka kini menghadapi masalah dengan bangkitnya Pitch a.k.a. Boogeyman (Jude Law) dan bertujuan menghancurkan kepercayaan dan harapan anak-anak, untuk kemudian menimbulkan ketakutan dan keputusasaan. The Guardians kemudian mendapatkan perintah dari "bos" yang dipanggil Man in the Moon untuk merekrut satu orang pelindung lagi, Jack Frost (Chris Pine) demi mencegah ulah Pitch. Jack Frost yang "muda" dan bimbang ini tidak begitu saja mau gabung di Guardians, namun keadaan mendesaknya untuk melawan Pitch dan membela anak-anak dunia.

Film Rise of the Guardians mungkin terdengar seperti khusus disajikan bagi anak-anak, namun sebenarnya banyak pula nilai-nilai yang bisa dinikmati orang dewasa. Film ini lebih menitikberatkan pada Jack Frost yang mengalami semacam krisis berkepanjangan, karena ia merasa tidak menemukan makna dan tujuan dari diciptakan dan ditunjuknya dia sebagaimana adanya sekarang—bisa bikin es dan salju dengan tongkat, bisa terbang bersama angin, tetapi nggak bisa dilihat oleh seorang pun manusia (beda dengan North dkk yang harus sembunyi-sembunyi biar nggak kelihatan oleh manusia). Ia tetap memberikan keceriaan musim salju, namanya pun kerap disebut sebagai "kiasan", tetapi tak seorang pun yang megakui keberadaannya, atau bahkan sekadar menggambarkan sosoknya seperti apa. Kasian ye. Jadi tak hanya sekadar film fantasi petualangan yang dipenuhi adegan-adegan seru, Rise of the Guardians juga menampilkan sisi humanis lewat tema pencarian jati diri melalui tokoh Jack Frost. Beruntung, bagian ini dimanfaatkan dengan baik dalam plot sehingga Rise of the Guardians punya intrik yang cukup menarik dan nggak gampangan, serta cukup emosional.

Namun, patut disayangkan sebenarnya, dengan potensi cerita yang mumpuni itu, Rise of The Guardians tampak "panik" dalam menyelesaikan kisahnya, terutama di third-act/klimaks yang bisa dibilang not intense enough dalam laju yang cepat itu. Tapi itu nggak terlalu masalah, selama kecanggihan dan keindahan visual disajikan dengan spektakuler di layar. Perpaduan warna dan efek visualnya terlihat padu dan nyaman dipandang, gerakan animasinya halus (terutama di bagian mata), ditambah lagi tata suara yang yahud dan iringan musik yang bermelodi indah. Salah satu adegan favorit gw adalah ketika Jack Frost membekukan pasir hitam Pitch di udara, keren sangat. Desain karakter maupun ruangnya pun tidak biasa-biasa. Kapan lagi kita bisa melihat Sinterklas seperti North yang bertato dan lebih mirip prajurit Mongol, atau Kelinci Paskah yang bersenjatakan bumerang. Gw sendiri paling suka karakterisasi Sandy yang senantiasa membawa suasana ceria, dan kemampuan yang dimilikinya untuk mengendalikan debu mimpi berwarna keemasan pun sangat exciting. Gw juga sangat tertarik dengan desain istana Peri Gigi yang mewah, dan markas gelap Pitch yang kompleks. Adanya nama Guillermo del Toro dalam jajaran produser eksekutif mungkin memengaruhi keindahan unik desainnya...eh ada juga nama sinematografer Roger Deakins sebagai konsultan visual, wah good job lah pokoknya.

Rise of the Guardians adalah sajian menarik yang begitu menghibur dengan segala kelengkapan teknis audio visual, humor yang oke, serta jalan cerita yang dinamis, sedinamis adegan-adegan terbang dan berlari yang cukup banyak ditampilkan di sini. Lajunya yang terbilang cepat mungkin membuatnya jadi kurang deep secara emosional, namun setidaknya nilai-nilai hiburan tak kacangan yang dihadirkan sanggup membuat gw tetap terjaga untuk mengikuti film ini hingga akhir. Dan setidaknya pula, amanah agar semua orang berani melawan ketakutan dengan harapan dan sukacita disampaikan dengan cukup jelas. Sebuah representasi keheranan (wonder) yang indah dan juga seru.




My score: 7,5/10

Selasa, 27 November 2012

Nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia 2012

And here we go again, rangkaian perhelatan tahunan Festival Film Indonesia kembali digelar. Dan seperti tahun-tahun belakangan, selalu bakalan ada "sesuatu" yang patut dibicarakan mengenai ajang apresiasi paling tua dan *uhuk* bergengsi bagi perfilman nasional ini, entah itu sesuatu yang menggembirakan ataupun (mostly) sesuatu yang mengherankan. 

Setidaknya itulah yang tampak dari daftar nominasi Piala Citra yang diumumkan pada 26 November 2012 kemarin di bioskop Metropole XXI Jakarta, yang juga disiarkan secara live streaming di festivalfilmindonesia.com. Mungkin ini terjadi karena sistem penjurian yang kembali ke asal, terlepas dari percobaan FFI 2011 lalu yang sudah melakukan terobosan sistem yang cukup fair. Maksudnya, kali ini kembali film-film yang dinilai dewan juri jumlahnya hanya sekian yang lolos seleksi awal. Ya nggak apa-apa sih, cuma sayang aja, sebab kelemahan sistem ini adalah film yang hanya punya 1-2 unsur menonjol tapi nggak lolos seleksi jadi nggak punya kesempatan. O well, setidaknya tahun ini jumlah anggota dewan juri Piala Citra khusus film bioskop bertambah jadi 15 orang, karena sebelumnya nggak pernah lebih dari 10 orang, mudah-mudahan jadi lebih objektif (or not). We'll see.


Kembali ke nominasi Piala Citra, ada semacam peningkatan buat gw pribadi karena dari film-film yang dapat nominasi, gw (hingga postingan ini dipublikasikan) hanya belum menonton 2 judul film, yang memang baru akan beredar di bioskop. Tapi gw tetap heran dan kecewa, film-film yang gw anggap paling bagus dan paling layak dapat apresiasi lebih malah dikasih sedikit sekali nominasi, semisal Rayya Cahaya di Atas Cahaya, Cita-Citaku Setinggi Tanah, dan terutama Mata Tertutup yang thought-provoking itu. Aargh! Well, 'kan itu selera gw *masih nggak rela*, yah mungkin dewan juri yang sekarang punya pertimbangan berbeda dari gw yang nggak tau apa-apa ini, dan ini semakin terlihat jelas dengan segitu cintanya mereka pada film Rumah di Seribu Ombak yang bagi gw malah yang terlemah dari semua film Indonesia yang udah gw tonton tahun ini. Ck.

Namun demikian, marilah kita menantikan kiprah insan perfilman Indonesia dalam Piala Citra FFI 2012.  Kita sudah tahu bahwa pemenang Piala Citra sangat tidak mudah ditebak, kita hanya bisa berharap semoga yang layak yang akan mendapat. Acara penganugerahan Piala Citra akan dilaksanakan di Benteng Vrederburg, Yogyakarta pada 8 Desember 2012, jamnya nggak tau (yang pasti malem), disiarkan langsung oleh SCTV...yea, I know, but at least bukan RCTI =p.

Berikut nominasi untuk Piala Citra FFI 2012 (dari berbagai sumber):



Sabtu, 24 November 2012

My J-Pop 43

Tak ingin berlama-lama, akhirnya menetas juga kompilasi/rekomendasi lagu-lagu J-Pop terkini dan ter-oke versi gw, yang kali ini masuk ke volume 43. My J-Pop edisi kali ini diramaikan dengan comeback beberapa artis favorit gw, dalam arti artis-artis lama yang kembali menelurkan lagu yang oke punya, seperti ASIAN KUNG-FU GENERATION yang merilis salah satu lagu terbaik sepanjang karir mereka, lalu Do As Infinity juga rupanya menemukan vibe mereka kembali dengan rilisan ternyarnya, dan ada rapper SEAMO yang akhirnya keluarin lagu enak dengan kolaborasi bersama band rock SPYAIR


Ada single terbaru FUKUMIMI, grup rombongan artis-artis dari manajemen Office Augusta yang kali ini beranggotakan Kyoko, Masayoshi Yamazaki, Chitose Hajime, COIL, Sukima Switch, drummer Yuko Araki, Tomoyuki Nagasawa, Hata Motohiro dan Yu Sakai. Eh, gw masukin juga single masing-masing dari Sukima Switch dan Hata Motohiro di sini. Sedangkan yang baru ada singer-songwriter cewek Rihwa yang lagunya asik, duo akustik cewek-cowok bernama Mitsu, serta vokalis sendu Aimer. So, semoga lagu-lagu berikut bisa jadi rekomendasi yang bermanfaat buat Anda. Dan selalu ingat: kalau mau lagunya, cari sendiri ya...


My J-Pop vol. 43

1. ASIAN KUNG-FU GENERATION - それでは、また明日 (Sore dewa, mata ashita)
2. 高橋 優 - 陽はまた昇る (Yu Takahashi - Hi wa mata noboru)
3. 木村カエラ (Kaela Kimura) - Sun shower
4. Rihwa - CHANGE
5. サカナクション - 夜の踊り子 (sakanaction - Yoru no odori-ko)
6. Do As Infinity - ヨアケハチカイ (Yoake wa chikai)
7. 秦 基博 (Hata Motohiro) - Dear Mr. Tomorrow
8. Superfly - Force
9. スキマスイッチ - ラストシーン (Sukima Switch - Last Scene)
10. アンジェラ・アキ - 告白 (Angela Aki - Kokuhaku)
11. THE BACK HORN - ラピスラズリ (Lapis Lazuli)
12. LOVE PSYCHEDELICO - Beautiful World
13. back number - わたがし (Watagashi)
14. - パープルスカイ (Mitsu - Purple Sky)
15. 東京事変 - ただならぬ関係 (Tokyo Incidents/Tokyo Jihen - Tada naranu kankei)
16. Aimer - Re:pray
17. SEAMO×SPYAIR - Rock This Way
18. 福耳 (FUKUMIMI) - LOVE & LIVE LETTER


Previews of most recommended songs

ASIAN KUNG-FU GENERATION - Sore dewa, mata ashita



Kaela Kimura - Sun shower



Rihwa - CHANGE



Do As Infinity - Yoake wa chikai



Hata Motohiro - Dear Mr. Tomorrow



Superfly - Force



FUKUMIMI - LOVE & LIVE LETTER

Rabu, 21 November 2012

[Movie] Seven Psychopaths (2012)


Seven Psychopaths
(2012 - Film4/BFI/CBS Films)

Written and Directed by Martin McDonagh
Produced by Martin McDonagh, Graham Broadbent, Peter Czernin
Cast: Colin Farrell, Sam Rockwell, Christopher Walken, Woody Harrelson, Tom Waits, Abbie Cornish, Olga Kurylenko, Zeljko Ivanek, Linda Bright Clay, Long Nguyen, Michael Pitt, Michael Stuhlbarg, Gabourey Sidibe, Bonny the ShihTzu


Baiklah, Seven Psychopaths adalah salah satu film yang sulit untuk gw tulis ulasannya. Film karya Martin McDonagh, yang sebelumnya mendapat pujian kritikus lewat film In Bruges (2008) ini punya berbagai lapisan konflik dan banyak karakter. Daya tarik film ini tentu saja hadirnya banyak aktor yang cukup well-known ngumpul, mulai dari Colin Farrell sampai Christopher Walken hingga Olga Kurylenko, dan mengundang penasaran apakah aktor-aktor inikah yang disebut tujuh psikopat itu. Well, gw bahkan kesulitan untuk mendeskripsikan film ini. Gimana ya? Hmm, mungkin itu juga yang jadi kebingungan McDonagh yang akhirnya ia tuangkan jadi skenario film ini. Lho?

Bisa dong gw berasumsi begitu. Penggerak plot film ini adalah Martin (!) (Colin Farrell), seorang penulis naskah film (!!) di Hollywood yang sedang mengembangkan naskah berjudul "Seven Psychopaths" (!!!)...tapi bener-bener baru judulnya aja, gak ada isinya. Sahabat(?)-nya, Billy (Sam Rockwell) kerap kali melontarkan ide beberapa tokoh psikopat yang dapat dijadikan referensi Martin, termasuk yang sedang terjadi di dunia nyata, seorang pembunuh berantai yang dijuluki Jack O'Diamonds yang gemar membunuhi anggota mafia sambil meninggalkan kartu Jack wajik. Di lain pihak, Billy sendiri kerja bareng dengan Hans (Christopher Walken) yang sehari-hari menculik anjing lalu dikembalikan pada pemiliknya agar dikira nemu terus dikasih duit deh. Suatu kali, Billy menculik anjing bernama Bonny (Bonny the ShihTzu, ini namanya di IMDB), yang ternyata kepunyaan dari seorang bos mafia, Charlie (Woody Harrelson), yang amat sangat tidak terima anjingnya hilang bahkan tak segan membahayakan nyawa orang-orang sekitarnya demi ditemukan anjing cilik kesayangannya itu. Singkat kata, "kesalahan" Billy dan Hans ini menyeret Martin yang tentu semakin stres setelah ditinggal pacarnya (Abbie Cornish) dan harus menyelesaikan naskah filmnya...but hey, setidaknya ia punya kesempatan ketemu psikopat betulan.

Entah memang gayanya begini, atau supaya filmnya lebih exciting, McDonagh memilih untuk membumbui filmnya dengan banyak subplot yang ketika disaksikan seperti ngalor ngidul, seakan berpisah jauh dari tokoh Martin yang seharusnya (menurut gw) tokoh utama, tapi pada akhirnya memang semua jadi terkait, in full circle. Setiap pertanyaan yang muncul dalam benak gw selama film berjalan (misalnya "eh, si ini ke mana, atau si anu gimana nasibnya?") pasti terjawab dengan caranya sendiri. Cara penyampaiannya pun unik, di sela-sela "petualangan" 3 orang aneh itu, kadang kita melihat visualisasi tokoh-tokoh psikopat yang ditulis Martin (atau malah kisah asli yang jadi referensinya), jadi seakan kita melihat film di dalam film. Terus pada sepertiga akhir film ini juga film ini seperti berbelok dari kebiasaan film kriminal, yang cukup mengejutkan tetapi juga cerdik dan self-concious, seakan si tokoh-tokoh dalam film ini ingin menentukan nasibnya sendiri. Memang harus diakui, dengan banyaknya lapisan plot dan tokoh yang harus diceritakan, McDonagh dapat menyampaikan semuanya itu dengan rapi, jelas dan terekam kuat, intensitas adegan-adegan yang ditatanya serta kemunculan tokoh-tokohnya terbilang wahid. Lajunya tidak cepat, tidak juga kelewat lambat, namun hebatnya tetap membuat gw penasaran untuk ikut terus. Tapi yah itu, jadinya hampir nggak ketangkep inti film ini apa, hehe.

Seven Psychopaths bisa dibilang sebuah black comedy, yang artinya kira-kira film ini punya kekelaman plot (dan memang betul berisi kejahatan dan adegan-adegan berdarah) tetapi disampaikan dengan santai dan memunculkan tokoh-tokoh yang absurd. Dalam banyak bagian, film ini memang sukses melontarkan kelucuan-kelucuan getir, ini terutama dari tingkah laku dan dialog tokoh-tokohnya, tapi situasinya tetap saja cukup mencekam, ada ancaman dan tebasan senjata menanti. Para aktornya tampil sangat baik, meskipun bagi gw semuanya terlibas oleh performa-selalu-nggak-setengah-setengah-di-film-apa-pun dari Christopher Walken, sakti banget nih orang. Penampilan gemilang para aktornya mungkin bagian yang paling mudah dinikmati dari film ini. Penuturannya yang tak terlalu lazim akan terasa...err...nggak lazim, tapi toh cukup asyik juga diikutinnya. Asyiknya tuh gw nggak bisa menebak film ini arahnya ke mana, karena segala sesuatu disembunyikan dan diungkapkan dengan sedemikian rapi dan cerdik-cendekia. Ke-unpredictable-an film ini pun jadi nilai plus, setidaknya McDonagh berhasil di bagian ini. Tapi lagi, kalau dibilang film ini ganjil ya memang ganjil. Susah deskripsiinnya, susah juga untuk bilang apakah gw suka atau enggak, menikmati atau enggak. Entahlah, meski filmnya sendiri sudah terselesaikan, gw masih bingung apa pokok pikiran yang ingin disampaikannya. Jadi kalau Anda merasa ulasan ini rada nggak jelas, itu adalah cerminan respon saya terhadap film ini. O, well... ^_^;



My score: 7/10

Sabtu, 17 November 2012

My Top 007 James Bond Title Songs (so far)

Dr. No, film pertama yang menampilkan agen rahasia rekaan asal Inggris berkode 007, James Bond, dirilis pada tahun 1962. Artinya, tahun 2012 menandakan sudah 50 tahun Bond beredar di layar bioskop dunia. Kalau menghitung film teranyarnya yang baru saja dirilis, Skyfall, sudah ada 23 judul (resmi) filmnya. Tua juga ya =D. Bersama dengan sedemikian banyaknya petualangan yang dialami Bond, baik petualangan laga maupun petualangan..err..cinta, film-film Bond senantiasa mempertahankan beberapa tradisi. Selain dalam isi filmnya sendiri, film-film produksi Eon Productions ini juga punya tradisi selalu menampilkan title sequence, adegan pembuka seperti yang biasa kita saksikan di serial televisi, bersama dengan lagu temanya. Mostly, selain judul dan kredit pemain dan kru, title sequence film Bond dihiasi dengan pistol dan figur wanita tanpa busana, tapi kita nggak bahas itu...masih inget judul postingan ini 'kan? Hehe.


Seperti gw ungkapkan dalam ulasan Skyfall, gw merasa tidak nge-fan sama James Bond. Hanya penikmat saja, pun katalog film Bond yang pernah gw tonton masih sedikit. Tapi sejak ngeklik tautan artikel Empire Online yang membahas tentang ke-23 title songs James Bond, yaitu lagu yang mengiringi title sequence utama (terima kasih kepada yang sudah me-retweet-nya di timeline saya =)), gw jadi tertarik banget sama persoalan lagu tema ini. Gw coba beberapa kali mendengar 22 lagu tema Bond (karena di Dr. No nggak ada lagu tema berlirik) yang banyak di antaranya dibawakan oleh artis-artis ternama ini, hingga akhirnya gw pun dapat menarik mana saja yang jadi favorit gw, dan yang jadi favorit itu akan gw share di sini. 

Nah, yang perlu gw tekankan di sini, kriteria favorit gw tidak bergantung pada relevansi dengan filmnya, you know, karena gw belum nonton film-film Bond seluruhnya. Just the songs. Pilihan gw ini pure pada pendengaran, dan pastinya sesuai dengan selera gw yang masih belia ini =P. Mungkin bagi fans Bond, lagu-lagu dalam senarai nanti akan wacky bahkan outrageous, karena mengandung sedikit sekali lagu-lagu yang kerap dianggap klasik (Goldfinger atau Thunderball). Yeah like I care, gw memilih yang memang gw sukai secara personal, yang gw dapat terus dengarkan kapan saja meskipun tidak sedang dalam hype perilisan film Bond.

Berikut adalah lagu-lagu tema, atau theme songs, atau title songs favorit gw dari film-film James Bond. Dalam urutan mundur, ada 7 butir lagu. Kenapa 7? Umm, kasih tau gak ya....

Senin, 12 November 2012

[Movie] Wreck-It Ralph (2012)


Wreck-It Ralph
(2012 - Disney)

Directed by Rich Moore
Story by Rich Moore, Phil Johnston, Jim Reardon
Screenplay by Phil Johnston, Jennifer Lee
Produced by Clark Spencer
Cast: John C. Reilly, Sarah Silverman, Jack McBrayer, Jane Lynch, Alan Tudyk, Mindy Kaling, Ed O'Neill, Dennis Haysbert, Rich Moore, Adam Carolla, Horatio Sanz


Dekade 2000-2009 lalu studio animasi Disney yang punya sejarah luar biasa itu seperti terhempas ke tepian ketika studio-studio animasi lainnya, seperti Pixar (satu induk tapi beda perusahaan) dan terutama DreamWorks berjaya. Bukan masalah teknik animasi dan sebagainya, tetapi Disney saat itu tampak ketinggalan dari segi ide dan kreativitas yang terlihat semenjana jika dibandingkan dengan Shrek atau film-film Pixar. Tapi kini kita sudah pindah dasawarsa, studio-studio "lain" itu lebih senang berkutat pada sekuel demi sekuel, sedangkan Disney seperti mendapatkan "comeback" lewat Wreck-It Ralph. Gw harus langsung menyebut judulnya, karena inilah karya Disney yang paling patut dibanggakan setelah beberapa tahun belakangan. Film ini lulus dari segi ide, konsep, kreativitas, penceritaan, eksekusi bahkan teknik, tanpa meninggalkan jiwa Disney yang selalu berusaha memberi inspirasi untuk seluruh keluarga. Patut ditonton, dan patut laku.

Film Wreck-It Ralph berlatar kehidupan di balik layar arcade game centre atau ding-dong, secara harfiah. Jadi, setiap kali sebuah tempat ding-dong bernama Litwak's Arcade ini tutup (ding-dongnya kecil sih, bukan seukuran Timezone/Amazone juga), para tokoh-tokoh di mesin ding-dong itu punya kehidupan dan interaksi sosial tersendiri. Wreck-It Ralph/Ralph si Perusak (John C. Reilly) adalah tokoh musuh dalam permainan Fix-It Felix Jr. (ini game fiktif) yang berlatar di Niceland. Sesuai programnya, ia pasti selalu kalah. Tapi nggak enaknya, ketika permainan usai pun ia tetap diasingkan warga Niceland. Ia tinggal di tempat pembuangan sampah, sementara si tokoh pahlawan Fix-It Felix Junior/Felix si Pembetul (?) (Jack McBrayer) dan warga lainnya tinggal di gedung apartemen. Ralph mulai jenuh jadi tokoh penjahat yang senantiasa dinista baik di dalam maupun di luar waktu permainan, sehingga timbul keinginannya jadi tokoh pahlawan. Tiba di perayaan 30 tahun permainan mereka, Felix dan warga Niceland bikin pesta, ngundang Skrillex sebagai DJ (ini serius), tapi malah gak ngundang Ralph. Ralph tentu merasa kecewa, padahal ia yang salah satu bagian paling vital dari permainan, namun nyatanya ia tokoh musuh yang tetap..err..dimusuhi. Untuk itu, ia bertekad untuk mendapatkan medali kepahlawanan, karena dengan demikian, ia berpikir orang-orang akan menghormatinya sebagai pahlawan.

Bagaimana caranya? Tadi gw bilang tokoh-tokoh ding-dong ini punya interaksi sosial tersendiri, ternyata itu nggak sebatas dalam dunia/mesin permainan mereka sendiri. Tokoh-tokoh game ini ternyata bisa berpindah-pindah mesin, entah untuk jalan-jalan atau sekadar hang-out. Peraturannya simpel, seperti disampaikan oleh Sonic the Hedgehog di stasiun kereta penghubung Game Central Station: tokoh yang mati di luar mesin permainannya sendiri nggak akan bisa bangkit lagi, jadi musti hati-hati. Memanfaatkan potensi ini, Ralph menyusup ke pasukan pimpinan Calhoun (Jane Lynch) dalam permainan tembak-tembakan mutakhir, Hero's Duty (ini juga fiktif), karena di sana ada medali yang dapat diraih hanya dengan memanjat ke puncak gedung. Nggak susah, tapi akibat kecerobohannya, usai mendapatkan medali Ralph nyasar ke mesin permainan balap go-kart berlatar dunia permen dan kue-kuean, Sugar Rush, dan kehilangan medalinya karena direbut oleh Vanellope von Schweetz (Sarah Silverman), gadis kecil penghuni Sugar Rush yang ingin sekali ikut balapan tetapi selalu dihalang-halangi karena ia tokoh yang sering eror. Tak beruntung bagi Ralph, medalinya digunakan Vanellope untuk ikut balapan memperebutkan tempat sebagai tokoh utama permainan Sugar Rush, dan medali itu hanya bisa didapat kembali bila Vanellope menang balapan.

Sebenarnya tidak sulit menebak arah plot Wreck-It Ralph ini. Lagi pula, ini film Disney, pasti gak jauh-jauh dari nilai kekeluargaan dan persahabatan, juga ada cinta, dan pastinya happy ending. Namun keberhasilan film ini terletak pada eksekusinya, baik dari cerita maupun tokohnya. Dengan pacing yang cukup lincah, film ini memperkenalkan tokoh-tokoh, memaparkan konsep, dan menggulirkan jalan cerita, semuanya dengan jelas, kokoh, sekaligus bikin nyengir saking kreatifnya. Dipenuhi adegan gag dan dialog yang jenaka nan cerdas, susah untuk tidak menikmati film ini. Ketika tiba saatnya tensi menjadi emosional (baca: mengharukan) pun semuanya tampak believable, tidak salah tempat, nggak maksa, alus banget deh. Dan betapa luar biasanya para pengisi suaranya. Tak hanya menjiwai, tetapi mereka berhasil menunjukkan ciri khas mereka masing-masing. Suara besar tapi nelangsa dari John Reilly membuat Ralph begitu hidup, demikian suara cempreng kolokan ngeselin dari Sarah Silverman berhasil membangun tokoh Vanellope. Dan bagi para penggemar serial televisi Amerika, pasti langsung mengenali gaya Jack McBrayer (30 Rock) sebagai Felix dan Jane Lynch (Glee) sebagai Calhoun yang masing-masing tokohnya memang sengaja dibuat persis dengan mereka. Bahkan Mindy Kaling (The Office) yang tampil tak banyak sebagai Taffyta begitu berkesan sebagai si gadis bully itu. Casting-nya tokcer banget lah.

Keasyikan menonton juga pastinya gara-gara visualnya yang ciamik. Rancangan dunianya yang begitu orisinil benar-benar memanjakan mata. Gw suka banget sama gambar-gambarnya yang tak hanya penuh warna-warni indah, tetapi juga tidak terlihat berantakan. Perpindahan antar mesin game-nya pun mulus dan dapat dibedakan dengan mudah, dari permainan Fix-It Felix Jr yang berwarna sederhana, Hero's Duty yang temaram, hingga Sugar Rush yang cerah ceria. Demikian pula desain karakternya yang begitu lovable, terjemahan bentuk tokoh dari gambar 8-bit dua dimensi (tampak di layar mesin ding-dong) ke CGI 3-dimensinya keren banget, gw malah belum berhenti mesam-mesem kalau mengingat gerak-gerik warga boncel di Niceland yang sangat kaku itu, hihihi. Pokoke secara desain, film ini beres res res. Plus, para penonton yang kebetulan penggemar game dijamin akan digirangkan dengan penampilan singkat dari tokoh-tokoh game klasik terkenal. Gw yang minim pengalaman main game aja bisa nyengir melihat cameo tokoh-tokoh Street Fighter, Pac-Man dan musuh-musuhnya, King Koopa dari Mario Bros., Sonic the Hedgehog, salah satu ninja dari Mortal Kombat, atau si perempuan cepol di Dance Dance Revolution, gimana kalo para gamer sejati, pasti bakal bergelinjang *eh*.

What more can I say? Wreck-It Ralph adalah sebuah suguhan animasi yang indah, jenaka, seru, menyegarkan, menyenangkan, menghibur, juga menggugah hati. Kreativitasnya bisa disandingkan dengan trilogi Toy Story, dan untungnya tak berhenti di sana saja, ia memiliki cerita yang mudah dicerna namun berbobot, juga pengisahan yang sangat enak diikuti, exciting, tanpa terkesan terburu-buru atau kebingungan. Naskahnya begitu rapi memaparkan segala sesuatu, sebab-akibatnya dibangun dengan logis dan solid, dan semua itu direkat cantik dengan kelengkapan teknik animasi dan presentasi visual yang keren, serta permainan efek suara dan musik ala game klasik yang begitu berwarna. Amanahnya pun tersampaikan dengan baik, bahwa sebuah atribut bukanlah penentu segalanya. Nggak cuma buat penggemar ding-dong kok, film ini juga pas buat penggemar cemilan yang akan dipuaskan dengan cameo dari Nesquik, Oreo, dan soes Beard Papa =P...nggak juga deing, ini film untuk semua orang dan segala umur, tanpa harus terasa kekanak-kanakan. Wreck-It Ralph adalah contoh film yang, jika gw ditanya "filmnya bagus nggak?", gw akan jawab "bagus" dengan senyum lebar. Selamat datang kembali, Disney.




My score: 8,5/10


NB: Sang sutradara, Rich Moore ternyata juga mengisi suara dua tokoh yang cukup memorable buat gw, yakni Zangief (Street Fighter) dan Sour Bill, si permen kecut yang ekspresinya juga senantiasa kecut banget, hehe.

Jumat, 09 November 2012

[Movie] Atambua 39° Celsius (2012)


Atambua 39° Celsius
(2012 - Miles Films)

Written and Directed by Riri Riza
Produced by Mira Lesmana
Cast: Gudino Soares, Petrus Beyleto, Putri Moruk


Dulu, Atambua hanyalah sebuah nama yang gw lihat waktu iseng ngecek KTP bokap, sebab beliau lahir di sana. "Di tengah jalan" istilahnya, karena konon kakek-nenek gw sedang dalam perjalanan dari Timor Timur ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (masih di pulau yang sama, kali aja ada yang gak tau =p) lalu suatu ketika numpang melahirkan di Atambua ^_^;. But what do you know, sekitar setengah abad kemudian, tepatnya 1999, Atambua malah sering masuk TV, termasuk TV internasional. Keren gak tuh =D. "Peradaban" terakhir di antah berantah perbatasan NTT menuju Timor Timur ini sering disebut di berita-berita kala itu karena jadi tempat pengungsian utama warga Timor Timur yang memilih ikut Indonesia pascareferendum, yaitu ketika warga provinsi (atau "wilayah jajahan", tergantung Anda menilai dari sudut pandang "ahli sejarah" yang mana) termuda Indonesia kala itu memutuskan untuk merdeka, dan kini lebih dikenal sebagai Timor Leste. Tentu perubahan status ini tidak murah harganya, salah satunya adalah terpisah-pisahnya anggota banyak keluarga, antara yang mau tinggal di tanah kelahiran atau yang ingin tetap jadi bagian dari RI. Yang terakhir ini banyak yang akhirnya menyeberang perbatasan ke Indonesian-side of Timor, tinggal di kawasan pengungsian di Atambua hingga merantau ke Kupang dan sebagainya.

Atambua 39° Celsius mengangkat salah satu sisi itu. Dengan "perkenalan" yang butuh kesabaran ekstra karena tanpa banyak dialog, pada awalnya kita akan disuguhi keseharian tokoh utama kita, seorang pemuda pengungsi dari Timor Leste, Joao (Gudino Soares) sehari-hari ngurus rumah-nya (walau tidak layak untuk disebut demikian) di pagi hari, narik ojek di kota, siangnya main sama temen-temen, dan malamnya kembali tidur, atau "menyambut" kepulangan sang ayah, Ronaldo (Petrus Beyleto) yang selalu mabuk. Mereka memang hanya tinggal berdua. Ronaldo mengajak putra sulungnya itu ke wilayah Indonesia selepas referendum, menetap di kawasan pengungsian deket stadion terbengkalai di Atambua. Ronaldo kini bekerja sebagai sopir angkutan umum, namun kemudian diketahui ia dulu salah satu pejuang pro-integrasi (yang mungkin juga ikut bentrok berdarah dengan pejuang pro-kemerdekaan). Hingga kini pun ia bertekad nggak akan kembali ke tanah kelahirannya kalau Timor Leste tidak bergabung lagi ke Indonesia, meskipun istri dan dua anaknya yang lebih muda ada di sana. Secara paralel datang pula seorang pemudi, Nikia (Putri Moruk), teman kecil Joao yang baru kembali dari Kupang karena kakeknya baru meninggal dunia di kampung pengungsian Atambua.

Ngomong-ngomong nih, setiap kerjasama Mira Lesmana dan Miles Films-nya dengan Riri Riza memang senantiasa patut disimak. Duo kribo ini sebelumnya sukses membuktikan bahwa film Indonesia bisa kembali jadi box office di negeri sendiri lewat Petualangan Sherina, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, pun menghasilkan karya sinematis bermutu seperti Gie dan 3 Hari Untuk Selamanya. Satu hal yang gw amati, Miles (dan mungkin juga Riri Riza) punya sebuah aspek yang masih belum dikuasai perusahaan film lain, yakni kemampuan memasarkan film berdasarkan potensinya. Miles tahu betul cerita sederhana dalam Petualangan Sherina atau Laskar Pelangi bisa appealing ke publik luas sehingga dipromosikan dengan sangat gencar. Di sisi lain, mereka juga tahu 3 Hari Untuk Selamanya punya segmen terbatas sehingga dipasarkan lebih bersahaja. Atambua 39° Celsius juga demikian, para empunya film ini tampaknya sadar potensi film ini akan "sangat terbatas" dan akan lebih tepat bila dipasang di festival-festival, sehingga pemutaran komersilnya pun dibuat terbatas juga.

Terbatasnya gimana sih? Well, contohnya, God only knows about plot. Maksudnya, kalo misalnya gw ditanya "filmnya soal apa?", sori, gw gak bisa jawab, tangkapan gw gak secemerlang itu =P. Tapi, anggap saja ini tentang 3 orang yang berusaha menata kembali kehidupan setelah kehilangan keutuhan keluarga. Pun penceritaannya tidaklah semanismanja yang ditemukan di film-film Riza yang ditargetkan pada anak-anak. Menampilkan para tokoh dan masyarakat sekitarnya berkegiatan, sedikit sekali dialog (sekalinya ada, pake bahasa Timor), editing patah-patah, juga Riza banyak menggunakan adegan-adegan sunyi yang mungkin menampilkan simbol, mengingatkan gw sama si maestro arthouse Indonesia, Garin Nugroho, atau mungkin juga tidak *tuh bingung kan*. "Kesabaran" adalah kunci utamanya, dan it's quite rewarding karena sebenarnya film ini punya sebab akibat yang logis. Karena kesabaran, gw lumayan dapat pegangan tentang motif dan tujuan tokoh-tokohnya. Joao kangen sekali ibunya yang hanya bisa ia lampiaskan lewat pesan rekaman suara kaset yang diulang-ulang, hubungan dengan ayahnya dingin, dan asmara yang dirasakannya terhadap Nikia adalah satu-satunya yang dapat meng-excite-kan hidupnya. Ronaldo larut dalam rutinitas mencari nafkah, lalu menghamburkannya dalam mabuk dan judi *pasang Cucu Cahyati*, sampai-sampai sang putra dibiarkan mengurus diri sendiri, mungkin terlalu lama menanti harapan akan kembalinya tanah kelahirannya ke negara yang dicintainya. Nikia mungkin yang paling tidak dipahami latar belakang dan motifnya, meski akhirnya cukup terjelaskan di bagian akhir.

Tapi memang beberapa plot point agak lemah dan datar ditampilkan, meskipun tetap indah dimaknai, seindah tampilan sinematografi sinematik tanpa "photoshop" (*uhuk* *lirik Rumah di Seribu Ombak*) yang konon pake salah satu varian kamera DSLR ini. Lihat ketika Joao nekad mencari Nikia di Kupang, karena "pegangan" Joao saat ini hanyalah gadis pujaannya itu, apalagi setelah sang ayah ditahan polisi akibat berkelahi. Lihat juga Ronaldo yang akhirnya luluh selepas dari tahanan, karena ia kini benar-benar sendiri, sama sekali tanpa anggota keluarga yang secara moral dikasihi dan mengasihi dia, yang more or less selama ini ia sia-siakan. Penampilan dari Petrus Beyleto sebagai Ronaldo mungkin jadi bumbu tersendiri di tengah-tengah film yang berjalan datar ini, karena tokohnya sendiri memang emosional. Gudino Soares sebagai Joao ada di peringkat dua, meskipun belum "hebat" tapi kelihatan sekali ia took directions really well. Putri Moruk mungkin terbilang paling kaku sehingga tokohnya yang agak misterius itu pun jadi tidak bisa lebih menarik lagi, dan tidak ketahuan apa yang ada dibenaknya, terutama dalam mengurus makam kakeknya seorang diri, tapi ya gak jelek kok.

Atambua 39° Celsius adalah sebuah film yang digarap dengan serius dan baik namun memang tidak mudah dinikmati. "Tidak mudah" artinya masih bisa dong. Pemandangan alam maupun pengenalan sosial-budaya masyarakat Timor, khususnya Atambua selalu jadi daya tarik yang menyegarkan, lumayan menambah wawasan kekayaan budaya bangsa, jadi bisa dikira-kira kalau ke NTT oleh-olehnya apa. Gw mau dong kain tenunnya =). Pun pemotretan Riza terhadap kehidupan Joao dan pemuda sebayanya tampak sincere dan fair serta sesekali jenaka. Ia tidak hanya menyorot sisi "prihatin" dari kota dan masyarakat yang terkesan terabaikan oleh pihak pemerintahan (kita) itu, tetapi juga bagaimana orang-orang di sana tetap berusaha move on, sebagaimana sedang diusahakan Joao, Ronaldo dan Nikia masing-masing. Se-"terbatas"-nya Atambua 39° Celsius, film ini tetap kembali kepada human story, tidak terbebani pesan politis atau nilai propaganda. Cuma soal Joao dan Ronaldo plus Nikia yang rindu akan kasih sayang sejati. Secara keseluruhan mungkin kurang menggigit, kurang tercolek emosinya, tidak "sepanas" temperatur pada judulnya, tetapi nilai kemanusiaan itu tetap ada di sana.




My score: 7,5/10

Rabu, 07 November 2012

[Movie] Skyfall (2012)


Skyfall
(2012 - MGM/Columbia)

Directed by Sam Mendes
Written by Neal Purvis, Robert Wade, John Logan
Based on characters created by Ian Fleming
Produced by Michael G. Wilson, Barbara Broccoli
Cast: Daniel Craig, Judi Dench, Javier Bardem, Naomie Harris, Ralph Fiennes, Ben Whishaw, Ola Rapace, Bérénice Lim Marlohe, Albert Finney, Rory Kinnear


Siapa tak kenal James Bond? =p *mentok* *gak punya kata-kata pembuka yang lebih kreatif*. Tokoh mata-mata MI6 Inggris Raya rekaan yang perlente dengan petualangan spektakuler nan eksotis ini sudah menghiasi layar bioskop dunia dengan 22 filmnya selama 50 tahun, nyaris tak ada generasi yang hidup saat ini luput dari kehadiran agen ber-kode 007 ini. Sejak film Dr. No (1962) yang dibintangi Sean Connery hingga Die Another Day (2002) yang dibintangi Pierce Brosnan, pecinta film relatif sudah kenal akan pola dan ciri khas Bond, mulai dari judul-judul film yang dramatis, peralatan dan persenjataan supercanggih, pesen minum martini yang dikocok-jangan-diaduk, gadis-gadis penghangat kasur tanpa komitmen yang punya nama aneh-aneh nan "menjurus", penjahat yang berwujud komikal dengan antek-antek dan markas yang tak kalah nyentrik, dan tentu saja Bond, James Bond selalu save the world dengan selamat tanpa kekurangan sesuatu apa pun. Well, mungkin gw masih kurang pengetahuannya tentang James Bond, cuman nonton utuh The World Is Not Enough dan Die Another Day sebelum masuk ke versinya Daniel Craig. Dibilang menggemari juga enggak, biasa aja, but you know, James Bond adalah materi wajib dari rangkuman pengetahuan sinema lengkap *apa lagi tuh?*, jadi wajar dong kalau tau tentang Bond walau cuma dikit-dikit.

Dalam Skyfall, James Bond (Daniel Craig) menghilang selepas gagal mengamankan hard disk yang berisi data identitas agen-agen MI6 yang tersebar di seluruh dunia dari agen bayaran, Patrice (Ola Rapace), akibat tertembak unclear-shot dari sesama MI6, Eve (Naomie Harris). Setelah peristiwa itu, tak cukup dengan dugaan Bond tewas, si boss M (Judi Dench) harus menghadapi kenyataan ia akan diberhentikan...plus sistem komputer MI6 di-hack dan markasnya diledakkan pihak tak dikenal. Tak lama kemudian, tersebar secara berkala nama-nama agen yang berasal dari data hard disk yang dicuri tadi, mengakibatkan banyak dari agen-agen tersebut terbongkar identitasnya dan hilang nyawa di tempat tugasnya. M tau jelas ini perbuatan oknum yang pernah jadi agen MI6. Beruntung, Bond yang masih hidup (yaiyalah) bersedia kembali serta bertekad membantu M mengungkap dan membasmi dalang di balik semua ini walau kondisinya tidaklah prima. Bond pun sampai pada si pirang "ganggu", Silva (Javier Bardem) yang dapat membuat kekacauan global lewat dunia maya, namun lebih memilih menuntaskan dendam pribadi pada M yang dianggap mengkhianatinya. Tentu kita tau Bond pasti bisa mengalahkannya, "bagaimana"-nya itu yang dicari 'kan?

Okay, perlu diingat bahwa para pemilik waralaba Bond memutuskan untuk menyegarkan kembali tokoh Bond lewat Casino Royale di tahun 2006 yang menceritakan misi perdana Bond sebagai agen elite berkode 007, semacam reboot, yang tidak (atau belum) menampilkan pola khas film Bond biasanya. "Pemetaan" ulang tokoh Bond pun berlanjut ke Quantum of Solace, dan, sepertinya, pamungkasnya ada di film ke-23, Skyfall ini. Kisah Skyfall sendiri tidak menyambung Casino Royale dan Quantum of Solace kemarin, namun dengan segala unsur di dalamnya, kelihatan sekali Skyfall jadi semacam bagian penutup dari rangkaian "how Bond became Bond" sekaligus persiapan agar petualangan Bond selanjutnya bisa se-flamboyan dulu. Hal ini semakin nyata dengan munculnya tokoh Q (Ben Whishaw) yang menjadi penyedia gadgets Bond, untuk pertama kalinya di film Bond versi Daniel Craig. Pun misi kali ini membawanya ke lokasi-lokasi yang lebih wah dan lebih stylized seperti Shanghai dan kasino apung di (ceritanya) Macau, dan "villain's lair" yang terisolasi. Karakterisasi Bond juga terlihat jelas semakin santai dan humoris...dan semakin gampang terpikat/memikat wanita, mendekati watak Bond klasik. Beruntunglah Daniel Craig dipercaya untuk memerankan berbagai fase perubahan sifat Bond dalam tiga film belakangan ini (dari masih mentah di Casino Royale, lalu penuh dendam amarah di Quantum of Solace), sehingga terlepas dari tampang yang tak serupawan 5 aktor Bond seniornya (but surely paling keker), Bond di tangannya menjadi lebih deep.

Ekspektasi terhadap Skyfall sebenarnya cukup tinggi mengingat film ini melibatkan banyak orang-orang sinema kelas Oscar. Utamanya adalah sutradara spesialis film depresif, Sam Mendes (American Beauty, Road To Perdition, Revolutionary Road, you know, film-film yang tokoh utamanya pasti ada yang mati di akhir =p) yang membawa para teknisi ahli langganannya seperti sinematografer andalan Roger Deakins (beberapa kali gw melihat gambar-gambar keren dan berseru "oh, Deakins!"...dalem hati sih) dan komposer Thomas Newman. Alhasil secara teknis audio visual Skyfall terbilang memanjakan mata dan telinga walaupun belum seindah film-film Mendes sebelumnya, untungnya gak terlalu depresif. Namun, mas Mendes masih tertatih di pacing yang cenderung agak lambat untuk sebuah film aski-petualangan komersil berskala besar. Bosenin sih enggak, cuma berasa aja 140-an menit durasinya. Tapi lagi, Mendes terbilang berhasil menggabungkan unsur-unsur dari Bond klasik tadi—bahkan bisa dibilang tribute yang pastinya akan membuat penggemar Bond bersukacita—dengan keahliannya mengeluarkan performa akting terbaik dari aktornya. Jika mencari ciri khas Mendes dalam Skyfall, akting adalah kata kuncinya. Selain Craig, lihat saja permainan prima Dench, Whishaw, Ralph Fiennes dan terutama Javier Bardem yang sukses tampil mengesankan bagaikan Anton Chigurh (perannya di No Country For Old Men) versi cerewet dan ngondek ekspresif. Bérénice Lim Marlohe pun meski sebentar mampu menujukkan bahwa ia bukan cuma tampang dan bodi doang, adegan di kasinonya bagus dia.

Skyfall bolehlah menjadi pengantar lembaran baru petualangan Bond di masa mendatang, yang secara kokoh dan utuh (bersama Casino Royale dan Quantum of Solace) membentuk watak seorang James Bond, pun membuat watak Bond klasik yang selama ini dikenal punya latar belakang dan penjelasan, bukan udah jadi gitu saja. Karena itu Skyfall jelas punya peranan besar dalam waralaba legendaris ini. Hanya saja, filmnya sendiri tidak serta merta membaptiskan gw jadi penggemar Bond setelah sekian lama. Film Bond yang gw suka masih tetap hanya Casino Royale karena alasan naratif (bukan karena realistis atau apa, film Bond mah gak akan ada yang realistis kali). Skyfall punya narasi yang menarik yang dieksekusi kurang lincah, namun setidaknya Sam Mendes dkk nggak salah menginterpretasikan "film laga" sebagai "pecahan kaca di mana-mana sepanjang film" macam *uhuk* Quantum of Solace. Dan setidaknya Skyfall memberi ruang yang cukup untuk perkembangan karakter Bond dan sekitarnya, khususnya M yang porsinya semakin besar di sini. Kurang terasa seru banget tetapi masih menyimpan nilai-nilai hiburan yang cukup mengasyikkan, ada perpaduan klasik dan modern, sebagaimana halnya nuansa lagu tema "Skyfall" yang dibawakan Adele di opening title. Dapet salam dari komodo.




My score: 7/10