Jumat, 21 September 2012

[Movie] Rayya, Cahaya di Atas Cahaya (2012)


Rayya, Cahaya di Atas Cahaya
(2012 - MAM Productions/Pic[k]lock)

Directed by Viva Westi
Written by Emha Ainun Najib, Viva Westi
Produced by Dewi Umaya Rachman, Sabrang Mowo Damar Panuluh
Cast: Titi Sjuman, Tio Pakusadewo, Alex Abbad, Christine Hakim, Sapto Soetarjo, Richard Oh, Tino Saroengallo, Verdi Solaiman, Bobby Rachman, Lila Azizah, Vedie Bellamy, Arie Dagienkz


Rayya, Cahaya di Atas Cahaya bukanlah film yang "nyata". Berbeda dengan 3 Hari untuk Selamanya yang sama-sama road movie yang berusaha terkesan riil, film ini justru memilih untuk tidak riil, caranya lebih teatrikal, yang akan "aneh" jika ditempatkan dalam semesta alam nyata. Pun ia hadir dengan kekunoan, entah dari pilihan kata, konflik, hingga teknis, seakan-akan film ini dibikin berdekade-dekade yang lalu. So what? Jika film ini memang secara sengaja dan sadar meng-embrace pendekatan semacam itu, ya nggak salah lah. Sepengelihatan gw, sudah sekian banyak film Indonesia era milenium yang berusaha mempersembahkan kisah dengan gaya sastrawi tetapi masih bertabrakan awkward dengan dunia nyata kontemporer, terutama dari gaya bicara aktornya, jadi kesannya maksa dan hanya ingin supaya dari filmnya ada "quote" yang bisa ditarik, atau bahkan isinya cuma "quote" doang tanpa mentingin cerita (ehem, *lirik cin(T)a*). Rayya adalah sebuah film bergaya klasik yang digagas, dieksekusi, dan dimainkan dengan tepat dan benar. Penggunaan bahasa dialog yang "tidak wajar" sudah ditekankan sejak film dibuka dengan rapat tim yang hendak membuat buku biografi tentang selebritas nomer 1 Indonesia, Rayya (Titi Sjuman). Anehnya, dengan pembawaan setiap aktor yang terlibat di dalamnya, ketidakwajaran itu jadi terlihat...well, meyakinkan.

Utamanya, film ini bercerita tentang perjalanan Rayya sepanjang pulau Jawa hingga Bali lewat jalan darat demi pemotretan yang akan dipakai pada buku biografinya nanti. Rayya mungkin punya sifat-sifat "umum" selebritas yang menginginkan segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginannya, termasuk sesi foto road trip yang hanya ingin ia lakukan sendiri dengan fotografernya saja tanpa keberadaan orang lain. Namun hal itu diperparah dengan kehidupan asmara Rayya yang tidak sesempurna karir dunia hiburannya. Sakit hati yang dimiliki Rayya karena ternyata cowoknya udah beristri menyebabkannya jadi cranky dalam bekerja, sampai-sampai bikin kesal si fotografer, Kemal (Alex Abbad) yang kemudian menarik diri. Kemal kemudian digantikan fotografer yang lebih senior, Arya (Tio Pakusadewo). Sesi foto Rayya dan Arya pun berlanjut dengan berbagai perhentian, di berbagai lingkungan dan situasi yang eksotis, dan somehow ke-cranky-an Rayya bisa "cocok" dengan kekaleman dan kedewasaan Arya. Klisenya, dua orang ini akan saling jatuh cinta. "Masalah"-nya, film ini tidak klise. Persinggungan pikiran dan cara pandang dari dua orang yang (ternyata) sama-sama pernah disakiti hatinya ini terjadi secara perlahan, namun saling menggali satu dengan yang lain, memunculkan diri mereka masing-masing yang sesungguhnya ke permukaan.

Sudah jelas unsur obrolan akan mendominasi film berdurasi nyaris 2 jam ini. Dari segi bahasa mungkin akan terdengar, seperti gw bilang tadi, agak pretensius dan nyaris sinetronis, tetapi apa isi yang diujarkan lewat dialog bukanlah hal-hal yang terlalu aneh atau terlalu besar untuk dibicarakan. Malah, adu pendapat tentang love and life antara Rayya dan Arya terlihat manis dan sesekali jenaka. Hadirnya susunan kalimat yang terbilang baku tujuannya bukan supaya bisa dikutip, tetapi memang begitulah gaya bicara dalam semesta film ini, dan anehnya, segala yang dibicarakan bisa mudah relate dan dimengerti. 2 orang teman nonton gw pun mengingatkan bahwa demikianlah gaya bahasa dari budayawan ternama Emha Ainun Najib, salah satu penulis naskah film ini yang juga ayah dari sang produser Sabrang Mowo Damar Panuluh a.k.a. Noe "Letto" (that is a very fancy name). Diksinya memang agak mengawang, tetapi begitu membumi pemaknaannya. Momen-momen yang muncul pun kalau dipikir-pikir seperti fragmen-fragmen kontemplatif tentang kemanusiaan di negeri kita ini, namun semuanya itu disusun dan ditata dengan mulus serta relevan dengan kisah utama tentang Rayya dan Arya. My point is, meski film ini (memang seharusnya) menampilkan proses penyatuan dua hati dalam bentuk banyak obrolan, namun tidak, sama sekali tiada terkesan nyinyir dan cerewet tanpa alasan dan tujuan.

Satu hal yang menurut gw agak lucu adalah bagian proses pembuatan buku biografi Rayya seperti menjadi paralel dengan berbagai unsur film ini, baik di dalam maupun di luar cerita. Misalnya, apakah di buku perlu ada kisah keluarga Rayya atau tidak menjadi persoalan, demikian pula dalam film ini kita hanya tau sedikit saja tentang latar belakang keluarga Rayya, penting atau tidaknya hal itu tergantung penonton. Demikian pula metode Arya yang masih memakai kamera analog dengan rol Fujifilm kontras dengan Kemal yang lebih muda dan ahli bidang fotografi digital, sedangkan film Rayya sendiri diambil dengan film seluloid ketimbang digital yang jadi tren perfilman Indonesia dan dunia saat ini (meskipun gw sendiri nonton dalam presentasi digital cinema projectors). Satu lagi, tentang seberapa tebal nanti bukunya, takutnya kalau terlalu tebal dan mewah nanti banyak yang enggan beli. Itu semacam proyeksi film Rayya ini sendiri, yang dari luar sekilas tampak terlalu "nyeni", panjang/membosankan dan diperkirakan sedikit orang yang bakal meminatinya, padahal tidak sepenuhnya benar. I don't know, I found them funny, or maybe I'm just a weirdo.

Kudos bagi sutradara Viva Westi dan timnya, Rayya adalah film Indonesia tahun ini yang, secara cukup mengejutkan, paling memuaskan gw dari hampir segala segi. Pilihannya menggunakan film seluloid pada pengambilan gambar terbukti menambah keindahan, kedalaman dan ke"puitisan" filmnya, apalagi gambar-gambar yang ditangkap sinematografer langganan Citra (piala ya, bukan lotion) Ipung Rachmat Syaiful ini begitu mengharukan saking cantiknya. Namun pencapaian tertinggi film ini adalah pemilihan dan performa para pemain yang sangat tepat. Membuat film dengan gaya tidak modern memang harus kudu menggunakan aktor-aktor yang sanggup men-deliver "kekakuan" secara meyakinkan. Itulah yang dicapai pasangan peraih Citra, Titi Sjuman dan (terutama) Tio Pakusadewo, bahwa dengan kerapuhan tokoh-tokoh mereka dan ketidakwajaran tutur kata (bagi kita yang hidup di dunia nyata, setidaknya), mereka tetap dapat menghidupinya tanpa canggung, bahkan jadi lovable. Para pemain minor pun sama bagusnya, namun Christine Hakim mungkin yang paling menarik perhatian dengan akting agak budegnya.

Mudah sekali menge-cap Rayya sebagai film "art" yang akan memusingkan dan mengantukkan. Tapi saya beri tahu, itu salah besar. Menganggap film ini "puitis" pun juga kurang tepat, karena problema yang dialami tokoh-tokohnya itu sangat bisa dirasakan secara langsung tanpa harus loading dulu cari maknanya, hanya bahasa penyampaiannya saja yang agak berbeda. Memang ada perenungan-perenungan yang ditampilkan, tetapi tidak ada kesan "nih kalimat gue penting nih, ayo renungkan". Semua mengalir enak, forgivably dramatis, dan lancar selancar perjalanan Rayya dan Arya yang sepertinya tidak menemui kemacetan dan perbaikan jalan itu. Pada akhirnya, gw tidak benar-benar ingat "kata-kata mutiara" dari film ini, yang gw ingat hanyalah ada rasa cinta di sana. Apapun hiasan dialognya, yang jauh lebih penting adalah film ini berhasil menyampaikan apa yang dirasakan kedua tokohnya tanpa maksa atau vulgar alih-alih cheesy, karena ketika menjunjung tinggi cinta, hal-hal lain seakan jadi nggak penting *lah ini apa kalo bukan quote langsung dari filmnya? hehe*. Well-done lah pokoknya, salah satu film Indonesia terbaik, ternyaman, dan paling bertanggungjawab yang pernah gw tonton.



My score: 8,5/10

Kamis, 20 September 2012

[Movie] Ted (2012)


Ted
(2012 - Universal/Media Rights Capital)

Directed by Seth MacFarlane
Story by Seth MacFarlane
Screenplay by Seth MacFarlane, Alec Sulkin, Wellesley Wild
Produced by Scott Stuber, Seth MacFarlane, John Jacobs, Jason Clark, Wellesley Wild
Cast: Mark Wahlberg, Mila Kunis, Seth MacFarlane, Joel McHale, Giovanni Ribisi, Patrick Warbutton, Matt Walsh, Jessica Barth, Aedin Mincks, Patrick Stewart


Siapa sih Seth MacFarlane? Dalam dunia sinema arus utama namanya pernah muncul sebagai pengisi suara makhluk uap asal Jerman, Johann di Hellboy II: The Golden Army. Namun bagi penonton dan pecinta serial televisi Amerika Serikat, MacFarlane lebih dikenal sebagai otak brilian di balik serial kartun komedi dewasa "Family Guy", "American Dad", dan "The Cleveland Show". MacFarlane yang seorang pengisi suara (untuk berbagai karakter bahkan dalam satu judul), penulis naskah, produser, sutradara hingga penyanyi ini orangnya memang kreatif, humoris, rude, clever, ateis, dan punya selera musik yang anggun. Gw tahu ini bukan karena kenal, tetapi karena itu terlihat dari karya-karya-nya yang selalu melemparkan lelucon dan olok-olok terhadap situasi sosial politik dan pop culture khususnya Amerika secara in-your-face. Prestasi dan "karakter" MacFarlane itulah yang menjadi daya tarik utama Ted, sebuah komedi dewasa cukup absurd yang merupakan karya live-action perdananya, dan kali ini ia menjabat posisi sutradara, produser, penulis cerita dan naskah, dan tentunya pengisi suara si boneka beruang, Ted.

Ted adalah boneka beruang hadiah Natal bagi John Bennett kecil yang ia jadikan sahabat karena tak ada anak-anak sebayanya yang mau bergaul dengannya. Berkat sebuah keajaiban Natal, Ted tiba-tiba bisa hidup, berbicara, berpikir, berperilaku selayaknya manusia yang terjebak dalam tubuh kapas dan kain. Dalam tradisi Brian si anjing berperilaku manusia dan Stewie si bayi berjiwa tua nan jahat di "Family Guy", atau Tim si beruang pekerja kantoran di "The Cleveland Show", dalam semesta film Ted orang-orang sekitar tak butuh waktu terlampau lama untuk mengakui bahkan membiasakan diri dengan keberadaan boneka beruang yang bisa berbicara di tengah-tengah masyarakat, dan bahkan menjadikannya selebriti. Singkat cerita sebagaimana banyak selebriti cilik lainnya, euforia keberadaan si boneka beruang yang hidup kini sudah berlalu, sekarang kerjaan Ted (Seth MacFarlane) cuman nongkrong-nyimeng-nyabu sambil nonton di rumah bareng John Bennett (Mark Wahlberg) yang sudah 35 tahun umurnya. John sebenarnya sudah punya kekasih, Lori (Mila Kunis, damn! those eyes...), mereka (Ted juga) bahkan tinggal di apartemennya. Namun dalam hubungan asmara yang sudah menahun, Lori merasa Ted yang gaya hidup dan perilakunya luar biasa buruk membuat John nggak maju-maju hidupnya. Lori minta Ted pindah dari rumahnya untuk memulai hidup mandiri sekaligus menjaga agar John nggak main melulu. So, it's the classic pilih-pacar-loe-atau-sahabat-loe. Sanggupkah John berpisah dari Ted demi cinta sejatinya?

Storywise, kisah Ted bukanlah sebuah gebrakan, ini bisa jadi sebuah film komedi romantis untuk konsumsi keluarga....tapi cara penyampaian dan humor film ini tentunya mencoret kata keluarga dari sini. Ted adalah semacam film Disney dengan aksesori umpatan, asusila dan narkoba. Yes, film ini jelas menampilkan semua itu, makanya para orang tua harus mempertimbangkan masak-masak jika mau mengajak anak-anaknya menonton film ini hanya gara-gara di film ini ada boneka teddy yang bisa ngomong, kecuali dipastikan anaknya belum ngerti bahasa Inggris, belum paham soal gerakan sanggama, dan menganggap nyabu sama dengan uap persiapan facial. Namun di luar itu, film ini kembali mempertunjukkan selera humor ofensif-namun-cerdas dari MacFarlane. Begitu banyak referensi kultur pop yang disinggung, mulai dari Flash Gordon hingga Star Wars, dan sebanyak itu pula topik dan tokoh yang diolok-olok mulai dari "Chris Brown can do no wrong" *hihihi* hingga gaya nyanyi mendem di tahun 90an seperti vokalis Hootie and the Blowfish, dari "murah"-nya ujaran berbau keagamaan hingga kaitan sampanye mahal Cristal dengan selebriti kulit hitam. Hal-hal inilah yang memperkaya dan mengistimewakan film ini. Jika Anda akrab dengan rujukan-rujukan semacam itu, niscaya Anda akan terbahak sentosa menyaksikan Ted. Namun jika tidak, yah nikmati saja kekurang-ajaran Ted dan berbagai keabsurdan visual lainnya, meskipun jatuhnya film ini jadi tidak akan selucu itu. Gw? Lumayanlah, sebagian gw paham jadi dibisa-bisain menikmati film ini *belagu*, bahkan sampe "meledak" tawa gw di dua adegan yang timing-nya ngehe banget, udah gak peduli malu meski nonton sendiri dan duduk sebelahan sama orang gak kenal.

Hiburan yang ditampilkan Ted memang istimewa, dan menurut gw sih ditata sangat rapi dan tepat guna. Segi ceritanya mungkin tidak terlalu istimewa, tetapi kehadiran Ted yang gaya bicaranya mirip Peter Griffin di "Family Guy" ini (yah yang ngisi suara 'kan MacFarlane juga, sengaja kali ya =)) serta humor-humor sebenarnya-bisa-jadi-konyol-tapi-nggak yang ditampilkan sana-sini membuat film ini jadi tidak biasa. Permainan effortless dari Mark Wahlberg dan Mila Kunis (yang juga secara reguler mengisi suara Meg Griffin di "Family Guy") pun turut andil memberikan sentuhan simpatik dan manusiawi. Terlepas dari filmnya yang absurd, kedua tokoh manusia ini tidaklah komikal dan dimainkan dengan wajar pula. Namun bintangnya tentu saja Ted, bahwa dengan wujud lucu dan menggemaskan ia justru bertuturkata dan bertingkahlaku "lucu dan menggemaskan" dalam pengertian lain, namun bagusnya ia tetap memiliki depth bukan sekadar seksi lawak, MacFarlane's performance as Ted is flawless. Ted bisa dikatakan sebuah keberhasilan dari MacFarlane dalam debut layar lebar live-action-nya. Gaya humor dan penceritaannya tidak kering, bahkan bagian-bagian yang emosional pun tetap terasa sebagaimana mestinya. Oh ya, gw juga suka pilihan tata musik yang berunsur pop-smooth-jazz yang memberi nuansa klasik, musik semacam ini mungkin memang kesukaan MacFarlane yang kerap menggunakannya di serial-serial animasi bikinannya, bahkan doi sempat merilis album vokal dalam genre ini lho. 

Kisah (komedi) sederhana namun dibawakan dengan gaya berbeda membuat Ted pantas disambut meriah, terutama yang suka dengan lelucon-lelucon dudul tapi nggak cerewet, dengan timing yang tepat dan nggak maksa. Gw yang sesungguhnya bukan penggemar komedi khas Amerika malah sangat menikmati Ted, karena komedinya sedikit berbeda dari yang ada, lebih berisi dan lebih nonjok aja. Film ini tidak dipaksa lucu, tapi memang lucu. Dan dibalik ketercelaan bahasa dan perilaku tokoh-tokohnya, Ted tetap mengusung nilai-nilai tentang cinta dan persahabatan...atau sudahlah nikmati saja kelucuan geblek khas MacFarlane yang tetap terjaga hingga di akhir film ini =D.



My score: 7,5/10

Selasa, 11 September 2012

[Movie] Test Pack: You're My Baby (2012)


Test Pack: You're My Baby
(2012 - Starvision Plus)

Directed by Monty Tiwa
Screenplay by Adhitya Mulya
Based on the novel by Ninit Yunita
Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Cast: Reza Rahadian, Acha Septriasa, Renata Kusmanto, Uli Herdinansyah, Karissa Habibie, Ratna Riantiarno, Meriam Bellina, Jaja Mihardja, Oon Project Pop, Dwi Sasono, Gading Marten


Hidup di tengah-tengah masyarakat yang rata-rata kepo dan usil sering basa-basi sekaligus berniat ngatur kehidupan orang lain seperti di Indonesia ini, rasanya pertanyaan "kapan punya anak?" adalah pertanyaan yang menyakitkan bagi kehidupan seseorang, dengan hipotesa bahwa pertanyaan ini adalah pertanyaan paling menjengkelkan setelah "kapan nyusul nikah?", walau masih di atas "nggak mau kasih adek?". Tapi terlepas dari peer presure yang sudah jelas adalah alasan yang salah untuk memenuhi ekspektasi yang terkandung dalam ketiga pertanyaan tadi, Test Pack: You're My Baby mungkin adalah gambaran yang fair tentang pasangan yang kesulitan mendapat anak namun sangat menginginkannya dengan atau tanpa tekanan sosial. Film ini berfokus pada emosi dari pasangan muda yang sudah pada puncak merindukan hadirnya keturunan dan pengaruhnya pada hubungan mereka berdua.

Rachmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa), pasangan psikolog dan insan periklanan yang mapan dan sukses, meski dari tampangnya sulit dipercaya tetapi kata film ini mereka sudah menikah selama 7 tahun (percaya aja deh) namun belum ada tanda-tanda akan mendapatkan keturunan. Kehidupan mereka berdua fine-fine aja sih, masih kayak penganten baru, santai dan suka bercanda. Namun ketika mereka sudah merasa cukup berusaha namun tiada berhasil, Tata dan Rahmat akhirnya mendatangi dokter kandungan bernama dr. Peni S. (Oon Project Pop) dan mulai melakukan berbagai program yang tidak mudah, kesantaian dan canda tawa mereka pun berangsur-angsur terpinggirkan. Di saat yang sama, muncul wanita dari masa lalu Rachmat, Shinta (Renata Kusmanto), seorang model yang sedang naik karirnya dalam lingkup internasional, yang di saat yang sama sedang dalam masa frustrasi pasca gugatan cerai dari sang suami. Dan dengan berbagai kesulitan yang kemudian bergulir, apakah Rachmat dan Tata akan tetap bertahan hingga akhirnya berhasil mendapatkan anak sebagaimana mereka idam-idamkan?

Dengan sangat "berat hati" =D gw perlu mengatakan bahwa Test Pack adalah sebuah film yang sangat well-made dan worth to watch. Serius. Meski materi ceritanya terdengar tidak istimewa, Monty Tiwa beserta regu produksinya telah memberikan perlakuan yang sangat baik untuk kisah drama mature ini. Dengan materi yang lebih kena di orang-orang dewasa, perlakuannya pun sangat dewasa walau tidak terlalu berat. Dialog-dialog yang ditampilkan terdengar wajar tidak aneh-aneh, tidak overdramatic, desain produksi dan sinematografinya masih terlihat "filmis" dan nyaman dipandang, porsi humornya pun, walau kadang ada maksanya juga (kemunculan Agung Hercules, anyone?), tidak mengalihkan fokus dari kedalaman emosi tiga tokoh utama film ini. Tidak ada yang bisa benar-benar di-complain dari aspek-aspeknya. Setiap penataan situasinya tampak believable dan mudah diikuti, pengadegannya juga ditata baik sekalipun tanpa dialog. Lajunya memang agak sedikit lambat, tetapi tidak sampai bikin bener-bener bosan. Akting para pemainnya pun tidak bisa dicela, Reza, Acha dan Renata memberikan performa yang masing-masing baik bahkan kuat, demikian juga beberapa tokoh-tokoh pendukung yang tampil sesuai porsi. Mungkin penggunaan (banyak) cameo dari beberapa orang terkenal tidaklah penting, bahkan Poppy Sovia cuman literally numpang lewat doang, tapi lagi-lagi, film ini tetap bisa kembali fokus pada tokoh dan cerita utamanya, hal-hal tersebut bukanlah gangguan berarti.

Selain dari penceritaannya yang mungkin akan berbicara bagi sebagian orang yang merasa pernah mengalami, ada banyak hal yang bisa digali dari Test Pack ini, mungkin yang terutama adalah soal komitmen dan menemukan kembali definisi kebahagiaan, serta memaknai kembali tujuan berkeluarga. Di sini sebenarnya terangkat dua pasangan yang mengalami nasib serupa. Rachmat dan Tata belum dapat anak meski sudah diusiki secara halus oleh ambunya Rachmat (Ratna Riantiarno), tetapi tekanan untuk mengandung anak itu justru datang dari keinginan mereka sendiri. Sedangkan Shinta, meski memiliki kesuksesan karir luar biasa, harus mengalami pahitnya tekanan keluarga sang suami (Dwi Sasono) karena belum bisa melahirkan anak bagi mereka, sehingga disuruh cerai. Pertanyaannya, apakah "anak" adalah satu-satunya afirmasi sebagai manusia utuh, satu-satunya "alat" penentu kehormatan dan kebahagiaan manusia? Pertanyaan ini dijawab dengan bijak, halus, dan sederhana di film ini, dan gw termasuk setuju dengan jawabannya. 

Test Pack adalah film drama (dengan bumbu komedi) sederhana tapi tidak gampangan ataupun dangkal, juga adalah film yang tahu betul apa yang dibicarakannya. Terlihat dan terasa manusiawi tanpa perlu gimmick berlebih, kontroversi atau eksotisme lokasi agar dapat tampil menarik. Sebuah film yang wajar dan jadi bagus karena kewajarannya itu. Positif.



My score: 8/10

Jumat, 07 September 2012

[Movie] The Thieves (2012)


도둑들 (Dodookdeul)
The Thieves
(2012 - Showbox/Mediaplex)

Directed by Choi Dong-hun
Written by Choi Dong-hun, Lee Gi-cheol
Produced by Ahn Soo-hyun
Cast: Kim Yoon-seok, Lee Jung-jae, Gianna Jun, Kim Hye-soo, Oh Dal-soo, Simon Yam, Angelica Lee, Kim Hae-sook, Kim Soo-hyun, Derek Tsang, Chae Gook-hee, Yeh Soo-jung, Ki Gook-seo


Jika melihat materi-materi promo The Thieves, tidak benar-benar nampak suatu faktor yang menyebabkan film ini meledak di pasaran domestik Republik Korea a.k.a. Korea Selatan hingga sukses menjual belasan juta tiket, yang menjadikannya film dengan admission terbanyak nomer 2 sepanjang sejarah Korea setelah The Host. Mungkin faktor suksesnya memang gak dimengerti gw yang bukan pemerhati sinema Korea dan kurang mengenal karakter penonton film di Korea. Namun, faktor bintangnya mungkin berpengaruh, kayaknya sih ensemble cast-nya terbilang all-stars—meski gw sendiri cuma tau Gianna Jun dan Lee Jung-jae—ditambah lagi dengan keterlibatan aktor-aktor dari ranah sinema Mandarin yang terbilang sangat familiar, seperti Simon Yam dan Angelica Lee yang memungkinkan pemasaran film ini di kawasan Asia jadi lebih luas. Tapi usai menyaksikan film ini, gw menyadari adanya satu lagi faktor yang lebih turut andil dalam kesuksesannya: The Thieves adalah tontonan hiburan yang lengkap.

The Thieves, seperti judulnya, akan membawa kita pada dunia heist/perampokan profesional. Tim maling spesialis benda berharga yang terdiri Yenicall (Gianna Jun), Chewinggum (Kim Hae-sook), Zampano (Kim Soo-hyun), dan dimpimpin oleh Pop-pie (Lee Jung-jae) mendapat orderan dari kawan lama Pop-pie, Macau Park (Kim Yoon-seok) dalam sebuah job pencurian berlian di sebuah kasino pulau Macau. Begitu besarnya job ini, Park juga mengajak tim maling dari Hong Kong yaitu Chen (Simon Yam), Julie (Angelica Lee), Johnny (Derek Tsang), dan Andrew (Oh Dal-soo), sedangkan Pop-pie mengajak Pepsee (Kim Hye-soo) yang baru bebas dari penjara yang adalah kekasih lama Macau Park. Alasan gw menyebut nama the whole team di sini adalah karena The Thieves bukanlah film yang berfokus pada dua-tiga karakter semata. Dengan  penggarapan yang lincah, film ini rupanya berhasil membagi porsi setiap tokoh yang muncul dengan adil dan fungsional, lebih-lebih karena hampir setiap tokoh menyimpan rahasia. Istilah "thieves" bukan hanya menggambarkan profesi mereka, melainkan juga sifat mereka. Termasuk di dalamnya adalah pencuri hati #eaaa. 

Kayaknya gak perlu gw terusin sinopsis ceritanya, nanti kalo kepanjangan malah ke-spoil. Pokoknya meski misi utama mereka adalah mencuri berlian "Tear of the Sun" yang rencananya mau dijual ke seorang mafia misterius, The Thieves rupanya punya pengembangan plot dan karakter yang lebih daripada sekedar berhasil atau enggak pencuriannya. Intrik dan aksi kadal-mengadali sebagaimana diharapkan dalam sebuah film heist ditampilkan dengan baik dan nggak terlalu mudah ditebak, mengasyikkan untuk diikuti. Pun sepanjang perjalanan menuju job di Macau, sudah diperlihatkan sedikit demi sedikit bahwa anggota-anggota tim punya agenda tersendiri. Dengan karakter sebanyak itu, adalah suatu keistimewaan dan keberhasilan dari film ini bahwa gw tidak merasa kebingungan untuk mengenali setiap anggota tim, sifat-sifat dan motivasi-motivasinya, serta hubungan antar mereka yang beragam, mulai dari itu cinta, benci, dendam, curiga, hingga konspirasi. Gw rasa The Thieves adalah contoh film yang dapat meng-handle sebuah ensemble cast dengan baik, karakterisasinya dibuat jelas dan para aktor yang memainkannya pun membuat peran mereka menjadi simpatik. Kim Yoon-seok sebagai Macau Park yang menjadi semacam anti-hero serta Kim Hye-soo sebagai Chewinggum yang demen mabok tapi punya good sense of humor adalah yang paling menarik perhatian gw karena performa mereka yang mulus tanpa cela.

Menggabungkan crime-action dengan komedi dan drama melankoli khas Korea, The Thieves hadir begitu komplit dengan pengisahan dan penokohan yang menyenangkan pula cukup cerdas, tidak sekedar peniru Ocean's Eleven. Satu hal yang menarik perhatian gw adalah penggunaan (atau "permainan") berbagai macam bahasa agar para maling kita bisa menjalankan rencananya, mulai dari Korea, Mandarin, Kanton, Inggris, hingga Jepang, well played. Tak ketinggalan ada adegan-adegan laga dengan stuntwork memukau seperti baku tembak di gedung parkir kasino dan kejar-kejaran di balkon rumah susun yang membuat level excitement film ini semakin meningkat hingga ke akhir, untungnya lagi tidak ada dari adegan-adegan laga itu yang terlalu implausible. Terlepas dari eksekusi adegan pencurian yang tidak terlalu jelas rencana dan gerak-geriknya, dan perjalanan menuju ending yang terasa cukup panjang, The Thieves tetaplah sebuah tontonan yang sukses menghibur. Gw suka gayanya yang santai, lucu namun lincah dan terjaga intensitasnya hingga akhir, nggak sok serius. Memang statusnya sebagai runner-up film Korea terlaris sepanjang masa di negaranya bisa berisiko menaikkan ekspektasi yang tidak perlu bagi yang belum menontonnya. Pun gw juga merasa secara produksi film ini tidak semegah film-film macam The Host atau Taegukgi, tidak punya gimmick yang spektakuler. "Keren banget" atau "bagus" adalah penggambaran yang terlalu relatif untuk The Thieves, tetapi yang jelas dan penting film well-crafted ini menyenangkan, clever, dan tidak menyia-nyiakan kumpulan talenta yang terlibat di dalamnya.



My score: 7,5/10

Senin, 03 September 2012

[Movie] My Week with Marilyn (2011)


My Week with Marilyn
(2011 - The Weinstein Company/BBC Films/Trademark Films)

Directed by Simon Curtis
Screenplay by Adrian Hodges
Based on the diaries by Colin Clark (published as books entitled "My Week with Marilyn" and "The Prince, The Showgirl and Me")
Produced by David Parfitt, Harvey Weinstein
Cast: Eddie Redmayne, Michelle Williams, Kenneth Branagh, Dominic Cooper, Zoë Wanamaker, Emma Watson, Judi Dench, Julia Ormond, Toby Jones, Dougray Scott, Derek Jacobi, Robert Portal, Philip Jackson


Almarhumah aktris Marilyn Monroe begitu ikonik dalam dunia hiburan, sehingga ia tetap bersemayam di ingatan banyak orang meski hidup dan karirnya yang cemerlang itu hanya pendek saja—beliau meninggal umur 36 konon karena overdose obat-obatan. Memulai karir sebagai aktris film-film Hollywood di sekitar tahun 1950, tak butuh waktu lama para produser dan penonton tersihir oleh pesonanya lewat ekspresi dan gerak-geriknya yang genit nan sensual, dan...ya, konon juga jadi objek mimpi-mimpi basah kaum lelaki kala itu. Kisah hidupnya memang begitu menarik sehingga sudah banyak pihak yang mencoba membahasnya dalam media fiksi, termasuk dalam film bioskop, FTV, hingga yang masih agak fresh adalah serial musikal TV "SMASH". My Week with Marylin sendiri bercerita hanya tentang Marilyn dalam rentang waktu selama syuting film The Prince and the Showgirl bersama seniman peran terkemuka Inggris, Laurence Olivier. Memangnya apa menariknya? Well, film ini adalah tentang Marilyn dari sudut pandang seorang 3rd Assistant Director alias kacung produksi film tersebut.

Colin Clark (Eddie Redmayne) terlahir di keluarga nobleman di Inggris, namun tak seperti saudara-saudaranya, Colin lebih memilih merintis jalan agar bisa berkiprah di dunia yang nggak ningrat, yakni produksi film. Bukan berarti status kelas atas yang dimilikinya gak berperan sama sekali, pertemuan singkatnya di masa lalu dengan pasutri aktor-aktris Inggris ternama Laurence Olivier—bintang film Rebecca dan Henry V (pretend that I know what I'm talking about =p)—(diperankan oleh Kenneth Branagh) dan Vivien Leigh—bintang Gone with the Wind—(diperankan oleh Julia Ormond) ternyata berhasil membuatnya dapat kerjaan di produksi film Olivier terbaru meski hanya sebagai seksi tersuruh bertitel 3rd Assistant Director. Biarpun begitu, Colin tetap antusias, apalagi ia bekerja dengan aktor-aktor papan atas, namun highlight-nya tentu saja bertemu dengan bintang Hollywood yang lagi hot-hot-nya, Marilyn Monroe (Michelle Williams). Colin yang begitu tulus dan perhatian rupanya menarik hati Marilyn untuk dijadikan teman jalan dan ngobrol. Dengan kebersamaan mereka yang pada awalnya adalah supaya Marilyn merasa nyaman untuk mau terus syuting ketika hubungannya dengan sang suami ketiga, Arthur Miller (Dougray Scott) sedang bermasalah, Colin pun perlahan melihat sendiri Marilyn yang sangat rapuh dibalik senyuman merekah dan status superstar-nya, tak pelak benih-benih cinta mulai bersemi dalam hati Colin, namun akankah berambut..eh..bersambut?

Yah, bisa dibilang ini kisah nyata. Tetapi karena tuturannya subjektif, jadi bisa saja yang terjadi sebenarnya tidak persis seperti yang diceritakan. Maka dari itu daripada dibilang si Colin Clark ini cuman stalker yang kebanyakan ngharep, di awal film udah dibilang "this is THEIR true story", nyata dan benar menurut pelakunya. My Week with Marilyn sendiri memang benar-benar diceritakan menurut sudut pandang Colin, setiap adegan pasti ada Colin-nya, entah itu ia terlibat adegan atau sekadar curi dengar, nggak pernah ada adegan "meanwhile in...". Film ini menceritakan sebuah rangkaian pengalaman tak terlupakan bagi Colin yang terdiri dari dua pembahasan utama: perkerjaan perdana di dunia yang jadi passion-nya; dan even more, ia menjadi orang kepercayaan Marilyn Monroe selama syuting di Inggris. Tak hanya memperlihatkan sekilas proses syuting film kala itu (1950-an di Inggris) dan juga cara-cara mendatangkan bintang besar seperti Marilyn yang butuh effort besar, film ini dengan gamblang menunjukkan perbedaan etos kerja dan disiplin aktor-aktor Inggris (yang hampir seluruhnya lulusan teater), dengan Marilyn yang "lulusan" Hollywood yang butuh waktu mencari feel yang tepat untuk perannya saat syuting. Laurence Olivier yang menjadi sutradara sekaligus lawan main Marilyn lambat laun geram dengan Marilyn, atau setidaknya dengan etos kerjanya. Marilyn tentu jadi merasa nggak enak dan semakin tertekan, namun untungnya masih ada aktris senior Sybil Thorndike (Judi Dench) dan Colin yang membuatnya merasa mendapat support. Sedangkan hubungan Marilyn dan Colin memang seperti di-set buat romansa sesaat, namun lebih daripada itu bagian ini berniat menguak pribadi Marilyn yang sesungguhnya.

Marilyn yang ramah, belagak polos dan genit, selalu tersenyum ceria di mata publik dan tampak selalu menikmati ketenarannya di mana pun, adalah juga Marilyn yang labil emosinya, menganggap tidak ada orang yang benar-benar mengerti dirinya, dan pada era ini juga ia mulai mengkonsumsi pelbagai macam obat penenang. Sebuah pribadi yang kompleks, namun aktris alumni "Dawson's Creek", Michelle Williams (bukan personel Destiny's Child) berhasil membawakan peran berat ini dengan luar biasa believable. Terlepas dari bentuk fisik yang tidak mirip, bibir yang kurang penuh, dan bentuk mata yang kurang sayu, namun ketika menyaksikan Michelle, gw sejenak lupa seperti apa sosok Marilyn aslinya. Sama seperti perasaan gw ketika menyaksikan Morgan Freeman jadi Nelson Mandela di Invictus, pada saat menonton My Week with Marilyn, bagi gw Michelle-lah Marilyn. Ya, sebaik itulah performa yang membawa Michelle mendapatkan nominasi Oscar untuk ketiga kalinya ini. Lawan akting terbaik Michelle dalam film ini adalah Kenneth Branangh yang sukses luar biasa memerankan seorang tokoh sebesar Laurence Olivier yang tegas namun berhati emas namun harus diuji kesabarannya ketika menghadapi Marilyn. Well, actually, mengingat film ini 95% dipenuhi aktor-aktor Inggris tentu sudah jadi semacam jaminan bahwa film ini nggak akan mengecewakan dalam bidang akting—ya seperti digambarkan juga dalam film ini. Eddie Redmayne, meski tidaklah mencuat, tetap berhasil membawakan perannya yang begitu excited akan segala hal tapi nggak sampe norak, begitu pula penampilan Emma Watson yang berhasil meninggalkan hari-hari Harry Potter behind her tanpa harus ambil peran terlampau aneh (*lirik Radcliffe*). Judi Dench juga tetaplah seorang Judi Dench yang mungkin disuruh akting jadi pohon pun tetep akan keren. 

Sedangkan dalam bidang lainnya, it would be fair untuk bilang My Week with Marilyn tampil begitu nyaman dan mengasyikan, entah dari dialognya, karakterisasinya, maupun laju ceritanya yang tidak terlalu cepat maupun lambat, bervolume dengan kedalaman karakternya meski tampak ringan, serta dibungkus oleh kelengkapan teknis audio+visual+desain+musik yang juga nyaman nggak cemen. Sebuah usaha yang apik dari sutradara Simon Curtis yang menjadikan film ini sebagai film bioskop pertamanya setelah sebelumnya kenyang pengalaman mengarahkan drama televisi di UK (dan film ini dipersembahkan oleh BBC Films, masuk akal). Ada sayangnya juga sih, ketika menjelang akhir film ini berusaha memberi petuah-petuah sebagai penanda filmnya akah berakhir, nggak alami rasanya. Padahal di dari awal-awal hingga mendekati akhir segala sesuatu terlihat natural, bagian-bagian akhirnya jadi terkesan sangat dibuat-buat. Juga tentang penyelesaian hubungan Colin-Marilyn yang cukup membingungkan, namun ini bisa saja demi menggambarkan kompleksnya pribadi dan jalan pikiran Marilyn Monroe, istilahnya penonton diajak bingung bareng-bareng Colin. Kali aja. O well, nevertheless, dengan performa akting yang superb dan pengisahan yang easy-going, My Week with Marilyn, meski hanya menceritakan secuil bagian hidup Marilyn Monroe, adalah sebuah karya yang cukup komplit untuk mengenang dan mengenal sang simbol seks dan dunianya lebih dekat, terlebih dari sudut pandang orang yang pernah mengasihinya.




My score: 7,5/10

Minggu, 02 September 2012

[Movie] Rumah di Seribu Ombak (2012)


Rumah di Seribu Ombak
(2012 - Tabia Films/Winmark Pictures)

Directed by Erwin Arnada
Screenplay by Jujur Prananto
Based on the novel by Erwin Arnada
Produced by Ella SH, Erwin Arnada, Eko Kristianto
Cast: Risjad Aden, Dedey Rusma, Lukman Sardi, Bianca Oleen, JRX SID, Riman Jayadi, Andiana Suri, Andre Julian


Film dibuka dengan adegan seorang anak muda memandangi indahnya samudera dari pinggir pantai sembari menyandarkan tangan pada papan selancarnya. Nama lelaki ini adalah Samihi (Andre Julian), dan dalam pose itu ia bercerita kepada penonton tentang suatu masa ketika ia kecil, tepatnya 9 tahun sebelumnya, ketika dirinya (Risjad Aden) bersahabat dengan Yanik (Dedey Rusma), persahabatan yang mengubahkan hidupnya untuk selamanya. Anak-anak ini tinggal di Singaraja, itu yang letaknya di ujung Utara pulau Bali (kali aja ada yang nggak tau), di sana terletak pantai Lovina yang menjadi spot turis untuk melihat lumba-lumba lewat. Yanik bekerja sebagai pemandu turis lumba-lumba sebagai usaha membantu ibunya mencari penghasilan (di Bali "ibu" memang dipanggil "meme", I wonder if it's going to be bleeped when screened in Bandung =P) akibat kesulitan biaya hidup semenjak ditinggal ayahnya, dan karena ini pula Yanik berhenti sekolah. Samihi pun punya latar belakang yang cukup tragis, mempunyai kakak yang meninggal karena suatu kejadian di laut, lalu menyusul ibunya wafat akibat kesedihan mendalam. Satu hal yang dipegang erat oleh Samihi dan adik perempuannya, Syamimi (Bianca Oleen) yaitu pesan sang ibu untuk tidak main di dalam air. Kisah pun berjalan mengikuti hari demi hari persahabatan Samihi dan Yanik yang juga berbeda keyakinan dan budaya itu, saling membantu dan berbagi suka duka.

Rumah di Seribu Ombak memang pada hakikatnya hanya bercerita tentang hari demi hari persahabatan dua orang anak ini. It's kinda sweet though, memperlihatkan bahwa Samihi dan Yanik bisa saling menerima tanpa prasangka meski berbeda cara hidup. Alir pengisahan film ini memang agak mendayu-dayu dan tenang setenang ombak pantai Utara Bali. Jika mau berkomentar objektif, film ini sebenarnya fine-fine saja, tidak ada masalah besar dalam segala unsurnya. Cuma...karena ini blog pribadi dan gw tidak dibayar untuk jadi objektif =P, gw boleh dong berkata bahwa...hmm, gimana ya...let's say I just don't "feel" this film. Mungkin gw-nya udah beku hati, tapi gw tidak merasakan ada yang "mengguncang" dari kejadian-kejadian yang mereka alami. Bahkan rahasia traumatis yang dimiliki Yanik kurang menimbulkan kegelisahan yang berarti. Mungkin ini disebabkan oleh kekakuan dalam eksekusi adegan-adegannya *sokbangetgayagw*, emosinya jadi nggak nyampe ke gw. Juga gw nggak melihat bahwa semua kejadian yang terjadi pada Samihi dan Yanik kecil berkaitan dengan hal yang seharusnya menjadi sumbu jalan ceritanya (menurut gw sih), yaitu Samihi yang dilarang main air akhirnya setelah gede malah berani berselancar. Namunpada akhirnya tidak semua peristiwa yang dimunculkan mengarah ke sana. Dan ketika kembali kepada masa 9 tahun kemudian juga, selain terasa di-stretch gak kelar-kelar, gw agak nggak nyaman dengan sudut pandang pengisahan yang berpindah begitu saja, seakan mic si pencerita direbut oleh orang lain dengan paksa. Bagian ending-nya pun sayangnya jadi terasa tiba-tiba, karena alasan-alasan menuju ke sananya tidak ditekankan sebelum-sebelumnya...yup, sekalipun udah pake surat sekalipun. Agak ironis ketika filmya terasa lambat tetapi motivasi peristiwa terpentingnya malah felt too instant. Well, at least the "digital lightning" effects were cute =P.

But anyway, sebagaimana gw bilang sebelumnya, film ini tidak punya masalah yang gimana gitu. Gw-nya doang kali yang salah mood. Secara teknis film ini juga nggak terlalu masalah. Audio visualnya termasuk kualitas oke. Sudut pengambilan gambarnya cukup cakep, tapi gw agak kurang sreg aja sama efek pewarnaan ulang dari gambar-gambarnya—jadi gambarnya tuh nggak terlihat natural, mungkin memang sengaja tapi, gimana yah, mungkin karena gw kurang suka yang nggak natural *apadeh*, kesannya juga kayak "digelapkan" ketika disaksikan di layar. Jadi meskipun ada gambar pemandangan, tidak akan seperti fotografi dengan warna cemerlang. Oh, dan satu shot yang CGI-heavy di akhir itu kayaknya nggak perlu deh =P. 

Dari jajaran pemerannya yang sebagian besar pemain baru, tak mengherankan yang mainnya paling bagus ya Lukman Sardi sebagai ayah Samihi yang sukses selalu memberi depth dalam tiap kemunculannya. Yang jadi Andrew si bule Belgia juga cukup bagus mainnya (gak nemu siapa nama aslinya). Pemeran anak-anaknya cukup baik meski memang masih ada sedikit canggung, sama canggungnya dengan pemeran versi agak gedeannya, hehe (Riman Jayadi sebagai Yanik, Andiana Suri sebagai Syamimi). Tapi, ada sedikit kebingungan gw tentang latar budaya Samihi dan Syamimi, yang dalam film ini dimainkan dengan tutur kata gaya Jakarta. Apakah mereka Muslim Bali (yang ini jelas bukan, wong pada nggak ngerti bahasa Bali), orang Jawe, Madura atau Lombok, atau memang dari Jakarta, tidak dijelaskan. I know it's a bit too detailed dan "cuma" unsur ekstrinsik, tapi if you're a good filmmaker, you'll find a way to tell character details without slowing the pace down, lihat Ruma Maida deh. Ya maklum deh namanya juga film debut dari sang sutradara dan juga pengarang novelnya, Erwin Arnada, pembelajaran mas ya =).

Rumah di Seribu Ombak adalah sebuah film dengan kisah yang baik dan punya kelengkapan teknis cukup mumpuni, tapi mungkin jadi tidak menarik karena tidak ditekankan arahnya mau kemana, belum lagi pacing-nya yang terasa dragging akibat terlalu lempeng, kurang captivating dari awal hingga menjelang akhir. Tapi mungkin gw-nya aja yang lagi bego, bukan salah filmnya, mungkin. Apapun nilai penting atau tema besar yang ingin disampaikan (jika memang ada), gw gagal menangkapnya. It's weird ketika gw bisa menerima The Mirror Never Lies dengan mudah namun tidak dengan Rumah di Seribu Ombak yang secara nuansa agak mirip-mirip (kecuali bahwa Mirror gambarnya nggak digitally color-corrected). Entahlah. Pokok yang gw pengen sampaikan adalah gw nggak bisa bilang film ini bagus, tetapi juga nggak bisa menemukan alasan kuat dan jelas atas itu. Some people might find this film touching and beautifulwhich might be true, sedangkan gw malah kayak udah siap-siap melupakannya.



My score: 6,5/10