Jumat, 27 April 2012

[Movie] Modus Anomali (2012)


Modus Anomali
(2012 - Lifelike Pictures)

Written and Directed by Joko Anwar
Produced by Sheila Timothy
Cast: Rio Dewanto, Hannah Al Rashid, Izzi Isman, Aridh Tritama, Surya Saputra, Marsha Timothy, Sadha Triyudha, Jose Gamo


First of all, menonton Modus Anomali menjadi pengalaman berkesan karena gw ikut acara nonton bareng yang diorganisir oleh manager blog Database Film di Bioskop Indonesia barengan komunitas Moviegoers Indonesia (thank you for the wonderful event, guys). Saking rame peminatnya, akhirnya nonton barengnya gak cuma beli tiket dan duduknya bareng-bareng, tapi jadi booking satu studio untuk satu pemutaran film di Blitz Pacific Place Jakarta, hebring ye. Excitement-nya bisa jadi karena berita bahwa kami akan dihampiri oleh kru dan pemain dari film ini (yang beberapa jam sebelumnya mengadakan lokakarya di gedung yang sama) yang berarti bisa tanya jawab langsung dengan orang-orang yang bertanggung jawab atas film ini—dan ini berjalan mengasyikan, ada Joko Anwar dan Sheila Timothy serta pemainnya banyak kali yang datang.

Namun di luar itu, excitement juga pastinya datang dari ekspektasi terhadap karya terbaru Joko Anwar ini sendiri. Di kalangan pecinta film, Joko Anwar adalah spesimen istimewa perfilman Indonesia generasi 2000-an, karena karya-karya-nya selalu fresh, beda, berkesan dan berkarakter, baik dari cerita maupun tampilan visualnya (yang bagi gw paling "kelihatan kayak film" daripada yang lain). Kita sudah yakin akan kualitas artistik dan naratif bang Joko sejak Janji Joni dan Kala (yang so far jadi film Indonesia terbaik yang pernah gw tonton seumur hidup, terlepas statusnya yang ora payu blas), kemudian Pintu Terlarang yang merupakan kolaborasi perdananya dengan produser (yang cantik) Sheila Timothy, meskipun menimbulkan banyak pertanyaan dan diwarnai penonton walk out sebelum filmnya habis =P, kembali mengukuhkan bahwa Joko Anwar tahu benar cara membuat film yang memberi sensasi berkelas kepada penontonnya.

Sekarang hadir Modus Anomali...*helanapas*..sulit juga menekankan tentang poin penting dari film ini tanpa spoiler. Menuliskan sekedar premis "seorang pria yang sedang berlibur di hutan mendapati dirinya dikejar-kejar seorang pembunuh bersenjata tajam yang juga telah membunuh istrinya" pasti bakal dianggap basix to the max. Tapi ini filmnya Joko Anwar, pasti ada se-su-wa-tu yang membuatnya tidak sesederhana kedengarannya. Seorang pria berwujud Rio Dewanto mendapati dirinya terbangun dari dalam (ya, dalam, bukan atas) tanah di tengah hutan. Ia nggak tahu ada di mana dan sedang berbuat apa, lebih parah lagi ia nggak punya ingatan tentang identitas dirinya. Setelah berkeliling ia menemukan sebuah kabin (semacam vila) yang dilengkapi handycam yang dilabeli tulisan Sony HD...wait...oh...dan "Press Play". Tak disangka si pria ini menyaksikan rekaman pembunuhan seorang wanita hamil (Hannah Al Rashid) oleh sesosok berkostum kamar bedah, dan sesudah itu ia baru sadar ada mayat wanita tersebut di dalam kabin. Belakangan si pria menemukan bahwa dirinya bernama John Evans, dan ternyata wanita hamil itu adalah istrinya, malah ia masih punya dua anak, perempuan (Izzi Isman) dan lelaki (Aridh Tritama) yang seharusnya berlibur bersama-sama mereka di hutan itu, namun kini keberadaannya entah dimana. Sembari mencari kedua anak itu, John pun harus adu sembunyi dengan si sosok berkostum kamar bedah yang mengejarnya di tengah gelapnya hutan, pun harus mengungkap misteri kenapa ia mengalami hal-hal mengerikan ini.

Yang barusan gw tulis itu hanyalah separuh dari film ini. Jadi film ini soal apa? Bunuh-bunuhan? Pengungkapan misteri? Deuh...lagi-lagi agak susah kalo nggak spoiler *tetep*. Namun yang mungkin paling aman gw tuliskan di sini adalah bagaimana harus mempersiapkan diri saat menontonnya: jangan terlalu pusing bertanya hal yang rumit-rumit. Kalo gw sih agak merujuk sama judulnya. Ikuti tokoh John yang juga nggak tahu apa-apa, anggap saja sepanjang film kita sedang menyaksikan "modus", yang dengan asal aja gw anggep bermakna mirip dengan "modus operandi", yakni cara, terkhusus lagi di sini cara satu pihak membuat pihak lain menderita, seakan seperti permainan, dan ketika terungkap keseluruhan modus itu—terima kasih kepada Joko Anwar yang lewat pacing-nya yang agak lambat seakan memberi waktu bagi penonton mencerna misteri yang dihadirkan, terungkaplah makna "anomali" a.k.a. yang aneh, lain dari biasanya. Makna ini buat gw sedikit menjelaskan apa sih maksud film ini (setidaknya secara mendasar), yaitu sebuah cara nyiksa orang yang emang belum pernah kepikiran, orisinil, cerdas serta "sakit". Pelakunya mungkin bisa kita tebak, tapi MODUS-nya itu yang luar biasa. Gw geleng-geleng ketika semuanya terungkap, belagak sok pintar pun ternyata nggak guna. Untung aja ya bang Joko jadi filmmaker bukannya preman atau pembunuh bayaran. Emang kayak gimana sih modusnya? Aaaaaaaaaada deeeeh.....

Dengan ide yang menurut gw brilian, Modus Anomali justru tampil sangat sederhana dibandingkan film-film Joko Anwar terdahulu. Tokohnya sedikit (80% durasi yang kelihatan hanya Rio Dewanto seorang), setingnya juga cuman di hutan mirip Purwakarta itu, tanpa hal-hal vintage penuh warna, durasinya yang pendek nggak nyampe 90 menit, belum lagi kalau membahas film ini berseting di sebuah negara antah-berantah yang penduduknya berwajah Melayu/campuran dan berbahasa Inggris berlogat ke-Amerika-an (untungnya nggak menganggu)—bukan Filipina juga, soalnya mobil di film ini setirnya di kanan. Mungkin Modus Anomali ini juga bisa disebut "anomali"-nya karya Joko Anwar, paling beda. Namun perbedaan itu tidak mengurangi kepuasan dalam menikmatinya. Naskah yang sudah solid, intensitas ketegangannya pun sangat terjaga sehingga bikin gw betah menanti apa yang akan terjadi. Sinematografi dan desain produksinya mantaf menyanjung mata sebagaimana bisa diharapkan dari seorang Joko Anwar, plus bidang tata suaranya dahsyat. Sekali lagi bang Joko telah menghasilkan sebuah pengalaman sinematik yang sebenar-benarnya, yang bikin kita merasa memperoleh imbalan setimpal atas usaha dan dana untuk menonton di bioskop, film Indonesia pula. 

So yes, I think Modus Anomali, dengan kualitas teknis mumpuni dan olahan naskah yang sangat baik, adalah satu lagi bukti bahwa film Joko Anwar=wajib tonton. Gw puas sama film ini, bahkan lebih puas daripada Pintu Terlarang, mungkin karena yang ini lebih simpel kali ya, dan darah-darahannya juga nggak sebanyak itu (tapi tetep ngilu, men). Kita diajak bertanya-tanya sambil terkaget-kaget dan berngeri-ngeri hingga pada satu titik dibeberkan semuanya. Bagian bertanya-tanya dan berngeri-ngerinya itu tadinya gw rasa agak menjemukan dan dragging, tetapi terbayar dengan sangat pantas di 3rd act. Performa pemain pun cukup baik, paling suka penampilan singkat Hannah Al Rashid (di rekaman video) yang bermain sangat hidup dan believable serta punya aksen paling oke =D. Boleh banget lah film ini. Nah, kalo filmnya lebih menunjukkan modus, sekarang yang sebenarnya juga menarik didiskusikan lebih lanjut adalah motifnya...tapi nggak bisa sekarang atau di sini, musti spoiler gilak dulu itu mah =P.




My score: 8/10

Jumat, 20 April 2012

[Movie] Mirror Mirror (2012)


Mirror Mirror
(2012 - Relativity Media)

Directed by Tarsem Singh Dhandwar
Story by Melisa Wallack
Screenplay by Jason Keller, Melisa Wallack
Original story "Snow White" by Jacob Grimm, Wilhelm Grimm
Produced by Bernie Goldmann, Ryan Kavanaugh, Brett Ratner
Cast: Julia Roberts, Lily Collins, Armie Hammer, Nathan Lane, Jordan Prentice, Mark Povinelli, Joe Gnoffo, Danny Woodburn, Sebastian Saraceno, Martin Klebba, Ronald Lee Clark, Mare Winningham, Michael Lerner, Sean Bean


David Fincher, Michael Bay, dan Tarsem Singh. Mereka bertiga adalah sutradara film yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara video musik (dan iklan) terkemuka di era 80-90-an. Sekarang, David Fincher jadi sutradara nomine Oscar (The Curious Case of Benjamin Button, The Social Network), Michael Bay punya film-film yang laku keras di dunia (Bad Boys, Armageddon, Transgenik...eh Transformers), sedang Tarsem Singh dihina dina atas apapun hasil usahanya di bidang film bioskop: laku juga nggak terlalu. Filmografi Tarsem memang sedikit, diawali dari horor surealis The Cell, lalu  passion project independen The Fall yang diputar terbatas. Kedua film itu meski tidak laris, tapi mengukuhkan gaya khas Tarsem dalam menampilkan visual yang unik nan memukau layaknya lukisan dan instalasi seni. Lalu kesempatan Tarsem untuk lebih mainstream datang lewat Immortals milik Relativity Media, dan gw sepertinya salah satu dari hanya sedikit orang yang suka filmnya (walau secara box office terbilang lumayan). Relativity Media rupanya kesengsem sama Tarsem (hey that's a rhyme) sehingga dipercaya untuk mengangani proyek re-telling dongeng Snow White atau Putri Salju (atau harusnya PUTIH Salju bukan sih?), diberi judul Mirror Mirror yang rilis nggak sampe 4 bulan sejak Immortals. Berbeda dengan Immortals yang action-adventure untuk dewasa, maka Mirror Mirror ini sangat ditekankan sebagai film komedi fantasi untuk semua umur. Berdasarkan sejarah, film ini juga pasti bakal tidak disukai banyak orang entah kenapa (I really don't see it, why fellas?), tapi berdasarkan sejarah juga gw sih kayaknya bakal tetap suka setidaknya dengan harapan akan gambar-gambar keren khas Tarsem.

Kisah terkenal Snow White ini dirombak cukup besar. Ratu (Julia Roberts) dan Snow White (Lily Collins) tidak "berseteru" karena masalah siapa-yang-paling-cantik lagi, namun dipicu oleh Ratu yang menyalahgunakan tahta kerajaan sampe bangkrut dan menyengsarakan rakyat, sehingga Snow protes. Perseteruan mereka meruncing karena kedatangan Pangeran Alcott (Armie Hammer) dari negeri seberang yang kaya raya. Yes, Snow dan Pangeran saling jatuh cinta, tapi si Ratu juga naksir Pangeran dan ingin segera menikahinya sekalian biar keuangan kerajaan pulih kembali. Untuk melancarkan rencana itu, Snow harus disingkirkan, maka Ratu menyuruh tangan kanannya, Brighton (Nathan Lane) untuk membunuh Snow di hutan, tapi karena ciut, Snow dibiarkan lari sampai akhirnya terdampar di sarang 7 perampok bertubuh kerdil. Jadi kita tinggal tunggu Ratu kucluk-kucluk dateng ke Snow trus kasih apel beracun sampe mati suri hingga ciuman sang pangeran membangkitkan? Not so fast, Snow justru dilatih oleh 7 perampok itu pelbagai keterampilan, termasuk ilmu pedang, agar dapat ikut merampok uang dan harta dari kereta kerajaan yang lewat lalu membagikannya ke rakyat, sebagai bentuk pemberontakan mereka terhadap kesewenang-wenangan Ratu. Dan ketika Snow dan 7 perampok mengacaukan pernikahan Ratu dengan menculik Pangeran (yang sudah dipelet Ratu), well...this is war.

Kita bisa melihat cerita Snow White dalam Mirror Mirror ini dibuat berbeda. Perkembangan karakternya diubah, alur ceritanya pun seperti ditambahkan dimensi modern supaya poin-poin cerita yang sudah lazim diketahui terlihat punya motivasi yang nggak tiba-tiba ada—jadi si Snow White sama Pangeran nggak hayuk aja baru ketemu langsung jadian. Menurut gw sih ini cara yang lumayan efektif dalam menceritakan ulang kisah yang sangat akrab di masyarakat, biar ada twist dan penyegaran dikit. Snow White tidak dibuat lemah tak berdaya, malahan ia beraksi untuk tujuan mulia (ini sih agak minjem cerita Robin Hood ya). Percikan cintanya dengan Pangeran dibangun sejak awal film, malahan dalam keadaan Snow yang berjasa kepada Pangeran. Yang paling beda tentu saja pendekatan terhadap tokoh Ratu yang dibuat jahat-judes-comel ala ibu-ibu sosialita, serta 7 kurcaci yang sebenarnya kumpulan orang-orang terbuang dari kota yang harus menanggung hidup dengan merampok pake extension tungkai biar lebih sangar =P (ini katanya pake stunt dari Cirque du Soleil).

Snow White and her Merry Men

Untunglah dua hal yang paling berbeda itu hasilnya menggembirakan, bahkan menurut gw mereka jadi highlight film ini. Julia Roberts beruntung mendapat peran penjahat (mungkin pertama kalinya, except if you count Closer) yang komikal, kuat bukan semata-mata karena sihir melainkan karena ia memang licik (rakyat segan sama dia karena ia melindungi mereka dari beast di hutan, dan juga alasan mengapa negeri mereka musim salju terus-terusan), dan sering mengujarkan kalimat-kalimat witty, kayaknya nyatu banget sama sosok Julia, pertama kali gw melihat Julia cocok cok sama perannya sejak Erin Brockovich (hehe). Gw pun senang sekali ketujuh kurcaci/perampok mini diberi porsi yang signifikan dan berkesan dengan karakter masing-masing yang jelas dan terarah (perhatikan Half-Pint (Mark Povinelli) yang berusaha ngerayu Snow ^_^). Mungkin kita gampang aja ketawa hanya karena mereka mini, namun pembawaan para aktor mini yang luar biasa (serius, they're better than Armie Hammer =P) membuat mereka jadi lovable sekaligus keren. Sedangkan pemain lainnya bermain aman, akting Lily Collins nggak jelek, nggak cuman modal tampang (though she is pretty =)), Armie Hammer juga seperti udah punya setelan "Pangeran  negeri dongeng", at least mereka nggak ganggu lah.

Overall, menurut gw merasa nggak ada yang perlu benar-benar dikomplain dari Mirror Mirror ini. Jika tujuannya adalah menghibur melalui kisah Snow White dengan gaya semi-parodi, memang berhasil, gw merasa terhibur kok. Tontonlah dengan lepas tanpa pretensi apa-apa. Nggak ada salahnya bersenang-senang dengan mengacak-acak kisah dongeng terkenal dengan memakaikan kostum serumit desain manga CLAMP biar lebih lucu asalkan nggak jadi kacau. Humornya baik verbal maupun fisik bisa bikin cekikikan, timing-nya pas nggak terlalu maksa, aman untuk anak-anak namun nggak kekanak-kanakan sehingga tetap menyenangkan untuk penonton remaja/dewasa. Ceritanya nggak sulit diikuti, lajunya enak, dan tokoh-tokohnya cukup meninggalkan kesan. Visual efeknya pun terbilang bagus. Komplain gw justru tertuju pada kurang memancarnya keindahan visual seperti film-film Tarsem sebelumnya. Memang kostum dan tata artistik spektakuler ganjil mencolok mata masih terlihat, tetapi tampilannya di layar tidak seindah biasanya. Apa mungkin karena waktu produksinya terlalu cepat? O well, penuturan dan porsi humornya yang menyegarkan bolehlah menjadi kompensasi yang fair. Gw nggak terlalu kecewa karena film ini hasilnya sesuai dengan tujuannya: menghibur, menyenangkan tanpa mencelakakan—a kind of film Disney should have made instead of more Pirates. Dan apa yang lebih menyenangkan daripada menyaksikan penghuni istana menari ala Bollywood menyanyikan "I believe I believe I believe I believe in love, love...love, love, love...!" =)




My score: 7/10

Kamis, 19 April 2012

[Movie] Sanubari Jakarta (2012)


Sanubari Jakarta
(2012 - Kresna Duta Foundation/Ardhanary Institute/Ford Foundation)

Directed by Tika Pramesti ("1/2"), Dinda Kanyadewi ("Malam Ini Aku Cantik"), Lola Amaria ("Lumba-Lumba"), Alfrits John Robert ("Terhubung"), Aline Jusria ("Kentang"), Adriyanto Dewo ("Menunggu Warna"), Billy Christian ("Pembalut"), Kirana Larasati ("Topeng Srikandi"), Fira Sofiana ("Untuk A"), Sim F. ("Kotak Cokelat")
Written by Laila "Lele" Nurazizah
Produced by Lola Amaria, Fira Sofiana
Cast: Hernaz Patria, Irfan Guchi, Pevita Pearce, Dimas Hary CSP, Dinda Kanyadewi, Ruth Pakpahan, Agastya Kandou, Permatasari Harahap, Illfie, Gia Partawinata, Haffez Ali,  Rangga Djoned, Albert Halim, Gesata Stella, Herfiza Novianti, Deddy Corbuzier, Arswendi Nasution, Miea Kusuma, Reuben Elishama Hadju


Lagi ngehit nih di Indonesia yang namanya film omnibus, sebuah film yang terdiri atas segmen-segmen berupa film-film pendek bertema sama, atau kalo istilah kaset tuh "kompilasi". Sebelumnya tahun ini sudah ada Dilema yang bertema kriminalitas, lalu baru saja ada Hi5teria yang bergenre horor. Sekarang hadir lagi Sanubari Jakarta yang berisi 10 film dari 10 kru berbeda yang mengusung tema kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender). Kasusnya mirip film Mata Tertutup kemarin, konon film ini tidak direncanakan tayang secara komersial, toh seperti terlihat di kredit produksinya film ini merupakan "proyek yayasan" yang tadinya cuman untuk ditayangkan dalam forum, komunitas dan festival-festival, eh ternyata bisa juga untuk tayang secara komersial yang artinya bisa ditonton secara lebih luas. Meskipun masih isu ini tabu dalam masyarakat dan hukum kita, LGBT bukanlah tema yang baru, malah kayaknya hampir semua film Indonesia era 2000-an pasti ada unsur ini. Sanubari Jakarta secara khusus menyampaikan rupa-rupa cerita yang berkaitan dengan kaum LGBT dengan pendekatan dan presentasi yang berbeda pula satu dengan yang lainnya, tapi rata-rata drama sih.

Dibuka dengan "1/2", bergaya simbolik tentang kebersamaan dua orang pemuda (Hernaz Patria, Irfan Guchi), namun secara simultan ada sosok perempuan (Pevita Pearce) menggantikan salah satu dari mereka melewati kejadian yang serupa. Gw langsung menyatakan karya Tika Pramesti inilah segmen favorit gw, karena menggunakan simbol-simbol visual yang agak ganjil tapi cantik dan punya makna di akhir cerita begitu semua terungkap, halus sekaligus jelas apa maksudnya, sangat cocok sebagai materi film pendek. Agak mirip video klip, tetapi setidaknya membuatnya jadi sebuah segmen pembuka yang nendang dan impresif. Dan benar saja, segmen-segmen selanjutnya tidak ada yang sampai mengesankan gw seperti "1/2". Mungkin yang cukup mengesankan adalah segmen kelima, "Kentang" karya Aline Jusria, tentang sepasang cowok muda (Gia Partawinata, Haffez Ali) yang niatnya bercinta di sebuah kamar kost tapi selalu terganggu oleh situasi serta pertengkaran mereka sendiri. Segmen ini mungkin paling diingat karena paling lucu entah dari cerita, dialog, pemain, maupun simbol yang digunakan—yang satu pake atribut "khas" tapi yang satunya lagi memakai atribut yang lazim dianggap "laki banget". 

Beberapa segmen lainnya menurut gw lumayan, nggak jelek tetapi masih kalah mengesankan dari yang dua tadi. Ada yang ceritanya biasa tapi penggarapannya menarik, atau sebaliknya. Segmen ketiga, "Lumba-Lumba" karya Lola Amaria mengisahkan seorang guru TK (Dinda Kanyadewi) yang saling tertarik dengan seorang ibu dari muridnya (Ruth Pakpahan), diberi satu poin unik bahwa mereka bisa "klik" gara-gara sebuah fakta soal seksualitas lumba-lumba, hewan yang digambar oleh anak-anak di TK. Label unik juga perlu disematkan pada segmen ketujuh, "Pembalut" karya Billy Christian, tentang sepasang wanita yang memadu kasih terakhir kali karena salah satunya akan menikah, namun semua karakter ini dimainkan oleh satu orang aktris saja (Gesata Stella). Pendekatan berbeda juga digunakan Adriyanto Dewo dalam "Menunggu Warna", berkisah tentang perjalanan cinta pasangan pria sesama pekerja pabrik (Rangga Djoned dan Albert Halim)...or is it? *hehe*. Segmen ini dipresentasikan dengan gambar hitam-putih dan menggunakan gaya kayak film 3-Iron, yaitu dua tokoh utamanya tidak terlihat berbicara. Segmen kesembilan, "Untuk A" karya Fira Sofiana simply bercerita tentang seorang pria paruh baya (Arswendi Nasution) yang tiba-tiba membuka kembali mesin tik lama lalu mengetik kenangannya tentang cinta pertamanya sekaligus mengungkapkan masa lalunya. Segmen terakhir, "Kotak Cokelat" karya Sim F. sebenarnya terlihat seperti drama romantis biasa namun kisahnya cukup menarik, tentang hubungan cinta seorang pria (Reuben Elishama) dan wanita perancang busana (Miea Kusuma) yang ternyata sewaktu kecil pernah bertemu dalam situasi yang jauh berbeda. 

Sedangkan tiga segmen lainnya menurut gw pribadi sih masih dalam vonis "coba lagi deh".  "Malam Ini Aku Cantik" karya Dinda Kanyadewi, tentang kegiatan seorang waria tuna susila (Dimas Hary CSP) dan rahasia dibalik identitasnya, di luar kisahnya yang provokatif tapi familiar, nggak istimewa segitunya. Segmen "Terhubung" karya Alfrits John Robert tidaklah kuat di cerita, hanya tentang dua perempuan dalam ruang berbeda dan pergumulan masing-masing (Permatasari Harahap, Illfie) yang di ujung cerita bertemu di tempat beli BH, tauk dah jadian atau enggak (eh spoiler =P). Dan mungkin yang paling menimbulkan kernyit dahi adalah segmen "Topeng Srikandi" karya Kirana Larasati, berkisah tentang seorang wanita yang jadi pria di kantornya. Meski cukup meyakinkan dengan adanya footage narasi wayang kulit, tetapi eksekusinya tidak meyakinkan, malah jadi menkhotbahi. Efek dramatisnya juga menguap, mungkin karena udah di-spoil sejak awal bahwa tokoh yang dimainkan Herfiza Novianti itu wanita...dan yang paling mengesalkan adalah Deddy Corbuzier nggak mau lepas dari make-up biasanya =b.

Menarik bahwa secara keseluruhan film kembali mengingatkan bahwa kaum termarjinalkan seperti kaum LGBT sesungguhnya punya permasalahan mendasar yang nggak beda jauh sama orang-orang kebanyakan, dan bahwa LGBT itu tidak pernah terbatas pada lingkup ekonomi, profesi, usia, suku/ras, sosial atau agama...ataupun selera musik =P. Diproduseri oleh Fira Sofiana dan Lola Amaria (yang sukses unjuk kebolehan lewat Minggu Pagi di Victoria Park), dengan masing-masing segmen berdurasi kurang dari 10 menit, secara pengurutan sih gw merasa fine-fine aja dengan film ini, nggak terlalu ngebosenin, mungkin karena udah ada setelan kesadaran bahwa kalau ngebosenin pun bentar lagi abis segmennya =D.  Kecuali Lola Amaria, rata-rata sutradara tiap segmen belum dikenal publik awam, namun bukan berarti tidak dikenal sama sekali. Ada Aline Jusria, yang sebelum ini dikenal sebagai editor pemenang piala Citra dua tahun berturut-turut (Minggu Pagi di Victoria Park, Catatan Harian Si Boy), lalu ada aktris Kirana Larasati serta bintang sinetron whom people love to hate Dinda Kanyadewi. Jadi gw akan memberikan selamat dan salut kepada para penggarap 10 segmen film dalam Sanubari Jakarta ini karena sudah cukup baik menjalankan tugasnya, menyampaikan pesan sekalian menjadi ajang unjuk potensi dan kemampuan mereka di bidang sinema. Not bad at allBig applause untuk kru "1/2" khususnya penata artistik dan sinematografi-nya, keren =).



My score: 7/10


Untuk daftar judul, pemain dan kru yang lengkap silahkan mampir ke artikel di Tempo.co

Senin, 16 April 2012

My Top 50 International Songs of the 1990's (Part 2 of 2)

Halo, jek, ketemu lagi di daftar 50 lagu internasional keluaran dekade 1990-an favorit gw, dan kita sampai pada 25 teratas. Which means isinya adalah 25 lagu 1990-an yang lebih memorable lagi terutama buat gw dan mungkin bagi sebagian Anda, yah jelas 90-an 'kan yang mainstream pun emang mutu, gak kayak zaman sekarang (<-- kata-kata orang udah mulai tua). Jangan ragu untuk play videonya dan menggila menyanyikan lagunya =D.



Silahkan klik di sini untuk posisi 50-26. Oh ya, perhatikan bahwa ada beberapa lagu di daftar ini pernah diparodikan P Project =D.


Sabtu, 14 April 2012

My Top 50 International Songs of the 1990's (Part 1 of 2)

Gw udah sampai pada fase ini, sebuah fase ketika gw udah nggak terlalu update lagi musik-musik terkini, merasa banyak musik-musik sekarang itu semakin aneh dan nggak menarik minat, malah semakin kuat keinginan nostalgia terhadap lagu-lagu zaman yang lebih dahulu, zaman gw bertumbuh, atau istilahnya music I grew up with. Zaman itu tak lain adalah dekade 1990-an, sebab buat gw dan yang seangkatan gw, dekade 1990-an adalah periode yang pas banget untuk menyerap segala sesuatu di sekeliling. 1990 gw baru masuk TK, dan 1999 adalah tepat usia gw menginjak remaja. So, itulah masa-masa gw berusaha ingin jadi cepet gede dengan dengerin musik-musik orang gede teranyar. Ya, gw termasuk anak yang nggak suka lagu anak-anak karena....kekanak-kanakan =P. Ketimbang nonton Panggung Gembira TVRI, gw lebih senang tongkrongin sekilas musik (pengisi jeda antar program) di RCTI dan SCTV, MTV Asia di ANteve, dengerin radio SK dan Sonora, juga liat-liat kaset punya kakak, kakak sepupu dan tetangga, yang jelas isinya bukan Enno Lerian atau Joshua.

Maka dibikinlah senarai lagu 1990-an ini sebagai wujud nostalgia itu. Setelah gw coba ingat-ingat, ataupun udah lupa tapi karena sering diputar/di-cover lagi baru-baru ini (ehem JakFM) akhirnya ingat, gw berhasil mendapatkan lagu-lagu keluaran 1990-an yang jadi favorit gw, lalu gw bagi jadi lagu internasional dan lagu Indonesia. Untuk saat ini gw mulai dari yang internasional dulu. Tahun 1990-an itu memang harus diakui lebih booming musik impor di ranah mainstream. Impornya juga gak pandang negara, datang dari mana saja tak hanya Amerika dan UK, musik dari negara-negara seperti Australia, Filipina, daratan Eropa dan Jepang juga muncul di radio-radio dan televisi—fyi, dulu belum ada mp3 bajakan atau YouTube, televisi juga cuman ada 6 kanal. Dari sekian yang gw inget, akhirnya gw menetapkan 50 lagu saja yang paling gw suka dan paling memorable. Ini juga udah lewat saringan 1 artis 1 lagu dan bukan cover-version (jadi  "I Will Always Love You"-nya Whitney Houston atau "Torn"-nya Natalie Imbruglia atau "Love is All Around"-nya Wet Wet Wet atau "Bizarre Love Triangle"-nya Frente musti out, sorry).


Senarai yang Anda akan lihat di bawah ini cukup genuine. Gw nggak berusaha mencitrakan diri sebagai hipster dengan memaksa memasukkan lagu-lagu yang "berkelas" padahal gw nggak suka (perhatikan di daftar ini nggak ada Nirvana atau Red Hot Chilli Peppers), karena yang udah telanjur terserap di ingatan gw adalah jenis "selera rakyat" yang sangat mainstream. I was a kid, for crying out loud! Jadi kalau dilihat-lihat lagu yang ada di daftar adalah yang memang pernah nge-hit, walaupun udah di-jaim-jaim-in juga sih (no Aqua...or Steps =_=;). But anyway, mari kita bersama-sama bernostalgia pada kejayaan musik melodik nan abadi dari dekade 1990-an, dari 25 terbawah dulu ya....


Rabu, 11 April 2012

[Movie] The Lady (2011)


The Lady
(2012 - Europa Corp.)

Directed by Luc Besson
Written by Rebecca Frayn
Produced by Virginie Besson-Silla, Andy Harries
Cast: Michelle Yeoh, David Thewlis, Jonathan Raggett, Jonathan Woodhouse, U Htunt Lin, Benedict Wong, Mon Mon


Dalam dua dekade terakhir ini, tokoh perjuangan demokrasi Burma dan pemimpin partai National League for Democracy (NLD), Aung San Suu Kyi menjadi tahanan rumah (on and off gitu, dibebasin eh ditahan lagi berulang kali) oleh otoritas junta militer Myanmar. Kegiatan dan keberadaan dirinya serta orang-orang pendukungnya, diawasi ketat oleh pihak pemerintah. Myanmar/Burma sendiri adalah negara yang bisa dibilang paling terisolasi di antara negara-negara ASEAN, segala sesuatu termasuk informasi dikendalikan oleh pihak berkuasa. Dapat ditebak pemerintahannya selama ini tidak punya perwakilan oposisi, mirip "demokrasi orde baru" di kita dulu lah, dan banyak juga berita soal pelanggaran HAM dan represi terhadap kebebasan berpendapat. Gw pun yakin film The Lady nggak akan bisa syuting di Myanmar/Burma langsung, apalagi film ini tentang Aung San Suu Kyi dan partai NLD yang jelas-jelas berseberangan dengan otoritas yang ada. Oh, and if you're wondering about the country's name, 'Myanmar' adalah nama resminya sejak 1989, namun 'Burma' juga masih digunakan. Bahkan sebagian warganya sendiri (yang pro-demokrasi) ogah pake nama 'Myanmar' karena dianggap itu nama pemberian sepihak pemerintah junta militer yang menurut mereka tidak sah. Di The Lady sendiri kita nggak akan menemukan satu pun penyebutan 'Myanmar', selain karena dalam bahasa Inggris 'Burma' telanjur lebih dikenal, mungkin juga karena secara ideologi lebih sesuai dengan yang diperjuangkan Aung San Suu Kyi dan pendukungnya.

The Lady dengan secukupnya memberikan gambaran keadaan Burma yang menjadi latar perjuangan Aung San Suu Kyi. Sebelum memperoleh kemerdekaan penuh dari kolonial Inggris, Jenderal Aung San yang tergabung dalam panitia persiapan kemerdekaan Burma ditembaki secara kejam pada tahun 1947 oleh oknum-oknum berpakaian militer yang diduga adalah suruhan lawan politik Aung San cs. Beralih pada tahun 1988, putri sang Jenderal, Aung San Suu Kyi (Michelle Yeoh) yang telah lama tinggal di luar negeri bahkan menikah dengan seorang pria Inggris, Michael Aris (David Thewlis), kembali pulang ke Yangon (bacanya kalo nggak salah 'yan-gon', versi Inggrisnya jadi Rangoon), ibukota Burma demi menjenguk ibunya yang terkena stroke. Padahal kota Yangon sedang bergelora karena gerakan protes mahasiswa yang tak jarang menimbulkan korban jiwa karena tindakan main tembak oleh tentara pemerintahan. Suu Kyi tergerak dengan peristiwa ini, selain melihat sendiri keadaan negerinya yang masih jauh dari sejahtera. Namun tak disangka beberapa pemrakarsa gerakan perubahan (mahasiswa dan tokoh-tokoh universitas) datang kepadanya untuk meminta dukungan dalam mewujudkan demokrasi di Burma, ini sekaligus penghormatan mereka terhadap ayah Suu Kyi yang dianggap pahlawan besar bangsa ini.

Akan tetapi fokus utama The Lady tidak hanya pada perjuangan politik Suu Kyi. Film ini justru berpakem pada hubungan Suu Kyi dan Michael Aris selama perjuangan Suu Kyi dari tahun 1988 ketika ia memulai aktivitas politiknya, hingga 1999 Aris meninggal karena kanker prostat. Menarik disimak bahwa bagaimana perjuangan Suu Kyi bisa menarik perhatian dunia adalah karena Aris. Mulai dari raihan hadiah Nobel 1991 hingga membawa isu ini ke Amerika serta PBB dilakukan Aris, bahkan Aris bersikeras agar Suu Kyi tidak menemani dirinya saat sakit di Inggris karena kalau Suu Kyi keluar dari Myanmar belum tentu ia diizinkan kembali lagi. That is true love. Di tengah-tengah situasi yang mencekam, kasih sayang Suu Kyi dan Aris serta kedua putra mereka, Alexander (Jonathan Woodhouse) dan Kim (Jonathan Raggett) tetap terjalin erat, meskipun kali pertemuan mereka dalam satu dekade itu bisa dihitung dengan jari melewati dinamika politik dan sosial di Myanmar/Burma. Mereka percaya dan mengerti betul perjuangan Suu Kyi, bahkan mendukungnya dengan sepenuh hati. Mungkin inilah yang membuat Suu Kyi kuat dalam bertahan. Perjuangan agar setidaknya rakyat Burma dapat bebas memilih sendiri pemerintahannya tidak pernah surut, meskipun dihalang-halangi, ditahan menggunakan hukum yang dibuat-buat, dimanipulasi oleh pihak berkuasa—partainya jelas-jelas menang telak di pemilu 1990 tapi didiskualifikasi karena status dirinya tahanan, Suu Kyi justru makin tegar dalam perjuangannya yang berprinsip perlawanan tanpa kekerasan. 

Dengan tema yang terdengar serius dan cukup beresiko (I'm pretty sure film ini bakal di-banned di Myanmar), The Lady rupanya hadir menjadi film biopik yang berhasil dalam berbagai segi, yang terutama adalah film ini tidak membosankan. Mungkin inilah yang menjadi advantage dari sutradara Prancis, Luc Besson yang selama ini lebih dikenal dengan film-film aksinya (Leon/The Proffesional, The Fifth Element), ia menata berbagai mood dengan lincah, mulus dan nggak buang-buang waktu, dari yang tegang, mengharukan sampai yang lucu. Penggambarannya tentang junta militer juga cukup efektif, mulai dari Jenderal Ne Win (U Htut Lin) yang supersticious dalam mengambil keputusan, sampai strategi cerdas membuat Suu Kyi "ditahan tapi nggak kenapa-kenapa", semacam sandera, mengingat besarnya dukungan rakyat kepadanya (kebalikan dengan para pengikut/simpatisan NLD yang dipenjarakan dengan tidak manusiawi). Segi produksinya pun cukup meyakinkan dalam menggambarkan Burma pada masanya, budaya dan rakyatnya, seperti penampilan beberapa etnis minoritas, juga suasana kota Yangon dan Pagoda Besarnya di tengah-tengah (pastinya ini efek visual, 'kan syutingnya di Thailand). Namun yang jadi sorotan utama sudah pasti performa Michelle Yeoh yang mendapat role of her lifetime. Dengan kemiripan di beberapa angle wajah dengan Suu Kyi asli, Yeoh juga mampu memberi penampilan nyaris tanpa cela bahkan mencerminkan karisma seorang pemimpin sebagaimana Suu Kyi. Mungkin tidak bisa dibandingkan dengan Meryl Streep di The Iron Lady...well, at least The Lady is a much better and less boring film =P. 

Selain informatif, menghibur, dieksekusi rapi, juga menginspirasi, gw melihat sense of admiration yang besar dari pembuat film ini terhadap Aung San Suu Kyi, dan cukup berhasil mengajak gw untuk merasakan hal yang sama, terlepas dari tidak semua peristiwa yang dialami Suu Kyi pada periode itu ditunjukkan seluruhnya. Dalam The Lady gw melihat impresi Suu Kyi yang lemah lembut dan berpendirian teguh. Sangat menginspirasi, meskipun jadinya kurang digali sisi kerapuhannya, semisal sifat tempramental yang disebut sendiri di dialognya tapi nggak ditunjukkan, but I can tell she is stubbron =D. Gw pun salut pada batasan fokus pada dekade pertama aktivitas politik Suu Kyi dan lebih khusus lagi sampai pada akhir hidup Michael Aris sang suami, karena sudah cukup mempresentasikan bagaimana sosok Suu Kyi, Aris, dan Myanmar/Burma pada masanya dengan baik (berita terbaru, tahun ini, akhirnya Suu Kyi dapat kursi di parlemen, that's step 1), serta kaitan dan pengaruhnya satu sama lain dengan logis. Lebih salut lagi adalah semua itu terangkum dalam satu tema: cinta. Ketika cinta keluarga di tanah seberang sama besar dengan cinta terhadap tanah air. Gw yang dulu sebenarnya gak begitu tahu tentang Aung San Suu Kyi *malu*, akhirnya cukup mengerti mengapa sang Anggrek Baja ini dikagumi banyak orang.




My score 7,5/10

Senin, 09 April 2012

[Movie] Titanic (1997)


Titanic
(1997, 2012 re-release in 3D - 20th Century Fox/Paramount)

Written and Directed by James Cameron
Produced by Jon Landau, James Cameron
Cast: Leonardo DiCaprio, Kate Winslet, Kathy Bates, Gloria Stuart, Billy Zane, Frances Fisher, Bill Paxton, David Warner, Jonathan Hyde, Victor Garber, Bernard Hill, Danny Nucci


Film Titanic membawa gw pada memori 14 tahun yang lalu, masih kelas 6 SD, saat itu sedang tinggal di Manila, Filipina. Gw tau ini film terkenal, box office, dan (saat itu awal 1998) memenangkan banyak penghargaan, udah lebih dari 2 bulan ini film masih tayang aja di bioskop. Saat itu gw nggak nonton di bioskop karena penegakan rating di bioskop-bioskop Manila cukup tegas jadi gw yang belum berusia 13 tahun dipastikan gak boleh masuk. Tetapi saat itu lagi booming-nya VCD bajakan (pinjem dari teman, bawaan dari Indonesia =D), jadi lewat media itulah gw nonton film ini pertama kali, sekaligus menandakan first encounter gw dengan yang namanya VCD bajakan, hehe—and yes, adegan lukisnya bukan versi sensoran =P. Rupanya beberapa bulan kemudian, Titanic semakin laris di hampir seluruh belahan dunia dan akhirnya mencapai status sebagai film dengan penghasilan kotor nominal TERtinggi di dunia (hampir 2 milyar dolar worlwide, di Amerika aja 600 jutaan dolar) selama sekitar 12 tahun.

Tidak sulit mengatakan bahwa Titanic adalah salah satu film paling terkenal di muka bumi, kesan awalnya saja sudah begitu epik dan bombastis. Dana produksinya saat itu mencapai rekor termahal (200 juta dolar) untuk sebuah judul film. Lagu temanya "My Heart Will Go On" yang dinyanyikan Celine Dion diputar secara (terlalu) heavy rotation dimana-mana dan diingat oleh hampir semua orang sampe-sampe muncul versi Kenny G hingga house music. Di-boost lagi dengan raihan 11 Piala Oscar—termasuk Best Picture dan Best Director, serta menyapu bersih semua kategori teknis kecuali Make-Up—yang juga menular di ajang MTV Movie Awards (plus 4 Grammy buat lagunya itu), memperkuat kedigdayaan Titanic sebagai film komersial tersukses yang pernah ada dalam skala global. Dan kita belum bahas home video dan penayangan di televisi.

Apa sebab kesuksesan masiv dari film yang punya varian penyebutan mulai dari yang benar tai-tæ-nik, sampai ti-ta-nik atau tai-teu-nik ini? Apa sebab masa peredarannya di bioskop bisa sangat lama (di Amerika sampe 10 bulan)? Bagaimana bisa film film ini mengumpulkan pendapatan luar biasa padahal bukan sekuel atau adaptasi, tanpa 3D, dan bahkan bukan film semua umur? Apa yang bisa membuat orang banyak betah nonton film sepanjang 3 jam seperempat di bioskop, bahkan ada yang lebih dari satu kali? Terus terang seusai menyaksikannya gw nggak bisa bilang ini film terbagus yang pernah gw tonton. Tetapi setiap kali gw meninjau kembali film ini lewat DVD (yang resmi duong *sok*), gw akui, komplain gw terhadap Titanic sangatlah sedikit. It's a great production and an enjoyable film. Palingan cuma bagian tragedi cinta membara muda-mudi beda kasta yang sangat telenovela yang bagi gw bukan bagian terbaik dari film ini—yang juga tampaknya jadi alasan sebagian pecinta film agak risih untuk sama sekali suka film ini, we call it 'denial' =D. Nggak ada yang salah sih dengan kisah dan intrik ala telenovela/opera sabun asalkan dieksekusi dengan baik dan nggak serba menyusahkan atau menggampangkan. Tambahkan potrayal tentang sosial-budaya serta thrill malapetaka dibalut efek visual efektif, izinkan gw menyatakan bahwasanya sesungguhnya Titanic adalah opera sabun yang bagus banget =D.

Gw baru-baru ini menyaksikan rilis ulang film Titanic, kali ini dengan tambahan konversi 3-dimensi, dalam rangka memperingati 100 tahun sejak tenggelamnya RMS Titanic (tepatnya 14 April 1912), kapal pesiar termegah dan terbesar yang pernah dibuat saat itu namun langsung tenggelam di pelayaran perdananya. Terlepas dari efek 3D-nya yang nggak tridi-tridi amat (one does not simply convert films into a fine 3D =P), inilah kesempatan gw untuk akhirnya nonton Titanic di bioskop. Nggak sepecicilan George Lucas, James Cameron konon tidak mengubah apa-apa dari film aslinya untuk versi ini. Baguslah, toh filmnya juga sudah fine sebagaimana adanya. Titanic adalah sebuah teladan bagaimana filmmaker mengerahkan segala ilmu yang mereka punya dalam berbagai aspek lalu menatanya menjadi sebuah tontonan yang apik dan berkesan. Ketelitian sejarah tentang Titanic dan segenap isinya yang ditunjukkan melalui kemegahan tata artistik+kostum dan efek visualnya—ketika animasi CGI belum "menggila" di Hollywood—adalah buktinya. Bagaimana proses tenggelamnya kapal yang bersesumbar unsinkable ini dipaparkan dengan jelas sebagaimana baiknya film berlatar sejarah, dan dengan dramatis sebagaimana harusnya sebuah film tentang bencana. Meski dengan efek visual yang sedikit outdated, namun ditonton sekarang pun belum terlihat konyol, masih oke banget. Yang jelas terlihat adalah dana muahal yang dianggarkan tidak habis dengan sia-sia.

Satu hal yang gw baru ngeh seusai nonton barusan ini, adalah cara Cameron mempersembahkan film ini menjadi tontonan semua orang. Informasi soal peristiwa tenggelamnya Titanic—yang btw katanya cukup mendekati data dan fakta penelitian—disampaikan dengan sedemikian rupa sehingga bisa dengan mudah diterima penonton yang nggak semuanya tau dan peduli soal sejarah, dengan cara menuturkan sebuah kisah fiksi penumpangnya, dalam hal ini lewat narasi oma Rose (Gloria Stuart) yang ceritanya salah satu penumpang yang selamat dari tragedi itu. Cara ini sangat efektif karena membuat penonton tetap memberi perhatian terhadap kisah dan sejarahnya dengan rasa, bukan sekedar tau saja. Lebih salut lagi adalah bisa-bisanya Cameron membuat ratusan adegan yang ada di dalam film ini menjadi momen-momen yang mudah diingat—ow adegan Rose (Kate Winslet) dan Jack (Leonardo DiCaprio) di ujung haluan kapal dengan "I'm flying"-nya hanya salah satu saja—dan masih mengasyikan ketika disaksikan lagi. Film ini sukses meleburkan peristiwa sejarah dengan romansa 2 anak manusia (dan pihak-pihak yang merintangi cinta mereka *tsaaah) lengkap dengan sisipan eksaminasi sosial dan keangkuhan manusia. Bukan cuma mengandalkan teknologi sinema tercanggih lalu kasih lihat "nih kapalnya tenggelem", tetapi menggunakan pendekatan manusiawi dalam bercerita, membuat seakan penontonnya merasakan apa yang para korban Titanic rasakan langsung secara emosional. 

Mungkin itulah kunci sukses luar biasa Titanic, film yang dikemas apik untuk mata dan pikiran serta menyentuh hati, yang ditata dengan sangat efektif sehingga meninggalkan kesan dan dampak yang tidak mudah berlalu. Gw baru nonton sekitar kurang lebih 4 kali dan meski nggak menganggapnya sebagai favorit, gw belum bisa menemukan alasan untuk membenci film ini. Well okay, lantunan nada "My Heart Will Go On" mungkin sudah lumayan bikin muak dan menggila sekalipun lagunya memang indah (yes, I do think so). Tetapi, menyaksikan film selama 3 jam lebih plus memakai kacamata 3D demi efek 3D yang gak terlalu ngaruh seharusnya bukan masalah kalau filmnya sudah berhasil "menenggelamkan" kita dengan sendirinya—ini sebabnya gw membahas 'Titanic' bukannya 'Titanic in 3D' =). Titanic tetaplah Titanic, sebuah karya sinema yang selalu punya tempat di ingatan dan hati banyak orang termasuk gw, dan memang pantas demikian.



My score: 8/10

Senin, 02 April 2012

[Album] ASIAN KUNG-FU GENERATION - BEST HIT AKG


ASIAN KUNG-FU GENERATION - BEST HIT AKG
(2012 - Ki/oon Records / Sony Music Japan)

Tracklist:
1. 遥か彼方 (Haruka Kanata)
2. 未来の破片 (Mirai no Kakera)
3. アンダースタンド (Understand)
4. 君という花 (Kimi to iu Hana)
5. リライト (Rewrite)
6. 君の街まで (Kimi no Machi made)
7. ループ&ループ (Loop&Loop)
8. ブラックアウト (Blackout)
9. ブルートレイン (Blue Train)
10. 或る街の群青 (Aru Machi no Gunjou)
11. アフターダーク (After Dark)
12. 転がる岩、君に朝が降る (Korogaru Iwa, Kimi ni Asa ga Furu)
13. ムスタング (Mustang)
14. 藤沢ルーザー (Fujisawa Loser)
15. 新世紀のラブソング (Shinseiki no Love Song)
16. ソラニン (Solanin)
17. マーチングバンド (Marching Band)


Saya, sebagai seorang penggemar ASIAN KUNG-FU GENERATION, turut berbangga bahwa mereka menandai 15 tahun terbentuknya band ini dengan menelurkan sebuah album "best-of" yang bertajuk BEST HIT AKG, Januari lalu. Gw pernah singgung sebelumnya bahwa artis Jepang cukup saklek dalam mendefinisikan album kompilasi mereka. Kalau ada kata-kata "complete" atau "single" berarti isinya adalah semua lagu dari artis yang bersangkutan yang telah dirilis dalam bentuk single. Penekanan pada kata "semua", dan biasanya emang lagu-lagu yang non-single/cuman ada di album nggak termasuk. Nah kalau kata "best" saja, biasanya lagu-lagunya hasil seleksi, entah itu dari tema (yang paling sering tema cinta, kolaborasi, atau cover version) ataupun pilihan pribadi dari si artis sendiri...yang berarti tidak selalu selaras dengan selera/pilihan penggemar. BEST HIT AKG ini jenis yang kedua, dan konon disusun berdasarkan pilihan Kensuke Kita (gitar), Takahiro Yamada (bass) dan Kiyoshi Ichiji (drum)...yup, si vokalis/gitaris Masafumi Gotoh tidak turut andil, mungkin karena pilihan doi kurang komersil, hehe (malah di blognya dia pernah bikin tracklist "Unofficial Best "IMO"" versi dia sendiri yang emang dikit aja yang benar-benar komersil =D).

Biasanya juga, gw akan komplain pada album "best-of" yang kurang banyak atau lengkap isinya (terutama artis-artis Indonesia). Tapi untuk kali ini ada pengecualian, selain karena biased judgment =P, juga karena lagu-lagu di BEST HIT AKG tidaklah sedikit. Ada 17 track—termasuk 1 lagu baru—yang mewakili karir band alternative pop-rock ini khususnya setelah masuk major-label yang memang cukup layak dibilang "best", yaitu yang punya tingkat kepopuleran cukup signifikan, termasuk yang non-single seperti "Understand" yang bahkan nggak dijadikan lagu promo (nggak ada video klip). Juga harus diakui beberapa single AKG selama ini ada yang kurang appealing dan akhirnya nggak dimasukkan dalam album ini, di antaranya "World Apart" dan salah satu yang terbaru "Maigo Ino to Ame no Beat", bahkan "Siren" pun terpaksa ditinggal. Sisanya adalah yang ada di album ini, yang menurut gw sih memang lebih populer, lebih menjual, juga lebih mewakili perjalanan dan pertumbuhan musik AKG hingga sekarang.

Penyusunan track di album ini sesuai dengan urutan waktu rilisnya DAN urutannya dalam album yang memuatnya (contoh yang paling jelas adalah "Rewrite", "Kimi no Machi Made", "Loop&Loop" yang secara tanggal rilis single harusnya "Loop&Loop" duluan, tapi di album Sol-Fa track ini memang paling bontot)...kecuali untuk "Aru Machi no Gunjou" yang ditaruh sebelum lagu-lagu dari album World World World ("After Dark", "Korogaru Iwa, Kimi ni Asa ga Furu") mungkin karena single-nya emang rilis jauuuh sebelum albumnya *sotoy*. Cara penyusunan ini juga jadi semacam gambaran singkat bagaimana evolusi musik AKG selama hampir sepuluh tahun di major-label, yang juga berarti cukup beneficial buat yang baru dengar atau pendengar non-penggemar AKG.

Lewat 17 lagu yang ada di album ini, kita bisa dengar AKG ketika masih raw dalam track pertama "Haruka Kanata"—yang ngehit karena jadi opening theme kedua untuk anime Naruto, demikian juga "Mirai no Kakera" dan "Understand" yang bisa bikin jingkrak-jingkrak. Lalu kita bertemu pada fase "paling pop" lewat track "Kimi to Iu Hana", "Rewrite"—yang juga ngehit karena jadi opening theme kedua untuk anime Fullmetal Alchemist, "Kimi no Machi Made" dan "Loop&Loop", yang dengan irama menghentak dan melodi catchy mewakili saat-saat puncak kepopuleran band ini. Beranjak ke masa-masa mereka mulai bereksperimen di lagu "Blackout" dan "Blue Train", distorsi yang lebih jinak di "Aru Machi no Gunjou"—theme song film anime Tekkon Kinkreet—dan "After Dark"—opening theme ke-7 anime Bleach, mulai kalem di "Korogaru Iwa, Kimi ni Asa ga Furu", balik lagi dengan sound yang lebih kompleks di "Mustang", dilanjutkan dalam masa retrospektif mereka pada gaya mereka di album-album awal yang penuh distorsi lepas namun kini lebih rapi dalam "Fujisawa Loser". Kemudian album diteruskan dalam lagu AKG paling eksperimental so far "Shinseiki no Love Song", yang meskipun gayanya jauh banget dari AKG yang biasa dikenal, namun ternyata cukup digemari. Akhirnya, diselingi track "Solanin" yang jadi theme song film berjudul sama (liriknya bukan buatan AKG tapi dari pengarang manga yang jadi dasar filmnya), album ini ditutup dengan single baru "Marching Band" yang, menurut gw sih, masih menyisakan kecenderungan terkini AKG untuk mencoba nuansa baru dalam musiknya.

Apakah gw terpuaskan dengan pilihan lagu di album BEST HIT AKG ini? Cukup puaslah. Kalo mau puas banget ya harusnya isinya kayak postingan 20 lagu AKG favorit gw tempo hari *selfish fan*, which is of course impossible. Namun, setidaknya ada 11 lagu AKG kesukaan gw hadir di sini. Gw suka hasil penyusunannya yang rapih dan seimbang antara pertimbangan popularitas, komersialitas (dengan kata lain menurut pendapat labelnya) dan preference si artisnya. Gw cukup menikmati aliran track demi track yang nyatanya tidak membosankan, ya karena dinamika dan pergeseran gaya bermusik AKG yang semakin mengkalem itu. Pun mendengarkan album ini seolah menggambarkan bagaimana gw merespon karya-karya mereka selama ini, bahwa makin kemari karya AKG cenderung menjauh dari kesan "komersil" dan agak sulit dinikmati kalo nggak "meracuni diri sendiri" alias mendengarkannya berulang kali. Gw jelas lebih mudah suka sama "Loop&Loop" daripada "Shinseiki no Love Song", apalagi jika dilihat kontrasnya "Haruka Kanata" yang rockin' dan telanjur familiar, dengan "Marching Band" yang bergitar melodik dengan hentakan drum yang (up-beat sih tapi) lebih kalem dan chorusnya kayak nggak mulai-mulai—tetapi sebagai penggemar, pada akhirnya gw pasti suka kok =).

Akhir kata, BEST HIT AKG adalah album kompilasi yang well-presented, tidak kumplit namun sangat representatif. Sangat direkomendasikan bagi yang baru kenal AKG, dan di saat yang sama cukup enjoyable bagi penggemar seperti gw. Pastinya juga, album ini hanya penanda cukup lamanya mereka menancapkan eksistensi di blantika musik Jepang, jadi patut ditunggu karya mereka selanjutnya. It's not over yet, but thank you for the music, Ajikan =)).



My score: 7,5/10

ASIAN KUNG-FU GENERATION
Previews