Jumat, 31 Agustus 2012

[Movie] The Bourne Legacy (2012)


The Bourne Legacy
(2012 - Universal)

Directed by Tony Gilroy
Story by Tony Gilroy
Screenplay by Tony Gilroy, Dan Gilroy
Inspired by the Bourne Trilogy by Robert Ludlum
Produced by Frank Marshall, Patrick Crowley, Jeffrey M. Weiner, Ben Smith
Cast: Jeremy Renner, Edward Norton, Rachel Weisz, Oscar Isaac, Dennis Boutsikaris, Stacy Keach, Corey Stoll, Zeljko Ivanek, Donna Murphy, Scott Glenn, Albert Finney, David Strathairn, Joan Allen, Louis Ozawa Changchien


Yang berpendapat bahwa trilogi Bourne tak perlu dilanjutkan silakan angkat tangan! Yak...baik...semuanya berarti =P. I mean, bahkan sutradara Paul Greengrass sendiri merasa tak perlu ada seri keempat dari film-film aksi-spionasie-kucing-kucingan seru banget ini, Matt Damon pun bertekad tidak mau lanjut jadi Bourne kalau nggak sama mas Paul. Well, Universal Pictures mengambil langkah yang lumayan kreatif dalam melanjutkan seri Bourne tanpa Matt Damon, bukan sekuel, bukan  prekuel, bukan reboot, bukan pula tepat disebut spin-off. Bagi gw, The Bourne Legacy adalah semacam companion film, semacam buku penjelas tentang semesta Bourne yang belum benar-benar terungkap lugas di The Bourne Identity (2002), The Bourne Supremacy (2004) maupun The Bourne Ultimatum (2007). Jadi tampaknya memang sudah harus ditanamkan dalam ekspektasi penonton bahwa The Bourne Legacy tidaklah sama dengan trilogi film Bourne yang sudah ada, meskipun memang "rasa" Bourne masih bisa ditemukan. Toh, penggarapnya pun bukan orang yang asing bagi seri film Bourne, sutradara dan penulis naskah Tony Gilroy sudah bergabung dalam tim naskah di ketiga film Bourne sebelumnya, dan untungnya juga 2nd Unit Director Dan Bradley yang (kayaknya sih) bertanggung jawab atas semua adegan-adegan aksi Bourne di Supremacy dan Ultimatum kembali diajak, jadi jangan takut kehilangan aksi cepat nan gokil ala Bourne di sini.

Tony Gilroy pada kesempatan ini seperti ingin membuka semua tentang dunia konspirasi Bourne, juga mencoba mengklarifikasi hal-hal yang tak jelas atau bahkan mengganjal di film-film sebelumnya, contohnya kenapa Bourne dan "rekan-rekan sejawatnya" kayak gak pernah ngerasa capek atau sakit meski udah celaka 13 kali. Yup, that was explained in Legacy. Intinya sih, CIA memang sedang membuat program mata-mata super dengan menggunakan rekayasa genetika yang berisiko tanpa seizin negara. Program-program ini berusaha menciptakan orang-orang terlatih menjadi lebih gesit dan lebih cerdas sekaligus menekan hasrat dan kepentingan pribadinya. Jason Bourne adalah contoh istimewa yang berhasil direkayasa langsung tanpa perlu obat penstabil...tapi yah efeknya jadi amnesia gitu. Sedangkan "rekan" yang lainnya masih perlu waktu dengan harus meminum obat penstabil secara berkala. Aaron Cross (Jeremy Renner) adalah "peserta" program rahasia berkode Outcome, pada saat pelatihannya di Alaska ia kehabisan obatnya, sehingga meminta bantuan sesama peserta (Oscar Isaac) namun tiada mendapat, malahan terindikasi bahwa ada pihak yang mengincar nyawanya. Menyadari itu, Cross pun berjuang kembali ke mainland Amerika Serikat demi mendapatkan dosis obatnya sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan dalam tubuhnya.

Di lain pihak, CIA tengah berusaha menutupi dan "membereskan" program-program gelapnya (yang dijalankan tanpa restu negara) agar tidak terungkap seperti yang terjadi pada Treadstone dan Blackbriar yang telanjur dibongkar di hadapan publik oleh Bourne dan penyelidik CIA, Pam Landy (Joan Allen). Selagi kedua program itu diproses secara hukum, Eric Byer (Edward Norton) yang ditugaskan CIA untuk "ngepel" dan menjaga agar eksposisi ini tidak merambat jauh sampai menjatuhkan reputasi CIA, mensinyalir program Outcome adalah yang paling berisiko untuk terbongkar selanjutnya, sehingga ia pun melancarkan operasi pembersihan seluruh oknum yang terlibat dalam Outcome. Namun mereka gagal menghabisi seorang dokter yang bertugas dalam rekayasa genetika, Dr. Marta Shearing (Rachel Weisz) yang ternyata berhasil ditemui Aaron Cross yang mencarinya demi mendapatkan obat. Sadar bahwa pihak tempat mereka mengabdi malah akan mengakhiri hidup mereka, pelarian Cross dan Shearing pun dimulai.

"Legacy" memiliki makna "warisan", "yang ditinggalkan". The Bourne Legacy bisa jadi bermakna hal-hal yang diwariskan Jason Bourne tanpa melibatkan tokoh itu langsung. Dari dalam plot, Bourne memang telah mewariskan dampak yang membuat CIA ketar-ketir sekaligus berlaku gegabah, dan dari situlah cerita dikembangkan. Demikian juga secara filmis, The Bourne Legacy menggunakan "warisan" elemen-elemen dari trilogi film Bourne sebelumnya namun dipergunakan secara berbeda. Bahwa sebenarnya tidak hanya satu atau dua saja mata-mata super (ini udah ada sejak Identity), tentang motivasi Cross yang serupa dengan Bourne yang hanya ingin to be left alone, motivasi CIA yang intinya ingin jaim dan tidak ingin "dosa"-nya terungkap, dan tentu saja adegan-adegan aksi yang sinting tapi masih grounded. Familiar, tetapi dieksekusi berbeda. Letak bedanya, bagi gw, adalah Legacy seperti berusaha "mempintarkan" seri Bourne. Identity begitu fun, Supremacy begitu mencekam, Ultimatum begitu bikin gemes, tetapi harus diakui ketiganya tidak betitikberat pada bagian konspirasinya, sebuah hal yang kini porsinya ditambah di Legacy ini. 

Seandainya kita benar-benar melepaskan "baggage" trilogi Bourne dari film ini (which is impossible), maka banyaknya adegan ngobrol yang intens dan cukup panjang (terutama di paruh awal) tidak akan jadi masalah, toh ini memberi bobot berarti bagi keseluruhan film. Tapi karena film ini bawa nama "Bourne", maka itu bisa jadi terkesan membosankan. Perlu diingat bahwa Tony Gilroy adalah penulis naskah yang cerdas dan kritis (banyak naskah yang dibuatnya mengandung sentilan terhadap pemerintah Amerika Serikat dan kapitalisme, tak terkecuali seri Bourne ini) yang belum lama menjajal profesi sutradara. 2 film sebelumnya, Michael Clayton yang bergenre drama-thriller-konspirasi dan Duplicity yang bergenre komedi-konspirasi adalah film-film yang digarap apik, gw suka keduanya. The Bourne Legacy adalah film ketiganya sebagai sutradara sekaligus pertama kalinya yang mengandung laga. Hasilnya, buat gw, seperti menyaksikan Michael Clayton yang kalem lambat (nggak masalah buat gw karena memang jadi jelas ceritanya) tapi ditambahi adegan-adegan aksi spektakuler ala Bourne (wah ini nggak masalah banget =)). Sayangnya, laju keduanya terasa kurang seimbang setelah disambungkan. Ketika salah satu keunggulan trilogi Bourne terdahulu adalah lajunya yang sangat dinamis baik dari pacing maupun pergerakan kamera, dinamika itu tidak muncul dalam Legacy. Mungkin karena ingin memberi penjelasan sejelas-jelasnya kali ya.

Mengecewakan? Kalau Anda memang berharap terlalu tinggi ya derita loe itu sih =p. Sejak awal, you should've known it's going to be a different movie. Buat gw, Legacy memang tidak bisa disamakan dengan trilogi Bourne, namun Legacy juga bukanlah film yang jelek. Sekali lagi gw tekankan, Legacy bisa jadi pelengkap yang cukup bermanfaat bagi penggemar seri Bourne versi film yang ingin lebih dalam lagi menyelami konspirasi yang menghantui Bourne selama ini. Terlepas dari eksekusinya yang masih kalah asik, ramuan kisahnya terbilang cerdas untuk mengakali bangunan cerita tanpa adanya tokoh Jason Bourne, sekaligus memberi sesuatu yang baru, tidak sekadar niru atau mengulang. Penampilan aktor berkualitasnya pun tidaklah sia-sia. Jeremy Renner semakin unjuk pesonanya sebagai jagoan (dan memang layak), meski kalau dibandingkan dengan penokohan Jason Bourne milik Matt Damon yang vulnerable, Aaron Cross itu agak kurang simpatik ya =P. Rachel Weisz kembali mengingatkan khalayak akan kelasnya dan keayuannya bahkan menjadi aktor dengan akting terbaik di film ini, sedangkan Edward Norton pun nggak jelek-jelek amat. Film ini fine, memperlakukan legacy Bourne dengan hormat. Toh betapapun rendahnya Anda akan menilai film ini, pasti akan memberi ponten bonus sebanyak-banyaknya hanya karena adegan klimaks di jalanan Manila, satu-satunya hal dari Legacy yang layak disejajarkan dengan trilogi Bourne sebelumnya.



My score: 7/10

Rabu, 29 Agustus 2012

[Movie] The Cabin in the Woods (2012)


The Cabin in the Woods
(2012 - Lionsgate)

Directed Drew Goddard
Written by Joss Whedon, Drew Goddard
Produced by Joss Whedon
Cast: Kristen Connolly, Chris Hemsworth, Anna Hutchison, Fran Kranz, Jesse Williams, Richard Jenkins, Bradley Whitford, Brian White, Amy Acker


Bisa-bisanya gw yang gak suka horor malah nonton The Cabin in the Woods di hari pertama rilis di bioskop kita, tepatnya di bioskop dalam sebuah mal baru di Jakarta yang terletak di lahan bekas kuburan dan bersebelahan sama kuburan *tapi nontonnya siang-siang sik* *gagalseram*. Namun memang benar sebagaimana kesaksian beberapa kenalan yang telah menontonnya, The Cabin in the Woods memang sebuah pengalaman nonton yang sangat mengesankan, bahkan bagi gw ini yang jarang nonton film-film horor. Benar, jika membaca premisnya, yakni 5 orang anak muda liburan ke sebuah pondok seram di tengah hutan antah berantah yang nyatanya siap mencabut nyawa mereka satu per satu, Cabin ini memang mengandung klise film-film horor. Sangat klise. Tetapi, klise demi klise itu rupanya diacak-acak sedemikian rupa, sehingga penonton pun sejak awal pasti akan merasakan ada yang janggal di balik semuanya. Bahkan pada akhirnya mengkategorikan Cabin ke dalam genre horor pun jadi tidak tepat. Apapun yang sudah Anda perkirakan tentang film ini...well, just hold that thought for a while until you actually watch it, seriously.

So setelah jelas dan dipastikan bahwa Cabin ini tidaklah sama dengan film-film (horor) yang pernah disaksikan oleh siapa pun Anda, sebenarnya sejak semula sudah ada indikasi bahwa film yang sudah kelar syuting tahun 2009 ini (jadwal edarnya ketunda 2 tahun lebih entah kenapa) pasti sedikitnya bakal punya keunikan. Saat ini, sineas muda Hollywood yang lagi hot-hot-nya mungkin adalah dua orang "lulusan" televisi, J.J. Abrams (Star Trek dan Super 8) dan Joss Whedon (The Avengers). Salah satu tautan di antara mereka berdua terdapat nama Drew Goddard, yang ternyata pernah menulis naskah sekian episode di serial-serial buatan Abrams ("Alias", "Lost") dan Whedon ("Buffy the Vampire Slayer", "Angel"). Debut layar lebar Goddard dimulai lewat naskah buatannya yang juga ciamik untuk film Cloverfield (diproduksi Abrams, sutradara Matt Reeves), kini memulai debut sebagai sutradara lewat Cabin, dibantu Whedon sebagai co-writer dan produsernya.

Keren-keren ya CV-nya, dan kalau mengingat CV-nya itu, gw jadi mengamini bahwa ada elemen-elemen dari judul-judul yang gw sebutkan tadi di dalam film Cabin ini...maaf, koreksi, Cabin sebenarnya mengambil banyak sekali elemen-elemen dalam film-film dari genre fantastikal yang sudah ada—maksudnya "banyak" di sini adalah "banyak sekali", namun anehnya "kompilasi" elemen-elemen itu tampil begitu orisinil sekaligus sangat menggugah selera, dan untungnya bisa diterima nalar dengan mudah, lebih mudah daripada menalar "Lost" =D. Cabin memulai segalanya dengan kejadian demi kejadian yang terlihat "normal" tapi janggal yang ternyata hanya awal dari segalanya yang kemudian dibuka selapis demi selapis hingga pada akhirnya sampai pada core-nya. Goddard dan Whedon dengan imajinasi mereka yang "how-on-earth-did-they-come-up-with-that?!" menggiring kisah mereka dengan sangat asyik, menegangkan, sekaligus manipulatif. Ketika bagian awal kita seakan dibiarkan soteyu dan yakin bagaimana nantinya nasib ke-5 muda-mudi itu, yah minimal menebak saat lagi situasi begini pasti nantinya terjadi begitu dst, eh terus memasuki seperempat cerita mulai mengoreksi kesotoyan itu dengan mengira ini gabungan horor jenis itu dengan horor jenis ini...percayalah semakin lanjut film ini bergulir semakin banyak koreksi yang akan Anda lakukan terhadap perkiraan tersebut. Bukan hanya soal twist belaka, tetapi set-up karakter dan peristiwa yang ditampilkan juga lebih solid daripada yang dikira, yang gw anggap sebagai "jawaban" Goddard dan Whedon tentang kenapa selama ini banyak sekali film horor yang serupa-tapi-tak-sama pendekatan dan isinya. Oke cukup mild-spoilernya *hehe*.

The Cabin in the Woods memang harus disaksikan dengan mata kepala sendiri bagi yang mau menontonnya. Keterlaluan jika gw mengungkap maksud dan tujuan film ini meskipun hanya sedikit, karena di situlah letak asiknya. Yang perlu disiapkan penonton hanyalah sikap tidak cepat-cepat berkesimpulan. Film ini adalah sebuah perjalanan naik-turun-belak-belok yang di luar kebiasaan. Jika ada yang menganggap film ini terlalu biasa konsepnya, maka itu adalah anggapan yang salah besar. Premis basi di atas itu hanya lapisan kulit luarnya, sedangkan film berdurasi 95 menit ini akan menyeret kita ke dalam dan semakin ke dalam, both figuratively and literally *ups*. Cabin adalah jenis film yang akan seru diobrolin bareng teman-teman sesudah menontonnya membahas apa saja yang telah disajikan di layar. Di saat yang sama Cabin adalah film yang "berbicara" pada penontonnya, dan ini *hint* tidak hanya berlaku penggemar horor saja. Menegangkan sudah barang tentu, namun semua itu diperkaya dengan perancangan misteri yang utuh dan kecerdasan penulisan dialog yang kerap kali mengundang tawa, serta permainan tak mengecewakan dari jajaran pemainnya. Sekali lagi imbauan saya kepada Anda, tontonlah film ini. Gw yang tidak menganggap dikagetin dan ditakut-takuti adalah suatu hal yang menimbulkan kenikmatan nyatanya bisa sangat terhibur menyaksikan film ini, terutama karena idenya luar biasa inovatif. Jangan nungguin sekuelnya, nggak bakal ada =P.




My score: 8/10

Sabtu, 25 Agustus 2012

[Movie] The Expendables 2 (2012)


The Expendables 2
(2012 - Lionsgate/Millennium Films)

Directed by Simon West
Story by Ken Kaufman, David Agosto, Richard Wenk
Screenplay by Richard Wenk, Sylvester Stallone
Based on the characters created by Dave Callaham
Produced by Danny Lerner, Les Weldon, Avi Lerner, Kevin King-Templeton
Cast: Sylvester Stallone, Jason Statham, Dolph Lundgren, Jean-Claude Van Damme, Bruce Willis, Yu Nan, Terry Crews, Randy Couture, Liam Hemsworth, Arnold Schwarzenegger, Chuck Norris, Jet Li, Scott Adkins


And they're back. Setelah The Expendables pertama tahun 2010 yang disambut hangat, parade bintang-bintang aksi superlaki yang punya penggemar di seluruh dunia ini kembali dengan film keduanya yang lebih ramai lagi. Masih dikomandoi oleh Sylvester Stallone, The Expendables 2 sudah terasa garang dengan ditambahkannya bintang laga legendaris Jean-Claude Van Damme dan Chuck Norris plus porsi yang lebih besar untuk Arnold Schwarzenegger yang emang sekarang sudah bukan gubernur California lagi (meski sayangnya sekarang tanpa Mickey Rourke lagi), jadi udah gak usah heran lagi jika bioskop-bioskop yang memutar film ini pasti penuh. Hal yang berbeda dari film pertama juga terletak di tugas sutradara yang sekarang dilaksanakan oleh Simon West (Lara Croft Tomb Raider), jadi opa Sly Stallone bisa lebih konsentrasi ke akting, naskah, dan botox saja (yang satu ini kayaknya doski bagi-bagi sama Van Damme).

Seperti review The Expendables pertama, gw tidak merasa perlu dan pentingnya membahas isi cerita The Expendables 2 di ulasan ini, sebab sudah jelas daya tarik film ini adalah melihat bintang-bintang laga ternama beraksi, tidak lebih. Yang perlu kita tahu adalah cukup relasi antar karakternya, niscaya kita sudah bisa membaca film ini arahnya kemana. Stallone, Jason Statham, Dolph Lundgren, Jet Li, Terry Crews, Randy Couture dan Liam Hemsworth (yang adalah adiknya Chris Hemsworth dan tunangannya Miley Cyrus, no kidding) adalah satu regu tentara bayaran lepasan berketerampilan tinggi yang melapor pada Bruce Willis, sementara Jean-Claude Van Damme dan si bintang film laga B-movie/straight-to-DVD termutakhir Scott Adkins (si Weapon XI/Deadpool tak bermulut di X-Men Origins:Wolverine, the only cool stuff within the film) beserta para balatentara mereka adalah yang harus dibasmi. Lalu ada bintang tamu Schwarzenegger dan Chuck Norris turut meramaikan.

Di antara semua itu, adalah adegan-adegan kelahi, tembak-tembakan, dan ledak-ledakan klasik yang kini "diperindah" dengan efek darah dan gore yang lebih kentara, namun asiknya lagi semuanya itu diimbangi dengan adegan-adegan "istirahat" dan humor-humor yang tepat sasaran. Serius, kocak banget. These guys know how to have fun. Meski bukan komedi, The Expendables 2 adalah bentuk menertawakan diri dengan elegan. Tidak berusaha jadi keren atau "bermakna", yang penting seru dan fun. Gw yakin semua orang yang terlibat film ini sama senangnya dengan semua orang yang menontonnya. Sudah sangat terlihat dari adegan prolog yang komikal gak neko-neko, tembak sana ledak sini tabrak abis, atau bahkan dari semua adegan peperangan chaos yang ada, jagoan-jagoan kita termasuk sebagian yang sudah paruh baya terlihat sangat sakti hingga hampir gak pernah kesenggol peluru. Ridiculous, tetapi penonton pasti menyenanginya, yang baik pasti menang, bukan? Dan bahkan gw belum membahas Chuck Norris =DD.

Jadi kunci menyaksikan The Expendables 2 adalah relax and enjoy, jangan terlalu dipikirkan. Jika menyaksikannya dengan setelan mood yang benar, dijamin you'll have a good time. Dengan tampilnya hampir 10 figur tersohor di bidang laga rupanya diperlakukan dengan baik tanpa harus memperpanjang durasi, yah walaupun masih ada sedikit rasa kurang (pengennya sih Statham vs Atkins-nya lebih lama dan heboh, dan Lundgren atau Norris unjuk kemampuan hand-on-hand combat juga), tapi udah cukup kok. Kita masih bisa menyaksikan "pose-pose" bahkan dialog-dialog ikonik mereka yang ditampilkan dengan menggelikan namun juga menawan, entah itu spin-kick-nya Van Damme, gerakan wuxia Jet Li, kegesitan Statham, "I'll be back"-nya Schwarzenegger, hingga ke-dewata-an Chuck Norris. Dengan hiasan plot yang tidak bodoh-bodoh amat, malah justru dengan bijak sedikit memperdalam karakterisasi Lundgren, Crews dan Couture yang agak terbengkalai di film pertama, bahkan sukses mengurangi kadar melankoli maksa dari film pertamanya, The Expendables 2 sudah barang tentu menjadi film yang memenuhi ekspektasi serta maksud dan tujuannya, yaitu apalagi kalau bukan mengumpulkan bintang-bintang laga tua dan muda dan bersenang-senang menembaki para figuran bersenjata tak bernama, sekaligus menghibur penontonnya. Well done!



My score: 6,5/10

Minggu, 19 Agustus 2012

[Movie] Perahu Kertas (2012)


Perahu Kertas
(2012 - Starvision Plus/Bentang Pictures/Dapur Film)

Directed by Hanung Bramantyo
Screenplay by Dewi "Dee" Lestari
Based on the novel "Perahu Kertas" by Dee
Produced by Chand Parwez Servia, Putut Widjanarko
Cast: Maudy Ayunda, Adipati Dolken, Reza Rahadian, Elyzia Mulachela, Sylvia Fully, Fauzan Smith, Kimberley Ryder, August Melasz, Ira Wibowo, Tio Pakusadewo, Titi Dj, Pierre Gruno, Dewi "Dee" Lestari, Ben Kasyafani, Dion Wiyoko


Si Dewi dari Rida Sita Dewi tampaknya menjadi personel trio pop vokal ini yang paling terdiversifikasi karirnya.  Berangkat dari penyanyi dan pencipta lagu, wanita bernama lahir Dewi Lestari Simangunsong ini melebarkan sayap ke dunia sastra dengan kedok "Dee". Karya-karya tulisnya termasuk laris dan membuatnya memiliki basis penggemar yang cukup kuat di tanah air. Kini Dewi harus menambahkan "penulis skenario film" dalam CV-nya karena dipercaya membuatkan screenplay berdasarkan novel romannya sendiri, "Perahu Kertas" yang terbit pertama kali tahun 2009. Antisipasi film ini cukup besar, denger-denger sih kisah "Perahu Kertas" itu disukai sekali sama para pembacanya, maka tak heran rumah produksi "besar" Starvision mau menggarap versi filmnya, toh track record film berdasarkan buku best seller memang cukup bagus raupan penontonnya, bahkan sutradara Hanung Bramantyo bersedia mengarahkan. Hanung almost never make really bad films, does he?

Perahu Kertas, sebagaimana gw tangkap lewat filmnya (karena, as usual, gw nggak baca novelnya), adalah kisah cinta dan pencarian jati diri. Pasangan yang di-set-up sejak awal dan diharapkan bersatu adalah Kugy (Maudy Ayunda) dan Keenan dibaca ki-nan (Adipati Dolken), yang bertemu di awal perkuliahan mereka di Bandung tahun 1999. Penggambaran kedua karakter berjodoh ini memang gak terlalu jauh dari chicklit: si Kugy ini gadis manis aneh imajinatif yang bercita-cita jadi penulis dongeng dan sering curhat ke "dewa Neptunus" dalam secarik kertas yang kemudian dilipat jadi perahu-perahuan yang kemudian ia hanyutkan di aliran air (hence, of course, the title), si Keenan cowok jago seni visual berpenampilan keren ada turunan bule dan baru aja pulang dari Belanda. Tanpa penetapan apa-apa apalagi kencan, passion mereka masing-masinglah menyatukan hati keduanya, diawali Kugy yang meminjamkan dongeng karyanya kepada Keenan, dan Keenan ternyata sanggup bikin ilustrasi dari dongeng itu. Aww, they're meant to be, co cwit. Jika ini betulan chicklit, maka yang menghalangi mereka adalah permasalahan yang diada-adain semisal hadirnya orang ketiga atau keempat (dan memang sih Kugy sebenarnya udah punya pacar).

Untunglah Perahu Kertas ini bukanlah kisah semacam itu. Kugy dan Keenan semestinya sudah tau sama tau perasaan masing-masing, tetapi selalu ada yang menghalangi yang juga penting bagi mereka, yaitu pencarian jati diri. Seringkali dalam kisah-kisah romansa, karakternya seakan tidak punya kehidupan selain soal percintaan. Di sini, kehidupan Kugy dan Keenan punya bangunan masing-masing yang cukup jelas. Mereka sadar persoalan cinta bukan satu-satunya yang harus mereka perjuangkan, meskipun persoalan cinta juga mempengaruhi pilihan-pilihan mereka. Kugy mundur teratur setelah tahu Keenan sudah punya teman dekat perempuan, menyibukkan dirinya sebagai pengajar sukarela di sekolah terbuka yang dapat menyalurkan kegemarannya mendongeng. Keenan pun kemudian nekad meninggalkan kuliah Ekonominya demi belajar seni rupa di Bali yang ditentang keras oleh sang ayah (August Melasz). Mereka sedang menjalani kehidupan mereka masing-masing, bertemu orang-orang yang berbeda (or not =P). Ketika beberapa kali mereka bertemu, mereka nggak berbicara tentang "hubungan" mereka, melainkan sudah sampai mana mereka dalam kehidupan masing-masing. Bisa jadi ada yang geregetan "bilang kek kalo suka", tetapi apakah saling bertukar progress perjalanan mereka meraih cita-cita itu tidak lebih penting daripada soal "akuwh tuch d4ri doeloe saiank bengeutz chama qamoh"? Setidaknya kedua karakter ini masih punya logika.

Masih ada sih "keajaiban-keajaiban" khas film romansa, namun yang gw suka dari film ini adalah tokoh-tokohnya yang dibuat tidak kekanakan ataupun kegedean terutama dari dialog-dialognya yang masuk akal dan nggak kelewat aneh. Gw merasa setiap ujaran nggak ada yang mengawang-awang sepuitis apa pun itu, pun diucapkan oleh para aktornya dengan cukup natural, bukan sok natural (Hanung 1: Rudi Soedjarwo 0), gw bisa melihat Maudy Ayunda memang aktris muda berbakat, and she sings the title song, too. Gw juga suka tata latarnya yang tetap grounded dan riil meski tanpa berusaha terlalu keras untuk jadi realistis (yah mungkin ada beberapa anachronism yang cukup ganggu seperti bentuk botol baru Fruit Tea yang muncul di masa ketika belum ada Fruit Tea kemasan botol beling, atau informasi keberangkatan/kedatangan di Bandara yang sudah pakai layar LCD meski belum masuk tahun 2008, dsb.). 

Hanya saja ada dua hal dari bagian produksi yang cukup mengganjal gw. Pertama, how I wish it was shot on celluloid film. Menyaksikan gambar film ini hampir tak beda dengan menyaksikan FTV, entah karena jenis kamera atau proses pascaproduksinya, yang pasti masih kurang "sinematik" rasanya, terutama dari warna, dan ini kerasa jelas karena gw menonton Perahu Kertas tepat setelah Tanah Surga...Katanya yang hasil gambarnya jauh lebih jernih dan "berasa bioskop" meski sama-sama pakai kamera film digital. Kedua, how I wish this film is shorter, atau kalau perlu jadi satu film saja. Jadi memang benar Perahu Kertas yang ini adalah "bagian pertama", dan bagian keduanya akan dirilis bulan Oktober nanti *catet*. Silakan beralasan "supaya memuaskan pembaca novel" atau sekadar ikut-ikutan Harry Potter dan Twilight, pemanjangan film ini rasanya nggak perlu deh. Bahkan mungkin karena niat membagi dua kisahnyalah yang membuat paruh akhir film ini lajunya kayak direm banget sehingga terasa menjemukan dan kayak nggak kelar-kelar. Udah nggak kelar-kelar, pake bersambung pula =.=. Padahal ritme bagian awalnya enak banget, bagian tengah yang menceritakan kehidupan baru Keenan di Bali dan perjalanan Kugy dari lulus kuliah hingga dapet kerja pun masih sama enaknya, cuma belakangan film ini jadi berasa lebih lama dari seharusnya.

Kalau boleh gw menilai, Perahu Kertas ini memiliki keunikan dan orisinalitas dalam mengisahkan romantika dua muda-mudinya, dan pun (awalnya) disampaikan cukup lancar dan jelas. Kisahnya memang profoundly interesting and enjoyable. Meski karakter yang muncul cukup banyak (dan gw kayaknya gak apal semua namanya =P), gw masih bisa paham posisinya masing-masing. Agak disayangkan treatment-nya tampak terlalu sederhana, aktornya belum ada yang stand-out, dan kerasa lama durasinya, kurang wow gitu. Tapi yaaah bolehlah.



My score: 7/10

Sabtu, 18 Agustus 2012

[Movie] Tanah Surga...Katanya (2012)


Tanah Surga...Katanya
(2012 - Demi Gisela Citra Sinema/Brajamusti Films)

Directed by Herwin Novianto
Written by Danial Rifki
Produced by Bustal Nawawi
Cast: Aji Santoso, Fuad Idris, Ringgo Agus Rahman, Astri Nurdin, Ence Bagus, Tissa Biani Azzahra, Norman Akyuwen, Muhammad Rizky


Tim marketing dan promosi film-film Indonesia non-horor (berjudul) sensasional, kecuali memang filmnya bukan untuk dijual, perlu pembenahan nih. Sudah berapa banyak film kita yang tiba-tiba ada tanpa ada market awareness sampai 1-2 hari sebelum film bersangkutan akhirnya dirilis di bioskop. Entah itu, atau gwnya yang emang kurang baca-baca media =P. Anyway, Tanah Surga...Katanya juga salah satu film yang menurut gw sih tiba-tiba muncul di daftar coming soon di situs jaringan bioskop, gw hampir gak tahu-menahu tentang film ini sampai sekitar seminggu sebelum dirilis menyambut liburan Hari Kemerdekaa+Lebaran tahun ini bersama dengan beberapa film Indonesia lainnya. It's supposed to be a "battlefield" period tapi film ini bisa dibilang ada di bagian belakang barisan antisipasi, ya karena promo minim itu. Even the poster looked suck and pointless. Nggak meyakinkan deh.

Padahal, Tanah Surga...Katanya ini adalah film yang terbilang sangat watchable. Jika Anda termasuk penonton yang pernah menyukai film-film bermuatan lokal seperti Denias Senandung di Atas Awan atau The Mirror Never Lies, film yang dibikin oleh rumah produksi milik Deddy Mizwar dan Aa' Gatot Brajamusti ini (yup, you read that right) bisa dibilang mengarah ke sana. Berkisah tentang sebuah keluarga yang tinggal di sebuah dusun di perbatasan Kalimantan Barat-Sarawak (Malaysia), bertumpu pada Salman (Aji Santoso) yang masih bersekolah di kelas 4 SD (ya toh sekolahnya cuma ada kelas 3 dan 4 SD yang diajar satu orang guru). Sudah kehilangan ibu dan neneknya, ia tinggal berdua bersama kakeknya, Hasyim (Fuad Idris) yang seorang mantan pejuang perbatasan zaman Dwikora (monggo di-google) sejak adiknya Salina (Tissa Biani Azzahra) diajak ayahnya (Ence Bagus) yang sudah menikah lagi dengan wanita Malaysia pindah ke Sarawak demi kesejahteraan. Perpisahan nyelekit ini mengakibatkan kakek Hasyim jadi lebih sering sakit-sakitan, bahkan dokter yang baru datang ke dusun, Anwar "Intel" (Ringgo Agus Rahman) menyarankan kakek Hasyim ke rumah sakit, namun karena biaya jalan ke rumah sakit (Indonesia) terdekat mahal, Hasyim pun tidak mengikuti saran itu. Khawatir, Salman pun mulai bekerja lebih keras agar dapat membiayai kakeknya ke rumah sakit, termasuk berdagang kerajinan di pasar Sarawak.

Rasanya, hanya dengan mengembangkan penceritaan dari situ saja, kita sudah bisa akan menangkap gagasan yang ingin disampaikan film ini. Dilema klasik warga perbatasan, antara tetap tinggal di tanah air sendiri dengan keadaan yang begitu-begitu saja, atau tinggal koprol dikit berpindah haluan ke negara tetangga yang menawarkan kesejahteraan dan iklim usaha yang lebih menjanjikan. Keadaan lingkungan berpengaruh ke lingkup pribadi, ketika kakek Hasyim butuh perawatan dan tak sanggup kerja, Salman harus berjuang sendiri agar dapat menyembuhkan kakeknya, meminta tolong pada ayah dan adiknya di seberang pun tidaklah gampang, lagipula kemungkinan besar sang ayah akan membawa kakek Hasyim ke klinik di Malaysia, hal yang jelas-jelas Hasyim tolak. Terdengar konyol, tapi ini prinsip, apalagi kakek mantan pejuang, melawan pihak Malaysia pula, mungkin dalam benaknya menjaga ke-Indonesia-an diri dan keluarganya di perbatasan adalah tugas bagiannya sebagai warga negara. Gosh, Indonesia memang harusnya bersyukur jika masih punya banyak orang seperti kakek Hasyim, yang masih setia dan percaya akan negara dan bangsa ini meski selama ini pemerintahannya labil nan payah dan kehidupannya belum sampai pada taraf adil dan sejahtera. Film ini mempertunjukkan dilema itu, merepresentasikan kontras kehidupan di perbatasan bagian Indonesia dan Malaysia. Entah dengan otentisitasnya, tetapi setidaknya film ini bukan sekadar alat propaganda nasionalisme, bahkan sebuah presentasi yang cukup fair dan realistis tentang permasalahan kedaulatan negara ini, tidak terkesan terlalu dibuat-buat, apalagi diselesaikan dengan terlalu gampang.

Tapi perlu dicatat, itu kalau ceritanya dikembangkan dari plot Salman dan Hasyim saja. Rupanya, mungkin memang kebiasaan dari Deddy Mizwar dan Demi Gisela Citra Sinema-nya, subtlety kayak nggak cukup bagi mereka. Musti kudu harus ada sindiran yang keras dan jelas, wajib itu. Hadirlah peristiwa kedatangan perwakilan dinas pendidikan ke dusun itu (cameo oom Deddy dan Aa' Gatot), melambangkan pemerintahan yang angkuh dan pengen di-entertain terus menerus ketimbang sebaliknya. Ketika Salman menyairkan puisi yang (ceritanya) polos tentang keadaan negeri menurut pandangannya, kedua tamu agung itu tersinggung dan mencabut "bantuan" yang tadinya sudah dicatat. Adegan ini buat gw tidak terlalu penting dengan benang merah utama, cuma ada demi statement saja. Tidak jelek, tapi ya jadi agak kemana-mana aja. Begitu pun subplot-subplot yang dimunculkan seperti menyerobot porsi cerita Salman dan Hasyim, utamanya cinta segitiga Bu Gru Astuti (Astri Nurdin) dengan dr. Anwar dan kepala dusun Pak Gani (Norman Akyuwen). Di bagian awal film ini begitu kokoh dan meyakinkan menampilkan Salman dan kakek Hasyim, gw kirain mereka tokoh utamanya, tapi yah apa lacur di tengah-tengah lumayan banyak intermezzo-nya.

Nevertheless, Tanah Surga...Katanya bukanlah film yang gagal, jauh dari itu, ini film yang well-made dengan production value yang sangat bagus (desain artistik, sinematografi, editing, musik), mungkin yang terbagus yang pernah gw lihat dari produksi Demi Gisela Citra Sinema. Penataan adegannya juga indah dilihat, akting pemainnya tidak ada yang bercela, yang dipimpin oleh Fuad Idris sebagai kakek Hasyim yang bermain luar biasa. It's great to look at. Kenyamanan menikmatinya juga berkat pengisahan sutradara Herwin Novianto yang berusaha se-subtle mungkin (jelas kelihatan bedanya dari karya oom Deddy sendiri) termasuk di eksekusi adegan yang gw sebut di paragraf sebelumnya. Amanahnya besar tetapi semuanya sesuai konteks, tidak terkesan terlampau pretensius. Adegan-adegan yang menurut gw cuma mengacaukan fokus cerita juga nyatanya tidaklah ganggu-ganggu amat kala diikuti, gw pun cukup larut dan terhibur menyaksikannya, dan lucu aja dengan tampilnya berbagai gag khas film Indonesia (salah paham bahasa, lantai bolong, nonton TV bareng, dijodohin sama cewek nggak cantik, anak kecil ngintip pasangan dewasa berduaan, dsb.)...O well, itu sampai pesan sponsor merusak segala usaha subtlety itu. Emang itu sosis gak cukup dipampang logonya di warung ya? Harus gitu dimakan dan diomongin "lagi makan sosis"? Rakus sekali sih ini pesan-pesan sponsor, sepertinya nggak puas kalau hanya ditampilkan satu kali saja sepanjang film, padahal bantu promosiin film ini juga nggak. Tapi ya sudahlah, dengan segala permakluman, film ini boleh jadi salah satu film Indonesia yang patut diperhitungkan dan layak ditonton tahun ini, utamanya pada masa liburan panjang ini. 



My score: 7,5/10

Kamis, 16 Agustus 2012

[Album] Linkin Park - Living Things


Linkin Park - Living Things
(2012 - Warner Bros. Records/WEA International)

Tracklist:
1. Lost in the Echo
2. In My Remains
3. Burn It Down
4. Lies Greed Misery
5. I'll Be Gone
6. Castle of Glass
7. Victimized
8. Roads Untraveled
9. Skin to Bone
10. Until It Breaks
11. Tinfoil
12. Powerless


Linkin Park, yang merupakan band Amerika yang paling gw sukai, akhirnya sampe juga di album yang kelima. Mungkin dulu banyak yang mengira band beraliran hard rock-rap-hiphop-techno ini hanya akan bertahan sebentar mengingat musik mereka terbilang musiman, toh mereka juga bukan pelopor genre yang nge-trend bennerrr di awal abad ke-21 itu. But somehow they've made it. Sukses besar dengan album perdana Hybrid Theory yang memboyong genre modern rock jadi selera arus utama dan membangkitkan jutaan fans di seluruh dunia, lalu masih berlanjut di album kedua Meteora, kemudian mulai mengayak para pendengarnya di album Minutes to Midnight dan A Thousand Suns dengan bunyi-bunyian yang lebih eksperimental dan sendu, akhirnya datang Living Things ini. What can I say, album ini bisa gw anggap sebagai reward bagi para penggemar LP yang masih setia mendengarkan mereka setelah "diuji kesabarannya" di album ketiga dan keempat. Lewat Living Things, Linkin Park kembali menghadirkan bunyi-bunyian riuh (yang sangat dirindukan) dari dua album terawal mereka, namun juga tanpa meninggalkan dorongan meditatif dari dua album sebelum ini.

Sudah biarkan saja kegelisahan LP terhadap dunia yang digambarkan lewat tema-tema besar di Minutes to Midnight dan terutama A Thousand Suns. Living Things kembali mengungkapkan tentang kemarahan, kekecewaan dan sakit hati, hal-hal yang lebih personal, hal-hal yang lebih mudah dipahami pendengarnya. Dari segi sound pun gw yakin album ini jauh lebih cepat dan mudah untuk dinikmati, you'll find every track has catchy choruses. Meski bukan Hybrid Theory yang perbandingannya udah semacam prestasi bulutangkis Indonesia 1990-an vs 2000-an (maksudnya standarnya tinggi banget), Living Things setidaknya berhasil mengambil elemen-elemen dari karya-karya mereka sebelumnya, membungkusnya lagi dalam sebuah persembahan yang lebih rapi, tertata, tidak agresif atau terlampau berisik tetapi masih sanggup menghentak. Mereka kini memang banyak main di notasi lagu yang melodik (tentu saja masih dalam chord minor khas LP) dan kentalnya unsur elektronika, namun di album ini rasanya paling pas dan paling nikmat, sebab hentakan hard rock-nya kembali terasa ke permukaan, lapisan low frequency (dari bass atau bass-drum) yang pada dua album sebelumnya gw rasa melempem kini bergetar kembali. 

Gw rasa banyak yang akan  tersenyum girang ketika track singkat "Victimized" terlantun, yang memang jadi track LP paling kenceng sejak lama sekali, juga pada track "Lies Greed Misery" yang kembali membangkitan selera untuk headbang kecil-kecilan, mengingatkan pada lagu-lagu macam "Papercut" (Hybrid Theory) atau "Hit the Floor" (Meteora) yang mengawinkan dengan apik ujaran rap Mike Shinoda dan screaming-nya Chester Bennington. Ngomong-ngomong rap-nya Shinoda, album ini jadi semacam penawar rindu bagi yang merasa omelan doski agak menghilang, sebab "Lies Greed Misery", track pembuka "Lost in the Echo" dan "Until It Breaks" menampilkan rap Shinoda secara cukup ekstensif. Eh, simak juga gitaris Brad Delson yang untuk pertama kali menampilkan vokalnya dalam karya LP di bagian akhir lagu "Until It Breaks".

Bagi gw pribadi yang bikin paling girang dari susunan lagu pada album ini adalah "In My Remains", sebuah track yang sangat catchy dan sederhana namun mengandung segala yang gw suka dari musik LP: ada riff gitar yang kencang, dentuman irama yang seriously asik, aksen elektronika yang haunting, lirik yang ngena, ditambah bagian bridge-nya yang bagaikan sebuah chant yang siap diucapkan berjamaah, pokoknya paling grand dari yang lainnya. It's by far their best song in years. Gw lebih suka "In My Remains" daripada single pertama dari album ini, "Burn It Down" yang lebih mengarah ke pop bahkan ke dance, tapi lagu ini pun setidaknya efektif untuk re-introduce LP yang saat ini masih cenderung mau bikin lagu yang nggak mirip sama lagu-lagu lama mereka tetapi tidak serta merta jadi terlampau aneh, I'm able to enjoy it anyway.

Gw nggak bisa berkata selain bahwa gw senang dengan Living Things. Selain mengingatkan pada keasyikan LP pada awal kemunculannya, album pun sukses "mengawamkan" kecenderungan eksperimental mereka belakangan ini. "Castle of Glass" (yang mengingatkan pada "Breaking the Habit") dan "Roads Untraveled" mungkin mewakili itu, lagu yang secara musik dan lirik membawa nuansa kontemplatif namun masih enak dinikmati (lagi-lagi) dengan melodi yang mudah diikuti, sedangkan "Skin to Bone" seperti versi lebih membumi dari "When They Come for Me" (A Thousand Suns). Dilengkapi dengan ballad baik yang powerful ("I'll Be Gone") maupun yang kalem ("Powerless", yang konon ada di credit title film Abraham Lincoln: Vampire Hunter. Film music directors just love LP, don't they) serta tradisi track instrumental ("Tinfoil"), Living Things adalah album yang menyenangkan, nggak bikin bingung, dan intinya memuaskan, terutama bagi yang sudah "terikat" dengan Linkin Park dan mengapresiasi musikalitas mereka selama 11-12-an tahun ini. 

Bunyi-bunyiannya tidaklah baru, toh memang LP menyatakan album ini berusaha merangkum apa yang baik dari yang telah mereka hasilkan dalam 4 album sebelumnya, and it works for me. Mereka meramu formula lama dengan bahan dan tampilan yang lebih segar dan hasilnya masih sedap, apalagi vokal Bennington dan Shinoda yang semakin matang dan menghayati ter-display dengan baik di sini. Gw masih pantang menyatakan Living Things ini bagus banget apalagi great, cuman sebagaimana gw singgung di awal, Living Things ini bagaikan sebuah bingkisan manis dari Linkin Park untuk semua penggemarnya (atau mungkin untuk gw aja, entah buat yang lain =P), seakan menegaskan bahwa "Linkin Park" yang kita sukai dulu belum hilang sepenuhnya, mereka hanya masih (dan akan terus) bertumbuh. Gw akan senang hati memutar album ini berulang-ulang sepanjang tahun ini hingga lama-lama apal liriknya, toh nggak ada track yang gw nggak suka, pergantian lagunya tidak menjemukan, dan mendengarkannya gak terlalu butuh banyak konsentrasi seperti A Thousand Suns. Tidak sia-sia uang yang gw keluarkan meski harga eceran CD album artis mancanegara sekarang udah naik (T_T). Dengarkan dan nikmati saja, niscaya Anda akan menyadari: they're back, for real.



My score: 8/10


Linkin Park

Previews

Sabtu, 11 Agustus 2012

[Album] Tompi - Sedari Awal 03-12


Tompi - Sedari Awal 03-12
(2012 - E-Motion Enterntainment/Royal Prima Musikindo)

Tracklist:
1. Intro (Dengarkan Suaraku) feat. Wizzow
2. Menghujam Jantungku
3. Selalu Denganmu
4. Lulu dan Siti
5. Cinta Yang Kucari - Salahkah
6. Tentang Kamu feat. Ras Muhamad
7. This Way
8. Kesalahan
9. Takkan Terlekang
10. Waktu Takkan Mampu
11. Sedari Dulu


Well, this is a bit misleading. Kirain album "best", ternyata berbeda dari perkiraan. Mana di kotak/sampul luarnya nggak ada keterangan apa-apa pula. Iiih sengaja yaa.....=p. Judulnya memang menggoda, dan memang album Sedari Awal 03-12 berisi lagu-lagu hit milik Tompi sejak album solo pertamanya (rilis tahun 2003). Gw pun tanpa pikir panjang langsung membeli album ini waktu pertama kali lihat di toko kaset. Gw termasuk suka dengan Tompi, bagi gw dia adalah artis (solo) yang kualitas performa dan karyanya paling bisa dipertanggungjawabkan dari semua yang ada di industri musik Indonesia yang muncul di era y2k, nyanyinya jago dan berkarakter, lagu-lagu bikinannya pun bagus dan mudah disukai dalam balutan musik berkelas. Dari dulu pengen beli albumnya Tompi (yang sangat produktif tiap tahun pasti ngeluarin album, entah itu jenis pop, Islami, maupun album berkonsep), tetapi selalu terhalang faktor harganya yang di atas rata-rata harga CD album artis Indonesia *kere*. Mengira Sedari Awal adalah album kumpulan hits Tompi, meski dengan harganya yang (masih lebih) mahal, Rp 75.000, gw pun rela membelinya. But, then again, Sedari Awal rupanya bukanlah album kompilasi "best", atau setidaknya album ini tidak berisi lagu-lagu rekaman lama yang dikumpulkan jadi satu.

Kecele sih, tetapi menarik. Dalam album ini, Tompi mempersembahkan lagu-lagu hit-nya yang direkam ulang, direkam secara live-in-studio (penyanyi dan band main langsung barengan) dengan aransemen yang mendekati peforma panggung. Pendeknya, beda lah dengan yang versi rekaman yang sudah ada di album-album sebelumnya. 8 lagu yang direkam ulang tersebut adalah signature hits Tompi mulai dari "Selalu Denganmu", "Lulu dan Siti", "Sedari Dulu", "Menghujam Jantungku", medley "Cinta Yang Kucari" dan "Salahkah", lalu lagu-lagu album seperti "This Way" dan "Tentang Kamu". Kecuali "Tentang Kamu" yang dibuat reggae dibantu vokal tamu Ras Muhamad, genre dari lagu-lagu lama ini tidak banyak berubah,   tetap pop jazz, namun tetap saja perbedaannya terlihat, dengan instrumen-instrumen yang lebih ramai (brass section-nya canggih =)), dan aransemen yang nggak kalah cihuy dari versi biasanya. Bukan sekadar direkam live saja, tetapi memang terasa lebih hidup, lebih organik, persis sebagaimana semangat jazz yang kental dalam musikalitas Tompi yang penuh improvisasi tepat guna. Jadi Tompi seakan berusaha menghadirkan live house experience bagi pendengarnya di mana saja lewat album ini. Sebuah konsep yang cerdas, merayakan perjalanan karir, tetapi sekaligus memberi sesuatu yang baru, tidak mengulang-ulang semata.

Selain rekam ulang lagu-lagu hit-nya selama 9 tahun terjun di industri rekaman, Tompi juga memasukkan 3 lagu rekaman baru (yang ini memang rekaman normal, bukan live-recording), termasuk di antaranya yang jadi single di radio-radio, "Waktu Takkan Mampu", lagu karya Tompi yang sebelumnya pernah dibawakan Shanty. Jika membandingkannya dengan lagu-lagu terkenal Tompi, sepertinya ketiga lagu rekaman baru ini belum mampu menyamai. Namun, tetap saja ketiganya digarap serius dan punya keunikan masing-masing. "Kesalahan" adalah lagu R&B nan smooth dengan beberapa aksen efek elektronika dan diawali serta diakhiri sayup-sayup gamelan Bali yang terasa pas dengan notasi vokal di chorus yang nylendro. "Takkan Terlekang" juga merupakan lagu cinta berbungkus R&B kalem, agak forgettable tapi masih asik saja tiap didengarkan. Dalam "Waktu Takkan Mampu" terasa ada energi santai dari Tompi yang tidak terlalu berusaha keras menggapai big notes, membuat lagu ini terasa lebih menyenangkan dan groovy.

Sedari Awal 03-12 lebih mendekati concept album berisi lagu-lagu yang self-covered, ketimbang album "best", namun masih tetap saja nyempil sedikit kekecewaan di gw. Dengan konsep merekam ulang hits lama, perasaan kenapa yang terbaru seperti "Tak Pernah Setengah Hati" atau "Bukan Pacarmu" (meskipun yang ini juga sudah self-cover dari versi Bibus) tidak termasuk masih mengganjal cukup keras, jadi kesannya ya agak kurang komplet aja. Nevertheless, gw suka ide album ini, cukup suka sama lagu-lagu barunya, dan tetap suka lagu-lagu lama yang direkam ulang itu. Highlight dari album ini sendiri mungkin track penutup "Sedari Dulu" yang masih punya level excitement yang sama dari versi biasanya, juga "Lulu dan Siti" yang dikasih prolog curhatan dari (katanya) teman Tompi. Etapi "Menghujam Jantungku" juga asik..."Selalu Denganmu" juga..."Tentang Kamu" juga...ya begitulah =). Awalnya kecele, akhirnya tetap bisa menikmati.



My score: 7/10


Previews

Rabu, 08 Agustus 2012

[Movie] Total Recall (2012)


Total Recall
(2012 - Columbia)

Directed by Len Wiseman
Story by Ronald Shusett, Dan O'Bannon, Jon Povill, Kurt Wimmer
Screenplay by Kurt Wimmer, Mark Bomback
Inspired by the short story "We Can Remember It for You Wholesale" by Philip K. Dick
Produced by Neal H. Moritz, Toby Jaffe
Cast: Colin Farrell, Kate Beckinsale, Jessica Biel, Bryan Cranston, Bokeem Woddbine, Bill Nighy, John Cho, Will Yun Lee


Lagi-lagi penyakit Hollywood yang belum kunjung sembuh yakni membuat remake dari film-film lama, kini dilakukan terhadap film fiksi ilmiah Total Recall (1990) yang aslinya dibintangi bintang laga Arnold Schwarzenegger bareng Sharon Stone serta disutradarai Paul Verhoeven itu. Untuk ukuran sekarang, 22 tahun memang terasa cukup pas untuk meluluskan sebuah proyek remake, terutama yang sama-sama produksi Hollywood, pas karena anak ABG sekarang (yang menurut perkiraan gw adalah pasar utama film-film laga fiksi ilmiah semacam ini) pada belum lahir waktu filmnya keluar. Tetapi masalahnya Total Recall yang sudah beberapa kali diputar di televisi itu (dari zaman Layar Emas RCTI sampe Bioskop Trans TV) adalah film yang terkenal, sukses secara finansial, ikonik, dan (sepertinya sih) punya banyak fans, kenapa musti diutak-atik lagi? Mungkin pikiran itu juga sempat terbesit dalam kepala produser Total Recall 2012 ini, sehingga langkah yang mereka ambil adalah mengambil beberapa poin dari film aslinya kemudian mengembangkannya ke arah yang berbeda. "Arah berbeda" ini bermakna kiasan dan denotatif: kiasannya adalah Total Recall 2012 lebih memperbanyak porsi aksi, denotatifnya adalah kali ini tidak ada seting koloni manusia di planet Mars.

Konsep dasar Total Recall sendiri berasal dari cerpen fiksi ilmiah karya Philip K. Dick, yang karya-karyanya kerap jadi inspirasi banyak film Hollywood (Blade Runner, Minority Report, Paycheck, A Scanner Darkly, Next, The Adjustment Bureau). Dalam hal ini konsep yang ditawarkan adalah adanya perusahan Rekall yang memiliki teknologi menanamkan memori buatan sesuai keinginan si pasien. Jadi bukan cuma mimpi terus bangun lagi dan selesai sudah, melainkan di dalam ingatannya pasien benar-benar merasa pernah mengalami kejadian-kejadian yang sebenarnya tidak pernah dialaminya, dan memori ini akan tetap tinggal dalam ingatannya. Contoh, misalnya gw mau punya ingatan sekolah di Harvard, pernah rekam album yang sukses secara internasional serta temenan sama artis-artis terkenal Amerika dan Korea. Dengan Rekall, meski tidak benar-benar terjadi, gw pede aja kalo misalnya ditanya gw dulu pernah ngapain, tanpa merasa berbohong atau gila, karena seinget gw memang demikianlah yang terjadi. Got it? No? Ya udahlah =). Konsep teknologi Rekall inilah yang menjadi penghubung utama Total Recall versi 1990 dan 2012...nggak deng, nama dan susunan karakter dasarnya juga serupa. Hanya saja semesta di versi 2012 dibuat total-ly different. Jika versi 1990 adalah ketika bumi semakin sempit sehingga punya daerah jajahan di Mars, maka versi 2012 setingnya tetap di bumi. 

Di masa mendatang, akibat racun dari adu senjata biokimia, wilayah bumi yang bisa dihuni hanyalah tanah Inggris Raya di bawah pemerintahan United Federation of Britain (UFB), dan tanah jajahannya di Australia yang disebut The Colony. Dalam prakteknya, banyak warga The Colony yang nglaju ke UFB untuk kerja dengan satu-satunya kendaraan yang bisa digunakan pada masa itu, The Fall, semacam kereta massal yang menghubungkan kedua wilayah itu dengan menembus tanah dalam waktu tempuh 15 menit saja *enak ya*. Di tengah-tengah ketegangan pemerintah dengan aksi-aksi gerakan Colony merdeka, Doug Quaid (Colin Farrell) adalah salah satu pekerja Colony yang nglaju ke UFB setiap hari sebagi buruh pabrik polisi robot. Jemu dengan keseharian, Doug memberanikan diri ke Rekall, yang katanya akan memberikan pengalaman sensasional. Memori yang dipilih—atau tepatnya dipilihkan dengan sotoy oleh mas-masnya, Mac (John Cho)—adalah agen rahasia. Tiba-tiba di tengah prosedur, Mac bilang bahwa berdasarkan ingatan Doug yang sudah ada dia memang seorang agen rahasia. Lalu sekonyong-konyong sepasukan polisi menerobos masuk ke ruang prosedur, tetapi ternyata Doug bisa melumpuhkan semua polisi itu...seorang diri. Apakah dia memang seorang agen rahasia? Atau sebenarnya ia sudah mulai mengalami mimpi dari ingatan palsu teknologi Rekall?

Lucky for us, Total Recall versi baru ini begitu ramah dan baik hati sehingga jawaban dari pertanyaan itu tak sulit didapat. Toh kelihatan sekali bahwa yang diutamakan dari film ini adalah tampilan desain produksi futuristik yang lebih "update" dan adegan aksi yang lebih stylized, konsumsi penonton zaman sekarang banget lah. Apakah berhasil? Emmm...yaa...gimana ya bilangnya...?. Dengan ide dan konsep yang besar, film ini pada akhirnya tampak terlalu menyederhanakan, jadinya kurang intriguing ataupun menggelitik. Adegan laganya pun bagi gw tidaklah se-spektakuler yang diharapkan. It's okay saja. Namun, desain produksi adalah soal lain, cukup imajinatif dengan "tanah susun"-nya ditambah polesan kesan kumuh dan berwarna redup. Semacam gabungan The Fifth Element, Equilibrium, Minority Report, dan Children of Men, well you can't actually expect originality from a remake. Ngomong-ngomong Equilibrium, cerita Total Recall versi baru ini ternyata disusun oleh Kurt Wimmer (Equilibrium, Ultraviolet, Salt), pantes saja gw merasa ada sedikit kesamaan di set-up dunianya, terutama dari unsur politik-nya (gerakan bawah tanah melawan pemerintah pusat, The Fall sebagai alat pengendali kebebasan memilih), namun sayangnya itu juga gak digali atau cuma dijelaskan sambil lalu saja...apa sama sekali gak dijelaskan ya? Lupa euy.

Total Recall versi 2012 ini pada akhirnya adalah tontonan yang...dibilang bagus ya enggak, dibilang jelek ya kasian. Gw cukup suka look-nya, efek visualnya tampak tangible, ada beberapa adegan laga yang mengundak decak kagum, tetapi terus terang gw nggak suka dengan lajunya yang termasuk lambat untuk ukuran film yang mementingkan laga dengan intrik yang gak ribet-ribet amat. Jadi pun kalau mau dilabeli dengan pembelaan "film hiburan", yang artinya gw tidak usah mempersoalkan tentang kedalam karakter dan sebagainya, nyatanya gw tidak sebegitunya terhibur. Boro-boro kepikiran sampe pulang. Biasa aja, tidak terlalu penting, tapi masih watchable, tidak mengesalkan. Yah, masih oke lah kalau ditayangkan di TV beberapa tahun mendatang.



My score: 6/10

Sabtu, 04 Agustus 2012

Reminiscence of 1990's Animated Features - Part 2 of 2: Five Attempts to Overthrow Disney Animation Supremacy

Di bagian kedua tentang animasi Hollywood 1990-an ini, gw akan membahas beberapa usaha untuk menyaingi film-film animasi produksi Walt Disney di dekade tersebut. Seperti yang gw sudah bahas di Part 1, kesuksesan film bioskop animasi Disney bukanlah kesuksesan untuk ukuran film animasi belaka, melainkan kesuksesan secara general, bahkan beberapa sanggup mengalahkan film-film blockbuster yang live action. Tentu saja hal ini akan menimbulkan envy dan kepo dari pihak luar Disney, sehingga ada beberapa produksi film animasi bioskop yang mencoba meraih kesuksesan yang sama. Toh kalau pada tahun 1980-an Disney bisa kalah sukses dari studio lain (terutama Universal yang animasinya diproduksi mantan animator Disney, Don Bluth), kenapa kali ini tidak bisa?


Tentu ada cukup banyak contoh film animasi Hollywood yang berusaha menggoyahkan singgasana animasi Disney di dekade 1990-an, namun kali ini gw hanya akan membahas 5 judul yang pernah gw tonton, dan punya formula Disney banget. Seperti yang pernah disinggung, animasi Disney kembali bangkit semenjak hadirnya The Little Mermaid di tahun 1989 yang membawa genre fantasi-musikal-dongeng kembali ke layar animasi Disney, kesuksesan yang diikuti Beauty and the Beast (1991) dan Aladdin (1992), sedangkan yang ber-genre petualangan yaitu The Rescuers Down Under (1990) tidak terlalu laku. Maka dari itu, strategi pihak-pihak luar Disney pasti mengikuti pola yang sukses lah. Gw pun coba menyenarai formula animasi ala Disney yang juga digunakan rumah produksi lain dalam film animasi, yakni:

1. genre fantasi musikal berdasarkan dongeng, mitos, atau legenda berlatar masa lalu
2. ada unsur magis/mistis
3. ada unsur romansa, kalau bisa ada love theme-nya
4. ada hubungannya dengan kerajaan (ada putri dan atau pangeran)
5. ada tokoh sidekick yang lucu, dan kalau bisa bukan berwujud manusia
6. ada versi pop dari setidaknya salah satu lagu dari filmnya, kalau bisa dibawakan secara duet.

5 judul yang akan gw bahas di bawah ini memang tidak harus memenuhi setiap formula di atas, tetapi percayalah sebagian besar pasti bisa ditemukan dalam film-film tersebut. Tapi ya namanya karya seni, ibarat masakan, meski bahan dan resep sama, kalau orangnya beda belum tentu hasilnya sama. Demikian pula 5 film animasi yang akan gw bahas di bawah ini, meski dengan formula yang mirip Disney, bahkan tak jarang memang melibatkan oknum-oknum yang pernah terlibat dalam animasi Disney, tak satupun berhasil menyaingi kedigdayaan Disney. Meski secara kualitas ada yang menyamai, namun rupanya pada saat itu harus diakui animasi Disney lebih banyak menarik penonton. Disney lebih jago marketing dan branding kali ya, hehe.

Baiklah mari kita mulai membahas satu per satu film-film yang mencoba mengguncang tahta Disney dalam bidang animasi bioskop di tahun 1990-an.


Kamis, 02 Agustus 2012

[Movie] Carnage (2011)


Carnage
(2011 - SBS Productions/Wild Bunch/Sony Pictures Classics)

Directed by Roman Polanski
Screenplay by Yasmina Reza, Roman Polanski
Based on the play "Le Dieu du Carnage" by Yasmina Reza, translated by Michael Katims
Produced by Saïd Ben Saïd
Cast: Jodie Foster, Kate Winslet, Christoph Waltz, John C. Reilly


Carnage adalah drama satu babak tentang 2 pasang suami istri yang berusaha bermusyawarah menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara putra mereka masing-masing. Ethan, putra pra-remaja pasangan Penelope (Jodie Foster) dan Michael Longstreet (John C. Reilly), ketika bermain di taman umum terlibat perkelahian sampai dilukai wajahnya dengan batang kayu oleh Zachary, putra dari Nancy (Kate Winslet) dan Alan Cowan (Christoph Waltz). Pasutri Cowan datang ke flat keluarga Longstreet untuk menyelesaikan masalah ini baik-baik, bahwa mereka masing-masing mengerti situasi ini, tidak saling mendengki, dan pokoknya tujuannya biar nggak berdampak terlalu jauh apalagi sampe dapet hukuman di sekolah...

Yeah, like that's gonna happen =D. Awalnya sih oke-oke saja, basa-basinya selesai, tetapi sedikit demi sedikit, adu tutur kata yang baik tapi mengandung ketidak-ridha-an semakin kelihatan, dan pembicaraan mereka pun tidak selesai-selesai, kemana-mana, sampai membongkar kepribadian asli mereka masing-masing. 

Carnage adalah salah satu gambaran yang menarik sekaligus membingungkan tentang kelakuan manusia. Jelas kita tahu bahwa orang tua pasti akan terlibat ketika anak-anak mereka mendapat masalah, apalagi jika sampai ada yang terluka. Namun kita juga tahu, tanpa mengurangi rasa hormat kepada para orang tua di luar sana, ada beberapa yang meresponi permasalahan ini lebih dari yang seharusnya, bahkan melebihi si anak sendiri yang terlibat langsung dengan permasalahannya. Dari masalah perkelahian anak-anak, yang bahkan menurut kedua ayah di sini sebenarnya bukan masalah yang terlalu gimana gitu, berkembang menjadi ajang pembongkaran kebobrokan masing-masing karakter kita, bahkan tidak selalu setiap pasangan berada di pihak yang sama. Hal itu jadi lucu apalagi setelah melihat shot terakhir di film ini yang seakan membuktikan kesia-siaan energi dan umbar malu keempat orang yang (harusnya) dewasa itu.

Utamanya film 80 menit ini hanya menampilkan kedua pasang suami istri tersebut dalam satu latar, dan ceritanya semua terjadi dalam real-time alias tidak ada lompatan waktu dari satu situasi ke situasi lainnya. Sepanjang itu, kita melihat interaksi keempat orang dengan kepribadian masing-masing ini, dari basa-basi palsu, awkward silence sampai keributan. Sayangnya, bagi gw semua itu masih terlihat terlalu teatrikal. Gak terlalu salah sih karena film ini memang berdasarkan drama panggung Prancis yang juga sukses di London dan New York (film ini mengambil seting New York). Tetapi mungkin gw lebih suka kalo film seperti ini punya pertukaran dialog yang lebih natural dan reaksional, di sini bahkan jarang sekali ada tumpang tindih atau memotong pembicaraan, terlalu staged. Namun untungnya itu tak menghalangi gw untuk memahami maksud dan ide dari dibikinnya film ini. No big deal.

Itu juga tidak menghalangi gw untuk menikmati showcase akting dari 4 aktor kaliber Oscar. Jodie Foster tak diragukan bermain dengan baik sebagai Penepole yang merasa paling waras dan beradab dalam meresponi masalah anaknya yang dilukai, tetapi sebenarnya justru yang paling tidak terima akan anaknya yang dilukai. Lawan dari Penelope adalah Alan yang dimainkan sempurna oleh Christoph Waltz, yang mengakui anaknya salah, tetapi ya...namanya juga anak-anak, toh dia sebagai pengacara korporat sedang ada kasus yang lebih besar daripada perkelahian anak-anak. Michael dimainkan sesantai mungkin oleh John C. Reilly, yang seperti all-American dad, yang justru berusaha lebih keras dari istrinya dalam menjaga kerukunan dengan pasangan Cowan. Kate Winslet pun sekali lagi tidak mengecewakan tampil sebagi Nancy yang sejak awal tampak pasif dan paling menahan opininya, namun segera meledak setelah meneguk sedikit alkohol. Secara individual, keempat aktor ini bermain apik seakan tanpa beban, tetapi secara kolektif nampaknya chemistry mereka kurang begitu meyakinkan, terlalu "berkaliber" kali ya. Tapi ya nggak jelek kok.

Carnage mungkin terlihat sederhana untuk ukuran sineas sebesar Roman Polanski, tetapi setidaknya ia berhasil make a point. Sayang tampilan film ini kurang meyakinkan secara emosi dan kultural (nggak ada yang pake aksen khas New York, dan btw ini bukan film produksi Amerika atau Inggris, melainkan produksi bersama Prancis, Spanyol, Jerman dan Polandia), namun memperkenalkan 4 karakter secara jelas dan perlahan-lahan hingga akhir film tentu sebuah keberhasilan tersendiri. Dalam satu babak ini muncul juga tema-tema besar tentang kemunafikan, standar ganda, perbedaan prinsip, kepalsuan, komentar sosial hingga kapitalisme...tapi, udah jauh-jauh gitu, seperti gw singgung tadi, dengan "lucu" dimentahkan di gambar terakhir sebelum end credit. Permasalahan anak-anak tidak selalu berhasil jika diselesaikan dengan cara orang dewasa, apalagi orang dewasanya juga belum dewasa-dewasa amat =).



My score: 7/10