Selasa, 31 Juli 2012

[Album] THE BACK HORN - Rivusukooru


THE BACK HORN - リヴスコール Rivusukooru
(2012 - Speedstar/Victor Entertainment)

Tracklist:
1. トロイメライ   Träumerei
2. シリウス   Sirius
3. シンフォニア   Sinfonia
4. グレイゾーン   Grey Zone
5. いつものドアを   Itsumo no doa wo
6. 風の詩   Kaze no uta
7. 星降る夜のビート   Hoshi furu yoru no Beat
8. 超常現象   Choujou Genshou
9. 反撃の世代   Han-geki no sedai
10. 自由   Jiyuu
11. 世界中に花束を (New Recording)   Sekai-juu ni hanataba wo
12. ラピスラズリ   Lapis lazuli
13. ミュージック   Music


THE BACK HORN adalah band rock Jepang kesukaan gw...atau tepatnya band Jepang kesukaan gw yang paling nge-rock...ya kira-kira begitu =P.  Bibit kesukaan terhadap band yang personelnya mayoritas lulusan sekolah Tokyo Visual Arts ini sudah tertanam cukup lama sejak gw dengar single "Yume no Hana" sekitar tahun 2005, namun baru benar-benar suka setelah "Wana" tahun 2007, biggest single mereka yang juga jadi lagu tema serial anime "Mobile Suit Gundam 00". Karena gw telat sukanya, yakni setelah mereka rilis 6 album, gw jadi kurang khatam sama diskografi mereka selain album kompilasi BEST THE BACK HORN yang dirilis tahun 2008. Payah ya, hehe. Tapi yang bisa gw nyatakan bahwa sepertinya THE BACK HORN belum menemukan kembali momentum yang nendang dalam mengeluarkan karya oke pasca merilis BEST. Terbukti album Pulse (2008) dan Asylum (2010) tidaklah sebaik atau semengesankan karya-karya mereka sebelumnya. Nah bagaimana dengan album yang sekarang ini?

First of all, album studio ke-9 (BEST gak dihitung) karya THE BACK HORN ini diberi judul yang dalam huruf katakana berbunyi RI-VU-SU-KO-O-RU. Nah agak masalah nih kalau coba diubah ke bahasa Inggris, karena katanya memang sengaja agar bisa diterjemahkan jadi Live Squall dan Lives Call sekaligus...tapi tetep aja gw gagal paham maksudnya =p. O well, memang sebaiknya gw merujuk versi bunyi katakana-nya saja, Rivusukooru. Deal?

Secara sound, THE BACK HORN tidak banyak berubah di sini, tetap dengan basis genre yang konon disebut post-grunge, permainan gitar Eijun Suganami masih liar, bass Koushu Okamine masih lantang, dan vokal Masashi Yamada masih keren dan kukuh. Jelas sudah tidak se-raw album-album awalnya, malah semakin rapi dan dewasa, namun masih tetap berenergi dan semakin berani bereksperimen. Yang sedikit berubah dari keseluruhan album ini adalah nuansanya yang tidak semeledak-ledak Pulse dan Asylum, dan juga tidak gloomy. Sebaliknya, meski agak lebih kalem, Rivusukooru terbilang lebih optimistis. Mungkin ada hubungannya dengan bencana tsunami yang menimpa beberapa daerah di Jepang secara dahsyat tahun 2011 lalu (drummer/bandleader Shinji Matsuda berasal dari Fukushima, salah satu provinsi yang terkena dampak langsung bencana), jadi mungkin keseluruhan album ini dibuat dengan maksud dan tujuan membangkitkan motivasi dan semangat hidup warga sana, yang tentu saja bisa digunakan untuk membangkitkan motivasi dan semangat hidup siapa pun yang mendengarnya di mana pun berada, ya 'kan? =). "Sekai-juu ni hanataba wo" mungkin adalah lagu yang "memengaruhi" isi keseluruhan album ini. Lagu ini diciptakan tak lama setelah peristiwa tsunami tersebut, tahun lalu sudah dirilis secara digital yang penjualannya disumbangkan untuk korban bencana (yang di album ini versi rekam ulang), memang sebuah lagu yang seakan hendak memeluk dan mengajak move on pendengarnya. Disajikan secara slow rock yang chorus-nya bernuansa stadium, terlebih karena sahut-sahutan semua personelnya yang seakan menggambarkan lagu ini dibuat dan dibawakan dengan kesatuan hati *aiih*. 

Tak selalu sendu, lagu pembakar semangat pun ditampilkan secara dramatis berketuk 3/4 dalam "Sirius" yang jadi single andalan sebelum merilis album ini. "Sinfonia" hadir lebih bersemangat dan bikin jejingkrakan, menjadikannya salah satu lagu favorit gw dari album ini. Tapi lagu TER-favorit gw ternyata jatuh  pada dua track terakhir: "Lapis Lazuli" yang berirama cepat dan aransemen musik dan vokalnya paling kawin dan variatif dari lagu-lagu lainnya, serta track penutup "Music" yang megah, dimainkan dengan nuansa marching band ditambah aksen gitar akustik yang menyejukkan. Lagu "Jiyuu" juga jadi salah satu highlight karena notasi yang merasuk, juga variasi permainan instrumen dan irama yang dikandungnya enerjik sejak intro. Lagu perenungan hidup "Itsumo no doa wo" ("pintu kapan saja"?) tampil nge-rock klasik ala THE BACK HORN yang banyak menyajikan tarikan emo dari vokal Yamada. Sedangkan "Hoshi furu yoru no Beat" merupakan kumpul bocah bunyi-bunyian jazz, funk, dan rock cadas pada chorus, yang (ternyata) padu dan mulus. Walaupun bukan pertama kalinya THE BACK HORN memasukkan unsur musik jazz dalam karyanya, lagu ini tetap saja jadi yang paling unik, dan paling ceria di album ini, kemunculannya selalu terasa menyegarkan.

Sisanya, gw bilang sih oke-oke saja. Gw masih bisa terima nuansa slow rock kontemplatif dalam "Kaze no Uta", ataupun lagu yang paling gelisah dengan chord-chord minornya dalam "Grey Zone", namun keberadaan track yang terlalu generik (a.k.a. udah sering dilakukan baik oleh THE BACK HORN maupun band lain a.k.a. pokoknya kenceng) seperti "Choujou Genshou" dan "Han-geki no Sedai" membuat gw reluctant untuk menyatakan bahwa gw menikmati album ini seluruhnya. Padahal dikiiit lagi gw bisa bilang "suka banget" album ini. Pun dasanya sih "Träumerei" bukan track pembuka yang oke karena kurang "merangsang", nanggung...tapi mungkin ada pertimbangan di lirik, ya mau gimana lagi.

Tetapi, overall, meski bukan yang terunggul sepanjang karir musik mereka, Rivusukooru sesungguhnya bisa dibilang album THE BACK HORN terbaik sejak album BEST. Album ini memancarkan nuansa yang lebih terang dan banyak bertitikberat pada melodi lagunya, paling enjoyable daripada dua album studio sebelum yang ini. Keliaran dan distorsi kasar memang berhasil buat mereka dulu pas awal-awal, sehingga dapat menghasilkan karya album yang lebih bagus daripada yang belakangan ini, namun sepertinya memang sound sedikit lebih jinak dan melodik seperti di sebagian besar album ini yang paling cocok buat THE BACK HORN untuk sekarang ini, asalkan energinya tetap terjaga. Namun, saat ini yang penting adalah album ini masih gagal membuat gw berhenti suka pada THE BACK HORN, Rivusukooru menunjukkan bahwa band ini masih keren dan masih punya potensi meski sudah lebih dari 10 tahun berkarir.



My score: 7/10


THE BACK HORN

Previews


Rabu, 25 Juli 2012

Nonton di Gandaria XXI IMAX: The Dark Knight Rises

Boleh dong numpang norak lagi, hehe. Sebenarnya gw udah nggak perlu lagi sih bahas nonton sebuah film di IMAX atau 3D atau apalah, tetapi untuk kasus The Dark Knight Rises kali ini memang berbeda dengan pengalaman nonton film-film komersil berformat IMAX sebelumnya. Tempatnya jelas masih sama dengan tempo hari ketika gw nonton Prometheus dalam format IMAX 3D, tetapi The Dark Knight Rises ini berformat IMAX tok, gak pake 3-Dimensi. Tepat sekali dengan keinginan gw dalam "ngetes" layar IMAX baru ini tanpa pakai kacamata 3D—kali aja ada yang nggak ngeh, The Dark Knight Rises memang tidak ditayangkan dalam format 3D di mana pun di bumi. Lebih lagi, film ini bukan sekadar film biasa yang di-blow-up jadi format IMAX seperti film-film Hollywood berformat IMAX yang pernah gw tonton sebelumnya, namun sekitar 50 menit dari 160-an menit durasinya memang direkam dengan kamera film khusus IMAX, jadi bisa dibilang ada bagian-bagian dari film ini yang optimum experience-nya memang harus di teater IMAX.

Materi promosi The Dark Knight Rises di sinepleks Gandaria XXI

Ini bukan kali pertama sutradara Christopher Nolan merekam beberapa adegan filmnya menggunakan kamera IMAX. Di seri Batman terdahulu, The Dark Knight, doski juga melakukan hal yang serupa, namun durasinya lebih pendek. Jika ditonton di bioskop biasa, perbedaan mana yang direkam dengan kamera biasa dan mana yang IMAX memang tidak kentara karena semua sudah disamaratakan. Tetapi di teater IMAX, semuanya terbongkar (kayak apaan aja). Paling ketahuan sih dari perubahan aspect ratio, atau rasio bingkai gambar. Sebagian besar film ini direkam dengan kamera biasa dengan rasio gambar yang lebar 2.35 banding 1, dan dalam rasio ini pula Rises ditayangkan di bioskop-bioskop biasa. Sedangkan gambar yang direkam dengan kamera IMAX rasionya jadi hampir bujur sangkar kayak TV, 1.44 banding 1 (kalau di Gandaria ini gw gak tau pasti apakah memang 1.44:1 atau malah agak lebaran 1.78:1 *terlaluteknis*). Ini berarti, untuk versi tayang di bioskop biasa, gambar adegan-adegan yang tadinya direkam dalam IMAX dipotong biar muat ke rasio normal (tapi gak banyak kok, tenang aja =)). Nah kalau di layar teater IMAX semua terproyeksi sesuai rasio asli/utuh masing-masing. Sebagian besar film, yaitu gambar-gambar yang direkam dengan kamera film biasa yang sudah di-blow-up, memang terpoyeksi dengan rasio normal sehingga nggak memenuhi layar (lihat sebelah kiri pada tabel di bawah), tetapi pada adegan-adegan tertentu—terutama adegan laga—gambar akan terproyeksi di layar secara penuh (sebelah kanan pada tabel di bawah), bagian-bagian inilah yang dari sononya emang direkam dalam format IMAX. Jadi, ya, tampilnya selang-seling gitu.

Gambaran (kira-kira) rasio ukuran gambar film The Dark Knight Rises yang terpoyeksi di layar IMAX.

Akan tetapi tak hanya itu, lewat menyaksikan Rises format IMAX ini gw jadi tau jelas sebetulnya perbedaan hasil rekam film biasa dengan yang hasil rekam IMAX, lebih dari sekadar perbedaan rasio bingkai gambar, karena dua-duanya tersaji di satu film ini. Gw perhatikan, gambar-gambar hasil rekam IMAX yang resolusinya kalo nggak salah 2 kali lipat resolusi film biasa, memang lebih bening dan tuajem dibandingkan dengan hasil rekam film biasa yang di-blow-up, yang di sini jadi tampak agak lebih redup dan noisy. Bener deh, emang beda, gw berkesimpulan prinsipnya sama dengan perbedaan gambar yang digedein dibanding gambar yang emang dari sononya udah gede. Crystal clear. Ini konsisten dengan pernyataan Nolan tentang alasan dirinya memakai kamera IMAX langsung, tidak bergantung hasil konversi. Ketajaman gambar inilah yang menambah sensasi "gimana gitu" ketika ada adegan long-shot atau pemandangan. Well, we can call that "the IMAX sensation", yang hanya bisa didapat ketika menonton di teater khusus IMAX.

Yah, keutuhan gambarnya memang nggak cuma bisa didapat di teater IMAX sih. Mungkin seperti The Dark Knight, adegan-adegan Rises yang direkam dengan IMAX mungkin nanti masih bisa dinikmati di DVD atau Blu-Ray (fyi, adegan-adegan IMAX The Dark Knight di Blu-Ray terintegrasi dengan filmnya, rasio bingkai gambarnya selang-seling sebagaimana ditayangkan di layar IMAX, sedangkan di DVD cuma jadi fitur bonus yang terpisah), tapi layar TV atau komputer kita tetap saja belum bisa menggantikan layar bioskop apalagi layar IMAX, terutama ya dari ukurannya =D. Malahan sebenarnya, akan lebih asik kalau Rises versi ini ditayangkan di layar IMAX dengan ukurannya raksasa seperti di Keong Emas, Taman Mini, biar lebih berasa gitu (seperti komplain gw kemaren, layar IMAX di Gandaria XXI kurang gede ah). Tapi ya sudahlah, syukuri apa yang ada. Gw sih males juga ngebayangin nonton Rises yang durasinya 2 jam 45 menit di Keong Emas yang kursinya gak ada penyangga kepala dan tata suaranya nggak oke...dan ada sensor manualnya. Jangan deh.


So, yeah, nonton The Dark Knight Rises dalam format IMAX ini memang nggak sia-sia bagi gw. Antrean panjang yang gw alami sewaktu membeli tiket, terbayar dengan pengalaman nonton yang oke juga, filmnya masih bagus pula meski ditonton kali kedua. Meskipun sayangnya gw kehilangan sekitar 5 menit tengah-tengah filmnya gara-gara scumbag digestive system =.=" (untung sebelumnya udah nonton utuh di bioskop biasa), gw tetep merasa puas dan nggak menyesali usaha untuk menyaksikan film ini di layar IMAX, bagaimanapun jauhnya jarak tempuh, macetnya jalanan, dsb dsb. Love this movie, love the IMAX experience. Oh ya, ini juga mengkonfirmasi gw lebih suka IMAX yang nggak pake 3D karena besarnya layar lebih terasa. Coba deh lain kali si mas Christopher Nolan bikin film yang full IMAX, pasti bakal cihuy...


Gandaria XXI IMAX
Gandaria City Mall Lt. 2, Jl. Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
(sekitar 2,5 km ke Utara dari Mal Pondok Indah)
Harga tiket per orang:
Rp 60.000,- (Senin-Kamis)
Rp 75.000,- (Jumat, hari sebelum tanggal merah)
Rp 100.000,- (Sabtu, Minggu, hari tanggal merah)
Parkir Mall: Rp 2.000,- per jam
Informasi lengkap http://www.21cineplex.com/imax

Minggu, 22 Juli 2012

[Movie] The Dark Knight Rises (2012)


The Dark Knight Rises
(2012 - Warner Bros.)

Directed by Christopher Nolan
Story by Christopher Nolan, David S. Goyer
Screenplay by Jonathan Nolan, Christopher Nolan
Based upon "Batman" characters created by Bob Kane published by DC Comics
Produced by Emma Thomas, Charles Roven, Christopher Nolan
Cast: Christian Bale, Michael Caine, Gary Oldman, Anne Hathaway, Tom Hardy, Marion Cotillard, Joseph Gordon-Levitt, Morgan Freeman, Matthew Modine, Ben Mendelsohn


Risiko yang diambil Warner Bros. dalam memulai ulang kisah Batman format layar lebar rupanya berbuah manis berlimpah-limpah. Meski dengan perbedaan yang (konon, gw nggak tau pasti) sangat signifikan baik dengan versi komik maupun versi-versi film/televisi lainnya, seri film bioskop Batman yang ceritanya digarap David S. Goyer dan Christopher Nolan yang mencoba less comical (cenderung lebih membumi dan tangible) ini rupanya disambut baik oleh penonton. Batman Begins memperoleh keuntungan yang memuaskan dan mendapat apresiasi yang baik dari pecinta dan kritikus film, dan semakin meledak dengan sekuelnya, The Dark Knight yang digadang-gadang membuat standar baru dalam penggarapan film berdasarkan komik superhero. The Dark Knight sendiri adalah salah satu film favorit gw sepanjang masa (nomer 3 di 100 film dekade 2000-an favorit gw), film yang keren banget nget, namun sesungguhnya bagi gw kedua film Batman versi realis ini sama-sama bagus, hanya saja harus diperhatikan keduanya menggunakan pendekatan dan gaya bercerita yang jauh berbeda. Meski jelas musti ada action-nya, Batman Begins yang meng-set-up ulang tentang asal-usul Batman adalah film yang menjurus ke drama, sedangkan The Dark Knight adalah crime thriller. Gw mungkin lebih suka The Dark Knight karena lebih seru dan menegangkan kali ya...

Kekerenan paripurna The Dark Knight lantas (justru) membuat gw tidak mengharapkan yang iya-iya buat The Dark Knight Rises, yang konon merupakan film terakhir Batman yang disutradarai Christopher Nolan. There is just NO WAY to top The Dark Knight. Untungnya, sejak awal tim pemberita The Dark Knight Rises (selanjutnya gw rujuk sebagai Rises saja ya) menyatakan bahwa film ketiga ini akan lebih mirip dengan Batman Begins. Oh syukurlah, setidaknya mereka nggak akan mencoba ngutak-ngatik The Dark Knight yang sudah cukup sebagaimana adanya itu. Setelah menonton Rises, kenyataannya cukup menarik dan melegakan. Memang benar film ini berbeda approach dari The Dark Knight, namun ternyata beda juga dari Batman Begins, Rises jatuhnya seperti film aksi spionase (terutama dari segi aksi si penjahat yang penuh taktik, sembunyi-sembunyi namun berdampak besar). Tiga film berkesinambungan namun dengan pendekatan yang masing-masing berbeda (nggak berulang) bagi gw adalah siasat "licik", sehingga akhirnya agak nggak valid kalo membandingkan satu dengan yang lain, gimana mau milih mana yang "the best" kalau genre-nya aja beda-beda. Sialan loe, Nolan.

Kalau soal plot Rises, sebenarnya gampang saja intisarinya, soal Batman melawan penjahat. Yang membedakan adalah siapa dan bagaimananya, serta dampaknya. Gw berusaha tidak membeberkan terlalu banyak di sini, tapi kalau ternyata dirasa gw memang demikian, ya maaf deh. Kalau memang ingin lebih enjoy, sebaiknya stop baca sampai di sini, dan kembali lagi nanti kalau Anda sudah nonton =). Kuncinya sih kalau memang ingin lebih ngeh dalam menikmati Rises, lebih baik tonton atau setidaknya ingat-ingat kembali Batman Begins dan The Dark Knight terlebih dahulu.


Sejak peristiwa terakhir di film The Dark Knight, Bruce Wayne (Christian Bale) memutuskan untuk mengikuti langkah Beast di Beauty and the Beast dengan tidak pernah keluar dari salah satu bagian rumah mewahnya, termasuk tidak lagi beraksi sebagai Batman, toh Batman sudah telanjur dianggap sebagai penjahat yang bertanggung jawab atas tewasnya pahlawan kota Gotham. 8 tahun berlalu, Gotham, kota megapolis paling maju di dunia, kini mempunyai angka kriminalitas yang minimal, aksi satuan kepolisian yang dipimpin komisaris Gordon (Gary Oldman) sudah cukup untuk menekan angka kejahatan. Namun, itu tak menghalangi gerakan bawah tanah yang dipimpin oleh Bane (Tom Hardy) untuk menghancurkan kota ini. Bane jelas bukan penjahat ecek-ecek, ia punya taktik dahsyat dan juga brutal, sehingga Batman harus turun tangan, namun setelah 8 tahun vakum dari dunia persilatan apakah Batman sudah siap menghadapi penjahat seberat Bane?

Yang gw tulis di atas itu udah intisari banget, karena film ini sendiri tetap memiliki lapisan plot yang kompleks. Enaknya, durasi film 2,5 jam lebih digunakan dengan baik oleh Nolan dalam memaparkan intrik-intrik dengan solid. Bagi gw tidak terasa dipanjang-panjangin, tetapi justru menegaskan alotnya musuh Batman, dan betapa besarnya pertaruhan kali ini, yaitu seluruh isi kota Gotham. Nah nggak enaknya (walaupun tidak berlaku buat gw *songong*), film ini cukup banyak mengambil referensi dari film Batman terdahulu, terutama Batman Begins (kalau The Dark Knight berkaitan di bagian awal film saja), toh disinyalir Bane terkait dengan kelompok ninja League of Shadows yang sempat diikuti Bruce Wayne dulu sebelum jadi Batman. Bagi yang udah lupa atau bahkan belum pernah nonton sama sekali (masak seh? Di Trans TV bukannya udah berapa kali yak?), rasanya akan cukup kesulitan memahami rujukan-rujukan ini termasuk, yang paling utama, motivasi penjahatnya yang memang tidak dibangun dari film yang ini saja. Tetapi jika sudah nonton atau masih inget dengan kedua film sebelumnya, niscaya Anda akan lebih mudah memahami bahkan akan tersenyum. Benar, Anda nggak salah baca, Rises adalah film Batman-nya Nolan yang paling banyak bikin senyum, terutama dengan kemunculan Selina Kyle (Anne Hathaway)—atau dalam semesta Batman lain disebut sebagai Catwoman, yang sering saling lempar rayuan dengan Bruce Wayne/Batman. Senang rasanya para penulis film ini akhirnya bisa rada santai.


Ngomong-ngomong karakter, Rises ini cukup banyak karakter barunya. Untungnya kemunculan dan "fungsi" karakter-karakter tersebut ditata dengan rapi dan bijak, mungkin juga pengaruh pemanfaatan durasi kali ya. Dan untungnya lagi, tidak seperti The Dark Knight, perhatian tidak terhisap pada satu karakter yang terlalu menonjol. Ini bisa jadi kekurangan, tapi bisa juga kelebihan, setidaknya Rises mengembalikan keunggulan Batman Begins dalam bidang ensemble cast. Penampilan Tom Hardy sebagai Bane nggak mengecewakan, cukup berhasil menunjukkan emosinya, pas untuk tokoh penjahat yang penuh perhitungan (memang nggak sama dengan Joker dulu yang lebih banci tampil dan suka kekacauan tanpa alasan selain karena seneng aja)...dan at least Bane di sini bisa ngomong nggak kayak yang di Batman & Robin (1997) =P. Demikian juga memikatnya Anne Hathaway sebagai Selina Kyle, ekspresinya itu lho asik banget. Seneng juga bahwa emphasize tokoh Selina di sini bukan soal "kucing"-nya (bahkan tidak pernah disebut "Catwoman" di film ini), tapi lebih ke hakikat profesinya yang seorang pencuri super jagoan dan punya hubungan "it's complicated" dengan Batman. Tokoh-tokoh baru yang nggak familiar seperti Miranda Tate (Marion Cotillard) dan John Blake (Joseph Gordon-Levitt) rupanya mendapat porsi cukup vital, dimainkan dengan baik, dan tokoh-tokoh ini dikembangkan oleh tim penulisnya dengan sangat sangat berkelas...unless you're an avid fanboy and already have the idea of what they're up to =D.

Sedangkan untuk tokoh-tokoh "reguler" (bukan yang "AC"...ini ngomongin apa ya?), masih sanggup ditampilkan dan dibawakan dengan memikat. Ketika The Dark Knight tidak menggali lebih dalam tentang Bruce Wayne/Batman—mungkin karena dianggap sudah cukup di Batman Begins, dalam Rises kita kembali lagi melihat dimensi lain dari pahlawan kita, yang dalam penyendiriannya terpuruk dalam kesedihan karena kehilangan cinta sejatinya, dan prosesnya untuk, emm, bangkit kembali. Di sinilah keuntungan memiliki aktor dengan kedalaman akting mumpuni seperti Christian Bale yang dapat memerankan keadaan Bruce Wayne/Batman yang tergerus secara jiwa raga dengan mulus. Kedekatan emosional Wayne dengan Alfred (Michael Caine) pun terlihat semakin dalem terutama karena performa ciamik dari opa Caine. Demikian pula Gary Oldman dan Morgan Freeman yang masih stabil dalam membawakan karakter masing-masing sebagai Komisaris Gordon dan Lucius Fox yang simpatik.


Apa yang bisa gw bilang selain sangat terpuaskan oleh The Dark Knight Rises ini. Kelengkapan teknisnya sudah tak perlu dipertanyakan lagi, mulai dari sinematografi, efek visual, hingga tata suara dan tata musik semuanya sudah jaminan mutu. Besarnya cakupan dunia dan ceritanya diperlakukan dengan sepantasnya. Pembangunan karakter yang reasonable dan logis, semacam altered version dari komiknya, kembali muncul dan semakin asik saja di sini, sebagaimana tradisi pembangunan karakter Jim Gordon, Ra's Al Ghul, Dr. Jonathan Crane/Scarecrow, dan Harvey Dent/Two-Face di dua film sebelumnya (contoh jelas di film ini adalah Bane dan Selina Kyle/Catwoman yang atribut khasnya lebih fungsional). Lajunya pas, banyak adegan-adegan aksi yang lebih extravagant, aksi si motor keren Batpod pun makin membahana di sini—watchout for the ngepots =). Penyelesaiannya sangat-sangat memuaskan sampai menimbulkan senyum lama setelah credit title muncul, bikin lega sekaligus bikin excited. Masih banyak hal-hal yang mau gw bahas tetapi takut spoil terlalu banyak, namun intinya Bruce Wayne/Batman akhirnya berhasil membuat semua orang paham akan tujuan utama eksistensi Batman sejak awal dengan benar: bukan supaya semua bergantung padanya, melainkan menjadi lambang perlawanan yang murni terhadap kejahatan, menginspirasi penegakan keadilan dan kebenaran, yang dapat juga dilakukan oleh siapa pun. Tak harus bertopeng atau ber-gadget, yang lebih penting adalah tindakan yang nyata demi kebaikan sesama, sesederhana apa pun itu. The Dark Knight has risen!



My score: 8/10

Kamis, 12 Juli 2012

Reminiscence of 1990's Animated Features - Part 1 of 2: Disney's Golden Decade

Tempo hari gw terpanggil untuk menonton kembali film-film animasi Walt Disney, mulai dari kaset VHS The Little Mermaid hingga VCD Tarzan (di antaranya ada 1-2 judul yang didapat lewat "jalan belakang" =P). Gw memang batasin sampe film-film yang rilis di dekade 1990-an aja plus Little Mermaid (keluaran 1989), sebab bersama film-film inilah gw bertumbuh. Yet another reminiscence, tulisan berikut ini merupakan semacam lanjutan tak berkait dari daftar lagu 1990-an yang gw buat tempo hari, yakni mengenang masa kecil/pertumbuhan gw yang terjadi di sepanjang dekade 90-an. Di negeri asalnya, sejak The Little Mermaid yang sukses besar baik secara kritikal dan finansial, film animasi Disney menjadi semacam event yang harus dinantikan dan wajib nonton setiap tahunnya. Di Indonesia, karena keterbatasan media (blum ada internet cing) sepertinya film animasi bioskop yang "penting" ya yang produksi Disney. Karena itu pula, buat gw, film-film animasi Disney itu layak disebut defined the 90s, yang menemani anak-anak masa itu bertumbuh.


Tentu saja dalam konteks ini animasi yang gw bicarakan adalah animasi tradisional, digambar pake pensil dengan tangan, karena animasi fully computer-generated belumlah umum (Toy Story baru muncul tahun 1995). Pula yang gw maksud dengan "film animasi Disney", dan gw baru benar-benar paham baru-baru ini, rupanya adalah produksi Walt Disney Feature Animation, atau sekarang sudah berubah jadi Walt Disney Animation Studios, divisi perusahaan Walt Disney Pictures yang khusus membuat film animasi bioskop. Biasanya, film animasi produksi studio ini dijuluki "Walt Disney Classics"—untuk daftar lengkapnya silahkan cek wikipedia. Nah, sepanjang dekade 1990-1999, Disney telah memproduksi 9 film animasi setiap tahunnya (absen di tahun 1993), dan dimulai sejak Beauty and the Beast (1991), 8 film di antaranya merengkuh kesuksesan beruntun, baik secara box office seluruh dunia maupun langganan nominasi Oscar (biasanya kategori musik). Memang Disney sejak dulu punya karya klasik seperti Snow White and the Seven Dwarves (1937), Pinocchio (1940) hingga Cinderella (1950) dan Sleeping Beauty (1959), namun semuanya itu dalam era berbeda-beda. Dengan kuantitas dan kualitas demikian mencolok dibandingkan dekade lainnya, rasanya bolehlah gw sebut 90-an sebagai era keemasan, atau setidaknya istimewa bagi film animasi Disney.

Apa kunci kesuksesan Disney di dekade ini? Kalau box office tentu didukung oleh tim marketing dan promosi yang jago banget (merchandise, paket mainan di restoran cepat saji, hingga advertorial di majalah-majalah semisal Bobo). Yang pasti kesuksesan tersebut juga karena kualitas karya yang baik. Memproduksi 8 karya yang baik berturut-turut adalah sebuah prestasi bukan main-main. Mungkin karena Disney kembali menggunakan formula yang menyukseskan karya-karya pendahulunya, yaitu menceritakan ulang dongeng klasik yang kemudian disesuaikan untuk seluruh keluarga, ada tokoh sidekick atau hewan lucu, dan penggunaan lagu-lagu indah (film animasi Disney sebagian besar musikal), lalu ditampilkan dengan teknik dan teknologi animasi termutakhir. Mungkin juga karena generasi sumber daya manusia (baik dalam teknik animasi maupun penyusunan naskah cerita) yang memang terbaik saat itu, atau karena perubahan manajemen. Apapun itu, gw hendak menghaturkan terima kasih sama oom-oom dan tante-tante di Walt Disney yang telah membuat era 90-an dan masa kecil gw menjadi berwarna lewat karya-karyanya, yang begitu berkesan, bahkan ketika disaksikan sekarang pun tetap nampak kualitasnya yang wahid yang sudah sulit ditemukan lagi, tak akan tergantikan. Benar-benar klasik.

Berikut adalah 9 film animasi klasik Disney di era 1990-an beserta komentar dan kesan dari gw yang sudah berusia dewasa ini, diurutkan berdasarkan tahun rilis, enjoy the nostalgia =):

Senin, 09 Juli 2012

[Album] Jason Mraz - Love Is a Four Letter Word


Jason Mraz - Love Is a Four Letter Word
(2012 - Atlantic/Warner Music)

Tracklist:
1. The Freedom Song
2. Living in the Moment
3. The Woman I Love
4. I Won't Give Up
5. 5/6
6. Everything Is Sound
7. 93 Million Miles
8. Frank D. Fixer
9. Who's Thinking About You Now?
10. In Your Hands
11. Be Honest (featuring Inara George)
12. The World As I See It
13. I'm Coming Over (Hidden Track)


Rasanya cukup banyak yang tahu album We Sing. We Dance. We Steal Things. milik Jason Mraz yang salah satunya memuat lagu tenar langganan cover version akustik di YouTube dan artis-artis Filipin, "I'm Yours". It's a very good work, dan lebih kurang merupakan karya Mraz paling mendunia ketimbang dua album sebelumnya. Dampak secara umum, setelah mengeluarkan karya yang jadi kesukaan banyak orang, maka album selanjutnya akan lebih dinantikan dan lebih cepat larisnya, mungkin karena banyak yang akan segera membeli album baru bersangkutan tanpa ragu-ragu karena sudah "percaya" pada si artis, just like I was when buying Love Is a Four Letter Word. Tapi gak sepenuhnya buta begitu kok, toh sebelum rilisnya album ini Mraz sudah merilis dua single secara digital, "The World As I See It" dan "I Won't Give Up" yang meski tidak sesukses "I'm Yours" dan single-single dari We Sing... lainnya, tetapi cukup membangun rasa penasaran akan album terbarunya ini.

Love Is a Four Letter Word konon adalah album yang akan banyak membicarakan cinta. Namun sebenarnya yang gw tangkap, album ini bukan membicarakan cinta secara mentah, Mraz menawarkan berbagai cerita yang berhubungan dengan definisi "cinta". Kesan ini langsung tergambar di lagu pertama "The Freedom Song" (cover lagu milik sebuah band bermisi sosial, Luc & the Lovingtons) dan lanjut di "Living in the Moment", juga dalam "5/6" yang intinya adalah memberi "pelepasan" dan membangkitkan semangat dalam menjalani hidup. Well, memberi energi positif juga sebuah bentuk cinta, 'kan? "Everything Is Sound" lebih bercerita tentang betapa menyenangkan bila ada cinta, lalu "Frank D. Fixer" yang didedikasikan untuk kakek Mraz, dan terdapat pula lagu kasih ibu versi Mraz di track favorit gw, "93 Million Miles". "The World As I See It" juga kalau diperhatikan bukan harus bermakna cinta terhadap seseorang, tetapi ungkapan kekaguman terhadap bumi pertiwi dan segala isinya. So you see, separuhnya bukan soal romansa.

Namun ketika lagunya soal romansa atau relationship, Mraz tetap lihai dalam nuansa tersebut, menyusun kata-kata yang membentuk ungkapan-ungkapan yang classy namun tak susah dimengerti. Semisal bagian awal "The Woman I Love" yang berbunyi "Maybe I annoy you with my choices, well you annoy me sometimes too with your voice" =D,  atau ungkapan rindu "I love making breakfast for someone instead of me" dalam lagu puitis "In Your Hands", serta ungkapan-ungkapan keren lainnya dalam "I Won't Give Up" dan "Who's Thinking About You Now?" (ini bisa jadi lagu kebangsaan kaum friendzoned =D), serta ujaran-ujaran dalem banget tentang memasuki hubungan yang serius di "Be Honest". Wonderfully written words. Oh ya, dalam album ini juga Mraz men-tone-down kadar kebawelan dalam liriknya, jadi gak ada yang nyanyi buru-buru, hehe.

Mengenai sound, album ini sebenarnya gak menawarkan yang baru-baru amat, rasanya kita sudah pernah mendengarnya dalam karya-karya Mraz sebelumnya, satu sisi yang bikin gw agak kurang semangat setelah pertama kali dengar satu album penuh. Mungkin memang album ini tidak diniatkan untuk memberi "bunyi revolusioner" pada musik Mraz, entahlah, tetapi ya memang masih kedengaran nikmat di telinga. Just like the usual Mraz, sekilas terdengar sederhana, santai, dan menyegarkan, easy listening, namun toh itulah yang membuat musik Mraz digemari, I can't really complain. Musiknya masih pop didominasi gitar akustik dan elektrik beserta segenap instrumen non-mesin lainnya yang berbunyi sopan mengiringi vokal polos Mraz. Jika ada yang agak berbeda, lagu "5/6"-lah yang paling menonjol karena dimainkan dalam ketukan 5 per 6, atau 5 ketuk di bar pertama dan 6 ketuk di bar kedua...or something like that (gak ngerti juga sih =P). Awalnya lagu ini agak sulit dicerna, tetapi justru yang makin enjoyable ketika semakin sering didengar, jazzy-jazzy gimana gitu ditambah aksen string section yang menambah kedalamannya. "Be Honest" dengan bintang tamu vokal Inara George juga memperdengarkan permainan gitar yang rada jazzy, dan karena katanya Mraz bikin lagu ini sehabis nongkrong bareng musisi-musisi Brazil, ada jejak nuansa bossanova juga (sotoy).

Album Love Is a Four Letter Love mungkin tidak semulus We Sing... dalam memikat pendengaran gw, tidak langsung bisa bilang "suka" atau "bagus". Meski punya materi lirik yang asik, musik dan melodinya butuh waktu untuk bisa gw serap dan nikmati, dan lama-lama memang asik juga. Proporsi lagu cepat, sedang, dan lambatnya seimbang. Sulit untuk mencari lagu yang great, tetapi setidaknya gw masih bisa terlular sukacita dari track "The Freedom Song", "Living in the Moment", dan "Everything is Sound", merasakan romantisme "The Woman I Love" dan "Be Honest"(lagu yang gw ramalkan akan bertahan di airplay dalam jangka waktu cukup lama), terhipnotis pada aransemen "5/6", dan terutama sekali merasakan kehangatan dan ketulusan yang terpancar dalam "93 Million Miles". Bahkan, setelah album ditutup dengan melegakan lewat "The World As I See It", hidden track bernuansa akustik "I'm Coming Over" yang begitu asyik dan lugas pun menjadi semacam encore performance yang sangat manis dan menyenangkan, some even say it is the best song from the album (which I kinda agree in a "mainstream" circumstances). Jika disimpulkan, album ini bukan karya mengecewakan dari seorang Jason Mraz, walaupun gw masih sedikit lebih prefer We Sing..., yah maklum selera gw 'kan pasaran =). "Love" is a four letter word, and so is "nice".



My score: 7,5/10


NB:Don't know why, but I find this hillarious. Dalam thank you note di albumnya, ada bagian Mraz mengucapkan terima kasih kepada semua orang di Atlantic Records (label yang menaunginya), betul-betul "semua orang" di sana bahkan "up to Skrillex" XD.

Jason Mraz

Previews

Sabtu, 07 Juli 2012

[Movie] The Amazing Spider-Man (2012)


The Amazing Spider-Man
(2012 - Columbia)

Directed by Marc Webb
Story by James Vanderbilt
Screenplay by James Vanderbilt, Alvin Sargent, Steve Kloves
Based on the Marvel comic books by Stan Lee, Steve Ditko
Produced by Laura Ziskin, Avi Arad, Matthew Tolmach
Cast: Andrew Garfield, Emma Stone, Rhys Ifans, Sally Field, Martin Sheen, Denis Leary, Irrfan Khan


Tak ada yang sangsi pada kesuksesan luar biasa trilogi Spider-Man yang secara konsisten ditangani Sam Raimi dan dibintangi oleh Tobey Maguire, Kirsten Dunst, dan James Franco, serta rajin ditayangin bolak-balik di Trans TV itu. Meskipun katanya Spider-Man 3 itu udah terakhir, jikapun seandainya bakal ada film keempat, kelima dan seterusnya, maka tidaklah akan mengherankan. Akan tetapi, bukannya bikin Spider-Man 4, studio Columbia Pictures dan Marvel malah langsung membuat reboot atau mulai-ulang (bukan sepatu ulang) kisah Spider-Man, padahal perasaan baru kemarin trilogi aslinya beredar, cuman 1 dekade setelah Spider-Man pertama, dan 5 tahun saja sejak Spider-Man 3. Jangan-jangan di dekade 2020-an bakal di-reboot lagi neh =|. O well. Pendekatan di seri baru Spider-Man bertajuk The Amazing Spider-Man ini (kalo nggak salah ini sesuai judul komik asli Spider-Man, you know, kayak Sailor Moon judul lengkapnya adalah Pretty Soldiers Sailor Moon *yaolotauajalhogue*) digadang-gadang lebih fokus pada Peter Parker/Spider-Man muda semasa SMA, serta disutradarai oleh Marc Webb yang film perdana (500) Days of Summer-nya gw sukai itu...yup (500) Days of Summer yang bergenre drama/komedi/romance itu. Jadi, The Amazing Spider-Man ini akan lebih romantis-kah? Hmmm, you'll be the judge.

Yang pasti, The Amazing Spider-Man adalah sebuah origin story, kita kembali menyaksikan proses Peter Parker (Andrew Garfield) menjadi manusia super berkostum ketat berjuluk Spider-Man, yang jelas berbeda dengan versi yang kita ketahui dari film Spider-Man 2002. Dalam film ini pribadi Parker dikupas lebih mendalam, mulai dari bagaimana ia bisa tidak punya orang tua sehingga harus dirawat Oom Ben (Martin Sheen) dan Tante May (Sally "you like me" Field), hingga rentetan peristiwa yang perlahan membuatnya bertekad menolong sesama dengan kemampuan super yang ia dapatkan akibat digigit laba-laba mutan itu. Di antara rangkaian peristiwa tersebut terdapat kisah kasih Parker/Spider-Man dengan Gwen Stacy (Emma Stone in her natural blonde hair), gesekan dengan ayah Gwen yang kapten polisi (Denis Leary), serta pertemuan dengan ilmuwan bertangan satu, Dr. Curtis Connors (Rhys Ifans) yang diduga bisa menjawab pertanyaan Parker tentang orang tuanya yang meninggalkannya ketika masih sangat kecil. Tokoh supervillain-nya ada, tapi menurut gw itu hanya satu dari seluruh bagian film yang berfungsi sebagai pembangun karakter Peter Parker dan Spider-Man—serupa dengan Batman Begins yang penjahatnya baru ketahuan di 1/3 akhir film, sebagai semacam syarat atau "tes" penempatan sosok Spider-Man di tengah masyarakat, apakah dianggap penolong atau pengacau (lu kate gampang apeh jadi superhero =P). Namun untungnya, penempatan supervillain (kali ini The Lizard) di sini nggak asal tempel, justru disusun sangat erat hubungannya dengan Peter Parker secara personal, langsung maupun nggak langsung.

Jika trilogi asli film Spider-Man pendekatannya lebih berwarna dan komikal (dan sangat berhasil), maka The Amazing Spider-Man memang terlihat lebih grounded, membumi, dan less color. Terlihat dari tata adegan dan tek-tok dialognya yang dibuat sedemikian rupa seperti keadaan sehari-hari. Gw sih suka ya. Dalam kaitannya dengan Peter Parker, pendekatan ini membuat tokoh ini lebih believable dan simpatik. Gw menikmati perkembangan Peter Parker dari seorang remaja yang biasa-biasa aja, lalu tiba-tiba memiliki kekuatan tak biasa, kemudian dihantui rasa bersalah akibat sebuah peristiwa yang mendorongnya menggunakan kekuatannya itu untuk memburu penjahat, hingga akhirnya menyempurnakan kemampuan yang ia miliki untuk menolong orang, meski harus menghadapi reaksi beragam dari masyarakat, terutama kepolisian yang menganggapnya orang gila yang main hakim sendiri. Tetapi efeknya, somehow, perkara Spider-Man ini mendewasakan Parker, contoh yang paling kelihatan buat gw adalah pada titik ketika Parker sebagai Spider-Man harus memilih antara menangkap penjahat atau menolong orang-orang yang kesusahan. Yang awalnya hanya didasari motivasi dan ego pribadi perlahan berubah, demi hal yang lebih penting.

Dengan kisah, pengisahan dan pendekatan yang berbeda, gw nggak bisa bilang bahwa The Amazing Spider-Man ini lebih baik dari pada trilogi pendahulunya. Sebagai kisah asal muasal, gw lebih suka yang baru ini. Tetapi bukan berarti gw habis manis sepah dibuang sama yang lama, apalagi gw masih merasa Spider-Man 2 belum tergoyahkan di deretan atas film supehero komik terbaik, yang sukses mengawinkan drama dan aksi yang sama-sama asik dan moving, The Amazing Spider-Man belum dapat melebihi yang satu iniNamun satu hal pasti yang gw sukai lebih baik dari trilogi aslinya adalah soal casting. Parker ABG yang di sini tetap dibuat quirky tapi lebih kelihatan cerdas dan nggak rendah diri, sekaligus sangat lincah nan witty ketika jadi Spider-Man (lebih mirip dengan Parker/Spider-Man versi kartun yang dulu sering gw tonton di RCTI, yang opening versi Indonesianya lagu rap itu) dibawakan dengan sempurna oleh Andrew Garfield, baik lewat gestur, ekspresi, maupun tutur kata (buat gw Tobey Maguire lebih kelihatan cengo daripada cerdas, sorry). Demikian pula Emma Stone yang menghidupi benar tokoh Gwen yang punya segala alasan untuk disukai cowok-cowok—blonde, lean, husky voice, lab coat, and not judgmental =)). Sedangkan kita tak perlu kecewa dengan penampilan aktor yang lebih senior seperti Martin Sheen, Sally Field, Denis Leary, dan Rhys Ifans, aktor-aktor yang bisa dipercaya untuk film yang pendekatannya lebih ke drama seperti ini.

Dalam benak gw sempat terbesit bahwa sebenarnya, bisa saja kisah masa lalu Parker dan supervillain baru ini disusun jadi lanjutan Spider-Man 3, gak perlu sampe di-reboot. Tapi yah lagi-lagi terserah yang punyalah. The Amazing Spider-Man sendiri jauh dari mengecewakan, bahkan bisa dibilang memenuhi ekspektasi gw. Tak hanya punya nilai produksi tinggi dengan efek visual canggih dan sebagainya, namun juga karena menampilkan nuansa baru, ada kekinian (baca: handphone, internet) dan semangat muda, ada kisah cinta remaja yang manisnya sama besar dengan serunya adegan-adegan aksi, lebih humanis dan natural tanpa meninggalkan keseruan dan absurditas asyik khas film-film superhero. Hal ini mungkin seperti kapak bermata dua, bisa menyenangkan penonton yang memang ingin kenal lebih dekat dan lebih dalam dengan si manusia laba-laba, namun bisa juga menjengkelkan penonton yang lebih menantikan adegan aksinya. Gw sih merasa nggak ada masalah, toh bagian dramanya disusun kuat dan menarik disimak, sedangkan deretan adegan aksi di paruh akhir film pun membayar lunas penantian itu. Cukup terhibur dan terpuaskannya diriku =).




My score: 7,5/10


NB: - Pengambilan gambar Gwen Stacy (Emma Stone) yang pirang dan berkulit putih di antara payung-payung hitam di tengah hujan itu buat gw keren banget! =)
- Peter Parker yang menyampaikan rumus alogaritma kayak mengulang peran Andrew Garfield di The Social Network sebagai Eduardo Saverin, ya =D

Selasa, 03 Juli 2012

[Movie] Ambilkan Bulan (2012)


Ambilkan Bulan
(2012 - Mizan Productions/Falcon Pictures)

Directed by Ifa Isfansyah
Written by Jujur Prananto
Produced by Putut Widjanarko
Cast: Lana Nitibaskara, Astri Nurdin, Berlianda Adelianan Naafi, Bramantyo Suryo Kusumo, Agus Kuncoro, Landung Simatupang, Marwoto, Adrian Simon, Titi Dibyo, Hemas Nata Nagari, Jhosua Ivan Kurniawan, Manu, Harbani Setyowati Wibowo


Nama sutradara Ifa Isfansyah kini cukup menjanjikan mengingat kesuksesan komersial dan kritikal Garuda di Dadaku di tahun 2009, serta pencapaian artistik Sang Penari yang membuahkan beberapa piala Citra tahun lalu. Lalu muncul Ambilkan Bulan ini. Gw sih nggak mengharapkan film anak ini bakal menyamai Garuda di Dadaku setelah mendengar genre-nya adalah "fantasi musikal"—menggunakan lagu-lagu anak ciptaan A.T. Mahmud. Sebab menurut pandangan gw, selama revival sinema Indonesia sejak tahun 2000, fantasi musikal adalah genre film yang paling awkward hasilnya, terutama ya segi musical number-nya—coba ingat Joshua oh Joshua atau Biarkan Bintang Menari. Contoh paling sukses mungkin hanya Petualangan Sherina, yang juga merupakan biangnya film anak-anak berhiaskan lagu-lagu. Ambilkan Bulan rasanya mengambil banyak inspirasi dari Petualangan Sherina, premisnya pun mirip, soal anak kota nyasar di hutan, tapi kali ini dengan banyak tambahan efek visual yang membuatnya tampak lebih kinclong.

Amelia (Lana Nitibaskara) tidaklah terlalu akur dengan ibunya, Ratna (Astri Nurdin) yang sibuk dengan karirnya, apalagi selepas meninggalnya sang ayah (Agus Kuncoro). Saat liburan tiba, Amelia jadi galau karena iri dengan teman-teman SD-nya yang punya rencana liburan yang asik-asik, sedangkan dia sendiri nggak bisa berharap banyak sama ibunya, palingan di rumah aja sambil buka 9gag Facebook. Lewat permainan takdir, Amelia bertemu dengan seorang gadis sebayanya di Facebook, Ambar (Berlianda Adelianan Naafi) yang ternyata adalah sepupunya, mengejutkan karena selama ini Amelia nggak tahu bahwa almarhum ayah punya saudara bahkan orang tua yang masih hidup. Ia sangat berharap bisa ke tempat Ambar dan kakek-neneknya apalagi diceritakan ada hutan di kawasan Jawa (lokasi syutingnya sih di Karanganyar deket Solo) yang banyak kupu-kupu biru seperti di salah satu lukisan almarhum ayahnya. Setelah diyakinkan, akhirnya Ratna mengizinkan Amelia pergi bersama pakde Bambang (Manu) selama Ratna ada tugas di Bali. Di desa, Amelia tidak mengindahkan larangan untuk masuk hutan demi menemukan kupu-kupu biru, ia ditemani Ambar dan teman-temannya, Pandu (Hemas Nata Nagari), Hendra (Jhosua Ivan Kurniawan), dan si anak gembala Kuncung (Bramantyo Suryo Kusumo)...eh nyasar kan. Ketakutan pun bertambah dengan legenda mBah Gondrong yang menghuni hutan itu. Apakah Amelia dkk akan dapat kembali pulang, atau justru menemukan kawanan kupu-kupu biru seperti rencana semula?

Gw pahamlah sama konsepnya, menceritakan kisah sederhana yang layak konsumsi buat anak-anak, lalu pada beberapa bagian disesuaikan dengan lagu-lagu karya A.T. Mahmud, juga diselingi visualisasi dunia khayal Amelia. Gw cukup terkesan dengan beberapa bangunan karakter dan motivasinya, mulai dari yang sederhana seperti Amelia yang sedih karena nggak berlibur seperti teman-teman sekelasnya, lalu excited ketika akhirnya bisa bertemu keluarga besarnya di desa dan dapat berpetualang seperti dalam lukisan-lukisan sang ayah, hingga yang cukup kompleks seperti tidak saling pengertian antara ibu dan anak serta  sepak terjang pejabat-pejabat korup di desa. Penggunaan teknologi masa kini yang terintegrasi dengan cerita pun keren juga (utamanya soal "sinyal" =D). Film ini jelas punya niat baik dalam konsep cukup menarik, serta aman buat anak-anak.

Hanya saja, in the end gw nggak bisa anggep film ini sebagus kedengarannya. Petualangan Sherina itu menghibur dan punya nilai produksi yang baik, Garuda di Dadaku pun menghibur dan warm. Ambilkan Bulan sayangnya belum ada di level itu. Dibilang menghibur ya cukup menghibur, tetapi ia tidak warm, dan keseriusan produksinya pun tidak semaksimal yang diharapkan, just okay. Sinematografinya lumayan berhasil menangkap kesan sejuk dan nyamannya di desa berhutan, sayangya tidak berhasil menyamarkan daun merambat palsu di gubuk kayu *hehe*. Penggunaan efek visual dan animasinya pun terbilang baik apalagi untuk ukuran film Indonesia, sangat menghibur dan menurut gw menarik untuk dilihat oleh penonton cilik, hanya saja resolusi gambar yang mengandung efek visual nggak sama dengan gambar yang non-efek, jadi masih kelihatan garis-garis tak mulusnya (tapi dimaklumi kok). Sayangnya pula gw nggak melihat jejak keberhasilan Ifa mengarahkan anak-anak dalam Garuda di Dadaku di sini, anak-anaknya masih terlihat kaku dan kurang kompak menyatu. Mungkin penampilan Bramantyo sebagai Kuncung paling mencuri perhatian dan mengundang tawa, tapi kalo gw sih lebih ketawa karena dia kelihatan sekali belum bisa akting dan struggling banget di koreografi XD *e maap*.

Satu hal yang paling mengecewakan adalah ketika gw mendengar film ini berjenis musikal, kirain akan lebih banyak adegan nyanyi dan tari dari tokoh-tokohnya. Sayang banget lagu-lagunya di sini lebih banyak sebagai lagu pengiring/latar, bahkan "Amelia" sekalipun. And their biggest mistake, film ini tidak membiarkan anak-anak menyanyikan "Pelangi" ketika ada pelangi. Seriously? Ini film musikal, tapi pada sebuah momen besar mereka nggak nyanyi? Menurut gw, untuk sebuah film yang juga memberi penghormatan pada komposer besar almarhum A.T. Mahmud, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh tokohnya langsung akan lebih efektif dalam memperkenalkan lagu-lagu itu pada "anak-anak sekarang" ketimbang jadi lagu pengiring/latar semata. Thanks a lot, Sony Music, you've just ruined it =(. Sayangnya pula penataan musical number-nya, baik lagu, tari, pengambilan gambar maupun editingnya kurang greget gimana gitu. Bagian awalnya tuh lumayan bagus sampe lagu "Paman Datang", namun selepas itu jadi canggung semua. Di sisi lain, ritme filmnya justru agak menyeret-nyeret dengan terlalu panjangnya drama antara lagu-lagu. Terlalu sering gw berujar dalam hati, "ayo nyanyi dong," ketika gw rasa adegan dramanya udah kelamaan. Entahlah, mungkin secara keseluruhan agak kurang lincah aja.

Entahlah, gw sih nggak tega untuk bilang nggak suka, tapi ya filmnya emang not that good, apalagi kalau memperhitungkannya sebagai "musikal". Namun Ambilkan Bulan tetaplah film yang menghibur dan nggak mencelakakan, meskipun gw yang umur segini lebih sering "menertawakan" daripada "ter-tawa" *ampun mas Ifa*. Kekanak-kanakan dan nghayal, serta dialognya sering aneh juga, tapi nggak norak juga. Well, filmnya dibuat dengan niat baik, mungkin persiapan dan eksekusinya yang agak terburu-buru, sampe-sampe musiknya pun nggak pake orkestra (banyak nuntut nih gw =P). Tapi setidaknya Ifa Isfansyah sukses dalam menata gambar-gambar yang cerah  berwarna dan menarik dilihat (semisal memperbesar bulan =D), sehingga anak-anak pun sepertinya akan betah menyaksikannya. Keponakan gw yang umur 3 tahun tampaknya cukup menikmati, sampe terus keinget sama bagian, "mBah Gondwong! Aaaa!" =D.




My score: 6,5/10