Rabu, 31 Oktober 2012

[Movie] End of Watch (2012)


End of Watch
(2012 - Exclusive Media Group)

Written & Directed by David Ayer
Produced by David Ayer, Matt Jackson
Cast: Jake Gyllenhaal, Michael Peña, Natalie Martinez, Anna Kendrick, David Harbour, Frank Grillo, America Ferrera, Cody Horn, Cle Sloan, Maurice Compte, Yahira Garcia


Salah satu efek dari apa yang disebut oleh para mahasiswa idealis sebagai "imperialisme modern Amerika Serikat" adalah cukup familiarnya aksi dan prosedur kepolisian Amerika yang anggotanya kerap ditugaskan berpasangan (atau kalau istilah ala teks terjemahan: bermitra) yang sering muncul dalam film-film maupun serial televisi. Mungkin ratusan judul serial tentang polisi USA telah muncul mulai dari "CHiPs", "T.J. Hooker" sampe "Southland", dan dalam film layar lebar pun kita cukup kenal seri Lethal Weapon (dan mungkin juga Rush Hour =p) yang beberapa kali tayang di televisi. Jadi konsep film End of Watch karya David Ayer ini bukanlah barang baru, pun dengan tipikal mengedepankan dua orang berbeda ras namun kompak bermitra sekaligus bersahabat erat. Nah, kalau udah biasa banget konsepnya, apa lagi yang mau dijadikan daya tarik film ini? First of all, jawabannya bukan pada pertanyaan "what", tapi "how". 

End of Watch disajikan mirip dokumenter, dengan menggunakan kamera-kamera yang lazim ditemui di sekitar masyarakat, mulai dari handycam, CCTV, kamera pengintai (ala-ala Reportase Investigasi gitu), juga kamera pengawas yang senantiasa jadi pelengkap mobil polisi sono, pokoknya bukan pakai kamera film bioskop. Jika ngebayanginnya film ini akan bergaya found footage seperti Cloverfield, Paranormal Activity, atau baru saja kita saksikan awal tahun ini, Chronicle yang benar-benar harus (ceritanya) pakai kamera yang digunakan oleh tokoh di dalam filmnya, yang satu ini gak kayak gitu. End of Watch lebih mirip District 9 yang memakai berbagai kamera yang ada dalam seting ceritanya, sekaligus juga memakai kamera bersudut pandang "orang luar", tapi gayanya masih samalah, goyang-goyang juga...toh hampir gak berasa juga karena editing-nya yang gegas, yang penting ceritanya tersampaikanlah *okesip*.

Di luar cara penyampaiannya, End of Watch nyatanya memang gak menawarkan hal yang baru lagi. Gaya berceritanya pun mengingatkan gw pada serial "The Shield" yang mengikuti sepak terjang tokohnya dari dekat dengan pengambilan gambar gaya semi-dokumenter, pun latarnya lebih kurang sama: kecamatan rawan kriminalitas di Los Angeles. End of Watch mengikuti aksi hari-hari dua opsir polisi patroli muda rada slengean tapi baik hati, Brian Taylor (Jake Gyllenhaal) dan Miguel "Mike" Zavala (Michael Peña, bacanya "pé-nya"). Entah ada hubungannya langsung sebagai konsekuensi atas tindakan main tembak mereka terhadap tersangka gangster di awal film atau tidak, selama beberapa pekan ke depan tugas patroli mereka dipindahkan ke wilayah yang paling rawan akan perang narkotika antar geng, terutama geng keturunan Meksiko dan kulit hitam. Awalnya Taylor dan Zavala menanggapi tugas ini dengan santai biasa saja, namun suatu ketika mereka bersentuhan dengan sebuah titik yang memicu kemarahan "penguasa" di wilayah situ, sehingga nyawa mereka pun kini dalam bahaya.

Meski tidak super istimewa, End of Watch jelas masih patut disaksikan. Kisahnya dijalin dengan rapi, dari bagian awal yang kayak segala sesuatu adalah biasa dan santai-santai saja, hingga akhirnya Taylor dan Zavala sadar mereka menghadapi masalah yang sangat serius dan membahayakan, perubahan berangsur-angsur itu disampaikan dengan baik dan smooth. Awalnya mungkin gw agak merasa film ini hanyalah kumpulan kejadian-kejadian sehari-hari Taylor dan Zavala tanpa juntrungan (misalnya nyari anak ilang dari orang tua pecandu), namun pada akhirnya gw paham bahwa itu semua langkah demi langkah pembangun plot yang saling terkait. Dan satu hal juga yang menambah kenikmatan film yang cukup violent dan penuh sumpah serapah ini adalah performa aktor yang kompak dan meyakinkan. Persahabatan Taylor dan Zavala yang lebih dari sekadar teman tugas dan canda-candaan ditunjukkan dengan sangat baik oleh Gyllenhaal dan Peña, mereka sukses berakting simpatik dengan tulus dan akrabnya percakapan antar mereka yang sesekali jenaka, sehingga gw bisa peduli pada nasib mereka seiring mencekamnya masalah yang dihadapi sampai pada bagian penamatannya, pun berhasil menekankan bahwa inti utama film ini bukan cuma hukum vs kriminal, tapi juga soal Taylor dan Zavala pribadi, bro. Para aktor pendukungnya pun bermain baik meski durasi kemunculannya gak terlalu banyak, ini termasuk Anna Kendrick dan Natalie Martinez yang masing-masing berperan sebagai belahan jiwa Taylor dan Zavala, dan kapan lagi bisa liat si America "Ugly Betty" Ferrera ngomong kasar =). Palingan tokoh-tokoh geng Meksiko-nya yang menurut gw bukannya serem tapi malah nyebelin karena sok jagoan banget lagaknya, tapi siapa tahu sih emang begitu adanya.

Rupanya gaya penyampaian tak biasa bukan hanya yang menjadi nilai jual End of Watch, tetapi juga pembangunan karakter yang apik serta rancangan plot yang solid. Bukan tipe favorit gw sih, karena kisahnya sendiri tidak terlalu beda dengan yang sudah-sudah, cenderung sederhana malah. Namun David Ayer dapat mengatasi kesederhanaan itu dengan kemasan yang membuat karya penyutradaraan ketiganya ini jadi segar dan menghibur. Mungkin kira-kira seperti inilah jika serial "The Shield" dibuat film dan diperkenankan menggunakan profanity.



My score: 7/10

Rabu, 24 Oktober 2012

[Album] Ari Lasso - Yang Terbaik


Ari Lasso - Yang Terbaik
(2012 - Aquarius Musikindo)

Tracklist:
1. Kisah Kita
2. Rahasia Perempuan
3. Hampa
4. Cinta Terakhir
5. Karena Aku T'lah Denganmu (with Ariel Tatum)
6. Cintailah Aku Sepenuh Hati
7. Misteri Ilahi
8. Aku dan Dirimu (with Bunga Citra Lestari)
9. Satu Cinta (with Sandy Canester)
10. Penjaga Hati
11. Arti Cinta
12. Perbedaan
13. Doa Untuk Cinta
14. Cinta Adalah Misteri


Ari Lasso rilis album "best" lagi? Yup, cukup mengherankan dan mengagetkan juga. Dan jika Anda berpikir "bukannya terakhir albumnya udah 'best' ya? kok lagi?", sama dong, gw juga mikir gitu. Sebelum ini salah satu artis pop solo pria tersukses—dan terbaik—Indonesia ini memang merilis The Best of Ari Lasso pada tahun 2007, kumpulan hits yang terambil dari empat album mas Ari dalam rentang 2001-2006 plus tambahan lagu-lagu baru termasuk hit cihuy "Aku dan Dirimu" bareng Bunga Citra Lestari—sewaktu belum diakusisi orang Malaysia. Selepas itu mas Ari gak menelurkan album lagi, namun tahun ke tahun masih aktif merilis lagu-lagu baru dalam (mungkin) bentuk unduhan dan RBT, dan masih tetap bisa disambut hangat oleh khalayak. Perilisan album Yang Terbaik bisa dibilang semacam pelepas dahaga bagi penggemar, maupun pemerhati musik yang pengen bisa punya lagu-lagu mas Ari pasca-The Best dalam bentuk hardcopy. So, here it is, tinggal jalan ke KFC dan belilah seharga 35.000 rupiah, atau bisa juga pesen makan lalu kalo ternyata bisa paket termasuk CD, mintalah CD Ari Lasso (jangan asal terima aja apa yang ditawarin mas/mbak-nya). Percayalah, mesikpun sekilas kayak pengulangan album sebelumnya, Yang Terbaik dari Ari Lasso ini tidak mengecewakan sama sekali. 

Kerap kali gw ungkapkan kekecewaan gw pada album-album "best" dari artis Indonesia yang menurut gw suka pelit. Album The Best of Ari Lasso dulu pun juga menurut gw mengecewakan. Masak dari sekian hits, albumnya cuma isi 12 track, itu juga 3 di antaranya lagu baru, tanpa "Arti Cinta", dan disempilin cover "Badai Pasti Berlalu" yang not-so-impressive itu. Gw suka Ari Lasso dan karya-karyanya sebagaimana banyak sekali rakyat Indonesia, tapi album itu semacam let down, setelah didenger ampe abis kesan yang didapat "segitu doang?", pun pengurutannya nggak terlalu enak.

Thus, Yang Terbaik buat gw adalah semacam refinement dari album The Best. Jumlah track-nya emang gak seberapa nambahnya, tetapi setidaknya benar berisi lagu-lagu Ari Lasso yang terbaik tanpa ada yang terkesan filler, yah at least semuanya termasuk favorit gw lah (setelah dicek, lagu/single lain yang gak masuk album ini ternyata memang bukan favorit gw, hehe). Ada 14 track di sini: 7 di antaranya sudah ada di The Best dengan tambahan "Arti Cinta" *yes!!*; 3 single keluaran 2008-2011 yaitu "Cintailah Aku Sepenuh Hati", "Satu Cinta" duet bareng sesama vokalis keren Sandy Canester, "Karena Aku T'lah Denganmu" bareng seorang gadis bernama Ariel Tatum (tolong dibaca "ari-yél", seperti di film The Little Mermaid, bukan "a-ril" seperti di film...eh...nevermind); 2 lagu terbaru "Kisah Kita" ciptaan singer-songwriter Lobow dan "Doa Untuk Cinta"; serta satu lagu cover Dewa 19, "Cinta Adalah Misteri". Disusun secara acak, I think this is a very nice compilation album. Benar, beberapa hits lainnya yang juga populer seperti "Mengejar Matahari", "Patah Hati", dan "Badai Pasti Berlalu" di-cut, demikian pula "Cinta Sejati" yang tetep gak dimasukkan *pukpuk*, tetapi yang tersisa adalah benar-benar hits terbaik mas Ari yang nggak akan pernah bisa dikomplain. Siapa yang kuasa menahan bibirnya ikut bernyanyi jika "Rahasia Perempuan", "Hampa", "Cinta Terakhir" dan seterusnya berkumandang secara berurutan (termasuk berusaha pecah suara di "Aku Dan Dirimu" =P)?

Gw jelas lebih suka Yang Terbaik ini daripada The Best. Bisa jadi masalah timing, setelah lebih dari 10 tahun sejak karir solo mas Ari pascakeluar dari Dewa 19, dan udah 5 tahun sejak The Best nggak bikin original album lagi, Yang Terbaik jadi lebih nampol karena faktor kerinduan yang sangat, dan familiarity lagu-lagunya yang tertanam lebih kuat daripada tahun 2007 dulu. Tapi nggak juga ah. Ketimbang album The Best, Yang Terbaik memang tampak lebih terkonsep dan seperti dirangkai sedemikian rupa supaya bisa didengar utuh dari awal hingga akhir tanpa timbul rasa pengen skip. Disusun secara acak, namun hasilnya benar-benar dinamis sebagaimana range musik mas Ari selama ini. Dari lagu yang pelan, ke medium, ke cepat pergantiannya enak (terkhusus banget nih "Rahasia Perempuan" ke "Hampa", pas banget), mood-nya gak sedih terus atau ceria terus melainkan bergantian, sehingga nggak ada kesan monoton atau bipolar disorder (bandingkan dengan album Agnes Is My Name =p). Inilah yang menambah kenikmatan mendengarkan album ini, tidak menjemukan sama sekali, ciyus dah. 

Track pembuka "Kisah Kita" yang bernuansa reggae sepoi-sepoi begitu asyik masyuk, ringan dan liriknya menarik, lumayan menyegarkan karena mas Ari sebelumnya tidak pernah menampilkan musik seperti ini, sehingga lagu ini membangkitkan excitement menuju lagu-lagu selanjutnya. Selanjutnya adalah parade lagu-lagu hit Ari Lasso dari 2001-2011 yang sama artinya dengan sesi karaoke bagi setiap pendengar =). Sedangkan dua track terakhir dibuat megah dengan dekorasi string section apik. "Doa Untuk Cinta" mungkin tidak berpotensi hit, tapi memiliki komposisi musik dan vokal yang ciamik, dan lagu penutup "Cinta Adalah Misteri" (fyi, Ari Lasso memang terlibat dalam penulisan lagu ini) dibawakan cukup berbeda dari versi Dewa 19, lebih pop dan lebih intimate.

Jika ada kekecewaan gw, maka itu datang dari kemasannya yang kelewat ringkih untuk sebuah album bertajuk "terbaik", cuman dalam kemasan karton tipis dengan CD yang diselipin (sama kayak CD-nya Agnes Monica tempo hari). Tapi ya sudahlah, itu tak cukup kuat untuk mengalahkan kenikmatan mendengarkan vokal vulnerable ajaib nan memesona mas Ari lewat lagu-lagu keren andalannya. Album yang sangat representatif tentang Ari Lasso sang musisi, eksibisi yang memuaskan akan beragamnya musik dan lirik yang diusungnya. Ikut ngadem bareng mendengarkan cerita "Kisah Kita", teriak kuat-kuat di "Rahasia Perempuan", bergalau elegan bersama "Hampa" dan "Penjaga Hati", bermelow-melow lewat "Cintailah Aku Sepenuh Hati", ciptakan romansa diiringi "Aku dan Dirimu" dan "Arti Cinta", termotivasi karena "Misteri Ilahi" dan "Satu Cinta", ikut terharu dalam "Perbedaan". Hell, "Karena Aku T'lah Denganmu" yang biasa aja bisa jadi punya depth cuma gara-gara mas Ari yang nyanyi. Begitu asyik dan solidnya album ini sampe lupa masalah lagu-lagu hit lain yang gagal masuk di album ini. Recommended.




My score: 8/10

Ari Lasso



Previews

Senin, 15 Oktober 2012

[Movie] Cita-Citaku Setinggi Tanah (2012)


Cita-Citaku Setinggi Tanah
(2012 - Humanplus)

Directed by Eugene Panji
Written by Satriono
Produced by Eugene Panji
Cast: M. Syihab Imam Muttaqin, Agus Kuncoro, Nina Taman, Iwuk Tamam, Rizqullah Maulana Daffa, Dewi Wulandari Cahyaningrum, Iqbal Zuhda Irsyad, Luh Monika Sokananta


Kalau masih anak-anak, topik "cita-cita" selalu jadi bahasan menarik. Dalam usia yang begitu muda, terlihat "lucu" kalau mereka bercita-cita menjadi seseorang yang wah seperti dokter, pilot, artis, atlet, dan seterusnya (karena usia-usia itu belum akan dicemari dengan hardikan "ah, mimpi"). Tersebutlah sebuah kelas SD di tempat yang terkenal akan oleh-oleh tape ketan warna hijau *malah promo*, Muntilan, Jawa Tengah, murid-muridnya diberikan tugas semesteran berupa karangan bertema cita-cita. Namun, Agus (M. Syihab Imam Muttaqin) tampak kesulitan, sebab "cita-cita" yang terbesit di pikirannya saat ini "hanyalah" agar bisa makan di rumah makan khas Padang. Seperti juga kita di kehidupan nyata, teman-teman Agus langsung nge-judge dan merendahkan cita-cita itu. Tapi toh ingin menjadi atau melakukan sesuatu yang belum pernah dialami tetap terhitung cita-cita, 'kan? Setelah mendapat petunjuk dari sesepuh desa, Agus memutuskan untuk take it to the extreme dengan mencoba mewujudkan cita-citanya saat ini juga sebelum menyelesaikan tugas sekolahnya itu.

Jalan cerita Cita-Citaku Setinggi Tanah ya hanya itu. Serius, memang sesederhana itu. Tanpa ada drama berlebihan atau pesan-pesan politis terselubung, bahkan tanpa "musuh". Namun itulah yang membuat film ini menjadi karya yang apik. Tim pimpinan Eugene Panji yang selama ini dikenal sebagai sutradara video musik ini dengan bijak tidak gegabah membebani filmnya sendiri, melainkan dengan cermat melengkapi segala aspek di sekitar kesederhanaan itu, menempatkannya pada konteks tepat sehingga terasa dekat dengan keseharian penontonnya, terasa ringan tetapi sangat relevan. Contoh jelas adalah motivasi Agus dan cita-cita kecilnya yang terjelaskan dengan baik. Keluarga Agus tergolong pas-pasan (dibilang miskin juga enggak) karena bergantung pada kondisi usaha kecil produksi tahu sang ayah (Agus Kuncoro), keseharian Agus pun tak pernah lepas dari menu nasi dan tahu bacem buatan ibunya (Nina Tamam). Menikmati masakan Padang tentu sebuah keistimewaan yang butuh effort lebih, harganya saja lebih mahal dari harga di warung masakan lokal (kecuali kalau setingnya Sumatera Barat =p), pun meminta pada orang tua bukan pilihan bijak karena ayah Agus bukan termasuk orang yang mau memberikan uang begitu saja. Keputusan Agus mengumpulkan uang, mengurangi jajan, bahkan mau kerja kecil-kecilan nyatanya sangat understandable, karena kuat tekadnya untuk tidak merepotkan kedua orang tuanya demi cita-citanya.

Namun, di luar kisah utamanya, film ini sebenarnya lebih bercerita tentang "cita-cita" itu sendiri. Selain membahas apa itu cita-cita, film ini menampilkan representasi aneka macam cara orang menyikapi cita-cita. Ketiga teman Agus pun memperkuat maksud itu. Ada Jono (Rizqullah Maulana Daffa) yang bercita-cita jadi tentara, sehingga segala aspek kehidupannya ia arahakan ke tujuannya itu: jadi ketua kelas yang mendisiplinkan teman-teman kelasnya (which is hillariously realistic =D), main perang-perangan, dan siap sedia mematuhi apa saja yang dimintakan tolong orang tuanya. Lalu Sri (Dewi Wulandari Cahyaningrum) yang hanya nyaut kalo dipanggil "Mey", supaya cocok dengan cita-citanya yang ingin jadi bintang sinetron, yang sebenarnya adalah buah obsesi emaknya (Luh Monika Sokananta). Kemudian ada Puji si pengupil (Iqbal Zuhda Irsyad), yang cita-citanya adalah "membahagiakan orang lain"...yah, mungkin selevel sama "jadi orang yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa" yang sering ditulis anak-anak SD di kolom biodata/buku diari. Sebuah cita-cita abstrak dan memang diimplementasikan dengan cara nggak jelas juga. Gak ada salahnya sih go with the flow, cuma ya semoga gak keterusan aja, takutnya terjebak jadi orang yang kebingungan dan terdampar di kerjaan yang tak disukai *kemudian ngaca*. Jelas dibandingkan ketiga temannya itu, cita-cita Agus lah yang paling empuk untuk ditertawakan. Namun demikian, setidaknya Aguslah yang paling serius menggapainya dalam tindakan konkret.

Sekilas di atas kertas, film ini seperti sebuah fragmen kecil, sebuah ilustrasi inspirasional khas "film pendidikan". Akan tetapi, penggarapan Eugene Panji berhasil mengemasnya menjadi sebuah tontonan sinematis yang memikat, yang sama sekali tak rugi disaksikan di bioskop. Aktor-aktor ciliknya tampil dengan pendalaman dan kewajaran sesuai kebutuhan, tidak terlihat kekakuan sama sekali dan sangat lovable, malah cukup menyeimbangi aktor-aktor dewasanya. Secara teknis, meskipun tidak terlampau wah, tata gambar dan desain produksinya benar-benar nyaman dilihat. Gw suka pewarnaannya yang nyaris seperti direkam dengan film seluloid. Demikian pula editing-nya, seperti patah-patah, agak-agak Terrence Malick gimana gitu *hehe*, malah justru bikin nggak bosan. Dihiasi tata musik Endah N Rhesa dan Bumblebee Studio, lengkaplah sudah deskripsi keseluruhan film ini: sederhana, nyaman dan indah bermakna. Pilihan pembuat film untuk merepresentasikan dengan gaya realistik patut dipuji. Rasanya tidak ada adegan dan peristiwa yang terlalu staged atau dipaksakan, semua tampak membumi dan tidak mengada-ada, yang tampak seperti "keajaiban" pun sebenarnya bukan keajaiban-keajaiban amat kok.

Patut diketahui bahwa Cita-Citaku Setinggi Tanah adalah film yang didedikasikan bagi anak-anak penyandang kanker dalam naungan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), dan seluruh hasil penjualan tiketnya akan disumbangkan ke sana. Tetapi terlepas dari misi mulia itu, film ini sendiri sudah merupakan "sumbangan" penting bagi anak-anak Indonesia, apapun keadaannya, yang mengajak untuk lebih bersemangat mengejar cita-cita, karena memang tak ada yang salah dengan itu. Niat yang baik nan tulus dari pembuat film disertai dengan kerja keras (tanpa terlalu keras) mulai dari naskah hingga presentasi akhirnya ternyata tak sia-sia. Film ini punya ambisi yang "setinggi tanah", ingin mendidik dan menginspirasi dengan menjaga innocence tanpa tergoda untuk mengambil isu-isu yang terlampau berat nan rumit. Begitu sederhana, sangat mudah dicerna tanpa harus jadi childish, dan benar-benar dikemas dengan memikat, membuat gw nyaman mengikuti perjuangan Agus dan sekitarnya, tanpa harus diganggu pesan-pesan sponsor *uhuk*. Mungkin kelemahannya ada pada tertatihnya ritme di beberapa bagian, terutama pembangunan karakter-karakternya di awal yang tampak butuh waktu agak lama, namun overall, ini film yang apik dan charming. Sebuah film yang perlu ditonton masyarakat segala usia. Jangan malu bercita-cita, dan jangan gentar mewujudkannya. Ini juga berarti kita harus stop mengejek cita-cita Agnes Monica *eh*.




My score: 8/10


NB: Fyi, film ini mengingatkan gw pada kecenderungan anak-anak SD yang minder kalau bawa bekal dari rumah ketika teman-teman lain pada beli jajanan-jajanan cihuy =D).

Jumat, 12 Oktober 2012

[Movie] Looper (2012)


Looper
(2012 - FilmNation/Endgame/DMG/Tristar)

Written and Directed by Rian Johnson
Produced by Ram Bergman, James D. Stern
Cast: Joseph Gordon-Levitt, Bruce Willis, Emily Blunt, Jeff Daniels, Pierce Gagnon, Noah Segan, Piper Perabo, Paul Dano, Summer Qing, Tracie Thoms, Garret Dillahunt


Dalam sebuah permainan "takdir" atau mungkin sengaja, dua aktor tua dan muda yang akhir-akhir ini lagi lareis-lareisnya karena main dalam sejumlah film yang dirilis dalam waktu tidak terlalu jauh ternyata bersinggungan di sebuah film yang sama, Looper. Kedua aktor itu adalah aktor kawakan Bruce Willis (sedikitnya 5 film rilis tahun 2012 ditambah 2 lagi tahun 2013), dan yang lagi naik daun bener, Joseph Gordon-Levitt (terdaftar di 4 film di paruh akhir 2012 ini saja). And funny enough, keduanya bermain sebagai tokoh yang sama dalam film fiksi ilmiah ini, sebagai versi tua dan versi muda dari seorang tokoh bernama Joe. Interesting.

Kisah Looper sendiri juga sama menariknya dengan casting pemeran utamanya itu. Ditulis dan diarahkan oleh Rian Johnson, Looper berseting di Amerika tahun 2044, sebuah masa yang bisa dibilang maju sekaligus bisa dibilang balik lagi ke zaman koboi ketika orang-orang bisa seenak jidat menjarah dan kokang-kokang senjata api tanpa takut hukum, ekonomi semakin memburuk sehingga gap kaya dan miskin semakin nyata, bahkan mata uang yang berlaku adalah duit China. Namun di luar itu, Looper berkaitan kuat dengan perjalanan waktu yang penjelasannya mungkin akan membingungkan kalau tidak diperhatikan baik-baik. Mesin agar orang dapat melompat waktu memang baru ada 30 tahun kemudian, namun bukan berarti tidak ada aktivitas perjalanan waktu pada tahun 2044, meskipun hanya pasif, jadi tempat tujuan saja (dari masa depan), nggak bisa buat keberangkatan—ya karena mesinnya saat itu belum ada. Meski demikian aktivitas perjalanan waktu dinyatakan ilegal, dan akhirnya mesin waktu ini secara diam-diam dikuasai para kriminal dan mafia, dipergunakan untuk melenyapkan orang-orang tertentu, biasalah mafia. Cara kerjanya begini: para penjahat masa depan mengirim tawanan ke masa lalu, lalu dibunuh di masa itu dan mayatnya dibuang tak berbekas, sehingga di masa depan tempat asalnya keberadaan tawanan ini tidak dapat terlacak. Bersih tak berbekas.

Para agen masa kini yang bertugas membunuh tawanan dari masa depan itu disebut looper. Joe (Joseph Gordon-Levitt) adalah salah satunya. Di spot yang sama pada waktu yang ditentukan ia selalu siap dan sigap mengeksekusi siapa saja yang dikirim oleh "bos"-nya di masa depan. Namun, Joe tak kuasa memperhatikan bahwa semakin banyak looper yang dipensiunkan. Jadi ceritanya gini: agar segalanya benar-benar tak berbekas, para looper ini pun pada suatu saat di masa datang akan dikirim ke masa lalu lalu dimatikan oleh versi muda diri mereka sendiri. Yang versi muda ini lalu diberi pesangon, pensiun sampai saatnya tiba mereka dikirim ke masa lalu untuk dilenyapkan (hence, "loop", berputar terus *langsung puter "Loop&Loop" Asian Kung-Fu Generation* *biarin nggak nyambung juga*). Akan tetapi lama kelamaan, penghentian para looper ini semakin tak wajar karena terlalu sering dan berdekatan. Hingga akhirnya tiba waktunya Joe sendiri. Semua tak sesuai rencana, karena Joe tua (Bruce Willis) berhasil meloloskan diri dan membuat organisasi yang menaungi para looper kewalahan. Joe muda pun bertekad akan menangkap dan membunuh dirinya itu. Apa yang sebenarnya terjadi di masa depan?

Harus gw akui bahkan apresiasi setinggi-tingginya, bahwa Rian Johnson punya ide yang keren, pengembangan konsep time travel yang lebih exciting karena berkaitan erat dengan situasi sosial serta kriminalitas. Ia bahkan memasukkan lagi unsur alternate universe, bahwa orang bisa mengubah sejarah sehingga masa depan pun bisa berubah. Johnson memaparkan, menunjukkan sambil menjelaskan dunianya itu dengan cukup menarik, dalam laju yang cepat namun pada dasarnya tidak sulit-sulit amat untuk dimengerti. Setelah merasa cukup tentang gambaran semesta Looper ini, cerita kemudian bergeser menjadi lebih personal, tentang Joe tua yang bermisi melakukan tindakan "kecil" demi mencegah sesuatu untuk terjadi, sedangkan Joe muda berusaha meringkus Joe tua. Sayangnya, paruh kedua ini, yang plot point-nya mirip bener sama waralaba film aksi time travel yang terkenal itu yang bahkan nama salah satu tokoh (wanita)-nya beda tipis, lebih senyap dan tidak se-exciting bagian awalnya. Mungkin filosofinya adalah hal sekecil apapun dapat membuat perbedaan besar di masa datang, tetapi buat gw paruh kedua yang berlingkup kecil ini sangat statis jika dibandingkan dengan menit-menit sebelumnya yang lincah. Tapi setidaknya masih cukup membuat gw menantikan akhir kisah film ini.

Then again, Looper cukup berhasil dalam mempresentasikan kisah besar yang cukup rumit dengan gaya indie movie yang cenderung berskala kecil dan tak terlalu hingar-bingar, yah meskipun adegan laga dan ledakan senjatanya juga masih lantang. Bagaimana ia menyelipkan metafora sosial juga menarik, misalnya semakin maraknya orang-orang berkemampuan telekinesis namun tidak dimanfaatkan secara maksimal, generasi pemuas diri sendiri yang hanya menggunakannya untuk main-main dan menyia-nyiakan potensinya. They'll learn their lesson soon...well, in one of many possible universes, at least =p. Atau kalau mau lebih politis, dari pakaian orang masa depan, mata uang, dan kebersikerasan si bos Abe (Jeff Daniels) menyarankan Joe jangan kabur ke Prancis seakan memproyeksikan bahwa di masa depan bangsa China-lah yang akan menggeser USA sebagai kekuatan ekonomi dunia. Subtil, tapi sulit untuk diabaikan. Penampilan aktornya terbilang fine, namun Gordon-Levitt adalah bintangnya, ia semakin menarik di sini karena usahanya (yang berbuah hasil gemilang) untuk sedekat mungkin bertutur dan bergestur seperti Bruce Willis, sehingga kesan bahwa Joe muda dan Joe tua adalah orang yang sama semakin kuat. He's ridiculously nailed it, walaupun dari segi makeup malah membuatnya mirip anggota Baldwin bersaudara.

Bingung dengan review saya ini? Gakpapa, yang nulis aja bingung kok, hehe. Toh seperti ditegaskan dalam film ini sendiri, kita tak perlu pusing berkutat pada konsep time travel, tokohnya sendiri bilang itu bingungin, gimana kita =P. Rian Johnson seperti mengajak mari fokuskan pada misi si (kedua) tokoh (yang sama) ini. Sayangnya eksekusi plot utama yang sederhana itu malah menurunkan semangat gw dalam menyaksikannya, terlalu di-stretch dan konklusinya pun kurang sebanding dengan hebatnya ide yang ditawarkan di awal. Jadinya kekerenanya nggak paripurna, kepuasan yang kurang utuh bagi gw. 




My score: 7/10

Rabu, 10 Oktober 2012

[Movie] Finding Nemo (2003)


Finding Nemo
(2003, 2012 re-released in 3D - Walt Disney/Pixar)

Directed by Andrew Stanton
Original Story by Andrew Stanton
Screenplay by Andrew Stanton, Bob Peterson, David Reynolds
Produced by Graham Walters
Cast: Albert Brooks, Ellen DeGeneres, Alexander Gould, Willem Dafoe, Brad Garrett, Allison Janney, Geoffrey Rush, Barry Humphries, Eric Bana, Bruce Spence, Elizabeth Perkins, Andrew Stanton


Udah pernah nonton pada saat rilis tahun 2003 lalu. Udah punya DVD-nya, udah sering pula main di TV nasional termasuk yang versi sulih suara bahasa Indonesia. Terus, kalo sekarang filmnya dirilis lagi di bioskop yang gambarnya sudah dikonversi ke 3-Dimensi, penting banget gitu? Gw harus koprol, kayang, handstand, squat jump, pilates, lompat tinggi gaya gunting terus bilang "waw" gituh? Jawabnya: tentu tidak, karena yang gw harus lakukan hanyalah segera menontonnya di bioskop terdekat. Sesimpel itu. Kenapa? Karena ini adalah Finding Nemo, yang tak lain tak bukan salah satu film terfavorit banyak orang, baik dalam kategori animasi produksi Disney-Pixar sendiri maupun kategori general. Seperti Titanic tempo hari, menyaksikan ulang film favorit kita di layar lebar bukanlah hal yang tabu. Biarin aja udah sering nonton DVD-nya di layar kecil kebanggaan kita, menonton di bioskop tetap punya sensasi tersendiri, terutama sih kecilnya distraksi sehingga bisa konsen terus kepada filmnya.

Well, sebenarnya udah jelas sih, dengan posisinya yang berada di peringkat 5 dalam senarai 100 film tahun dekade 2000-2009 favorit gw, Finding Nemo versi 3D ini tidak boleh gw lewatkan. Ia berada di puncak masa keemasan animasi CG keluaran Pixar. Sudah 9 tahun sejak pertama kali dirilis dahulu namun kualitas produksi (terutama audio visual yang cakep banget) dan kisahnya tetap unggulan, tetap sanggup menyita perhatian, bahkan gw udah gak peduli lagi ini filmnya 3-dimensi atau tidak, toh pada akhirnya kepedulian gw hanya akan terhisap pada filmnya semata, bukan pada efek tambahan 3-dimensinya. Hmm, okay, konversi 3-dimensinya terbilang bagus, jadi menyaksikan seting bawah laut seperti lihat akuarium raksasa secara lebih riil. Nyaris gak ada adegan timbul sih, but generally it's nice. Tapi efek "tiga dimensi" terbaik adalah menyampaikan cerita yang menggugah. Itulah yang membuat menonton Finding Nemo 3D yang dirilis lebih kurang hanya untuk menarik laba semata ini tetap bukanlah tindakan tercela dan tidak ada ruginya.

Perlu gw sampaikan ceritanya lagi gak? Hah!? Masih ada yang gak tau Finding Nemo yang membuat anak-anak memanggil semua ikan badut jadi "ikan nemo" ini filmnya soal apa? Fine. Akibat kejadian traumatis, seorang ayah ikan badut, Marlin (Albert Brooks) sangat overprotective (udah sangat, over lagi) terhadap putra semata wayangnya, Nemo (Alexander Gould), namun malang tak dapat ditolak, tiba-tiba Nemo ditangkap dan dibawa pergi oleh manusia penyelam. Marlin yang panik segera mencari sang anak dengan segenap tenaga bersama teman seperjalanannya yang pelupa, Dory (the brilliant Ellen DeGeneres) menyeberangi samudera. Begitulah. Oh, percayalah, kisah fabel persembahan Disney dan Pixar selalu di atas rata-rata, dan Finding Nemo berada di tingkat paling atas. Dengan warna-warni visual yang luar biasa, petualangan sekaligus road movie ini mengetengahkan pentingnya hubungan orang tua-anak dibangun atas kasih sayang ketimbang kekhawatiran. Pengisahannya dinamis, jenaka dan menyentuh dalam takaran dan timing yang pas, begitu captivating sehingga membuat gw tetap terpaku dan menikmati ceritanya, dan karakterisasinya pun akan mudah sekali diingat, serta yang penting tetap appealing untuk segala usia secara aman. Sebuah film yang buat gw gak akan lekang oleh waktu ataupun habis daya tariknya meski sudah berulang kali disaksikan.

Yang belum nonton, inilah kesempatan kalian, jangan sampai kelewatan. Yang "baru" nonton di layar kecil, tidak ada ruginya untuk menonton lagi di layar besar...yah kecuali memang udah gak nyaman sama penampakan hiu. P. Sherman 42 Wallaby Way, Sydney!




My score: 9/10

Sabtu, 06 Oktober 2012

[Album] Fun. - Some Nights


Fun. - Some Nights
(2012 - Fueled By Ramen/Atlantic Records/Warner Music Group)

Tracklist:
1. Some Nights (intro)
2. Some Nights
3. We Are Young (featuring Janelle Monáe)
4. Carry On
5. It Gets Better
6. Why Am I the One
7. All Alone
8. All Alright
9. One Foot
10. Stars
11. Out on the Town (bonus track)


Nama band Fun. (pake titik) memang baru booming awal tahun 2012 ketika lagunya "We Are Young" melesat di tangga lagu dan unduhan iTunes (kalo di Indonesia mungkin 4shared yah =p), mungkin sedikit banyak berkat dibawakan dalam salah satu episode serial komedi musikal "Glee". Gw mengira cukup banyak orang yang tidak tahu-menahu tentang band ini selain lagunya yang menampilkan vokal tamu Janelle Monáe ini nge-hit banget dan masih sering diputar di radio-radio hingga kini. Gw juga sepertinya hanya akan tahu sebatas itu, jika saja gw nggak mendengarkan single mereka selanjutnya, "Some Nights". And I tell you, it really drew me to them. Iseng-iseng coba mendengarkan satu album yang pula bertajuk Some Nights, siapa nyana, tak perlu waktu lama gw memutuskan bahwa ini adalah salah satu album terbaik tahun ini, setidaknya versi gw.

Perkenalkan Fun., yang mirip Guy Pearce itu namanya Nate Ruess di vokal; lalu ada Jack Antonoff di gitar, drum, vokal latar; dan dedengkotnya Andrew Dost yang memainkan berbagai macam alat sampai-sampai di wikipedia tidak dirinci. Asalnya dari Amerika Serikat, musiknya alternative rock (atau indie rock, sebuah istilah yang tidak pernah gw mengerti), dan Some Nights adalah album major label pertama, sekaligus album kedua dalam karir mereka. Karena kurang tahu karakter Fun. dalam karya-karya sebelumnya, gw hanya bisa menarik kesimpulan dari album Some Nights ini, bahwa musik mereka antara rock teatrikal , sedikit unsur folk di beberapa lagu karena sifatnya yang lyric-driven, serta hiphop. Ciri terakhir ini bisa terjelaskan karena setiap karya dalam album ini diproduksi oleh Jeff Bhasker, dan beberapa oleh Emile Haynie yang lebih dikenal sebagai produser karya-karya artis hiphop/rap/R&B macam Kanye West dan Eminem (terima kasih kepada Wikipedia yang membuat gw bisa nyebut nama-nama dan istilah-istilah di atas sehingga bikin gw tampak agak cerdas nan komprehensif dalam tulisan ini, love you *kecup*). Hasilnya adalah lagu-lagunya menampilkan beat yang sangat beragam, nggak gitu-gitu aja. Hebatnya semua terdengar kawin mesra nan segar di telinga.

Percampuran berbagai aliran tersebut memang sangat kentara dalam setiap track di album ini. Sebut saja single hit "We Are Young" yang memuat perpaduan stadium rock dan hiphop. Lagu "Some Nights" menyerempet folk/country khas Amerika dengan harmonisasi vokalnya yang kemudian "diarak" oleh dentuman drum yang cukup kompleks. Pengertian "teatrikal" pun sudah tampak dari "Some Nights (intro)" yang berisi unsur choral dan orchestral ber-kresendo-dekresendo layaknya lagu-lagu Queen (dan gaya nyanyi high-pitch halus-nya Nate juga ada sedikit Freddy Mercury-ish), atau seperti "We Are Young", "Why Am I the One" dan "Stars" yang masing-masing iramanya berubah-ubah. Ditambah lagi dengan sering dimasukkannya string section yang memberi depth berarti. Namun demikian, dengan ditambahkannya efek-efek digital, "kemegahan" musik Fun. di sini jadi sedikit diringankan dan jadi kekinian, jadi asyik, jadi lebih mudah diikuti dan dicerna, jadi lebih..err..fun. Apalagi, ragam warna itu ditampilkan dengan seimbang dalam susunan track-nya, antara yang kenceng, agak kenceng, dan (not-so) pelan disajikan bergantian dan enak diikutinya, nggak membosankan. 

Keasyikan musik Fun. dalam album Some Nights pun dilengkapi dengan rangkaian lirik yang seakan bersambung dan saling terkait satu dengan yang lainnya, atau setidaknya bertema serupa. Dengan banyak menggunakan kata-kata drink, bed, serta keinget sama keluarga di kampung =p, Fun. seakan-akan hendak bercerita tentang relationship gone bad (paling jelas di "Some Nights", "Why Am I the One", "All Alone", "All Alright"), termasuk bonus track "Out on the Town" yang merupakan lagu dengan lirik paling verbal dari keseluruhan album ini. Tidak depressed, tidak cheesy juga. Dan apalah yang bikin sebuah album bagus selain setiap lagu dapat menjadi bagian dalam rangkaian album secara keseluruhan, sekaligus berdiri sendiri jika didengarkan berpisah. Bisa in-context dan out-of-context juga. Inilah keunggulan lagu-lagu Fun. dalam album Some Nights yang jarang gw temukan dalam album-album yang gw dengarkan. Semisal "We Are Young" yang bisa dianggap sebagai lagu perayaan terhadap gejolak kawula muda, namun jika dalam konteks album ini bisa juga dianggap sebagai segmen "pelarian" dari permasalahan dalam track sebelumnya, "Some Nights", pun dalam track setelahnya, "Carry On" ada disebut "bar" yang notabene menjadi "latar tempat" lagu "We Are Young". Itu satu contoh saja...well, menurut anggepan gw doang sih. Kalau ada waktu, silakan dengarkan album ini sambil baca liriknya dan rangkaikan kisah dalam album Some Nights menurut interpretasi kalian sendiri (oh yes, people, ada lirik di leaflet CD-nya =)).

Meski bukan masuk kategori luar biasa, dan gw sangat terganggu dengan penggunaan auto-tune berlebihan dalam lagu "Stars", album Some Nights tetap mudah untuk menjadi salah satu album terfavorit gw tahun ini. Musiknya yang tidak berat tapi lezat kaya bumbu sangat asyik didengarkan dan tidaklah biasa-biasa, tidak sekedar rock, tidak asal catchy (walaupun ini relatif, stukturnya lagunya banyak yang tidak pop) atau asal masukkin unsur hiphop. Diperkuat performa vokalnya yang sedramatis musik dan liriknya, pokoknya exciting sekali. Yakinlah bahwa Fun. tidak hanya bisa mengandalkan "We Are Young" semata. "Some Nights" yang begitu megah sudah membuktikannya, belum lagi ada "Carry On" yang lebih kalem tapi tak kalah anthemic, "Why Am I the One" yang bisa dikatakan paling mellow tapi intens dan masih dalam irama yang enak, "All Alone" yang terkesan seperti parade karnaval membungkus lirik galau, atau "One Foot" yang paling kental unsur hiphop-nya. (Mostly) bitter lyrics with savory music. Nggak percaya? Gw juga dulu nggak nyangka albumnya bakalan se-enjoyable ini, kok. Kejutan yang manis bahwa ternyata Fun. memang semenyenangkan ini, dan mudah-mudahan tidak berhenti sampai di sini.



My score: 8/10


Fun.

Previews

Selasa, 02 Oktober 2012

[Movie] A Separation (2011)


جدایی نادر از سیمی (Jodái-e Náder az Simin)
A Separation
a.k.a. Nader and Simin, a Separation
(2011 - Asghar Fahradi Production/Filmiran/Memento Films International/Sony Pictures Classics)

Produced, Written and Directed by Asghar Farhadi
Cast: Peyman Mohaadi, Leila Hatami, Sareh Bayat, Shahab Hosseini, Sarina Farhadi, Ali-Asghar Shahbazi, Kimia Hosseini, Merila Zare'i, Babak Karimi, Shirin Yazdanbakhsh


Inilah pertama kalinya gw menyaksikan film dari Iran, asli dalam bahasa Persia (bukan Arab lho ya). Padahal, meskipun negaranya sering di-sensi-in sama USA dan konco-konconya, serta terkesan (atau ter"stigma") negaranya "nggak bebas", dalam beberapa dekade terakhir bidang perfilman Iran justru memiliki tempat terhormat di dunia internasional. Khusus A Separation karya Asghar Farhadi ini menjadi sebuah fenomena sinema dunia, yang memenangi penghargaan di nyaris semua festival film yang diikutinya sepanjang tahun 2011 (termasuk festival film Berlin dan Asian Film Awards), hingga puncaknya menjadi film Iran pertama yang meraih piala Oscar. Anyway, karena merupakan film Iran pertama yang gw pernah tonton, A Separation sedikit banyak adalah eye-opener buat gw. Setelah sebelumnya hanya mengetahui tentang republik Islam (Syiah) ini dari berita-berita, tayangan National Geographic dan film Persepolis, kini saatnya melihat satu sisi kehidupan bangsa Iran dari sudut pandang orang Iran sendiri.

Perselisihan Simin (Leila Hatami) yang sudah siap pindah ke luar Iran dengan Nader (Peyman Mohaadi) sang suami yang berkeras untuk tetap bertahan demi merawat ayahnya (Ali-Ashgar Shahbazi) yang menderita Alzheimer, membawa mereka kepada tahap pengajuan cerai. Pengadilan belum mengesahkan permohonan cerai Simin karena dianggap alasannya nggak penting, namun Simin memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya, sedangkan meski sudah diajak Simin, putri mereka, Termeh (Sarina Farhadi) memutuskan untuk stay sama Nader dan sang kakek. Karena Nader harus kerja, Termeh sekolah, dan Simin udah "minggat", maka harus ada yang mengurus si kakek di siang hari. Dipekerjakanlah Razieh (Sareh Bayat), adik ipar kenalannya Simin. Di hari pertama, Razieh yang rupanya sedang hamil muda merasa tak sanggup dengan pekerjaannya, namun pada Nader ia mengusulkan suaminya, Hojjat (Shahab Hosseini) untuk menggantikannya. Tetapi, pada akhirnya Razieh-lah yang selalu datang "menggantikan" suaminya. Akibat suatu peristiwa, Razieh dipecat oleh Nader karena dianggap tidak bertanggung jawab dalam kerjaannya. Tidak disangka, tindakan itu malah menyeret keluarga yang sedang pecah ini ke permasalahan yang lebih pelik, ketika Nader dituntut oleh Hojjat ke ranah hukum untuk hal yang tidak dilakukannya.

Oke, kisah sudah jatuh tertimpa tangga kelindes becak semacam ini mungkin tak pelak menjadi bahan favorit sinetron atau telenovela. Memang, gw sendiri melihat A Separation sebagai sebuah kisah keluarga yang melankolis, menggetarkan emosi, namun nyatanya kemasannya sendiri tidak terjebak pada umbar kemalangan dan kesedihan menye-menye dengan musik mendayu-dayu yang memerintahkan penonton "ayo  nangis! Nangis!". Pendekatan Asghar Farhadi di sini justru lebih realis, bahkan musik latar pun nyaris tidak ada. Tak berhenti si situ, A Separation adalah juga sebuah film yang memuat berbagai informasi hanya lewat satu konflik utama, dalam hal ini berbicara tentang negeri Iran. Lewat perceraian dan tuntutan hukum, gw bisa menyaksikan tentang budaya, masyarakat, adat dan kebiasaan, pendidikan, dan hukum dari plot dan karakter yang dimunculkan di sini tanpa harus ngalor-ngidul kemana-mana. Semuanya terintegrasi dalam satu tuturan utuh.

Gw bisa menyaksikan perbedaan ketentuan pakaian laki-laki dan wanita (juga perbedaan pakaian wanita biasa seperti Razieh, dengan yang lebih berpikiran bebas seperti Simin), bahkan cara berpakaian itu dipergunakan dalam plot. Gw bisa melihat keterikatan kuat orang sana pada hukum agama dalam kehidupan sehari-hari, yang juga dipergunakan sebagai salah satu kunci plot utama. Hingga ke hal-hal kecil, seperti lebih banyaknya istilah-istilah bahasa Prancis digunakan ketimbang Inggris (setidaknya pada kelas sosial Nader dan Simin), berkeliaran mobil produksi Prancis dan Korea, ada Nescafe, pokoknya yang menunjukkan bahwa Iran pun adalah negara yang modern dan bukannya terisolasi, meskipun kontras dengan kerasnya hukuman terhadap perkara-perkara yang, well, mungkin kalau di negeri kita bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat berasas kekeluargaan *yea rite =p*. Mungkin itu sebabnya pengadilan digambarkan rame kayak pasar karena banyaknya perkara semacam itu yang diajukan di sana, who knows.

A Separation tak hanya berkonflik pelik, bermuatan lokal sekaligus informatif bagi penonton non-Iran, namun naskah dan pengisahannya pun begitu solid. Segala detil dan momen pasti berkaitan dengan detil-detil dan momen-momen selanjutnya. Keahlian Fahradi dalam menabrakkan beban masing-masing tokoh dalam sebuah konflik patut diacungi jempol, tidak ada yang dibuat-buat atau tiba-tiba karena semua sudah diperhitungkan, apalagi disajikan dengan begitu intens, yang didukung oleh sisi teknis kelas wahid dan  performa para aktor yang luar biasa, wajar dan berisi (kredit tebal buat Peyman Moaadi dan Shahab Hosseini). Intensitas itu juga gw rasa akibat sisi kemanusiaan yang sangat dikedepankan ketimbang hal-hal lainnya. Meski memang sedikit banyak memuat tentang situasi di sebuah sudut Iran, film ini tidak menggambarkan enak atau susahnya hidup di Iran, tidak juga menyatakan dukungan atau perlawanan terhadap budaya dan hukum yang berlaku. Mungkin unsur-unsur itu memang ada (dan sangat halus disematkan, sangat halus hingga bisa lolos sensor pemerintahannya), tapi of all things film ini adalah tentang manusia yang tinggal di dalamnya, tentang pilihan-pilihan yang diambil serta konsekuensinya. Tidak ada yang protagonis dan antagonis, karena semua tokoh di sini punya kebaikan dan kesalahan masing-masing, membuat gw jadi sulit untuk menjatuhkan vonis siapa biang kerok dari rangkaian kejadian malang yang menimpa Nader, Simin, Razieh dan keluarga mereka masing-masing. 

Jelas sudah bagaimana bisa film ini memperoleh taburan pujian di mana-mana. A Separation adalah sebuah karya yang masterful, teliti dalam segala bidang, menggugah hati tanpa harus cengeng. Contoh film drama emosional yang baik dan benar, and even more.



My score: 8,5/10